Angelus Ruinosus
•
by willis.8894
•
•
•
Casts: Oh Sehun, Kim Jongin/Kai, Oh Shixun
Addictional Casts: Jung Krystal, EXO, Lee Taemin, Victoria Wu.
•
•
•
Pairing: KaiHun vs XunHun. TaeStal. SeStal!Friendship. SuDo.
•
•
•
Trigger Warning: Rape, Non-con, Drunk Dry-humping, Slight!Threesome, Bondage, Asshole Kai.
Dimohon yang sensitif dengan topik diatas lewati bagian flashback diakhir.
•••
CHAPTER TWELVE: SOMETHING UNSPOKEN
Shixun tahu ada sesuatu yang telah berubah diantara Hyungnya dan Kai. Mungkin tak banyak yang menyadari itu atau jika sekalipun ada yang menyadari, mereka tak bicara terang-terangan.
Sehun adalah tipe yang tertutup dalam masalah pribadinya, ia hanya bicara sepenuhnya pada orang yang sangat ia percayai. Krystal contohnya. Tapi Shixun sebagai adik kembar Sehun bisa membaca gerak-gerik kakaknya itu dengan baik.
Seharusnya Shixun tak tidur cepat kemarin malam, seharusnya ia tak membiarkan Sehun lepas dari pandangannya dan hanya berdua dengan Kai.
Shixun jelas menyadari perubahan keduanya. Bagaimana Kai tampak banyak melamun tapi matanya tertuju pada Sehun, bagaimana Sehun mencuri-curi pandangan pada Kai dan ada kecemasan di mata cantik Hyungnya itu, dan bagaimana Sehun tak lagi menatap ke arahnya karena sibuk menatap ke arah Kai. Shixun menyadari itu semua.
Mata Shixun teralih pada Sehun yang baru kembali dari balkon. Wajah putih cantiknya dihiasi warna rona merah dan Hyungnya itu tampak menggigit bibir bawahnya. Ada apa dengan Hyungnya? Shixun hendak menghampiri Sehun namun mengurungkan niatnya begitu melihat Kai masuk dari pintu balkon. Matanya menatap Sehun menggoda dan Sehun semakin merona malu namun tak menyingkir ketika Kai berdiri di sampingnya.
"Semua sudah siap? Tak ada yang ketinggalan?" tanya Taemin pada rombongannya yang akan berangkat itu.
Mereka menggeleng, memastikan koper-koper mereka sudah diantar dalam mobil-mobil yang mereka gunakan. Kyungsoo dan Seulgi memimpin yang lain untuk keluar hotel menuju mobil mereka, tapi Krystal malah menghampiri Sehun tampak cemas.
"Kau yakin baik-baik saja? Tak ada aku dan Taemin yang menjagamu, Hun-ah," kata Krystal cemas.
"Banyak yang menjagaiku disini," kata Sehun tersenyum manis memeluk Krystal tampak hati-hati dengan perut buncit Krystal dan mengecup pelipisnya. Sehun berlutut dan memeluk perut Krystal, mengecupinya dengan penuh sayang. "Kau jangan nakal disana, Aegi-yah. Biarkan mamamu jalan-jalan," kata Sehun penuh sayang membuat Krystal dan Taemin tertawa sambil mengacak-acak surai cokelat gelap Sehun itu.
Taemin membantu Sehun bangkit berdiri dan memeluknya erat. "Kau yakin?" tanya Taemin sekali lagi, melepaskan pelukannya dan menatap Sehun tepat dimatanya. "Aku bisa tinggal disini bersamamu—"
"Tidak, Hyung," protes Sehun mengerutkan kening tak setuju. "Aku baik-baik saja, aku janji."
"Yah, kalian seperti ingin meninggalkan anak kalian saja. Tenang saja, kami akan menjaga baby Hunnie dengan baik," kata Baekhyun menyela momen ketiganya itu.
Sehun langsung memukulinya dengan bantal dan Krystal menggeleng-geleng. "Jika kau mencoba tidur sekamar dengan Sehun, aku akan memotong jari-jarimu!" kata Krystal mengancam, tapi jelas hanya bercanda.
"Aku akan tidur dengan Shixun, kok," kata Sehun dengan polosnya pada Krystal dan Taemin.
Mendengar itu jelas cukup mengejutkan yang lain terlebih Krystal dan Taemin sendiri. Shixun bisa melihat pandangan kecewa dari Kai mendengar itu, tsk, memang apa yang ia harapkan? Sehun tidur dengannya? Sampai detik terakhir Sehun meninggalkan Rusia ini, takkan Shixun biarkan keduanya tidur bersama. Tak akan.
Tapi disamping semua itu, Shixun merasakan kebanggan dan kehangatan begitu mendengar Sehun mengatakan itu tanpa malu-malunya. Seakan sangat ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Hal itu sangat menyentuh Shixun, karena dari dulu maupun sekarang Sehun tak pernah malu dengan keberadaan Shixun. Ia selalu menghargai Shixun sebagaimana Ibu dan Nenek mereka.
"Kemarilah, aku ingin bicara sebentar," kata Taemin yang entah sejak kapan mendekati Shixun dan menunjuk balkon dengan dagunya.
Shixun melirik Sehun dan Krystal masih sibuk melawan Baekhyun, menjadi tontonan menarik bagi yang lainnya. Ia tak membuang waktu dan segera mengikuti Taemin.
"Kudengar Sehun tak takut dengan sentuhanmu," kata Taemin langsung pada intinya begitu mereka di balkon.
"Ya, Hyung bilang begitu," jawab Shixun santai.
Taemin bergumam mengerti, menatap ke arah kota Moskow yang terpampang di depan mereka. "Kau tahu Sehun memiliki trauma? Hal itu tak terlihat saat ia sadar, tapi akan terlihat efeknya dengan alam bawah sadarnya," kata Taemin lagi.
"Mimpi buruk dan refleksnya ketika orang hendak menyentuhnya," kata Shixun mengangguk mengerti. Ia ingat Krystal pernah mengatakan itu padanya.
Taemin mengangguk sebelum menatap Shixun. "Aku tak ingin bereksperimen dengan Sehun, tapi ini patut dicoba jika memang ini peluangnya untuk bisa sembuh. Dan kau satu-satunya yang bisa membantu."
Shixun meneguk ludahnya kasar, jelas cukup panik mengetahui beban tanggungan ini. "Apa?"
"Mimpi buruk itu datang sejak Sehun tiba di Rusia. Malam-malam sebelumnya, kami mengontrolnya dengan obat tidur sehingga Sehun bisa tidur tenang dalam tidurnya. Nanti malam ketika Sehun tidur, jangan ingatkan untuk meminum obatnya. Jika ia bermimpi buruk, coba peluk dia. Apakah ia bisa tenang atau tidak," kata Taemin.
"Dan jika Sehun tidak tenang juga?" tanya Shixun.
"Panggil Baekhyun. Ia bisa pikirkan jalan keluarnya."
Shixun menatap Taemin, ia tahu Taemin tak mengatakan semua yang ingin ia katakan. "Ada sesuatu yang belum kau katakan. Kenapa?"
Taemin menatap mata Shixun, seakan mencari sesuatu entah apa. Sebelum ia menghela nafas dan kembali menatap kota. "Aku heran kenapa Sehun begitu mempercayaimu. Dari dulu maupun sekarang. Aku lebih heran lagi kenapa kau begitu bodoh dan tak menyadarinya."
"Huh?" tanya Shixun bingung, apa yang orang ini bicarakan?
"Menurutmu siapa yang paling Sehun percayai di dunia ini?"
"Krystal?" tanya Shixun. Bukankah itu sudah jelas? Kenapa Taemin menanyakan hal itu lagi?
Taemin menggeleng-geleng. "Kau benar-benar bodoh. Sehun mempercayai Krystal karena Krystal yang ada disampingnya ketika ia tak memiliki siapa-siapa, termasuk dirimu. Tapi Sehun selalu mempercayaimu, dulu hingga sekarang. Lebih dari Krystal sekalipun."
Shixun tak percaya itu, tapi ia jelas bisa merasakan kebahagiaan yang timbul mendengar itu. Sebuah kehangatan yang nyaman, kelegaan yang menyenangkan. "Kau melebih-lebihkan," kata Shixun tak setuju, masih sulit mempercayai omongan Taemin.
Taemin mendengus. "Kau pikir Sehun akan memberitahumu tentang kondisi mentalnya jika ia tak mempercayaimu? Ini baru berapa hari, tapi ia memberitahumu masalah terbesarnya, penyakitnya. Bahkan Baekhyun tak tahu soal ini, Baekhyun tak tahu bahwa alasan Sehun tak bisa berekspressi adalah karena mentalnya sakit. Kyungsoo-pun tak tahu. Jadi coba pikirkan itu baik-baik, Shixun. Jika Sehun tak mempercayaimu, apakah ia akan mengatakannya padamu? Kau yang telah menghilang 7 tahun terakhir dari hidupnya dibandingkan Baekhyun dan Kyungsoo yang 12 tahun lamanya selalu bersama Sehun?" kata Taemin menggeleng sambil beranjak pergi, namun ia menghentikan langkahnya dan menatap Shixun. "Satu hal lagi, Sehun tak pernah menceritakan soal mimpi buruknya. Tidak pada Krystal, psikolognya, aku, ataupun Lay yang juga memantau kesehatan mentalnya. Tidak pada siapa-siapa. Kuharap ia bisa menceritakannya padamu dan kita bisa sama-sama mencari jalan untuk terapinya."
Shixun menatap Taemin yang kini bicara dengan Sehun dan Krystal, sepertinya mengajak Krystal pergi. Sehun kembali mengucapkan perpisahan pada bayi mereka dan memeluk keduanya baru mengantar mereka hingga keluar Suite mereka.
Masih sulit bagi Shixun untuk bisa mempercayai bahwa Sehun mempercayainya sepenuhnya dari dulu dan bahkan hingga sekarang, setelah Shixun meninggalkannya selama 7 tahun. Sehun mengakui semuanya tentang kondisi mentalnya pada Shixun, orang yang meninggalkannya, Sehun takkan melakukan itu jika memang ia tak mempercayai Shixun sepenuhnya.
Oh Shixun, kau begitu bodoh hingga tak pernah menyadari itu. 25 tahun menjadi kembaran Sehun dan kau baru menyadarinya sekarang?
Shixun menghela nafas lelah. Ia bersumpah, ia akan membuat Sehun memberitahu tentang mimpi buruk itu. Ia harus mengetahuinya dan mencari jalan untuk membebaskan Sehun dari mimpi buruk itu. Ia akan mendampingi Sehun dalam setiap terapinya hingga Sehun kembali kepada Sehun yang dulu. Mungkin bukan sekarang, tapi setelah misi di Rusia selesai, ia akan kembali ke Korea untuk mendampingi hidup Hyungnya itu.
Ya, Oh Shixun takkan ragu membuang hidup impiannya jika memang demi kehidupan Sehun yang lebih baik.
e)(o
Kai duduk menonton TV di ruang suite mereka. Mereka semua baru saja selesai makan malam bersama dan membagi ulang kamar. Sehun tidur dengan Shixun –Kai berusaha tak memperlihatkan betapa ia tak terima keputusan ini–, Baekhyun tidur di kamar samping yang tadinya adalah kamar Seulgi dan Irene –ia memaksa ia hanya tidur sendirian seperti sebelumnya di Suite sebelah, membuat Kai mendengus–, Kai memutuskan bahwa ia tak masalah tidur di sofa ruang tamu seperti biasanya. Kris sekamar dengan Chanyeol di Suite sebelah dan Suho sendirian dikamarnya yang lama.
Saat ini Sehun sedang mandi, tapi sedikit keributan di dapur mengalihkan perhatian Kai.
"Kenapa kau menyembunyikan obat Sehun? Ia harus memakan obatnya sebelum tidur!" kata Baekhyun tampak marah pada Shixun.
"Aku ingin mencoba sesuatu. Aku ingin mencoba menenangkan Sehun ketika ia bermimpi buruk," kata Shixun mengambil tempat obat Sehun dan menyimpannya di salah satu lemari dapur itu.
"Kau pikir Sehun itu bahan eksperimen? Ini bukan sesuatu yang pantas dicoba-coba!"
"Ini saran Taemin-hyung," potong Shixun mulai habis sabar.
"Ada apa?" tanya Kai heran menghampiri keduanya.
"Bukan urusanmu," balas Baekhyun singkat sebelum kembali menatap Shixun. "Jika kau gagal menenangkannya?" tanya Baekhyun menantang.
Shixun mengangkat bahu. "Biasanya aku tak pernah gagal jika menyangkut Hyungku, tapi Taemin-hyung bilang kau tahu apa yang harus kita lakukan jika aku gagal menenangkan Sehun."
"Menenangkan Sehun? Ada apa sebenarnya?" tanya Kai mulai kesal karena ia tak tahu apa-apa, terlebih ini menyangkut Sehun. Sehunnya.
"Sudah kubilang ini bukan urusanmu," balas Baekhyun tajam. Ia kembali menatap Shixun untuk sejenak. "Baiklah, aku akan berjaga-jaga di kamarku. Tapi jika caraku tak berhasil juga, kau yang akan menyesal," kata Baekhyun memperingati sebelum pergi masuk ke kamarnya.
Kai menatap Shixun, berharap mendapatkan penjelasannya. "Ada apa dengan Sehun?" tanyanya langsung.
Shixun menghela nafas. "Hyung kembali bermimpi buruk sejak tiba di Rusia. Ia selalu minum obat tidur untuk menghambat mimpi buruk itu, tapi kali ini aku akan menenangkannya," kata Shixun seakan bersumpah pada dirinya sendiri.
"Seburuk itu?" tanya Kai, cemas dengan keadaaan Sehun.
"Aku tak tahu, aku tak pernah melihatnya bermimpi buruk. Yang kudengar dari Baekhyun dan Krystal reaksi Sehun cukup buruk," jawab Shixun.
Kai bergumam mengerti. Dibelakang kepalanya ada alarm yang mengusiknya, mempertanyakan apakah mimpi buruk Sehun disebabkan olehnya. Kai jelas sadar ia telah memperlakukan Sehun dengan sangat buruk dulu, terlalu banyak perlakuan buruk yang ia berikan pada Sehun hingga ia tak bisa mengingat semuanya.
"Kau sudah tahu, kan? Tentang kondisi Sehun," tanya Shixun bersandar pada konter dapur Suite mereka itu.
"Kondisi bahwa ia tak bisa berekspressi dan sulit merasakan emosi terhadap orang asing? Ya, Sehun memberitahuku sedikit tentang itu," jawab Kai.
"Apa pendapatmu tentang itu?"
Kai mengangkat satu alisnya. "Apa maksudmu? Sehun tetap Sehun, yang berubah hanya ia minim ekspressi. Ia masih tetap Sehun yang peduli pada kita," jawab Kai heran dengan pertanyaan Shixun itu.
Shixun menghela nafas lega mendengar itu. "Apa kau tahu siapa lagi yang tahu tentang kondisi Sehun?" tanya Shixun penasaran.
"Kris. Krystal yang memberitahunya. Aku tak tahu soal yang lain, mungkin Luhan dan Tao tahu karena mereka yang selalu bersama Kris mengawal Krystal beberapa hari ini."
Shixun mengangguk-angguk mengerti. "Jangan beritahu siapa-siapa soal ini. Jika mereka tak tahu dan Chanyeol juga tak tahu, maka jangan katakan apapun. Kau mengerti?"
Kai mendengus mendengar itu. "Kau pikir aku tak bisa menjaga rahasia," gumamnya kesal sambil beranjak pergi dari dapur.
A•R
Malam itu Kai terbangun karena suara berisik. Ia mendengar jeritan. Jeritan dan tangis yang begitu keras. Jeritan dan tangisan Oh Sehun. Kai langsung bangkit berdiri dan melihat kamar Sehun dan Shixun terbuka lebar.
"Ada apa ini?" tanya Kai terkejut dan marah.
Sehun terbaring disana, menjerit dan menangis namun masih menutup matanya. Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan begitu brutalnya. Shixun masih berusaha memeluknya dan Baekhyun muncul dari kamar mandi dengan baskom berisi air, tampak panik dan horor.
Kai baru mengerti situasi yang terjadi. Sehun sedang bermimpi buruk.
"Panggilkan dokter! Cepat! Dan bawa suntikan obat penenang, kalau bisa suruh datang dengan beberapa suster. Harus suster wanita kau dengar itu?!" suruh Baekhyun nada panik tak tertutupi darinya.
Kai hanya mengangguk dan segera mengambil ponselnya, menghubungi rumah sakit terdekat. Ia bahkan tak bisa tenang sama sekali. Bayangan Sehun yang meronta brutal, menjerit, menangis, dan tampak tersiksa itu masih terekam jelas dalam benaknya. Sulit baginya untuk fokus. Untungnya pihak rumah sakit bisa mengerti dan mengirimkan dokter mereka dalam 10 menit. Sayang dokter itu datang sendirian tanpa suster.
"Shixun pegang tangan kiri Sehun, tempat dokter akan menyuntiknya. Kai kau pegang kedua kaki Sehun jangan sampai lepas!" suruh Baekhyun memegangi tangan kanan Sehun dan menekan bahu kanannya agar sulit bergerak.
Shixun tampak terlalu panik dengan situasi itu namun mengangguk dan melakukan hal yang sama dengan Baekhyun sementara Kai menahan kedua kaki Sehun, mendudukinya dengan pelan.
Kai berusaha menahan rasa cemburunya melihat Shixun membisikan sesuatu, tampak berharap Sehun tenang sambil menciumi sisi wajah Sehun hingga rambutnya. Tampak begitu penuh cinta yang tak normal. Kai berharap ialah yang melakukan itu, ia yang menenangkan Sehun dan menciumi wajah cantiknya, bukan Shixun. Kai menggeleng kuat, ini bukan saatnya berpikir begitu, yang paling penting adalah Sehun kembali tenang.
Setelah dokter menyuntikkan obat penenang, Sehun masih meronta untuk sebentar sebelum kembali tenang. Tertidur dengan nafas yang terengah-engah sebelum benar-benar sepenuhnya tenang. Kai tak bisa mengalihkan pandangannya dari Sehunnya, ia bahkan tak memperdulikan apa yang Baekhyun katakan pada dokter sementara Shixun yang menerjemahkan dalam bahasa Rusia.
Begitu dokter pergi, Shixun memeluk Sehun erat, berbaring di ranjang mereka. Kai dan Baekhyun duduk di kursi di samping tempat duduk, hanya menatap Sehun.
"Sejak kapan ia seperti ini?" tanya Kai, suaranya kasar dan serak, memecah keheningan diantara mereka.
"Sejak kalian pergi," jawab Baekhyun menatap Sehun yang tertidur pulas. "Sudah lama ia tak seperti ini, terakhir yang kutahu 4 tahun lalu."
"Ia seperti ini sejak di Rusia," gumam Shixun menatap langit-langit kamar itu dan tangannya memainkan rambut Sehun yang dalam rangkulannya.
Kai cemburu. Ia benar-benar cemburu pada Shixun. Ia berharap ia yang berbaring disana, merangkul tubuh kurus Sehun, memainkan rambutnya, menciumi wajah pria cantik itu, dan hanya menghirup wangi tubuh Sehun hingga kantuk kembali menjemputnya.
"Sejak bertemu kalian," koreksi Baekhyun tajam sebelum menatap Shixun dan melirik Kai. "Apa kalian tahu apa yang menyebabkan Sehun seperti ini?" tanyanya menuduh.
Shixun mendengus. "Jika aku tahu, aku sudah membunuh siapapun yang menyebabkannya seperti ini," jawab Shixun sarkastis, namun penuh janji yang pasti.
Baekhyun dan Shixun kini menatap ke arah Kai, tampak menuduh membuat pria tan itu memutar bola matanya. "Jika aku tahu, aku takkan bertanya."
"Lebih baik kalian segera tidur, kurasa Sehun sudah tertidur pulas," kata Shixun melirik Hyungnya itu. "Sehun mungkin takkan mengikuti pertemuan besok, apa tak masalah?" tanya Shixun pada Baekhyun.
"Sepertinya kelompok dari Asia Selatan yang akan maju presentasi besok. Sehun tak terlalu tertarik dengan mereka, jadi kurasa lebih baik kita semua meliburkan diri. Aku akan tanyakan pada Suho-hyung terlebih dahulu besok pagi," kata Baekhyun merenggangkan badannya.
Shixun mengangguk-angguk mengerti, tapi Kai hanya mengamati. Ia masih tak ingin meninggalkan Sehun saat ini.
"Aku kembali ke kamarku sekarang," kata Baekhyun menguap dan meninggalkan kamar itu.
"Kau tak tidur?" tanya Shixun menaikan satu alisnya menatap Kai yang masih tak beranjak dari tempat duduknya.
"Aku tak mengantuk, aku akan menjaga Sehun."
"Kau tak perlu menjaganya, sudah ada aku," jawab Shixun tajam, tampak begitu posesif pada Hyungnya sendiri. "Dan jika kau tak mau tidur, keluar saja. Ini kamarku dan Sehun."
Kai mengepalkan tangannya kuat, sangat ingin sekali memukul Shixun. Tapi ia tahu itu takkan berakhir baik apalagi jika nanti Sehun terbangun. Sehun pasti akan membenci Kai karena memukul Shixun, karena Sehun selalu mengutamakan Shixun dibanding apapun. Shixun selalu menjadi prioritas Sehun dibanding Kai.
Pria tan itu melangkah keluar kamar dan menutup pintunya. Ia sangat ingin membanting pintu kamar itu, tapi ia tak ingin membangunkan Sehunnya. Kekesalan menumpuk dalam dirinya bercampur dengan rasa cemburu. Ia benar-benar butuh pelepasan emosinya.
Kai mengambil mantelnya dan memakai sepatunya sebelum keluar dari Suite mereka.
e)(o
Shixun menatap kakaknya yang hanya berbaring dan menatap hampa langit-langit kamar mereka itu. Sehun hanya seperti itu sejak bangun, tak berkata apapun hanya berbaring dan menatap hampa.
Mungkin efek dari mimpi buruknya.
"Apa kau takkan memberitahuku, Hyung? Tentang mimpi burukmu," tanya Shixun pelan.
Sehun masih tak meresponnya untuk sejenak sebelum menutup matanya dan menghela nafas dalam. "Ada sesuatu yang tak pernah kuceritakan pada siapapun, Xunnie. Tidak bahkan Krystal atau Mama sekalipun," bisik Sehun bergetar masih menutup matanya.
"Soal mimpi burukmu?"
Sehun mengangguk pelan dan lelehan cairan bening mengalir dari matanya. "Aku tak ingin siapapun tahu karena aku tak ingin orang-orang jijik padaku. Tapi aku ingin memberitahumu karena aku tahu kau takkan jijik padaku," kata Sehun membuka matanya dan menatap Shixun dibalik tabir air matanya.
Shixun hanya bisa menatap Hyungnya itu, nafas Sehun semakin memberat seakan ada batu raksasa yang diletakkan diatas dadanya. Sesekali ia tersedak karena isakannya namun juga mencoba tetap tak kehilangan kewarasannya.
Si Bungsu Oh itu bergerak hendak memeluk tubuh Sehun tapi terhenti ketika Sehun berkata; "Jangan. Tolong jangan sentuh aku dulu," bisik Sehun sambil terisak dan menutup wajahnya tampak begitu frustasi, tampak begitu jijik—
—dengan dirinya sendiri.
Sebenarnya apa yang telah dialami Hyungnya?
e)(o
FLASHBACK 5 YEARS AGO – Sehun and Kai 20 Years old.
Sehun berjalan dan menikmati angin malam kota London itu. Ia baru saja selesai makan malam dengan keluarga Dosen Walinya, seorang figur orang tuanya di London ini. Mereka begitu ramah, dosennya menyayangkan Sehun karena kembali ke Korea setelah kelulusan. Dosennya itu masih menawarkan dan menyuruh Sehun untuk kembali memikirkan ulang agar melanjutkan studi S3-nya di Cambridge atas rekomendasinya.
Tapi Sehun menolaknya, mengatakan ia harus kembali ke Korea dan mengurus perusahaan keluarganya dahulu, mungkin beberapa tahun lagi ia baru akan kembali ke Cambridge untuk melanjutkan S3-nya. Tentu, dosen walinya itu menghormati keputusan Sehun dan memberi salam terbaiknya untuk Mahasiswa Kesayangannya itu. Itu sebabnya Sehun diundang makan malam mungkin untuk terakhir kalinya karena 3 hari lagi Sehun akan kembali ke Korea.
Tidak hanya makan malam, tapi juga mereka mengobrol hingga larut. Dosennya menawarkan Sehun untuk menginap karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi Sehun menolak mengatakan ia ingin menikmati London sebelum pergi nanti.
Dan disinilah Sehun, berjalan menuju apartemennya dan Kai pada dini hari, tersenyum akan berbagai memori yang terukir dalam setiap sudut kota yang ia lewati. Si Sulung Oh itu menikmati waktunya menyusuri jalan London yang sepi dan hanya diterangi lampu-lampu jalan. Seharusnya ia takut karena kejahatan kota London pada malam hari cukuplah banyak, tapi tidak, ia tak takut. Ia malah hanya merasa nyaman dan aman.
Pukul 2 dini hari, ia tiba di apartemennya. Ia terlalu menikmati waktu berjalan di tengah malam padahal jarak dari rumah dosennya dan apartemennya hanyalah 20 menit. Senyum masih mengembang di wajah cantik Sehun ketika ia membuka pintu apartemennya, tapi senyumnya lenyap begitu melihat apa yang ada di hadapannya.
Kai, Chanyeol, dan Luhan sedang berpesta di ruang tamunya. Dentuman musik begitu keras memekakan telinga, ada 3 wanita telanjang yang tampak sudah tak sadarkan diri karena kelelahan. Chanyeol dan Luhan telanjang jelas tampak mabuk berat, bernyanyi keras-keras sambil mengangkat bir. Kai? Ia hanya mengenakan boxer dan meminum birnya, duduk bagaikan raja di salah satu sofa single itu.
Sehun tak bisa mempercayai apa yang ia lihat ini. Ia tahu teman-temannya liar, tapi ia tak menyangka akan seliar itu. Wajahnya memerah, marah dan malu dengan semua keadaan ini. Ia benci ini, sangat benci.
Kai yang pertama menyadari keberadaannya, menatapnya sambil menyeringai. "Oh, Sehunnie, ayo bergabung bersama kami," ajaknya mengangkat botol bir di tangannya.
Sehun mematung, terlalu terkejut dengan ajakan itu. Ini membuatnya terasa begitu rendah, begitu kotor. Kai tahu Sehun benci hal seperti ini, kenapa ia harus mengadakannya di apartemen mereka? Kenapa Kai mengajaknya? Apa sebenarnya maksud Kai?
"Tidak, aku lelah. Aku akan langsung ke kamarku," jawab Sehun mencoba tersenyum, masih menolak dengan halus.
Kai bangkit berdiri dan meletakkan botolnya di meja, ia berjalan ke arah Sehun membuat Sehun mematung dan takut. "Kau terlalu kaku, Sehunnie," kata Kai rendah melemparkan tas yang Sehun pakai ke lantai dan membuka kemeja Sehun dengan kasar dan cepat.
"A-apa yang kau lakukan?!" tanya Sehun berusaha menghentikan tangan Kai, tapi apa dayanya? Ia terlalu lemah dibandingkan Kai yang pergi ke gym setiap minggu. "Kai hentikan! Jongin!" seru Sehun begitu Kai membuka kemeja dan melemparnya, melepaskan kaos tipis Sehun sehingga Sehun bertelanjang dada.
"Sshhh, kau pasti menikmatinya, Sehunnie," kata Kai menyeringai sadis dan mulai membuka paksa celana Sehun dengan kasar.
Sehun menggeleng keras, tubuhnya mulai bergetar ketakutan. "Ti-tidak, ja-jangan Jonginnie. Kumohon, aku tak menginginkan ini," kata Sehun ketakutan, masih berusaha untuk menghentikan tangan Kai melepaskan celananya.
Tapi Kai mengabaikannya, dengan kasar, ia membuka celana Sehun dan melepaskannya sehingga Sehun hanya memakai boxernya sama seperti Kai. Kai menyeringai melihat tubuh Sehun sebelum mengendusi leher putih nan jenjang itu.
"Kau begitu harum, Sehunnie," bisik Kai sebelum menciumi leher Sehun. Cium berubah menjadi jilatan, jilatan berubah menjadi gigitan, gigitan berubah menjadi hisapan hingga meninggalkan tanda kemerahan yang begitu jelas di leher putih Sehun.
Sehun menggeleng keras dan mendorong tubuh Kai sekeras yang ia bisa. Itu berhasil. Kai terdorong mundur beberapa langkah, tapi tak disangkanya itu malah membuat Kai marah. Kai menatapnya marah dan Sehun benar-benar ketakutan.
Kai mencengkram lengan kurus Sehun dengan kasar, terasa menyakitkan, tapi Kai tak peduli. Ia menarik Sehun ke tempat pesta kecil-kecilan mereka. "Hei, kalian masih berminat yang satu ini?" tanya Kai pada Chanyeol dan Luhan yang kini menengok pada mereka.
"Oh, Sehunnie," kata Luhan menyeringai, menatap tubuh Sehun dengan lapar.
"Kau sangat cantik, Sehunnie," kata Chanyeol menyeringai, menatap tubuh Sehun dari atas hingga bawah dengan penuh nafsu.
Sehun menatap horor dengan ketiga temannya itu. Ia menatap Kai memohon dan menggeleng kuat. Memohon pria yang ia cintai itu untuk melepaskannya.
Tapi Kai hanya menyeringai sadis dan mendorong tubuh Sehun kasar hingga ditangkap oleh Chanyeol. "Selamat bersenang-senang," kata Kai sadis dan kembali duduk di sofanya, meminum birnya.
"Terima kasih, Kai," kata Luhan penuh nafsu, langsung merangkul tubuh Sehun dan menciumi lehernya.
"Tidak! Hentikan! BERHENTI!" seru Sehun meronta.
Chanyeol tak sabar menanggapi perlawanan Sehun itu dan mengambil dasi terdekat disana, mengikat tangan Sehun ke belakang sementara Luhan memeluk Sehun yang meronta.
"Kalian boleh bersenang-senang, tapi jangan menciumnya atau memasukinya. Boxernya harus tetap terpakai," kata Kai datar menonton 3 temannya itu.
Sehun ingin berteriak lagi, tapi Luhan menyumpal mulutnya dengan dasi lain dan mengikatnya dibelakang kepalanya. Sehun menggeleng keras, berusaha meronta, tapi ia terlalu lemah melawan Luhan dan Chanyeol.
Luhan dan Chanyeol tampaknya terlalu menikmati itu. Mereka menyentuh Sehun sesuka hati mereka. Mencubit dan memainkan putingnya dengan begitu kasar hingga memerah. Kejantannya di remas keras dan kasar membuatnya kesakitan. Beberapa kali Chanyeol atau Luhan menarik rambutnya dengan kasar membuatnya kesakitan, tapi tak ada yang peduli. Keduanya sudah terlalu mabuk untuk menyadari itu.
"Berhemftif— kufmohbhonff!" Berhenti Kumohon. Itu yang Sehun jeritkan namun tertahan oleh dasi yang menyumpal mulutnya. Lagi, tak ada yang peduli dan Kai hanya menonton sambil meminum birnya.
Tubuh putih mulusnya telah penuh dengan bercak-bercak yang dibuat oleh mulut Chanyeol dan Luhan. Ada juga bekas membiru di beberapa bagian karena Chanyeol atau Luhan mencengkramnya dengan sangat kuat atau karena tamparan mereka. Mereka memperlakukan dengan kasar seakan ia dalah boneka seks yang bisa dipakai sesuka hati dan dibuang nantinya. Sehun merasa begitu kotor, begitu rendah, begitu tak berharga.
Chanyeol mulai menggesekan penisnya di belahan pantat Sehun yang masih tertutup boxer, sedangkan Luhan menubrukan kejantannya dan kejantanan Sehun yang juga masih terbungkus boxer. Sehun menggeleng keras dan kembali memohon minta dilepaskan, tapi jelas ia diabaikan. Chanyeol dan Luhan mengerang keenakan menggesakan penis mereka pada kejantanan dan pantat Sehun membuat Sehun terapit diantara mereka, meronta lemah. Keduanya bergerak begitu kasar dan cepat hingga menyemburkan sperma mereka, mengotori tubuh mereka.
Chanyeol langsung terbaring lemas di karpet apartemen mereka, namun sempat menarik ikatan tangan Sehun hingga terlepas sedangkan Luhan sudah berbaring di sofa sambil memejamkan matanya, tampak begitu puas.
Sehun tahu Chanyeol dan Luhan mabuk berat. Mereka takkan mengingat kejadian ini. Sehun tahu itu. Tapi ketika Sehun menatap tepat di mata Kai dibalik tabir air matanya, mata Kai begitu jernih tanpa kabut sama sekali. Kai sepenuhnya sadar saat menyuruh Chanyeol dan Luhan melakukan tindakan kotor ini pada Sehun.
Sebegitu bencinyakah Kai padanya?
Setelah malam mengerikan itu Sehun langsung memutuskan kembali ke Korea keesokan paginya. Tak mengabari Krystal dan Taemin sekalipun. Ia merasa begitu kotor dan mengurung dirinya di kamar. Ibunya mencoba bicara dengannya tapi Sehun tak buka mulut. Krystal mencoba bicara padanya, tapi Sehun tak bicara apapun.
Hingga suatu saat, seminggu setelah kembali ke Korea, Sehun berada di titik terendah dalam hidupnya. Merasa ia tak layak lagi untuk hidup dan mencoba mengakhiri hidupnya. Tapi salah satu pelayan sigap memanggil ambulans sehingga nyawanya selamat. Sehun sempat koma 4 hari dan disanalah Shixun datang.
Hanya Krystal, Taemin, dan Ibu Sehun yang tahu bahwa alasan Sehun masuk rumah sakit adalah karena mencoba bunuh diri. Mereka mengatakan pada yang lain kalau Sehun hanya kelelahan dan terlalu stress hingga jatuh sakit. Bahkan Shixun-pun tak tahu.
Kai datang mengunjunginya bersama Chanyeol, Luhan, Kris, Tao, dan Shixun sebelum Shixun mengajaknya pergi. Bersikap begitu biasa seakan malam itu tak pernah terjadi. Seakan ia terlalu mabuk dan lupa akan malam mengerikan itu, malam yang menciptakan mimpi-mimpi buruk Sehun. Chanyeol dan Luhan jelas terlihat lupa tentang malam itu seperti yang Sehun perkirakan.
Lalu Shixun membawa ketiganya pergi dari hidupnya. Meninggalkan Sehun berjuang melawan mimpi buruknya. Mimpi buruk yang mereka tinggalkan
A•R
Tapi Sehun tak mengatakan semua itu, ada satu hal yang ia ubah dari cerita tentang mimpi buruknya itu ketika ia menceritakan pada Shixun.
Shixun duduk dengan tegak, kedua tangannya terkepal erat, jelas menahan amarah setelah mendengar apa yang telah sahabat-sahabatnya lakukan pada Sehun.
"Itu bukan salah mereka, mereka tak mengingatnya. Kai, Chanyeol, dan Luhan takkan ingat apapun tentang malam itu karena terlalu mabuk," kata Sehun serak, lirih.
Ya, ia berbohong pada Shixun. Ia mengatakan Kai juga terlalu mabuk, tapi nyatanya tidak. Kai sepenuhnya sadar malam itu. Kai sengaja melakukan itu. Kai sengaja membiarkan Chanyeol dan Luhan melakukannya.
"Aku akan membunuh mereka semua!" geram Shixun mengamuk dan beranjak pergi.
e)(o
NO EDIT. Maafkan typo T^T
MAKASIH BANYAK REVIEWNYAAAA! Maafkan lama updatenya /bow/ Semoga masih setia menunggu ^^
Nah udah ketauan ini sumber mimpi buruknya Sehunnie, sedih yah? T-T aku aja rada gak tega nulisnya T^T
Kai brengsek bgt kan masa lalunya? Masih dukung KaiHun gak nih setelah tahu ini? xD
#KaiHun vs #XunHun mana suaranyaaa? xD
Ohiya, ada yang nanya: Kris bakal berjuang buat Sehun gak? Itu ada jawabannya sendiri nanti di chap ke depannya^^
QOFNC [Question For Next Chapter]: Kira-kira Shixun bakal ngapain setelah tahu apa yang Chanyeol, Luhan, dan Kai lakukan ke Hyung kesayangannya?
A. Membunuh CLK
B. Membunuh CLK
C. MEMBUNUH CLK DAN MENIKAHI SEHUN /dilempari batu/
Yaaaaaaah intinya semoga kalian puas ya dengan chap ini hehehe. Mohon reviewnya juga :D
-willis.8894
P.S:
-tanya-tanya AR bisa di Ask fm willis8894 /promosi/
-ada three-shots tentang JongHun-KaiHun rated M buat kalian yg yadongers xD
