EROTIC NIGHTMARE
Chapter sembilan
...
Write by BeibiEXOl
Plagiat? Go to the hell!
.
.
.
Dasom tidak tau apa yang ia lakukan ini benar atau salah.
Ia hanya melakukan apa yang diinginkan oleh orang yang lebih berkuasa dibanding dirinya. Seharusnya kalian tau, ia hanya seorang perempuan tidak berdaya yang tidak ada untungnya dilahirkan di keluarga bangsawan Oh.
"Unni, apa ini tidak apa-apa?"
"Semua akan baik-baik saja, lagi pula Tuan Oh mengizinkannya"
Tuan Oh, tidak ... Tuan Oh kali ini bukan Kakaknya yang kejam dan tampan, melainkan Tuan Oh, Ayah jahat yang kejam dan mengerikan.
"Apa yang akan Unni lakukan padanya? Kalau Oppa ku sampai tau, ia tidak akan segan untuk membunuh mu"
Victoria tertawa sinis "Maka dari itu aku meminta mu untuk tutup mulut. Rencana ini akan berakhir dengan mulus dan dirimu hanya perlu menjadi penonton dari sini, bocah"
Dasom menelan ludah kering, ia menatap nanar Victoria yang nampak seperti jelmaan iblis wanita.
Apa yang ia lakukan ini benar?
Tidak.
Ini salah.
Sejak awal ia telah salah.
Seharusnya ia tidak menuruti keinginan Ayahnya dan Victoria untuk menjebak Luhan.
...
Flashback
Awalnya Oh Kyuhyun membuat jalan untuk Sehun pergi ke Amerika dengan membuat suatu keadaan dimana ia harus pergi untuk mengatur sendiri perusahaan cabangnya.
Kyuhyun memiliki informasi dari mata-matanya kalau Sehun punya niat untuk menguasai Victory Company atau lebih tepatnya Luhan akan menerima saham pada Victory Company.
Ia berang karena Sehun begitu bodoh mempercayakan perusahaan sebesar Victory kepada Luhan yang hanya pemuda biasa.
Dan sebelum saham, ah tidak ... Kyuhyun bukannya mempermasalahkan saham Victory itu, setitik saham itu hanyalah awal dimana kelak Luhan mungkin saja akan terus menggerogoti keuntungan milik anaknya. Mungkin saja anaknya yang cinta mati itu akan menyerahkan segalanya kepada Luhan dan melupakannya. Begitulah pikir Kyuhyun.
Dan semuanya menjadi mudah saat calon menantunya yang asli memberi rencana gemilang.
'Rencana menghancurkan Luhan'
Kyuhyun hanya tersenyum keji saat memikirkan apa yang akan dilakukan menantunya itu, yang pasti 'Rencana yang berujung, Sehun akan membuang Luhan'
Ia bahkan menyuruh anak perempuan tidak bergunanya untuk membantu rencana Victoria, setidaknya Dasom tidak melulu menyebalkan, bukan?
Begitulah pikirnya.
Rencana ini akan berhasil.
Begitulah yang ia yakini.
...
"Kumohon datang Oppa, Oppa bisa mengajak teman-teman Oppa. Aku akan menunggu mu, ne"
Sedangkan Dasom, dengan mini dress navy mewah tengah memasang senyum palsu.
Hari ini ulang tahunnya, dan dirayakan di club mewah.
Ia mengundang teman-temannya dan tentunya Luhan.
Dasom menatap Luhan yang tersenyum lebar padanya, pemuda mungil itu bahkan memberinya kado Kalung Cartier.
Dan seorang pemuda menariknya, memaksanya keluar dari Club.
"Luhan Oppa, tolong aku!" Dasom berteriak kearah Luhan yang tengah menatapnya.
"Lepaskan aku brengsek, apa yang kau lakukan!" Pekiknya panik saat pemuda asing itu terus menariknya. Ia menatap takut Luhan yang tengah berlari kearahnya dengan raut khawatir.
Luhan berhasil menangkap pergelangan tangannya saat mereka berada disamping gedung club yang sepi.
"Apa-apaan kau! Lepaskan dia, atau ku panggi polisi!"
Pemuda asing itu menatap Luhan dan menyeringai.
Dasom ingin berteriak saat pemuda asing lain berdiri dibelakang Luhan dan memukul tengkuk pemuda itu.
Astaga ...
Ini benar-benar salah.
Tubuh Luhan dimasukan kedalam mobil oleh dua orang pria asing. Satu pemuda yang menariknya dan satu lagi yang memukul tengkuk Luhan.
Tangan Dasom gemetaran, namun ia memberanikan dirinya untuk menghampiri mobil tersebut sebelum mobil itu membawa Luhan pergi entah kemana.
"Nona Dasom tidak perlu ikut, kami yang akan membereskannya mulai saat ini" Ucap satu pemuda lagi yang sejak tadi ada dimobil di kursi kemudi. Kali ini Dasom mengenalnya, dia adalah pemuda yang bekerja untuk Victoria.
"A-aku ikut"
"Anda tidak perlu ikut, lagi pula nanti bukanlah acara yang seharusnya anda lihat kan" Pemuda itu menyeringai aneh. Dasom mencoba menelan ludahnya susah payah dan menatap mantap pemuda keji didepannya "Bagaimana pun aku juga berperan dalam rencana ini. Biarkan aku ikut"
"Baiklah kalau itu mau anda, silahkan masuk"
Mobil tersebut menuju kesebuah gedung yang masih dalam tahap kontruksi. Semua ini benar-benar berjalan mulus, hah ... tentu saja, yang merencanakan inikan Ayahnya dan si Victoria itu. ah ... apa yang harus ku lakukan.
"Sekali lagi saya peringatkan. Ini bukanlah sesuatu yang bisa nona muda seperti mu tonton"
.
.
.
Ini seperti neraka, Luhan tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan.
Ia terbangun dengan dengan tubuh yang terasa sakit, saat ia sadar ia sudah berada disebuah ruangan kosong dengan ranjang besar berwarna putih dan lampu sorot.
Tiga orang pria bertopeng tengah menatapnya seperti predator haus darah. Ini mengerikan, saat salah satu dari mereka mendekat kearahnya. Dan sialnya tubuhnya terasa panas, sangat panas dan menyesakan.
Astaga ...
Ini pasti karena cairan yang disuntikan ketubuhnya tadi ... obat perangsang kah?
Ia tidak boleh hilang kesadaran.
Ia tidak boleh mengkhianati Sehun. Tuhan ... apa yang harus ku lakukan.
Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba meraih sedikit kesadaran dari dalam dirinya.
Saat ia mulai menerima rangsangan dari pria bertopeng.
Tidak.
Grep!
Ini dia, anting yang berbetuk sepeti paku ini.
Benar!
Pertama-tama ia harus sadar.
Dengan sekuat tenaga dan kesadaran yang nyaris habis. Luhan menarik antingnya kasar, ia bahkan tidak bisa membuka pengait anting hingga lubang tindikannya robek.
Ini masih belum cukup mengembalikan kesadarannya.
"BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN!"
Bodohnya diriku, bukannya aku sadar yang ada aku akan mati ...
"SIAL! DIA MEMOTONG NADINYA! APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?!"
"Tidak ada yang bisa kalian lakukan" Suara asing memasuki kamar dan berjalan mendekati tubuh Luhan yang terkulai lemas.
"Bodohnya dirimu" Bisiknya ditelinga Luhan. Luhan membuka matanya dan mengerjap pelan.
"Kau ... datang"
Pemuda didepannya diam.
"Maafkan aku" Luhan menggenggam tangan itu dan jatuh pingsan karena kehilangan banyak darah.
.
.
.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?"
Sehun menatap Seulgi tajam "Bagaimana bisa- aku baru mengetahui ia terluka- tiga hari setelah kejadian" Ujarnya menahan luapan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Mereka tengah berada bandara, Sehun melepas dasinya kasar sambil berjalan tergesa menuju mobil jemputan mereka.
"Tuan Muda Luhan baik-baik saja sekarang, ia juga sudah boleh pulang kerumah. Maafkan kelalaian saya tuan, kru kami tidak ada yang tau tentang kecelakaan itu, dan sialnya informasi dari pihak korea tidak sampai ketelinga saya"
"Tutup mulut mu brengsek, atau aku juga akan membunuh mu seperti tikus kotor itu"
Seulgi menunduk takut, tentu saja! Semua terjadi begitu cepat dan datang begitu tiba-tiba, rasanya seperti mereka tengah duduk di meja makan outdoor untuk makan siang sambil menikmati cuaca cerah yang indah lalu tiba-tiba tanpa adanya awan hitam mereka tersambar oleh petir!
Salah satu bawahannya ada yang berkhianat dan menutupi kasus penculikan Luhan ketelinganya hingga tiga hari, ia tidak akan tau apapun kalau saja Jackson tidak menanyakan kabar Sehun.
Selama mereka di Amerika, semua baik-baik saja, walaupun Sehun sempat panik tidak mendapat jawaban telpon dari Luhan seharian penuh, tapi akhirnya Luhan menjawab telponnya, mereka berhubungan seperti tidak pernah terjadi masalah karena Luhan tidak memberitau Sehun perihal kasus penculikan itu.
Tapi, sayangnya tidak ada satupun yang menyadarinya.
Mereka pikir dengan menunda informasi tentang Luhan ini, mungkin masalah – mungkin saja tidak akan lebih parah.
Tapi mereka salah.
Sehun adalah bom waktu.
Hanya menunggu dirinya akan meledak dan menghancurkan segalanya.
.
.
.
Sehun memasuki gedung apartement Luhan diiringi Seulgi.
"Tuan"
Jackson dan dua bawahannya menyambut dengan wajah gelap.
Sehun mendengus jengah dan tanpa aba-aba satu kepalan tangannya meluncur begitu saja diwajah Jackson.
"Aku tidak akan mengatakannya saat ini, jadi ku harap kau tau apa yang harus kau lakukan, brengsek"
"Saya mengerti tuan"
"Dan kau, pastikan sialan ini tidak membuat kesalahan" Sehun menatap Seulgi tajam.
"Baik tuan"
Sebelum melangkah memasuki apartement Luhan, Sehun berkata pada para bawahannya dengan aura gelap hingga seorangpun tidak ada yang berani mengalihkan pandangannya.
"Mereka yang berani menentangku akan merasakan penderitaan yang lebih buruk dari kematian"
Setelah sosok Sehun menghilang, hanya tersisa orang-orangnya yang masih berdiri kaku. Mereka yang sejak tadi bergetar ketakutan seakan membeku tak berkutik.
Beberapa orang yang ada disini bersumpah dalam hati mereka. Mereka tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
Seulgi menatap Jackson getir "Ini baru permulaan"
"Sebentar lagi mungkin akan ada pembantaian"
"Ya. Segera hubungi rekan-rekan hebat kita dan mari kita buat pelajaran untuk mereka yang sudah meremehkan kita- para 'bayangan' Oh Sehun" Seulgi menyeringai keji. Siapapun yang mengenal wanita ramah ini mungkin tidak lagi mengenalinya saat ini.
Dengan aura gelap Jackson melangkah "Aku tidak sabar untuk bertemu dengan orang-orang mengerikan itu lagi"
"Cih. Kau pun sama mengerikannya"
"Aku tidak menyangka, bos akan mengeluarkan monster-monster ganas itu lagi"
"Tentu saja. Tuan muda Lu adalah seseorang yang sangat berarti bagi bos kita"
"Dan tentu saja kita harus melindungi apapun milik penyelamat kita"
Apapun yang dipikirkan Seulgi maupun Jackson, kita tidak tau. Tapi yang pasti, mereka adalah salah satu dari orang-orang setia Oh Sehun.
.
.
.
Luhan yang tengah bergelut di dapur yang dipenuhi berbagai macam bahan makanan tersenyum kecil saat mendengar suara seseorang yang memasuki apartement.
"Kau datang lebih awal Hyung? Aku baru ingin menata makanannya, kemarilah dan bantu aku- Sehun?!"
Deg
Deg
Deg
"Long time no see XiaoLu"
Ditengah rasa kagetnya, Luhan berusaha memulihkan rasa terkejutnya dan menampilkan senyuman terbaiknya "Sehun, kau pulang lebih awal" Ujarnya dengan nada ceria yang tenrdengar sedikit dipaksakan.
"Yo!" Luhan keluar dari lingkaran dapur dan memeluk hangat kekasihnya.
Sehun, dengan semua kemarahan dan ketakutan yang berkecamuk didalam kepalanya menyambut dengan hangat pelukan Luhan "Aku merindukan mu Rusa Nakal"
Beberapa saat setelah pelukan mereka terlepas Sehun memandangi wajah pemuda yang membuatnya panik setengah mati itu dalam. Ujung bibirnya membiru, keningnya memar kemerahan, pergelangan tangannya terdapat jejak ikatan tali yang diikat dengan kasar dan yang lebih mirisnya ia melihat lubang tindikan telinga Luhan sebelah kiri diplester karena robek, terdapat mark disekitar pundaknya. Benar-benar miris dan menyakitkan.
Rasanya sangat menyesakan.
"Haaah! Lihatlah wajah tertekan Ahjussi ini. Apa ini baru pertama kali bagi mu melihat penampilan pemuda babak belur huh?" Luhan merengut kesal mencubit kedua pipi Sehun.
Luhan menatap manik obsidian milik Sehun, dadanya bergetar takut.
Kenapa ia menjadi setakut ini? bukankah disini a yang menjadi korban? Tapi, kenapa Luhan merasa Sehunlah yang menjadi korban disini?
"S-sehun ... a-aku minta maaf"
Tidak ada jawaban, Luhan memeluk erat tubuh Sehun, berharap perasaan gelisahnya dapat tersalurkan "Sehun katakan sesuatu. Katakan apapun asal jangan diam seperti ini"
Sehun membalas pelukan Luhan dengan singkat, lalu ia memegang pundak mungil itu sambil menatap sang kekasih dengan tatapan teduh "Kau ingin aku mengatakan apa? Aku diam karena aku ingin mendengar mu" Ujarnya lembut mengusap bibir Luhan.
"Hiks ... aku tidak tau harus bilang apa. Hiks! Uhuuu! Beberapa hari ini aku selalu berpikir, aku menyusun kata-kata untuk menjelaskan pada mu. Tapi ... hiks ... aku takut Sehun ... aku ketakutan kalau kau marah padaku ... aku tidak ingin kau merasa terkhianati oleh ku! maaf kan aku! Aku memang bodoh tidak berguna. Hiks! Jika- jika kau ingin meninggalkan ku sekarang ... aku- aku tidak akan membencimu ... ini semua salah ku. Aku sudah membohongi mu dan mmenyebabkan masalah"
"OPPA! Ini semua salah ku! aku yang menyuruh Luhan Oppa untuk merahasiakan kedatangannya kepestaku. Aku akan menerima hukuman dari mu, kau tidak perlu memaafkan ku!"
Luhan menatap Dasom kaget, memang satu hari yang lalu gadis menyedihkan itu menginap di apartementnya karena sudah di-usir. Luhan menarik hingus yang tadi juga keluar bersama air matanya.
"Se-sehun, ini tidak sepenuhnya salahnya. Dia dipaksa oleh ayahnya. Lihatlah! Dasom sekarang bahkan penampilannya sama babak-belurnya dengan ku. ja-jadi ..."
"A-aku mencintai mu ... maafkan aku"
"Hiks ..." Luhan tidak sanggup untuk mengatakan apapun lagi. Yang ia lakukan hanya menangis seperti perempuan dihadapan Sehun.
'Tamatlah sudah. Sehun pasti membenciku sekarang. Aku sudah melakukan kesalahan besar'
"Luhan" Sehun menangkup wajah yang penuh air mata itu lembut, lalu mengusapnya pelan "Aku sangat lega saat melihat kau menyambutku dengan senyuman, kau berbicara dengan normal dan kau masih mencintai ku. Jadi, jangan menangis. Karena aku sangat mencintai mu dan aku tidak suka melihatmu sedih. Oke?"
"Sehun.." Luhan membuka tangannya bersiap menerima pelukan.
Sehun menghela nafas, menatap wajah menggemasakan kekasihnya yang berderai air mata, seperti bayi rusa yang tengah terperangkap di ranting "Tesenyumlah yang lebar maka aku akan memeluk"
Luhan memberikan senyuman kelewat lebar yang membuat Sehun tertawa geli.
"Hey, aku sudah tersenyum lebar sampai rahangku sakit, jadi kapan kau akan memeluk ku?"
GREP
Sehun memeluk erat tubuh Luhan dan menghirup aroma familiar yang begitu ia dambakan, ia memberi kecupan ringan ditengkuk Luhan membuat si empunya bergetar karena geli "Hey- hmpp- ngh"
Tentu saja ini tidak berakhir hanya dengan kecupan.
Lidah Sehun dengan liar mencoba melilit lidah Luhan "Hnggh akh-"
Ciuman terhenti, namun wajah Sehun masih beberapa centi dengan wajah Luhan "Maaf, aku tidak sengaja-"
"Tidak- tidak! Tidak ! aku baik baik saja, aku hanya kaget" Luhan menggeleng panik, lalu menarik tegkuk Sehun dan memberikan lelaki itu ciuman panas.
Tidak terlalu mendominasi, namun hangat dan membara.
"Ngh"
Wajah keduanya memerah karena gairah, mata mereka saling merasuki satu sama lain "O-oh? Dasom!" Luhan menatap sekeliling mendapati Dasom yang sudah berada didekat pintu keluar.
Dengan wajah merah karena malu, gadis itu tersenyum canggung "O-Oh- kalian lanjutkan saja- a-aku akan kelua-"
Biip biip biip
Suara password dan pintu yang terbuka mengalihakan pandangan tiga orang yang ada di ruangan itu.
"Aku masuuk! Oh- Dasom? Apa yang kau lakukan didepan pintu?"
Xiumin tersenyum lebar "Bagaimana dengan makanannya? Aku membawa Jongdae untuk membantu" Ujarnya tersenyum lebar, disusul Jongdae yang membawa kereta makanan untuk meletakan bentou nantinya.
"Ha- hai Xiu- Jongdae"
Dua pemuda itu menatap Luhan dan Sehun bergantian.
"A-apa aku datang diwaktu yang tidak pas?"
Sehun bangkit terlebih dahulu dan menatap Xiumin dengan wajah biasanya "Sama sekali tidak. Ku dengar kalian sedang menyiapkan bekal untuk amal? Silahkan lanjutkan kegiatan kalian" Sehun memberikan senyum ramahnya. "Sangat pas malah. Karena jika aku tidak dihentikan mungkin aku tidak akan sadar dan menyetubuhi Luhan disini, sekarang dalam keadaan tubuhnya yang masih rapuh" Batinnya pahit.
Luhan yang baru saja menyembuhkan diri dari rasa salah tingkah atau – um .. gairah tadi berdehem untuk membersihkan tenggorokannya. Ia menatap Sehun, menunggu perintah apa yang akan diberikan oleh lelaki itu.
Sehun melirik kearah Xiumin dan Jongdae yang sudah mulai bergelut didapur, lalu Dasom yang entah kenapa mengikuti dua orang itu.
Sehun meraih kedua tangan Luhan dan menciumnya lembut.
"Sehun"
"Semua akan baik-baik saja, tidak perlu terburu-buru. Kejadian ini memang belum sepenuhnya selesai jadi kita akan melaluinya sedikit-demi-sedikit, okey?" Sehun tersenyum lembut, mencoba menenangkan perasaan gelisah Luhan.
"Kejadian ini sama sekali belum selesai. Apalagi Ayah dan Victory Company yang ikut terlibat didalamnya. Aku tidak mungkin membahas itu untuk saat ini. luhan terlihat begitu khawatir. Aku tidak boleh menambah beban pikirannya" Batin Sehun lalu mengecup kening Luhan "Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya jadi jangan pikirkan apapun, oke? Kau bisa kembali memasak dengan mereka" Sehun mengacak surai Luhan gemas.
Raut wajah khawatir Luhan berubah menjadi lega, ia mengecup pipi Sehun dan berlari kecil menuju dapur, berbincang dengan teman-temannya menanyakan masalah kemasan dan tambahan makanan.
Sehun menonton kegiatan Luhan yang asik menyusun makanan kedalam kotak bentou, pemuda itu tersenyum senang sambil beberapa kali memasukan beberapa potong sosis gurita kedalam mulutnya.
"Aaaaaaaaah~"
Sehun dari balik counter kitchen mendekat sambil membuka mulutnya dan melahap makanan yang diberikan oleh Luhan.
Dari sisi lain Dason antara geli dan lega melihat tingkah Sehun dengan Luhan. Ini sangat langka melihat Oppa-nya yang kaku itu sangat terbuka kepada orang lain.
DEG!
Tatapan mereka bertemu membuat Dasom merinding ketakutan, rasanya seperti ada hawa dingin yang menyengat tubuhnya.
"Apa kau lapar, mau aku siapkan makanan untuk mu?" Luhan memecah kristal tembus pandang Sehun yang hampir mengenai jantung adik malangnya.
"Hm, boleh" Sehun menatap Luhan memuja dan menyambut kotak bentou mungil dan memakannya dengan lahap.
Tanpa sadar ia tidak melihat Luhan yang sudah tidak lagi berada di dapur.
Setelah membuka kotak bentou kedua, Sehun menatap sekitar dan tidak menemukan Luhan dimanapun.
"Yuuhoooo! Aku membawa lima orang kelaparan lagi kesini"
Sehun hampir tersedak sosis gurita saat melihat lima bawahannya berdiri berjejer dengan rapi dihadapannya dengan wajah sepucat mayat.
"Aku penasaran kenapa tidak melihat Seulgi disini. Jadi aku mencarinya diluar. Beruntung kami bertemu di depan lobby, mereka nampak pucat, sepertinya belum makan jadi aku mengundang mereka kesini. Tee-hee"
"Kenapa kalian kembali kesini! Bukankah aku memerintahkan kalian untuk mengurus masalah Ayah dan Victoria secepatnya!" –Sehun
"Tuan muda Lu mengatakan kalau kau ingin kami kemari. Apa aku salah? Hm .. sepertinya aku tertipu" -Jackson
"Maafkan aku bos! Uhuhu! Tapi aku kelaparan. Aku bahkan baru sadar aku belum makan semenjak kita di amerika sebelum Tuan Muda Lu menyebutkan kata 'Bentou' dan maafkan aku yang memanfaatkan ketidakpekaan mu Jackson. Tee-hee" –Seulgi
"Ka-kami tidak tau apa-apa. Kamu bersumpah!" Tiga orang bawahan Jackson.
"Apa yang kalian tunggu, cepat makanlah ... kami punya banyak stok berlebih" Xiumin tersenyum lebar menyodorkan masing-masing kotak bentou kepada lima orang dewasa itu.
"Maaf kalau tampilannya kekanakan, kami sengaja membuatnya karena isi pantinya memang anak-anak semua" Luhan tertawa kecil.
"Ti-tidak perlu Luhan-ah ... kami akan segera pergi" Seulgi tersenyum miris, ia bahkan tidak sadar berbicara dengan nada formal, bertabrakan dengan panggilan informalnya dengan Luhan biasanya.
"Kenapa kau menolak? Luhan sudah baik hati menawarkan makanan pada kalian. Jadi- cepat-makan"
Glup!
"Ka-kalau begitu ... selamat makan"
.
.
.
TBC
...
Omake
...
Setelah selesai makan
Semua bentou sudah dipack dan disusun dikereta makanan, Xiumin dan Jongdae pergi untuk memasukannya kedalam mobil.
Kini didapur hanya ada Luhan dan Sehun.
Luhan tengan memasukan berbagai macam coklat dan manisan kedalam kotak berukuran seedang, sedangkan Sehun memandangi gerak-gerik kekasihnya itu geli.
"Berapa banyak kau sudah memakan coklat-coklat itu?"
"Eh? Bagaimana kau bisa tau aku memakan coklat-coklat ini"
"Kau penasaran?"
"Eum"
"Kemarilah"
Luhan mendekati Sehun "Ah! Ya! jangan tiba-tiba begitu"
'Astaga, dia benar-benar menggemaskan dengan bibir cemberut begitu'
Luhan yang kini berada dipangkuan Sehun menatap sekeliling dan kearah langit-langit.
"Ada apa?"
"Ani, hanya mencari-cari apa kau meletakan cctv atau sesuatu"
"Oh! Ide bagus!"
"Yack! Berhenti bercanda"
"Baiklah, kembali ketopik. Ada satuhal yang membuatku sangat penasaran. Jadi mendekatlah"
Sehun menghisap bibir Luhan, lalu menjilatnya perlahan, ia menarik tengkuk Luhan untuk memperdalam ciuman mereka "Hnggh hhhh"
Bunyi kecupan basah terdengar samar, lalu saliva yang membentang diantara keduanya menyadarkan Sehun kalau ia sangat merindukan suasana ini.
"Sehun, apa yang kau lakukan" Luhan berbisik lemah saat lidah Sehun bermain dilangit-langit bibit atasnya.
Beberapa detik setelahnya Sehun melepaskan ciumannya dan menatap Luhan dalam.
"Ke-kenapa? Se-sehun- kita tidak bisa melakukannya disini, masih ada beberapa orang diruang tamu" Bisik Luhan dengan wajah memerah. Seulgi dan lainnya memilih makan diruang tamu depan tv karena dapurnya sangat penuh, ia tidak mungkin bercinta disini kan?!
"Ani, aku hanya penasaran. Kenapa coklat yang ada di gigi atas mu itu sangat sulit dihilangkan"
Eh?
Ap-apa?
Luhan menatap mengambil panci terdekat dan menatap pantulan gigi putihnya yang kontras dengan cokelat yang tersangkut diantara gusinya
Sial! Seharusnya coklat itu tidak dikunyah! COKELAT ITU DIEMUT SAMPAI MELELEH LUHAN! huhuhuu! Pria bodoh! Kenapa kau kunyah cokelatnya! Cokelat itu bukan kerupuk Luhan!
Sehun kembali menyatukan bibir mereka, lidahnya menggesek-gesek pada cokelat yang menyangkut digusi Luhan.
Beberapa saat sebelum Luhan pulih dari rasa malunya, Sehun sudah menuntaskan rasa penasarannya "Nah, sekarang tidak ada yang mengganggu pandanganku lagi. Ngomong-ngomong kau tadi makan cokelat yang rasa blackcurrent kan?" Sehun menyeringai bangga, karena ia tau ia benar melihat bungkusan cokelat rasa blackcurrent disisilain meja.
"DASAR AHJUSSI BODOOOOOOOOOOOOH!"
TAAAANGKKKK!
...
.
.
.
...
Disisi lain, Seulgi dan Dasom.
"Aku tidak tau kalau hubungan pria dan pria bisa seseksi itu, Oppa melumat bibir Luhan Oppa. I-itu adalah pemandangan paling panas yang pernah kulihat. Aku tidak menyangka mereka se-bergairah itu" Dasom menutupi pipinya yang memerah.
Seulgi menatap remeh gadis didepannya sombong "hahh ... itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pemandangan yang selama ini ku saksikan" Seulgi menggeleng mengingat tumpukan kejadian erotis Sehun dan Luhan yang menari dikepalanya.
"Di basement ..."
"Mobil"
"Kolam renang!"
"Dan yang paling epic adalah saat mereka habis bercinta saat di villa, waktu itu aku tidak baru saja mengetahui kalau pacar Bos adalah laki-laki dan saat itu tubuh Luhan yang ditutupi selimut dan pundaknya yang dipenuhi kiss-mark! Saat itu adalah pertama kalinya aku bersyukur pada tuhan aku tidak diberinya penyakit epilepsi! Kalau aku punya penyakit epilepsi mungkin saja aku sudah penuh dengan busaa-"/ "TAAAAAANK! / "Waaaaa!"
"DASAR AHJUSSI BODOOOOH!'
Dasom, Jackson dan tiga orang lainnya menatap kearah dapur, walaupun dapurnya tidak terlihat karena terhalang sebagian tembok.
PRAAAAAAANK
Semua orang selain Seulgi berdiri kaget.
Sedangkan Seulgi meminum tehnya santai.
'Pasti Bos menggoda Tuan muda lagi ...'
...
Omake END
...
.
.
.
SORRY TELAT UPDATE YA!
IA TAU KOK CHAPTER INI NGEBOSENIN!
GAADA ENA-ENA HOT-NYA LAGI!
And always typo, soalnya belum aku cek ulang. Mian miaaan
.,.
Seeyounextchapter
belum nemuin nama yang tepat untuk menggantikan BeibiEXOl atau BeibiHunHan.
3.322k
