Angelus Ruinosus
•
by willis.8894
•
•
•
Casts: Oh Sehun, Kim Jongin/Kai, Oh Shixun
Addictional Casts: Jung Krystal, EXO, Lee Taemin, Victoria Wu.
•
•
•
Pairing: KaiHun vs XunHun. TaeStal. SeStal!Friendship. SuDo.
•
•
•
Warning: Kemungkinan Incest Shixun-Sehun.
•••
CHAPTER TEN: FROM NOW ON
Sehun langsung tenggelam dalam pekerjaannya begitu kembali ke hotel. Suho dan Kyungsoo pergi kencan dikawal oleh Luhan, Irene, dan Chanyeol, Krystal dan Taemin pergi kencan dikawal oleh Kris dan Tao. Baekhyun dan Seulgi terjebak mengurus beberapa pekerjaan bersama Sehun. Shixun langsung tertidur setelah mandi, terlalu lelah diajak jalan-jalan oleh Sehun. Kai sendiri menikmati waktu luangnya hanya menonton film.
Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas ketika mereka semua kembali ke hotel dan masuk kamar masing-masing. Taemin sekamar dengan Krystal, tentu saja. Sehun, Baekhyun, dan Seulgi sendiri masih mengurus beberapa dokumen.
"Kurasa sudah cukup untuk hari ini. Kalian berdua tidurlah," kata Sehun merenggangkan badannya.
Baekhyun dan Seulgi menutup laptop mereka masing-masing dan merenggangkan badannya. "Oh, Bos, aku lupa bilang," kata Seulgi teringat. "CEO Heigh mengajakmu untuk sarapan bersama, Bos. Apa perlu ditolak?"
"CEO Heigh yang dari Jerman?" tanya Baekhyun mengangkat satu alis. Seulgi mengangguk-angguk.
"Terima saja. Entah kenapa aku memiliki firasat buruk tentangnya," gumam Sehun datar. "Perusahaannya yang akan bekerja sama dengan Jenguk Grup berkaitan proyek besar Samtaek, kan?"
"Yep. Minseok-hyung meminta persetujuan kita cukup tiba-tiba dan buru-buru. Dokumen yang terakhir dikirimkan ketika kita baru tiba disini, Bos," kata Baekhyun.
"Apa mereka sudah tanda tangan kontraknya? Tiba-tiba aku meragukan CEO Heigh ini," kata Sehun datar, namun ada kecemasan di matanya.
"Entahlah, mungkin belum? Berhubung CEO Heigh ada disini," kata Seulgi berlogika.
"Kurasa tak perlu cemas, Bos. Aku sudah menyelidiki CEO Heigh, beliau teman baik kedua orang tua Kai. Tuan Kim Youngmin yang merekomendasikan Jenguk Grup untuk bekerja sama dengan perusahaannya," kata Baekhyun menenangkan.
"Ah, begitu," gumam Sehun pelan, namun tetap firasat buruknya tak berkurang sedikitpun. Ada sesuatu yang salah disini, ada sesuatu yang mencurigakan. Fakta bahwa CEO Heigh adalah teman dekat Kim Youngmin, entah kenapa malah menambah firasat buruk Sehun.
"Kami kembali ke kamar dulu, Bos. Jangan tidur terlalu larut," kata Seulgi bangkit berdiri dan tersenyum pada bosnya itu.
"Ah, tentu. Selamat tidur, Hyung, Seulgi," kata Sehun.
"Selamat tidur, Sehunnie," balas Baekhyun sambil beranjak pergi keluar sementara Seulgi pergi ke kamarnya dan Irene.
Sehun hanya terdiam disana, mencoba mengusir perasaan tak enaknya begitu memikirkan CEO Heigh dan Jenguk Grup. Sebuah deheman menarik perhatiannya. Ia mengangkat kepalanya dan ia baru menyadari Kai duduk di hadapannya.
"Kau ingin langsung tidur setelah ini?" tanya Kai.
"Uh— entahlah. Um, kau ingin pergi jalan-jalan?" tanya Sehun menawarkan.
"Kau tak lelah? Waktu tidurmu sejak tiba disini sangat sedikit," komentar Kai pelan, tampak cemas.
Sehun tersenyum kecil, ada titik-titik yang menghangatkan dadanya menyadari Kai memperhatikannya. "Aku tak masalah jika kau mau jalan-jalan. Aku sudah bilang aku ingin menghabiskan waktu denganmu juga," kata Sehun tampak malu, ia merasa pipinya sedikit panas. Mungkin karena udara dingin.
Kai tak bisa menahan senyumnya mendengar itu, ia tampak senang, tapi Sehun tak terlalu yakin dengan pengamatannya sendiri. "Jadi kau mau jalan-jalan sekarang?" tanya Kai menawarkan balik.
"A-aku mau mandi dulu, jika kau tak keberatan," jawab Sehun gugup, entah kenapa dia tiba-tiba menjadi gugup.
"Ingin kutemani, Tuan Putri?" tanya Kai menyeringai menggoda.
Bayangan Sehun dan Kai di kamar mandi membuat wajah Sehun sontak memerah malu. Tapi bayangan itu berganti dengan cepat menjadi potongan-potongan gambar mimpi buruknya. Botol-botol bir, bau alkohol, wanita tanpa busana, Chanyeol dan Luhan yang telanjang, Kai yang hanya menggunakan boxer—
Sehun memejamkan kedua matanya erat. Jijik. Kotor. Membuat Sehun ingin menggosok semua permukaan kulitnya dengan kasar hingga terkelupas—
"—SEHUN!" seruan keras Kai itu menyadarkan Sehun, membuatnya membuka matanya. Ia bahkan tak sadar sejak kapan ia memejamkan matanya dengan erat.
Ketika matanya terbuka semua perasaan itu hilang. Lenyap. Hanya tergantikan dengan kehampaan. Lagi, ia merasakan kehampaan itu. Tak ada rasa jijik, benci, atau kotor. Ia tak merasakan apa-apa lagi. Hanya kehampaan.
Sehun menatap Kai yang tampak terkejut, panik, dan cemas. Ia menunduk, menyadari tubuhnya gemetar dan kuku-kuku jarinya tertancap keras di lengannya ketika ia memeluk tubuhnya sendiri.
"Maaf, aku akan mandi sekarang," kata Sehun datar dan kosong. Ia segera bangkit berdiri dan masuk ke kamar sebelum Kai sempat merespon.
Sehun mandi dengan cepat, ia tak membiarkan pikirannya kembali pada mimpi buruknya. Ia keluar dan memakai bajunya dan ketika berbalik ia baru menyadari Taemin duduk di sisi tempat tidur menatapnya.
"Kau ingin pergi, Sehunnie?" tanya Taemin pelan, tak ingin membangunkan Krystal.
Sehun mengangguk.
"Aku akan temani," kata Taemin bangkit berdiri.
Sehun menggeleng-geleng kuat, terlihat seperti anak kecil yang tak mau menurut pada orang tuanya. Sehun tahu Taemin sangat protektif padanya dan Krystal, tapi Sehun tak bisa selamanya bergantung pada Krystal dan Taemin. Ia bisa berjalan sendiri dengan Kai tanpa perlu ditemani. Sehun yakin itu.
Taemin menatapnya seakan mencoba membacanya sebelum menghela nafas. "Kau pergi dengan seseorang?" tanya Taemin lagi, sama pelannya seperti tadi. Seperti membujuk anak kecil untuk mengaku dengan jujur.
"Dengan Jongin," jawab Sehun pelan sambil menunduk. Jari-jarinya tak bisa diam saling bertaut satu sama lain dan kakinya tak bisa diam berpindah dari satu tumpuan ke tumpuan lain. Sehun sangat yakin Taemin takkan mengizinkannya pergi hanya berdua dengan Kai, tapi Sehun jelas tak mau Taemin meninggalkan Krystal tidur sendirian sementara menjaganya pergi. Dan Sehun bisa jaga diri sendiri! Ia yakin itu.
"Sehunnie," panggil Taemin lembut, pelan, membuat Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Taemin dengan puppy-eyes-nya meski wajahnya begitu datar. Taemin menghela nafas melihat itu, membuat Sehun menyeringai kecil.
Tak ada yang lolos dari puppy-eyesku.
Hyungnya itu melirik jam di nakas yang menunjukkan jam 11 kurang. "Jam 12 kau tidak kembali ke hotel, kami akan pergi mencarimu. Kau bisa janji itu, Sehunnie?" kata Taemin serius.
"Tapi Hyung, itu cuman satu jam," protes Sehun cemberut.
"Jam 12. Kau butuh tidur, Sehunnie. Jika setuju kau boleh pergi, tidak setuju maka ganti bajumu dan naik ke tempat tidur," kata Taemin meng-ultimatum Sehun.
Sehun cemberut mendengar itu tapi tak bisa membantah. Ia tahu Taemin takkan main-main dengan perkataannya, Taemin bisa memaksa Sehun untuk tidur sekarang jika ia mau. "Oke, Hyung," jawab Sehun bergumam pelan, masih cemberut.
Taemin tak bisa menahan senyumnya melihat itu. "Baiklah, hati-hatilah di luar. Telepon aku jika terjadi sesuatu, ok? Jangan lupa jam 12 harus sudah kembali," kata Taemin mengingatkan.
"Baik, Hyung," jawab Sehun menurut dan mengambil obatnya. Ia hanya meminum obat untuk penyakit mentalnya tapi tak meminum obat tidurnya, ia pastikan akan meminumnya nanti setelah kembali jalan-jalan.
Sehun keluar menemukan Kai masih di tempat yang sama seperti sebelumnya namun sudah berganti baju. Kai memakai kaos panjang berwarna cokelat tua, celana jins hitam, dan sneakers musim dingin. Sebuah mantel siap di sampingnya. Semua itu barang-barang yang baru tadi sore Sehun belikan untuknya. Entah kenapa Sehun sangat senang Kai memakainya, terlebih Kai terlihat sangat tampan dan menarik ketika memakainya.
Kai berdiri begitu menyadari Sehun keluar kamar, semakin memperjelas bagaimana cocoknya Kai dalam pakaian itu. Tampak kasual namun tetap ada aura dominasi disekitarnya. Sehun tak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Kai hingga pria tan itu berdehem membuat Sehun mengalihkan pandangannya sambil merona.
"Terlihat sangat cocok untukmu," gumam Sehun malu-malu berjalan mendekati Kai dan mengambil mantelnya sendiri.
Kai tersenyum padanya, kembali memberikan sedikit kehangatan di hatinya yang hampa dan dingin. "Pilihanmu benar-benar cocok untukku," kata Kai mengambil mantel Sehun dari tangannya. "Bolehkah?" tanyanya meminta izin, memegang mantel Sehun.
Sehun hanya bisa mengangguk tanpa bicara dan berbalik, membiarkan Kai memakaikan mantelnya. Sehun kembali berbalik menghadap Kai begitu mantel melekat pada tubuhnya dan Kai mengancingkan mantel Sehun satu-persatu. Jarak mereka sangat dekat, namun Sehun tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Kai. Ia hanya menunduk dan menatap bagaimana jari-jari panjang berwarna tan milik Kai mengancingkan mantelnya.
Sehun bisa merasakan tatapan mata Kai yang begitu intens di kepalanya yang menunduk. Ia bisa merasakan aura dominasi Kai yang begitu kuat. Ia bisa merasakan hembusan nafas Kai di rambut dan keningnya. Ia bisa merasakan panas tubuh Kai dari jarak sedekat ini. Dan Sehun juga bisa merasakan detak jantungnya yang kian lama kian meningkat.
"Aku sangat ini menciummu saat ini, Sehun-ah, tapi aku tak ingin kau kembali menutup diri padaku karena itu," gumam Kai rendah dan terdengar frustasi tepat ditelinga Sehun.
Sehun tak bisa menahan rona merah di wajahnya dan ia yakin telah mencapai kupingnya juga. Ia segera mundur selangkah, menjaga jarak aman dari pria tan itu. "Ki-kita harus segera per-pergi. Tae-taemin-hyung hanya mengizinkan sampai jam 12," gumam Sehun malu dengan suara yang kecil, masih tak berani mengangkat wajahnya menatap Kai.
"Baiklah, Princess Hunderella," kata Kai tertawa rendah sambil memakai mantelnya.
Sehun, tak ingin mempermalukan dirinya lebih lama lagi, segera pergi menuju keluar. Ia memastikan ponsel dan dompetnya masih ada di saku mantelnya.
Kai mengajaknya menikmati pemandangan malam di sebuah danau kota yang beberapa menit dari hotel mereka. Keduanya memiliki minuman hangat masing-masing di tangan mereka.
"Apa kau tak masalah? Taemin dan Krystal tidur seranjang, maksudku," tanya Kai membuka pembicaraan. "Apalagi mereka dulu— ya, kau tahulah."
Sehun mengerjap menatapnya bingung. "Tidak. Kenapa aku harus masalah?" tanya Sehun semakin bingung. Ia jadi ingat Kai memberikannya pandangan prihatin ketika mereka makan siang, ada apa sebenarnya?
"Krystal istrimu dan kau mencintainya. Kau tidak takut Krystal selingkuh dengan Taemin?" tanya Kai heran.
Sehun tampaknya perlu waktu memproses omongan Kai dengan baik dan hanya menatap Kai dengan ekspressi bingung. "AH!" serunya begitu menyadari maksud Kai. "Aku memang mencintai Krystal, tapi bukan secara romantis. Secara platonis lebih tepatnya. Krystal sebenarnya istri Taemin-hyung, kalau kau menyadari Krystal memakai cincin pernikahanya dengan Taemin-hyung bukan cincin yang sama denganku," kata Sehun menjelaskan mengangkat tangannya yang terpasang cincin pernikahannya dan Krystal.
Kai terlihat sangat terkejut mendengar itu. "Ka-kau dan Krystal— tidak?" tanya Kai terbata, bahkan sulit untuk bicara dengan jelas. Sehun menggeleng sambil tersenyum kecil. "Tapi Krystal hamil!" katanya masih sulit untuk percaya.
"Itu anak Taemin-hyung. Aku bahkan tak pernah berciuman dengan Krystal selain saat hari pernikahan kami," aku Sehun serius, cukup bingung kenapa Kai sulit untuk percaya. "Aku bingung kenapa kau sulit percaya, Jongin-ah," kata Sehun kini heran.
"Kau terlihat sangat mencintainya, Hun. Bagaimana mungkin aku tak bingung?"
Sehun terdiam sebentar memproses omongan itu. "Mungkin karena aku sulit berekspressi. Aku mengalami masalah mental sejak 5 tahun lalu, Jongin-ah. Aku hanya bisa berekspressi dan merasakan sesuatu jika menyangkut Krystal. Mungkin karena dia yang selalu disampingku sejak 9 tahun lalu dan mengertiku dengan baik."
"Dan kau masih heran kenapa aku sulit percaya setelah kau bicarakan seakan Krystal satu-satunya yang bisa membuatmu hidup?" tanya Kai retorik dan getir.
"Aku aseksual," aku Sehun membuat Kai terdiam.
"H-huh?"
"Sejak 5 tahun lalu, aku menjadi aseksual. Aku tak menyadari kapan aku mulai berubah karena aku terlalu disibukan dengan Huntak Grup dan studi S3-ku, tapi suatu hari aku baru menyadari aku telah berubah menjadi aseksual. Aku tak menyukai pria seme atau pria uke. Dan aku juga tak menyukai wanita secara romantis. Aku tak memiliki nafsu seksual sama sekali. Kami pernah mencoba merangsang dengan film porno hingga Krystal bersedia membayar gigolo seme untuk memuaskanku, tapi aku sama sekali tak tertarik. Tak ada nafsu sama sekali. Aku aseksual dan sejujurnya seks menjadi hal yang menjijikan bagiku saat ini," aku Sehun menerawang ke danau gelap yang terlihat hitam pekat ditengah malam itu.
"A-aseksual?" ulang Kai tak percaya mendengar penjelasan Sehun.
"Bukan hanya aseksual, aku juga tak bisa merasakan perasaan pada orang asing. Aku bukan berpura-pura dingin seperti yang orang tua kita ajarkan bagaimana menjadi CEO, Jongin-ah. Tapi memang hatiku membeku dan tak bisa merasakan sama sekali selain soal Krystal. Ketika aku bertemu kembali denganmu aku bukannya berpura-pura dingin dan berpura-pura kehadiranmu tak memiliki efek padaku, tapi karena memang begitu sebenarnya. Saat itu aku benar-benar tak merasakan apa-apa padamu, Jongin-ah. Sakit hatipun tidak."
Kai hanya bisa terdiam dan menatap ke depan. Tampak terlalu terkejut untuk merespon mendengar semua itu.
"Aku sakit, Jongin-ah. Bukan secara fisik, tapi secara mental. Apa kau masih tetap mencintaiku? Seorang pasien rumah sakit jiwa?" tanya Sehun dengan bergetar.
Sejujurnya, ia tak bermaksud untuk membuka aibnya ini pada pria yang dulu ia cintai. Sama sekali tidak. Ia bermaksud menyembunyikannya dari Kai hingga pria ini tak jijik padanya dan menjauhinya. Ia hanya bermaksud untuk mengakui pada Shixun, seorang yang ia tahu akan menerima apa adanya meski kondisinya begitu rusak.
Tapi entah kenapa, pengakuan itu mengalir begitu saja. Tangannya sedikit gemetar, hatinya berusaha tenang dan menerima dampak penolakan dari Kai. Menerima fakta bahwa setelah ini Kai akan jijik padanya, akan menjauhinya. Tapi tetap, memikirkan itu membuat jantungnya kembali tertusuk. Kini bukan lagi dengan jarum tapi dengan sebuah pisau kecil nan tajam, karena rasanya begitu sakit.
Sakit yang tak pernah ia rasakan selama 5 tahun.
"Aku mencintaimu, Sehun-ah. Dulu ataupun sekarang. Kenyataan bahwa sikapmu yang dingin kepadaku ini bukanlah kepura-puraan tetapi dikarenakan kondisimu sendiri malah membuatku semakin mencintaimu. Dan setelah pengakuanmu, aku jadi memiliki tujuan hidup yang baru."
Sehun hanya bisa menatap Kai terkejut mendengar semua itu, mulutnya terbuka namun tak mampu berkata-kata.
"Dulu kau jatuh cinta padaku yang brengsek, egois, dan orang yang tak bisa menghargai sebuah ketulusan. Kau mencintai orang yang salah, orang yang tak pantas dicintai," kata Kai lalu menengok pada Sehun, menatapnya dalam. Ada ketulusan, kesungguhan, dan sesuatu yang lain dalam intensitas yang tinggi, membuat Sehun tak bisa mengalihkan pandangannya dari mata gelap Kai. "Sekarang aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, orang yang mengerti arti kesetiaan dan ketulusan, orang yang mencintaimu dan akan menjaga cintamu bagai harta yang paling berharga. Kau takkan lagi mencintai orang yang salah, aku akan menjadi orang yang pantas kau cintai, Sehun-ah. Aku takkan mengecewakanmu lagi."
Sehun sangat terkejut mendengar itu. Ia benar-benar tak menyangka. Ia 100% berpikir Kai akan jijik padanya lalu meninggalkannya, seperti 5 tahun lalu! Tapi—
"Aku‒ aku berusaha untuk‒ untuk tidak menghakimimu berdasarkan masa lalu. Maaf aku menyinggungmu, Jongin-ah." – Sehun.
"Dan— terima kasih. Terima kasih banyak untuk mau mencoba menilaiku tanpa melihat masa laluku, Aku… tak ingin mengecewakanmu, Sehunnie," – Kai.
Sehun serasa ingin memukul kepalanya sendiri dengan keras. Bagaimana bisa ia lupa? Ia sudah berjanji pada Kai untuk tidak menilainya berdasarkan perbuatannya yang dulu! Ia sudah berjanji untuk menilai Kai dari perbuatannya yang sekarang. Kenapa ia begitu bodoh? Ia seharusnya tak berasumsi yang buruk tentang Kai!
Kai tersenyum tampak sedih, tangannya terangkat dan mengusap pipi Sehun dengan lembut. Tapi Sehun sama sekali tak menghindari, tidak sama sekali refleksnya tak menentang sentuhan Kai, tubuhnya menikmati sentuhan kecil itu.
"Kau terlihat sangat terkejut mendengarnya," kata Kai masih tersenyum tampak sedih.
Mulut Sehun terbuka mendengar itu, matanya membola. "Ma-maaf—"
"Tak perlu minta maaf, aku sudah menorehkan luka yang dalam bagimu," kata Kai mengerti, tampak menyesali hal itu. "Semua asumsi burukmu padaku… adalah hal yang normal, Sehun-ah. Dan itu harga yang harus kubayar karena telah menyakitimu. Aku harus bisa menghapus bayang-bayangku yang dulu dan menggantikan dengan yang sekarang. Aku berperang dengan diriku sendiri untuk mengklaim hatimu," katanya pelan dan kini ibu jarinya mengusap bibir bawah Sehun dengan lembut.
"Tapi aku sudah berjanji… untuk tidak menilaimu dari masa lalu. 5 tahun banyak yang berubah, tapi aku masih tetap mengecewakanmu," bisik Sehun lirih dan menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa sangat bersalah telah berasumsi buruk tentang Kai sementara Kai sendiri berjuang untuk membuktikan bahwa ia telah berubah.
"Kurasa ada sesuatu yang perlu ku klarifikasi dari pembicaraan kita pagi itu, Sehun-ah," kata Kai pelan, mencondongkan badannya mendekat pada Sehun. "Kau benar, 5 tahun banyak yang berubah, sikapku berubah, banyak hal diriku telah berubah. Satu-satunya yang tak berubah dalam diriku adalah cintaku padamu," kata Kai pelan mengangkat wajah Sehun untuk menatapnya. "Dan aku bisa menghabiskan sisa hidupku hanya untuk membuktikan itu semua padamu," bisiknya rendah, serius, menatap tepat ke dalam mata Sehun.
Sehun hanya bisa menatap Kai dengan matanya yang membola sempurna, bibirnya kembali tak mampu berkata-kata. Ia hanya duduk dan menatap Kai terkejut dengan perasaan hangat memenuhi dadanya.
Detik berikutnya tanpa bisa di duga oleh Sehun, bibir Kai menyentuh bibirnya. Sentuhannya begitu lembut dan hangat. Begitu berhati-hati dan penuh sayang. Sehun hanya bisa memejamkan matanya dan membuka mulutnya sedikit begitu merasakan Kai mulai melumat bibir bawahnya. Dengan mata tertutup, indranya semakin begitu sensitif, ia bisa merasakan sebelah tangan Kai melingkar dipinggangnya, membawanya mendekat hingga terduduk di pangkuan Kai sementara pria tan itu masih melumat bibirnya dengan begitu lembut. Sehun melingkarkan kedua tangannya di leher Kai, memeluk erat seakan tak ingin ada jarak diantara tubuh mereka. Lidah Kai mulai menyelinap ke dalam mulut Sehun dan Sehun berusaha untuk membalas permainan lidah Kai.
Kai memberi satu lumatan terakhir di bibir bawahnya sebelum melepaskan bibir Sehun. Sehun menatap pria yang tersenyum lembut padanya sambil mengusap saliva di dagunya. Wajah Sehun memerah padam menyadari apa yang baru saja ia lakukan dan ia hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya di bahu Kai sementara Kai tertawa kecil karena tingkahnya.
Sehun menyadari tak ada kehampaan di dalam dirinya, tidak seperti ketika Kai menciumnya pertama kali. Sejujurnya yang ia rasakan adalah sebuah kehangatan. Kehangatan dan… gairah. Gairah yang timbul cukup menakutkan bagi Sehun, tapi ia memaksa pikiran itu menghilang. Ia hanya ingin menikmati momen-momen ini bersama dengan Kai.
"Kau benar-benar tak berpengalaman, huh? Sekarang aku tahu bahwa kau benar-benar tak pernah mencium siapapun selain Krystal di pernikahan kalian," kata Kai ringan.
"Ih, jangan diperjelas!" rengek Sehun yang tenggelam dibahu Kai itu sambil memukul pelan dada bidang pria tan itu.
"Tak perlu malu. Sebaliknya, kurasa kita bisa berlatih bersama. Aku tak pernah mencium seseorang sejak berpisah denganmu," kata Kai mengaku.
Sehun segera mengangkat wajahnya dan menatap Kai terkejut. "BENAR?!" tanyanya tak bisa menahan pekikannya.
"Tak pernah sama sekali. Aku tak pernah tidur dengan siapapun, kau bisa tanya Shixun dan yang lainnya. Kurasa itu sebabnya Irene mencoba merayuku, karena aku tak pernah meliriknya sama sekali," kata Kai tersenyum lembut sambil mengusap pipi Sehun sebelum kembali mengucap bibirnya dengan lembut.
"Tidak pernah…" ulang Sehun tampak tak percaya.
Kai kembali mengecup bibir Sehun, seperti terlalu gemas dengan reaksi Sehun. "Kau harus ganti rugi, Sehunnie. Aku jadi selalu ingin menciummu," bisik Kai.
Sehun memekik dan segera menutup melindungi mulutnya dengan punggung tangannya. Wajah putih dan cantiknya merona malu mendengar itu.
Kai hanya tersenyum dan menyingkirkan tangan Sehun dari bibir manis itu lalu kembali mengecupnya. "Kita pulang sekarang?" tanya Kai masih menempelkan bibirnya pada Sehun.
Sehun hanya bisa mengangguk dengan mata terpejam.
Kai kembali melumat lembut bibir Sehun untuk terakhir kalinya sebelum melepaskan bibir manis itu. Sehun langsung menunduk malu dan bangun dari pangkuan Kai. Mereka bisa duduk disana sampai pagi dan saling melumat jika Sehun tidak bangun.
Kai hanya tertawa kecil dan mengusak rambut Sehun dengan pelan. Keduanya kembali ke hotel, kali ini dengan jari-jarinya yang saling bertaut di dalam saku mantel Kai. Terkadang Kai tak tahan dan mengecup pipi Sehun yang merona, entah karena dingin atau karena ciuman mereka tadi. Lalu Sehun akan memukul lengan berotot itu karena malu dengan sikap Kai itu. Kai hanya tersenyum dan memandang Sehun dengan penuh sayang, seakan ia sangat berbahagia saat ini. Hanya karena Sehun berada di sampingnya.
"Kurasa aku perlu mengklarifikasi sesuatu padamu juga, Jongin-ah," kata Sehun pelan dan meremas lembut tangan Kai begitu menyadari pria itu berubah sedikit tegang, seakan takut mendengar pengakuan Sehun lainnya. "Saat pertama kali aku melihatmu kembali, aku memang tak bisa merasakan apa-apa. Ketika kau menciumku pertama kalipun tak ada yang kurasakan kecuali kehampaan. Tapi menghabiskan waktu denganmu, mulai membuatku bisa merasakan kembali. Aku bisa merasa sakit seperti ditusuk jarum melihatmu dengan Irene, aku bisa merasa sakit seperti ditusuk pisau berpikir kau akan jijik begitu tahu aku tak normal. Aku bisa merasakan kehangatan ketika kau peduli padaku dan ketika kau menciumku tadi… aku merasakan sesuatu yang hangat di dalam sini," aku Sehun menunduk, menatap tangannya yang memegang dadanya.
Kai terkejut mendengar itu sebelum tersenyum lembut mengecup pipi Sehun dengan lembut. "Terima kasih," bisiknya pelan sebelum memegang dagu Sehun dan memalingkan wajah Sehun menatapnya. "Sepertinya ciuman yang paling memberi efek, jadi kurasa kita harus sering-sering berciuman dari sekarang," katanya menyeringai sebelum kembali mengecup bibir Sehun.
"Ih, mesum!" protes Sehun malu dan memukul lengan Kai, membuat pria itu tertawa karena kepolosan Sehun.
e)(o
Kai selesai mengganti bajunya dengan kaos tipis hitam dan celana boxer, bersiap untuk tidur. Matanya teralih mendengar suara pintu kamar terbuka dan tertutup, Sehun baru keluar kamar dengan kaos tipis dan boxer, pakaian tidur yang tak jauh beda dengannya. Mata mereka bertemu untuk sejenak sebelum Sehun menunduk tampak malu-malu.
Serius, bagaimana bisa CEO Huntak Grup menjadi semanis ini?
Kai berdehem pelan, matanya masih mengikuti gerak-gerik Sehun yang berjalan menuju sofa-sofa tempat Kris, Kai, dan Shixun tidur. "Kau tidak tidur di kamar?" tanya Kai pelan.
Sehun menggeleng. "Aku mau tidur dengan Shixun saja," jawabnya sama pelannya dengan Kai dan naik ke sofa Shixun, melangkahi adik kembarnya itu untuk mengklaim sisi dalam sofa.
Pria tan itu hanya bisa mengamati, ia tak bisa menyangkal bahwa ada rasa cemburu yang mulai tumbuh di dalam dadanya. Terlebih melihat Sehun mengecup kening Shixun dan bagaimana lengan Shixun otomatis memeluk pinggang ramping Sehun. Sehun menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut sebelum menengok padanya.
"Selamat tidur, Jongin-ah," bisik Sehun pelan.
Perasaan hangat itu menyebar luas dalam tubuh Kai mendengar suara lembut dan halum milik Sehun itu. "Selamat tidur, Sehun-ah," balas Kai rendah membuat Sehun tersenyum kecil namun tampak begitu manis bagi Kai.
Lagi, mata Kai tak teralihkan melihat bagaimana tubuh Sehun menempel erat pada tubuh Shixun dibalik selimut itu, dan bagaimana nyamannya Sehun tertidur dalam pelukan Shixun meski mereka berbagi sofa. Kai benar-benar cemburu. Ia ingin ialah satu-satunya yang memeluk Sehun seperti itu, bukan Shixun.
Berhentilah berpikir macam-macam, Kim Jongin! Mereka adalah saudara kembar!
Kai menggeleng kuat dan segera berbaring. Ia perlu tidur sebelum pikirannya semakin kacau. Namun ketika ia memejamkan matanya, bayang-bayang Sehun terlihat jelas dalam benaknya. Ciuman kedua mereka… terasa jauh berbeda dari ciuman pertama mereka. Bibir Sehun terasa semakin manis, lembut, dan hangat. Wajah Sehun terlihat semakin cantik dengan rona merah yang menghiasi pipi putih mulusnya dan juga matanya yang berbinar memancarkan berbagai macam emosi. Begitu cantik, begitu hidup, begitu… menggairahkan.
Gairah…
Kai kembali teringat pengakuan Sehun tadi, bahwa Sehun telah menjadi aseksual setelah kepergiannya. Kai tak jijik, sebaliknya ia tahu ini memang sepantasnya terjadi padanya. Ia takkan mengeluh soal bagaimana nasib begitu kejam membuatnya mencintai seorang aseksual, tidak sama sekali. Ia tahu ia pantas mendapatkannya setelah ia menyia-nyiakan cinta tulus Sehun selama bertahun-tahun.
Sejujurnya, Kai merasa ini lebih baik. Karena Kai menginginkan Sehun jatuh cinta pada dirinya yang sekarang. Yang tahu arti kesetiaan, ketulusan, dan mencintai dengan benar. Ia tak menginginkan Sehun masih mencintai dirinya yang dulu.
Kai akan membuat Sehun kembali jatuh cinta padanya dan ia takkan lagi mengecewakan cinta sejatinya ini. Takkan pernah. Ia akan berjuang mendapatkan cinta Sehun dan menyimpannya bagai barang paling berharga di dunia ini. Ia bersumpah akan itu.
•••e)(o•••
TERIMA KASIH ATAS REVIEWNYAAAAAA, siders semoga juga mau menghargai dan ikut komen juga ya :D
Yang merasa momen XunHun-nya kebanyakan, maaf aja, karena itu semua penting. Sehun disini anaknya agak tertutup soal masalahnya dan Shixun sebagai kembaran dia yang paling Sehun percayai dan punya ikatan yang kuat. Makanya Sehun buka semua masalah mentalnya ke Shixun yang pertama dan disini dia baru cerita ke Kai.
Sekarang full KaiHun nih gimana menurut kalian? Aku merasa feelnya masih kurang tapi gimana ya T_T
Soal threesome becanda yah gak mungkinlah dibuat threesome. Threesomenya BaekHunGi aja yah /dilemparin batu/ becanda becanda :D :D :D oh yang menanti KaiXun, sorry aja, itu gak bakal kejadian. Aku gak bakal buat KaiXun. Disini cuman KaiHun – XunHun hehehe
P.S: next chap bakal kelihatan masalah utamanya dan full KaiHun wkwkwk yang nanya soal mimpi buruk Sehun mungkin bakal diungkit di chap 12 itu mungkin bakal angst tapi aku lagi mau nulis yang manis-manis. Apa aku nulis drabble/oneshot KaiHun aja dulu ya? T_T ada yang req catboy!au dan aku pengen nulis itu T_T
-willis.8894
