EROTIC NIGHTMARE
Chapter empat
...
Write by BeibiEXOl
Plagiat? Go to the hell!
.
.
.
"Apa yang kau lihat?" Luhan menatap Sehun malas. Ia mendesah lelah saat merasakan nyeri dibagian bawahnya "Sial" Desisnya.
Yup! Bagaimana mood-nya bisa baik kalau saat ini Sehun tengah memandangnya geli sambil menggosok pahanya menggoda.
Mereka dikamar mandi lebih tepatnya Luhan berbaring telanjang di bathup dengan Sehun yang tengah berpakaian lengkap membantu membersihkan tubuhnya "Jangan membuat ku memperkosa mu disini Lu. Tampang mu benar-benar menggoda" Sehun tertawa.
Dan Luhan menlongo kesal, ia sedang marah dan wajahnya tidak menggoda! "Kau brengsek! Sudah bersih jadi cepat keluarkan aku dari bathub sial ini dan berikan aku handuk untuk menutupi tubuhku dari pandangan menjijikanmu itu! agh! Menyebalkan!"
Sehun hanya menganggapi umpatan Luhan dengan tawa dan ia dengan senang hati mengangkat tubuh mungil Luhan layaknya bayi. Ia sebenarnya tidak menyangka efek habis bercinta mereka akan separah ini untuk tubuh Luhan, padahal ia sudah mempersiapkan segalanya.
"Jangan memasang wajah berpikir kalau kau tidak melakukan hal yang salah setelah kau kembali menyetubuhiku setelah aku terbangun" Luhan mendengus. Tentu saja, awalnya ia merasa sedikit baikan setelah sex pertama mereka, tapi sialnya lelaki brengsek Oh Sehun itu kembali menyerangnya saat ia –ugh membalas menggoda lelaki itu.
Tapi tidak sampai 3 ronde juga kan?!
Luhan baru saja kehilangan keperawanannya kalau kalian lupa!
"Selamat pagi tuan" Sapa para maid yang tengah membereskan tempat tidur mereka, Luhan menatap ngeri keranjang kotor untuk sprei yang mereka gunakan tadi malam, bahkan ia melihat noda darah bekas pergulatannya itu. Luhan mendesah tidak nyaman.
"Bergeraklah lebih cepat, kalian ingin membuat kami berdiri seperti ini" Ujar Sehun dingin dan para pelayan langsung menyudahi memasang melipat selimut dan segera membungkuk izin undur diri.
Dan kini Luhan duduk ditempat tidur masih dibalut dengan jubah mandinya "Cepat, mana baju Ku!" Omel pemuda mungil itu kesal saat Sehun tidak juga selesai mencarikan baju yang pas untuknya dari ruangan khusus pakaian.
Sehun kembali dengan kemeja putih tipis dihadapan Luhan, celana dalam menggantung begitu saja dipergelangan tangan lelaki dewasa itu. Luhan menggeram kesal "Aku tidak mau berpakaian layaknya wanita erotis seperti di MV Bigbang! Beri aku pakaian normal!"
"Tapi aku suka melihat mu memakai kemeja putih ini Lu" Protes Sehun sedikit kesal.
"Jangan membuatku menghajarmu"
Sehun menyeringai "Memangnya kau bisa berdiri?"
Luhan benar-benar kesal saat Oh Brengsek itu bertingkah benar-benar seperti brengsek "Kalau begitu aku cari sendiri" Ujarnya mendengus beranjak dari tempat tidur namun ditahan oleh Sehun "Duduklah oke? Aku carikan baju yang lain" Sehun mengalah. Lelaki itu menggaruk pipinya gatal "Padahal ia benar-benar cantik memakai kemeja putih tipis, dengan stoking hitam dan red stiletto. Ah ... aku benar-benar seperti pria tidak normal" Batin lelaki itu tertawa kecil kembali memilih kaos yang cocok untuk Luhan.
Luhan menatap kaos yang ditunjukan Sehun dengan wajah tidak suka "Bukan selera ku, yang lain" Ujarnya kesal tanpa menatap Sehun lagi dan memilih asik bermain diponsel androidnya.
Sehun kembali dengan kaos panjang tanpa lengan berwarna khaki dan jaket windbreaker. Lelaki dewasa itu tersenyum kecil menanti ekspresi Luhan yang akan memujinya, walaupun Sehun selalu berpakaian formal dan casual/Basic, tapi lelaki itu tau gaya berpakaian Luhan. Anak itu suka berpakaian sporty dan streetwear fashion.
"Bagaimana?"
Luhan menatapnya malas namun sedikit tertarik "Lumayan" Ujarnya berdiri melepas jubah mandinya santai dihadapan Sehun yang tengah memerah menahan hasrat untuk tidak menyerang rusa mungilnya lagi.
Bagaimana tidak! Luhan hanya mengenakan celana dalam dihadapannya, apalagi tubuh polos pemuda itu kini dipenuhi kissmark darinya.
"Jangan memasang tampang menjijikan seperti itu" Interupsi Luhan mengambil kaos khaki itu dari tangan Sehun dan memakainya santai "Tunggu apa? Cepat carikan celananya"
Entah kenapa pagi ini Luhan terus-terusan memasang wajah kesal dan nada memerintah padanya. Jika orang lain mungkin Sehun sudah menendangnya sampai ke segitiga bermuda. Tapi ini Luhan, Sehun memberikan toleransi karena salahnya yang membuat pemuda itu kesakitan.
"Tunggu? Dimana celananya?" Luhan menatap Sehun bingung dan kini Sehun yang tertawa "Sayangnya tidak ada yang pas dipinggang mu sayang"
Luhan menatap Sehun kesal, berekspresi seolah 'Lalu bagaimana aku pulang? Tidak memakai celana?!'
"Bukankah kaos itu cukup panjang?"
Luhan menyeringai "Tidak masalah, begini saja sepertinya cukup" Ujarnya dengan wajah santai membuat Sehun merenyit heran.
Lalu beberapa detik lelaki itu mendegus kesal "Tunggu jangan kemana-mana, aku akan mencari celana panjang untuk mu" Ujarnya sadar tidak mungkin ia membiarkan orang lain melihat paha mulus kekasihnya. Dan ia mendengar kekehan Luhan yang terdengar menyebalkan.
...
Pagi ini mereka memilih sarapan dipinggir pantai, Sehun bersikeras untuk menggendong Luhan kemanapun karena pemuda itu nampak kesakitan.
"Eum, Ahjussi. Sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang ku?" Tanya Luhan yang ada dihambinan Sehun. Mereka tengah berjalan pinggir pantai disekitar villa.
"Kau tengah menari telanjang?"
Puk!
"Maksud ku, kenapa kau berbuat seperti ini!" Luhan memekik kesal ditelinga Sehun membuat lelaki itu terkekeh "Apa lagi alasannya? Aku mencintai mu kan"
"Bodoh, cinta itu bullshit"
Sehun berpikir sejenak "Kalau aku katakan kau orang pertama yang membuat jantung ku berdebar kencang, lalu kehilangan akal sehat ku karena hanya dengan memikirkan mu, dan aku juga ingin selalu memiliki mu untuk diriku sendiri. Apa itu tidak bisa dikatakan cinta?"
"Baiklah, katakan kau mencintai ku saat ini. Tapi, bagaimana kalau aku membuat mu marah? Kau tau, aku bukan orang yang baik"
Sehun tersenyum "Tidak ada orang baik yang mengaku dirinya baik sayang. Dan aku yakin kau adalah orang baik"
"Kau ingin mengatakan kalau kau orang yang menjengkelkan?"
Luhan mendengus "Ya, Jongin bilang begitu .. Xiumin dan Kyungsoo juga. Aku memang menjengkelkan puas!" "Turunkan aku! Sial"
Sehun menurunkan Luhan dari punggungnya dan mereka berdiri saling berhadapan dengan berbedaan tinggi badan yang begitu jelas "Kau lebih menjengkelkan, tau" Ujarnya menatap Sehun sengit.
Dan Sehun hanya membalasnya dengan tatapan teduh dan mengusap kepala pemuda itu penuh kasih sayang "Apa yang harus ku lakukan agar tidak menjengkelkan lagi?" Ujar Sehun memeluk pemuda mungil itu.
Luhan terdiam "A-aku yang akan membuat mu marah, dan ... kau tidak lagi mencintai ku. Be-benar kan?" Luhan mendorong tubuh Sehun dan mundur satu langkah "Kau pria yang penyabar, tapi aku akan membuat mu marah dan pada saat itu- kau mungkin akan membenciku. Tolong jangan katakan kau mencintai ku karena aku tidak mencintai mu" Luhan menatap Sehun datar namun matanya memancarkan keraguan dan Sehun dapat melihatnya.
Luhan diam sejenak mencoba memahami ekspresi Sehun yang masih setenang air bahkan saat ia secara tidak langsung menolak cintanya "Ku rasa kau belum sepenuhnya mengenal ku, tapi terserahlah. Kau Ahjussi mesum yang menyenangkan" Luhan melipat tangannya didada dan menatap Sehun geli.
Walaupun Sehun memasang wajah yang tenang, ia sedikit khawatir. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Luhan. Pemuda itu menyukainya namun juga tidak mencintainya dan juga tidak membencinya. Sehun memang tidak tau bagaimana Luhan akan membuatnya marah nanti seperti yang pemuda itu katakan, tapi sejauh ini apapun yang pemuda itu lakukan Sehun tidak pernah marah dan masih selalu mencintainya.
Dan Luhan dapat menangkap kebingungan diwajah Sehun, ia mengumpat dalam hati karena telah mengatakan sesuatu yang begitu aneh. Lalu meraih tangan Sehun dan menatapnya santai dengan senyum tipis "Bagaimana kalau bergandengan sampai sana" Luhan menunjuk bangku santai yang ada didekat tangga villa yang langsung menuju lantai dua.
"Kau berpikir terlalu banyak, lupakan kata-kata ku tadi" Dan Luhan memulai langkahnya, walaupun sedikit nyeri dibagian bawah tubuhnya tapi sudah tidak terlalu buruk dan Sehun tersenyum dalam diam memperhatikan bagaimana Luhan menggandengnya dan rambut hitam pemuda itu yang menari ditiup angin.
Tuut~
Luhan diam.
Sehun diam.
"Kau masuk angin. Sebaiknya kita segera masuk kedalam"
Fuck! Fuck! Fuck!
Damn it!
Dengan wajah memerah Luhan mendengus berusaha mempertahankan wajah stoicnya "I-ini karena salep yang kau berikan pada ku. Uh, kau tau sensasinya dingin kan. Agh, sial memalukan" Pemuda itu mendengus melepaskan genggaman mereka dan berjalan lebih cepat didepan. Luhan menangis dalam hati, kenapa ia harus merasa semalu ini hanya karena buang angin dihadapan Sehun? Ia bahkan pernah mengentuti wajah Jongin dengan tidak tau malu saat pemuda itu tidur diapartemennya. Sial! Ini semua karena salep mint yang dioleskan Sehun didalam hole-nya! Agh! Memalukaaaaan!
Sehun tertawa menyusul Luhan yang sudah lumayan jauh didepannya dan mengangkat tubuh itu gemas menuai umpatan pemuda mungilnya.
"Kau tau Lu? Sepertinya aku memikirkan untuk melamar mu. Bagaimana kalau kita menikah saja?" Ujarnya masih mengangkat tubuh Luhan dari belakang dan memutarnya gemas.
"Ja-jangan bodoh! Memikirkan saat ini aku adalah kekasihmu saja sudah membuat ku merinding!" Luhan menunduk dengan wajah merah dan membiarkan Sehun memutar tubuhnya sampai sendalnya sendiri melayang ke air pantai.
Oh Sehun benar-benar tidak normal! Bagaimana mungkin ia melamar ku tepat setelah aku buang angin! Tidak kah itu terdengar tidak sehat? Mentalnya tidak sehat! Dia pria aneh! Agh!
"Hey, jangan terlalu kejam begitu"
"Stop melayangkan tubuhku begini! Kau membuat ku ingin buang angin lagi sial!"
"Itu bagus Luhan, tidak ada yang salah dengan buang angin"
Luhan mendengus menggigit lengan Sehun yang melingkar didadanya kesal. Tapi, respon lelaki itu benar-benar menyebalkan.
"Jangan menggigitku seperti itu, kau hanya membuat ku terangsang tau"
"WHAT! AHJUSSI MESUM! LEPAS TIDAK! SESEORANG TOLONG AKUU! DIA AHJUSSI MESUM HUUU!"
Dan Sehun tidak tahan untuk tidak mencium Luhannya yang menggemaskan. Ia memeluk pinggang pemuda itu dan merapatkan tubuh mereka, mencium bibir mungil Luhan dan menghisap lidahnya.
Terlibat ciuman panas cukup lama mungkin lebih efisien untuk mengurangi rasa dingin angin pantai ini.
"Engh"
Luhan menatap Sehun dengan matanya yang setengah terbuka karena ciuman mereka. Dan Sehun menjilati tetesan saliva mereka yang meluncur begitu saja di-dagu Luhan dan mengecupi wajah kekasih tampannya.
"Kau sangat tampan dan indah Lu"
Luhan memerah "A-aku tau"
"Dan cantik"
"E-eum"
Sehun tersenyum mengusap kepala Luhan dengan satu tangannya yang bebas dan mengecup kening pemuda itu "Kau sempurna"
"Berhenti memuji ku seperti itu, uh. Aku bukan wanita yang langsung luluh hanya karena kata-kata murahan mu itu tau"
Sehun tertawa dan menggendong Luhan, kali ini Luhan tidak protes saat mereka bergendongan ala koala. Sejujurnya Sehun tidak pernah memuji orang lain seperti itu, bahkan dengan Victoria atau teman kencannya yang lain. Hanya Luhan ... Luhan memang tampan, indah dan cantik juga sempurna bukan? "Kau ingin cokelat hangat atau cream vanilla?"
Luhan diam dengan alis berkerut "Cokelat hangat"
"Kalau begitu kita akan meminumnya bersama didepan perapian sambil bersantai" Ujar Sehun menaiki tangga menuju lantai dua. Memasuki ruang tengah villa dan mendudukan Luhan di sofa didepan perapian yang hangat. Seorang pelayan memberikan dua cup cokelat hangat dan beberapa macam kue kering kesukaan Luhan.
Sedangkan Sehun membuka bukunya yang berjudul 'Lady of the lake' karya sir walter scott, ia tersenyum kecil betapa dulu ia mengagumi keindahan wanita yang ada dibuku ini. Dan saat ia menatap Luhan, ia tau kalau kekasihnya jauh lebih cantik dibandingkan wanita yang ada didalam buku ini.
Luhan meletakan gelas cokelatnya dan menatap Sehun yang sibuk membaca "Sepertinya buku tua itu lebih menarik" Ia menatap Sehun malas dan bersandar ditangan sofa berhadapan dengan Sehun yang juga tengah bersanda diujung sofa panjang yang mereka tempati. Sehun masih membaca beberapa kutipan dibuku itu "Buku ingin sangat menginspirasiku akan sastra, saat muda aku sangat ingin kuliah jurusan sastra" Lalu Sehun menatap Luhan "Bagaimana menurut mu kalau saja dulu aku memilih menjadi sastrawan dari pada mengurus perusahaan?"
Luhan tertawa kecil "Mungkin kau bukannya menggodaku dengan uang melainkan dengan puisi-puisi mu waktu itu"
Sehun ikut tertawa "Apa kau akan tergoda jika aku membacakan mu puisi romantis?"
Kini Luhan duduk bersila dihadapan Sehun dan menyeringai "Menurut mu?"
Sehun ikut duduk dan menatap Luhan "Kau mungkin akan menonjok ku sebelum aku menyelesaikan baris ke-dua"
Luhan tertawa membenarkan. Dan Sehun menarik pemuda itu kedalam pelukannya "Terlalu lama berada didunia bisnis hampir membuatku melupakan hobi masalalu ku. Tapi, dengan memandangmu saja mungkin aku bisa saja membuat beberapa sajak erotis"
"Jangan lakukan itu, aku tidak suka kegiatan melankonis"
"Ya, aku tidak akan melakukannya"
Luhan mendengus karena Sehun menyerah begitu saja "Wanita pun enggan bila dirayu dengan puisi asal kau tau" Luhan mendongak menatap Sehun yang tengah menatapnya "Tapi- sepertinya itu tidak berlaku jika yang membacakan puisinya memiliki wajah seperti mu"
"Lu, menjadi sastrawan bukan hanya membuat puisi. Sebenarnya aku lebih tertarik pada cerita-cerita lisan scotlandia, yang menunjukan sejarah dan dunia lama orang-orang yang hidup dalam masa perang"
Luhan mendengus "Ahjussi, kau seperti orang tua" ujarnya bersender didada Sehun dan nafasnya sedikit berat karena mengantuk.
Diluar hujan dan walaupun ini mendekati musim panas, angin musim semi masih menyelimuti udara dan membuat suhu menjadi dingin diluar. Walaupun ini masih siang, namun karena semua gorden ditutup ruang tengah menjadi temaram karena hanya diterangi oleh cahaya api di perapian dan lampu neon. Di luar juga lumayan gelap karena awan gelap sudah menginvasi langit.
"Beritahu aku pada hobi mu Luhan"
Luhan mendesah dan memeluk lengan Sehun "Tiduur~ memasak ... tidur~ dan ... bersenang-senang dengan teman"
Sehun tersenyum membelai kepala Luhan "Aku juga sangat menyukai sepak bola" Tambah Luhan.
"Itu bagus, karena kau memiliki hobi berolah raga. Tubuhmu lumayan lemah untuk ukuran laki-laki"
Luhan membuka bola matanya kesal dan melepaskan pelukannya dari Sehun dan menatap lelaki itu kesal "Aku tidak lemah"
"Kau hanya mampu tiga ronde dalam semalam" Ujar Sehun menggodanya.
"Itu karena pertama kali bagi ku" Bela Luhan.
"Kalau begitu, berapa kau sanggup untuk kedua kalinya?" Kini Sehun mendorongnya lembut dan menindih tubuh pemuda itu intim.
Luhan ingin mengumpat, si brengsek ini benar-benar licik! Pikirnya.
Tapi ia menyeringai "Mungkin enam?"
Sehun menatapnya dengan alis terangkat, berpikir Luhan akan menggodanya dengan cara apa lagi kali ini.
"Yah, atau mungkin lebih jika kondisi tubuhku stabil Sehun. Dan ... bagaimana dengan mu?"
Sehun terdiam "Aku tidak tau, tapi mungkin jika dengan mu aku tidak akan puas walaupun kita melakukannya seharian penuh"
"Maksud ku, berapa ronde kemungkinan kau tahan jika hole-mu yang ku sodok?"
Kini Sehun menatap Luhan suram "Kau tidak akan melakukannya"
Luhan menggeleng "Aku bukan perjaka kalau kau ingin tau, aku melakukan sex dengan beberapa mantan ku"
Kini tidak ada lagi tatapan teduh, yang tersisa hanya dingin dan tajam.
"Kau cemburu?"
"Ya"
Luhan tertawa menatap wajah Sehun yang kini datar "Katakan Sehun, bagaimana kalau aku merindukan lubang para perempuan itu?"
"Aku bisa memuaskan milik mu dengan mulut ku"
Dan Luhan tersenyum puas "Baiklah, kita lupakan hole rapat mu. Dengan mulut mu oke? Berapa kali kau bisa memuaskan ku jika dengan mulut mu?"
Sehun berpikir "Kau bisa memperkosa mulutku kapanpun kau mau"
Luhan benar-benar ingin tertawa, kenapa si brengsek ini jadi polos begini?
"Eum-em" Ia menggeleng "Bagaimana jika kau tengah sariawan?"
"Tidak apa-apa selama kau tidak berpaling pada perempuan, kau hanya milik ku Luhan. Aku tidak akan membiarkan milik ku disentuh oleh orang lain. Aku pria egois dan serakah juga kejam Lu" Sehun menjilat telinga Luhan dan menghisapnya "Aku juga pria dominant, harga diriku tidak akan membiarkan mu memimpin ku diranjang" Sehun menatap Luhan dalam dan meremas dada pemuda itu lalu mencubit putingnya gemas.
"Kau ingin bertarung dengan ku hm?" Sehun menyeringai menggesekan penisnya yang masih dibalut celana ke-paha Luhan.
Luhan mendengus tidak terima keadaannya yang begitu lemah, Sehun benar-benar jahat! Ia merasa kalah saat ini. Dan Luhan tidak suka kalah!
"Fight for what, jelas kau sudah menjadi dominan dalam hubungan ini" Luhan menarik leher Sehun dan menciumnya panas "Aku menyerah Sehun" Ujarnya terdengar erotis "Serang aku dan aku akan bertahan" Ia menyeringai saat mata Sehun mulai berkabut oleh gairah dan mencumbu lehernya ganas.
Luhan tau ia tampak jalang saat ini, beberapa hari yang lalu ia menolak habis-habisan Oh Sehun dan kini ia lah yang menggoda pria itu.
Tangan putih bening Luhan ikut merayap memasuki baju Sehun dan mengelus punggung lebar lelaki itu, pahanya juga mulai mengelus sesuatu ditengah selangkangan Sehun yang sudah menegang membuat lelaki itu menggerang nikmat dan menghisap dalam puting susunya, mengecup perut datarnya dan menjilati permukaan kulitnya lalu menggigiti dan menghisapnya lagi dan lagi.
Sehun mulai menurunkan celana Luhan dan mulai menjilati penis kekasihnya yang juga ikut menegang, menghirup batangan itu dan menghembuskan nafas panasnya yang mampu membuat tubuh Luhan gemetar karena nikmat dan perasaan erotis yang menyenangkan. Sehun sangat lihai memanjaan miliknya, menghisapnya lalu memaju mundurkan kepalanya hingga bibir pemuda itu berciuman dengan kulitnya.
Bagaimana cara Sehun bisa memasukan penisnya begitu dalam hingga ketenggorokan? Penis Luhan tidak pendek dan termaksud ukuran penis standar untuk pria, tapi Sehun mampu menelan sepenuhnya miliknya dan hal itu benar-benar surga.
"Hnnggh ... aah ... aaah ... Sehunah uuuh" Luhan mendesah nikmat saat Sehun mulai mempercepat gerakan mulutnya dan dirinya sudah hampir sampai.
Luhan mencengram pundak Sehun, tubuhnya melengkung dan kepalanya mendongak keatas dengan air liur yang menetes kedagunya.
"Lebih cepat"
Sehun mempercepat gerakannya, lalu melambat untuk menikmati penis Luhan yang mulai membesar dalam mulutnya.
"Sehuuun! Ngghhh! Aku hampir sampai ... ah" Sehun menatap wajah erotis Luhan dan kembali mempercepat temponya hingga cairan Luhan benar-benar meledak didalam mulutnya. Sehun duduk dengan bertumpu lulut dan Luhan kini dapat melihat dengan jelas penampilan lelaki itu.
Wajah Oh Sehun berkeringat bercampur cairan sperma miliknya, air liur yang bercampur sperma miliknya meluncur begitu saja membasahi leher lelaki itu. Dan Sehun menjilat cairan bibirnya erotis dihadapan Luhan, membuat pemuda itu merona karenanya.
Entah kenapa, Sehun menjadi sangat seksi. Dan hal itu membangkitkan gairah Luhan untuk memuaskan lelaki itu.
"My turn" Bisiknya mendorong Sehun dengan ia diatas lelaki itu dan mulai mencium bibir dan leher Sehun, Luhan juga mengecup dada Sehun dan menggigit dan menghisap membuat tanda kepemilikannya. Hal itu membuat Sehun menggerang nikmat dan juga erotis ditelinga Luhan.
Luhan menjilati perut Sehun dan tepat berhenti didepan penis lelaki yang sudah tegak sempurna. Luhan meneguk air liurnya paksa sebelum mencoba memasukan penis Sehun kedalam mulutnya.
Ia pernah mengulum penis Sehun sebelumnya. Hal itu menjijikan dan membuatnya ingin muntah. Dan juga ia tidak sengaja menyakiti Sehun.
Tapi, mungkin ia bisa mencobanya dengan hati-hati kali ini.
Luhan menjilati batanganan Sehun dan ia merenyit ngeri saat merasakan cairan asin dan pekat precum dilidahnya.
"Uuah!" Luhan memekin saat Sehun menggendong tubuhnya dan beranjak dari sofa "A-apa yang kau lakukan!" Pekiknya saat mereka menaiki tangga. Celana Sehun juga sudah dinaikan asal dan lelaki itu menghempaskan Luhan ditempat tidur dikamar mereka dan kembali menindih Luhan mencium pemuda itu ganas.
Sehun meraih tangan Luhan dan mengecupnya "Kau bisa gunakan tangan mu Lu" Ujarnya menuntun tangan Luhan kepenisnya "Manjakan aku dengan tangan mu" Sehun bersender ditempat tidur dengan Luhan yang tengah menggenggam penisnya.
Luhan menyeringai dan melahap penis Sehun didalam mulutnya, ia mencoba berhati-hati dan menghayalkan kalau saat ini ia tengah menjilati banana.
"Hhhh! Sshhh! Luhann!"
Luhan suka mendengar desahan Sehun, ia merasa menang saat Sehun mendesahkan namanya. Tapi mulutnya tidak sejalan dengan pendengarannya. Disaat ia begitu menikmati suara desahan Sehun, mulutnya berontak ingin muntah karena cairan Sehun yang terus menari ditenggorokannya.
Ia melepaskan penis Sehun dari mulutnya dan mengocok kejantanan lelaki itu dengan tangannya. Mungkin ini sudah batasannya, uuh.
"Lebih cepat Luh"
Dan Luhan tau kalau sebentar lagi lelaki ini akan klimaks dan ia mulai meremas lalu mempercepat tempo tangannya dan mencium bibir Sehun.
Lelaki itu menarik leher Luhan dan membalas ciuman kekasihnya senang lalu menjilati pundak Luhan.
Luhan dapat merasakan nafas tidak beraturan Sehun dan desahan lelaki itu dipundaknya yang basah karena air liur Oh Sehun.
"Hhaaahh!" Sehun berhasil klimaks dan mencium Luhan lembut "Terima kasih" Ujarnya kembali mengecup bibir, hidung dan pipi pemuda itu. "My Prince" Sehun mencubit pipi Luhan gemas, membiarkan pemuda itu tertidur dipelukannya.
...
Sehun menatap Luhan yang sudah tertidur dan beranjak untuk mandi, ia juga sudah memakai pakaian formal disaat Luhan menatapnya terbangun dan menatapnya bingung.
"Ada pekerjaan mendesak Lu, kau ingin pulang dengan ku atau melanjutkan tidur disini dan aku akan menjemputmu setelah urusan selesai?" Sehun menatap Luhan dan mengusap surai hitam kekasihnya yang berantakan "Mungkin pekerjaan akan lama" Tambah Sehun lagi.
"Hng, aku akan mandi sebenar dan ikut dengan mu" Luhan mengusap wajahnya dan beranjak dari tempat tidur.
"Nampaknya pantatmu sudah baikan Lu, malam ini biarkan aku menyerang mu"
Luhan yang berada diambang pintu kamar mandi mendengus dan melayangkan jari tengahnya diudara kearah Sehun sebelum pintu kamar mandi ditutup kasar, meninggalkan Sehun yang tertawa karenanya.
...
Kini Luhan sudah siap dengan pakaian baru dari Sehun yang sebenarnya dibawakan oleh sekertaris cantik lelaki itu. Kaos givency, jeans hitam valentino, sneaker jordan baru dan jam tangan Richard Mille dengan motif Skull Tourbillon yang dipasangkan pribadi oleh Sehun.
Luhan tersenyum miring menatap Sehun yang memandang menilai penampilannya.
"Apa aku begitu tampan huh?" Godanya geli.
Luhan memasang snapback-nya dan berkecak pinggang angkuh "Ini baru gaya ku, manly yo" Ujarnya bangga dan Sehun tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Ya, kekasih manly ku" Ujarnya melepas topi Luhan dan mengacak surai pemuda itu.
"Tuan, ini materi rapat hari ini. Uuh, sebenarnya rapat akan dimulai dua jam lagi" Interupsi Seulgi murung diambang pintu kamar yang memang terbuka.
Sehun menghampiri Seulgi untuk berbicara sebentar sebelum mengajak Luhan turun diikuti Seulgi dibelakang mereka.
Seulgi tersenyum sopan pada Luhan, beberapa saat yang lalu mereka sempat berkenalan dan Luhan berterimakasih kepada Seulgi sudah memberikan pakaian yang waras padanya.
Kini Luhan duduk diseberang Sehun yang tengah sibuk berbicara bisnis dengan Seulgi disebelah lelaki itu, mereka tengah berada di limousin menuju perusahaan Sehun. Sementara Sehun sibuk, Luhan memilih memainkan game favorite-nya dijalan dan beberapa menit ia sudah tertidur.
"Dengan kerjasama ini, tidak ada alasan bagi OSH Company untuk tidak ikut serta dalam organisasi teratas" Seulgi menatap Sehun yang sudah beranjak kesebelah Luhan dan memeluk pemuda yang tengah tertidur itu dengan pancaran mata penuh kasih sayang yang belum pernah Seulgi lihat.
Menurut gadis itu, Sehun hanya akan terlihat sesantai ini jika berhubungan dengan anjing putih kesayangan bosnya itu. Dan melihat bos-nya dengan seorang pria dan membagi kasih sayang dihadapannya adalah hal yang baru pertama kali ini Seulgi lihat.
Sedangkan Sehun masih asik memainkan rambut Luhan dan memeluk pemuda itu tanpa mengganggu tidurnya "Bagaimana menurutmu?" Sehun menatap Seulgi.
"N-ne?"
"Luhan"
"O-ooh ... sangat tampan dan menggemaskan, tuan" Seulgi tersenyum tulus.
"Benar, dan kau tidak boleh menggodanya" Sehun menatap Seulgi tajam namun gadis itu tertawa kecil diiringi tawa Sehun.
"Bos bercanda seperti ini tidak terlihat seperti bercanda. Dan itu membuat ku khawatir kau cemburu pada ku"
Sehun mendengus, ia memang cemburu karena Luhan tanpa beban memuji Seulgi yang membelikannya pakaian baru, walaupun gadis sekertaris itu membelinya pakai uang Sehun.
"Besok tambahkan juga majalah fashion pria kedalam daftar yang harus ku baca"
"Baik Bos, eung.. saya sangat terkesan pada Tuan Muda Lu karena berhasil memberi saya pemandangan boss dengan wajah lembut seperti ini"
Sehun yang tengah memandang wajah tidur Luhan menatap Seulgi kesal "Berhenti memandangi kami dan pelajari lagi materi rapat, sampai ada kesalahan aku tidak segan menghukum mu"
"Uh, baik bos!"
"Kecilkan suara mu, kau bisa membangu-"
"Uuuh! Apa ini" Luhan menatap Sehun kesal dan melepaskan pelukan lelaki itu "Kau sengaja mengganggu tidurku ya?"
"Tidak"
Luhan mendengus menarik kepala Sehun dan berbisik kesal "Kalau begitu pinggirkan tangan sialan mu dari pantat ku brengsek"
Sehun menarik tangannya dan menyengir tidak bersalah "Baiklah, kau bisa lanjutkan tidur mu sayang. Aku tidak akan mengganggu, akan kumarahi Seulgi karena bersuara nyaring"
Luhan menatap Sehun bingung dan mendengus "Satu-satunya yang mengganggu tidurku itu kau sialan"
Luhan mendesah malas dan bersender dibahu Sehun "Ah, haus"
Sehun segera melirik Seulgi memberi kode untuk segera mengambilkan air dan gadis itu segera membuka kulkas mini yang ada didalam mobil.
"Mau minum apa Lu?"
Luhan menatap Sehun dan Seulgi. Ia segera memperbaiki posisi duduknya "Ah, cukup air mineral" dan Seulgi memberikannya pada Luhan "Terimakasih" Ucap pemuda itu memberikan senyumnya pada Seulgi.
DEG!
Seulgi merasakan aura suram yang tengah menembus pundaknya, dan tentu saja ia tidak berani melirik bos pencemburunya. "Oh tuhan, bos bisa menjadi malaikat dan iblis sekaligus jika menyangkut Tuan muda Lu. Uhuhuu ... selamatkan diriku tuhan..."
.
.
.
TBC
See u next chapter my reader-nim :* XOXO
DONT FORGET TO SUPPORT (Klik follow and favorite ... )
I'll be happy for ur review ^-^
