CHAPTER ELEVEN: WORTH IT
Sehun terbangun dari tidurnya begitu merasakan guncangan pada tubuhnya. Ia mendengar suara gumaman yang semakin lama semakin jelas.
"…Hyung. Kau ada janji sarapan."
Itu suara Shixun, tampak masih mengantuk. Sejujurnya Sehun juga masih sangat mengantuk, apalagi tubuhnya terasa hangat dalam pelukan Shixun dan balutan selimut. Ia hanya ingin tertidur seharian, ia sangat lelah.
"Hyung!"
Sehun hanya bergumam dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada Shixun, membiarkan kepalanya tenggelam dalam selimut hangat nan lembut itu. Sehun bisa merasakan Shixun menghela nafas panjang dan kembali melingkarkan kedua tangannya ditubuh Sehun, memeluknya.
"Apa benar-benar harus? Tidak bisa dibatalkan?" tanya Shixun memainkan rambut Sehun, membuat Sehun semakin tak ingin terbangun.
"Tidak bisa, itu akan membuat nama Sehun menjadi buruk," kata Baekhyun menghela nafas.
"Hyung, kau harus bangun," kata Shixun lagi mencoba membujuk, mengguncangkan tubuh Sehun pelan.
Mau tak mau, Sehun memaksa matanya untuk terbuka dan duduk dengan malas-malasan. Ia sangat lelah sejujurnya, tapi ia tahu sarapan kali ini sangat penting untuk mengetahui orang seperti apa CEO Heigh itu.
"Selamat pagi," gumam Sehun yang masih mengantuk, mengusap matanya.
"Pagi, Hyung," gumam Shixun yang masih memeluk pinggang Sehun, masih dalam posisi berbaring.
"Pagi, Bos. Seulgi sudah bersiap-siap, kurasa kau juga harus mandi sekarang," kata Baekhyun memberitahu.
"Hyung, tolong siapkan bajuku," kata Sehun mulai beranjak bangkit dan melangkahi Shixun yang masih berbaring itu. "Xunnie, jangan lupa nanti sarapan," kata Sehun mengacak-acak poni Shixun sebelum mengecup keningnya dan pergi ke kamar.
Baekhyun mengikuti Sehun ke kamar untuk menyiapkan pakaian Sehun hari ini. Sekitar 20 menit berikutnya, Sehun, Baekhyun, dan Seulgi telah keluar suite menuju restoran di bawah, dimana CEO Heigh menunggu mereka.
"Selamat pagi, CEO Oh," sapa CEO Heigh itu begitu melihat Sehun menuju ke mejanya.
"Selamat pagi, CEO Heigh," sapa Sehun duduk di kursi yang tersedia.
"Sekretaris dan Asisten Anda bisa makan bersama sekretaris saya," kata CEO Heigh menunjuk meja lainnya dimana seorang wanita Eropa muda dan cantik tersenyum pada mereka.
Baekhyun dan Seulgi menatap Sehun meminta persetujuan dan Sehun mengangguk. CEO Heigh pasti ingin membicarakan hal yang cukup rahasia dengan Sehun sampai Baekhyun dan Seulgi tak diperbolehkan untuk mendengar.
"Bagaimana pertemuan ini menurut Anda, CEO Oh?" tanya CEO Heigh basa-basi setelah memesan sarapan mereka.
"Baik, sangat menarik. Saya tak sabar untuk melihat potensi-potensi dari negara lain, mungkin mulai mengincar perusahaan mana yang akan saya ajak bekerjasama," jawab Sehun santai. "Bagaimana dengan Anda sendiri, CEO Heigh?"
"Biasa saja menurut saja. Sejujurnya, CEO Oh, saya datang hanya karena ingin bertemu dengan Anda," kata CEO Heigh menatap Sehun menyeringai bagaikan predator.
Sehun masih berwajah datar dan hanya menatap lurus pada CEO Heigh itu. "Saya merasa tersanjung. Tapi apa alasannya?" tanya Sehun datar, jelas-jelas sama sekali tak merasa tersanjung seperti yang ia katakan.
"Seorang teman mengatakan Anda adalah orang yang tepat untuk membantu saya, CEO Oh," kata CEO Heigh santai.
"Oh, benarkah? Teman yang mana?" tanya Sehun. Ia memiliki tebakan orang yang dimaksud adalah Kim Youngmin, ayah Kai, tapi ia tak ingin mengambil kesimpulan terlalu dini.
CEO Heigh mencondongkan tubuhnya mendekat pada Sehun. "Mantan Komisaris Jenguk Grup," bisiknya menyeringai.
Ah, tebakannya benar. Kim Youngmin adalah Mantar Komisaris Jenguk Grup sebelum digantikan oleh Kim Younghak, ayah Xiumin. "Kudengar Anda berteman baik dengan beliau," komentar Sehun santai, mengulur-ulur pembicaraan untuk mendapatkan apa tujuan sebenarnya Kim Youngmin dan CEO Heigh terhadap Jenguk Grup.
"Oh, kami berteman sangat baik, CEO Oh."
"Benarkah? Ceritakan kalau begitu, saya tertarik mendengarnya."
"Kim Youngmin mengatakan Jenguk Grup dulu adalah miliknya, sayang pewaris tunggalnya pergi meninggalkan tanggung jawabnya sehingga ia terpaksa membiarkan keponakannya mengambil alih. Kudengar Anda cukup banyak membantu Jenguk Grup sebelum mereka benar-benar hancur, CEO Oh."
"Begitukah? Saya tak merasa. Bagaimanapun juga Kim Youngmin sudah seperti paman saya, saya mengenal baik beliau, tak mungkin saya membiarkan Jenguk Grup jatuh begitu saja, bukan?"
CEO Heigh menyeringai puas mendengar itu. "Kalau begitu, apakah Anda ingin menyelamatkan Jenguk Grup untuk kedua kalinya? Sebelum mereka benar-benar bangkrut tak tertolong."
Sehun mengangkat satu alisnya. "Bangkrut? Saya pikir Jenguk Grup baik-baik saja saat ini," komentar Sehun.
CEO Heigh menggeleng sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajahnya, tanda omongan Sehun tidaklah benar. "Kim Youngmin sudah memberitahuku. CEO yang sekarang tidak bisa bekerja sebaik dirinya dulu. Komisaris mereka juga sama sekali tak membantu. Jenguk Grup akan segera mengalami kebangkrutan jika ini terus berjalan."
Sehun bersandar di kursinya dan menyilangkan kakinya. "Saya mendengarkan," katanya mempersilahkan CEO Heigh itu untuk terus membongkar maksud busuknya.
"Zurugawt Corp., nama perusahaan saya, akan bekerja sama dengan Jenguk Grup. Kami akan mengambil alih Jenguk Grup perlahan-lahan sebelum menendang keluar CEO, COO, dan Komisaris mereka itu. Kim Youngmin sudah memiliki rencana bagaimana pelaksanaannya."
Ah, jadi ini yang sebenarnya mereka incar. Mengambil alih Jenguk Grup. Sepertinya Kim Youngmin benar-benar masih belum rela untuk melepaskan Jenguk Grup. Setelah dipikir ulang, jika bukan karena janjinya untuk mengangkat CEO baru –yang seharusnya Kai–, Sehun yakin Kim Youngmin akan terus mempertahankan posisinya sebagai Komisaris. Sayang Kai memutuskan untuk pergi dan Xiumin maju menjadi CEO. Posisi saham keluarga Xiumin langsung melonjak dalam Jenguk Grup sehingga otomatis menjadikan Kim Younghak sebagai Komisaris menggantikan Kim Youngmin.
Keserakahan. Terlalu banyak keserakahan di dunia bisnis ini.
"Apakah saya termasuk dalam rencana kalian, CEO Heigh?" tanya Sehun pura-pura tertarik.
"Oh, tentu saja, CEO Oh. Tak mungkin tidak. Anda adalah kunci dari rencana ini berhubung Huntak Grup memegang saham yang cukup besar di Jenguk Grup."
Sehun menyeringai kecil. "Ah, saya tak sabar untuk tahu rencana itu." Dan Sehun bicara jujur. Ia tak sabar untuk tahu seperti apa rencana itu dan ia akan berusaha menggagalkannya.
Keep your friends close, but your enemies closer. Yep, Oh Sehun akan memainkan perannya disini.
e)(o
Kai menatap pria cantik yang sedang presentasi di hadapan orang-orang itu. Oh Sehun sedang mempresentasikan tentang Huntak Grup dengan bahasa Inggris yang begitu fasih. Wajahnya datar dan dingin, tapi tak ada kegugupan yang terpancar dari pria cantik itu. Bahkan suaranyapun tak bergetar, seakan presentasi ini bukanlah hal yang sulit baginya meskipun ia CEO termuda di ruangan ini.
"Ya. CEO Oh Sehun dari Huntak Grup. Dia masih terlampau muda tapi begitu cerdas dan berkembang dalam dunia bisnis. Jangan heran jika banyak yang mengincarnya, Presiden Korea sendiri yang meminta agar keselamatannya dijamin dengan baik selama ia berada di Rusia."
Kai teringat apa yang dikatakan Bosnya ketika memberi misi mengawal Sehun. Sehun kini bukan lagi Tuan Putri cantik kutubuku yang dulu, kini Sehun telah menjadi orang yang penting bagi Korea dan bahkan juga menarik perhatian Presiden Korea.
Ada sebuah kebanggan yang menghangatkan dada Kai menyadari hal itu. Sejak dulu, Kai memang tak terlalu memperhatikan Sehun karena matanya tertuju pada Shixun, tapi bahkan Kai mengetahui sebagaimana Sehun berjuang untuk bisa mendapatkan kehormatan dalam posisinya yang sekarang.
Sehun sejak dulu selalu berusaha lebih keras daripada siapapun. Bahkan Suho, sepupunya yang sejak dulu berambisi mewarisi Jenguk Grup, sekalipun. Sehun selalu berusaha untuk mendapatkan nilai yang sempurna, berkelakuan baik, bahkan ia selalu bisa membereskan semua masalah yang disebabkan Kai dan gangnya itu.
Ingatan Kai kembali ketika ia mengatakan pada Sehun bahwa ia mencintai Shixun. Ingatannya kembali ketika Sehun menghilang pertama kalinya. Ia bisa mengingatnya dengan jelas seakan hari itu baru terjadi kemarin, bagaimana jantungnya bertalu keras ketika mendengarnya. Bagaimana ia begitu panik, cemas, dan takut jika terjadi sesuatu pada Sehun. Ia bahkan tak bisa menenangkan Shixun yang panik mengetahui Sehun bolos sekolah dan pergi entah kemana, ia langsung berlari dan mencari Sehun seperti kesetanan ke seluruh pelosok Seoul.
Ia bahkan tak mau beristirahat dan berkumpul di masion keluarga Oh kalau bukan Chanyeol dan Kris yang menyeretnya, ia hanya ingin mencari Sehun hingga ia bisa memeluk pria manis itu dan memastikan Sehun baik-baik saja.
Ketika Sehun pulang sebelum mereka kembali mencarinya lagi, Kai merasakan kelegaan membanjiri tubuhnya. Ia cemburu ketika Shixun memeluk Sehun erat saat itu. Entah cemburu karena rasa cintanya pada Shixun atau ia cemburu karena menurut Kai ialah yang pantas mendapatkan pelukan itu. Mungkin sebenarnya Kai telah mencintai Sehun jauh sebelum yang pernah ia perkirakan. Jauh sebelum ia tinggal bersama Sehun di Inggris.
Kai tak bisa menahan senyumnya begitu mengingat wajah panik teman-teman mereka itu, terlebih teman-teman yang dekat dengan Sehun seperti Baekhyun atau Kyungsoo. Jelas semua panik dan terkejut, karena fakta bahwa Oh Sehun membolos sekolah sudah merupakan kabar yang menggemparkan dunia. Oh Sehun yang jenius, taat aturan, kebanggan Keluarga Oh dan jajaran guru-guru sekolah mereka, telah membolos sekolah. Kris, Tao, dan Luhan telah membuat hipotesa bahwa Sehun diculik oleh salah satu musuh mereka saat itu, dan begitu tahu Sehun memang membolos sekolah, Tao pingsan setelahnya. Itu benar-benar kenangan yang tak terlupakan bagi Kai.
Semakin dewasa, Sehun semakin berusaha keras, nama Sehun bahkan tak asing lagi di kampus mereka sebagai mahasiswa terbaik diangkatannya. Tapi Kai tahu seberapa keras usaha Sehun hingga mendapat predikat itu.
A•R
FLASHBACK 6 YEARS AGO - Sehun and Kai 19 years old.
Kai baru saja pulang dari bar yang dikunjunginya bersama Chanyeol dan Luhan. Ia sedang tak berminat untuk meniduri siapapun malam ini sehingga ia pulang cukup cepat ke apartemennya dan Sehun, pukul setengah satu dini hari.
Ia melihat lampu ruang tv masih menyala. Sehun ada disana, sibuk dengan kertas-kertas, buku-buku, dan laptopnya. Saat itu sedang mendekati musim ujian semester, jadi jelas Sehun belajar seperti kesetanan dan juga mengebut dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Sangat berbeda dengan Kai yang menghabiskan malamnya meniduri para jalang dan berpesta.
"Kau seharusnya tidur, Sehunnie," kata Kai mengejutkan pria manis itu.
"Ah, Jongin-ah, kau sudah pulang." Sehun menyambutnya dengan senyum manis meski wajahnya terlihat lelah.
"Ya, malam ini tak ada yang menarik perhatianku," jawab Kai santai, mengabaikan tatapan terluka yang sempat terlihat di mata Sehun. Ia duduk di samping Sehun, di karpet apartemen mereka. "Tugasmu yang kemarin?" tanya Kai mengintip laptop Sehun.
Sehun menggeleng dengan lucunya. "Yang kemarin sudah selesai, ini tugas yang batas waktunya lusa," jawab Sehun kembali memberikan perhatiannya pada tugasnya.
Kai memperhatikan meja ruang tv mereka yang berantakan. Ada sebuah mug berisi kopi setengah tapi tak ada cemilan. Kai sangat tahu Sehun tak pernah menyukai kopi, ia terlalu mencintai bubble tea untuk bisa menyukai minuman lain —selain susu tentunya—, tapi Kai juga tahu sejak Sehun kuliah, Sehun terpaksa harus mendapatkan asupan kafein hariannya agar bisa terjaga untuk mengerjakan tugas-tugasnya dan belajar. Krystal sendiri yang memberitahunya.
"Apa kau sudah makan, Sehunnie?" tanya Kai.
Sehun menengok padanya dan tampak bingung, seakan mencoba mengingat baik-baik apa ia sudah makan atau belum. "Umm, tidak tahu, Jonginnie. Sudah sepertinya," jawab Sehun mengangguk-angguk polos.
Kai tersenyum tipis dan menggeleng, mengacak-acak poni Sehun dengan gemas. "Kau pasti lupa makan lagi. Biar kupesankan makanan. Sehunnie mau apa?"
"E-eh? Tidak usah, Jonginnie!" tolak Sehun buru-buru. "Sudah, Jonginnie tidur saja, sudah larut," kata Sehun mengusir dengan lembutnya.
"Sehunnie," kata Kai menegur dengan halus namun tegas. "Kau harus makan, kau pasti tak makan seharian karena lupa. Jadi katakan padaku, Sehunnie mau makan apa?"
Sehun menunduk sambil mengerucutkan bibirnya. "Aku tak mau makan. Makan akan membuatku mengantuk dan nanti tugas-tugasku tak selesai," kata Sehun merengek pada dirinya sendiri.
Hidup dengan Sehun selama satu setengah tahun lebih jelas membuat Kai sadar kebiasaan buruk Sehun yang satu ini. Sehun selalu memaksakan tubuhnya demi belajar dan tugas-tugasnya. Ia rela kelaparan dan tak makan malam agar tidak mengantuk karena kekenyangan. Ia bahkan hanya istirahat hanya 2 hingga 3 jam sehari! Terlalu berusaha keras hingga akhirnya jatuh sakit setelah ujian berakhir. Selalu seperti itu. Meski memang hasilnya sebanding dengan kerja kerasnya, tetap saja Kai tak pernah suka melihat Sehun jatuh sakit.
"Kau harus makan. Jika tidak, akan ku kelitiki tanpa ampun!" ancam Kai membuat Sehun menatapnya terkejut dan horor, terlihat begitu menggemaskan bagi Kai.
Sehun cemberut dan mengerucutkan bibirnya. "Itu tak adil, Jonginnie," protes Sehun masih dengan ekspressi anak kucingnya. Benar-benar terlihat seperti anak kucing yang sedang marah.
Kai tak bisa menahan tawanya dan mengacak-acak rambut Sehun gemas. "Jadi kau ingin makan apa?" tanya Kai.
Sehun tampak berpikir sebentar sebelum menggeleng pelan. "Aku tak tahu. Aku terserah Jonginnie saja."
"Kalau begitu kita makan Burger saja, ya?" Sehun mengangguk-angguk cepat. "Biar kupesankan," kata Kai bangkit berdiri, memesankan dari telepon rumah mereka. Ia bahkan sudah tahu burger kesukaan Sehun seperti apa, tak perlu ditanyakan lagi.
Kai kembali ke ruang tamu setelah memesan, Sehun sudah kembali fokus ke laptopnya, tampak melupakan keberadaan Kai. Kai hanya berbaring di sofa dibelakang Sehun, hanya memperhatikan dan menemani pria manis itu mengerjakan tugasnya.
Sehun tampak begitu fokus pada tugasnya hingga ia bahkan tak menyadari ada pengantar makanan yang datang. Kai segera bangkit dan membayar makan malam mereka itu dan meletakan makanan mereka di kitchen counter.
Pria tan itu menghampiri Sehun dan menutup laptop pria itu dengan pelan, tapi tetap saja mengejutkan Sehun. Sehun menatapnya bingung dan terkejut. "Waktunya makan, Sehunnie," kata Kai tersenyum lembut sebelum menarik Sehun untuk bangkit berdiri.
Kai ingin sekali menggendong Sehun hingga ke dapur mereka dan ia tahu Sehun juga pasti akan menyukai momen itu, tapi Kai tak ingin membuat Sehun berpikir bahwa Kai bisa membalas perasaannya. Karena itu tak mungkin terjadi.
Mereka makan dengan santai, menceritakan hari mereka. Kai memberitahu Sehun wanita yang sedang diincarnya untuk ditiduri minggu ini, mengabaikan tatapan terluka Sehun untuk kesekian kalinya malam itu.
Setelah makan, Kai masih menemani Sehun mengerjakan tugas-tugasnya di ruang tamu hingga ketiduran di sofa. Ia setengah sadar ketika Sehun berbaring di sampingnya dan kedua tangan Kai memeluk tubuh ramping itu tanpa perlu di komandokan.
Kai tak pernah mengakui bahwa ia merasakan kehangatan yang begitu nyaman ketika ia memeluk Sehun saat itu.
Kai tak pernah mengakui bahwa ia menyukai Sehun tertidur dalam pelukannya.
Kai tak pernah mengakui apapun hingga semuanya terlambat.
A•R
"Kau ok?"
Kai menengok dan mendapati Kris duduk di kursi balkon di sebelahnya. Ia melirik ke dalam masih berkumpul membicarakan perjalanan mereka yang akan berpisah dari hari ini. Krystal ingin jalan-jalan ke daerah barat Rusia dengan Taemin jadi mereka takkan kembali ke hotel sampai hari terakhir mereka di Rusia nanti. Sehun menyuruh Kyungsoo dan Seulgi ikut berlibur bersama pasangan itu yang jelas diterima oleh kedua orang itu. Meninggalkan Baekhyun yang cemberut karena mengurus perkejaannya sendiri dan Suho tampak tak rela berpisah beberapa hari dengan Kyungsoo.
Kai sejujurnya masih sulit percaya bahwa Suho adalah kekasih Kyungsoo. Kai selalu berpikir Suho tak tertarik pada siapapun.
"Kau tak masuk? Bukankah kau seharusnya mengawal Krystal?" tanya Kai pada Kris.
Kris menggeleng. "Tidak. Aku sudah terlalu lelah mengawal Krystal beberapa hari ini. Serius, anak itu tak ada lelahnya sama sekali," kata Kris menghela nafas lelah.
Kai tak bisa menahan tawanya mendengar itu. Ya, Krystal memang benar-benar terlalu aktif meski sedang hamil besar. Ah, apakah Sehun juga akan seperti itu nantinya?
"Yah, hapus senyummu itu, itu menyeramkan," komentar Kris membuyarkan lamunan indah Kai.
Kai meliriknya tajam dan mendengus. "Jadi siapa yang mengawal rombongan Krystal?" tanya Kai kembali ke topik.
"Luhan, Tao, dan Irene. Kau ingin ikut juga?" tanya Kris mengangkat alis.
Kai menggeleng. "Tidak, terima kasih."
Kris mendengus. "Bilang saja kau tak ingin jauh-jauh dari Sehun," katanya memainkan alisnya menggoda sahabatnya itu.
Kai menyeringai, jelas tak malu bahwa orang-orang tahu ia menyukai Sehun. Meski Kai tahu Sehun tak ingin hal-hal seperti ini diketahui oleh yang lain. Sehun memang kadang terlalu pemalu menyangkut hal seperti ini.
Kris menggeleng melihat itu namun tak dapat menahan senyumnya. Pria tinggi itu menatap lurus ke depan dan menerawang. "Aku tahu lebih banyak dari yang kalian pikirkan, kau tahu itu?" kata Kris tenang, serius.
"Apa maksudmu?" tanya Kai mengangkat satu alisnya.
"Aku tahu Sehun menyukaimu sejak dulu, kau terlalu buta untuk melihatnya karena terlalu sibuk melihat Shixun. Aku juga mendengar pembicaraan kalian berdua, saat Shixun memberitahu perasaan Sehun tentangmu dan menyuruhmu untuk menjaga Sehun baik-baik disana. Dan aku tahu soal kondisi Sehun sekarang, Krystal memberitahuku."
Kai hanya bisa menatap Kris terkejut. Ia benar-benar tak menyangka Kris tahu begitu banyak. "Apa yang lainnya juga tahu? Soal aku, Shixun, dan Sehun?"
"Mereka terlalu bodoh dan sibuk dengan dunia mereka sendiri untuk tahu itu. Bahkan Baekhyun tak tahu, tapi Krystal tahu. Taemin dan Krystal tahu semuanya tentang Sehun, ketika waktunya tepat mungkin Sehun juga akan menceritakan kencan tengah malam kalian berdua pada kedua orang itu," kata Kris tak bisa menahan seringaiannya.
Kai mengerang dan menutup setengah wajahnya. Aish, kenapa Sehun begitu polos? Jika Sehun cerita pada keduanya bahwa Kai menciumnya kemarin malam, mungkin Taemin akan menggantungnya di balkon hanya mengenakan boxer dan membiarkannya membeku disana! Oh, jelas Kai menyadari tatapan tajam yang Taemin tunjukkan padanya, ia jelas tak menyukai Kai meski tak menyuarakannya terang-terangan.
Setidaknya Taemin masih mengijinkannya pergi kencan dengan Sehun semalam meski waktunya sangat singkat.
"Aku juga tahu kau terlambat menyadari perasaanmu pada Sehun setelah kita meninggalkannya, disatu sisi kau tak bisa kembali begitu saja karena keputusanmu mengikuti kami," kata Kris pelan tak menatap Kai, hanya menatap lurus ke depan.
Kai menatap Kris, lagi-lagi terkejut. "Bagaimana bisa kau tahu?" tanya Kai heran.
"Kau tidak berhubungan dengan siapapun selama 5 tahun ini, Kai. Kau bahkan tak mencium atau meniduri satu orangpun sejak kita pergi meninggalkan Sehun. Kau menyimpan foto Sehun berdua denganmu di dompetmu, terkadang dalam tidurmu kau mengigaukan nama Sehun, kau tak bereaksi apa-apa melihat Shixun meniduri orang lain karena kau tak lagi menyukainya. Kau berhenti merokok, kau mulai berhenti minum, dan wanita ataupun pria seseksi apapun dihadapanmu sama sekali tak menarik minatmu. Kau serius menanyakan bagaimana aku bisa tak tahu tentang perasaanmu pada Sehun?"
Kai meneguk ludahnya kasar. "Apa yang lain tahu?"
"Chanyeol dan Tao mungkin sudah menyadarinya setelah bertahun-tahun kita bersama. Mungkin begitu kau tak lagi merokok. Shixun dan Luhan sepertinya tak tahu apa-apa," jawab Kris mengangkat bahunya. "Pertanyaanku, apa yang kau rencanakan tentang Sehun?" tanya Kris menatap Kai serius.
"Rencana?" tanya Kai mengangkat alis.
"Waktu kita bersama mereka hanya tinggal beberapa hari sebelum semuanya kembali pada kehidupan kita masing-masing. Aku bisa melihat jelas kau mencoba mendekati Sehun sejak ia tiba di Rusia, jadi apa yang kau rencanakan? Menidurinya lalu meninggalkannya? Membuatnya kembali mencintaimu lalu meninggalkannya lagi? Apa yang kau rencanakan, Kim Jongin?"
Kai cukup terkejut melihat emosi yang tercetak di wajah Kris. Pria itu terlihat begitu serius, hal yang jarang terjadi karena Kris sering kali bertindak bodoh setiap saat. Tapi Kris sekarang terlihat seperti ia tak ragu untuk mematahkan leher Kai jika ia salah menjawab, terlihat jelas dengan kedua tangan Kris yang terkepal erat menahan amarah.
"Kau pikir aku serendah itu?" balas Kai jelas tersinggung. "Kau sendiri yang bilang bahwa aku tak menyentuh siapapun selama 5 tahun ini, sekarang aku memiliki kesempatan untuk kembali bertemu Sehun dan kau berpikir aku hanya ingin menidurinya?"
"Lalu apa?" tanya Kris menatapnya datar, melepaskan kepalan tangannya.
Kai hanya menghela nafas panjang dan menatap lurus ke depan, sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Apa rencananya dengan Sehun ke depannya? Ia ingin Sehun kembali jatuh cinta padanya, tapi setelah itu apa? Hubungan jarak jauh seumur hidup? Itu akan benar-benar menyedihkan.
"Sehun sudah tahu, kan? Tentang perasaanmu padanya," kata Kris menyatakan.
"Ya. Dia menolakku."
Kris mengangkat satu alisnya, jelas meragukan ucapan Kai. "Menolakmu tapi pergi kencan denganmu tengah malam?"
"Tidak sepenuhnya menolak, ia hanya mengatakan hubungan ini takkan mengarah kemana-mana. Setelah ini kami akan berpisah dan ia ingin berpisah baik-baik, tidak seperti 5 tahun lalu. Ia mengatakan ingin membuat kenangan yang baik, menggantikan 5 tahun lalu," jawab Kai menjelaskan.
"Bagaimana denganmu sendiri? Aku tahu kau takkan mundur begitu saja."
"Aku tak ingin melepaskannya, Kris. Aku tak ingin kehilangan Sehun lagi," kata Kai pelan, namun pasti. Seakan bersumpah pada dirinya sendiri.
Kris menatapnya, seakan mencari sedikit saja keraguan di dalam diri Kai, sebelum menghela nafas pelan. "Jadi rencanamu?" tanya Kris, tahu ia tak bisa mengubah keputusan Kai sama sekali.
"Setelah misi ini selesai, aku akan berhenti menjadi Agen dan kembali ke Korea," kata Kai serius.
Kris bergumam mengerti tampak tak terkejut, seakan ia bisa menduganya. Hal itu justru cukup membingungkan Kai.
"Kau tak terlihat terkejut," kata Kai heran.
Kris mengangkat bahu. "Aku bisa menebaknya. Kau hanya ingin kebebasan, Kai, tapi kau tak benar-benar serius menjadi Agen. Kau menjadi Agen karena mengikuti Shixun, aku bisa melihat itu dengan jelas. Tentu kau terhibur dengan tantangan di setiap misi yang kita jalani, tapi hanya itu. Hanya sekedar hiburan. Aku tahu kau akan keluar begitu kau sudah bosan. Sejujurnya, kurasa semuanya sudah mengetahui hal yang satu itu."
Itu benar-benar hal yang tak terduga bagi Kai, bagaimana sahabat-sahabatnya bisa dengan mudah membaca sikapnya. Tsk, anak-anak itu, meski brengsek tapi mereka yang benar-benar mengerti, batinnya tanpa bisa menahan senyumnya memikirkan sahabat-sahabatnya itu.
"Kembali pada topik. Kau ingin kembali ke Korea, lalu apa?" tanya Kris. "Kau tak mungkin kembali pada keluarga Kim, Kai. Jadi apa yang akan kau lakukan?"
Kai menghela nafas. "Entahlah, mungkin menjadi polisi. Tinggal di apartemen, kembali mencoba mengambil hati Sehun dan melanjutkan hidup?"
Kris terdiam untuk sejenak dan hanya menatap pemandangan kota dari balkon hotel mereka itu. "Sehun memang tak pernah menuntut banyak, tapi— pernahkah kau berpikir kau cukup baik bagi Sehun? Apa terlintas bagimu menjadi polisi biasa sudah cukup baik bagi reputasi Sehun yang adalah seorang CEO Huntak Grup?"
Kini Kai yang terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia bagaikan ditampar keras dengan pertanyaan itu. Apakah ia cukup baik bagi Sehun? Sehun orang yang begitu penting di Korea, orang yang bahkan dikenal oleh Presiden Korea sekalipun. Sedangkan Kai sendiri? Seorang keturunan Kim yang sudah ditendang keluar dari keluarganya dan hanya menjadi –akan menjadi pensiunan– Agen Intelejen. Ia sama sekali orang yang tak sepadan dengan Sehun, sama sekali tidak.
"Pikirkan baik-baik, Kai. Jika kau ingin mendapatkan Sehun, pastikan dahulu dirimu pantas untuk mengejarnya," kata Kris sambil bangkit berdiri.
Sesuatu tentang Kris cukup mengganggu Kai sejak awal pembicaraan ini. Kris menyimpan sesuatu, Kai yakin itu, dan ia sedikit banyak bisa menebak apa itu. "Bagaimana kau tahu?" tanya Kai tiba-tiba.
Kris menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke dalam begitu mendengar pertanyaan Kai itu. "Bagaimana aku tahu tentang?" tanya Kris bingung.
"Bagaimana kau tahu Sehun menyukaiku? Kau tahu sebelum mendengar Shixun mengatakannya padaku, jadi bagaimana kau tahu? Sehun pintar menyembunyikan perasaannya sejak dulu, bahkan Baekhyun dan Kyungsoo tak tahu. Krystal takkan tahu jika Sehun tak memberitahunya. Dan akui saja, dengan tubuh tinggi dan sikap santunya pada wanita orang-orang pasti mengira Sehun itu menyukai perempuan. Jadi bagaimana kau tahu, Kris?" tanya Kai.
Kris hanya tersenyum miris mendengar pertanyaan itu. "Bukankah sudah jelas? Mataku hanya tertuju pada Sehun bahkan ketika ia memandangmu dan tak menyadari ada orang lain yang selalu memandangnya."
Kai hanya terduduk membeku mendengar itu sementara Kris meninggalkannya di balkon setelah mengatakan hal itu. Bagaimana bisa ia tak menyadari hal ini sama sekali? Ia mengenal Kris lebih lama dari yang lainnya, sejak umur mereka 8 tahun! Tapi kenapa ia baru menyadari sekarang bahwa Kris juga menyimpan rasa pada Sehun?!
Sial, sejak kapan? Kenapa ia tidak mencoba mendapatkan Sehun? Argh, Wu Yifan brengsek, kenapa ia tak pernah bilang selama ini!
Kai memejamkan matanya erat dan menghela nafas panjang. Kini ia semakin menyadari bahwa bukan hanya Sehun yang ia sakiti selama bertahun-tahun ini. Suho, Minseok, Jongdae, bahkan sahabatnya Kris juga telah ia sakiti tanpa ia sadari. Hanya karena keegoisannya.
Apakah ia benar-benar pantas untuk Sehun?
"Jongin-ah?"
Panggilan lembut nan halus itu menariknya dari ombak rasa bersalah yang menerjangnya, Kai membuka matanya dan menatap Sehun. Sehun yang cantik dengan pipi merona merah karena udara balkon yang semakin dingin, atau mungkin mengingat ciuman mereka kemarin malam.
"Ka-kau ok?" tanya Sehun, raut cemas sedikit membayangi wajahnya yang datar.
Kai mencoba tersenyum. "Ya, tentu. Ada apa?" tanya Kai, mengulurkan tangannya, meminta Sehun mendekat padanya.
Sehun mendekat dengan langkah kecil-kecil, tampak malu. Rona di pipinya semakin terlihat jelas, Kai yakin kali ini bukan hanya karena udara dingin.
"Kau perlu sesuatu?" tanya Kai menggenggam tangan Sehun dengan hati-hati, seakan tak ingin menakuti Sehun dengan sentuhannya yang tiba-tiba. Menarik Sehun pelan agar berdiri semakin dekat dengannya, diantara kedua kakinya.
Sehun menggeleng cepat, tampak begitu lucu masih sama seperti dulu. "Kau terlihat banyak melamun sejak tadi, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja," kata Sehun pelan seperti bisikan malu-malu meski matanya jelas tampak cemas.
Kai tak bisa menahan senyumnya mendengar itu. Sehun masih tetap Sehun. Dulu ataupun sekarang ia selalu peduli pada sekitarnya, peka terhadap sekitarnya.
Kai berdiri dari tempat duduknya, membuat Sehun mundur hingga tembok pembatas balkon menyentuh pinggangnya, memberikan jarak antaranya dan Kai. Kai tertawa kecil melihat wajah terkejut dan malu itu, dengan santai ia berjalan menghampiri Sehun hingga memerangkap tubuh ramping itu diantara kedua lengan berototnya.
"Hm, mungkin aku tak bisa fokus hari ini karena belum mendapatkan vitaminku," bisik Kai rendah, menatap bibir tipis nan pink yang menjadi candunya itu.
Wajah Sehun semakin merona malu, pria itu mencoba menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Kai ikut menunduk, melihat jarak diantara mereka yang begitu dekat, membuatnya bisa merasakan panas tubuh Sehun dan juga wangi sampo yang pria cantik ini gunakan. Tapi satu hal yang menarik perhatian Kai, jari-jari Sehun gemetar. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Sehun yang masih menunduk, bahunya juga sedikit gemetar. Mungkin Sehun masih takut akan sentuhannya. Mungkin Kai sudah mendorong paksa terlalu jauh.
Kai mundur selangkah, tak lagi mengurung Sehun dalam lengannya. Sehun mengangkat wajahnya menatapnya tampak bingung dan terkejut. "Maaf, aku mungkin sudah kertelaluan," kata Kai tersenyum merasa bersalah. "Mungkin sebaiknya kita masuk," katanya lagi beranjak pergi.
Hal berikutnya sangat tak terduga bagi Kai, ia merasa lengannya ditarik dengan lembut sebelum sepasang tangan lembut dan hangat merengkuh wajahnya. Detik berikutnya, ia merasakan bibir tipis manis nan hangat itu menempel pada bibir tebalnya.
Kai bahkan tak menutup matanya karena terlalu terkejut menyadari Sehun menciumnya. Ia bisa melihat kedua mata Sehun terpejam erat, bulu matanya panjang dan lentik, pipi putihnya terlihat begitu merona merah. Sehun tampak begitu cantik saat ini, bagaikan sebuah lukisan yang bernilai juta dollar.
Sehun menarik dirinya bahkan sebelum Kai bisa memeluk pinggang ramping pria cantik itu. Kai menemukan dirinya telah merindukan bibir Sehun meski baru berpisah beberapa detik. Sehun sendiri tampak begitu malu dan segera kabur dari tempat itu bahkan sebelum Kai sempat bereaksi. Meninggalkan Kai mematung di balkon hotel itu.
Hanya karena ciuman Oh Sehun.
•••e)(o•••
TERIMA KASIH BANYAAAAK ATAS REVIEWNYAAAAA :D
Aku udah mulai nulis OS-Catboy!au tapi belom selesai T_T chap. 12 jg belom selesai T_T maakan othor ya T^T
Ohiya, aku lupa siapa yg nyaranin catboy!au tapi nanti aku mention pas di OS-nya kok wkwkwkwkwk
Nah sekarang udah kebaca kan masalah intinya EAAAK classic sih, semoga kalian masih tertarik ya :'D itu yg minta bikin anak itu masih lama itu :DD
SPOILER: Next chap mimpi buruk Sehun akan terungkap! Siap-siap banting steer setelah tahu kesalahan terbesar yg pernah Kai lakuin ke Sehun EAAAK /othor ditumpukin/ enggaklah yah, pasti KaiHun-Shipper masih strong dukung Kai wkwkwkwk. XunHun-shipper kayaknya chap depan mulai panas berkoar-koar nih /apasih thor -_-/
SEKALI LAGI TRIMA KASIH SUDAH MEMBACA DAN SUDAH REVIEW :D
P.S: kita main yuks di willis8894 EAAAK PROMOSI :D:D:D
-willis.8894
