EROTIC NIGHTMARE

Chapter enam

...

Write by BeibiEXOl

Plagiat? Go to the hell!

.

.

.

Drrr drrr

Luhan mengerjapkan matanya pelan, pemandangan pertama yang ia lihat adalah dada polos Oh Sehun. Ia menghela nafas melepaskan pelukan lelaki itu dan beranjak dari sofa.

Yah, mereka bercinta semalaman dan ketiduran diruang tengah. Luhan bersyukur ia hidup sendiri ... atau tidak.

Lelaki itu, Oh Sehun benar-benar menyerangnya dimana pun. Ahh ... memikirkan kejadian tadi hanya membuat dirinya malu dan memerah. Lampu ruang tengah sudah gelap, hanya cahaya rembulan yang mengintip dibalik gorden yang menutupi jendela. Luhan mengambil ponselnya yang ada dimeja, Jongin mengajaknya clubbing dan mengatakan kalau dj-nya sangat cantik dan seksi. Luhan melirik jam sudah menunjukan pukul 3 pagi. Dan ia mendengus, "Hah ... dj seksi pun tidak lagi menarik bagi ku" Batinnya menangis, menyadari kalau ia benar-benar tidak normal sekarang.

Luhan menatap Sehun yang kali ini benar-benar tertidur nyenyak dan menaikan selimut lelaki itu dengan ia yang kembali tidur dikarpet bulu dibawah sofa yang Sehun tiduri.

...

Luhan terbangun saat ia merasakan seseorang menciumi wajahnya dan ia melihat wajah Sehun yang bersinar. Ia juga sudah diranjang didalam kamar dan Oh Sehun yang berpakaian rapi ala kantoran "Good morning my love"

"Hhhh .. mwoya" Gumam Luhan menarik selimut menutupi wajahnya malas. Ia masih sangat mengantuk!

"Hey, Xiaolu" Sehun mengguncang pundaknya gemas dan kembali mengecup bahu dan punggungnya karena ia membelakangi lelaki itu.

"Pergilah, aku masih mengantuk" Ujarnya serak khas bangun tidur.

"Aku ingin bermanjaa~ jam 9 aku sudah harus kekantor" Ujar Sehun menghambur kepelukan Luhan yang masih tertidur "Bangun Lu"

"Emmmmm" Pemuda yang masih didalam selimut itu menggeleng dan memejamkan matanya erat.

Sehun tetap mengecupi wajah dan punggung pemuda itu dan akhirnya Luhan risih mendorong Sehun "Aku bangun! Puas!" Ia membuka selimut yang membungkus tubuh polosnya. Dan Sehun mendapatkan pemandangan gratis tubuh Luhan yang berhias kissmark.

Luhan beranjak turun dari tempat tidur dan memilih kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia juga mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek. Selesai membersihkan diri sebentar ia keluar dan melihat Sehun yang duduk di counter dapur.

"Mau kopi atau teh?"

"Kopi"

"Gula atau cream?"

"Gula, setengah sendok Lu"

"Hm" Luhan membuat kopi untuk Sehun dan segelas susu creamy untuknya, ia juga membuatkan sandwitch isi daging untuk Sehun. Sedangkan Sehun masih asik dengan tab lelaki itu. Luhan tau Sehun itu sibuk jadi ia sepertinya akan terbiasa dengan Sehun yang tidak bisa lepas dari laporan pekerjaan dalam bentuk dokumen yang diantarkan langsung oleh Seulgi atau file yang dikirim ke-ponsel atau imac lelaki itu.

Kini ia duduk berseberangan dengan Sehun yang sudah lepas dari ponselnya dan memakan Sandwitch olahannya dengan bersemangat.

"Makan pelan-pelan Hun"

"Hm, mmnaak" (Enak)

Luhan tertawa kecil dan memakan sandwitchnya perlahan.

"Luhan, bisa kau izin jam Enam sore nanti? Ayo kita kencan"

"Kencan?"

"Ya, melakukan seperti pasangan normal. Jalan-jalan di mall, shopping dan nonton film"

Luhan tertawa geli "Oke, aku akan berbicara dengan baba nanti"

Sehun tersenyum mencubit pipi Luhan gemas. Luhan menatapnya geli, tapi setelah itu ia pergi untuk membereskan ruang tengah tapi alangkah senangnya saat melihat ruang tengah mereka sudah bersih dan rapi "Apa kau yang membereskan ini?" Ujarnya penasaran. Sehun menengok kearah Luhan dan bergumam mengiyakan.

Luhan tersenyum kecil mengambil kemeja kotak-kotak merah untuk melapisi kaosnya, ia juga memakai jeans hitam ripped dan memasang sepatunya seperti biasa. Yaah ... sebenarnya tidak lagi biasa saat Sehun yang berjongkok dihadapannya dan memasangkan sepatunya. Astagaaa ...

"Aku bisa melakukannya sendiri"

"Aku ingin melakukannya untuk mu" Sehun tersenyum kecil mengecup bibirnya kilat dan Luhan memalingkan wajahnya yang merona.

Sialan Oh Sehun!

"Kau ingin ku antar?"

"Tidak, aku akan jalan kaki. Restoran ada gedung seberang" Luhan sudah berdiri mengambil memasang snapback dikepala mungilnya "Aku suka jalan kaki" Ujarnya lagi saat Sehun hanya diam.

"Hm" Balasnya masih dengan mata memuja yang tak lepas dari Luhan. pemuda yang ditatap hanya memasang wajah biasa dan acuh .. aah ... Luhan sudah terbiasa dengan gangguan-tatapan dari Oh Sehun, karena semalaman yang ia sadari Sehun terus-terusan menatapnya yah kecuali lelaki itu tidur tentunya. Luhan menatap penampilan Sehun, lelaki itu memakai setelan jas berwarna hitam dan ditambah coat cokelat, dan secara tidak sadar tangannya sudah merapikan lipatan coat Sehun yang tidak rapi.

Astagaa ... apa yang ku lakukan

"I-itu sedikit tidak rapi" Ujarnya setelah sadar dan mendapat senyuman malaikat ala Sehun dan mengecupi bibirnya.

"Hentikan" Ujar Luhan dengan lagi- aah wajahnya merah.

Sehun membuka pintu apartement, dan melihat gadis yang semalam menamparnya, gadis yang bersama Victoria-mantan tunangan Sehun- yang juga memanggil Sehun dengan sebutan 'Oppa'. Penampilan gadis itu berantakan dan Luhan yakin pakaiannya sama dengan pakaian yang dipakai gadis itu semalam 'Apa yang terjadi?'

"O-oppaa" Ujarnya menunduk takut dihadapan mereka. Luhan diam menatap Sehun bingung "Apa yang dia lakukan disini?"

Sehun hanya mengendikan bahu acuh enggan menatap gadis didepannya.

Gadis itu diam ragu, lalu menatap Luhan sendu "Sebelumnya perkenalkan aku Oh Dasom, adik Sehun Oppa" Ujarnya dengan suara serak, tangannya sibuk memilin ujung bajunya "K-ku mohon ... maafkan kelakuan kasar ku semalam" Ujarnya parau lalu terisak kecil "Maafkan aku ... aku menyesal telah kasar pada mu" Ia menatap Luhan dengan pandangan putus asa, membuat Luhan kebingunan dan kaget.

"Aku memaafkan mu, bagus kalau kau menyesal. Sudah, jangan menangis" Luhan tersenyum lembut, membuat Dasom semakin menangis, kali ini tidak lagi terisak melainkan menangis "Hiks ... aku menyesal telah kasar, terima kasih sudah memaafkan ku"

Luhan menepuk pundak Dasom prihatin, bagaimana pun Luhan tidak pernah tega kalau melihat perempuan menangis "Sudah jangan menangis, aku sudah melupakan kejadian semalam"

"Huwee" Dasom memeluk Luhan "Maafkan aku, aku janji akan selalu berbuat baik pada mu" Ujarnya menyesal dan masih terisak.

"Sehun-ah, apa yang terjadi? Kenapa dia jadi begini" Luhan menatap Sehun bingung dan yang ditatap hanya mendengus tidak suka saat Dasom memeluk Luhan.

"Apa kau mau mampir kedalam? Aku bisa membuatkan mu cokelat hangat atau makanan?"

"Uuuh, ti-tidak perlu Luhan-ah ... aku akan pulang" Dasom menghapus jejak air matanya dan berdiri dihapanan Luhan dan Sehun "Sehun Oppa, aku pulang dulu" Ujarnya memeluk Sehun singkat dan membungkuk hormat "Terimakasih sudah memaafkan ku, dan maaf sudah mengganggu pagi kalian" Ujarnya dan berlalu pergi.

Luhan diam berjalan memasuki lift mengabaikan Sehun yang mengekorinya "Luhan" Ujarnya menarik ujung jaket Luhan gemas. Gemas karena didiamkan.

"Hm"

"Katakan sesuatu" Ujarnya dan Luhan masih diam.

"Katakan apapun, jangan diam saja. Kau membuatku bingung" Sehun menatap Luhan yang sama sekali tidak menatapnya "Kenapa diam saja? seharusnya kau senang karena Dasom sudah minta maaf pada mu kan?"

Luhan mendesah kesal dan menatap Sehun tajam "Bukan kah kau yang seharusnya memberiku penjelasan? Apa yang kau lakukan pada gadis itu? semalam dia penuh percaya diri dan pagi ini ia nampak seperti telah kehilangan segalanya" Luhan mendengus kesal.

"Apa yang kau lakukan padanya?"

"Apa?" Sehun menatapnya bingung, membuat Luhan jengkel.

"Tidak mungkin gadis itu meminta maaf tiba-tiba begitu?"

"Aku hanya sedikit menyadarkannya siapa dia dan akibat apa yang ia lakukan jika telah lancang mengusik mu"

Luhan menatap Sehun tidak percaya "Tapi dia adik mu"

"Ya, tapi dia hanya adik ku"

"Aku tidak mengerti. Dia adik mu sedangkan aku hanya orang asing yang baru saja menjadi kekasih mu"

Sehun tersenyum lembut mengikuti Luhan yang berjalan didepannya setelah keluar lift lalu melewati lobby Apartement.

Luhan berbalik dengan wajah kesal yang dimata Sehun sangat menggemaskan "Aku sama sekali tidak mengerti" Ujarnya bingung, alisnya berkerut dan matanya menatap Sehun tajam.

Cantik, manis dan menggemaskan ... juga sangat tampan.

Luhan-nya.

Sehun mendekat menangkup pipi Luhan gemas dan mengecup bibirnya singkat "Kau tidak perlu mengerti, sayang" Ujarnya tersenyum kecil mengacak surai Luhan gemas.

Luhan mendorong Sehun kesal, wajahnya memerah malu saat beberapa pejalan kaki melihat mereka. Ah ... sial ... ini menyebalkan sekaligus mendebarkan, pikirnya.

"Huh, tetap tidak bisa dipahami" Gumamnya kesal memilih berjalan kaki menuju penyebrangan yang tidak jauh dari apartemen, bergabung dengan pejalan kaki lainnya.

Dan Sehun masih setia disampingnya.

"Kau hanya perlu tau kalau aku mencintai mu, jangan terlalu banyak berpikir" Bisik Sehun ditelinganya "Aah, dan berhenti memasang ekspresi menggemaskan itu karena aku benar-benar sangat ingin memangsa-mu, tau"

Aaaaah! Oh Sehuuun!

"Dasar Ahjussi mesum" Desis Luhan kesal dan berlari menghindari Oh Sehun, saat sudah lumayan jauh, ia berbalik dan menatap Sehun yang berdiri beberapa meter didepannya dan tersenyumm puas.

Sehun menatap Luhan dengan gemas. Apa boleh Sehun mengejarnya dan menerkamnya disini? Dihadapan ratusan pejalan kaki sial ini? aaah! Andai saja ia bisa menghentikan waktu ...

Luhan tertawa melihat wajah Sehun yang ia yakin tengah menyusun strategi mesumnya, dasar ... benar-benar Ahjussi mesum, pikirnya.

Ia menjulurkan lidahnya dan tertawa melihat wajah Sehun sebelum berbalik lagi dan bergabung dengan para pejalan kaki untuk menyeberang.

Sehun masih diam dan mengamati dengan seksama

Daun kecoklatan yang berjatuhan ...

Angin musim gugur yang begitu sejuk ...

Dan Luhan-nya yang tersenyum menggemaskan menggodanya.

Sehun akan menyimpan kenangan ini baik-baik dalam ingatannya, ia akan mengingat kejadian yang ditangkap oleh inderanya dan akan terus mengingatnya.

Luhan gemas saat Sehun masih diam, ia berlari kecil menghampiri Sehun dan menggandeng lelaki itu menuju penyebrangan "Persis seperti Ahjussi yang kebanyakan pikiran" Luhan terkekeh menatap wajah Sehun "Hahaha" Tawanya lepas dan mengelus rahang Sehun gemas "Tersenyum pun wajahmu terlihat kaku" tambah Luhan tersenyum miring lalu kembali berjalan sampai keseberang.

Sehun tidak pernah menyadari kalau jalanan Seoul dipagi hari yang ramai ini sangat indah, pepohonan dipinggir jalan pun tampak sangat cantik, suara percakapan orang-orang disekitarnya yang ramai pun bagaikan alunan musik indah ...

Dan punggung mungil didepannya ini ... tangan mungil yang menggandengnya saat ini ...

Pemuda itu ... Luhan ...

"Seperti bidadari" Gumamnya tidak sadar.

Luhan berbalik menatapnya bingung "Kau berbicara apa?"

"Tidak, kau sangat tampan" Sehun mengedipkan matanya menggoda.

"Cih, kalau itu aku juga sudah tau"

"Dan cantik juga"

"Aku tidak cantik" Luhan merengut kesal melepaskan tangan Sehun, dan Sehun berjalan disampingnya "Kau tampan dan cantik, Lu"

"Aku tampan. Tidak cantik"

"Cantik"

"Tidak, ah! Ini menyebalkan, aku tidak cantik. Deskripsi cantik itu sama sekali tidak manly!"

"Ppfff! Semua orang didunia ini pun akan mengganggap kau lebih cantik ketimbang manly"

"What! Oh-oh! Kau mulai menyebalkan. Aku harus memikirkan sekali lagi kencan kita sore ini"

"Kau akan menyesal kalau tidak mau"

"Pria sejati tidak akan menyesali keputusannya" Luhan menyeringai bangga.

Sehun bertahan dengan wajah tenangnya yang sangat ajaib ditengah rasa gelinya "Pria sejati tidak boleh menarik kata-katanya, kau sudah janji akan kencan sore ini"

"Oho! Aku tidak bilang janji"

"Aku anggap iya-mu tadi adalah janji"

"Uuuuuh! Kau benar-benar musang licik"

Sehun tertawa merangkul pundak Luhan dan menghirup aroma rambut pemuda itu gemas "Aku anggap itu pujian"

"Itu bukan pujian"

Sehun tertawa, mereka sudah berjalan kearah restoran mewah itali tempat Luhan bekerja dan didepannya sudah ada mobil jemputannya.

Sehun masih ingin berada disamping Luhan.

Berada disisi pemuda itu dan tetap merasakan Luhan dari segala indra di-tubuhnya.

Sehun ingin menyentuh kulitnya, menghirup aromanya, menyesap rasanya ...

"Jangan menatapku seakan kita akan berpisah selamanya"

Sehun tertawa kecil saat Luhan dengan mudah membaca pikirannya, ia mendengus merasa panas diwajahnya. Apa seorang Oh Sehun sedang merona?

Cup

Luhan mengecup pipinya "Aku masuk dulu, sampai jumpa" Ujarnya santai.

Dan Sehun yakin satu kecupan kecil itu berhasil membuat wajahnya panas.

Ia tidak merona kan? Dia Oh Sehun kalau kalian lupa.

"Ehm, permisi Bos. Rapat akan diadakan satu jam lagi dan materinya sudah saya siapkan"

Fuck!

Sehun menatap Seulgi datar.

"Hm" Gumamnya malas memasuki mobil diiringi asisten setianya-yang menyebalkan- itu.

Sehun menyenderkan tubuhnya santai, ia tidak menyentuh sama sekali dokumen disebelahnya karena ia memang sudah membacanya tadi pagi dan sudah paham dengan jelas.

Pikirannya masih melayang disaat ia masih bersama Luhan.

Astaga ... Sehun merindukannya.

"Ah! Benar!" Sehun duduk tegap dan menatap Seulgi semangat-lapar atau entah apa yang membuat Seulgi menjengit kaget disebelahnya.

"Kau sudah mengambilnya kan?"

Seulgi merona "Su-sudah bos. Sudah saya kirimkan ke-email anda"

Sehun menyeringai senang dan membuka tab-nya dan melihat potret dirinya dan Luhan sepanjang jalanan tadi. Ia memerah saat melihat potret punggungnya yang didepannya Luhan tengah tersenyum lebar, Luhan mengejeknya, ia tengah merangkul Luhan dan ...

Sehun merona

Melihat potret Luhan mengecup pipinya.

Dan Seulgi hanya mampu ikut bahagia atas kebahagian bosnya tercinta yang tengah kasmaran.

.

.

.

Luhan merasa hari ini bagaikan mimpi disiang bolong.

Oh Sehun ... tidak diragukan lagi ... lelaki itu jelmaan dewa ... yaah Sehun adalah jelmaan Dewa Ares!

Bagaimana tidak?

Dimulai dari lelaki itu menjemput Luhan dengan mobil mewahnya, kali ini Sehun sendirilah yang menyetir.

Lelaki itu memakai celana formal dan kemeja dengan dua kancing terbuka diatasnya.

Eh ... tiga?

Yap, tiga. Karena disepanjang jalan Luhan dibuat tidak fokus pada dada bidang Sehun yang seolah memangginya terus-menerus untuk diraba.

Tapi Luhan tidak meraba dada lelaki itu dimobil. Oke.

Lalu mereka berjalan beriringan memasuki Mall terbesar di-Seoul saat itu dan Sehun membayar semua belanjaan Luhan.

Semuanya ...

Sehun benar-benar raja midas!

"Ini bagus Lu, bagaimana?" Sehun mengangkat kemeja putih dengan garis horizontal dibagian dadanya "Kau suka?"

"Hmm, aku sudah punya yang seperti itu dirumah"

"Oh, benarkah? Kalau yang ini?" Sehun mengangkat kaos hitam dengan ripped kecil.

"Eum, suka Sehun-ah"

Sehun tersenyum saat Luhan tersenyum, ia menyerahkan kaos itu kepada spg dan mengikuti Luhan yang menarik tangannya.

"Bagaimana dengan ini? aku suka kau memakai kaos seperti ini"

Sehun mengangguk mengiyakan.

Dan mereka berakhir berciuman panas dikamar pas.

Keluar dengan bibir bengkak dan wajah merona.

Tidak berakhir disitu, Sehun juga membelikan Luhan boneka Fred The Red, sosok setan lucu berwarna merah maskot kebanggaan Manchester United yang harga tidak main-main.

Luhan tersenyum lebar memeluk boneka yang ukurannya lebih besar dan lebih tinggi dibanding dirinya maupun Sehun "Whoaaah! Daebak! Sampai aku menangis seharian pun Jongin atau Baba tidak ada yang mau membelikan ku boneka ini" Curhat Luhan masih memeluk gemas bonekanya di dalam toko.

Dan lagi-lagi Sehun tidak bisa menyembunyikan senyumannya.

"Awalnya ku kira benda ini adalah badut untuk menarik perhatian pengunjung toko, Jongin, Xiumin dan Baba bersikeras meyakinkan ku kalau ini hanya badut" Luhan merengut kesal "Pantas saja mereka selalu melarangku memeluknya"

Sumpah, saat ini Luhan sangat menggemaskan.

"Gomawo, Sehunaaaa"

"Hm, aku senang kalau kau juga senang" Ujar Sehun mengecup kening Luhan kilat.

Setelah puas berbelanja yang diakhiri dengan membeli boneka Fred si setan merah, mereka nonton film bersama.

Luhan memeluk kardus popcorn jumbonya dan Sehun memegang minuman mereka, kali ini mereka nonton 'Kungfu Yoga' dan Luhan berceloteh ria kalau dia sangat mengagumi Jackie Chan.

Baru kali ini Sehun sesenang ini saat ia nonton dibioskop mall bersama Luhan dengan penonton lainnya di kiri kanan mereka. Sehun bersyukur kalau mereka mengambil bangku couple.

Ditengah Film mereka berciuman panas dan Luhan menumpahkan popcorn mereka.

Sehun tidak tahan untuk tidak tertawa saat Luhan merajuk usai menonton "Aku bersumpah akan menontonnya lagi dirumah" Ujarnya kesal.

Luhan berjalan didepan Sehun sambil bercermin diponselnya kesal "Kau boleh saja mencium ku, tapi jangan gigit bibir ku Sehun. Paling tidak saat kita ada diluar" Ujarnya datar.

Dan Seulgi harus menahan tawa saat dua pria didepannya muncul dengan keadaan bibir bengkak dan terkoyak sedikit.

Astaga ...

Malam ini tidak berakhir sampai bibir terkoyak.

Sehun membawanya ke namsan tower dan makan malam- ralat, mereka makan tengah malam puncak menara namsan dan minum wine mahal.

Tapi tidak berakhir baik sampai akhirnya Luhan pingsan karena phobia pada ketinggian.

Oh Luhaan ...

Sehun seharusnya tidak membawanya keluar, tidak ada hal romantis melihat pemandangan kota Seoul di menara Namsan jika harus berpegangan dipembatas balkon.

Luhan mungkin bisa bertahan dikaca tapi tidak dengan balkon, apalagi dengan ketinggian ribuan meter itu.

"Aku kira dia hanya phobia ketinggian saat naik pesawat" Ujar Sehun saat Seulgi yang memang menunggu diluar menatapnya tajam.

"Setidaknya dia tidak pingsan karena kau perkosa disini"

"Hey, aku tidak seliar itu" Sehun mendengus "Setidaknya aku akan melakukannya didalam ruangan" Tambahnya. Dan Seulgi tidak lagi berkomentar dan menemani Bosnya itu kemobil.

Oh, jangan lupakan Jason –anak buah setia Sehun selain Seulgi- yang juga seharian mengikuti Sehun-Luhan bersama Seulgi.

Kini, pemuda berwajah kebaratan itu tidak lagi menganggap Seulgi melebih—lebihkan kisah karena ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa gilanya Bos mereka pada pemuda mungil misterius yang tengah tertidur dipangkuan sang Bos dimobil.

"Kita akan kemana Bos?" Tanya Jason yang menyupir.

"Mansion, rumah-ku jarak terdekat dari sini" Ujar Sehun.

"Siap Bos, kita akan menuju ke-mansion keluarga Oh"

...

Luhan mengerjapkan matanya pelan, ia mengantuk dan pusing. Tapi ia merasa kalau kini ia berada dipangkuan Sehun di mobil.

Ia terlalu lelah dan mengantuk memilih mengabaikan pikirannya dan melanjutkan tidurnya dan dirinya benar-benar terlelap.

Sampai ia kembali terbangun saat merasakan seseorang melepas sepatunya dan ternyata Oh Sehun.

"Sehun?" Ujarnya serak.

"Maaf, kau jadi terbangun"

"Tidak, eunggh ... maaf aku tadi merepotkan mu" Luhan menyesal mengingat dirinya yang pingsan saat angin malam menyapu tubuhnya dari balkon namsan tower.

Yah, tapi ia bersyukur dirinya pingsan daripada berteriak histeris ketakutan.

Luhan menatap sekeliling, kamar yang sangat luas dengan desain ala inggris bertema baroque dibagian-bagian pintu, jendela dan dinding-dindingnya. Tidak terlalu jelas karena cahaya begitu temaram. Namun mampu membuat Luhan kehilangan kata-kata, ia hanya terdiam sejenak mengagumi ruangan ini.

"Ini dimana?"

"Kamar ku Lu, dan soal tadi, kau sama sekali tidak merepotkan sayang" Sehun mengecup kening Luhan lembut "Hari ini aku sangat bahagia, dan kebahagian ku tidak lain karena kehadiran mu" Ujarnya mengecup bibir Luhan dengan penuh kehangatan lalu memeluk tubuh mungil kekasihnya itu.

"Terimakasih"

Luhan tertawa kecil mengelus punggung Sehun, lalu berbisik ditelinga lelaki itu "My Santa" Ujarnya dan mengecup pipi Sehun.

Dan Sehun tau, tidak ada hal yang perlu disesalkan hari ini karena hari ini sepenuhnya sempurna.

"HoHoHo, My Deer"

Luhan tertawa, menggelengkan kepalanya gemas.

Mereka saling menatap dan menikmat keindahan satu sama lain.

"My Sehun" Luhan mengecup kening lelaki itu pelan dan meresapi perasaan cinta yang kini meledak didalam jiwanya.

"Mine" Sehun mengecup bibir Luhan sayang, tidak ada nafsu ... hanya cinta yang bergetar hebat didalam dadanya.

Sehun yang duduk dikarpet dan Luhan duduk diujung tempat tidur memudahkan Sehun untuk memeluk perut pemuda itu "Kau mau langsung tidur, atau mau ganti baju dan membersihkan diri dulu?"

Luhan mendesah menatap penampilannya "Gendong aku aku kekamar mandi" Ujarnya manja dan dengan senang hati Sehun memanjakannya.

Luhan sudah memakai piyama biru Sehun yang kebesaran dan selesai membersihkan dirinya, ia hanya cuci muka, gosok gigi dan mencuci tangan-kaki karena terlalu mengantuk untuk mandi. Lagi pula tubuhnya masih harum dan tidak kotor.

Sehun memeluk tubuhnya dari belakang dan membantunya membersihkan muka dengan pembersih otomatis milik Sehun.

Busa menggumpal disekitar pipi-dagu-keningnya dan Sehun terlalu tergoda untuk mencium pipinya.

Luhan tertawa kecil meliat bibir Sehun yang penuh busa, kini setelah ia selesai membilas wajahnya dan Sehun yang juga selesai membilas bibirny. Well, Lelaki yang lebih tua itu menggendong Luhan ala pengantin ketempat tidur king size miliknya.

Luhan tidak tahan untuk mendesah saat kasur milik Sehun jauh lebih empuk-lembut-besar dibanding kasurnya, apalagi dilengkapi tirai maroon yang senada dengan spreinya, membuat Luhan merasa tidur didalam kelopak bunga.

"Sungguh indah" Komentar Luhan saat Sehun baru saja bergabung masuk.

Lelaki itu menatap Luhan yang memandangi atap kelambu yang ditengahnya terdapat lampu tidur yang cahayanya bisa diatur.

Sehun mematikan lampu yang ada didalam kelambu, membuat suasana semakin gelap namun masih ada cahaya lampu tidur diluar yang membuat keadaan didalam kelambu tidak gelap gulita.

"Malam ini, aku hanya ingin memeluk mu dan menyayangi mu" Bisik Sehun menarik Luhan kedalam pelukannya.

"Menyayangi dan mencintai mu dalam tidurku" Ujar lelaki itu mengecup puncuk kepala Luhan.

"Dan aku akan tertidur didalam pelukan mu ... tertidur lelap dengan dicintai dan disayangi oleh mu" Bisik Luhan pelan dengan mata sayu.

"Yah, walaupun aku ingin bercinta bersetubuh dengan mu, tapi kau lelah"

"Cih! Cerita ini tidak akan berakhir kalau kau tidak mesum" Gerutu Luhan kesal.

Sehun terkekeh "Tapi khusus malam yang membahagiakan ini dan dirimu yang lelah ... aku hanya akan memeluk dengan cinta dan kasih sayang. Ya ... tanpa bersetubuh Lu"

"Baguslah, karena saat ini aku juga ingin berada dalam pelukan mu, dicintai dan disayang oleh mu. Dan tentunya tanpa bersetubuh"

"Hm, kita akan tertidur dengan penuh cinta dan kasih sayang" Sehun mengelus surai Luhan sayang.

Luhan mendongak dan mengecup pipi Sehun singkat "Ciuman cinta dan kasih sayang dari ku"

"Oh tuhan, aku akan puas untuk hari ini karena dengan cinta yang kau berikan sedikit lagi aku mungkin akan gila"

"Tidurlah Ahjussi"

"Hmm ... " Sehun menyecupi kening Luhan dan mereka tertidur ...

Tertidur dengan cinta dan penuh kasih sayang ...

Dan tanpa bersetubuh tentunya.

...

Rasanya sangat tenang

Ketenangan ini ... seperti ... tenang sebelum badai besar mengguncang?

.

.

.

TBC

Maaf there's so maaany typo di chapter ini T-T karena gasempat ngedit ...

See u next chapter my reader-nim :* XOXO

DONT FORGET TO SUPPORT (Klik follow and favorite ... )

I'll be happy for ur review ^-^