Angelus Ruinosus
•
by willis.8894
•
•
•
Casts: Oh Sehun, Kim Jongin/Kai, Oh Shixun
Addictional Casts: Jung Krystal, EXO, Lee Taemin, Victoria Wu.
•
•
•
Pairing: KaiHun vs XunHun. TaeStal. SeStal!Friendship. SuDo.
•
•
•
Warning: Kemungkinan Incest Shixun-Sehun.
CHAPTER EIGHT: CONFESSION
Kai sudah mengatakannya. Disinilah ia mengatakan cinta yang ia pendam selama 5 tahun kepada pujaan hatinya. Di sebuah café kecil di pusat kota Moskow. Disinilah ia menyatakan cinta yang ia sangkal 5 tahun lalu dan menyakiti orang yang dulu mencintainya.
Tapi Sehun hanya terdiam disitu dan menatapnya kosong. Seakan pernyataan cinta Kai telah mematikan seluruh fungsi dalam dirinya. Hal yang sama kembali terulang seperti ketika Kai mencium Sehun malam itu.
"Kau pasti bercanda," kata Sehun datar, tanpa emosi.
Kai tak heran. Dalam pikiran Sehun ia hanyalah pria yang tergila-gila pada Shixun namun cintanya tak terbalas sehingga meniduri wanita dan pria-pria seksi yang berbeda-beda setiap malam. Jelas saja Sehun sulit percaya bahwa ia sudah mencintainya 5 tahun lalu hingga detik ini.
Tapi bukankah itu yang Kai justru inginkan 5 tahun lalu? Bukankah justru itu tujuan Kai membawa semua jalangnya pulang dan menyetubuhi mereka hingga mereka menjerit nikmat hingga Sehun bisa mendengar jelas mereka? Bukankah ini yang Kai inginkan 5 tahun lalu, Sehun berpikir ia hanya mencintai Shixun dan selalu mencintai Shixun.
Kai tahu ia egois, brengsek, dan tak tahu diri. Ia tahu jelas ia tak memiliki hak untuk marah karena justru ia sendirilah yang membuat Sehun berpikir seperti itu. Tapi sial! Ia tak bisa menahan perasaannya sekarang! Ia benar-benar marah karena Sehun berpikir ia serendah itu!
"Aku tidak bercanda," kata Kai disela kertakan giginya, mencoba menahan amarahnya.
"Kau masih mengatakannya dengan jelas dan tegas 5 tahun lalu, Kai. Kau mengatakan kau mencintai Shixun. Kau masih meniduri sembarang orang bahkan sebelum kau pergi, memberitahuku bahwa kau melewati malam yang bergelora dan aku harus mencobanya begitu aku keluar dari rumah sakit," kata Sehun menyatakan dengan begitu datarnya.
Hati Kai semakin terhujam belati mendengar itu. Ia hanya bisa tersenyum getir. Selamat Kim Jongin, misimu telah sukses. Sehun berpikir tepat seperti yang kau inginkan 5 tahun lalu.
"Jika kau tak ingin menjawab kenapa kau menciumku malam itu, maka aku takkan memaksa," kata Sehun mengambil dompetnya, siap untuk membayar sarapan mereka yang belum disentuh sama sekali dan pergi dari sana.
"Itu yang kuharapkan 5 tahun lalu, kau tahu," kata Kai membuat gerakan Sehun terhenti.
Kai menatap ke dalam mata Sehun, mata itu masih begitu cantik meski tampak dingin dan mati, tapi tak ada yang mengalahkan mata berbinar Sehun yang dulu. Mata yang lembut, hangat, dan penuh cinta. Siapapun yang dicintai Sehun akan menjadi orang paling bahagia di dunia. Dan Kai pernah merasakan itu, hanya saja ia terlalu bodoh karena menyia-nyiakannya.
"Aku tahu kau mencintaiku, Sehun. Setidaknya dulu," kata Kai melanjutkan, Sehun masih terdiam kaku di depannya namun Kai tahu Sehun mendengarkan perkataannya dengan baik. "Dan aku setuju kuliah di Cambridge untuk menjagamu atas perintah Shixun, karena aku mencintai Shixun saat itu. Shixun mengatakan padaku tentang perasaanmu, ia menyuruhku untuk menjagamu dan membahagiakanmu."
Sehun menundukkan wajahnya dan menyeruput kopinya, tapi Kai tak melepaskan tatapannya pada Malaikat di hadapannya. Malaikat yang telah jatuh.
"Awalnya aku marah karena bagi Shixun kau yang terpenting dan bagaimana Shixun sangat ingin melihatmu bahagia tanpa memikirkanku sedikitpun. Aku semakin marah karena bahkan Shixun tak menghubungi barang sekalipun sejak kepergiannya bersama Kris dan Tao. Dan ya, aku melampiaskannya padamu. Aku membawa jalang itu setiap hari agar kau bisa mendengar jelas. Agar kau menyadari bahwa aku takkan pernah bisa mencintaimu."
"Aku mengerti. Kita harus kembali ke hotel seka—"
"Tapi aku tak tahu sejak kapan ada perasaan lain yang tumbuh tanpa bisa kuhentikan," sela Kai mengabaikan ucapan Sehun dan menatap Sehun intens. "Aku tak tahu kapan aku mulai suka melihat mata cokelatmu yang begitu hidup dan berbinar setiap saat. Aku tak tahu sejak kapan senyummu tampak begitu manis dan indah hingga membuatku berhenti bernafas untuk sesaat. Aku tak tahu sejak kapan aku mulai menyukai seluruh yang ada pada dirimu, dari sifat lembutmu hingga bahkan ketika kau menggila karena café yang menjual Bubble Tea di dekat apartemen kita tutup sementara karena renovasi."
"Kai kurasa lebih baik kita—"
"Jongin," sela Kai lagi mengoreksi. "Jika kau memanggilku Kai lagi aku akan menciummu," kata Kai serius.
Ekspressi Sehun masih tampak datar mendengar itu namun matanya terlihat protes dengan ancaman Kai itu. Itu sudah cukup bagi Kai, setidaknya mata Sehun tak lagi mati seperti sebelumnya.
"Dan tolong, dengarkan aku hingga selesai, Sehun. Aku benar-benar akan menciummu jika kau menyela lagi," kata Kai memberitahu dengan pelan, lembut, tapi ancamannya benar-benar nyata.
Sehun menunduk menatap kopinya dan mengangguk kecil. Menurut bagai anak kecil, terlihat begitu menggemaskan.
"Perasaanku padamu tumbuh begitu cepat namun tak terdeteksi olehku. Aku mulai melupakan Shixun untuk beberapa saat dan ketika aku menyadari itu, aku ketakutan, Sehun," kata Kai mengakui dengan jujur. Ia mengambil nafas dalam mencoba menenangkan gejolak dalam dirinya. "Aku takut jatuh cinta padamu, Sehun. Aku takut rasa cintaku pada Shixun menghilang. Aku masih ingin mencintai Shixun meski ia telah meninggalkan kita saat itu dan aku tak ingin melepaskan itu begitu saja. Aku mencoba menipu diriku sendiri, Sehun. Aku menyiksamu, memainkan perasaanmu, menyakitimu hanya untuk menipu diriku sendiri."
Sehun mengangkat wajahnya dan Kai bisa melihat pandangan terluka ada disana, begitu minim tapi Kai bisa melihatnya. Terluka, kecewa— sedih? Tapi tak ada kemarahan sama sekali disana. Tak ada ada. Membuat Kai semakin merasa bersalah namun juga senang. Ia merasa bersalah karena seharusnya Sehun marah padanya atas semua yang ia lakukan. Senang karena mungkin ia memiliki kesempatan untuk memulai kembali dengan Sehun, memperbaiki semuanya.
"Aku berusaha menipu diriku sendiri dan itu tak berguna, Sehun. Karena aku sudah mencintaimu terlalu dalam bahkan sebelum kusadari. Aku terlambat menyadarinya, aku baru menyadarinya ketika aku pergi dari kehidupanmu. Aku melihat Shixun tapi aku menyadari rasa cintaku telah menghilang darinya dan aku mulai merindukanmu. Setiap malam, setiap hari. Setiap kali sarapan aku membayangkanmu yang membuatkanku kopi dan sarapan, setiap makan siang aku selalu memeriksa ponselku berharap ada pesan darimu yang mengingatkanku untuk jangan lupa makan siang. Setiap malam aku merindukan suaramu yang mengucapkan selamat tidur bagiku. Aku mencintaimu, Sehun. Aku mencintaimu dan aku minta maaf telah banyak menyakitimu. Aku minta maaf aku begitu bodoh dan terlambat menyadari perasaanku."
Sehun menatap Kai, namun kembali menunduk tampak tak tahan ditatap intens oleh Kai.
"Aku tahu aku begitu terlambat. Kau sudah menikah dengan Krystal dan bahagia dengannya. Kau mencintainya. Tapi jika kau memberikan satu saja kesempatan— hanya satu kesempatan, aku takkan pernah melepaskanmu, Sehun," ucap Kai bersumpah.
Sehun masih menunduk dan hanya menatap kopinya. Menggigit dan menghisap bibirnya dan sesekali lidahnya keluar menjilatnya. Jari-jarinya tak berhenti bermain-main digelas kopi di hadapannya. Kai baru menyadari ini. Kebiasaan Sehun ketika gugup. Begitu menggemaskan namun juga seksi. Kai sangat ingin menutup jarak diantara mereka dan mengecup bibir menggoda itu. Menggigit, menghisap, dan menjilat bibir Sehun.
Fokus, Kim Jongin! Berhenti mesum!
"Sehun, katakan sesuatu," kata Kai pelan, memohon.
Sehun menatapnya dari balik bulu mata lentiknya, menjilat bibirnya sekali sebelum membuka mulutnya. "Kupikir aku tak boleh menyela atau nanti kau menciumku," katanya pelan, tampak malu-malu tapi ada sedikit nada canda didalamnya.
"Aku bisa menciummu sekarang juga karena kau terlihat menggemaskan sekarang ini, Hunnie," kata Kai tanpa bisa dihentikan.
Sehun mengangkat wajahnya terlihat kaget dan menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Seakan ingin melindungi bibir tipis nan manis itu dari serangan Kai yang tak terprediksi. Kai tak bisa menahan tawanya melihat tingkah Sehun yang begitu menggemaskan itu.
Ah, lihatlah Sehun sekarang. Ia mengeluarkan ekspressi anak kucing ngambeknya lagi.
"Baik, maaf, maaf, Princess. Aku akan berhenti tertawa sekarang," kata Kai menyadari tatapan tajam Sehun.
Seharusnya Kai merasa takut karena dihadapannya adalah CEO Oh Sehun dari Huntak Grup, tapi bagaimana bisa ia merasa takut kalau Sehun terlihat begitu menggemaskan dengan kening berkerut, tatapan tajam yang tak menakutkan, dan bibir mungilnya yang tertekuk kebawah. Sehun benar-benar terlihat seperti anak kucing yang mengamuk! Begitu menggemaskan!
"Jadi, apa jawabmu, Hun?" tanya Kai kembali serius, mencoba fokus mendapatkan kepastian dari Sehun.
Sehun menghela nafas pelan sebelum menatap keluar café. "Pertemuan kita ini hanya sementara, Jongin-ah. Setelah ini aku kembali ke Korea dan kau kembali pada kehidupan bebasmu," kata Sehun pelan.
Kai terdiam mendengar itu. Bagaimana bisa ia lupa? Sehun hanya akan berada 10 hari di Rusia dan setelah itu Sehun kembali menghilang dari hidupnya. Ini semua hanya sementara dan terlalu singkat. "Aku benar-benar tak bisa kembali ke Korea, huh? Jenguk Grup pasti akan menolakku mentah-mentah," kata Kai getir.
Sehun menatapnya, ada kesedihan di wajah datarnya. "Keadaan sangat sulit bagi Jenguk Grup 5 tahun ini, Jongin-ah. Kepergianmu sangat tiba-tiba, Minseok-hyung terpaksa harus menjadi CEO karena Ayahmu yang memilihnya. Suho-hyung berambisi memimpin Jenguk Grup tapi Ayahmu tak setuju. Terjadi terlalu banyak perselisihan diawal-awal kepergianmu, dan terlebih COO Minseok-hyung memilih untuk berkhianat. Disaat itulah kejatuhan Jenguk Grup, Jongin. Mereka berusaha bangkit, Suho-hyung menjadi COO di Huntak Grup untuk menjaga kerjasama sedangkan Jongdae-hyung melepaskan kebebasannya dan menjadi COO Jenguk Grup," kata Sehun memberitahu dengan perlahan, lembut, seakan tak ingin menyakiti atau membebani Kai.
Kai tahu Sehun tak ingin menyalahkannya, tapi Kai juga tahu jelas itu adalah salahnya karena pergi meninggalkan Jenguk Grup untuk mengejar cintanya yang dulu. Tidak, setelah dipikir ulang ini bukan salahnya. Ia adalah salah Shixun. Shixun yang mengajaknya pergi. Shixun yang membuatnya meninggalkan Sehun dan Jenguk Grup. Ini semua salah Oh Shixun.
"Aku tak ingin membebanimu. Tenang saja, Jenguk Grup baik-baik saja sekarang. Ayah dan Ibumu sehat. Noonamu juga baik, ia sudah punya anak," kata Sehun mengabari keadaan keluarganya meski Kai tak menanyakan.
Kai hanya bisa mengangguk mendengar itu. Tak tahu harus berkomentar apa. "Jadi, apa yang ingin kau lakukan setelah tahu perasaanku dan waktu kita hanya sementara dan singkat?" tanya Kai kembali ke topik pembicaraan mereka, sedikit gugup dan panik dengan jawaban yang akan Sehun berikan.
"Aku ingin memperbaiki semuanya, Jongin-ah," kata Sehun pelan. "Kita tak berpisah dengan baik-baik 5 tahun lalu. Kali ini aku ingin membuat kenangan yang baik dengan kalian dan berpisah secara baik-baik," kata Sehun menjelaskan. Ia menatap Kai dari balik bulu matanya dan menjilat bibirnya. "Maukah— maukah kau— maukah kau menulis ulang memori tentang kita? Sebelum kita berpisah, tanpa terbebani perasaan apapun," kata Sehun dengan nada memohon yang hampir tak terdeteksi di dalamnya.
Ini bukan hal yang Kai harapkan, tapi Kai tahu ini satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Tentu saja, takkan mudah untuk mendapatkan hati Sehun kembali setelah ia menghancurkannya berkali-kali 5 tahun lalu, tapi Kai siap untuk bertarung. Kai siang untuk berjuang mendapatkan hati Sehun. Dan ia takkan melepaskan kesempatan ini.
"Bagaimana bisa aku menolak dengan wajah manismu itu, Hunnie," jawab Kai tersenyum miring, tampak menggoda dan seksi.
Sehun malah kembali cemberut dan tampak menggemaskan membuat Kai tak bisa menahan tawanya. Pria manis itu sampai melempar Kai dengan tusuk gigi dimeja mereka sangking kesalnya karena Kai terus menggodanya.
Ya, ini pagi yang baik bagi Kai. Awal yang baru bagi perjuangannya. Ia tak peduli jika harus merebut Sehun dari sepupunya sendiri, tapi ia takkan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kai akan membuat Sehun jatuh cinta kembali padanya selama ia berada di Rusia.
e)(o
"Sehun," bisik Baekhyun.
Sehun menengok pada asistennya itu, bingung. Baekhyun memandangnya dengan cemas membuat Sehun semakin bingung apa yang temannya ini cemaskan.
"Apa kau baik-baik saja, Hun-ah?" tanya Baekhyun masih tampak cemas.
Sehun mengangguk meski ia masih bingung. Apa ia terlihat tidak baik-baik saja?
"Kau daritadi terlihat— tak fokus, Sehun. Apa kau yakin kau baik-baik saja?"
Sehun kembali mengangguk sebelum mengisyaratkan Baekhyun untuk fokus ke presentasi yang sedang berjalan di depan.
Sehun tak heran jika Baekhyun menyadari ia banyak melamun hari ini. Bagaimana tidak? Sejak pagi pernyataan cinta Kai kembali menelusup di dalam benaknya dan sulit untuk ia lupakan. Ia berkali-kali memerintahkan otaknya untuk fokus pada pekerjaannya, tapi tetap pembicaraan tadi pagi masih tak lenyap dalam pikirannya.
Kai mencintainya.
Itu satu kenyataan yang sulit ia terima. Ia pernah mencintai Kai. Ia ingin kembali mencintai Kai jika ia bisa. Jika ia telah kembali normal, jika ia bisa kembali merasakan cinta romantis, ia ingin kembali jatuh cinta pada Kai. Tapi Sehun tak pernah berpikir bahwa Kai juga akan mencintainya. Sehun telah menerima kenyataan bahwa Kai mencintai Shixun dan tak pernah mencintainya, terlebih dengan sikap Kai 5 tahun lalu yang menegaskan itu. Sehun benar-benar meragukan pernyataan cinta Kai.
Dan Shixun… Shixun memberitahu Kai perasaan Sehun. Shixun telah berjanji takkan memberitahu siapapun, tapi ia memberitahu Kai. Sehun ingin marah, jelas ia ingin marah, tapi nyatanya ia tak bisa marah. Ia tak bisa merasakan amarah itu karena sejujurnya ia tak peduli.
Bicara soal Shixun, adik kembarnya itu ikut mengawalnya ke pertemuan. Shixun jelas menarik perhatian beberapa kolega Sehun karena wajah mereka yang mirip, tapi jelas tak ada yang mengusik hal itu.
"Kita akan makan siang dimana? Krystal bilang ia makan siang di luar dengan Kris, Luhan, dan Tao," kata Suho menginfokan.
"Kalau begitu tak perlu ke kamar. Kita makan siang di resto?" tanya Kyungsoo menawarkan.
Sehun hanya mengangguk. Ia tak menolak apapun yang teman-temannya katakan sampai ia menyesalinya. Ya, ia menyesalinya ketika ia duduk di restoran di apit oleh Kai dan Shixun yang memandang tajam satu sama lain.
"Kenapa kau duduk disitu? Minggir!" suruh Shixun tak suka, mengusir Kai.
"Kau tak berhak melarangku," balas Kai tajam jelas tak mau pindah.
Sehun hanya menghela nafas dan menggeleng mendengar pertengkaran bak anak TK antara Shixun dan Kai. Terlebih yang lain tak melakukan apa-apa selain menontoni mereka dengan penasaran.
"Berhenti kalian berdua! Kita mau makan siang!" kata Sehun tak sabaran dengan cemberut, sedikit terdengar seperti rengekan.
Semua di meja itu menatapnya terkejut, bagai melihat keajaiban dunia. Membuat Sehun risih tapi juga senang akhirnya Kai dan Shixun menjadi diam. Sehun semakin bingung sekarang dengan respon mereka, apa yang ia lakukan sampai mereka menatapnya begitu?
"Apa?" tanya Sehun heran.
"Apa tadi ada yang merekamnya? Aku akan membayar mahal untuk rekaman Sehunnie merengek," kata Suho mengadakan sayembara dadakan.
Sehun hanya menutup wajahnya dan mengerang pelan. Ia butuh teman-teman yang lebih normal dari ini.
Akhirnya setelah beberapa keributan, mereka semua memesan makanan mereka. Mereka makan siang dengan sangat tidak tenang. Shixun dan Kai selalu bertengkar dalam hal sekecil apapun. Shixun menyingkirkan semua makanan yang Kai letakan di piring Sehun, Kai juga melakukan hal yang sama dengan semua makanan yang Shixun berikan pada Sehun.
"Yah, jauh-jauh sana dari Hyungku!" seru Shixun kini habis sabar karena Kai selalu mengacaukannya ketika ingin menyuapi Sehun.
"Aku takkan pergi jauh-jauh dari Sehunnie," balas Kai.
Sehun hanya makan dengan tenang sementara Kai dan Shixun bertengkar. Mereka terlihat cocok meski selalu bertengkar. Orang juga bilang cara menarik perhatian orang yang disukai adalah dengan mengganggunya. Apakah Kai sebenarnya masih menyukai Shixun? Itu mungkin, keduanya telah bersama-sama selama 5 tahun, tak mungkin cinta Kai pada Shixun lenyap begitu saja.
Jadi pernyataan cinta Kai pagi ini hanya kebohongan? Entah kenapa hati Sehun yang dingin dan kebas itu terasa seperti ditusuk oleh sebuah jarum.
"Aku ingin ke toilet sebentar," kata Sehun tiba-tiba bangkit berdiri dan pergi tanpa menunggu respon yang lain.
Sehun mencuci tangannya. Ralat, ia membiarkan air mengalir di tangannya. Lay, salah satu co-psikiatris-nya memberitahu itu salah cara untuk menenangkan dirinya. Dan Sehun membutuhkan itu sekarang. Pikirannya terganggu dengan pernyataan cinta Kai dan setiap detiknya ia semakin meragukan kebenaran itu.
"CEO Oh," sapa seorang yang mencuci tangan disebelahnya. Seorang pria yang tampaknya berumur pertengahan 30an. Termasuk muda untuk menjadi CEO perusahaan yang besar.
Sehun melirik dari kaca, ia adalah perwakilan CEO dari Jerman. Sehun tak terlalu ingat nama perusahaannya tapi ia ingat wajah dan namanya. "CEO Heigh," balas Sehun menyapa, mengangguk hormat.
"Senang akhirnya bertemu Anda, CEO Oh. Kemarin Anda tak hadir, sangat disayangkan," kata CEO Heigh itu tersenyum sedikit menyeringai, menggunakan bahasa inggris.
Sehun tahu orang ini adalah orang yang perlu di waspadai. Entah kenapa Sehun memiliki firasat buruk tentang orang ini. "Saya berhalangan hadir," jawab Sehun datar dan mengeringkan tangannya, tak ingin berlama-lama bersama dengan CEO itu. "Saya harus kembali ke meja saya segera. Saya permisi," kata Sehun pamit.
CEO Heigh mengangguk, matanya tajam seakan ingin memangsa Sehun. Sehun tanpa menunda lebih lama, segera meninggalkan toilet dan kembali ke mejanya.
"Hyung, kau ok?" tanya Shixun cemas begitu Sehun kembali ke mejanya.
Sehun tersenyum kecil dan mengangguk. Tak ingin mencemaskan adik kembarnya itu. Ia kembali makan dalam diam, tapi ia bisa merasakan Shixun masih menatapnya tampak khawatir. Sehun mengambil sesendok makanannya dan mengangkat sendoknya ke mulut Shixun.
Shixun tampak terkejut namun segera membuka mulutnya dan memakan suapan dari Hyungnya itu. Ia mengunyahnya dan menyeringai penuh kemenangan. Sehun bingung kenapa Shixun menyeringai begitu, ketika melirik pada Kai, ia baru menyadari ekspressi Kai yang tampak tak suka dengan prilaku Sehun pada Shixun itu.
Apa sekarang Kai kembali cemburu karena Shixun kini kembali menempel dengan Sehun? Pasti Kai merasa di nomor duakan oleh Shixun makanya ia tak suka. Mungkin benar, Kai masih mencintai Shixun dan pernyataan cintanya pada Sehun hanya sebuah— pelarian termudah.
Stop berasumsi, Sehun. Serius atau tidaknya pernyataan cinta Kai, takkan mengubah keadaan bahwa pertemuan ini hanya sementara! Fokuslah bekerja!
Alarm di otak Sehun mengingatkannya. Membuat Sehun tersadar bahwa itu benar. Apapun yang Kai katakan, tidak berpengaruh apa-apa. Mereka akan segera berpisah setelah pertemuan ini selesai, mereka takkan bisa bersama karena jalan mereka sudah terlalu berbeda.
"Sehun, kau harus minum obatmu, titipan dari Ny. Oh," kata Baekhyun memberikan tempat berbentuk lingkaran berukuran kecil itu.
Sehun mengambil dan membuka tutupnya, ada 3 tablet disana. Ia kembali menutup tempat itu dan memasukannya ke saku jasnya. "Aku akan makan nanti malam sebelum tidur. Jika aku makan sekarang nanti aku akan tertidur ketika pertemuan," kata Sehun menjelaskan begitu mendapat tatapan tak setuju dari Baekhyun.
Baekhyun hanya menghela nafas. "Baiklah, Bos," jawab Baekhyun mengalah.
‒A•R‒
Waktu menunjukkan hampir pukul 11 malam ketika Sehun selesai mandi. Krystal tertidur tak lama setelah makan malam, tampaknya begitu lelah berjalan-jalan keliling Moskow seharian. Ia makan malam dengan Changmin dan Victoria sedikit membahas tentang presentasi QiYing Grup untuk besok. Ia kembali ke kamar dan mengerjakan beberapa dokumen sebelum memutuskan untuk cukup bekerja hari ini.
Sehun berpikir untuk mengajak Shixun atau Kai jalan-jalan malam ini, siapapun yang masih bangun. Atau mungkin juga Chanyeol. Ia tak yakin mengajak Kris, Luhan, dan Tao, ketiganya tampak cukup lelah mengawal Krystal seharian ini.
Ia memakai celana jins dan kaos berbalut baju tebal sebelum keluar kamar. Ia menutup pintu kamar dengan pelan memastikan Krystal tak terbangun karenanya. Langkahnya terhenti sejenak mendengar suara pelan dan sensual dari seorang wanita di ruang tengah. Sehun mengintip sedikit melihat Irene duduk menyamping, menempel dengan Kai, tangannya membelai bahu Kai dengan gerakan lambat dan menggoda sedangkan bibirnya dekat dengan telinga Kai. Kai duduk membelakangi Sehun sehingga tak tahu Sehun mengamati mereka dalam diam.
"Ayolah, Kai, apa kau tak tertarik bermain denganku?" ajak Irene menggoda. "Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan malam ini," kata Irene berbisik namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi senyap nan remang itu.
Ada sedikit percikan di dalam dada Sehun melihat pemandangan di depannya. Mulai terasa menyakitkan di hatinya yang dingin. Terlebih melihat Kai hanya bergumam namun tak mendorong Irene menjauh.
Mungkin ini yang sebenarnya dimaksud Kai ia tak berubah 5 tahun lalu maupun sekarang.
Lagi, kenyataan itu cukup membuat jantung Sehun ditusuk oleh sebuah jarum. Cukup untuk membuatnya merasakan sakit yang tak pernah ia rasakan lagi dalam beberapa tahun belakangan ini karena hatinya yang mendingin.
"Oh, Hyung, kau ingin pergi?" tanya Shixun yang baru selesai mandi, menggunakan kaos hitam lengan pendek dan celana pendek dengan handuk kecil tergantung di lehernya. Ia langsung menyadari keberadaan Sehun begitu keluar dari kamar mandi.
Kai dan Irene langsung menengok ke arahnya, terkejut. Irene menatapnya dari atas sampai bawah tampak bernafsu sedangkan Kai menatapnya dengan— rasa bersalah? Entahlah, Sehun tak terlalu yakin dengan itu.
Sehun menatap lurus pada adik kembarnya itu. "Kau sudah mau tidur? Aku mau mengajakmu jalan-jalan," kata Sehun melangkah menuju sofa, mengabaikan tatapan Irene dan Kai yang mengikuti pergerakannya.
Mata Shixun langsung berbinar mendengar itu. "Aku ikut, tunggu sebentar aku pakai jinsku dulu," kata Shixun segera mencari jins dalam tas bajunya yang terlihat lusuh itu.
Sehun berpikir mungkin ia harus pergi belanja dengan adiknya besok, membelikan Shixun banyak baju dan juga tas. "Aku akan ke Suite sebelah dulu," kata Sehun memberitahu sebelum keluar tanpa menengok ke belakang.
Itu sebenarnya hanya alasan. Sehun hanya tak suka berlama-lama di satu ruangan dengan Kai dan Irene. Entah kenapa itu sangat mengganggunya. Lagipula sekalian memeriksa apakah Chanyeol mau ikut atau tidak, batin Sehun meyakinkan dirinya sendiri.
Sehun hendak mengetuk pintu Suite sebelah tapi tak jadi begitu melihat Suho dan Kyungsoo berjalan di lorong itu. Kyungsoo memeluk lengan Suho dan tersenyum pada Sehun. Ah, sepertinya ada yang baru saja pulang kencan, Sehun tak bisa menahan senyum kecilnya melihat keduanya.
"Sehunnie? Tumben sekali," kata Kyungsoo tersenyum cerah, tampak lebih cerah dari biasanya menandakan kencan keduanya berjalan dengan sangat baik.
"Aku ingin melihat apa Chanyeol masih bangun," jawab Sehun.
"Chanyeol?" tanya Suho heran sambil mengetuk pintu.
"Aku dan Shixun ingin jalan-jalan, aku ingin menawarkan Chanyeol untuk ikut jika ia mau," kata Sehun menjelaskan.
"Oh, kalian," gumam Baekhyun yang membukakan pintu tampak mengantuk dan mempersilahkan mereka masuk.
"Apa Chanyeol masih bangun?" tanya Sehun berdiri di ambang pintu suite yang terbuka itu.
"Huh? Oh, dia. Dia sudah tidur daritadi, Bos. Kau ada perlu?" tanya Baekhyun.
Sehun menggeleng pelan. "Hanya menawarkan untuk ikut jalan-jalan denganku dan Shixun. Kau mau ikut?" tanya Sehun.
"Tidak, terima kasih, Bos. Aku ingin tidur saja," kata Baekhyun menolak sambil menguap.
"Ok, selamat tidur, Hyung," kata Sehun tersenyum kecil dan pergi dari sana.
Sehun kembali ke Suite-nya, ia mengetuk menunggu dibukakan. Siapa sangka yang membukakannya adalah Kai yang langsung menutup kembali pintu Suite itu dengan kunci ditangannya sehingga tak bisa dibuka dari dalam.
Sehun hanya bisa berdiri terkejut. Kai menatapnya intens dan maju selangkah berdiri sangat dekat dengan Sehun. Sehun hanya berdiri ditempatnya dan menatap Kai masih dengan terkejut dan bingung.
"Um— aku ingin masuk," kata Sehun pelan masih bingung dengan tingkah Kai.
"Kenapa kau mengabaikanku?" tanya Kai langsung.
Sehun semakin tak mengerti. "Aku tidak mengabaikanmu," jawab Sehun jujur. Kapan dia mengabaikan Kai?
"Kau hanya mengajak Shixun pergi, kau baru saja mengabaikanku, Sehun," balas Kai tampak tak sabar.
"Oh." Sehun baru menyadari itu, tapi ia tak bermaksud mengabaikan Kai tadi. "Kupikir kau sibuk, dengan Agen Irene maksudku," jawab Sehun pelan, memalingkan wajahnya ke lorong kosong itu, kemana saja asal tak menatap Kai.
Kai terdiam dan mundur selangkah, bersandar pada pintu Suite mereka dengan tangan bersedekap di dada. Sehun bisa melihat otot di tangan kekar Kai yang semakin terlihat jelas dengan pose seperti itu apalagi Kai hanya memakai kaos lengan pendek. Sangat seksi dan maskulin, tidak seperti tangan kurus Sehun yang tak memiliki otot sama sekali. Tak heran Irene tertarik padanya. Salah, tak heran jika semua wanita dan pria submisif melemparkan diri pada Kai.
"Sehun, kau cemburu?"
Pertanyaan Kai membuyarkan lamunan Sehun. Sehun menatap Kai yang menyeringai seksi namun mata cokelat gelapnya berkilat geli bercampur‒ bahagia? Penuh harap? Sehun benar-benar tak tahu pasti.
"Tidak," jawab Sehun jujur.
Ia tak cemburu, kan? Ia hanya tak suka melihat Kai dengan Irene. Sehun sangat tahu bagaimana rasanya cemburu. 7 tahun memendam rasa pada Kai sebelum perasaannya mati begitu saja, Sehun sangat mengenal perasaan cemburu yang selalu menemani hari-harinya. Rasa cemburu membuat dadanya terasa terbakar, menyesakkan, dan menyakitkan. Perasaan yang tak mengenakkan membuat kerja otaknya tak fokus. Perasaan ingin marah namun ia tak bisa melakukan apa-apa. Perasaan yang tak bisa tertahankan dan tak bisa diusir begitu saja. Datang begitu tiba-tiba bagai serangan jantug, membuat orang yang merasakan menjadi orang paling menyedihkan di dunia. Sehun sangat tahu perasaan cemburu, dan Sehun tak merasakan hal itu tadi ketika melihat Kai dan Irene.
Ia hanya merasa hatinya ditusuk oleh jarum. Hanya itu.
Bahu Kai merosot mendengar itu, tangannya turun, dan seringainya luntur. Seperti kecewa? Aish, Sehun benar-benar tak mengerti.
Kai hendak membuka mulutnya, tapi gedoran dari dalam Suite itu menghentikannya. Sehun bisa mendengar suara Shixun tapi tak terdengar jelas apa yang adiknya itu bicarakan karena Ruang Suite mereka kedap suara.
Dan kamar di dalam juga kedap suara. Mungkin itu sebabnya tak ada yang tahu soal Sehun yang menjerit dan meraung 2 malam ini karena mimpi buruknya.
"Kurasa kau harus membuka pintunya," kata Sehun.
"Aku tidak sibuk dengan Irene. Apa kau akan mengajakku jalan-jalan juga?" tanya Kai mengabaikan gedoran dari ruang Suite mereka.
Sehun kini kembali terkejut. Ia sangat yakin Kai akan meniduri Irene malam ini. Sangat yakin seratus persen.
"Kau tampak terkejut," komentar Kai. "Wajahmu datar, tapi matamu yang mewakilkan apa yang kau rasakan," kata Kai lagi menjelaskan.
"Oh." Sehun berkedip-kedip mendengar itu, lagi-lagi ia sangat terkejut. Biasanya hanya Baekhyun, Seulgi, Suho, dan Kyungsoo yang ahli membaca mata Sehun. Ia tak menyangka Kai juga bisa melakukannya.
"Kau benar-benar berpikir aku akan meniduri Irene malam ini, huh?" tanya Kai retorik, tersinggung, dan getir. Ia tampak marah meski tak jelas ia marah pada Sehun atau orang lain.
Sehun menyadari asumsinya salah, ia berpikir negatif tentang Kai berdasarkan kelakukan Kai 5 tahun lalu. Seharusnya Sehun tak melakukan itu, seharusnya Sehun tak menghakimi ataupun menilai Kai dengan buruk sesuai fakta 5 tahun lalu. Seharusnya Sehun tidak begitu.
"Aku minta maaf," kata Sehun. "Aku‒ aku berusaha untuk‒ untuk tidak menghakimimu berdasarkan masa lalu. Maaf aku menyinggungmu, Jongin-ah," kata Sehun pelan, malu pada dirinya sendiri yang begitu jahat telah berpikiran buruk tentang Kai.
Kai tersenyum. Kai tersenyum padanya. Bukan menyeringai. Senyum tulus yang jarang Kai berikan pada orang lain. "Jadi kau juga akan mengajakku pergi jalan-jalan malam?" tanya Kai masih dengan senyumnya.
Sehun mengangguk-angguk. "Itu‒ jika kau mau," kata Sehun lagi, lebih pelan.
"Aku takkan menolak tawaran Tuan Putri," jawab Kai kembali menyeringai.
"Aku bukan Tuan Putri," kata Sehun protes dengan cemberut.
"Hanya kau yang mengatakan itu," balas Kai semakin menyeringai lebar dan berbalik, hendak membuka pintu itu. "Dan— terima kasih. Terima kasih banyak untuk mau mencoba menilaiku tanpa melihat masa laluku," kata Kai, masih membelakangi Sehun. "Aku… tak ingin mengecewakanmu, Sehunnie," bisik Kai bersumpah.
Sehun terlalu terkejut mendengar itu. Tapi sebelum ia bisa menanyakan apa maksud Kai, Kai terlebih dahulu membuka pintu itu dan Shixun menatapnya tajam seakan ingin membunuh Kai di tempat. Kai mengabaikan Shixun dan masuk ke dalam Suite.
"Aku akan ganti baju dulu," kata Kai menengok pada Sehun yang masih berdiri di lorong menatap pria tan itu dibalik punggung adik kembarnya.
Sehun hanya bisa menangguk dengan bodohnya, membuat Shixun menatapnya bingung.
"Dia ikut?" tanya Shixun jelas tampak tak suka waktu jalan-jalan malam mereka terganggu.
"Aku juga ingin tadinya mengajak Chanyeol tapi dia sudah tidur," jawab Sehun masuk ke dalam Suite untuk mencari mantelnya.
Sehun tak yakin, tapi sepertinya ia mendengar 'kupikir kita hanya pergi berdua' dari mulut Shixun. Tapi itu terdengar sangat pelan dan tak jelas. Ia menengok melihat Shixun tampak cemberut dan tak senang sambil menatap tajam pada sosok Kai yang sedang mencari pakaian dalam tas kainnya.
Sehun hanya mengangkat bahu melihat itu dan pergi ke kamarnya, mencari mantelnya.
•••e)(o•••
Terima kasiiiiiih banyaaaaaaaaak atas reviewnya (: sider dimohon mereview (:
Seperti janjiku, di chap hari ini gak ada Sestal wkwkwkwkwk dan di chap ini Sehun ngasih jawaban ke Kai berdasarkan kondisi mereka bahwa hanya sedikit banget kemungkinan mereka bisa bersatu EAAAK (jangan2 pertanda sad ending buat Kaihun? *eh /tiarap karna dilemparin batu/ wwkwkwkwkwk
Enggaklah aku BIG NO NO sama sad ending wkwkwkwk
Terus ada yang nanya ini gak jadi threesome? Uh itu liat ke depannya aja yah *wink*
SPOILER: Chap berikutnya kalian bakal nemuin jawaban kenapa judul cerita ini Angelus Ruinosus (;
sekian! Semoga puas (;
-willis.8894
