Angelus Ruinosus

by willis.8894

Casts: Oh Sehun, Kim Jongin/Kai, Oh Shixun

Addictional Casts: Jung Krystal, EXO, Lee Taemin, Victoria Wu.

Pairing: KaiHun vs XunHun. TaeStal. SeStal!Friendship. SuDo.

Warning: Kemungkinan Incest Shixun-Sehun.

•••

CHAPTER SEVEN: MEND THE BOND

Sehun terbangun dengan perasaan ringan. Ia tak bermimpi sama sekali, terima kasih pada obat dari yang diminumnya pagi tadi itu. Sehun baru menyadari bahwa ia membutuhkan tidur panjang tanpa mimpi sesekali. Dan ia berterima kasih pada Krystal yang memaksanya minum obat tadi pagi.

Kepala Sehun terasa ringan seakan tanpa beban, ia memutuskan untuk segera mandi sebelum keluar kamar. Ia berendam dalam busa-busa yang lembut, hal yang telah lama ia tak lakukan karena keterbatasan waktunya itu. Pikirannya pergi kemana-mana yang bukan hanya soal pekerjaannya saja. Pikirannya justru teralih pada Shixun dan yang lainnya.

Sehun tahu Shixun dan yang lainnya pasti terkejut dengan keadaannya yang seperti ini dan meskipun Sehun tak bisa merasakan apapun pada mereka, Sehun tahu kesempatan mereka berjumpa mungkin takkan ada lagi setelah ini. Ini mungkin kesempatan terakhir Sehun bertemu dengan mereka dan Sehun takkan membuang kesempatan itu.

Sehun memang tak bisa merasakan, tapi ia ingin mengukir memori terakhir diantara mereka dengan indah. Bukan memori menyakitkan seperti 5 tahun lalu. Karena meskipun mereka telah membuang Sehun bagaikan sampah, mereka adalah teman-teman Sehun, adik kandung Sehun, cinta pertama Sehun. Mereka memiliki peran sendiri dalam hidup Sehun.

Ya, Sehun memutuskan untuk memperbaiki hubungan diantara mereka dalam waktu singkat ini dan berpisah baik-baik untuk terakhir kalinya. Ia memutuskan untuk membuat berbagai memori yang indah sebelum mereka kembali pada jalan masing-masing dan berpisah untuk selamanya.

Setelah mandi, Sehun keluar dan menemukan Krystal yang sedang menonton TV dengan Tao. Kris dan Luhan sedang bermain sesuatu sedangkan Shixun tertidur pulas di sofa.

"Oh, Sehunnie sudah bangun! Kau perlu makan!" kata Krystal yang pertama menyadari Sehun keluar kamar.

Sehun mengangguk. "Aku akan cari makan diluar. Apa kau mau ikut?" tanya Sehun menawarkan.

Krystal menggeleng. "Aku sudah jalan-jalan tadi. Aku mau istirahat saja sore ini."

Sehun kembali mengangguk dan menengok pada Kris dan Luhan. Ia cukup terkejut menemukan kedua orang itu sudah menatapnya entah sejak kapan. Sehun menjilat bibirnya, kebiasaanya ketika gugup masih belum hilang sejak dulu. "Kalian ingin ikut menemaniku makan?" tanya Sehun menawarkan. Ah, nada suaranya masih begitu datar.

"Oh— o-okay," jawab Luhan tergagap dan langsung bangkit berdiri.

Sehun memandangnya sedikit aneh dengan ekspressi Luhan tapi tak mempertanyakan. Sehun hanya mengangguk dan pergi ke kamarnya untuk ganti baju dan mengambil mantelnya.

A•R—

Sehun, Kris, dan Luhan kembali ketika makan malam tiba. Mereka harus mencari keliling kota makanan yang diinginkan Krystal, namun semua baik-baik saja. Masih ada kecanggungan diantara mereka, tapi terima kasih karena kecerobohan dan kebodohan Kris yang membuat suasana mencair. Sehun berterima kasih Kris dan Luhan mau membiasakan diri mereka dengan Sehun yang minim ekspressi ini.

Tak ada yang berkomentar ketika ketiganya pulang, namun ketika Sehun menatap Shixun, adiknya itu terlihat terluka dan marah. Ya, marah dan sesuatu yang lain yang sulit Sehun mengerti. Sehun mencatat dalam otaknya untuk mengajak Shixun pergi jalan-jalan malam ini, mungkin setelah ia selesai membicarakan pekerjaan dengan Suho, Baekhyun, dan Seulgi.

Makan malam berjalan baik, tak ada ketegangan diantara teman-teman Sehun dan teman-teman Shixun. Tentu Baekhyun masih terlihat tak suka dengan Shixun, Suho juga masih enggan untuk bahkan sekedar melirik Kai, tapi tidak dari mereka yang menyuarakan permusuhan terang-terangan dan Sehun bersyukur karena itu.

Oh, tentu saja Sehun yang menjadi sasaran untuk digoda seperti ketika sarapan tadi. Aish, kapan ia tidak menjadi menjadi sasaran Hyung dan Noona-nya ini? Argh, inilah nasibnya sebagai maknae. Huft!

Setelah makan malam, Sehun mengurus pekerjaannya dengan Suho, Baekhyun, dan Seulgi hingga waktu mendekati pukul 11 malam. Seulgi kembali ke kamarnya dengan Irene, Baekhyun dan Suho kembali ke suite mereka disamping. Kris sudah tertidur pulas bagaikan mayat. Kai dan Shixun masih terbangun dan sibuk dengan ponsel mereka masing-masing sepertinya menunggu kantuk menjemput mereka.

"Shixun," panggil Sehun pelan, tapi tampaknya malah mengejutkan adiknya itu.

"Huh?" tanya Shixun bingung langsung terduduk di sofa.

"Kau sudah mengantuk?" tanya Sehun ada sedikit keraguan di nadanya yang datar.

"Tidak?" jawab Shixun tampak tak mengerti.

Sehun melirik Kai yang menatap Sehun dan Shixun tampak mengamati, Sehun tak mengerti kenapa Kai mengamati mereka. Ia memilih untuk mengabaikan itu saat ini. "Um— kau mau— jalan-jalan denganku?" tanya Sehun menawarkan.

Shixun mengangkat satu alisnya. "Jalan-jalan?" tanya Shixun.

Sehun mengangkat bahunya. "Hanya jika kau mau," jawabnya.

Shixun menyeringai mendengar itu dan melipat tangannya di dada. "Coba katakan lagi, Hyung," suruh Shixun menggoda.

Kening Sehun berkerut dan bibirnya melengkung sedikit ke bawah, menampakan ekspressi kucing ngambeknya itu. "Kau mendengarnya dengan jelas, Shixun," protes Sehun.

"Tidak, aku tidak mendengar dengan jelas," kata Shixun masih menyeringai. "Kau dengar apa kata Hyungku tadi, Kai?" tanya Shixun pada rekannya itu.

Tampaknya Kai tidak dalam suasana hati yang baik menurut Sehun, karena pria itu hanya mendengus dongkol sebelum berbalik tidur membelakangi mereka dan menarik selimutnya ke hingga menutupi kepalanya.

"Tsk, dasar ayam gosong," decih Shixun melihat tingkah rekannya itu sebelum kembali menyeringai pada Sehun. "Jadi, Hyung, katakan lagi dengan jelas," suruh Shixun.

"Kalau kau tak mau tak usah," kata Sehun tak mau mengikuti keinginan adiknya itu.

"Kau tak boleh menariknya kembali!" protes Shixun tak terima kini cemberut bagai anak kecil.

Sehun tersenyum kecil melihat kebiasaan Shixun yang tak pernah berubah itu. Shixun selalu kekanak-kanakan meskipun penampilannya sangat maskulin. Ia akan protes dan merengek jika keinginannya tak dituruti. Seperti dulu.

"Cepat ambil mantelmu, Xun-ah. Sebelum kutinggal," kata Sehun mengambil mantelnya yang tersampir di kursi kerjanya dan memakainya.

Shixun menatap Hyungnya tak percaya yang kini tak mengikuti keinginannya itu. Tapi ia segera mengambil mantelnya begitu melihat Sehun mulai berjalan ke pintu meninggalkan Shixun.

Sehun tak bisa menahan kekecewaannya karena tak mendengar suara langkah kaki Shixun mengikutinya. Apakah Shixun benar-benar tak mau pergi dengannya? Apa Shixun benar-benar tak ingin menghabiskan waktu dengannya? Apa bagi Shixun— Sehun benar-benar tak ada lagi artinya?

"Kenapa kau tiba-tiba berhenti, Hyung? Kupikir kita mau jalan-jalan?" tanya Shixun heran yang sudah berada beberapa langkah di depannya, membuyarkan pikiran negatif Sehun.

"Xunnie," bisik Sehun tanpa bisa dihentikan, tak datar namun nadanya tak selembut yang dulu, menatap Shixun tampak terkejut. Kelegaan membanjiri tubuh Sehun begitu Sehun menyadari semua asumsinya itu tidak benar.

Shixun hanya berdiri disana mendengar nama panggilan masa kecil mereka, menatap Sehun dengan emosi yang begitu intens, tapi Sehun tak tahu apa itu. Ia tak mengerti. Apa Shixun tak suka dipanggil Xunnie? Itu mungkin saja, panggilan itu sangat kekanak-kanakan. Sehun mencatat dalam otaknya untuk tidak lagi memanggil Shixun dengan Xunnie.

"Aku tak mendengar langkahmu, kupikir kau tak mau ikut," kata Sehun pelan kembali berjalan berdampingan dengan Shixun.

"Aku ini Agen selama 7 tahun, Hyung. Tentu saja aku berjalan tanpa suara," jawab Shixun menjelaskan.

Ah, Sehun menyadari itu juga ketika pergi dengan Kris dan Luhan. Sehun tak bisa mendengar langkah kaki mereka. Sehun mengangguk mengerti mendengar penjelas itu.

"Hyung," panggil Shixun membuat Sehun menengok padanya.

Shixun menggerakan tangannya hendak menyentuh tangan Sehun, tapi Sehun langsung menjauh, menjaga jarak dari adiknya itu tanpa bisa dihentikan. Refleks. Shixun tampak kecewa dan sedih, Sehun bisa melihat itu dengan jelas dan ia tak menginginkan Shixun berekspressi seperti itu. Tapi ia tak bisa menghentikan refleksnya sendiri. Ia ingin mencoba melawan, tapi tubuhnya malah kaku dan tangannya mulai gemetar. Seluruh tubuhnya menjeritkan agar tak ada yang menyentuhnya meski sejujurnya Sehun ingin bisa kembali menggandeng tangan adiknya itu.

"Maaf," kata Shixun pelan dan menarik tangannya, memasukan ke dalam mantelnya dan kembali berjalan.

Sehun menatap punggung Shixun. Ia tak bisa merasakan apa-apa, tapi ia tak menyangkal bahwa ada keinginan untuk memeluk adiknya itu. Hanya keinginan, karena bahkan setiap sel dalam tubuhnya masih trauma dengan mimpi buruknya semalam dan membuatnya tak ingin disentuh orang lain selain Krystal. Ini bukan kemauan Sehun dan ia benci keadaannya yang seperti ini.

Sehun mendorong pikiran itu ke belakang dan segera menyusul Shixun. Ia sudah bertekad untuk membuat memori yang indah dengan Shixun. Ia tak ingin memikirkan hal-hal yang malah mengganggu waktu spesial mereka berdua itu.

"Kemana kita akan pergi?" tanya Shixun ketika mereka berada di dalam lift yang turun ke bawah.

Sehun mengangkat bahu. "Aku tak tahu. Mungkin nonton film tengah malam? Atau ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Sehun.

"Kurasa menonton film tak buruk juga," jawab Shixun.

A•R—

Waktu berduanya dengan Shixun semalam berjalan baik. Mereka menonton film lalu mencari makan dini hari, di tengah musim salju di Moskow, dan kembali ke hotel ketika waktu menunjukkan pukul 3 lewat. Mereka tak membicarakan hal yang berat dan mendalam, mereka membicarakan hal yang ringan. Bicara tentang film yang mereka tonton, kabar teman-teman sekolah mereka, Shixun menceritakan hal-hal menarik yang ia alami sebagai Agen, beberapa tempat menarik di Rusia yang sudah Shixun jelajahi selama setahun tinggal di negara ini –Shixun berjanji untuk membawa Sehun ke tempat-tempat itu–, dan obrolan ringan lainnya.

Mereka tak bicara kondisi mental Sehun. Sehun juga tak memberitahu bahwa Ibu dan Nenek mereka sudah meninggal beberapa bulan setelah kepergian Shixun, belum. Atau bagaimana kondisi ayah dan kakek mereka. Atau tentang Kai— tidak. Belum. Sehun tahu ia harus membicarakan semua itu pada Shixun. Shixun berhak tahu meski jika Shixun tak peduli padanya ataupun keluarga Oh, tapi Sehun masih belum siap membicarakan itu sekarang. Mungkin nanti, sebelum mereka berpisah.

Jalan-jalan malam dengan Shixun membuat Sehun bahagia. Ia tak bisa menghilangkan senyum kecilnya selama berada disamping Shixun. Ia mulai merasakan adanya sedikit kebahagiaan yang menghangatkan hatinya yang dingin. Begitu kecil, tapi sudah cukup membuat Sehun melihat adanya harapan bahwa ia bisa kembali normal. Kembali seperti dulu.

Tapi kebahagian kecilnya hilang secepat datangnya. Mimpi buruk itu datang lagi, sama seperti kemarin malam. Sehun terbangun dalam pelukan Krystal yang sedang terisak, seluruh tubuhnya banjir keringat, air mata yang tak terhentikan, tenggorokannya yang sakit karena berteriak, tubuhnya yang lemas tak bisa digerakan, dan ia merasa kosong. Hampa. Seakan tak ada gunanya untuk hidup.

Sehun tak lagi tertidur setelah itu, sama seperti kemarin. Meski Krystal kembali tertidur karena kelelahan menangis, Sehun tak tertidur. Ia hanya berbaring dan menatap langit-langit kamar hotelnya dengan kehampaan yang melingkupinya.

Mungkin Sehun perlu bicara berdua dengan Kai. Menanyakan kenapa Kai menciumnya malam itu. Mereka tak sempat bicara seharian kemarin karena keributan di pagi hari dan pada malam hari Sehun bekerja dan pergi dengan Shixun. Sehun rasa ia harus bicara dengan Kai pagi ini, sebelum pertemuan dimulai.

Sehun hanya ingin kehampaan ini segera lenyap dari dirinya. Ia benci hidup bagaikan zombie.

A•R—

Sehun tak tahu berapa lama ia berbaring, ia baru menggerakan tubuhnya begitu sinar matahari mengintip dari tirai kamar hotelnya. Ia melirik jam di atas meja nakas menunjukkan setengah tujuh kurang. Sehun mengecup kening dan perut buncit Krystal lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah mandi dan berpakaian, Sehun meninggalkan pesan untuk Krystal mengatakan ia akan sarapan dengan Kai karena ada hal yang perlu mereka bicarakan lalu keluar dari kamar mereka.

Kai baru saja terbangun ketika Sehun tiba di ruang tengah. Shixun dan Kris masih tertidur pulas, bahkan Irene dan Seulgi juga belum bangun. Kai terlihat jelas masih mengantuk, tapi pria itu menyadari Sehun sudah bersiap-siap pergi.

"Kau mau pergi kemana?" tanya Kai dengan suara serak khas bangun tidurnya.

Sehun selalu menyukai suara Kai ketika bangun tidur. Rendah dan seksi. Dulu, impian Sehun adalah bangun di ranjang yang sama dengan Kai dan mendengar Kai menyapanya setiap pagi dengan suara seksinya itu. Dulu. Tapi bahkan detik ini suara itu tak menggetarkan hati Sehun. Hanya kehampaan.

"Ayo, sarapan di luar. Ada hal yang perlu kita bicarakan," kata Sehun datar.

Kai tampaknya langsung tersadar mendengar itu. "Hanya kita berdua?" tanya Kai mengangkat satu alisnya.

Sehun mengangguk kaku.

Kai menatap Sehun seakan ingin menyelidiki maksud Sehun mengajaknya sarapan berdua. Pria tan itu menghela nafas dan bangkit berdiri. "Biarkan aku cuci muka dulu, setelah itu kita pergi," kata Kai menyetujui sambil melipat selimutnya.

"Biar aku saja," kata Sehun cepat berjalan ke arah Kai namun berhenti sebelum ia berdiri terlalu dekat dengan Kai. "Cuci muka saja, aku yang bereskan ini."

"Whoa, bukankah aku beruntung? CEO Huntak Grup melayaniku di pagi hari!" kata Kai menyeringai namun nadanya sarkastis. "Apa ada pelayanan tambahan, CEO Oh?" tanya Kai menaikan satu alisnya, nadanya begitu merendahkan seakan Kai sedang bicara dengan teman tidur satu malamnya.

Lagi, Sehun tak merasakan apapun. Ia tak merasa sakit hati. Ia tak merasa marah. Ia tak merasa apa-apa. Hanya kehampaan yang semakin lama terasa semakin dingin.

"Cepatlah bersiap-siap," kata Sehun dingin, datar, tanpa emosi. Benar-benar mencerminkan dirinya dari dalam.

Sehun bisa melihat perasaan marah, terluka, dan perasaan lain yang tak bisa Sehun identifikasikan. Bukankah ini sangat lucu? Kai yang merendahkannya ketika Sehun mencoba membantunya, Kai yang menghinanya tanpa sebab. Tapi justru Kai yang sekarang terlihat marah, terlihat terluka. Ironis karena seharusnya Sehun yang terlihat seperti itu.

Kai berbalik dan masuk ke kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras namun tak cukup keras untuk membangunkan Kris dan Shixun. Sehun hanya berdiri kaku disana untuk beberapa detik sebelum mulai membereskan selimut dan bantal Kai itu.

15 menit berikutnya kedua pria itu telah keluar dari hotel dan menuju sebuah café yang berada di dekat sana.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kai setelah mereka memesan sarapan mereka.

Sehun memperhatikan Kai berbeda dari kemarin. Ia terlihat lebih dingin dan tampak tak sabaran. Seperti ia benci menghabiskan waktu dengan Sehun dan tak berniat menutupi ketidaksukaannya. Sehun mulai berpikir apa ia telah melakukan sebuah kesalahan sehingga Kai kini ingin menjauhinya. Atau mungkin suasana hati Kai masih sama buruknya dengan semalam saat Sehun pergi dengan Shixun.

"Apa aku melakukan kesalahan sehingga kau memperlakukanku seperti ini, Kai?" tanya Sehun tanpa bisa dihentikan.

Kai tampak terkejut mendengar pertanyaan itu. "Seperti apa?" gumam Kai bertanya, mencoba mengelak.

"Seperti kau ingin mendorongku menjauh. Seperti kau membenciku dan kau ingin aku tahu jelas itu," jawab Sehun jujur.

"Aku tak membencimu," bantah Kai tajam, tampak tersinggung.

Kini Sehun semakin bingung. Bagaimana bisa Sehun berpikir Kai tak membencinya jika tiba-tiba saja Kai berubah dingin, menghina, dan juga merendahkannya di pagi hari padahal hari-hari sebelumnya mereka baik-baik saja. Kai bahkan memperhatikannya malam itu. Jadi, apa ini salahnya lagi jika bertanya kenapa Kai membencinya?

"Dan biasanya memanggilku Jongin," tambah Kai lagi, jelas tampak tak senang ketika Sehun menyebutnya sebagai Kai.

"Jongin dan Kai sama-sama namamu," kata Sehun datar.

"Dulu kau bisa memanggilku Jongin. Kemarin kau masih memanggilku Jongin," balas Kai.

"Kemarin kau juga baik padaku, memperhatikanku. Tapi sekarang kau dingin padaku dan seakan tak suka aku ada dihadapanmu. Apa ada alasannya? Jika tidak, maka tak ada bedanya aku memanggilmu Jongin kemarin dan memanggilmu Kai hari ini."

Kai terdiam sejenak mendengar itu sebelum ekspressi berubah dongkol. Pria tan itu melipat tangannya di dada dan menatap keluar jendela, tanda ia tak senang dengan pembicaraan ini. Atau mungkin tak senang karena ia tak bisa membalas perkataan Sehun.

Sehun menghela nafas melihat tingkah Kai itu. "Aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan, sejujurnya aku tak tahu sama sekali salahku jadi akan lebih mudah jika kau memberitahunya," kata Sehun pelan, sedikit lebih lembut.

Kai masih tak mau memandang Sehun, tapi Sehun bisa melihat posturnya mulai melunak mendengar perkataan Sehun tadi.

"Jongin-ah?" panggil Sehun, berharap Kai mau berhenti ngambek dan mereka bisa mulai bicara serius.

Trik yang satu itu tampaknya berhasil karena Kai menghela nafas dan mau menatap Sehun. "Itu bukan salahmu. Maaf, aku hanya— entahlah, suasana hatiku sedang memburuk," kata Kai jujur.

Sehun mengangguk mengerti mendengar itu. Ia menjilat bibirnya sekilas, gugup. "Bisakah kita bicara serius sekarang?" tanya Sehun pelan.

Kai menatapnya, lagi-lagi dengan tatapan aneh nan intens yang tak pernah Sehun mengerti. Mereka hening untuk beberapa saat sebelum Kai mengangguk.

Sehun tampak ragu sejenak, dibawah meja jari-jarinya tak bisa berdiam bermain-main dengan satu sama lain. Lidahnya kembali menjilati bibirnya sebelum ia membuka mulutnya. "Kenapa kau menciumku malam itu?" tanya Sehun.

"Menurutmu kenapa, Sehun?" Kai bertanya balik masih menatap Sehun intens.

Kening Sehun berkerut dan bibirnya cemberut, ekspressi anak kucing yang ngambek menurut pendapat Shixun. "Kau tidak adil, Jongin. Aku bertanya dan kau harus menjawab," protes Sehun –hampir terdengar seperti rengekan–.

Kai tak bisa menahan tawa kecilnya membuat kening Sehun semakin berkerut dan bibirnya makin tertekuk ke bawah. Apa yang Kai tertawakan? Ini sama sekali tak lucu. Sehun sepertinya mendengar Kai bergumam 'menggemaskan' sambil tersenyum tapi Sehun tak terlalu yakin.

"Ayolah, Sehun, tebak itu. Kau seorang CEO, bukannya kau seharusnya bisa menilai orang? Aku ingat ayahku dulu mengatakan aku harus selalu bisa melihat orang jika ingin menjadi CEO nantinya," kata Kai menyeringai.

Sehun jelas menunjukkan ekspressi tak setuju dengan ekspressi wajahnya yang minim, tapi Kai mengabaikan itu dan jelas menunggu jawaban Sehun. "Aku punya tebakan, Kai. Tapi aku tak yakin kau ingin mengakuinya jika kukatakan," kata Sehun.

Kai menaikan satu alisnya. "Aku takkan menutupi apapun," jawab Kai mengangkat kedua tangannya ke atas, tanda menyerah.

Sehun masih terlihat ragu sebelum mengatakan asumsinya itu. "Kau frustasi karena Shixun masih tak membalas perasaanmu dan otakmu mencari pelepasan emosional tercepat dan termudah yaitu aku, kakak kembarnya," kata Sehun.

Seringai Kai luntur mendengar itu, tergantikan dengan kekecewaan dan— amarah? Sehun benar-benar tak tahu ini. Apa ia mengatakan hal yang salah lagi?

"Menjadikanmu pengganti Shixun? Aku tak serendah itu, Sehun!" kata Kai dingin dan menusuk.

"Lalu apa? Kau memintaku menebak, Kai," kata Sehun mulai frustasi tapi mencoba memelankan nadanya. "Aku tak lagi mengenalmu, Jongin. 5 tahun banyak yang berubah."

"Aku sama sekali tak berubah," sergah Kai tajam.

"Maksudmu kau masih mencintai Shixun? Atau kau meniduri semua wanita cantik dan seksi yang kau lihat dimanapun?" Sehun merasa lidahnya begitu pahit mengucapkan itu.

Kai menatap Sehun tampak tak percaya, jelas terluka dengan itu. "Kau memandangku seperti itu?" tanya Kai getir.

"Itu kau yang 5 tahun lalu, Jongin. Mencintai Shixun yang tak terjangkau olehmu dan mencari jalan pintas untuk memuaskan hasratmu," kata Sehun memberitahu dengan sedikit lembut, lelah dengan semua perbedaan ini. "Dan jika kau mengatakan kau tak berubah, maka itu artinya kau tetap seperti itu."

"Yang kumaksud tak berubah adalah perasaanku padamu. Aku mencintaimu, Sehun," kata Kai tegas dan terselip amarah, frustasi, dan ketidaksabaran di nadanya. "Aku mencintaimu. 5 tahun lalu maupun sekarang."

Sehun hanya bisa terduduk kaku disana mendengar itu.

e)(o

Aaaaaaaa udah lama yah hehehe.

Aku rada sibuk belakangan ini hehe. Sebenernya chap ini udah selesai dari minggu lalu tapi baru ku edit sekarang buat diupdate hehe. Yang sabar ya wkwkwk

Buat yg minta Sestal momen dikurangin, berbahagialah karena itu jadi kenyataan EAAAK. Jadi tugas Krystal disini sbg jembatan antara KaiHun-XunHun udah selesai, Krystal masih muncul tapi partnya gak banyak. mulai sekarang aku bakal fokus ke KaiHun-XunHun beberapa masalah sebelum namatin AR wkwkwk

Oh iya aku janji AR Drabble yah, tapi belom sempet kutulis T_T udah ada ide sih banyak malah, tapi aku lebih fokus nulis AR ini dulu T_T mohon bersabar yah T_T

Daaaaaan terima kasih banyaaaaaaak untuk reviewnya. Terima kasih banyak udah ngedukung cerita ini. Sider, belajar hargain tulisan orang ya. Gak mudah nulis itu (:

SPOILER: Next chap CONFESSION EAAAK EAAAK gimana cara Kai ngakuin perasaannya ke Sehun nih? Di terima atau engga?? Jawabannya ada di next chap (;

Sekian cuap-cuap author, semoga menikmati comeback EXO [pssstttt Kai di The Eve makin daebak aja , ku tak kuat liatnyaaaaaaa T_T]

-willis.8894