EROTIC NIGHTMARE

Chapter tujuh

...

Write by BeibiEXOl

Plagiat? Go to the hell!

.

.

.

Oh Sehun, menghabiskan masa mudanya untuk memenuhi obsesi sang ayah, ia selalu menjadi kebanggaan keluarganya, ia selalu menjadi yang pertama saat disekolah, dia diterima di universitas Havard dengan beasiswa dan lulus dengan IPK sangat memuaskan, ia belajar dengan serius dan bermain sekenanya.

Hidupnya sebelum Luhan begitu sempurna, ia di puja oleh keluarga dan teman-temannya ... ia menikmati semua itu ...

Ia menikmatinya ...

Dirinya adalah Oh Sehun, ia melampaui apa yang diharapkan ayahnya, ia membangun perusahaan sendiri dan menjadi pewaris perusahaan keluarganya.

Sebelum bertemu dengan Luhan, hidupnya sangat sempurna.

Namun,

"Hhh, apa yang kau lakukan?" Suara serak Luhan, pemuda mungil itu menggeliat masuk kedalam selimut saat Sehun menjilati daun telinganya "Matahari bahkan belum terbit" Keluh Luhan kembali tidur dengan memunggungi Sehun.

Sehun tersenyum kecil menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang dan menarik Luhan kepangkuannya "Good morning My Love" Ia mengusap surai Luhan lembut dan mengecup kening pemuda itu penuh kasih sayang.

Sehun sadar, selama ini ia hidup di dunia yang penuh dengan obsesi, ia terobsesi untuk menjadi yang tertinggi dan ia melupakan sesuatu yang terpenting.

Ia pikir, hidupnya sebelum Luhan sudah begitu sempurna.

Ia pikir hidupnya sempurna sebelum Luhan merasuk dalam hatinya dan ia berpikir "Ah, betapa menyedihkannya aku dulu, betapa menyesalnya aku baru bertemu Luhan sekarang. Jika saja aku menemukannya sejak dulu aku bisa merasakan perasaan yang namanya cinta sejak dulu. Memikirkannya saja membuatku ingin menangis menyesali kehidupanku sebelumnya"

Ya, Sehun pernah melupakan kalau setiap mahluk hidup di dunia ini memiliki perasaan ... perasaan asing yang bernama 'cinta'

Perasaan aneh yang menggetarkan jiwa.

Cinta ...

Perasaan itulah yang Sehun rasakan saat ini.

Oh Sehun di umurnya yang ke-32 tahun, menjadi pria sempurna dengan hati berwarna merah dan berbentuk hati "Aku menemukan mu Lu" Bisiknya mengecup bibir Luhan dan mulai menggoda tubuh yang masih tertidur dipelukannya itu.

"Oh Sehun"

"Hm?"

Luhan menatap mata Sehun yang memandangnya penuh gairah, ia terkekeh dan mengusap matanya pelan "Apa yang kau pikirkan?" Luhan duduk kepangkuan Sehun dan bersender didada lelaki itu.

"Memikirkan kau yang mencumbu bibir ku dan menungging dengan bokong telanjang"

Luhan tertawa, ia menyentuh wajah Sehun lama dan mencium lelaki itu lembut "Oh Sehun" Bisik Luhan dengan tatapan menggoda dan mencium basah bibir Sehun, lalu mencium hidung, pipi, kening dan daun telinganya "Sehun-ah" Ia menggigit daun telinga Sehun menggoda.

Sehun menggerang "XiaoLu"

Sehun memeluk tubuh Luhan agar lebih merapat ditubuhnya, tangannya mengelus punggung Luhan yang terasa hangat, kepalanya mendongak menikmati saat posisi Luhan lebih tinggi darinya, tangan Luhan melingkar dilehernya dan Sehun dapat memandangi wajah yang tercinta miliknya lebih jelas "Aku baru sadar ternyata kau lebih cantik dari perempuan atau lekaki manapun di muka bumi ini, bahkan habis bangun tidur"

Luhan tertawa kecil mengigit bibir Sehun gemas dan menunduk menatap intents lelaki itu "Jika kau masih ingin bercinta dengan ku pagi ini, hentikan gombalan murahan mu itu" Ia mendengus meremas rambut belakang Sehun gemas "Tidak ada laki-laki yang senang di sebut cantik, sayang"

Sehun tertawa kecil "Katakan hal itu pada penggemar pria-mu, dan teruslah merona saat aku menggoda mu" Sehun menarik Luhan dan melumat bibirnya, mengeksplor mulut Luhan sampai air liurnya menetes menuruni dagu "Oh, kau yang tercantik. Hanya milik ku" Desis Sehun saat Luhan ikut melumat bibirnya dan diakhiri dengan gigitan kecil "Yang terpanas" Ia meremas dada Luhan dengan satu tangannya yang menahan punggung Luhan "Yang suci" Erang Sehun merebahkan punggung Luhan kembali melumat bibir pemuda itu.

"Luhan"

"Luhan"

Sehun mengecupi tubuh Luhan dan meremas-remas kejantanan pemuda itu dan mengocoknya "Kau hanya milik ku"

"Hnggh! Yaah! Akuh! Milik mu Oh Sehun Aaaahhh"

Sehun melahap penis Luhan dan memaju mundurkan kepalanya, menghisap dalam-dalam seakan ingin menelan kejantanan pemuda itu dan memuntahkannya bersama air liurnya "Kita tidak memiliki pelumas disini"

"Hnngh... tidak perlu. Tidak perlu pakai pelumas" Luhan menggerang saat mencapai klimaksnya.

Sehun membiarkan cairan sperma Luhan mengaliri lubang pemuda itu dan mulai memasukan jari-jarinya untuk melonggarkan lubang Luhan "Sial, kenapa kau selalu sempit"

"Hhhggh, tusuk aku Sehun, disanah! Uh sangat nikmat" Luhan menggelinjang merasakan jari-jari Sehun yang mengenai prostat-nya, Sehun selalu tau dimana titik kenikmatan ditubuhnya.

"Aaaaaaaaah"

Sehun menghisap nipple-nya bergantian, lalu menghisap pusatnya dan menjilati perutnya.

Luhan semakin terangsang saat merasakan lidah kasar Sehun yang bermain melingkar dipermukaan kulitnya dan jari pemuda itu yang bermain didalamnya.

Sehun menarik jarinya, lalu mengocok kejantanannya sendiri sampai cairan pre-cum keluar membasahi penisnya, saat ia merasa dirinya cukup licin "Aku masuk Lu"

"Tusuk aku dalam-dalam Sehun"

"Dengan senang hati deer"

"HHHHHHH!"/"AHHHHH"

Sehun menggerang menikmati penisnya yang ditelan anus Luhan, ia mendongak menikmati rasa nikmat ini.

Begitu pula Luhan, sensasi ini begitu hebat! Terasa pedih dan panas sekaligus, membuatnya merinding nikmat.

Sehun mulai menggerakan pinggulnya dan terus menghantam G-Spot Luhan.

"AAAH! AH-HH-ENGHHH-HH-HH-AAAHH"

Erangan ... desahan ...

Bagaikan melodi yang menghiptonis keduanya untuk terus bergemul, menyatu, bercinta dengan penuh hasrat.

Sodokannya keras dan cepat layaknya mereka yang hampir mati diladang pasir tandus.

Seperti bangun dari kesengsaraan yang kehausan dan kelaparan.

Seperti selangkah lagi menuju oasis yang indah.

Sehun menghentakan punggulnya, menciptakan bunyi daging yang bersentuhan dan bunyi becek.

"Hhgg! Akuh hampirh – sampai! Fash-theerhh!"

Luhan menggerang nikmat, ia menarik pundak Sehun dan mencium lelaki itu.

"Bersama" Desis Sehun di sela ciuman mereka. Ia menggerang lalu ambruk diatas tubuh Luhan "Rusa" Bisiknya mengecup bibir Luhan kecil masih menindih tubuh pria dibawahnya.

Permainan kali ini sedikit lebih lama dari biasanya dan lebih nikmat tentunya.

Seperti tenaganya terkuras habis, seperti setiap tumbukan menyedot energinya.

Sehun dan Luhan seperti pria yang pertama kali merasakan nikmatnya bercinta.

Seperti merasakan sex pertama kalinya.

Luhan membuka matanya menatap wajah Sehun yang menutupi pandangannya, Sehun tertidur dengan menindihnya, tapi Luhan menikmati tubuh Sehun yang berat dan lebar menindihnya.

Rasanya hangat dan ... Luhan merasa ...

Ia melingkatkan tangannya, mendekap Sehun lembut.

Rasanya seperti memiliki lelaki ini seutuhnya.

Dan mereka tertidur.

.

.

.

Luhan mengerjapkan matanya lelah, ia tertidur dengan Sehun yang menindih tubuhnya.

DEG!

Luhan menatap horror dua bocah mungil yang berdiri sambil menyibak tirai kelambu disisi Sehun, di tempat tidur mereka.

Dua anak yang berparas sama itu mengerjap bingung.

"Siapa?" Tanya Luhan bingung.

"O-eum, Yena Imnida"

"Yuna imnida"

Luhan mengangguk memegangi pinggang Sehun yang menutupi tubuhnya, astaga! Sehun bahkan telanjang bulat tanpa ditutupi selimut! Anak-anak ini melihat bokong sialan Sehun kalau begini caranya! Luhan tidak sampai menjangkau selimut.

Ia berdehem canggung "Apa yang kalian lakukan disini?"

Bocah yang memakai dress pink menunjuk Sehun "Oppa" Ujarnya.

"Dia oppa kalian?"

"Ya"/"Ya"

Luhan menghela nafas "Bisa kalian tunggu sebentar? Seingatku dikamar ini ada sofa di dekat perapian"

Dua bocah yang umurnya sekitar 6 tahun itu saling tatap ragu, lalu memandangi Luhan lagi.

"Kalian ingin berbicara dengannya kan?" atau ingin menonton tubuh telanjang kami? Tambahnya dalam hati.

Meraka mengangguk.

"Setidaknya biarkan ia memakai baju dulu"

"Tapi kenapa Oppa tidak pakai ba-"

"Sst, Yena-ya, sebaiknya kita tunggu dulu. Nanti Sehun Oppa marah"

"Hah ... baiklah"

Luhan tersenyum canggung dan dua bocah itu akhirnya menutup kembali kelambu mereka. Ia menghela nafas mendorong tubuh Sehun yang menindihnya.

"Nyenyak sekali dia tidur" Gerutu pemuda itu kesal memilih mengambil jubah maroon yang berada diujung tempat tidur dan memakainya, mengikat talinya erat-erat agar dadanya yang penuh bercak tidak terlihat. Ia segera turun dan mendapati dua makhluk mungil itu tengah berunding dengan berbisik di sofa.

Luhan kini sadar kalau ruangan ini lebih besar dan lebih mewah jika dilihat disiang hari, dinding yang bergaya Victorian, lukisan, furnitur mahal, perapian yang bergaya klasik, semuanya sangat berkelas.

Dimana ini? pikir pemuda itu bingung.

Masih di korea selatan kan? Pikir Luhan saat melihat jendela raksasa disisi lain tempat tidur yang menunjukan pemandangan halaman luas yang nampak seperti taman.

Luhan menaikan sisi tirai yang mengarah kejendela –Anak kembar tadi membuka tirai yang mengarah ke pintu- dan menggoncang tubuh Sehun pelan.

"Hmm"

"Bangun"

"Hhhm, Luhan?" Sehun bertelentang malas dan merenggangkan tubuhnya pegal "Ada apa, hhuh .. silau" Matahari mengarah ketempat tidur karena tirai yang mengarah ke-jendela dibuka Luhan.

"Ada apa?"

"Ada dua bocah yang bernama Yena dan Yuna"

Sehun menatap Luhan.

Luhan mendengus saat melihat wajah lelaki itu tidak fokus.

"Dan mereka ada disini"

"Kenapa kau memakai baju? Aku ingin melihat tubuh mu"

"Persetan, cepat pakai celana mu. Mereka ada dikamar"

Sehun mendengus kesal mengambil boxernya dan memasangnya malas.

Ia berjalan menghampiri dua bocah kembar yang asik berbisik, dua bocah itu langsung kaku saat melihat Sehun yang duduk disofa single "Hei" Sapa Sehun sambil menguap malas.

"Selamat pagi Oppa" Sapa Yena dengan wajah datar.

"Oppa" Yuna tersenyum kecil.

"Apa yang membawa kalian kemari?" Sehun meminum susu cokelat yang sisa setengah yang mungkin milik salah satu dari dua bocah itu.

"Kami kemari untuk berterimakasih atas hadiah yang Oppa kirimkan seminggu yang lalu saat ulang tahun kami" Yuna tersenyum lebar.

"Hm, Terimakasih Oppa. Eomma menyuruh kami berterimakasih secara langsung"

"Sama-sama"

Yuna bergerak tidak nyaman dan melirik Luhan yang berdiri didepan tempat tidur "Siapa Oppa yang disana, Oppa?"

"Oh, perkenalkan aku Luhan" Luhan tersenyum kecil.

Dua gadis mungil itu langsung berdiri dan membungkuk hormat memberi salam.

"Eum, sebaiknya aku tinggalkan kalian sementara. Aku akan mandi" Luhan mengendikan bahu.

"Di sana ada beberapa pakaian yang kemarin ku bawa untuk mu" Sehun menunjuk dua papper bag gucci yang ada dibawah meja nakas disamping tempat tidur.

"Hm, thanks"

...

Yena dan Yuna bergerak gelisah saat Sehun tidak mengatakan apapun selain memakan apel yang disiapkan pelayan "Jadi kalian sudah kelas berapa?"

"Kami belum sekolah" Yena memasang wajah jengah.

"Oh" Sehun mengangkat bahu acuh "Berapa umur kalian?"

"Sudah ku bilang yang menulis surat ucapan itu bukan dirinya" Bisi Yena pada Yuna.

"Tapi dia tau apa yang ku inginkan" Bisik Yuna sambil melirik Sehun takut.

"Tahun ini kami akan masuk sekolah" Ujar Yena duduk tegak.

"Appa menyuruh kami masuk ke-asrama biarawati" Adu Yuna berlinang air mata "Dia bilang anak perempuan hanya akan membawa masalah dan tidak bisa apa-apa" Yuna menghela nafas sedangkan Yena terdiam dengan wajah marah.

"Eomma tidak bisa berbuat apa-apa untuk membatalkan niat Appa" Ujar Yena mendengus kesal "Setidaknya bantu kami, kata Dasom eonni Cuma Oppa yang bisa membantu"

Sehun menatap adiknya datar, ia sama sekali tidak mengenal dua adiknya ini karena ayahnya memang tidak menyukai anak perempuan dan dua adiknya dirawat oleh pengasuh profesional di mansion bagian selatan yang tidak pernah ia kunjungi.

"Apa salahnya dengan asrama? Bukankah kalian jadi lebih nyaman tidak bertemu dengan Appa?"

Yena dan Yuna terdiam menunduk.

Sehun menatap Luhan yang berkecak pinggang dibelakang dua adiknya dengan ekspresi marah.

"Kenapa? ada ada yang salah"

Luhan menghela nafas "Boleh aku bergabung"

"Silahkan" Sehun mendengus melihat Luhan yang meminta izin.

"Sehun, asrama itu mengerikan, apalagi asrama biarawati" Luhan menghela nafas "Disana peraturannya sangat kekat, kau tidak bisa memilih untuk makan dan terkadang harus mandiri"

Luhan menatap Sehun yang menatapnya datar "Mereka masih kecil, dan terbiasa hidup enak"

"Itu supaya mereka bisa mandiri"

"Hiks ... Yuna takut ... Sujin bilang asrama biarawati itu mengerikan dan susternya pada galak" Yuna menangis . Yena memeluk Yuna "Ssst jangan menangis, sudah ku bilang tidak ada yang bisa diandalkan dirumah ini. Ayo kita pergi" Yena menarik Yuna lembut dan mereka membungkuk hormat pada Sehun dan Luhan lalu berjalan pergi.

...

"Kau jahat Sehun! Mereka adik mu dan kau tidak mau membantu mereka, ada apa dengan orang tua mu yang mau memasukan anak perempuan mereka yang masih kecil ke asrama biarawati" Luhan mendengus kesal menatap Sehun tajam.

Sehun beranjak dan duduk dipaha Luhan sambil tertawa geli melihat wajah sebal kekasihnya "Sudah lama rasanya kau tidak memasang tampang garang seperti ini"

"Stop Sehun! Aku sedang bicara"

"Tidak perlu memikirkan mereka, mereka punya kehidupan sendiri sayang ... yang terpenting itu aku dan kau" Sehun mengecup dagu Luhan dan langsung tersungkur ke-karpet karena dorongan tiba-tiba.

"Ya! apa masalah mu"

"Yang bermasalah itu kau Sehun, jelas-jelas adikmu meminta tolong"

"Kau ingin aku menolong mereka bagaimana?" Sehun duduk dibawah kaki Luhan dan menggenggam tangan Luhan lembut sambil mengecupinya gemas.

"Setidaknya jangan biarkan mereka masuk asrama, mereka ingin masuk sekolah dasar biasa Sehun"

"Baiklah, akan ku bicarakan nanti. Hm?"

"Janji?"

"Hm, janji"

Luhan tersenyum mengecup kening Sehun "Terimakasih"

"Ngomong-ngomong ini dimana?"

"Di Mansion keluarga Oh" Ujar Sehun masih mengecupi tangan Luhan "Apa kau lapar?" Ujarnya mendongak dan menatap Luhan yang hanya diam memasang wajah berpikir.

"Ya, sangat lapar"

Sehun tertawa kecil "Sebentar lagi pelayan akan mengantarkan sarapan ke sini" Sehun terdiam saat mendengar suara ketukan pintu "Nah, itu dia" Ia menyeringai "Masuk"

Dua orang pelayan berseragam masuk dengan langkah hati-hati dan mata mereka bergerak mencuri-curi melihat siapa gerangan pemuda yang duduk di sofa dengan tuan muda meraka yang bersila dikarpet dibawah pemuda itu, tapi mereka hanya diam dan mengatur beberapa menu makanan di meja dengan rapi.

Sehun menyenderkan kepalanya dikaki Luhan sambil fokus pada smartphone-nya, sedangkan Luhan sudah mencemot salah satu sandwitch isi daging sementara pelayan masih menata minuman.

"Lu, siang ini aku ada rapat yang tidak bisa di hindari. Apa kau mau ikut ke kantor?"

"Tidak perlu, aku akan ke restoran. Aku sudah terlalu sering membolos"

Sehun menatap Luhan "Aku sudah meminta izin untuk mu di restoran, hari ini kau libur"

Luhan merenyit tidak suka "Siapa yang mengizinkan mu melakukan hal itu"

Sehun menatap Luhan yang nampak kesal.

"Apa hak mu meminta izin atas diri ku"

Sehun terdiam sejenak "Luhan" Ia menghela nafas "Sebenarnya ada sedikit masalah" Sehun terdiam sejenak membiarkan dua orang pelayan itu keluar dan menutup pintu.

"Aku tidak ingin kau terbebani, tapi kau berhak tau" Sehun menyeringai kecil "Saat ini publik sedang gempar dengan hubungan kita"

Luhan menatap kaget, ia tidak menyangka akan secepat ini. astagaa, apa yang akan publik pikirkan tentang dirinya?

Semua pemikiran terburuk muncul begitu saja di otak Luhan, dirinya? dengan Oh Sehun si pewaris terkaya di korea selatan? Hubungan sesama jenis? Dia menjadi jalang penggoda? Oh tidak!

"Hey, berhenti berekspresi seperti itu" Sehun menggerling nakal "Tidak ada foto bugil mu kok"

"Sialan"

"Aku serius, hanya berita tentang hubungan kita. Tidak ada hal negatif yang berarti selain hubungan sesama jenis yang masih tabu bagi beberapa orang primitif, semua berhasil ditangani dengan baik, sayang"

Luhan menatap Sehun ragu.

"Ayolah, media saat ini berada dibawah kendali ku kalau kau ingin tau" Sehun terdiam sejenak memasang wajah berpikir "Tapi wartawan mungkin tetap akan menyerbu informasi dari mu"

"Boleh aku pinjam ponsel mu" Luhan menatap Sehun tajam.

"Sepuluh ciuman"

"Persetan" Luhan mendengus memilih mengambil ponselnya, ah! Dimana ia meletakan benda itu, didalam tas? Didalam saku celana?

Sehun menarik kaki Luhan sehingga pemuda itu kembali terhempas di sofa empuk. Lalu mengambil Laptop yang ada di-rak meja. Sehun duduk disebelah Luhan dan membuka MacBook-nya santai "Seharusnya, Seulgi dan Jason sudah mengurusnya dengan benar" Gumam Sehun mulai membuka berita harian.

"Lain kali aku ingin duduk seperti ini dan menonton film dengan mu" Ujarnya menatap Luhan gemas dan mencuri kecupan di bibir pemuda mungil itu.

"Yack, berhenti menciumi ku! Kau bahkan belum mandi" Luhan mendengus mencubit perut Sehun kesal membuat lelaki yang lebih tua memekik sakit "Kau boleh menonjok ku, tapi jangan mencubit Lu" Sehun mendengus menggosok-gosok perutnya yang berotot, seharusnya tadi ia kencangkan saja ototnya agar Luhan tidak bisa mencubit dagingnya, huh ...

Luhan menyeringai sinis "Dengan senang hati aku akan mencubiti mu untuk seterusnya" Luhan mengulurkan tangannya lagi untuk mencubit Sehun, wajah nakalnya berubah jadi kernyitan di dahi "Ah sial" Gumamnya saat perut Sehun menjadi keras "Ah sialan" Erangnya lagi dan mengundang tawa Sehun.

Gyut!

Dengan gerak cepat Luhan mencubit kulit paha Sehun dan menuai erangan kesal lelaki itu "Ah, sakit sayang, kulit ku ini sensitif" Sehun menggenggam pergelangan tangan Luhan "Lepas my deer" Ujarnya memohon dan karena tidak tega Luhan melepaskan cubitannya. Sehun menyingkap celananya dan menatap pahanya yang memerah, ia menatap Luhan kesal "Kalau mau menandai ku kau bisa menghisapnya dengan bibir mu" Sehun mendengus "Apa perlu ku ajari cara halusnya"

"Tidak perlu" Luhan merona menatap bagian dada dan leher Sehun yang memiliki bercak kemerahan samar hasil ulahnya "Kalau itu aku juga bisa"

Sehun tertawa dan mencubit pipi Luhan gemas "Teruslah merona pada ku dan hanya boleh merona karena ku, okey"

"Ck! Cepat mandi sana!"

"Uh, baiklah" Sehun mengecup pipi Luhan sekilas dan beranjak dari sofa.

Luhan mengambil alih MacBook Sehun dan membacannya dengan teliti, wajahnya memerah seperti tomat saat namanya berada di urutan pencarian nomor satu di Naver.

Beberapa menit ia larut dalam membaca beberapa berita tentang dirinya, ia kadang tertawa saat membaca judul topik "Oh Sehun akhirnya terpikat oleh kecantikan chef berwajah cantik" Apa-apaan coba "Pria ini berhasil mencuri hati Oh Sehun si pewaris no.1 Daehan grup dan juga direktur OSH Co." Menggelikan, pikir Luhan. Ada banyak berita menggelikan lain seperti "Chef Lu yang berhasil memikat pria dan wanita" Luhan tidak habis pikir, tapi ada saja beberapa yang memberitakan hal negatif tentangnya, Luhan mendesah malu saat ada beberapa media yang memberitakan kalau dirinya menggoda Sehun, dirinya penghancur pertunangan Sehun. Dapat dimengerti karena hal tersebut tidak dapat di tutup-tutupi, Luhan mendesah kesal saat melihat komentar nitizen yang menghujat dirinya, dan merona saat melihat beberapa fotonya bersama Sehun tersebar.

"Hei sayang" Sehun mengecup pipi Luhan, aroma sabun dan sampho menguar dari tubuh lelaki itu, Sehun mengenakan kaos hitam dan celana cokelat tua selutut, ia ikut duduk disebelah Luhan.

"Bagaimana beritanya?" Sehun menatap layar dipangkuan Luhan dan mendapati beberapa komentar dan artikel yang memuat berita negatif. Luhan hanya menjawab gendikan bahu.

"Eoh? Mungkin masih terasa menyebalkan selama beberapa hari kedepan. Sepertinya Seulgi tidak becus dalam pekerjaannya kali ini" Sehun mendengus kesal ikut membaca beberapa berita yang terpampang dilayar.

"Shidae Grup mengakhiri kontrak iklan dengan mu dan beberapa kontrak mu diakhiri sebelah pihak karena merusak pencitraan" Komentar Sehun pada berita tentang karir Luhan di dunia entertainment.

Luhan menutup MacBook itu dan menatap Sehun dengan tatapan menyelidik "Kenapa aku merasa kau tidak benar-benar menyesal dengan berakhirnya karir ku?"

Sehun tertawa kecil "Sudah ku bilang aku tidak suka berbagi" Lelaki itu menyeringai menggigit cuping telinga Luhan gemas. Luhan mencoba mempertahankan tampang marahnya namun lelaki ini begitu lihai dalam menggodanya dan Luhan memekik saat tangan Sehun menggelitik perutnya "Hentikan! Cukup! Ahaha ah! Sehun berhenti brengsek! Geli!" Luhan mendorong Sehun kesal.

Tidak tega karena Luhan hampir menangis karena geli, Sehun melepaskan cengkramannya membiarkan pemuda itu mengumpat tidak jelas dengan bibir mungilnya dan meminum jus dengan tampang sebal yang menggemaskan.

"Apa berita ini membuat diri mu tidak nyaman?" Sehun menatap Luhan serius saat pemuda itu kembali memasang wajah perpikir keras.

Luhan menatap Sehun "Sedikit" Ujarnya jujur, Luhan tidak terlalu mempermasalahkan media atau pandangan buruk mereka. Entah kenapa ia merasa tenang, ia tidak merasa gelisah atau apapun.

Apa karena Sehun?

Apa karena ia begitu mempercayai lelaki ini?

"Aku percaya pada mu" Ujarnya.

Dan mengundang senyuman hangat Sehun "Terimakasih, aku mencintai mu" Sehun mengecup bibir Luhan dan mengusap kepala pemuda itu sayang.

"Yaaah, walaupun sedikit memalukan jika nanti harus menjelaskannya pada teman-teman. Ah! Apa yang akan dipikirkan mantan-mantan ku setelah ini!" Luhan teringat kehidupannya bersama teman-temannya yang hobi membully itu "Pasti kurcaci itu membully ku habis-habisan" Luhan mendesah ia membayangkan reaksi teman-temannya nanti dan tertawa kecil "Ku harap fans-fans ku tidak kabur"

Sehun yang menangkap nada menyesal saat Luhan berharap fans-nya tidak kabur itu mendengus "Maafkan aku yang tidak menyesal membuat fans mu kabur" Sehun menyeringai.

"Yah, tidak masalah. Cukup punya fans fanatik seperti mu saja sudah membuat ku pusing" Luhan menyeringai mengejek dan dihadiahi kecupan mesra dari Oh Sehun.

DEG!

Luhan mendorong dada Sehun dan menatap kaget wanita yang berdiri angkuh di depan mereka. Sehun menyadari tatapan Luhan dan menoleh kebelakang "Eomma?" Sehun beranjak dari sofa dan memeluk ibunya gemas "Apa kabar" Ia tersenyum kecil.

"Aku tidak tau harus lega atau kesal melihat mu tersenyum ditengah keributan yang terjadi di keluarga kita" Sang Ibu mendengus menatap tajam ke arah Luhan "Semuanya benar-benar gempar akan berita dirimu yang memacari laki-laki muda itu, nak" Ujar sang ibu mendesah lelah "Telinga ku sampai panas mendengar telepon dari berbagai pihak yang menanyakan perihal hubungan mu dengannya" Oh Yuri berkecak pinggang kesal "Aku benar-benar kecewa" Wanita itu menatap langit-langit sejenak "Ayah mu benar-benar murka saat ini, ia dalam perjalanan pulang setelah bermain golf bersama teman bisnisnya dan bermalam di villa"

"Aku akan menemui orang tua itu"

Yuri terdiam sejenak menatap Luhan yang berdiri di depan sofa dan menatapnya gugup "Jadi pemuda itu?" Ia menatap Luhan jengah dan Sehun mendengus kesal pada ibunya.

"Kemarilah sayang" Sehun mengusap punggung Luhan setelah berada disampingnya "Perkenalkan, Oh Yuri Eomma ku"

Luhan membungkuk sopan dan memperkenalkan dirinya, pemuda mungil itu gelisah karena Yuri hanya diam.

"Sebenarnya aku kesini karena dapat laporan dari para pelayan kalau kau membawa pemuda itu kesini, mereka canggung ingin kembali kekamar untuk membereskan tempat tidur dan pakaian mu saat kalian bercumbu di sofa" Ujar Yuri santai dan tak acuh melangkah untuk duduk di sebuah sofa single. "Kalian masuk lah" Ujarnya dan beberapa pelayan mulai masuk, memberi salam sopan lalu membereskan tempat tidur Sehun dan membuka gorden lebih lebar sampai cahaya matahari dengan sempurna menerangi kamar bernuansa eropa itu, beberapa mulai mengambil baju kotor di keranjang.

"Apa yang terjadi, apa sebaiknya aku pulang saja? Ibu mu tampak terganggu dengan keberadaan ku" Bisik Luhan menatap Sehun dengan raut gelisah.

"Tidak apa-apa, sebentar lagi dia akan menerima mu" Balas Sehun mengikuti nada bisikan Luhan dan tertawa.

Pelayan lain menyiapkan teh untuk Yuri "Kenapa kalian tidak duduk saja-

Sehun menuntun Luhan untuk duduk dihadapan Ibunya.

Yuri menarik nafas dan menatap Sehun tajam, lalu menatap Luhan "Apa kalian serius? Oh tuhan ... melihatnya saja membuatku geli" Yuri menggerang frustasi "Kalian sadar kan? Kalian tidak sedang- ah! Oh- ini tidak benar, nak"

Sehun mendengus.

"Luhan-ssi, kau tau apa yang kau lakukan sekarang?"

Luhan diam sejenak "Aku sedang melakukan apa memangnya?" Ia menatap Yuri dan Sehun bingung.

"Kau-sedang-memacari-putera ku-yang-seorang-pewaris-dan-keluarga kami adalah sorotan publik akan kalangan atas" Yuri berdehem "Dengan kata lain, kami adalah keluarga terhormat dan kau tidak seharu-"

"Eomma"

Yuri menatap Sehun yang suaranya lebih rendah dari biasanya.

"Tidak bisa kah Eomma hanya mendukung ku?" Sehun menatap lurus sang ibu "Aku jelas tau apa yang ku lakukan, dan tidak ada yang salah dengan Luhan. Aku serius dan aku jelas menginginkannya"

Yuri menghela nafas "Tapi bagaimana dengan Victoria"

"Aku sudah mengurusnya, hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberi kejutan pada mereka" Sehun mengendikan bahu.

"Tapi kalian sama-sama pria Sehun"

"Luhan lebih sempurna dari pria ataupun wanita"

Yuri tertawa sumbang, lalu menatap Luhan yang merona lalu kembali menatap Sehun "Kau tidak akan bisa menghasilkan anak dari laki-laki"

Kini Sehun yang tertawa sinis "Aku tidak perlu anak Eomma"

"Lalu siapa yang akan mewarisi harta mu kelak?"

Sehun terdiam sejenak lalu menatap Luhan lalu menatap Yuri "Aku sedang memikirkan rencana untuk menikmati harta ku kelak, masih ada Jihun yang akan mewarisi perusahaan, Yuna juga nampaknya lebih pintar dari anak perempuan biasanya"

Yuri menghela nafas "Jihun masih sangat kecil, Ayahmu membencinya, ia bodoh, aku bahkan baru saja mendapat telepon dari asrama-nya kalau ia kembali membuat onar"

"Itu karena kalian tidak memperhatikannya"

"Kami mendidiknya seperti kami mendidikmu dulu"

"Tidak sama, Eomma"

Yuri menghela nafas lagi "Tapi memiliki anak untuk pewaris itu penting, sayang"

Sehun menatap Eomma-nya dingin "Anak untuk pewaris ya ... jadi maksud Eomma, Eomma ingin aku bisa punya anak hanya untuk dilahirkan dan membuatnya hidup menyedihkan dengan segala tuntutan yang kalian berikan? Lalu menelantarkannya ke asrama biarawati kalau yang lahir adalah anak perempuan? Sungguh kejam" Sehun berdiri "Keputusan ku sudah bulat, yang ku inginkan adalah Eomma mendukung ku, dan kalau tidak, itu tidak masalah"

"Sehun?"

"Kalau kau menentang ku, dengan senang hati aku akan menjadi lawan mu"

"Oh my! Tentu saja tidak! Eomma akan selalu mendukung mu! Kau adalah anak kebanggaan Eomma, anak kebanggaan keluarga kita!"

"Kalau begitu, aku ingin Eomma membantuku melawan Appa"

"Eoh, tentu saja. Eomma akan berbicara padanya"

"Kita akan bertemu lagi untuk makan malam resmi"

"Ya, aku akan menyiapkan segalanya" Yuri tersenyum lega "Aku akan selalu mendukung mu, dan maafkan aku tentang tadi"

Yuri menatap Luhan yang hanya diam "Maafkan aku, aku senang kau bisa bersama Sehun" Ia tersenyum kecil menepuk pundak Luhan.

...

Selepas kepergian Yuri, Sehun dan Luhan bersiap-siap untuk keperusahaan Sehun.

"Apa kau yakin semua ini akan baik-baik saja? Sehun lihat aku" Luhan menatap Sehun serius dan Sehun menatapnya penuh perhatian "Aku tidak memaksamu untuk membawa hubungan kita ketahap yang serius, kau tidak perlu repot-repot menghadapi semua ini"

Sehun mengusap surai Luhan dan menatapnya dalam "Apa kau lupa? Kita sudah berjanji akan hidup bersama? Aku mencintai mu dan aku percaya pada mu. Apa kau mencintai ku?"

Luhan diam menatap keyakinan penuh dimata Sehun dan mengangguk dengan wajah memerah.

"Kau percaya pada ku?"

"E-eum" Luhan mengangguk menatap mata Sehun penuh keyakinan.

"Bagus, kalau begitu kau hanya perlu tetap berada di sisi ku, oke?"

"Eum!"

"Aku mencintai mu, sayang" Sehun mengecup bibir Luhan, lalu menuntun tubuh pemuda mungil itu keujung tempat tidur dan membantunya menyisir rambut.

"A-aku bisa melakukannya sendiri, sialan"

"Biarkan aku melakukan ini untuk mu my prince" Sehun tersenyum dengan mata menyipir lucu, setelah menata rambut Luhan ia mengambil sepatu jordan Luhan dan memasangkannya ke-kaki mungil pemuda itu.

"Sempurna" Ia mengecup tangan Luhan.

...

Mobil sudah menunggu didepan pintu utama, dan Luhan baru menyadari kalau mansion ini mempunyai 3 bangunan yang sulit dibilang rumah karena terlalu besar, dan mereka berada di bangunan selatan.

Sepanjang perjalanan di Limo, Luhan hanya diam memainkan smarphone-nya, dan Sehun sibuk membahas bahan rapat bersama Seulgi.

Setelah sampai perusahaan, mereka berjalan beriringan menuju lift VIP, dengan beberapa orang yang menatap penuh ingin tau.

Luhan memilih kekamar diruangan Sehun, tempat biasa Sehun beristirahat jika lembur dan tertidur dengan pikiran penuh, sedangkan Sehun sudah pergi bersama Seulgi menuju ruang rapat.

Di tidurnya Luhan bermimpi bertemu sosok villain di film starwar, oh, apa karena ia baru saja menonton thrillernya?

Sang penjahat utama berwajah alien itu menatapnya tajam dibalik jeruji besi "Malam ini ... malam ini akan ku habisi kau! Bahahahaaha!"

Ah, benar ...

Malam ini ia akan bertemu Ayah Sehun, satu-satunya karakter dalam kisah hidupnya yang akan menjadi hambatan terbesar dalam hubungan romantisnya bersama Oh Sehun.

Luhan mengambil nafas dalam dan mengeluarkan LightSaber miliknya.

"Kau kira aku takut? Akan ku hadapi kau! Sialan"

Dan ia berubah menjadi karakter serial tv chinna yang berjudul "Fighter of the dinasy"

"Hiyaaaaaaaaaaa!"

"Seraaaaaaaaaang!"

BRUK!

"AAAAW!"

Luhan terbangun dengan hidung berdenyut sakit.

"Mimpi sialan!"

Dari pada mimpi melawan tokoh antagonis starwar mending mimpi erotis dibelai Sehun, huh.

.

.

.

TBC!

.

.

.

Maafkan updatenya ngaret banget, maafkan juga kalo ada typo, soalnya belum sempat ngedit TT

Disini Bebi nambah beberapa karakter seperti Yena dan Yuna, yang adalah adik kembar Sehun, ada juga Jihun adik Sehun yang masih SMA.

Jadi Keluarga Oh itu ada.

Oh Kyuhyun : Ayah Sehun

Oh Yuri : Ibu Sehun

Oh Sehun : Anak pertama (32 Tahun)

Oh Dasom : Anak kedua (22 Tahun)

Oh Jihun : Anak ketiga (17 Tahun)

Oh Yena dan Oh Yuna : Anak ke-empat (6 Tahun)

Cast Lainnya.

Lee Sooman : Ayah angkat Luhan.

Kris, Chanyeol : Sahabat Sehun dari taman kanak-kanak.

Jongin : Sahabat Luhan dari smp.

Baekhyun : Sahabat Luhan dari kampus.

Kyungsoo : Sahabat Luhan dari smp, teman satu kampus, bekerja di restoran yang sama. Dan juga keponakan Lee Sooman.

Xiumin : Teman Luhan di tempat kerja.

Chen : Pacar Xiumin.

Zitao : Teman satu kampus.

Seulgi : Sekertaris setia Sehun.

Victoria : Mantan Tunangan Sehun.

Dan ada juga Cast yang belom muncul seperti Suho dan Icing. Yohohohoo, ntar mereka datang kok, tenang aja.

JANGAN LUPA FAV, FOLLOW DAN REVIEW KALIAN SANGAT BERARTI UNTUK KUU ~

MAKASIH UDAH BACA!

HAPPY HUNHAN DAY! HUNHAN MONTH! SEHUN BDAY! LUHAN BDAY!

I LOVE HUNHAN!

I LOVE HUNHAN!

I LOVE HUNHAN!

MANSE! MANSE! MANSE! \^-^/

4.535k words

PS. Bebi buat ff baru GS yang judulnya Lonely Crown, silahkan mampir karena lagi butuh banget tanggapan kalian, itu ff comeback gs aku setelah hiatus buat gs lama banget :'' Makasih