CHAPTER THIRTEEN: FOR SEHUN.

Sehun membelalak lebar melihat sosok Shixun yang melangkah penuh amarah keluar dari kamar mereka. Aura Shixun mengerikan, seakan adik kembarnya itu benar-benar berniat untuk membunuh Chanyeol, Luhan, dan Kai. Sehun tak mencemaskan Luhan karena ia pergi dengan rombongan Krystal, tapi Chanyeol dan Kai? Mereka disini dan Shixun benar-benar takkan segan-segan membunuh mereka.

Si Sulung Oh itu segera menyusul Shixun, mengabaikan wajahnya yang sembab karena habis menangis, mengabaikan tubuhnya bergetar karena menceritakan kembali kenangan terburuk untuk pertama kali dalam hidupnya. Ia hanya berpikir untuk menghentikan Shixun sekarang juga.

Begitu ia keluar kamar, ia melihat Chanyeol sudah terjatuh di lantai dengan Shixun yang menonjoknya kesetanan. Kris segera berlari melihat itu dan menarik Shixun menjauh dari Chanyeol dibantu dengan Suho sedangkan Baekhyun membantu Chanyeol untuk menjauh dari Shixun. Kai yang baru keluar kamar mandi sehabis mandi itu hanya menatap terkejut keributan itu.

"LEPASKAN AKU! AKAN KUBUNUH MEREKA! KALIAN PARA BIADAB DAN TAK PANTAS HIDUP! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA! CHANYEOL! KAI! LUHAN! AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUA DAN KUBAKAR HIDUP-HIDUP!" seru Shixun seperti kesetanan, meronta dari pegangan Kris dan Suho.

Yang lain terlalu terkejut dengan amukan Shixun itu. Shixun tak pernah seperti ini sebelumnya. Semarah-marahnya Shixun, ia tak pernah mengamuk kesetanan seperti ini. Tidak pernah. Bahkan Sehun begitu terkejut atas reaksi brutal Shixun ini. Ia hanya bisa menangis dan ambruk ke lantai, seluruh tubuhnya bergetar hebat dan kakinya tak bisa lagi menopang dirinya.

Seluruh ini terlalu banyak untuk diterimanya, kemarahan Shixun membuatnya begitu takut dan cemas. Bayangan mimpi buruknya masih menari-nari diotaknya, begitu menyiksanya. Perasaan jijik itu kembali melandanya terlebih melihat Kai yang sehabis mandi dan hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggangnya.

Jijik.

Kotor.

Ia ingin semua kulitnya terkelupas agar ia tak lagi kotor.

"Sehun? Sehunnie! Bernafaslah! Tenangkan dirimu dan cobalah bernafas!"

Sehun membuka matanya yang entah sejak kapan tertutup, pandangannya begitu kabur karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Pikirannya begitu kacau dan ia baru menyadari lagi-lagi ia memeluk tubuhnya dan menancapkan kuku-kukunya hingga lengannya terluka. Dan tidak hanya itu, ia menyadari ia sulit bernafas, seakan ada yang menyumbat pernafasannya. Tubuhnya bergetar hebat dan kini ia berbaring di karpet dingin Suite mereka, mencoba bernafas.

Ada 3 orang yang mengelilinginya, tapi ia tak bisa mengenali semuanya. Ia hanya mengenali Shixun diantara mereka. Tangannya terangkat ke arah Shixun, mulutnya terbuka dan mengucapkan;

"Xun— nie—"

Sesak. Ia merasa sesak. Tapi Shixun ada disana, menggenggam tangannya dan memeluknya. Shixun ada disana, menggendongnya kembali ke kamar mereka. Shixun ada disana, untuk membaringkan tubuhnya dengan lembut di atas kasur dan memeluknya erat, membisikan kata-kata manis dan pujian ditelinganya membuatnya tenang. Pelukannya begitu hangat dan aman.

Ya, aman.

Perlahan rasa sesak itu mulai berkurang dan terus berkurang ketika Shixun mulai menciumi seluruh wajahnya dengan lembut. Getaran tubuhnya perlahan berkurang dan nafasnya mulai kembali normal perlahan-lahan. Semua serangan tiba-tiba itu perlahan menghilang tergantikan dengan kehampaan.

Sehun hanya terbaring disana bagai mayat hidup. Pandangannya begitu kosong namun air matanya tak berhenti mengalir. Shixun memeluk pinggangnya erat, menenggelamkan wajahnya dibahu Sehun dan seluruh tubuhnya bergetar. Sehun bisa merasakan air mata Shixun merembes masuk ke bajunya, menyentuh kulitnya. Sehun jelas tahu Shixun tubuh Shixun bergetar karena menangis dan menahan amarah.

Sehun hanya bisa menutup matanya dan membiarkan air matanya terus mengalir. Tenaganya terkuras habis sehingga tak bisa lagi melawan kehampaan dalam dirinya itu. Ia hanya bisa pasrah dan memeluk kehampaan itu bagai kawan lama.

Mungkin karena ia sudah terlalu rusak. Mungkin ia bukan lagi Ruinosus, tapi telah menjadi Lapsus.

Haruskah ia menyerah untuk kembali seperti dulu?

A•R

Suara sekitarnya sayup-sayup terdengar. Sepertinya tadi Sehun tertidur sebentar sangking lelahnya dengan semua ini. Ia bisa merasakan Shixun masih memeluknya dan satu tangannya memainkan rambutnya, membuatnya begitu nyaman dan aman.

"—kau benar-benar terlihat seperti kesetanan tadi."

Itu suara Kris, Sehun sangat mengenali suara berat dan dalam itu. Tidak mungkin Chanyeol karena Shixun terlihat akan langsung membunuhnya setelah tahu cerita Sehun.

"Aku tidak kesetanan, aku benar-benar ingin membunuh mereka tadi. Aku masih ingin membunuh mereka hingga detik ini dan keinginan itu akan tetap ada seumur hidupku," kata Shixun begitu sungguh-sungguh seakan bersumpah.

Kris terdiam sejenak, bahkan Sehun merinding mendengar bagaimana suara rendah Shixun terdengar begitu mengancam di dekat telinganya. Sepertinya ide yang buruk memberitahu Shixun, seharusnya Sehun tak memberitahu nama ketiga orang itu. Tapi jika begitu, Shixun akan terluka karena Sehun tak mempercayainya dan bahkan Sehun sendiri masih merasa bersalah menyimpan satu kebenaran penting tentang malam mengerikan itu dari Shixun.

"Ini berkaitan dengan Sehun, kan? Alasanmu begitu ingin membunuh mereka," tanya Kris setelah diam beberapa saat.

Shixun tak menjawab, tapi pelukannya di tubuh kurus Sehun terasa semakin erat. Sehun bisa merasakan adiknya itu menenggelamkan wajahnya dirambutnya, menciumi rambutnya. Sehun menghela nafas dan menenggelamkan wajahnya di dada Shixun, cukup membuat Shixun mematung beberapa saat sebelum kembali memainkan rambutnya dan menciumi rambutnya. Tampaknya berpikir Sehun masih tertidur.

"Mereka sahabatmu, Xun. Dan kau ingin membunuh mereka hanya karena— amarah?"

"Sehun saudaraku. Saudara kembarku. Dan ya, aku akan membunuh mereka meski kau menganggapnya sebagai amarah," desis Shixun tajam.

"Xun, kau hanya sedang dikuasai amarah saat ini—"

"Aku tak peduli. Cepat atau lambat aku akan membunuh mereka. Halangi jalanku sesuka hatimu, tapi kupastikan mereka bertiga akan mati ditanganku."

"Dan konsekuensinya? Kau tahu Komisaris dan para Jendral akan menindak tegas perbuatanmu ini, Xun. Mereka akan memenjarakanmu dan membuangmu! Kau pikir itu yang Sehun inginkan? Pikirkan itu, Shixun. Pikirkan Sehun."

Shixun lagi-lagi tak menjawab dan hanya memeluk erat tubuh Sehun. "Keluarlah, kau mengganggu tidur Sehun," katanya mengusir.

Kris menghela nafas dan Sehun bisa mendengar langkah kakinya yang melangkah semakin jauh hingga meninggalkan kamar itu.

Sehun balas memeluk Shixun erat, masih menenggelamkan wajahnya di dada Shixun. Shixun sedikit menegang, tanda ia baru menyadari bahwa Sehun sudah terbangun.

"Kau mencuri dengar, Hyung?" tanya Shixun pelan, tak mengubah posisi mereka sedikitpun.

Sehun mengangguk, masih memeluk erat Shixun. "Balas dendam takkan membuatku sembuh, Xunnie," bisik Sehun bergetar.

Shixun hanya terdiam, tapi Sehun tahu adiknya mendengarkan.

Sehun mencengkram erat baju di punggung Shixun seakan itu satu-satunya pegangan agar ia tak tenggelam. "Kau yang bisa menyembuhkanku. Ikatan kita yang bisa menyembuhkanku. Apa yang terjadi biarlah terjadi, toh mereka juga tak mengingatnya."

Tak ada respon dari Shixun untuk sejenak, sebelum Shixun memeluk tubuhnya erat dan menenggelamkan wajahnya di bahu Sehun. "Kenapa kau begitu mudah memaafkan? Setelah perbuatan biadab mereka— kenapa kau bisa-bisanya memaafkan mereka begitu saja?"

Sehun melepaskan pelukannya dan hanya berbaring miring, menatap adik kembarnya, memainkan rambutnya. "Awalnya aku memaafkan mereka karena mereka sahabatmu, orang yang penting bagimu. Lalu aku menyadari perasaanku mulai mati dan aku tak bisa merasakan apa-apa lagi tentang mereka. Tidak ada kebencian atau dendam, tidak ada rasa takut. Tapi kuakui, bertemu kembali dengan mereka, mulai timbul perasaan jijik yang kadang-kadang muncul dan menggerogotiku dari dalam."

"Kau jijik pada dirimu," kata Shixun memperjelas dan Sehun hanya bisa mengangguk. "Seharusnya kau jijik pada mereka. Mereka manusia kotor, biadab, dan tak pantas hi—"

Sehun mengecup kening Shixun lama, sukses membuat adik kembarnya itu berhenti bicara sejenak dan hanya berbaring kaku. Sehun menjauhkan bibirnya dari kening Shixun dan kembali menatap adik kembarnya yang kini sedikit merona merah, membuat senyum mengembang di wajahnya yang feminim.

"Aku tahu kau menyayangiku, Xunnie. Sangat menyayangiku sampai kau membenci sahabat-sahabatmu sendiri. Tapi bukan itu yang kuinginkan ketika mengatakan— hal mengerikan itu padamu. Aku ingin sembuh dan aku ingin kau membantuku, bukan fokus pada kebencian dan dendam terhadap mereka."

Shixun menghela nafas dan memejamkan matanya, Sehun menatap adiknya itu dan perlahan mulai mengelus-elus rambut pirangnya.

"Tapi kau tahu aku tak bisa membantu apa-apa, Hyung. Tak ada tempat bagiku untuk kembali ke sana."

Sehun tak mengatakan apa-apa dan hanya mengelus-elus rambut Shixun. Apakah ini artinya ia harus berjuang sendirian? Tanpa Shixun?

A•R

Suasana ketika mereka berkumpul selalu tegang, Sehun jelas menyadari itu. Chanyeol dan Kai tampaknya masih bingung alasan kebencian Shixun yang tiba-tiba pada mereka. Chanyeol berusaha bicara baik-baik pada Shixun, tapi yang di dapat hanyalah pukulan yang mematahkan hidungnya. Suho dan Kai harus membawanya ke klinik terdekat sementara Kris dan Baekhyun menjaga Shixun tetap berada di dalam hotel.

Sejak saat itu Chanyeol dan Kai menjaga jarak dari Shixun. Kai bahkan tak tidur di ruang tamu Suite mereka lagi, Kris bertukar dengannya dan Kai tidur dengan Chanyeol.

"Aku tak ingin kau terbunuh dalam tidurmu, cukup turuti saja kataku," kata Kris pada Kai ketika pria tan itu tak setuju untuk pindah tempat.

Akhirnya, Kai setuju dan tak mendebat apalagi melihat Shixun yang benar-benar tampak takkan melewatkan kesempatan untuk membunuh Kai dalam tidurnya.

Sehun hanya bisa menggelengkan kepala atas tingkah Shixun. Ia sudah mencoba meredam amarah Shixun, tapi itu tak cukup berhasil. Tapi setidaknya Sehun sudah membuat Shixun berjanji untuk tidak cari gara-gara duluan dengan Chanyeol dan Kai –dan Luhan juga–.

"Kau terlihat penat," komentar Baekhyun, mengejutkan Sehun yang sedang duduk di balkon Suite mereka.

Shixun sedang tertidur –terima kasih Tuhan karena adik kembarnya itu tak pernah meninggalkan sisinya barang sedetik saja–, Kris, Kai, dan Chanyeol sedang pergi sepertinya sedikit urusan pekerjaan mereka. Suho juga tertidur di kamarnya dan menyisakan Sehun dan Baekhyun disini.

"Kupikir kau sudah tidur, Hyung," gumam Sehun pelan.

"Aku menunggu waktu dimana aku bisa bicara denganmu tanpa Shixun mencuri dengar," kata Baekhyun mengangkat bahu dan duduk disamping Sehun.

Wajah Sehun begitu datar, tapi matanya memancarkan rasa bersalah yang besar. Seperti biasa, Baekhyun menyadari itu.

"Ini bukan salahmu," kata Baekhyun.

"Keadaan tak nyaman karena aku, Hyung. Ini dampak pembicaraanku dengan Shixun—"

"Kau memberitahu Shixun tentang mimpi burukmu," sela Baekhyun tenang, menebak dengan baik.

Sehun menatapnya terkejut.

"Dan penyebabnya adalah Kai, Chanyeol, dan Luhan. Aku bisa dengan jelas menangkap itu semua. Mungkin Kai terlalu bodoh dan tak menyadarinya, tapi aku tidak, Sehun."

Sehun hanya terdiam mendengar itu, hanya menatap Baekhyun.

"Jika kau tanya aku, aku setuju dengan Shixun. Aku berharap mereka bertiga lenyap selamanya jika memang mereka yang membuatmu seperti ini, Sehun-ah."

"Hyung," protes Sehun dengan kening yang berkerut tak setuju. Ada apa dengan Baekhyun? Kenapa Baekhyun begitu terlihat membenci Kai, Chanyeol, dan Luhan?

"Aku tak perlu tahu apa yang telah mereka lakukan hingga membuatmu mengalami semua mimpi buruk itu, Sehun-ah. Tapi sejak pertama kalinya aku melihatmu menangis, menjerit, dan meraung dalam tidurmu, aku sudah bersumpah takkan membiarkan siapapun yang menyebabkanmu seperti itu bisa hidup dengan tenang," kata Baekhyun penuh dengan sumpah dan kebencian.

"Itu tidak baik, Hyung," kata Sehun jelas tak setuju, kecewa dengan sikap Baekhyun yang seperti itu.

Baekhyun menatap Sehun dan mengelus pipi mulus pria cantik itu dengan lembut sebelum menangkup wajahnya. Pandangannya begitu sedih namun juga ada rasa amarah yang terpendam disana yang bukan ditunjukkan pada Sehun.

"Kau selalu memaafkan, karena itu hanya kau yang selalu tersakiti sedangkan mereka hidup tanpa beban," kata Baekhyun. "Tapi aku takkan membiarkan mereka lolos begitu saja," kata Baekhyun kini lebih rendah dan penuh kepastian. "Selamat malam, Sehunnie."

Dengan itu, Baekhyun meninggalkan Sehun sendirian di balkon dengan pikiran berkecamuk.

e)(o

Kris menghisap rokoknya dan menghembuskannya perlahan. Chanyeol dan Kai sudah kembali ke Suite sedangkan Kris masih berkeliaran, mencari udara segar. Pikirannya berkecamuk mencoba memproses apapun yang terjadi sejak Sehun tiba di Rusia beberapa hari yang lalu.

Sehun… Cinta pertamanya yang tak tersentuh.

Kris mengingat pertama kali Shixun memperkenalkan Sehun pada mereka pertama kali, Kris bisa dengan mudah membedakan Sehun dan Shixun bahkan sekali lihat. Sehun terlihat begitu manis dan pemalu, ia bicara dengan suara yang lembut dan pelan juga senyum cantiknya, sangat berbeda dari Shixun. Itulah yang mengambil nafas Kris pertama kalinya.

Ia tak tahu sejak kapan ia jatuh cinta pada Sehun. Mungkin ketika Sehun yang menangis karena melihatnya terluka ketika jatuh dari sepeda selagi mengobati luka-lukanya. Mungkin ketika Sehun yang cemberut dan menatapnya cemas ketika pertama kali ia terlibat pertarungan dengan gang sekolah sebelah. Atau mungkin memang Kris sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Sehun, saat pria manis itu memperkenalkan dirinya dengan malu-malu.

Sayang, Kris terlalu pengecut untuk meraih Sehun, terlebih melihat bagaimana Sehun menatap Kai pertama kalinya.

Sehun memang sangat pintar menyembunyikan perasaannya hingga bahkan Shixun-pun tak tahu soal cinta bertepuk sebelah tangannya dengan Kai. Tapi Kris jauh lebih pintar menyembunyikan perasaannya hingga tak satupun yang tahu perasaannya pada Sehun. Mereka semua menilai Kris memandang Sehun sebagai teman yang berharga, yang harus dilindungi, tapi mereka tak tahu fantasi kotor Kris tentang Sehun setiap malam. Mereka tak tahu betapa Kris ingin mencium Sehun setiap kali pria manis itu tersenyum padanya. Mereka tak tahu ciuman di pipi, pelukan Kris, dan seluruh sentuhan Kris dalam diri Sehun bukan hanya sentuhan pertemanan. Sama sekali tidak. Dan tak ada yang menyadari itu.

Kris selalu menatap Sehun dari jauh, melihat cintanya itu semakin bertumbuh dengan cantik dan tampak sempurna. Semakin tak tersentuh. Menarik, cerdas, rekor tak bercela, dan sangat dihormati murid-murid lainnya. Berbeda dengan Kris yang brandal, nilainya cukup baik tapi bukanlah yang terpintar di kelasnya, rekornya kotor karena perkelahian-perkelahian yang ia lakukan, dan ia ditakuti karena reputasinya bukan dihormati. Terlebih Sehun sebagai penerus Huntak Grup, sangat berbeda dengan Kris yang terus membangkang dan berusaha lari dari takdirnya sebagai penerus QiYing Grup. Sehun jelas sangat tak tersentuh bagi orang seperti Kris.

Tapi Kim Kai idiot itu bahkan tak menyadari bahwa ia tak layak untuk mengejar Sehun.

"Kris?" panggil suara familiar itu membuyarkan lamunan Kris.

Kris menengok dan menemukan Sehun menatapnya. "Sehun?" tanya Kris ragu, apa ini khayalannya?

"Oh, ternyata benar kau. Syukurlah," kata Sehun dengan datar meski matanya memancarkan kelegaan dan menghampiri Kris.

"Kenapa kau disini? Kau sendirian?" tanya Kris membuang rokoknya ke tanah dan mematikannya.

"A-aku hanya jalan-jalan sebentar," jawab Sehun menunduk, memperhatikan kaki-kaki mereka yang berjalan beriringan.

Kris bisa melihat telinga Sehun memerah entah karena udara dingin atau karena pria itu memalu. Kris menyeringai menyadari kenapa Sehun tampak malu itu. "Kau tersesat, benar, kan?"

Pria manis itu cemberut dan masih tak mengangkat wajahnya, membuat Kris tertawa terbahak-bahak.

"Kau memang tak pernah bisa diandalkan jika urusan arah, Sehun-ah," kata Kris tertawa sambil menggeleng.

"Ini Rusia, aku baru disini," protes Sehun menendang salju di kakinya itu, tampak seperti anak kecil yang mengambek dengan kerutan di keningnya itu.

Kris semakin tertawa melihat itu, mungkin hanya Oh Sehun yang bisa terlihat menggemaskan dengan wajah datar seperti itu.

"Sehunnie, kau bahkan selalu nyasar jika pulang dari rumahku."

"Itu, kan dulu. Sekarang sudah tidak," protes Sehun semakin cemberut dan meliriknya tajam.

Ah, ekspressi anak kucing yang ngambek itu keluar.

"Kau perlu masuk rekor dunia jika kau masih nyasar setelah 12 tahun, Sehun-ah."

Wajah Sehun sedikit merona mendengar itu, Kris yakin kali ini bukanlah karena udara dingin. Kris tak bisa menahan tangannya untuk mencubit pipi Sehun sambil tersenyum. Sehun tampak terkejut dengan kontak tiba-tiba itu, tapi ia tidak menghindar.

"Kau terlalu kurus," komentar Kris menangkup wajah Sehun dan mengelus pipi Sehun yang tirus itu, tak lagi berisi seperti dulu.

Sehun tak menjawab, ia hanya menatap Kris dengan matanya yang membulat dan memancarkan keterkejutan. Satu-satunya indikasi untuk membaca Sehun karena seluruh ekspressinya datar kecuali matanya.

Kris sangat ingin mencium Sehun saat ini.

Tapi Kris menahannya, ia hanya tersenyum sambil menjatuhkan tangannya dari wajah Sehun dan kembali berjalan. Ia bisa mendengar langkah Sehun yang menyusulnya dan kembali berjalan di sampingnya, tapi ia benar-benar tak menduga ketika tangan ramping Sehun yang berbalut sarung tangan itu menggenggam tangannya.

Kris menatap tangan mereka terkejut sebelum menatap Sehun yang masih dengan wajah datarnya tapi dihiasi sedikit rona kemerahan di pipinya.

"Apa kau tidak kedinginan? Jarimu terasa membeku," kata Sehun mengalihkan pandangannya, menatap tangan mereka yang saling menggenggam.

Kris hanya bisa menatap cinta pertamanya itu dengan tampang bodoh. Ia benar-benar tak percaya ini. Apakah ini benar-benar Oh Sehun? Oh Sehun CEO Huntak Grup yang mengatakan takkan segan-segan menembak kepalanya jika ia gagal melindungi Krystal? Oh Sehun yang benci disentuh oleh orang lain? Yang menghindari sentuhan orang lain seperti tak ingin terkena penyakit kulit menular? Apakah ini benar-benar Oh Sehun?

Sehun melepaskan satu sarung tangannya dan memakaikan pada tangan Kris yang tak di genggamnya, kembali mengejutkan Kris. Tapi yang paling mengejutkannya adalah ketika Sehun memasukan tangan mereka yang saling menggenggam itu ke saku mantelnya, menyebarkan kehangatan bukan hanya ditangannya yang membeku tapi juga hatinya.

"Apa kau… tak ingin berjalan seperti ini?" tanya Sehun berbisik ragu-ragu, menatapnya dari balik bulu mata lentiknya.

Kris hanya mengangguk dengan bodohnya lalu menggeleng kuat begitu memproses kembali maksud pertanyaan Sehun dengan benar. Ia yakin wajahnya kini sudah merona dan benar-benar tampak bodoh. Kris berharap Sehun tak menyadari itu.

Sehun tersenyum kecil, tampak begitu manis dan malu-malu, cukup bagi Kris yang telah merindukan senyum itu selama 7 tahun lamanya.

"Kita kembali ke hotel langsung?" tanya Sehun.

"Apa kau ingin langsung kembali ke hotel?"

Sehun menggeleng.

"Kalau begitu aku akan mengawalmu kemanapun kau mau, CEO Oh," kata Kris bak pengawal setia membuat Sehun memukul lengan berototnya itu sambil tersenyum kecil.

Mereka menghabiskan waktu berdua sebagai teman. Kris membawa Sehun ke beberapa tempat yang begitu romantis cocok untuk pasangan kekasih, tapi Kris tetaplah Kris yang mengacaukan semua suasana romantis dengan ucapan dan tingkah bodohnya. Setidaknya Kris tak terlalu menyesal karena bisa melihat senyum dan kilat geli di wajah Sehun itu.

Setelah berkeliling hingga hampir dua jam lamanya, Sehun dan Kris memutuskan untuk kembali ke hotel. Dan Kris berpikir mungkin ini waktu yang tepat menanyakan apa yang sebenarnya terjadi antara Shixun dan ketiga sahabatnya yang lain.

"Sehun, ada hal yang ingin kutanyakan padamu," kata Kris memulai.

Sehun menegang sejenak, Kris menyadari itu. Sepertinya Sehun bisa menebak dengan cepat arah pembicaraan ini. Kris memutuskan untuk tak mundur.

"Apa yang membuat Shixun begitu ingin membunuh Kai, Luhan, dan Chanyeol?" tanya Kris menatap Sehun, melihat bagaimana pria cantik itu membeku di tempatnya dan ekspressinya begitu datar dan kosong. "Kau boleh memilih tak menjawab, aku takkan memaksa," tambah Kris cepat melihat reaksi Sehun itu.

Sehun hanya berdiri mematung. Tangannya masih menggenggam tangan Kris dengan erat di dalam saku mantelnya. Ia tampak ragu-ragu untuk mengatakannya pada Kris, tampak begitu mempertimbangkan banyak hal. Kris bisa melihat itu semua dengan jelas.

"Tak perlu memaksakan diri," kata Kris pelan dan kembali berjalan, menarik pelan agar Sehun kembali melangkah bersamanya.

Sehun masih menatapnya ragu-ragu sebelum membuka mulutnya. "Kai, Luhan, dan Chanyeol pernah melakukan kesalahan padaku 5 tahun lalu, sebelum kembali ke Korea. Tapi mereka tak mengingatnya, aku juga— bagiku itu tak lagi penting. Aku memberitahu Shixun tentang itu dan ia sangat marah," kata Sehun mencoba menceritakan namun tak memberikan detil lebih banyak.

Kris tahu itu sudah lebih dari cukup, ia takkan mendorong Sehun untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi 5 tahun lalu. Ia akan mencari tahu sendiri nantinya.

"Shixun saat ini… hanya emosi. Ia mungkin terlalu terkejut dengan semua itu dan sulit menerimanya. Aku minta maaf karena suasana diantara kita jadi tak nyaman dengan semua ketegangan ini," kata Sehun menunduk, jelas terlihat merasa bersalah.

Kris meremas tangan Sehun dengan pelan. "Ini bukan salahmu. Emosi Shixun memang tak terkontrol," kata Kris menenangkan.

Sehun masih mengerutkan keningnya dalam, masih menunduk dan memperhatikan langkah mereka yang beriringan. "Ta–tapi ini semua hanya sesaat, kan? Shixun memang terlihat sangat marah, tapi ia takkan benar-benar membunuh Kai, Chanyeol, dan Luhan. Shixun takkan seperti itu," kata Sehun tampak ingin meyakinkan dirinya sendiri.

Kris menatap Sehun yang tampak berpikir dalam itu. Ia tak ingin membebani Sehun dengan masalah ini. "Tentu saja. Shixun akan kembali baik nantinya," kata Kris ringan, tampak berhasil meyakinkan Sehun ketika pria itu menatapnya tampak lega.

Itu bohong.

Apa yang Kris katakan pada Sehun hanya kebohongan belaka. Kris telah berjalan bersama Shixun 12 tahun lamanya, ia bisa membedakan emosi Shixun yang sesaat dan permanen. Ketika melihat kemarahan Shixun pertama ia menyerang Chanyeol, Kris bisa melihat kesungguhan di mata Shixun. Emosi itu permanen.

Shixun sudah bertekad untuk membunuh Chanyeol, Kai, dan Luhan.

Dan itu tidaklah main-main. Pandangan Shixun saat itu adalah pandangan yang sama ketika Shixun harus menghabisi target-targetnya dalam misi-misi mereka. Oh, jangan pikir mereka orang suci, mereka sudah membunuh bahkan satu tahun setelah bergabung menjadi Agen rahasia. Membunuh bukanlah yang besar bagi Kris dan yang lainnya, bahkan bagi Irene sekalipun. Tangan mereka sudah bersimbah dengan darah orang-orang dari berbagai negara.

Satu hal yang paling bahaya adalah ketika Kris menyadari bahwa bagi Shixun, membunuh ketiga sahabat mereka itu bukanlah hal yang besar. Seakan Shixun menganggap Kai, Luhan, dan Chanyeol sebagai target dari misinya yang perlu dieliminasi.

Shixun cerdik, paling cerdik dalam kelompok mereka. Ia memang tak sejenius Sehun, tapi ia memiliki banyak akal yang tak pernah terduga. Dan Kris tahu Shixun takkan membunuh Chanyeol, Kai, dan Luhan sekarang, tidak ketika Sehun masih berada di Rusia bersama-sama mereka. Namun hanya tinggal tunggu waktu hingga Shixun menjalankan rencananya untuk membunuh ketiga orang itu begitu Sehun kembali ke Korea. Shixun mungkin memakai misi-misi mereka untuk mengeliminasi satu per satu, membuat terlihat sebagai kecelakaan sehingga jika kabar itu bisa sampai pada Sehun, tangan Shixun dalam keadaan bersih. Kris bisa melihat itu semua terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

Kris melirik Sehun yang menikmati angin malam kota Moskow dan langit gelap dengan sedikit bintang diatas kepala mereka, tampak tak lagi memikirkan Shixun yang mendendam pada Kai, Luhan, dan Chanyeol.

Jika Shixun tak bisa menekan dendamnya demi Sehun, maka Kris yang akan maju untuk melindungi Kai, Luhan, dan Chanyeol. Demi Sehun.

Karena Kris tahu, Sehun tak ingin ada darah yang tumpah diantara mereka apapun alasannya. Karena Kris tahu bahwa Sehun akan menyalahkan dirinya jika ada diantara mereka yang terbunuh. Karena Kris tahu bahwa Sehun juga akan tahu kenyataan Shixun yang membunuh Kai, Luhan, dan Chanyeol meskipun rencana Shixun bersih tanpa cacat.

Dan Sehun pasti akan hidup dengan rasa bersalah dan malah kembali hancur. Kris takkan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan. Ia akan lakukan apapun agar hal itu tak terjadi.

Demi Sehun.

e)(o

Di dedikasikan untuk Sehun yang partnya cuman sebaris di For Life /plak/ T^T

Maaf ya baru bisa update T^T terima kasih sudah mau nunggu dan mereview di chap sebelumnya :D

Oh, ada beberapa pertanyaan di review:
-Berarti 5 tahun lalu gak sampai ke intinya, kan? Ya, memang gak sampai ke inti, tapi tetep itu sudah masuk kasus pemerkosaan apalagi Kai mengelakuinnya dalam keadaan sadar.
-Kai sebenarnya inget soal itu atau enggak? Atau dia amnesia karena kecelakaan? Untuk ini bakal dibahas di chap berikutnya :D
-Kenapa Kris gak ngejar Sehun juga? Jawabannya udah ada di chap ini, ya :D Intinya Kris itu merasa dia itu gak pantes buat standar Sehun yang notabene-nya murid teladan yang siap buat nerusin Huntak Grup. Sedih yak T^T
-Shixun beneran bakal bunuh CLK? Di Chap ini dibahas kemungkinan sikap Shixun ke CLK dari pandangan Sehun dan Kris. Untuk pastinya, dengan sudut pandangan Shixun sendiri akan dibahas di chap depan. Heuheuheuheu.

Banyak banget yang #TeamXunHun tapi masih banyak juga yang gak nyerah sama #TeamKaiHun xD othor #TeamBaekHun #TeamKrisHun ajalah HEUHEUHEUHEU /plak/ SHOUTOUT! Kalian di team mana sekarang ini? ;D

YAP Sekian cuap-cuap othor di chap ini. Semoga tetep dukung sampai chap depan! :D Jangan lupa reviewnya yaaaa xD

-willis.8894

P.S: When Oh Sehun Meet The Kim's Twins sad ending aja kayak gitu yah xD Aku lagi stuck buat nulis tentang mereka ;—; Ide-ide sangat di welkam T^T