CHAPTER FIFTEEN: A NEW ROUND.
Sehun menunggu di Bandara dengan senyum kecil di wajahnya. Hari ini Shixun akan pulang dan ia sedang menunggu ke datangan adik kembarnya itu. Dan ada Kai juga…
Pikiran Sehun kembali pada perpisahan mereka 6 bulan lalu di Rusia. Shixun marah besar pada Kai, Chanyeol, dan Luhan karena kesalahan masa lalu mereka pada Sehun. Shixun jelas membuat agar Kai atau Chanyeol ataupun Luhan tidak bisa dekat-dekat Sehun waktu itu.
Semoga saja mereka sudah baikan, pikir Sehun.
"Hyung!"
Seruan dari suara yang sangat di kenalnya itu membuatnya mengangkat wajahnya. Ia menemukan Shixun berjalan di arahnya dengan senyum lebar dan tangan terbentang lebar. Sehun tak bisa menahan senyumnya dan langsung berlari melemparkan diri ke pelukan adik kembarnya itu. Melihat Shixun dihadapannya justru membuat Sehun menyadari seberapa besar ia merindukan Shixun.
Shixun memeluk erat tubuh ramping Sehun, mengangkatnya sedikit dan berputar-putar membuat Sehun tertawa dan memeluk adiknya lebih erat, tak ingin terjatuh. "Aku merindukanmu, Hyung," bisik Shixun menurunkan tubuh Sehun, menatap wajah Hyungnya dengan penuh kerinduan dan damba.
Sehun tersenyum dan membenarkan poni Shixun dengan lembut. "Selamat kembali pulang," kata Sehun membuat Shixun menatapnya terkejut sebelum tersenyum penuh kebahagiaan.
"Aku pulang," bisik Shixun membuat kakaknya itu tersenyum dan memeluk tubuhnya lebih erat lagi.
Suara deheman menginterupsi momen mereka. Sehun menengok dan memperhatikan rombongan Shixun. Ada banyak mungkin jumlahnya 10-12 orang, Irene satu-satunya wanita diantara mereka. Sehun tersenyum kecil dan mengangguk pada teman-temannya itu.
"Senang melihat kalian kembali," sapa Sehun masih terdengar sedikit datar.
Kris, Luhan, Chanyeol, dan Tao membalas sapaan Sehun itu, sayang mereka tak bisa dekat-dekat dengan Sehun karena Shixun menghalangi mereka. Mata Sehun menatap mata Kai yang menatapnya intens. Ia melirik Shixun yang sibuk berdebat dengan Tao dan tak terlalu memperhatikannya. Sehun kembali menatap Kai dan tersenyum padanya, menyambutnya pulang. Kai membalas senyumnya dengan mulut yang mengucapkan 'aku pulang' tanpa suara.
e)(o
Seminggu telah berlalu begitu cepat sejak kembalinya Kai ke Korea. Kai sudah mengajukan pengunduran dirinya sebagai Agen sekaligus menyerahkan laporan misi terakhirnya di Rusia. Ia menyewa sebuah apartemen yang tak terlalu mahal dan mulai melamar berbagai pekerjaan, menjadi polisi salah satu pilihannya.
Kai masih sulit bertemu dengan Sehun, Sehun tampak disibukan dengan pekerjaannya dan penjagaan Shixun sangatlah ketat sehingga ia tak bisa mendekat pada Sehun sama sekali. Jadi, ia memutuskan untuk mengirimkan sebuket bunga untuk Sang CEO Oh itu berisikan sebuah ajakan makan siang dan nomor teleponnya.
Sehun langsung menghubunginya saat itu juga, begitu menerima buket bunga dari Kai. Sayangnya Kai harus menerima kekecewaan karena Sehun memberitahu bahwa ia tak bisa datang, namun ia berjanji ia bisa meluangkan waktu 3 hari lagi untuk makan malam.
Dan hari itu adalah hari ini.
Kai tak bisa menahan senyumnya sejak bangun di pagi hari. Ia memiliki panggilan interview pagi ini dan itu berjalan cukup baik, Kai sangat percaya diri akan mendapatkan perkejaan itu minggu depan. Setelah interview, ia membereskan seluruh apartemennya. Ia sudah memutuskan untuk mengundang Sehun makan malam di apartemennya.
Sehun datang tepat pukul setengah 8 malam, seperti yang ia janjikan. Pria manis itu menggunakan setelan formalnya seperti yang biasa ia kenakan ke kantor, tapi Sehun terlihat segar seperti habis mandi. Sial aku benar-benar merindukannya, boleh aku menciumnya? Kurasa tidak.
"Aku sempat mandi dulu di kantor sebelum ke sini," kata Sehun menyadari kebingungan Kai.
Kai tak bisa menahan senyumnya mendengar itu. "Kau masih terlihat kelelahan, hari yang berat?" tanya Kai cukup cemas menyadari lingkar mata diwajah— kekasih? Teman? Apa hubunganku dengan Sehun sebenarnya? —Sehun.
"Lumayan," jawab Sehun tersenyum kecil dan memasuki apartemen Kai yang tak sebesar dan semewah apartemen Baekhyun atau Suho dan Kyungsoo, atau teman-temannya yang lain. "Kau tinggal dengan baik," kata Sehun menatap isi apartemen Kai yang sudah tertata rapih.
Kai tersenyum dan mengangguk. "Sewanya tak terlalu mahal dan lingkungannya nyaman. Aku menyukainya," jawab Kai setuju. "Lebih baik kita langsung makan, aku tak ingin kau kelaparan," kata Kai mengedipkan satu matanya pada pria manis itu.
Sehun sedikit merona dan mengangguk, mengikuti Kai ke dapur. Dapur itu sudah dirubah menjadi sebuah tempat yang romantis dan sederhana, ada vas bunga berisi sekuntum mawar merah di kitchen island dimana hidangan makan malam mereka tersedia, penerangan tak terlalu remang hingga mereka tak bisa menggunakan lilin. Sehun tak keberatan sebenarnya.
"Aku tak tahu kau bisa begitu romantis," kata Sehun menggoda Kai.
"Hanya untukmu, Sayang," jawab Kai menyeringai melihat Sehun merona karena nama panggilan yang Kai berikan itu.
Kai menuntun Sehun untuk duduk disalah satu kursi sebagaimana memperlakukan Tuan Putri. Ia mengambilkan makanan untuk Sehun, mengisi gelas Sehun dengan wine murah yang bisa ia temukan di Korea.
"Terima kasih," kata Sehun pelan merona malu dan tersenyum karena semua perlakuan spesial Kai.
Kai balas tersenyum, hatinya membucah bahagia melihat bagaimana orang yang ia cintai merona dan tersenyum padanya. Melihat Sehunnya merona dan tersenyum padanya. Ia tahu ini tidak bisa dibandingkan makan malam mewah nan spektakuler yang pernah Sehun alami, tapi melihat senyum di wajah Sehun sekarang ini, Kai berani bertaruh makan malam ini termasuk 10 makan malam terbaik dalam hidup Sehun.
"Kau sangat sibuk belakangan ini, ada masalah?" tanya Kai sedikit cemas, mengamati Sehun yang mulai memakan makanannya.
"Pekerjaanku sedang mengalami masa sulit, tapi kami sedang mencari jalan keluarnya," kata Sehun tersenyum tak ingin mencemaskan Kai. "Dan aku— um, aku ikut terapi rutin ditemani Shixun. Kau tahu untuk—"
"Itu sangat bagus, Sehun," kata Kai menyela, tahu Sehun tak merasa nyaman untuk menyebutkan kekurangannya itu, penyakit mentalnya. Kai menggenggam tangan Sehun dengan lembut, hatinya merasa begitu bangga melihat orang yang ia cintai ini berjuang melawan kekurangannya.
Sehun bisa memilih untuk tetap menjadi dingin dan takkan tersakiti, namun ia memilih untuk menjadi sembuh seperti orang normal meski ia tahu ia akan merasakan sakit, batin Kai memandang memuja pada pria manis itu.
"Bagaimana denganmu sendiri? Katamu hari ini kau ada interview?" tanya Sehun memandang Kai dibalik bulu matanya.
Kai tersenyum lebar mendengar pertanyaan itu. "Aku bisa bilang aku cukup percaya diri dengan hasilnya," jawab Kai. "Aku dapat panggilan interview lagi di tempat lain, lusa."
Sehun ikut tersenyum mendengarnya. "Itu kabar yang sangat bagus!" kata Sehun senang.
Mereka makan malam sambil mengobrol. Saling bertukar cerita. Kai merasa mereka seperti pasangan kekasih normal lainnya. Bukan seorang CEO dan seorang pengangguran yang membutuhkan pekerjaan. Rasanya menyenangkan hidup normal seperti ini, membicarakan interview kerja, terapi Sehun, dan keseharian lainnya. Kai merasa ia tak masalah menjalani kehidupan seperti ini selama Sehun berada di sisinya.
Setelah mereka makan, Sehun memaksa bahwa ia yang akan mencuci piring dan Kai tak bisa menolak apalagi ketika Sehun cemberut dengan menggemaskan begitu. Setelah beres, Kai mengajak Sehun untuk menonton film bersama. Kai bertanya apakah tidak masalah jika ia memeluk Sehun dan Sehun mengangguk. Pada akhirnya, mereka berakhir dengan Kai berbaring di sofa dengan Sehun dibagian dalam sofa. Kepala Sehun beristirahat di dada bidang Kai sementara tangan Kai merangkul pinggang ramping Sehun dan tangan lainnya terlipat membantali kepalanya sendiri.
"Mungkin terlalu cepat untuk menanyakan ini, tapi aku mencoba mengambil kesempatanku yang sedikit ini," kata Kai tiba-tiba bicara, jelas tahu film yang mereka tonton itu membosankan dan Sehun tak terlalu fokus menonton.
Sehun mengangkat kepalanya, meletakan dagunya diatas dada Kai dan menatap pria tan itu dengan bingung. "Menanyakan apa?" tanya Sehun.
Kai mengusap pipi Sehun dengan lembut. "Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku, Oh Sehun?" tanya Kai menatap tepat ke mata Sehun.
Mata Sehun membulat sempurna, jelas tampak begitu terkejut. Terlihat tak pernah terpikirkan olehnya Kai akan mengatakan ini.
Kai hanya tersenyum sendu melihat reaksi Sehun. "Tidak apa, kita bisa mencoba pelan-pelan. Kau tak perlu menjawab sekarang," kata Kai mengerti.
Sehun mengalihkan pandangannya, menatap dada bidang Kai yang terbalut kemeja –Kai juga memakai pakaian formal untuk makan malam mereka hari ini–. Wajahnya merona malu dan jari-jari kurusnya bermain di kancing-kancing kemeja Kai.
"A-aku mu-mungkin tak se-sesuai ekspektasimu. A-aku akan sibuk bekerja dan terapi, ta-tapi aku akan mencoba," bisik Sehun pelan lalu menatap wajah tampan Kai dengan malu-malu. "A-aku mau menjadi kekasihmu, Jongin."
Kini Kai yang menatap Sehun terkejut. Ia siap menerima penolakan berhubung pendekatannya dengan Sehun tidak terlalu berjalan lancar karena Shixun menghalangi, tapi ia tak menyangka bahwa Sehun benar-benar menerimanya. Menerimaku meski aku hanyalah pria yang baru berhenti menjadi Agen dan tak memiliki pekerjaan, pikir Kai. Menerima aku apa adanya.
"Boleh aku menciummu?" bisik Kai tak bisa menahan perasaan yang membuncah di dadanya itu.
Sehun mengangguk malu-malu dan Kai tak menunggu lebih lama lagi. Mencium bibir yang terus mencuri perhatiannya malam ini dengan dalam. Ia melumat bibir Sehun bergantian, terasa begitu manis bercampur dengan rasa wine yang mereka cicipi ketika makan malam. Ia melesakan lidahnya ke dalam mulut Sehun dan mengajak bermain lidah pria manis dalam pelukannya itu, merasa melayang-layang diatas awan ketika mendengar lenguhan Sehun.
Ia bisa merasakan bagaimana Sehun mencengkram kemejanya dengan erat dan bagaimana pria itu mulai kehabisan nafas. Kai menarik lidahnya dari mulut Sehun dan menghisap bibir manis itu terakhir kalinya baru melepaskan mulutnya dari mulut Sehun.
Sehun menatapnya dengan mata sayu dan terengah-engah, begitu menggairahkan dengan bibirnya yang basah. Kai sangat ingin memakan Sehun malam ini, mencicipi setiap jengkal tubuhnya, memberinya kenikmatan seksual yang membuat pria itu menjerit hingga pagi, membuat suaranya serak dan tak bisa berjalan. Percayalah, Kai sangat ingin. Tapi ia tahu ia harus menahan diri, karena kondisi Sehun. Karena kesalahannya dimasa lalu. Namun Kai tak bisa melepaskan Sehun dari pelukannya, setidaknya tidak malam ini. Ia hanya ingin memeluk Sehun hingga terbangun dari tidurnya.
"Menginaplah disini," pinta Kai menatap Sehun yang masih terengah-engah.
Seperti dugaannya, Sehun tampak terkejut. Dan panik.
"Aku takkan melakukan apapun, aku janji. Aku hanya ingin memelukku. Hanya memelukmu tidak yang lain. Aku janji. Biarkan aku memelukmu," bisik Kai terdengar seperti memohon, mengusap bibir Sehun yang basah.
Wajah Sehun begitu datar, namun matanya tetap begitu hidup. Menunjukan kepanikan dan tampak begitu banyak pertimbangan. Jelas kesulitan untuk memutuskan. Kai tak ingin membebani Sehun, sungguh tak ingin, tapi ia tak ingin melepaskan Sehun malam ini. Ia tak bisa.
"Ba-baiklah," bisik Sehun pelan.
Kai tersenyum lega mendengar itu dan kembali mencium kekasihnya itu dengan lembut. "Terima kasih, sayang," bisik Kai membuat Sehun merona.
A•R
Kai terbangun dan menemukan Sehun sedang menata sarapan untuk mereka berdua. Ia tak bisa menahan senyumnya menikmati pemandangan itu, hal yang sudah ia impikan selama lebih dari 5 tahun ini. Sehun tak lagi menginap di apartemennya selain ketika makan malam mereka, tapi Sehun selalu mampir setiap pagi sebelum berangkat ke kantornya untuk membuatkan Kai sarapan. Kai jelas tak ragu memberitahu kode apartemen pada kekasihnya itu.
"Pagi," sapa Kai memeluk pinggang ramping Sehun dari belakang dan mengecup pipi pria manis itu.
Sehun merona, meski Kai sering memeluknya dan mencium pipi ataupun bibirnya, pria itu masih saja tetap merona dan itu adalah pemandangan yang tak pernah bosan untuk Kai lihat.
"Pagi," balas Sehun malu-malu. "Apa kau siap untuk interviewmu hari ini?" tanya Sehun menatap Kai yang duduk di sampingnya dan mulai menyantap sarapannya.
"Entahlah, mungkin sedikit keberuntungan dari kekasihku ini pasti bisa membantu," kata Kai menyeringai nakal dan menarik Sehun untuk duduk dipangkuannya.
Sehun semakin merona mendengar itu. "A-apa yang kau inginkan?" tanyanya.
"Ciuman keberuntungan cukup," jawab Kai santai, menikmati bagaimana pipi putih mulus Sehun itu merona mendengarnya dan pria itu tak berani menatapnya.
"Kau harus cepat makan, nanti bisa terlambat," gumam Sehun mengubah topik dan menyuapi Kai.
Kai jelas tak menolak dan langsung membuka mulutnya. Matanya tak lepas dari wajah cantik Sehun yang berhasil membuat paginya begitu terasa indah. Mereka membicarakan jadwal mereka hari ini dan berjanji mereka akan bertemu lagi nanti ketika makan malam.
Saat Kai, Sehun menyiapkan pakaian interview untuknya. Hati Kai merasa sangat bahagia saat ini melihat bagaimana Sehun ada bersamanya dalam kesederhanaan ini. Sehun tak mengeluh ataupun berkomentar apa-apa, justru Sehun terlihat sangat mendukungnya untuk terus semangat mencari kerja dan siap mendengarkan kabar Kai tentang interviewnya. Mereka justru terlihat seperti pasangan yang baru menikah daripada sepasang kekasih, dan Kai takkan meminta lebih dari ini.
Hidup sederhana seperti ini sudah lebih dari cukup, asalkan bersama Sehun, pikir Kai mengamati Sehun yang sedang memilihkan dasi untuk Kai.
Ketika Sehun berbalik dan menatap Kai yang berdiri di depan pintu kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya, ia kembali merona malu terlebih melihat tubuh seksi Kai yang berotot itu.
"A-aku menyiapkan pakaianmu," katanya malu-malu, mengalihkan pandangannya ketika melihat seringaian Kai yang jelas mengatakan ia menyadari Sehun menatap tubuhnya.
Kai berjalan dan memeluk pinggang ramping Sehun lalu mengecup pelipisnya. "Terima kasih, Sayang," kata Kai dan Sehun membalasnya dengan senyuman kecil yang tampak begitu manis bagi Kai.
"Aku akan tunggu di ruang tv," kata Sehun pelan dan beranjak pergi.
Kai sejujurnya masih ingin memeluk Sehun lebih lama lagi, tapi ia tahu ia akan terlambat interview jika terlalu berlama-lama. Ia segera langsung berpakaian dan mengambil dasi yang Sehun pilihkan itu lalu keluar. Sehun sedang memeriksa berkas-berkas yang harus dibawanya untuk interview, tampak begitu fokus seperti seorang istri yang teliti. Lagi, ini membuat kehangatan di dada Kai ketika melihatnya.
"Kau terlihat sangat serius, CEO Oh," goda Kai membuat Sehun sedikit terkejut karena kedatangannya.
"Aku hanya memeriksa ulang," kata Sehun cemberut dan mengambil dasi yang Kai pegang. Ia menghindari tatapan Kai ketika ia mulai memakaikan dasi Kai itu.
"Oh, ya? Dan apakah ada yang ketinggalan?" tanya Kai pelan, rendah, menikmati kedekatannya dengan Sehun saat ini.
Sehun menggeleng. "Semua sudah lengkap," jawab Sehun merapihkan kerah Kai setelah menyimpul dasinya. Pria manis itu menatap wajah Kai sebentar lalu mencium lembut bibir Kai.
Kai tak menutup matanya, ia terlalu terkejut ketika Sehun menciumnya. Ia bisa melihat mata Sehun yang tertutup dan pipi Sehun yang merona, bahkan Kai bisa merasakan debaran keras jantung Sehun karena dada mereka saling menempel satu sama lain.
Sehun menarik wajahnya dan menunduk malu. "Itu ciuman keberuntungan," bisik Sehun malu-malu.
Kai tak bisa menahan dirinya dan menangkup wajah Sehun agar menatapnya lalu menciumnya dengan dalam. Mencurahkan semua perasaannya, rasa terima kasihnya, kebahagiaannya karena memiliki Oh Sehun di sisinya. Ia melumat bibir Sehun dan menikmati bagiamana suara lenguhan terdengar dari bibir mungil itu, menikmati bagaimana Sehun memegang tangannya erat tanda ia juga menikmati ciuman itu.
Ketika Kai melepaskan bibir Sehun, ia tak bisa melepaskan matanya dari wajah Sehun yang merona dan sedikit terengah itu. Begitu cantik dan Kai ingin waktu berhenti agar ia bisa menikmati pemandangan itu lebih lama lagi. Ia sangat mencintai Oh Sehun dan ia akan melakukan apapun demi Sehun terus berada disampingnya.
"Ki-kita harus berangkat sebelum terlambat," bisik Sehun menunduk, memperhatikan kemeja mereka yang masih rapih. Untunglah Sehun memegang tangan Kai ketika berciuman tadi, jika tidak ia pasti sudah meremas kemeja Kai dan itu bukan hal baik.
"Ya, kita tak boleh terlambat," kata Kai sedikit serak dan mengecup kembali bibir Sehun dengan lembut sebelum mengambil tasnya yang sudah rapih berisi dokumen interviewnya.
Sehun membawa mobil sendiri ke sini. Mereka setuju Kai yang akan membawa mobil Sehun hari ini. Jadi Kai mengantar Sehun dulu ke kantornya lalu pergi ke tempat interviewnya, lalu Kai akan menjemput Sehun pulang sekalian makan malam pukul 7 nanti.
"Semoga beruntung," bisik Sehun mengecup pipi Kai sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Kai tersenyum lembut dan mengusap pipi Sehun dengan lembut. "Jangan lupakan makan siangmu," katanya mengingatkan.
Sehun mengangguk sambil tersenyum kecil lalu pergi keluar dari mobil itu. Wajahnya langsung berubah datar dan dingin, sangat berbeda dengan Sehun yang begitu manis dan menggemaskan ketika bersamanya itu. Hal itu membuat Kai lebih merasa spesial lagi, sangat merasa spesial karena Sehun membuka diri pada Kai.
Setelah tak lagi bisa melihat bayangan Sehun, Kai melajukan mobilnya ke tempat interview. Interviewnya kali ini disebuah perusahaan yang tak begitu besar namun sedang berkembang, mereka menawarinya posisi dibagian keuangan. Sejujurnya Kai tidak terlalu ingat apakah ia pernah melamar ke perusahaan ini, tapi ia takkan melewatkan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan untuk masa depannya dan Sehun.
Mereka mengarahkannya ke lantai paling atas tempat pimpinan perusahaan. Lagi, ini membuat Kai bingung karena seharusnya ia di interview oleh bagian SDM baru ke pimpinan di atas. Ia mencoba tak terlalu memikirkannya dan menunggu ketika disuruh menunggu. Sekitar 15 menit, ia dipersilahkan masuk ke ruangan pimpinan perusahaan itu, tapi yang ia temukan di dalam cukup mengejutkannya.
"Selamat datang kembali, Anakku," sapa ayahnya, Kim Youngmin, yang duduk di kursi pimpinan perusahaan itu.
Dan Kai tak ingin melakukan apa-apa lagi selain berbalik dan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan gedung itu. Meninggalkan semua itu dibelakangnya tanpa sepatah katapun.
e)(o
A FEW WEEKS AFTER THE AGENTS BACK.
Shixun dan Sehun memasuki mobil mereka. Mereka baru selesai menjalani terapi rutin Sehun dan sang terapis cukup terkejut dengan kemajuan Sehun dalam beberapa minggu ini. Ketika pertama kali terapi, Sehun merasa sesak nafas hingga ketika libidonya dipancing dengan film dewasa. Pada pertemuan kedua, Sehun muntah-muntah karena jijik tapi setidaknya ia tak pingsan lagi. Dan perkembangan Sehun terus meningkat di setiap pertemuannya.
Sehun memiliki sesi terapi 2 kali seminggu untuk mengatasi trauma seksualnya dan 2 kali seminggu dengan Yixing untuk mengatasi masalah berekspressinya. Dan Shixun selalu hadir menemani Sehun menjalani setiap terapi itu. Si Bungsu Oh itu mengambil cuti dari Markasnya dan fokus mendampingi terapi Sehun.
Tidur bersama dengan Shixun jelas merupakan obat paling manjur untuk mengurangi mimpi buruknya. Sehun kini tak harus meminum obat tidur untuk menghindari mimpi buruknya lagi. Terkadang mimpi buruk itu datang, namun tak setiap malam dan Sehun bisa tidur dengan nyenyak dengan Shixun bersamanya.
Meskipun kondisiku membaik, tapi Jenguk Grup tidak, pikir Sehun menghela nafas.
"Ada apa, Hyung?" tanya Shixun melirik Sehun yang menghela nafas sambil menyalakan mobilnya.
Sehun menggeleng pelan. "Hanya teringat masalah pekerjaan," jawab Sehun.
Shixun terlihat cemas mendengar itu. "Semakin memburuk?" tanyanya.
"Semakin memburuk," jawab Sehun mengangguk.
"Masih soal Jenguk Grup?"
Sehun kembali mengangguk. "Kyungsoo-hyung telah bicara dengan Suho-hyung. Suho-hyung memilih untuk mundur urusan Jenguk Grup dan fokus dengan memperbaiki hubungannya dengan Kyungsoo-hyung. Baekhyun-hyung masih tutup mulut soal ia dan Suho-hyung, aku masih tak mengerti dengan jelas situasinya," jawab Sehun menghela nafas panjang.
Shixun sudah tahu semua tentang masalah Jenguk Grup. Jelas, Sehun mempercayai Shixun dan mengatakan semuanya termasuk skandal Baekhyun dan Suho. Shixun juga kini mulai mengambil kelas Managemen Bisnis Pribadi dan mulai sedikit-sedikit membantu Sehun mengurus Huntak Grup.
"Hubungan pribadi Baekhyun-hyung berpengaruh dengan Jenguk Grup? Maksudku, kau bilang Suho-hyung sudah mundur dari mata-mata Jenguk Grup, jadi kurasa itu tak lagi penting," kata Shixun sedikit bingung.
"Itu benar. Masalahnya, meski Suho-hyung mengatakan mundur, info ini masihlah bocor ke CEO Heigh. Jenguk Grup baru mengalami kerugian lagi minggu ini. Minseok-hyung dan Jongdae-hyung benar-benar waspada pada Huntak Grup, mereka mungkin berpikir aku atau Baekhyun-hyung yang mengkhianati Jenguk Grup," kata Sehun tak bisa menyembunyikan kesedihan dalam nadanya.
Shixun terdiam sejenak mendengar itu, mantap jalan lurus di depannya. "Apa ada yang kau curigai?"
"Aku tak yakin. Aku ingin mempercayai Suho-hyung benar-benar menyerah dengan Jenguk Grup dan menyudahi skandalnya dengan Baekhyun-hyung, tapi dengan semua kebocoran informasi ini… entahlah," kata Sehun ragu.
Shixun melirik Hyungnya yang mengerutkan keningnya tampak begitu berpikir dalam, begitu terbebani dengan masalah ini. Namun ia tahu ia tak bisa membantu apa-apa selain mendengarkan, setidaknya tidak untuk masalah Jenguk Grup ini. Ia hanya bisa membantu memonitor beberapa proyek yang Huntak Grup jalankan untuk meringankan pekerjaan Hyungnya itu.
Si Bungsu Oh itu mengambil tangan Sehun dan meremasnya lembut, membuat Sehun menatapnya bingung. "Tenang saja, Hyung. Semua akan selesai, pikirkan pelan-pelan dan kita akan mendapatkan jalan keluarnya," kata Shixun menenangkan.
Sehun tersenyum mendengar itu dan mengecup pipi Shixun sebagai tanda terima kasihnya. Ia sangat beruntung memiliki Shixun untuk kembali mendampinginya disaat seperti ini.
A•R
Sehun tak bisa menahan senyumnya ketika melihat Rahee bermain dengan Kai. Rahee tampaknya sudah langsung menyukai Kai meski baru pertama kali bertemu dengan pamannya yang satu itu.
Hari ini Sehun cukup kosong dan berniat untuk mengistirahatkan diri dari semua masalah perusahaannya, ia ingin menghabiskan seharian bersama Kai berhubung Shixun sedang sibuk dengan kelas Manajemen Bisnis Pribadinya dan tak bisa menemani Sehun. Baru setengah jam bersama Kai, Sehun menerima pesan dari kakak perempuan Kai yang mengajaknya main ke rumah karena Rahee sudah ribut ingin bertemu Sehun, jadi Sehun sekalian mengajak Kai untuk bertemu dengan keluarganya itu.
Kai merasa cukup canggung ketika pertama kali bertemu Noona-nya setelah 5 tahun pergi tanpa pemberitahuan. Jungah juga tampak begitu canggung dengan keberadaan Kai dan tak terlalu banyak bicara dengan adiknya itu. Sehun menyadari itu semua, ia tahu kedua saudara itu masih butuh waktu.
"Jadi kau dan Jongin sekarang…?" tanya Jungah duduk disamping Sehun dan memberikan pria manis itu secangkir teh hangat.
Sehun merona mendengar pertanyaan itu dan mengangguk kecil. "Kami— um, baru memulai," jawab Sehun gugup.
"Jadi kau dan Soojung benar-benar tak ada apa-apa? Soojung hanya milik Taemin?" tanya Jungah masih ragu dan tampak tak percaya.
Sehun mengangguk. "Sudah kubilang Soojung seperti saudaraku, aku tak mencintainya secara romantis," jawab Sehun masih sulit mengerti kenapa orang-orang berpikir ia mencintai Krystal secara romantis.
Jungah bergumam mengerti dan mengamati adiknya itu bermain dengan anaknya. "Jongin berubah," komentarnya.
Sehun menatap Jungah dengan bingung mendengar komentar tiba-tiba itu.
"Dengan konteks yang baik tentu saja. Kurasa itu pengaruh darimu," tambah Jungah menjelaskan dan tertawa melihat wajah Sehun yang merona mendengar itu.
"I-itu bukan karenaku," gumam Sehun jelas-jelas malu.
Jungah mencubit pipi Sehun sangking gemasnya sambil tertawa. "Bagaimana keadaan Jenguk Grup?" tanya Jungah mengganti topik.
Sehun menghela nafas mendengar pertanyaan itu.
"Masih tak membaik?" tanya Jungah prihatin, bisa membaca dari reaksi Sehun.
"Sama sekali tak membaik," jawab Sehun mengkonfirmasi. "Jenguk Grup baru mengalami kerugian lagi kemarin karena info yang bocor pada CEO Heigh, aku sedang mencarikan mitra untuk merger dengan Jenguk Grup. Aku bahkan tak tahu siapa yang harus kucurigai dan Minseok-hyung juga Jongdae-hyung mulai kehilangan kepercayaannya padaku."
Jungah meremas lengan kurus Sehun dan jelas tampak simpatik dengan keadaan itu. Ia tahu jelas yang Sehun inginkan adalah menjaga Jenguk Grup untuk tetap utuh dan tak jatuh ke tangan Kim Youngmin dan CEO Heigh, sayang sekali malah kini seperti senjata makan tuan dan Sehun yang dicurigai.
"Kau sama sekali tak tahu siapa yang kau curigai?" tanya Jungah pelan.
Sehun menggeleng lemah. "Awalnya aku masih curiga Suho-hyung, tapi aku tak memiliki bukti sampai sekarang dan aku tak bisa terus-terusan mencurigainya."
"Kau menceritakan ini pada Jongin juga?"
"Tidak. Hanya secara garis besar tentang keadaan Jenguk Grup, tidak detil karena kurasa Jongin takkan tertarik," jawab Sehun cukup heran dengan pertanyaan wanita itu.
Jungah bergumam mengerti kembali mengamati Jongin dan Rahee, tapi menurut Sehun ada sesuatu yang wanita itu tak katakan padanya, seakan menyimpannya untuk kebaikan Sehun sendiri.
"Noona? Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Sehun ragu.
Jungah menatap Sehun, ekspressi tampak tak terbaca dengan senyum –sendu?–. "Berhati-hatilah pada Jongin, Sehun-ah. Aku tak ingin kau kecewa," kata Jungah pelan, kriptik.
Sehun hanya memandangnya bingung dan tak mengerti. Berhati-hati dengan… Jongin?
•TBC•
NO EDIT. MAAPKEUN TYPO T^T
MAKASIH BANYAAAAAAK REVIEWNYAAAA~~~
tanpa kalian apalah arti fic ini :')
DAAAAAAN REUNI KAIHUN-XUNHUN~~~
gimana KaiHun nya? Kurang feelnya yaaa? Maapkeun, aku gak tahu kenapa rada susah buat bikin momen KaiHun dengan kondisi Sehun di fic ini T^T
Aku bakal lebih berusaha lagi balikin nuansa KaiHun di fic ini hehehe
Ini sudah semakin mendekati ending~
Aku usahakan untuk tamatin ini sebelum aku Hiatus, mungkin tinggal 2-3 chapter lagi xD
Semoga masih tertarik yaaaa :3
Mohon reviewnya semuaaaa :D
-willis.8894
P.S: disini tak ada XiuHun (Xiumin Sehun) tapi adanya XUNHun (Shixun-Sehun) hehehehe
