Luhan memukul kepalanya kesal, ia menatap pandangan dirinya di cermin. 'Yup, persis seperti orang bodoh' komentarnya dalam hati miris.
...
EROTIC NIGHTMARE
CHAPTER 3
...
Write by BeibiEXOl
Plagiat? Go to the hell!
.
.
.
"Lu, apa kau Sudah selesai? Ayo kita makan bersama" Sehun memanggilnya dari luar. Luhan cepat-cepat menggosok giginya dan mencuci muka. Ia keluar dengan aura suram, ia menatap Sehun yang berada di pelataran duduk dikursi sambil memakan some toast dan kopi, sedang nampan satu lagi sup nasi dan jus jeruk untuknya. Luhan mengabaikan harga dirinya yang diujung maut memilih makan karena perutnya sudah tidak tahan lagi minta di isi.
Baru beberapa menit mangkuk supnya sudah habis tak bersisa membuat Sehun kembali tertawa menyenangkan.
"Pelayan, tambah sup-nya lagi satu mangkuk" Ujar pemuda itu pengertian lalu kembali berkutat pada mac-book yang dari tadi menjadi perhatiannya. Luhan tetap diam menghabiskan mangkuk baru yang terisi penuh sampai habis "Ah, kenyangnya. enaak"
FUCK! Ia reflex berbicara seperti itu. Luhan menunduk malu enggan melihat reaksi Oh Sehun.
"Syukurlah kau sudah kenyang, kau ingin dessert? Kau bisa minta apapun pada pelayan disini" Sehun tersenyum menatapnya membuat Luhan semakin salah tingkah.
Lelaki ini tidak normal! Ia gay dan ia gay yang tidak normal! Luhan tidak habis pikir ia masih bisa tersenyum sambil menatapnya setelah apa yang ia lakukan malam tadi.
"Hey, beri dia pudding cokelat dan beberapa kue kering" Perintah Sehun pada pelayan yang berjaga disekitar mereka.
"Baik tuan"
Luhan hanya diam memilin kemeja putih kebesaran Sehun yang tengah ia kenakan, ya kemeja Sehun karena ada aroma parfume pemuda itu yang sudah ia hafal. Luhan menatap pemandangan kolam renang diluar yang terhubung dengan batu karang yang dibaliknya adalah pantai karena dari sini saja ia bisa mendengar suara ombak. Ia mencuri pandang ke arah Sehun yang sibuk dengan macbook dan beberapa kertas, penampilan pemuda itu lebih santai dari yang biasa ia lihat. Sehun mengenakan kaos putih dan celana selutut warna biru muda. Lelaki itu tampak lebih tampan, maskulin dan muda.
Luhan meneguk air liurnya kasar, ia tersentak saat pelayan datang memberinya makanan penutup. Ia berterimakasih dengan suara sekecil mungkin dan mulai memakannya perlahan, takut dikira masih kelaparan oleh Oh Sehun. Dan itu hanya akan menambah list hal memalukan yang ia perbuat.
"Kepala mu sudah baik?" Tanya Sehun dengam raut wajah datar. Lelaki itu tidak menatapnya, dan Luhan merasa sedikit tidak terancam "Hm"
"Ini dimana?" Tanya Luhan sekian lama penasaran.
"Villa keluarga ku, masih di sekitar pinggiran Seoul" Sehun berdiri mengambil beberapa kertas laporan atau apalah itu "Aku harus mengurus sesuatu dibawah sebentar, kalau kau ingin apa-apa tinggal bilang dengan pelayan" Ujarnya mengacak surai Luhan dan meninggalkan pemuda itu dari pelataran yang seperti balkon kekamar mereka dan keluar.
Luhan menghirup nafas dalam dan menghembuskannya. "Kenapa juga aku harus menahan nafas saat bersamanya" Gumam pemuda itu, ia melirik pudding yang masih tersisa dipiring dan menghabiskannya. Ia beranjak dan menatap sekitar lebih dalam lagi "Whoaah! Indahnya! Pantaaai!" Serunya senang, melupakan beban pikirannya.
Luhan memasukan kakinya kedalam kolam renang dan duduk dipinggirnya santai. "Dilantai dua ada kolam renang yang terhubung dengan batu karang dan tepat dibawah tangga diujung situ adalah pantai. Aku harus memuji arsitek yang merancang villa ini" Gumamnya kagum.
"Ada yang bisa saya bantu tuan? Atau anda menginginkan hal lain lagi?" Tanya seorang pelayan yang berjaga di dekat kolam.
"Eum, aku ingin milkshakes stroberi kalau begitu" Ujar Luhan tersenyum manis. Ia kembali asik bermain air.
"Baik tuan, harap tunggu beberapa menit lagi"
Luhan sangat terpesona dengan pemandangan didepannya ini, matanya memandangi kolam renang dilantai dua yang tersambung dengan batu karang yang kokoh, dan diujungnya ada tangga yang langsung menuju kepantai. Ini seperti surga, apalagi cuaca pagi hari yang tidak terlalu dingin membuat Luhan semakin nyaman dan benar-benar melupakan kejadian tadi malam.
Ia berjalan kecil didalam kolam renang yang bagiannya tidak dalam. Ujung kemejanya sedikit basah karena terkena air, tapi ia tidak peduli.
Ia bahkan melupakan kemarahannya pada Sehun yang hanya memberinya kemeja besar dan celana dalam saja.
"Sepertinya aku ingin berenang" Gumam pemuda itu tergiur oleh rasa nyaman didalam air.
"Dibagian tengah sangat dalam tuan, berbahaya jika tidak bisa berenang" Ujar pelayan tadi sambil memberikan milkshake-nya.
Luhan cemberut kesal "Aku ini pandai berenang tau" Ujarnya kesal tapi tetap berterimakasih pada minumannya dan menyedot pelan cairan rasa susu stroberi itu dari dalam kolam renang.
Luhan memilih berenang ketengah dengan lihai dan menyebrang kesisi lain, ia mulai berenang mengelilingi kolam renang dan berakhir duduk dibawah pancuran air yang ada dipinggir kolam renang sambil menikmati buah-buahan eksotis yang disediakan para pelayan. Kaki mungilnya asik bermain menendang air. Karena ia duduk dikursi dalam air, jadi tubuhnya didalam air setengah.
"WAAAAAAAAAA!" Teriaknya kaget saat ada sesuatu yang menghisap perutnya. Seperti cumi-cumi atau ... "OH SEHUN!" Pekiknya kesal menendang Sehun namun lelaki itu berkelit dan malah menarik Luhan kedalam air.
Sehun menatap Luhan yang mengatupkan bibirnya rapat melotot padanya. Pipinya mengembung karena belum sempat menelan buah anggur "Terlalu menggoda" Ujar Sehun menekan belakang kepala Luhan dan mencium pemuda itu dalam, mengeksplor mulut mungil pemuda itu dan mengambil alih anggur yang ada dimulut Luhan. Sehun melepas ciuman mereka dan mengunyah anggur dari mulut Luhan santai dan menelannya.
"BRENGSEK!" Umpat Luhan marah mengacak pipi Sehun kecang membuat lelaki yang lebih tinggi itu mengaduh sakit "Ya, itu sakit Lu"
"Kau yang seenaknya mencium ku! Menjijikan tau!"
Sehun tertawa kecil mengangkat Luhan, mengembalikan tubuh itu ketempat semula alias duduk. Sedangkan ia cukup berdiri sehingga wajahnya sejajar dengan leher Luhan.
"Tidak ada yang menjijikan pada dirimu, sayang" Ujar Sehun terasa menggoda membuat Luhan memasang wajah jijik "Kau lah yang menjijikan!"
Sehun tertawa mendengarnya dan ia meminum jus buah yang sudah disiapkan, lalu menatap Luhan dengan binar menyenangkan "Sudah terpikir untuk menyukai ku?"
"Never" Jawab Luhan malas.
"Pastikan jangan terlalu lama membuatku menunggu ya" Ujar Sehun masih dengan raut santainya.
"Aku akan membuatmu menunggu selamanya"
"Tetap menggemaskan" Balas Sehun menatap Luhan geli.
"What! Berhenti menatap ku sepertii itu Ahjussi! Kau benar-benar Ahjussi mesum!" Ujarnya kesal memilih berenang kesisi lain untuk menghindari Sehun, namun belum sampai ia kepinggir Sehun sudah memeluknya dari belakang dan membalik tubuhnya menghadap lelaki itu.
Sejak kapan Sehun tidak memakai baju dan hanya menggunakan celana renang saja?
Tidakkah ini terlalu berlebihan jika ingin menggoda jiwa uke Luhan?
"Wack!" Luhan mendadak kaget kalau mereka masih berada disisi yang dalam, kakinya tidak sampai dan Sehun memeluknya dalam keadaan seperti ini "Ayo bercinta dengan ku Lu"
"Never"
"Kalau begitu aku akan menenggelamkan mu"
"K-Kau pikir aku takut?!"
Sehun tersenyum seadanya namun terasa mengancam, mulai menekan tubuh Luhan kedalam air. Luhan mendorong namun tidak ada tenaga yang keluar seakan tenaganya diserap oleh Oh Sehun si iblis jahat. Kepala Luhan sudah tenggelam dan pemuda itu menutup mulut dan hidungnya agar tidak kemasukan air.
Beberapa menit Luhan hampir kehabisan nafas dan ia sudah tidak lagi sanggup dan mulai berpikir menerima ajakan bercinta Sehun, lagi pula ia sudah tergoda oleh lelaki itu. Hanya harga dirinya lah yang tidak mengizinkannya.
"HMPP-PHUOAAAAAAAGHH!" Luhan keluar dari dalam air dan menghirup nafas rakus dan mendorong Sehun lalu berenang menuju tepi dan langsung keluar kolam renang.
Sehun tertawa geli melihat Luhan yang sibuk bernafas sambil memegangi dadanya.
Luhan menatap Sehun marah dan kesal "Kau pikir itu lelucon hah?!" Ujarnya berlari kearah tepian untuk menenggelamkan Sehun dan-
"BRUK!"
"A-akh ... sakiit!"
Terpeleset.
Melihat hal itu Sehun segera menghampiri Luhan yang memegang pinggangnya sakit, ujung kepalanya bahkan berdarah karena tergores pot bunga.
Sehun menghela nafas kasar membawa tubuh Luhan masuk kekamar dan meletakan ke kasur dengan hati-hati.
Ia memanggi pelayan dan dokter untuk membantu memeriksa keadaan Luhan.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Sehun khawatir, sedangkan Luhan hanya meringis dan ingin mengumpat Oh Sehun dan juga dirinya yang bodoh.
"Dokter, kepalanya berdarah. Apa harus kita bawa kerumah sakit?"
Luhan bersumpah jika ia tidak tengah menahan sakit ia akan menghujat lelaki itu.
"Kepalanya tidak terbentur, hanya tergores saja. Dan pinggangnya yang terbentur, jika di kompres dan diberi obat akan segera sembuh dalam satu hari" Jelas dokter ingin memasang hotpad kepinggang Luhan namun segera diambil alih oleh Sehun "Biar aku yang melakukannya, yang penting tidak ada bagian vital. Dokter boleh pulang, terimakasih" Ujar Sehun datar "Dan kau boleh pergi, letakan saja obatnya dimeja nanti"
"S-sial" Desis Luhan kesal menatap Sehun marah.
"Lebih baik kau diam dan jangan banyak bergerak Lu, kau sangat ceroboh"
"W-what! Siapa yang membuat ku hampir mati tenggelam dan mengejek ku! Semua ini gara-gara kau brengsek!"
Sehun menghela nafas tenang "Aku tidak mungkin membunuh mu, kau yang menganggapku terlalu berlebihan" Ujar Sehun sambil menekan-nekan hotpad dipinggang ramping Luhan.
"Kau memang berlebihan! Kau menyeramkan! Monster!" Luhan merajuk kesal dan entah kenapa membuat Sehun gemas sendiri melihatnya.
"Aku benar-benar ingin menindihmu sekarang dan dan menggigit bibir mungil mu"
Luhan menatap Sehun horror.
"Tentu saja aku harus menahannya, aku tidak ingin pinggangmu jadi tambah sakit dan akan menggangu tunggangan kita nanti"
"Menjijikan!"
Sehun tertawa kecil, kembali melanjutkan mengurut pelan pinggang Luhan.
"Oh iya, dimana ponsel ku? Aku harus menghubungi ayah" Luhan baru ingat, walaupun hari ini jadwalnya libur. Sebenarnya ia ingin belajar resep baru malam ini direstoran, Sehun memberikan ponselnya yang ternyata ada dilaci kamar ini.
Ia menelpon Ayah angkatnya dan mengatakan kalau hari ini tidak jadi belajar membuat resep.
"Ahaha! Iya aku mengerti, tadi Sehun sudah menelpon ku kalau ia mengajak mu liburan. Jaga dirimu baik-baik ne"
Luhan mendengus, liburan dari mana?! "Hm, Kalau begitu ku tutup dulu" Ujarnya risih karena dari tadi Sehun terus memandangnya.
"Apa yang kau lihat" Luhan menatap Sehun ketus.
"Tidak, hanya saja aku baru sadar kalau pakaian mu basah dan hal itu sangat seksi" Ujar Sehun polos.
Luhan mendengus enggan menatap Sehun memilih memainkan permainan di ponselnya "Pijat yang benar, setelah baikan aku mau cepat-cepat pulang" Ujarnya.
Sehun tertawa kecil menatap punggung mungil Luhan, ia turun kebawah menatap bokong berisi calon kekasihnya itu. Aaah, pemandangan Luhan tengkurap sangatlah indah bagi Sehun.
"YAAACK! APA YANG KAU PEGANG! YANG SAKIT ITU PINGGANG! BUKAN PANTAT BODOH!"
"Ah, mian"
Luhan mendengus kesal, ada yang salah dengan otak pria ini. Kenapa begitu bernafsu dengan bokongnya? Sialan!
"Kau ingin ku gantikan baju?"
Cih! Mesum "Tidak perlu"
"Nanti masuk angin" Ujar Sehun lagi.
"Sebentar lagi juga kering"
"Kalau begitu celana dalamnya saja ya?"
"KAU GILA YA?! SUDAH KU BILANG TIDAK PERLU! AKH! PINGGANG KU SEMAKIN SAKIT SAAT MELADENIMU BERBICARA!"
Sehun kembali tertawa, ia sudah pakai mantel. Dan kembali mengurut pinggang Luhan sampai pemuda itu kembali tertidur "Dasar rusa pemalas" Gumamnya mengecup tungkai Luhan.
"Kenapa aku bisa begitu menyayangi mu, padahal baru saja mengenalmu" Ujarnya pelan pada dirinya sendiri.
Beberapa saat Sehun masih mengurut pinggang Luhan, ketokan pintu terdengar.
"Masuk"
"Tuan, ada yang harus saya laporkan. Ini penting, tentang Victory company"
"Laporkan disini saja"
Seulgi melirik pemuda yang tertidur lelap ditempat tidur dengan Hotpack dipinggangnya.
"Ikut aku" Interupsi Sehun menuju balkon. Seulgi mengikuti langkah bos-nya dan mulai memberikan laporan.
"Semua sudah sesuai rencana, tapi tidak disangka orang itu memiliki kartu lain" Gumam Sehun.
"Kita tidak bisa melanjutkan proyek di jeju kalau tidak ada izin hukum dari Victory Company"
"Apa masih belum cukup hanya dengan mengamcamnya tentang kelakuan busuk perusahaannya?" Seulgi memijat pelipisnya bingung.
"Entah kenapa mereka mampu menarik investor milik kita, tuan"
"Apa yang dia inginkan?" Sehun menatap Seulgi tajam.
"Pernikahan anda dengan nona Victoria"
Dan Sehun tersenyum licik "Bodoh, kita hanya perlu diam untuk saat ini. Besok siapkan rapat para anggota, dan aku sendiri yang akan mengakhiri omong kosong orang tua itu"
"A-apa anda punya rencana lain, tuan?"
"Tentu, akan ku buat mereka tidak lagi bisa berkutik. Dalam satu serangan" Sehun tersenyum misterius. Paham kebiasaan tuannya, Seulgi mengangguk paham.
Saat keluar dari balkon/pelataran, Seulgi menatap Luhan yang sudah terbangun dan duduk menggemaskan ditempat tidur. Pemuda itu tidak menggunakan celana dan hanya kemeja tipis yang ia yakini milik bos-nya.
Seulgi tersenyum membungkuk dan melewati Luhan yang tadi menggeliat jadi memerah malu.
"Sudah bangun? Ku pikir akan lama tidurnya" Sapa Sehun duduk dihadapannya.
"Kau pikir aku kerbau. Sudahlah, aku mau mandi. Dimana pakaianku tadi malam?" Luhan menatap sekitar.
"Sudah kubuang"
"w-what?" Luhan menghela nafas "Kalau begitu pinjamkan aku baju"
"Baiklah, kau mandi. Akan ku suruh pelayan menyiapkan bajunya hem" Sehun tersenyum mengacak surai Luhan.
Luhan memasuki kamar mandi mewah itu dan mulai membersihkan tubuhnya. Wajahnya memerah setiap teringat kalau tadi malam Sehun yang memandikan dirinya "Uuuh, menyebalkaaan!"
Selesai mandi, ia menatap sekeliling dan tidak mendapati satupun handuk maupun bathrobe "Ah, sial" Gumamnya membuka sedikit pintu memanggil Sehun.
"SE-" Ia terdiam, mendengus "Yack? Bisa kau ambilkan handuk?" Kepalanya menengok keluar dan mendapati Sehun yang duduk diranjang dengan pakaian santai. Seolah tidak mendengar teriakannya.
Jika saja orang yang ada diruangan ini adalah normal, Luhan dengan senang hati telanjang dan mencari pakaian sendiri tapi dia adalah Sehun yang hanya dengan melihat bokongnya saja sudah tegang!
"YACK! TOLONG AMBILKAN HANDUK!" Teriaknya kesal. Sehun menatapnya menyeringai "Handuk dan pakaiannya ada disini. Kau bisa mengambilnya" Sehun menepuk lipatan handuk dan pakaian yang ada disampingnya.
Luhan menatap horror "Kemarikan Ahjussi mesum!"
"Bilang Sehun Oppa, dan dengan senang hati ku berikan"
Luhan memerah kesal "Brengsek! Berhenti main-main dengan ku"
Sehun membalasnya dengan tawa elegan yang sangat menarik dan tampan "Baiklah, aku akan tutup mata" Ujarnya dengan senyum jenaka ala Luhan menutup matanya.
"Jangan main-main! Cepat berikan"
"Hey, aku sudah tutup mata" Sehun mengendikan bahu malas.
Luhan menghela nafas membuka pintu kamar mandi lebar-lebar dan keluar dengan telanjang bulat dan basah.
"Ku bunuh kau kalau mengintip"
"Aku tidak akan mengintip"
"Pembohong"
Luhan mendengus mengambil handuk dan pakaiannya yang terlipat rapi disebelah Sehun dan-
GREP
Tangannya ditarik Sehun dan dijatuhkan 'lagi' ditempat tidur.
"Sial" Umpatnya melirik kedua tangannya yang lagi-lagi terkunci. Ia menatap mata Sehun yang masih terpejam, raut wajah lelaki itu sama sekali tidak menggambarkan kalau ia tengah menindih seorang lelaki yang sedang bertelanjang bulat dibawahnya.
Sehun mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Luhan, mencium hidung pemuda itu dan matanya.
"Benar-benar seperti pembual" Komentar Luhan merebahkan kepalanya menjadi lebih santai menatap dalam wajah Sehun. Memperhatikan dengan seksama wajah lelaki menyebalkan yang tanpa permisi sudah menariknya.
"Aku tau kau sedang menikmati pemandangan wajah tampan ku kan?"
Luhan tersenyum kecil "Dalam mimpi mu Ahjussi mesum" Ujarnya dengan nada kesal tapi raut wajahnya nampak tersenyum dan tenang.
"Selain tubuh mu, sepertinya aku mulai tergila-gila dengan aroma mu"
"Konyol" Balas Luhan dengan nada tidak tertarik. Mata layaknya rusa itu masih mengagumi pahatan sempurna wajah Sehun.
"Aku ingin melihatmu telanjang"
"Dan menjadi pembual sejati hm?"
"Tidak, aku tidak akan. Aku ... kurasa ini yang namanya cinta" Ujar Sehun mencium bibir Luhan lembut dan disambut dengan hangat oleh pemuda mungil dibawahnya.
Luhan menarik leher Sehun dan mencium lelaki itu dalam. Bahkan ia tidak menyadari kalau bibir Sehun hanya terdiam dan membiarkan Luhan mencumbu bibirnya.
"Kenapa harus aku?" Tanya Luhan setelah melepaskan ciumannya karena kehabisan nafas.
"Karena ka-"
"Buka mata mu Oh Sehun"
Perlahan Luhan dapat melihat onyx hitam milik Sehun yang begitu menawan "Karena kau satu-satunya yang mampu membuat jantungku berdetak seperti ini" Luhan menatap Sehun bingung memegang dada lelaki itu.
Matanya melotot kaget, ia yakin Sehun tidak habis marathon tapi detak jantung pemuda itu benar-benar kencang. Membuat Luhan khawatir apa lelaki ini baik-baik saja? atau memang memiliki kelainan jantung?
Seakan paham Sehun tersenyum lembut "Sedikit menyesakan memang, tapi terasa menyenangkan. Ia selalu menggila jika didekatmu" Ujarnya melirik jantung dengan tawa yang begitu manis.
"Saat pertama kali kau mencium ku, aku bahkan tidak mabuk tapi aku melayang dan kehilangan kendali akan otak ku. Aku seperti orang bodoh yang habis dicuci otaknya" Sehun menatap Luhan "Kau sudah membuat ku hangus terbakar dan kehilangan kontrol, Lu"
Luhan tertawa renyah "Kau tidak lebih dari lelaki bodoh"
"Hanya karena mu" Interupsi Sehun.
Mereka terdiam saling pandang, menyelami tatapan masing-masing dan perlahan Sehun mendekatkan wajahnya menghirup rambut basah Luhan dan ceruk leher pemuda itu. Luhan memejamkan matanya, juga menikmati aroma Sehun yang begitu menghipnotisnya. Diam-diam menikmati suara hembusan nafas berat Sehun yang begitu menggoda.
"Kau sangat sempurna" Puji Sehun menatap Luhan memuja membuat empunya tersipu dan memalingkan wajah malu.
"Jangan palingkan wajahmu dari ku Luhan, aku menginginkan mu" Bisik Sehun lembut menjilat cuping telinganya.
"Engh ..."
"Izinkan aku menyentuh mu dan membawa mu pada kenikmatan dunia" Ujar Sehun membuat Luhan kembali menatapnya. Ada sedikit keraguan dan ketidak relaan yang terpancar dari manik rusa itu.
"Akan ku buktikan pada mu betapa bahagia kelak jika kau bersama ku" Sehun mengelus pipi Luhan lembut.
"Aku akan membunuhmu jika kau meninggalkan ku" Luhan menatap Sehun tajam. Dan disambut senyuman Sehun dan kecupan ringan dibibir pemuda itu.
"Aku berjanji Lu, tidak akan pernah meninggalkan mu walaupun kau meninggalkan ku, aku akan tetap disisimu walaupun kau tidak menginginkan ku"
"Cih, kutipan drama mana yang kau ucapkan huh" Luhan tersenyum miring mengundang tawa Sehun.
"Drama yang dibintangi aktor Lee Min Ho"
"Bullshit" Bisik Luhan ditelinga Sehun dan membalik posisi mereka menjadi ia yang berada di atas lelaki itu.
Sehun tertawa mengelus pinggang Luhan "You're like nirvana"
"Akan kutunjukan surga yang sebenarnya" Ucap Luhan menggoda menarik kaos Sehun dan melemparnya kelantai. Ia memandangi perut ber-abs itu kagum "Tidak buruk bagi Ahjussi seperti mu" Godanya mendapat delikan kecil Sehun namun sekejap menjadi erangan saat Luhan menjilati perut kotak-kotak miliknya.
Sehun meremas bokong Luhan saat pemuda mungil itu menungging menindih tubuhnya dan mencium bibirnya. Mereka saling beradu lidah dan bertukar saliva, nafas mereka mulai terdengar berat menandakan nafsu yang begitu tertahan.
Luhan melepas kancing celana Sehun dan meletakan asal celana itu menyisakan gundukan besar yang bersembunyi dibalik kain berwarna hitam. Ia memundurkan-menggesekan bokongnya pada gundukan itu membuat Oh Sehun kembali menggeram.
Sehun menatap Luhan yang tengah menikmati acara menggoda dirinya, Sehun menarik pemuda itu jatuh membentur dadanya dan mencium bibir mungil itu penuh nafsu, menghisap bibir bawah dan atas bergantian lalu memainkan lidah yang bersembunyi disela rongga mulut dan mencumbunya, menghisap lidah Luhan layaknya benda itu adalah permen.
"Mmm-mmm-shmm-lmmm-phaass! Aku tidak bisa bernafas"Protes Luhan dengan wajah memerah dan nafas yang tidak beraturan.
Sehun menyeringai membalik posisi mereka dan mulai mencumbu tubuh mungil itu, menjilat setiap inchi tubuh Luhan dan meninggalkan banyak kissmark.
"Shh-enghh- Sehun ..."
Sehun yang tengah menghisap putingnya menatap Luhan bingung.
"A-aku ... " Ia diam sejenak "Lakukan dengan lembut" Ujarnya ragu. Sehun tersenyum pengertian duduk dihadapan Luhan "Apa kau ragu?"
Luhan menggeleng
"Jangan takut Lu, aku akan bertanggung jawa-"
"Cepat lanjutkan saja! berhenti menggombal yang tidak perlu!" Potong Luhan kesal dengan wajah memerah malu "Dan jangan lupa memakai kondom" Ujarnya menatap Sehun malu.
Sehun tersenyum geli mengecup bibir Luhan, lelaki itu mengelus kaki Luhan dan menciumi lutut Luhan, membuat pemuda yang diperlakukan seperti itu menjadi geli.
"Aku mencintai mu" Ujar Sehun mengecup punggung kaki Luhan membuat pemuda itu menatap kaget.
Belum cukup kaget Sehun kembali mengecup ibu jari kakinya dan tersenyum lembut "Kau diatas segalanya Lu" Ujarnya dengan tatapan memuja menjilat kaki mungil itu membuat Luhan menarik kakinya dari bibir Sehun.
"A-apa yang kau lakukan" Pekiknya dengan wajah yang semakin merah.
"Membuktikan kalau aku sudah menyerahkan diriku seutuhnya padamu" Ujar Sehun mengambil kedua kaki Luhan dan mengecup punggung kaki itu bergantian lalu mulai mengecupi betis jenjang itu hingga kepangkal pada membuat Luhan kembali mendesah.
Mencicipi seluruh rasa yang ada ditubuh Luhan.
Menghisap penis tegang milik pemuda itu.
Menikmati desahan nikmat yang mencumbu pendengarnya dan membuat otaknya menjadi gila.
"Heungh..Aaaaaah!" Luhan mendesah mencengkram pundak Sehun saat lelaki itu menghisap kuat penisnya.
"Sssh-Sehuuun!"
Sehun begitu lihai memainkan gairahnya, lelaki itu seakan tau dimana saja titik kenikmatan pada tubuhnya.
Mulut lelaki itu begitu nikmat, hangat dan menghisap kuat kejantanannya.
Ia serasa burung yang seumur hidup terkurung disangkar sempit lalu dilepaskan begitu saja keudara.
Ia merasa bebas namun lupa bagaimana terbang.
Rasanya seperti terjatuh namun tidak pernah mencapai daratan.
Seperti terombang-ambing di udara.
Terasa sejuk juga menyesakan.
"Uh-Uuuuh! Akh! A-apa yang-"
"Tenang Lu, rasakan sensasi ini dan nikmati" Ujar Sehun yang pelan-pelan memasukan satu jarinya kelubang anus Luhan.
"U-uh! Lepas Sehun! Rasanya tidak nyaman! Kotor! dan a-aku- i-ini menjijikan! Le-lepa-aaaaaah!" Luhan menggerang nikmat saat Sehun kembali menghisap penisnya dan mengocok penisnya menggoda.
"A-aku hampir sampai"
Dan Sehun dengan senang hati kembali memasukan penis Luhan kedalam mulutnya.
"Hhhengggghh ... " Luhan meleguh nikmat saat ia berhasil mencapai klimaks didalam tubuh Sehun.
Kali ini Sehun tidak melahap habis cairan sperma milik Luhan, namun membiarkan cairan itu mengalir turun sampai kelubang pemuda itu lalu mulai menjilatinya.
Satu jari Sehun masih utuh didalam lubang Luhan.
"Sehun.." Ucap Luhan menatap Sehun khawatir dan bersalah "Maafkan aku tapi aku tidak yakin seks ini bisa berhasil. I-ini .. menjijikan. A-aku menjijikan, keluarkan jarimu Sehun, itu kotor" Luhan menatap Sehun putus asa. Wajahnya memerah, keringat membasahi dahinya dan tatapannya begitu memohon.
"Tidak akan kulepas Lu" Ujar Sehun tersenyum tenang "Dan tidak ada sedikitpun hal yang menjijikan dari dirimu" Sehun mengecup kening Luhan "Aku menyukai dan tergila-gila pada apapun di dirimu" Sehun mengecup dada Luhan.
"Izinkan aku meneruskannya"
"T-tapi" Luhan diam memandang Sehun yang balas menatapnya tanpa setitik pun keraguan. Ia tersenyum kecil menatap Sehun "Lakukan lah Oh Sehun"Ujarnya tanpa ragu.
Sehun tersenyum mengecup bibir Luhan.
Sehun beranjak turun dari tempat tidur, membuat Luhan menatapnya bingung.
Pemuda mungil itu meraba anusnya yang tertutup rapat berharap lubang itu mampu menerima Sehun.
Sehun mengambil sebuah benda berbentuk lotion dari dalam tas. Seperti gel licin berwarna pink bening dan menumpahkannya ditangannya.
"G-gel itu? jangan-jangan-"
"Ya, ini pelicin yang akan memudahkan gajah ini memasuki lubang sempitmu sayang" Ujar Sehun menunjukan gundukan besar dibalik celana dalamnya.
Luhan merinding mendengar kata 'gajah' dari bibir Sehun "Kau sudah merencanakan untuk bercinta dengan ku disini huh" Sindir Luhan, pemuda itu sedikit meleguh saat cairan dingin menyapu lubangnya.
Sehun tertawa mendengar sindiran Luhan, tidak ia pungkiri karena Sehun memang selalu berniat bercinta dengannya tidak hanya disini namun setiap ia melihat wajah pemuda itu.
Luhan terdiam merasakan tangan Sehun mengoles cairan itu, ia menatap Sehun "Itu terlihat sesak, kenapa tidak kau lepaskan?"
Sehun diam memandang kejantanannya.
"Apa jangan-jangan itu hanya sumpalan huh?" Goda Luhan mengundang tawa keduanya.
"Jangan menantang ku. Kalau dia sampai menyentuh kulitmu dari tadi, aku tidak yakin saat ini aku sedang mengolesi anusmu dengan gel Lu" Ujar Sehun. Lelaki yang lebih dewasa itu tersenyum "Apa kau siap?"
Luhan mengangguk mencengkram sprei lebih kuat.
Sehun kembali memasukan satu jarinya dengan mulus berkat bantuan gel atas rekomendasi Kris dan Chanyeol.
Ia menatap Luhan yang menganggukkan kepalanya baik-baik saja, lalu mulai memasukan satu jari lagi. Lubang itu mulai berkedut dan menjepit kedua jari Sehun kuat "Relax Lu" Ujar Sehun dan Luhan meleguh sebagai jawaban.
Ah, jangan ingatkan aku Luhan yang manly. Okay?
Sehun mulai menggerakan kedua jarinya dengan pola gunting dan zig-zag saat lubang Luhan tidak lagi tegang. Diluar dugaan Sehun, Luhan mampu menerimanya. Tidak serumit cara bercinta Chanyeol dengan anak sd itu, pikir Sehun.
Sehun memasukan jari ketiganya dan Luhan menggerang sakit "Kau baik-baik saja?" tanya Sehun khawatir.
Luhan mengangguk "Jangan lupakan kalau aku juga pria, sakit segini tidak ada apa-apanya" Ujar Luhan, sepertinya pemuda ini sudah menemukan jati dirinya yang angkuh dan keras kepala yang tadi menghilang karena cumbuan Sehun.
Sehun tersenyum mulai melakukan gerakan in out, Luhan menggerang sakit. Tidak dapat ia pungkiri, rasanya sangat tidak nyaman dan asing saat ada benda memasuki lubang anus mu.
Luhan menggerang menahan tangan Sehun putus asa "Hentikan gerakan murahan ini dan masukan penis mu kedalam lubang berkerut milik ku" Ujarnya frustasi. Sehun mengusap wajahnya kasar "Aku tidak bisa menyakitimu Lu"
"Yang kau lakukan saat ini juga sudah membuatku sakit brengsek. Aku tidak tahan, selesaikan dalam sekali hentakan" Luhan mendengus kesal.
"Kalau begitu, bantu aku melepas benda ini" Sehun berdiri dengan lututnya dihadapan Luhan.
"Kau membuatku seperti jalang" Sindir Luhan tersenyum kecil menurunkan celana dalam Sehun.
Dan benda panjang-besar-berurat menyembul keluar mencium hidungnya.
WHAT THE FUCK!
"Kau pasti bercanda" Gumam Luhan menatap kejantanan Sehun.
"Ingin mencicipinya?"
Luhan mendongak menatap Sehun, mendekatkan tubuh mereka "In your dream" Ujarnya tepat ditelinga Sehun, membuat lelaki itu meleguh saat telinganya dijilat oleh Luhan.
Luhan menjauhkan tubuhnya dari Sehun, ia menggoyangkan kondom didepan wajah horny Sehun geli. Luhan menungging mensejajarkan wajahnya dan penis Sehun. Ia mulai menjilat ujung penis Sehun sampai ke bola kembar yang menggantung.
"Kau tidak perlu memasukannya kedalam mulutmu Lu" Ujar Sehun menatap wajah Luhan yang berkerut. Luhan menggeleng mulai memasukan penis Sehun kedalam mulutnya.
"FUCK! Jangan pakai gigi mu jalang" Umpat Sehun saat mulut Luhan terasa begitu sempit dan kulit penisnya terasa nyeri saat terkena gigi pemuda itu. Sehun menangkup kedua pipi Luhan dan mencium pemuda yang tadi menatapnya bersalah itu.
"It's okay, kau bisa gunakan tangan mu" Ujar Sehun menenangkan.
"Maaf"
Sehun menggeleng mengecup kening Luhan dan menghirup surai karamel pemuda itu. Luhan mulai memilin ujung penis Sehun dan menggenggam batangan lelaki itu lalu memulai gerakan in-out. Sehun mendesah saat gerakan tangan Luhan begitu sempurna mengocok kejantanannya.
"Hnhhhh ahhnghhh ... you're so fuckin' enggghh baby"
Luhan tersenyum melihat wajah bernafsu Sehun "Engh what idiot?"
"Hot! Sexy! And Delicious" Bisik Sehun ditelinga Luhan setelah berhasil menjatuhkan dan menindih pemuda itu.
"Aku ingin merasakan yang lebih" Ujar Sehun dengan wajah merah sempurna.
Luhan menyeringai mengangkangkan pahanya dan mengalungkan kakinya dipinggang Sehun.
"Teste me" Ujarnya menggoda menyerahkan bungkus kondom yang dari tadi diremasnya.
Sehun mengangguk membuka benda elastis berair itu "Apa perlu memakai ini Lu? Aku ingin merasakan mu seutuhnya tanpa dihalangi benda ini"
"Jangan bodoh, kau tidak sedang bercinta dengan normal saat ini"
Sehun dia tertawa kecil menatap Luhan "Kau orang pertama yang bercinta dengan ku, Lu"
Luhan menganga tidak percaya, ia mendengus mengabaikan bualan Sehun "Cepat pakai dan masuki aku" Ujarnya.
Sehun tersenyum kecil memasang kondom, ia juga menambah gel kelubang anus Luhan hingga tumpah di sprei.
JLEB
"HNGHAAAAAAAAAAAGGH! FUCK! BRENGSEK!" Luhan menggerang sakit mengumpat dan menggenggam tangannya kuat hingga berdarah karena kukunya.
Sehun menatap Luhan yang kesakitan, tapi ia tidak dapat berhenti disini dan hanya membuat Luhan tersiksa. "Maafkan aku sayang" Ujarnya mencium bibir Luhan dan mulai menggerakan pinggulnya.
"S-shhsa-sakit Hun" Luhan menggerang. Sehun mengusap kening pemuda itu "Aku akan menggantikannya dengan kenikmatan sebentar lagi"
Sehun terus menggerakan pinggulnya maju mundur dan Luhan masih menggerang kesakitan meracau memohon pada dirinya untuk berhenti.
"AKH! HUUUH UH STOP! UUH! NGGHHHH ... AHHSHHH AHH AAH!"
"Di-disitu Sehun, disana! Terus disanaah!"
Sehun lega karena berhasil menemukan titik kenikmatan Luhan dan mulai menumbuk titik prostat itu membuat erangan sakit Luhan tergantikan dengan desahan nikmat. Sehun pun tidak lagi menahan diri dan mulai menikmati permainan sex mereka.
Suara desahan keduanya bergantian memenuhi ruangan itu.
Dengan langit dibalik balkon yang terbuka lebar menjadi saksi.
Suara ombak di luar sana yang ikut menjadi suara pengiring desahan nikmat keduanya.
Kedua pendosa itu terus bercumbu dengan tubuh menyatu dan peluh yang berjatuhan.
"FUCK! EUNGHH AHHH OOH SEHUN! ANGHH! AH!"
"KAU SANGAT! AHH HHHH SEMPIT JALANGHH HH HH"
Luhan ditengah kenikmatannya menatap Sehun yang terpejam nikmat sambil menghantam lubangnya. Penis nya menabrak perut Sehun.
"Anghh! A-aku hampir sampai Sehun" Luhan mencengkram tangan Sehun yang tengah berpegangan pada pinggang rampingnya.
Sehun mencium bibirnya penuh dalam dan mengecupi sekitar lehernya lalu mengocok kejantanannya. Membuat Luhan benar-benar ingin meledak oleh kenikmatan ini.
Rasa saat prostatnya terus ditumbuk berkali-kali.
Rasa saat penisnya dikocok oleh tangan lebar Sehun.
Dan saat bibir lelaki itu terus menyebut namanya dan mendesah nikmat.
Luhan tidak tau nikmat mana yang tengah ia rasakan. Pikirannya kacau karena kenikmatan ini, semuanya begitu acak dan Luhan tidak tau harus bagaimana meng-ekspresikan kenikmatan ini selain mendesah sampai pita suaranya mungkin akan jebol layaknya lubang anusnya.
Sehun menatap Luhan yang terus mendesah nikmat. Ia sudah lepas kendali dan kehilangan akal.
Pemuda dibawahnya ini.
Ia bahkan rela memberikan nyawanya untuk pemuda ini.
Luhan mencengkram sprei saat merasakan penis Sehun mulai membesar gila. Ia menatap Sehun.
Sehun menatapnya.
"Bersama Lu" Ujarnya mempercepat kocokan pada penis Luhan.
Membuat Luhan merasa melayang karena kenikmatan beruntun ini.
Tidak pernah dalam hidupnya ia merasakan kenikmatan sebanyak ini sekaligus.
"AAAAAAAAH!"/"AH HHHHHH"
Sehun memuntahkan cairannya didalam kondom, ia melepaskan penisnya dari lubang anus menganga Luhan dan melepas kondom itu membuat cairan spremanya memuncrat keperut Luhan dan mengenai penis Luhan yang juga klimaks bersamaan.
Sehun mengecup penis Luhan yang mulai layu. Dan lubang pemuda itu, yang kembali mengerut, menurutnya itu adalah pemandangan yang sangat indah saat cairan gel tadi keluar dengan mulus dari lubang anusnya.
"Sehun" Bisik Luhan lemas menatapnya dengan wajah lelah.
Lalu jatuh pingsan tertidur.
Sehun tersenyum memuja, mencium kening Luhan dan mengusap kepala pemuda itu yang basah karena keringat.
"Tidur nyenyak my Love" Ujarnya. Sehun beranjak mengambil boxer-nya untuk keamanan kejantanannya yang mulai menegang melihat keadaan berantakan kasur mereka dan bagaimana tubuh Luhan yang dipenuhi sperma. Lelaki itu menguap ngantuk sejenak memandang langit diluar yang mulai sore, menutup pintu balkon dan juga gorden ia kembali bergabung ketempat tidur bersama Luhan.
Sebelumnya mencium punggung dan jari-jari kaki Luhan dan mencium telapak tangan pemuda itu penuh cinta "Aku mencintai mu Luhan, selamat tidur sayang" Gumamnya menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut.
...
TBC
Bonus Omake
.
.
.
Setelah Seulgi meninggalkan kamar Sehun ia turun kelantai bawah dan terduduk disofa ruang tengah sambil memegangi pipinya yang memerah "Astaga, tadi itu laki-laki kan? Jadi tuan Oh? Ga-Gay? BOOMBAYAAAH!"
'Dan juga, Tuan Oh benar-benar sulit di tebak. Bagaimana mungkin dia mempertaruhkan perusahaan begitu saja. huh ... aku benar-benar khawatir, dia pria gila' Benak Seulgi menatap kertas yang diberikan Sehun padanya gelisah.
Dan beberapa saat kemudian saat ia masih menenangkan diri ditemani pelayan wanita lain yang menyiapkannya teh.
""HNGHAAAAAAAAAAAGGH! FUCK! BRENGSEK!"
"AKH! HUUUH UH STOP! UUH! NGGHHHH ... AHHSHHH AHH AAH!"
"Hhhgghhss sakit hun!"
"Aaaah! AH! Hhhaaah! Kau sangat nikmat Lu"
Seulgi meletakan cangkirnya anggun, dan membuka tasnya gugup mengambil kertas dan membacanya teliti.
Dua orang pelayan wanita menggosok lantai dengan celemek mereka.
Dan mereka mengambil headset memasang ketelinga mereka.
Ayolah? Handphone kalian bahkan ada disaku masing-masing!
Oh iya, kertas yang kau baca itu terbalik Seulgi-ssi!
See u next chapter my reader-nim :* XOXO
