CHAPTER SIXTEEN: EDGE.
"Kita tak bisa meneruskan ini, kerugian kita terlalu banyak dan CEO Heigh terlalu licin untuk bisa kita tangkap," kata Minseok menghela nafas keras dan memijat keningnya.
Jongdae hanya terdiam dan tenang, tampak berpikir. Sehun sendiri merasa bersalah. Ia tak tahu kenapa, tapi ia merasa bersalah. Ia merasa siapapun yang membocorkan ini adalah orang dari Huntak Grup. Entah Baekhyun ataupun Suho.
"Kita bahkan sampai sekarang tak tahu siapa yang membocorkannya," gumam Sehun.
"Kyungsoo ada bicara lagi denganmu? Tentang Suho dan Baekhyun maksudku," tanya Jongdae pada Maknae mereka itu.
Sehun menggeleng. "Terakhir Kyungsoo-hyung hanya bilang ia dan Suho-hyung akan fokus memperbaiki hubungan mereka, Suho-hyung berjanji padanya untuk menghentikan semuanya dan juga soal Baekhyun-hyung. Baekhyun-hyung sendiri masih tutup mulut soal itu," kata Sehun menghela nafas.
"Mungkin Baekhyun berpikir masalah ini sudah selesai dan tak perlu mengungkitnya lagi. Ia menutup mata dengan kejadian ini," kata Jongdae.
"Itu benar. Akan mudah untuk Baekhyun dengan menutup mata seperti itu," kata Minseok setuju lalu menatap Sehun. "Kudengar kau berkencan dengan Jongin."
Sehun merona malu mendengar itu. Ia masih tak terbiasa ketika orang-orang mengomentari atau menanyakan hubungannya dengan Jongin. Ia hanya bisa mengangguk kecil.
Minseok dan Jongdae bertukar lirikan. "Sehunnie, apa kau memberitahu Jongin tentang semua ini?" tanya Jongdae perlahan.
Sehun mengerutkan kening karena pertanyaan yang familiar itu. Minggu kemarin Jungah yang bertanya sekarang Jongdae? Ada apa dengan Jongin sampai mereka mempertanyakan itu? Mereka tak mungkin mencurigai Jongin, kan?
"Sehunnie?" panggil Minseok.
"Aku menceritakannya pada Jongin, tapi secara garis besar. Kenapa kalian menanyakan ini, Hyung?" tanya Sehun benar-benar bingung.
Minseok mengangkat bahu. "Waktunya terlalu tepat, Sehunnie. Ia menetap di Korea dan ia adalah anak Paman. Ia yang seharusnya menduduki posisiku," jawab Minseok.
"Tapi Jongin tak menginginkan posisimu, karena itu ia pergi," balas Sehun berusaha tak terdengar defensif.
"Itu 5 tahun lalu, mungkin sekarang ia menginginkan posisi ini."
Sehun menggeleng. Hyungnya terlalu mengada-ada, Jongin tak menginginkan Jenguk Grup, ia tak tertarik dengan semua itu. Dan Jongin sudah memiliki pekerjaan sekarang. "Itu tuduhan yang serius, Hyung," kata Sehun tak setuju.
"Sehun, kau bilang Jongin bekerja, kan? Dimana ia bekerja?" tanya Jongdae.
"Aku tak terlalu tahu, Jongin tidak terlalu suka pekerjaannya dibicarakan karena itu hanya membuatnya terbebani. Yang kutahu ia bekerja dibagian keuangan di perusahan yang tak terlalu besar."
Minseok dan Jongdae bertukar lirikan, Sehun menangkap itu. Sehun tahu mereka mencurigai Jongin dan itu hal yang sulit diterimanya.
"Hyung, kenapa kalian mencurigai Jongin? Ia tak memiliki akses tentang proyek-proyek dan strategi kita untuk menyingkirkan CEO Heigh. Apa yang bisa ia bocorkan jika ia tak memiliki info itu?" tanya Sehun menyuarakan pikirannya.
"Entahlah, mungkin ia tidur dengan Baekhyun?" kata Minseok membuat Jongdae menyikutnya.
Dada Sehun terasa tertusuk pisau mendengar itu. Ketakutan mulai timbul di dalam dirinya bahwa apa yang Minseok katakan benar terjadi. Benarkah Jongin akan melakukan hingga seperti itu? Meniduri Baekhyun-hyung hanya untuk bersekongkol dengan ayahnya? Jongin takkan melakukannya, kan?
Tapi… aku tak bisa memenuhi kebutuhan seksual Jongin. Meniduri Baekhyun-hyung akan menjadi jalan pintas untuk mendapatkan info itu dan sebagai pelepasannya.
"Sehun, maafkan aku, aku tak bermaksud bicara begitu," kata Minseok segera berlutut dihadapan Sehun dan mengusap air mata pria manis itu. "Maafkan, Hyung, ok? Hyung hanya asal bicara. Itu tak benar," kata Minseok lagi, merasa bersalah.
Sehun bahkan tak menyadari bahwa ia menangis. Ia terlalu terkejut mendengar ucapan itu dan terlalu tersakiti karena ia bisa dengan jelas membayangkan apa yang Minseok katakan dalam benaknya dengan jelas.
Minseok memeluk erat Sehun dan mengusap punggungnya. "Maafkan Hyung, Hun. Jangan dipikirkan, Hyung yang bodoh mengatakan hal asal seperti itu," kata Minseok segera karena Sehun tak berhenti menangis malah mulai terisak.
"Jangan katakan itu lagi," kata Sehun sambil terisak.
"Hyung takkan mengatakan itu lagi. Maafkan, Hyung, ok?" kata Minseok melepas pelukannya dan mengusap air mata Sehun dengan lembut. Sehun hanya bisa mengangguk kecil sambil sedikit cegukan.
"Hyung akan belikan Bubble Tea cokelat untukmu sekarang. Jangan menangis lagi, ok Hun?" tanya Jongdae mengusap rambut Sehun dengan lembut.
Sehun mengangguk-angguk bagai anak kecil yang patuh membuat kedua Hyungnya itu tersenyum.
e)(o
TOKYO.
Shixun memasuki sebuah rumah megah dan mewah di tengah kota Tokyo itu. Para pelayan memberikan hormat padanya dan seorang kepala pelayan yang memandunya ke sebuah pintu ganda mewah berwarna cokelat gelap.
Shixun tak bisa menahan dengusannya ketika menatap ke sekeliling rumah itu. Ayah dan Kakeknya tak pernah berubah, selalu hidup dengan kemewahan dan kemegahan. Sangat berbeda dengan Sehun dan Shixun yang menyukai kesederhanaan seperti mendiang ibu dan nenek mereka.
Ya, Shixun sekarang sedang berada di rumah ayah dan kakeknya di Jepang. Sejak Sehun mengambil alih penuh Huntak Grup Korea, ayah dan kakeknya tinggal di Jepang dan mulai fokus memperkuat kondisi Huntak Grup Jepang yang usianya masih tergolong muda, 8 tahun. Itu sebabnya Shixun harus rela meninggalkan Sehun selama tanpa pengawasannya untuk menemui ayah mereka, karena Shixun memiliki penawaran.
"Tuan Besar mempersilahkan Anda masuk, Tuan Muda Shixun," kata si kepala pelayan membukakan pintu ganda itu dan mempersilahkan Shixun untuk masuk.
Shixun melangkah masuk, menemukan ayahnya duduk dibalik meja mahoni mewah yang mirip dengan yang ada di ruang kerja Sehun di rumah mereka –yang dulunya juga adalah ruang kerja ayah dan kakek mereka–.
"Aku tak menyangka akan bertemu kembali denganmu, Shixun," kata Tuan Oh dingin menyambut Sehun.
Oh, percayalah, aku juga tak ingin bertemu denganmu juga. Bagaimana jika kubunuh saja kau sekarang juga? Pikir Shixun sarkastis. "Kulihat kau masih bernafas, Abeonim," balas Shixun sama dinginnya.
"Masih kurang ajar seperti biasanya. Beruntung aku memiliki Sehun sebagai penurusku."
"Ya, beruntung kau memiliki anak seperti Hyung. Tapi kau malah memperlakukannya seperti mesin uang," balas Shixun penuh kebencian.
Ayah si kembar Oh itu bersandar pada kursi kulit hitam nan mewahnya dan menatap anaknya dengan datar. "Sikap overprotektif dan posesifmu pada Sehun masih belum menghilang juga ternyata. Aku semakin merasa itu sudah melewati batas normal," kata Tuan Oh menekankan dua kata terakhir itu.
Shixun menegang mendengar itu. Tidak, ayahnya takkan tahu, kan? Tidak ada yang tahu dan takkan ada yang akan tahu, pikir Shixun menenangkan dirinya sendiri.
"Kau mencintai Sehun, huh? Lebih dari seorang saudara," dengus Ayahnya mengejek.
Shixun berusaha untuk mengendalikan dirinya. Kedua tangannya terkepal erat, namun ia menahan diri untuk tidak meledak. "Apa itu penting? Setidaknya kau harus bersyukur aku tak membawa Sehun kabur berhubung ia adalah satu-satunya mesin uang primermu saat ini," balas Shixun mendengus.
"Tebakanku benar, untung aku segera menyingkirkanmu dari keluarga ini 7 tahun lalu."
Shixun bernafas dalam, berusaha untuk tidak terpengaruh dengan perkataan itu. Ia tahu pria ini takkan membebaskannya begitu saja untuk mengejar impiannya, tujuan utamanya adalah menjauhkannya dari Sehun. Agar Sehun hanya fokus bekerja dan menjadi mesin uangnya seperti sekarang, seperti yang pria ini inginkan.
Si Bungsu Oh itu duduk dihadapan ayahnya dan mengangkat kakinya ke atas meja. "Mulai sekarang aku akan mengambil alih Huntak Grup, bebaskan Sehun untuk menjalani hidupnya," kata Shixun langsung pada intinya.
Tuan Oh itu mendengus. "Kau pikir aku akan menyetujui itu? Kau bahkan hanya lulusan SMA dengan nilai pas-pasan. Kau tak lebih baik dari Sehun, Huntak Grup akan hancur ditanganmu," katanya meremehkan.
"Aku akan menghancurkannya jika kau tak memberikannya padaku," kata Shixun serius.
Tuan Oh menatap anak bungsunya sejenak, tahu bahwa ancaman itu bukanlah ancaman kosong belaka. "Apa yang kau inginkan sebenarnya, Oh Shixun?" tanyanya datar.
"Kebebasan Sehun," jawab Shixun langsung. Hanya itu yang ia inginkan, Sehun bebas untuk meraih kebahagiaannya. Sehun berhenti mengorbankan kebahagiaannya demi orang lain.
Tuan Oh terdiam sejenak mendengar itu sebelum menghela nafas. "Kita bikin perjanjian. Jika setelah kau memegang Huntak Grup dan perusahaan kita mengalami defisit hingga batas tertentu, Sehun akan kembali menjalankan tugasnya sebagai CEO."
"Deal."
Tuan Oh mengangguk kaku.
"Setelah masalah yang satu ini selesai, aku akan langsung memegang Huntak Grup."
"Akan kupersiapkan pengumumannya."
"Aku akan pergi sekarang," kata Shixun bangkit berdiri dan beranjak pergi, tanpa memberi salam pada ayahnya itu.
"Shixun."
Si Bungsu Oh itu menengok.
"Jangan biarkan Sehun dengan Kim Jongin, ia pantas mendapatkan yang lebih baik dari pria itu."
Shixun terkejut mendengar itu. Ia tak menduga bahwa ayahnya tahu soal Sehun dan Kai. Sehun berusaha menutupi hubungannya dengan Kai dari Shixun, tapi Shixun jelas mengetahuinya. Ia sering mengikuti Sehun diam-diam tentu saja. Tapi sampai ayahnya tahu Kai hanya pria brengsek yang rusak dan tak pantas mendapatkan Sehun, itu benar-benar diluar perkiraan Shixun.
"Kuusahakan," jawab Shixun datar dan pergi darisana.
e)(o
Tuan Oh menatap anak bungsunya itu keluar dari ruangannya dan pintu ganda itu kembali tertutup rapat. Menyisakan keheningan di ruangan mewah nan luas itu. Pria paruh baya itu menatap foto istrinya yang terpanjang di meja kerjanya itu.
"Shixun benar-benar mencintai Sehun, Jihyun-ah. Itu memang tak wajar, tapi setidaknya ia siap melakukan apapun agar Sehun bisa bahagia," katanya menatap foto itu dengan kesenduan dan kerinduan yang dalam.
Pria itu mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Matanya terpejam menikmati keheningan disekitarnya.
"Mereka sudah tumbuh dewasa dengan sangat baik, seperti yang selalu kau ajarkan," katanya lagi masih degan mata terpejam. Aku merindukanmu, Jihyun-ah.
e)(o
SEOUL.
Kai mengerutkan kening mendengar bunyi intercom apartemennya. Tidak ada yang datang berkunjung selain Sehun berhubung hubungannya dengan sepupunya atau bahkan Noonayanya sendiri sama sekali tidak baik. Dan Sehun memiliki kode apartemen ini jadi seharusnya Sehun tak perlu menekan bel. Pria tan itu membuka pintu memeriksa intercomnya dan cukup terkejut mendapati Kris yang mengunjunginya. Kai langsung membukakan pintu untuk sahabatnya itu.
"Aku terkejut kau mengunjungiku," kata Kai mempersilahkan Kris masuk.
"Hanya ingin melihat kondisimu," jawab Kris masuk dan memberikan sebotol wine pada Kai sebagai hadiah kunjungannya. "Kau hidup cukup baik," komentarnya melihat apartemen Kai yang tak terlalu mewah itu.
"Ini tempat terbaik yang bisa kutemukan dengan keterbatasan tabunganku," jawab Kai santai meletakan wine yang Kris bawa ke dapur. "Darimana kau tahu tempat tinggalku?" tanya Kai duduk di sofa dengan 2 kaleng bir dingin dan memberikannya pada Kris yang duduk di sofa lainnya.
Kris mengangkat bahunya santai. "Kita agen intelejen, tak sulit menemukanmu. Kau bukannya hidup mengasingkan diri dengan identitas baru," jawab Kris.
Kai menatap Kris datar, tanda ia tahu Kris berbohong. Pria itu takkan repot-repot mencari info dirinya di database yang sebanyak itu.
Kris menghela nafas. "Baiklah, aku tahu dari Sehun," jawab Kris mengaku membuat Kai mendengus mendengarnya. "Kau menyukainya? Hidup seperti ini?" tanya Kris membuka minumannya.
"Lebih dari yang kuduga sebelumnya. Hidup santai seperti ini sangat menyenangkan."
"Kau bekerja sekarang?"
Kai mengangguk sambil bergumam, membuka kaleng birnya dan meneguknya. "Bagaimana denganmu dan yang lainnya?"
"Baik. Kami baru menyelesaikan misi di Jepang dan kembali 3 hari yang lalu, bos memberikan libur seminggu. Seperti yang kau tahu, Shixun masih mengambil cuti."
Kai bergumam mengerti.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Kris penasaran.
"Hanya bagian keuangan di sebuah perusahaan," jawab Kai setelah menegak birnya.
Kris mengangkat satu alisnya mendengar itu. "Kupikir kau tak berminat dibidang itu, tak kusangka kau bekerja seperti itu."
"Pekerjaan sementara, jika bosan aku akan mencari pekerjaan lain. Gajinya lumayan," jawab Kai santai.
"Kau bisa menjadi polisi dan kau tahu itu. Bos bahkan memberikan surat rekomendasi sebelum kau keluar. Kenapa kau malah tidak menjadi polisi, Kai?"
"Apa maksud pembicaraan ini sebenarnya?" tanya Kai gusar.
"Aku hanya merasa aneh. Kau menyembunyikan sesuatu."
Kai mendengus. "Kita semua menyembunyikan sesuatu. Kau tahu jelas itu."
"Begitukah?"
"Apa sebenarnya tujuanmu datang, Kris? Aku tahu bukan hanya melihat bagaimana aku hidup. Ini pasti menyangkut Sehun, bukan begitu?" tanya Kai sudah lelah dengan pembicaraan ini. Apa yang sebenarnya ingin Kris bicarakan?
"Kenapa kau berpikir ini menyangkut Sehun?"
Kai mengangkat bahu. "Hanya tebakan."
Kris hanya terdiam sejenak lalu meneguk birnya. "Aku ingin bicara kejadian sekitar 6 tahun lalu di London. Sebelum kau, Luhan, dan Chanyeol kembali ke Korea," kata Kris mengamati ekspressi Kai.
Tubuh Kai kaku seketika mendengar itu. Bagaimana— bagaimana Kris bisa tahu? Apa Shixun yang memberitahunya?
"Luhan sedikit mengingatnya dan mengatakan padaku. Kau yang mengajak mereka berpesta di apartemenmu dan Sehun. Ia mengatakan kau satu-satunya yang menawarkan untuk tetap sadar dan berjaga," kata Kris datar dan menekankan beberapa kata.
Kai hanya duduk kaku mendengarkan. Ia tak menyangka Luhan akan mengingat hari itu. Ia berpikir takkan ada yang ingat dan ia terus bersembunyi dari kesalahan bodohnya itu. Ia berpikir ia bisa terus bahagia bersama Sehun dan melupakan masa lalu kelam itu.
"Apa yang terjadi pada Sehun malam itu, Kai? Aku tahu kau satu-satunya yang sadar saat itu. Apa yang terjadi dan kenapa kau membiarkan itu terjadi?"
Mulut Kai terkatup rapat, tak mampu berkata-kata. Jantungnya bertalu keras, tubuhnya kaku, dan wajahnya pucat. Ia pengecut dan ia tak ingin menghadapi ini, tapi ia tahu saat ini ia tak bisa kabur lagi. Ia tak bisa bersembunyi lagi.
Kris masih menatap sahabatnya, menunggu jawab. Ia terlihat takkan pergi jika tak mendapatkan jawaban itu.
"A-aku membiarkan Lu-Luhan dan Chan-Chanyeol mem-memperkosa Sehun. Tidak seluruhnya, mereka tak me-memasuki Sehun, Se-Sehun masih me-memakai boxernya. Mereka se-semacam dry humping," jawab Kai bergetar, menutup wajahnya tampak frustasi.
Kris terdiam kaku mendengar itu. Jelas tak pernah siap mendengar kebernaran yang mengerikan itu. Tangannya terkepal erat dan pria tinggi itu menarik Kai untuk berdiri dengan kasar dan menonjoknya keras.
Kai tak melawan. Ia terjatuh ke lantai dan ia bisa merasakan darah mengalir dari hidung dan ujung bibirnya, pipinya terasa begitu sakit dan ia tahu pasti akan timbul lebam disana. Ia tak membalas atau melawan, ia tahu ia pantas mendapatkannya.
"Aku tak tahu apa yang ada di dalam otak Sehun ketika menerimamu kembali," kata Kris dingin. "Tapi kalau kau berpikir kau bisa terus berpura-pura melupakan kejadian itu, maka kau benar-benar tak layak untuk mendapatkan Sehun. Kau pikir Sehun bodoh dan takkan menyadari bahwa kau tidak mabuk?"
Kai bagai disiram air dingin begitu mendengar kalimat terakhir itu. Ia tak pernah berpikir bahwa Sehun akan menyadari bahwa ia tak mabuk. Ia tak pernah memikirkan itu sama sekali.
"Berhentilah menjadi pengecut dan bertanggungjawablah atas kesalahanmu di masa lalu. Buktikan bahwa kau pantas mendapatkan Sehun dengan benar sebelum orang lain mengambilnya dari sisimu selamanya," kata Kris dingin penuh peringatan dan pergi dari sana.
Kai hanya berbaring di lantai apartemennya itu dengan wajah yang terasa sakit karena pukulan Kris. Setetes air mata gagal di tahannya. Sebuah penyesalan.
e)(o
Sehun memasuki apartemen Kai dan menemukan pria tan itu berbaring di lantai di dekat sofa. Pria manis itu jelas terkeju dan segera menghampiri kekasihnya, ia berpikir Kai pingsan, tapi ternyata pria itu hanya tertidur. Sehun jelas terkejut melihat lebam di pipi Kai dan juga darah kering dari hidung dan ujung bibirnya.
Apa yang terjadi pada Jongin sebenarnya? Batin Sehun bingung.
Pria kurus itu berusaha memindahkan Kai ke sofa, sedikit kesulitan karena ternyata Kai sangat berat dan Sehun sendiri tak memiliki otot sama sekali. Kai sampai terbangun karena usaha Sehun yang berlebihan namun tak menghasilkan apapun itu.
"Maaf membangunkanmu," kata Sehun merasa bersalah dan sedikit cemberut.
Kai mengecup bibir kekasihnya itu dan tersenyum tipis melihat Sehun merona. "Tidak masalah, aku sudah tidur cukup lama," jawab Kai pindah ke sofa dengan sendirinya dan menarik Sehun agar duduk di pangkuannya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Sehun cemas menyentuh lebam dipipi Kai namun langsung menarik tangannya begitu Kai meringis.
"Hanya argumen dengan seorang teman, bukan hal besar," jawab Kai membuat Sehun mengerutkan kening karena Kai tak bicara sejujurnya saat ini. Kai kembali mengecup bibir Sehun dan mengusap pipinya dengan lembut. "Kau akan tahu jika sudah saatnya," kata Kai tersenyum menenangkan kekasihnya.
Sehun mengangguk dan tersenyum kecil mendengar itu, merasa tenang karena Kai tak menyimpan rahasia itu selamanya. Pria manis itu bangkit dari pangkuan Kai membuat Kai mengerang pelan tak setuju. "Aku hanya ingin mengobati lukamu," kata Sehun memberitahu Kai sambil tersenyum kecil dan pergi mencari es, baskom air, dan kotak first aid kit.
Beberapa menita berikutnya, Sehun kembali dengan benda-benda yang dibutuhkan dan mulai mengobati luka Kai sambil duduk dipangkuan pria itu –Kai yang memaksa tentu saja–. Sehun meminta Kai memegang kompres es di pipi lebamnya itu sementara Sehun membersihkan darah kering dan luka diujung bibirnya itu.
Sehun berusaha mengabaikan rona di wajahnya karena tatapan intens Kai pada wajahnya dan berusaha fokus untuk mengobati luka Kai. Itu sulit dilakukan bagi Sehun karena bibir Kai sendiri benar-benar distraksi terbesar baginya. Ia semakin ingin mencium Kai karena melihat bibir tebal nan seksi itu.
Kai tertawa kecil seakan ia bisa membaca pikiran Sehun hanya dari wajah datarnya itu, membuat Sehun merona. "Jangan tertawa!" kata Sehun memukul dada Kai pelan malah membuat pria tan itu tertawa lebih keras.
"Kau sangat menggemaskan," kata Kai mengecup pipi mulus Sehun dan merangkul pinggang ramping Sehun dengan satu tangan sementara tangan satunya masih memegangi es dipipinya.
Sehun memukul bahunya pelan. "Gombal," gumamnya malu lalu kembali fokus memberikan obat merah diluka Kai itu.
Setelah mengobati luka Kai, Sehun kembali membereskan semuanya dan membuatkan makan malam untuk mereka. Seperti biasa, setelah makan malam mereka menghabiskan waktu mereka bersantai di sofa dengan Sehun dipelukan Kai sambil menonton acara TV. Hanya menikmati waktu mereka berdua.
Tapi sejujurnya Sehun masih terus memikirkan apa yang dikatakan Xiumin pagi ini. Ia takut jika itu benar, ia tak siap mendengar kebenaranya. Ia tak tahu apakah ia bisa menerima kenyataan jika memang Kai tidur dengan Baekhyun hanya untuk memuluskan jalannya mengambil alih Jenguk Grup.
Aneh. Semua ini terlalu aneh. Sangat tak masuk akal jika Kai melakukan ini semua. Kai sama sekali tak tertarik dengan Jenguk Grup, Sehun yakin itu. Tak ada alasan Kai untuk mengambil alih Jenguk Grup apalagi sampai bekerja sama dengan ayahnya sendiri. Sehun tahu jelas Kai sangat tak menyukai ayahnya sendiri. Sekalipun Kim Youngmin mencoba menggunakan Kai, Kai pasti akan menolak. Karena Kai takkan mau bekerja sama dengan Kim Youngmin apalagi untuk mendapatkan Jenguk Grup yang tak ia inginkan. Kai bahkan tak mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan sepupu-sepupunya, ia hanya mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan Noonanya. Jadi jelas tak mungkin Kai terlibat dari masalah ini.
Tapi kenapa semua ini terasa begitu membebaniku? Batin Sehun menatap kekasihnya yang menatap TV dengan pandangan kosong, seakan pikirannya melayang-layang entah kemana. Kenapa mereka semua mencurigai Jongin padahal Suho-hyung juga patut dicurigai?
Haruskah aku bertanya atau memancing Jongin untuk bicara?
Sehun meneguk ludahnya kasar, mencoba untuk menenangkan dirinya. "Jongin-ah?" panggil Sehun pelan.
Kai tak merespon, masih tampak terlarut dalam pikirannya sendiri dan ini cukup mencemaskan Sehun. Pria manis itu meremas lengan Jongin pelan dan itu berhasil menarik perhatian pria tan itu. "Ada apa?" tanya Kai bingung.
"Apa terjadi sesuatu? Kau tampak banyak pikiran," kata Sehun cemas.
Kai menggeleng pelan. "Hanya soal pekerjaan," jawab Kai tersenyum dan mengecup pipi Sehun, tanda ia tak ingin Sehun mencemaskannya.
Sayangnya itu tak mempan. Sehun terlanjur mengkhawatirkan Kai. "Apa ada masalah?"
"Bukan hal besar, Hun-ah," jawab Kai menghela nafas dan mengeratkan pelukannya ditubuh kurus Sehun.
Suasana hening sejenak. Sehun hanya mengamati Kai sedangkan pria itu mengabaikan tatapan Sehun dan menatap TV yang menyala. Sehun jelas tahu Kai menghindari pembicaraan ini dan ini semakin aneh bagi Sehun.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kau tak pernah bicara soal pekerjaanmu, Jonginnie. Dimana kau bekerja?" tanya Sehun tak bisa menahan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bingung itu.
"Bisakah kita tak membahas ini, Hun? Aku lelah."
Sehun duduk tegak, lepas dari pelukan Jongain dan menatap kekasihnya itu. "Kenapa kau menghindari untuk membahas ini?" tanya Sehun semakin heran dan bingung.
"Aku lelah, Hun! Apa sulit untuk kau mengerti?" bentak Kai tiba-tiba membuat Sehun terkejut.
Sehun menatapnya takut dan tampak tak menyangka Kai akan membentaknya seperti itu. Ia hanya bertanya karena ia mencemaskan Kai dan ia bingung kenapa Kai jarang sekali bicara soal pekerjaannya. Apakah ia salah? Kai menutupi sesuatu darinya dan itu membuat Sehun panik, cemas, bingung, dan frustasi.
Apakah Jongin benar-benar meniduri Baekhyun? Ti-tidak mungkin, kan?
Kai mengambil nafas dalam dan bangkit dari sofa. Pria tan itu mematikan tv dan menatap Sehun datar. "Pulanglah, aku lelah dan tak ingin diganggu," kata Kai dingin dan beranjak masuk ke kamarnya, menutup pintu itu cukup keras membuat Sehun berjengkit mendengarnya.
Air mata Sehun perlahan mengalir ketika kesunyian apartemen itu melingkupinya. Bukan hanya Kai yang lelah, Sehun juga. Tapi kenapa Kai tiba-tiba bersikap begini? Mereka baik-baik saja ketika Sehun baru datang, tapi kenapa Kai tiba-tiba berubah hanya karena Sehun bertanya padanya?
Jongin-ah, kenapa kau begini? Apa karena kau bosan padaku? Kau… tak meniduri Baekhyun-hyung hanya karena aku tak bisa memenuhi kebutuhanmu, kan? batin Sehun dan menutup matanya, merasakan air matanya mengalir semakin deras.
Kumohon jangan. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika itu terjadi. Kumohon jangan. Aku tak siap hatiku hancur untuk kesekian kalinya.
•TBC•
NO EDIT, MAAPKEUN TYPO.
MAKASIH BANYAAAAAAK REVIEWNYAAAAAAA~~
Ternyata banyak yang sudah give up sama cerita ini :( reviewnya menurun drastis di beberapa chap belakang ini :( sedih akutuh :(
Tapi aku tetep bersyukur masih ada yang setia ngikutin cerita ini^^ makasih banyaaaak yaaa :D
NEXT CHAP mungkin juga chap terakhir. Apa ini berakhir happy ending atau bittersweet ending? HEUHEUHEUHEU
Semoga aja bisa up pas tanggal 8 hari terakhir sebelum aku hiatus dr fandom KaiHun hehehe
Mohon reviewnya semuaaaa~~
ku lopek lopek pada kaliaaaansss~~~
-willis.8894
P.S: drink a coffee around midnite just for writing 5 fics. Yes, that's how much I love you all, my babies readers~~~
