CHAPTER SEVENTEEN: CLOSURE PT. 1
Ini sudah seminggu sejak Kai tak sengaja membentak Sehun. Kai tak menghubungi Sehun sejak saat itu. Ia hanya mengirimkan pesan minta maaf pada Sehun dan mengatakan ia butuh waktu untuk sendiri. Ia meminta Sehun untuk tidak menghubunginya sementara waktu. Sehun menyetujuinya dan tak mempertanyakan lebih lanjut. Kai tahu ia jelas menyakiti Sehun dengan sikapnya, tapi Kai butuh waktu untuk menata kembali pikirannya.
Sejak pembicaraannya dengan Kris, ia sulit untuk bisa fokus melakukan apapun. Perkataan Kris terus terngiang dalam benaknya dan itu hal yang sejujurnya tak ingin ia ketahui. Ia tak ingin tahu bahwa Sehun menyadari ia tak terlalu mabuk malam itu. Ia hanya ingin melupakan masa lalu dan membangun masa depan bersama Sehun. Hanya itu, hanya sesederhana itu. Ia hanya ingin hidup bahagia dengan Sehun.
Kai tahu ia tak layak mendapatkan Sehun. Ia yang dulu tak layak untuk mendapatkan Sehun dan ia berusaha menebusnya sekarang. Ia berusaha agar ia bisa layak mendampingi Sehun sekarang, mereka memulai semuanya dari awal. Tapi apakah dirinya yang sekarang benar-benar sudah layak mendapatkan Sehun? Kai tahu jawabannya dan ia tak menyukai itu.
Seminggu ini terasa bagai neraka bagi Kai. Ia begitu frustasi dengan semua yang terjadi dan semua pikirannya hingga pada akhirnya ia kembali pada kebiasaan buruknya. Tiap malam ia pergi ke bar, merokok dan mabuk-mabukan lalu kembali ke apartemennya ketika subuh lalu tidur hingga siang, kembali mabuk, tidur, lalu kembali ke bar. Ia bahkan mengabaikan pekerjaannya.
"Hei, tetangga," sapa seorang pria yang tinggal disamping apartemen Kai itu dengan seduktif, ingin menggoda Kai.
Hari masih cukup pagi dan Kai baru kembali dari Bar. Alkohol tercium kuat dari bajunya namun ia masih cukup sadar untuk berjalan pulang sendiri. Kai hanya menatap tetangganya itu datar, tak membalas sapaannya.
"Kau jarang mengobrol denganku," katanya sedikit merajuk, mendekati Kai dan membelai dada Kai dengan menggoda. Ia lebih pendek dari Kai, hanya sedagu pria tan itu.
Lagi, Kai hanya menatapnya datar dan tidak merespon.
"Bagaimana kalau kita bermain untuk menghangatkan hubungan kita yang dingin," bisiknya ditelinga Kai dan langsung mencium bibir tebal Kai itu.
Kai jelas terkejut pria dihadapannya ini begitu berani menciumnya tanpa izin, tapi belum sempat ia mendorong pria itu menjauh, seseorang telah dengan kasar menarik tubuh itu dari Kai. Orang itu adalah Sehun.
Sehun berwajah datar dan dingin, namun matanya mengatakan segalanya. Kekecewaan, kecemburuan, amarah… terluka.
"Se-Sehun…"
Pria putih susu itu melirik tetangganya sekilas yang masih tampak terkejut lalu kembali menatap Kai. Ia tak berkata apapun dan melangkahkan kakinya meninggalkan keduanya. Kai langsung menyusul kekasihnya itu dan menarik tangannya begitu pria itu hendak menekan tombol lift.
"Sehun, dengarkan aku. Dia yang tiba-tiba menciumku, aku sama sekali tak merayunya," kata Kai cepat, menjelaskan situasinya.
Wajah Sehun masih begitu datar namun matanya tak menutupi semua emosinya. "Ini Korea, Jongin. Orang tak mencium orang lain dengan tiba-tiba."
"Aku bicara jujur! Kenapa kau tak percaya padaku?!" bentak Kai yang emosinya sedikit tak terkontrol karena alkohol di dalam darahnya itu.
"Kau mengatakan kau butuh waktu, Jongin. Aku memberikanmu waktu dan menahan diriku untuk tak menghubungimu. Aku mencemaskanmu seminggu ini, tapi apa kabar yang kudapat? Kau menghabiskan setiap malammu di bar untuk mabuk! Siapa yang tahu kalau ternyata kau juga meniduri orang lain hanya karena aku tak bisa memenuhi kebutuhan seksualmu!" kata Sehun meninggikan suaranya dan perlahan air mata mulai mengalir dipipi mulusnya.
Kai menatap Sehun terkejut. Ia terkejut Sehun tahu ia kembali pada kebiasaan buruknya, tapi ia lebih terkejut lagi mendengar Sehun berpikir ia akan meniduri orang lain. Kai takkan melakukan itu! Ia akan menunggu hingga Sehun siap dan lebih baik mati daripada harus mengkhianati Sehun!
"Aku tidak seperti itu! Aku akui aku memang mabuk dan merokok, tapi aku tak meniduri sembarang orang, Sehun! Aku tidak melakukan itu karena aku adalah kekasihmu!" seru Kai tak terima Sehun menuduhnya berselingkuh.
"Bagaimana aku bisa percaya ketika hal pertama yang kulihat setelah seminggu kau tak menghubungiku adalah kau mencium pria lain," kata Sehun kecewa dan air matanya mengalir deras.
"Dia yang menciumku, bukan aku yang menginginkan itua, Sehun," balas Kai marah, namun tampaknya Sehun sulit untuk mempercayai itu.
Dan itu adalah batasan terakhir Kai. Ia tak bisa lagi mengendalikan emosinya. Pria tan itu berbalik dan melangkah cepat ke apartemennya, melihat tetangganya itu masih menunggu di depan apartemennya. Kai segera menghampirinya dan menonjoknya dengan keras hingga pria itu terjatuh ke lantai. Kai menjambak pria itu kasar, menyuruhnya kembali berdiri membuat pria itu menjerit kesakitan.
"Beraninya kau, Jalang! Beraninya kau menghancurkan hubunganku dengan Sehun!" seru Kai kembali menonjok pria itu hingga terjatuh. "Musnah kau, Pecundang sialan! Akan kulenyapkan kau hingga seluruh keluargamu!" seru Kai mengamuk dan menendangi tubuh pria itu dengan brutal, mengabaikan semua rintihan dan jerit kesakitan pria itu.
Kai tak bisa mengendalikan amarahnya, ia tak bisa berhenti hingga sebuah pelukan hangat familiar itu menariknya masuk ke apartemennya dan bibir yang begitu ia rindukan seminggu ini langsung menciumnya, mengalihkan perhatiannya.
Ciuman itu brutal, ia melumat kasar bibir manis Sehun seakan ingin melumat habis seluruh tubuh Sehun. Hasrat yang begitu tinggi, amarah yang terkendali, dan cinta yang mendalam membuat ciuman ini jauh berbeda dari ciuman-ciuman mereka yang sebelumnya. Kai tahu ia harus mengendalikan dirinya, ia harus memperlambat semua ini agar Sehun tak tersakiti, tapi ia tak bisa. Ia tak bisa menghentikan dirinya. Ia membutuhkan Sehun saat ini, ia harus memiliki Sehun saat ini juga.
Tubuh kurus Sehun tersentak kasar menutup pintu apartemen Kai, namun tangan kekar Kai melindungi punggung dan kepala Sehun dari benturan keras itu. Kai semakin melumat kasar bibir Sehun dan melesakan lidahnya ke mulut manis itu sementara ia bisa merasakan cengkraman erat Sehun di kaos dadanya itu.
Kai melepaskan bibir Sehun begitu merasakan paru-parunya terbakar karena kekurangan oksigen, ia menatap kekasihnya yang merona dan mulutnya terbuka untuk meraup udara sebanyak-banyaknya. Matanya menatap Kai dengan berbagai macam emosi yang begitu meluap-luap, namun yang membuat Kai tertegun adalah melihat cinta yang begitu besar, begitu tulus, begitu murni dimata indah Sehun yang menatapnya itu.
Pria tan itu langsung menangkup bokong padat Sehun dan tiba-tiba mengangkatnya, membuat Sehun memekik terkejut dan refleks memeluk leher Kai dengan tangan kurusnya dan kedua kaki jenjangnya melingkar erat di pinggang Kai. Kai langsung kembali mencium Sehun kali ini lebih lembut dari sebelumnya dan kakinya melangkah membawa kedua insan itu menuju ke kamarnya.
Ia membaringkan Sehun di tempat tidurnya dan menopang dirinya agar tak meniban kekasihnya itu. Lagi, emosi yang meluap-luap di mata Sehun masih begitu jelas dan tak pudar. Kai melihat ada kebingungan, ketakutan, ekspektasi— hasrat? Kai tak tahu, Kai sama sekali tak tahu. Tapi ia sangat membutuhkan Sehun saat ini meski akal sehatnya memperingatinya bahwa Sehun belum siap untuk saat ini.
"Jo-Jong— Jongin, tu-tunggu—" kata Sehun bergetar, memegang kedua tangan Kai yang mulai membuka kancing kemejanya.
"Aku akan pelan-pelan. Aku takkan menyakitimu. Kumohon— izinkan aku, Sehun. Izinkan aku menunjukan cintaku, izinkan aku bercinta denganmu," bisik Kai terdengar lebih seperti memohon, kepalanya terasa berkabut namun ia bisa melihat Sehun dengan jelas, ia bisa mendengar Sehun dengan jelas, ia bisa merasakan Sehun dengan jelas.
Sehun tak menjawab, hanya menangkup wajah Kai dengan lembut dan mencium Kai dengan lembut, dengan penuh cinta, dengan kepedulian yang besar. Sesuatu yang begitu bermakna besar bagi Kai, sesuatu yang hanya bisa ia dapatkan dari Sehun.
"Bercintalah denganku, Jonginnie," bisik Sehun bergetar namun menatap tepat ke dalam mata Kai.
Kai benar-benar terpana melihat kekasihnya itu. Ia jelas masih bisa melihat ketakutan itu dimata Kai, ia tahu Sehun belum siap, tapi Sehun memberanikan diri untuknya. Sehun lagi-lagi mengatasi kelemahannya, mengalahkan kelemahannya demi Kai. Demi cintanya pada Kai.
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Oh Sehun," bisik Kai berulang-ulang, mengecupi seluruh wajah Sehun penuh cinta hingga ke bibir penuh candu kekasihnya itu sementara jari-jarinya membuka kancing baju Sehun dengan cepat.
"Aku juga mencintaimu, Jonginnienghh~" perkataan Sehun berubah menjadi lenguhan begitu Kai mulai menciumi, menggigit-gigit kecil, lalu menghisap leher Sehun memberikan beberapa tanda kepemilikan di leher jenjang itu.
Kai melepaskan kemeja Sehun dan bibirnya menciumi dada Sehun. Matanya menatap wajah kekasihnya itu, semakin membuatnya keras mendengarkan lenguhan dari mulut Sehun. Tangan Kai tak berhenti untuk membuka celana Sehun sementara bibirnya mulai menyerang puting Sehun yang begitu menggoda.
"Ngghh~ Jonghh~" desah Sehun merasakan Kai menggigit putingnya dan menariknya dengan giginya.
Kai terus menikmati tubuh bagian atas Sehun itu sementara tangannya tak sabaran menelanjangi Sehun. Ia menarik celana serta celana dalam Sehun sekaligus dan melemparnya dengan asal. Membuat Sehun berbaring telanjang di tempat tidurnya. Kai menarik tubuhnya dan berdiri, menatap tubuh telanjang Sehun dengan lapar sambil melepaskan kaosnya sendiri.
Wajah Sehun merona dan kulitnya terasa sensitif serta tergelitik menyadari tatapan lapar nan intens dari Kai itu. Tapi mata Sehun juga teralihkan dari tubuh berotot Kai yang sudah terekspos itu, begitu indah dan seksi bagai dewa yunani. Begitu sempurna, berbeda dengan tubuh kurus Sehun yang begitu rata.
Kai hanya meninggalkan boxer ditubuhnya –ia tak ingin Sehun takut dan langsung menghentikan ini semua karena melihat betapa besarnya junior Kai itu– dan langsung kembali berada diatas Sehun. Ia menangkup wajah Sehun dan mengusap pipinya dengan lembut. "Kau sangat cantik, Sehunnie," bisik Kai memuja, menatap wajah kekasihnya itu. "Sangat, sangat cantik. Kau tak tahu berapa lama aku menunggu hingga saat ini datang," bisiknya begitu tulus dan penuh emosi yang mendalam. "Oh, God, aku sangat mencintaimu," bisiknya lagi dan kembali melumat bibir Sehun.
Sehun langsung memeluk leher Kai dengan erat, tubuhnya bergetar karena takut namun penuh ekspektasi dan hasrat yang terpendam. Ia balas mencium Kai berharap ia bisa menunjukan pada kekasihnya betapa ia sangat mencintainya. Tangan besar dan kasar Kai menjelajahi tubuhnya dengan lembut mengurangi ketakutan dalam diri Sehun. Sehun kembali melenguh ketika merasakan tangan Kai meremas bokongnya.
"Aku tak punya pelumas," kata Kai melepaskan bibir Sehun. Ia membawa 3 jarinya ke bibir Sehun membuat pria manis itu bingung. "Hisap dan basahi jariku, Sehunnie. Itu akan membantu mengurangi sakitnya nanti."
Sehun mengangguk kecil dan memegang tangan Kai dengan kedua tangannya, memasukan jari-jari Kai ke dalam mulutnya. Lidahnya menjilat dan memutari jari-jari Kai, matanya yang sayu menatap Kai malu-malu seakan ingin membaca dari reaksi Kai apakah ia melakukannya dengan benar atau tidak.
"Demi Tuhan, Sehunnie. Kau begitu seksi," bisik Kai serak menikmati pemandangan dihadapannya dimana Sehun menghisap dan menjilati jari-jarinya. Ia sangat ingin mengganti jari-jarinya dengan juniornya, tapi ia tahu ini belum saatnya.
Sehun merona mendengar pujian itu dan terus melanjutkan pekerjaannya. Matanya mengikuti pergerakan Kai yang membuka lebar kedua kakinya memamerkan lubang pink mungil yang tak pernah terjamah itu. Sehun memekik tertahan ketika merasakan jilatan di lubangnya itu.
Kai mengangkat wajahnya dan menatap Sehun. Ia mengambil kedua tangan Sehun untuk memegang bokongnya sendiri dan melebarkannya. "Tahan, Sehunnie. Aku ingin kau menahannya dan tetap membuatnya terbuka untukku. Bisa kau lakukan itu, baby?" bisik Kai mengecupi dan menandai paha mulus Sehun.
Sehun sangat malu melakukan itu, tapi ia tak ingin mengecewakan Kai dan langsung mengangguk-angguk dengan patuh.
"Good boy," kata Kai memuji membuat mata Sehun melebar mendengarnya, membawa kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi tubuhnya membuat penisnya semakin mengeras.
Kai menyeringai, jelas menyadari semua itu tapi ia tak berkomentar, tidak sekarang. Pria tan itu kembali membawa jari-jarinya ke mulut Sehun meminta Sehun kembali melanjutkan pekerjaannya. Wajah Kai kembali merendah mendekat pada lubang Sehun dan mulai menjilati dan menghisapnya, membuat Sehun mendesah tertahan karena jari-jari Kai di mulutnya.
"Kau benar-benar nikmat, Sehunnie," erang Kai penuh nafsu kembali memakan lubang Sehun dan mencoba menerobos masuk dengan lidahnya itu.
Sehun mendesah keras merasakan sensasi nikmat yang aneh akibat perlakuan Kai pada lubangnya itu. Ia baru pertama kali merasakan sensasi seperti ini membuat tubuhnya semakin bergetar dan terasa panas.
"Jongmffh~~" desah Sehun keras merasakan lidah Kai bergerak-gerak dilubangnya, menyentuh dindingnya yang sensitif. "Anghhh~~~" Sehun kembali mendesah keras, melepaskan jari-jari Kai dari mulutnya begitu Kai menghisap lubangnya.
Kai membawa tangannya yang sudah basah oleh saliva Sehun itu menuju lubang yang sedang ia lumat habis-habisan itu. Satu jarinya membelai lubang pink itu membuat Sehun memekik terkejut. Dengan sangat perlahan, Kai mulai memasuki satu jarinya ke dalam lubang Sehun yang sudah basah dengan salivanya itu.
"JONGIN!" seru Sehun memekik terkejut dan takut merasakan sesuatu memasukinya.
"Tenangkan dirimu, Sehunnie. Tenang," bisik Kai mengecupi seluruh wajah Sehun penuh sayang dan menggerakan jarinya dengan pelan keluar-masuk lubang Sehun itu. "Apakah sakit, baby?" tanya Kai lembut menatap wajah Sehun penuh cinta.
Sehun terdiam sejenak, memaksa dirinya untuk tenang dan fokus merasakan jari yang bergerak di dalamnya. Rasanya tidak sakit, ia hanya takut karena tak terbiasa. "Ti-tidak, Jonginnie," bisik Sehun pelan, malu-malu.
"Kau begitu indah, Sehunnie baby," kata Kai kembali melumat Sehun dan memasukan satu jarinya yang lain ke dalam Sehun membuat kekasihnya terkejut.
Kai tak menghentikannya, ia mencumbu Sehun dan membiarkan tubuh Sehun terbiasa dengan keberadaan jarinya. Ia memasukan jari ketiganya ke dalam membuat Sehun melenguh dan merintih kesakitan sedikit.
"Jong~ Jonghh~," desah Sehun menatap Kai dengan sayu, menerima setiap sodokan jari-jari Kai di dalam lubangnya. Kedua tangannya masih mencengkram erat bokong padatnya, membuka dirinya pada Kai.
"Lubangmu benar-benar panas dan ketat, baby. Mencengkram jari-jariku dengan erat," bisik Kai mulai menusuk lubang Sehun lebih keras dan dalam.
"JONGIN!" seru Sehun begitu bagian terdalam lubangnya itu tersentuh oleh Kai itu.
"Disana, hmm?" Kai menyeringai dan mulai menyentuh tempat yang sama berulang-ulang membuat Sehun mendesah keras hingga kepalanya menggeleng kuat karena sensasi nikmat yang begitu membuatnya kewalahan itu.
Tak butuh waktu lama hingga Sehun merasakan gejolak dalam perutnya dan menyemburkan spermanya karena semua kenikmatan yang Kai berikan itu. "JONGINNIE!" jerit Sehun begitu nikmat ketika mencapai klimaksnya.
Kai tak bisa mengalihkan pandangannya dari keindahan yang terpampang di depannya itu. Wajah klimaks Sehun begitu meransangnya, lubang Sehun masih berkedut-kedut meremas jari-jarinya paska orgasme, dada kotor penuh sperma Sehun yang naik turun karena terengah-engah semakin membuat hasratnya tak lagi tertahankan. Kai segera menarik jari-jarinya dari lubang Sehun dan membuka celananya. Ia mengambil sperma Sehun dan mengolesi juniornya, hingga licin dan basah lalu mengarahkannya ke lubang Sehun yang berkedut itu.
Kai perlahan memasuki Sehun dengan kebanggannya, kedua tangannya berada di sisi kepala Sehun untuk menopang tubuhnya dan matanya dengan intens mengamati ekspressi Sehun.
"Jong–Jonginnie! Sa-sakit!" seru Sehun merasakan benda besar, keras, dan hangat itu memasuki tubuhnya, membuatnya tubuhnya terasa terbelah dua. Rasanya sangat sakit dan ia tak bisa menahan air matanya.
"Shhh~ Sehunnie, sayangku, rileks. Rilekskan tubuhmu, baby," bisik Kai menciumi pipi Sehun sementara tangannya menggapai penis Sehun dan mulai menggerakan tangannya naik turun, mencoba memberikan Sehun kenikmatan itu kembali.
Itu berhasil, Sehun mulai merasakan kenikmatan itu ketika penis Kai berhasil menerobos masuka hingga menyentuh titik nikmatnya membuatnya melenguh keras.
Kai melepaskan penis Sehun dan mencengkram pinggang ramping Sehun, merasakan lubang Sehun sudah mulai terbiasa dengan juniornya itu. "Kugerakan sekarang, ok?" tanya Kai serak, menatap Sehun dengan pandangan gelap penuh nafsu dan cinta.
"Eung~ ge-gerakan sekarang, Jongh~" lenguh Sehun mengangguk-angguk.
Sial, dia begitu polos dan seksi disaat bersamaan, pikir Kai menatap kekasihnya itu. Ia menarik panggulnya pelan dan kembali mendorongnya, memaju-mundurkan dengan gerakan pelan namun memastikan menyentuh titik nikmat Sehun.
Sehun mendesah dengan nikmat, matanya terpenjam merasakan sensasi itu, pipinya merona dan nafasnya terengah-engah. Sangat seksi namun imut bagi Kai. Begitu membangkitkan gairah. Kai tak bisa menahan gairahnya lebih lama lagi dan mulai menghentakan panggulnya dengan keras membuat Sehun memekik terkejut dengan perubahan tempo itu.
"Jonginnie! Jonginnie! Jonginnie!" Sehun mendesahkan nama Kai dengan keras disetiap hentakan kasar Kai. Tangan kurusnya melingkar dileher Kai, ingin merasakan tubuh Kai begitu dekat dengannya.
Kai melumat bibir Sehun penuh nafsu dan cinta, menandai leher Sehun sementara terus memompa ke dalam tubuh Sehun dengan keras dan cepat. Jepitan di lubang Sehun terasa sangat nikmat memicu klimaksnya untuk datang.
"Jonginnie! Se-Sehunnie ingin—"
"Sedikit lagi, baby. Tahan sebentar lagi. Kita keluarkan bersama, baby," bisik Kai semakin brutal membobol lubang Sehun membuat tubuh Sehun melengkung dengan indahnya dan menjerit kenikmatan karena titik sensitifnya terus-terusan disentuh dengan brutal oleh penis Kai itu.
"JONGINNIE! JONGINNIE!"
"Sekarang sayang. Keluarkan sekarang, SEHUN," kata Kai memerintah dan menghentakan panggulnya dengan kasar hingga penisnya masuk begitu dalam dan menyemburkan spermanya ke dalam lubang Sehun.
"JONGINNIE!" Sehun menyemburkan spermanya menjeritkan nama Kai, mencapai orgasme keduanya dan tubuhnya melengkung sempurna.
Sehun berbaring dan terengah-engah, sedikit melenguh ketika Kai menarik penisnya keluar. Kai berbaring disampingnya dan memeluk pinggang Sehun hingga tubuh keduanya merapat, begitu posesif.
"Aku mencintaimu, Oh Sehun, sangat mencintaimu," bisik Kai di telinganya, begitu tulus.
Mata Sehun terpejam, terlalu lelah dengan olahraganya barusa. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kai dan bergumam; "Aku juga mencintaimu, Jonginnie."
Kai bisa merasakan hembusan nafas Sehun yang mulai teratur di dadanya itu. Satu tangannya memainkan rambut Sehun dan ia tahu Sehun sudah terlelap karena kelelahan sekarang. Kabut menghilang dari benak Kai dan ia bisa berpikir jernih sekarang. Ia kini telah menemukan jawaban yang selama seminggu ini ia cari.
e)(o
Sehun terbangun dalam balutan selimut yang lembut sendirian. Ia berusaha duduk namun meringis kesakitan begitu merasakan lubangnya perih dan punggungnya sakit. Tubuhnya tidak lengket sama sekali, Kai pasti sudah memandikannya ketika ia tertidur tadi. Ia hanya mengenakan kaos Kai yang besar tanpa celana dan Sehun bersyukur karena itu, ia merasa jika memakai celana malah membuat lubangnya semakin perih karena gesekan dengan kain itu.
"Oh, kau sudah terbangun," kata Kai begitu memasuki kamarnya dengan segelas air dan sepapan obat.
Wajah Sehun sontak memerah mengingat olahraga mereka pagi ini. Ia tak berani menatap wajah Kai dan hanya menunduk sambil mengangguk kecil.
Kai tertawa pelan ketika menghampirinya dan mengecup puncak kepalanya penuh sayang lalu duduk di hadapan Sehun. "Ini pain killer, minumlah dulu untuk mengurangi perihnya," kata Kai memberikan obat itu pada Sehun.
Sehun langsung menurut dan meminum obat itu. Menutup matanya merasakan perih dilubangnya mulai berkurang dan punggungnya terasa lebih baik. Ia membuka matanya dan langsung bertatapan dengan Kai yang mengamatinya baik-baik.
"Lebih baik kita makan siang dulu," kata Kai meletakan gelas itu di meja nakas.
"Kita harus bicara, Jongin," kata Sehun pelan menundukan kepalanya, menatap kedua tangannya yang bergerak dengan gelisah. Aku harus tahu apa yang terjadi padamu, pada kita, batin Sehun.
Kai mengangkat dagu Sehun untuk kembali untuk menatapnya. "Aku tahu, Sayang. Tapi kau perlu makan dulu, kita bicara setelah makan," kata Kai lembut dan mengecup bibir Sehun.
Sehun mengangguk-angguk menurut dan memeluk leher Kai, menenggelamkan wajahnya dileher kekasihnya itu. "Gendong," pinta Sehun berbisik, sedikit merengek.
Kai tertawa mendengar itu. "Tentu saja, baby," kata Kai mengangkat tubuh kurus Sehun dengan mudahnya dan membawanya ke dapur. Ia mendudukan Sehun dengan hati-hati di salah satu kursi itu. "Aku hanya memesan jjajangmyeon, apa kau mau ganti yang lain, Sayang?" tanya Kai.
Sehun menggeleng dan menarik salah satu mangkuk jjajangmyeon itu ke arahnya. Keduanya makan dengan tenang, sesekali Kai menanyakan apakah Sehun masih merasakan sakit atau tidak, mengambilkan Sehun minum, dan melayani Sehun sepenuhnya.
Setelah makan, Kai mencuci piring lalu kembali menggendong Sehun ke sofa, mendudukannya dengan hati-hati tak ingin Sehun sakit. Kai duduk dihadapannya dan menatapnya dengan intens, berbagai macam emosi tercetak dimatanya yang sulit Sehun artikan.
"Sehun, akulah yang membocorkan semuanya pada CEO Heigh untuk mengambil alih Jenguk Grup," kata Kai mengakui.
Hal itu membuat Sehun membeku. Hatinya langsung hancur dan dadanya terasa sesak. Bayangan Kai meniduri Baekhyun menyelinap dalam benaknya dan itu semakin memperburuk semuanya. Sakit. Sangat sakit.
"Ketika interview itu, saat kau menyiapkan interview pagi itu untukku, ternyata itu hanya panggilan palsu dan ternyata ayahku yang memanggilku. Aku langsung berbalik pergi, aku sudah tahu maksud semua ini terlebih sebelumnya kau menceritakan padaku masalah Jenguk Grup dan jelas aku takkan mau menjadi pionnya. Aku berniat pergi, Sehun, tapi ia mengatakan sesuatu," kata Kai dan suaranya mulai bergetar diakhir.
"Sesuatu?" tanya Sehun hampa.
"Ia tahu tentang kita, ia tahu aku mengejarmu, ia tahu aku mencintaimu. Lalu ia mengatakan aku takkan layak bersanding denganmu dengan semua reputasimu sebagai CEO Oh. Bahwa tak layak bagiku jika kau yang menafkahi kita apalagi jika aku bekerja hanya sebagai pegawai kantoran rendah dengan gaji kecil. Aku tak layak untukmu, Sehun, dan aku menyadari itu. Aku termakan oleh omongannya dan menyetujui menjadi pionnya, aku berharap jika aku mendapatkan Jenguk Grup, setidaknya aku lebih layak mendampingimu," kata Kai dengan tangan yang terkepal erat dan begetar menahan marah. Marah pada ayahnya, marah pada dirinya sendiri. Rasa malu dan penyesalan tercetak jelas diwajahnya ketika mengakui semua itu.
Sehun memeluk erat tubuh Kai, mencium pipinya penuh sayang berharap getaran dalam tubuh Kai berkurang. Lengan berotot Kai langsung memeluk pinggang rampingnya dan wajahnya terbenam dibahu Sehun. Kai menangis.
"Maafkan aku, Hun. Aku hanya ingin menjadi pria yang layak mendampingimu, egoku membuatku ingin membuktikan diri, egoku menginginkan posisiku berada diatasmu. Maafkan aku menghancurkan segala yang kau bangun untuk perusahaan keluargaku. Maafkan aku, Hun," kata Kai berbisik parau penuh penyesalan.
Sehun hanya memeluk Kai dengan erat. Kai terlalu mencintainya. Kai terlalu mencintainya hingga ia ingin menjadi pria yang layak bagi Sehun namun dengan cara yang salah. Air mata Sehun perlahan mengalir karena dadanya terasa teremas kencang dengan emosi yang meluap-luap. Bahagia dan hancur hati.
Ia bisa memaafkan jika Kai melakukan ini asal Kai membantu menyelesaikan masalah ini. Ia bisa. Tapi ia tak bisa memaafkan jika Kai meniduri Baekhyun. Ia tak yakin ia pernah bisa memaafkan yang satu itu.
Kai melepaskan tubuh Sehun dan menangkup wajahnya, membuat keduanya saling menatap. "Sehunnie, katakan sesuatu," bisik Kai memohon.
"Darimana kau mendapatkan semua info itu, Jongin? Apa kau meniduri Baekhyun-hyung?" tanya Sehun hampa, tak bisa menghentikan mulutnya.
Kai terkejut mendengar itu. "Siapa yang mengatakan hal seperti itu, Sehun?" tanyanya tak bisa menekan nada marahnya.
Sehun menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak keras. Hatinya terasa sakit karena bayangan Kai dan Baekhyun terus menghantui benaknya. "Suho-hyung meniduri Baekhyun-hyung untuk mendapatkan informasi, Jongin. Dan Min-Minseok-hyung bilang kemungkinan kau juga begitu," kata Sehun terisak.
Kai ingin marah, ia sangat ingin marah karena Sehun meragukan kesetiaannya. Tapi ia tahu itu juga salahnya, itu karena masa lalunya yang bobrok hingga semua orang berpikir begitu. Ia tak boleh marah dan memperburuk keadaan, ia hanya perlu meluruskan.
Kai menurunkan tangan Sehun dan kembali mengangkat wajah Sehun untuk menatapnya, menghapus air mata itu dengan lembut dan mengecup pipi kekasihnya penuh sayang. "Aku tidak meniduri Baekhyun, Sehunnie. Aku bisa kembali mabuk-mabukan dan merokok, tapi satu yang tak bisa kulakukan adalah menyentuh orang lain. Aku tak bisa berselingkuh denganmu," kata Kai lembut dan menatap mata Sehun agar kekasihnya tahu ia bersungguh-sungguh.
"La-lalu darimana?" tanya Sehun masih sedikit terisak.
"Kau ingat hari itu aku kembali memintamu menginap? Kau membawa laptopmu untuk bekerja sebentar sebelum tidur. Aku menyadap laptop dan ponselmu ketika kau tertidur, jadi aku tahu semua rencanamu. Semua yang bahkan Baekhyun tak ketahui," kata Kai menjelaskan.
"Me-menyadap," kata Sehun terbata, terlalu terkejut karena pikiran itu tak terpikirkan sama sekali.
Kai tersenyum sendu dan mengusap pipi Sehun. "Aku ini mantan seorang Intelejen, Sehunnie. Pekerjaan seperti itu mudah bagiku," kata Kai. "Aku minta maaf atas semua ini, Sehun. Aku menyadari ini semua salah, aku tak bisa melanjutkan ini lagi. Aku akan membantu kalian membalikan keadaan."
Sehun menangkup wajah Kai dan mencium kekasihnya itu lalu memeluk leher Kai erat. "Bodoh," gumam Sehun serak, kembali menangis kali ini karena kelegaan. "Kau seharusnya sudah tahu aku takkan peduli apapun pekerjaanmu atau berapapun gajimu. Aku akan bahagia asalkan bersamamu. Aku mencintaimu apa adanya, Kim Jongin," kata Sehun, air matanya mengalir deras ketika mengatakan seluruh isi hatinya.
"Aku tahu sekarang, baby. Aku sudah sadar hal itu saat ini. Maafkan kebodohanku karena baru menyadarinya sekarang. Terima kasih telah mencintaiku dengan tulus, Sehunnie. Aku sangat mencintaimu, Oh Sehun," kata Kai membisikan semua perasaannya di telinga Sehun, tangannya memeluk erat pinggang Sehun dan membawa pria manis itu ke pangkuannya.
Sehun sedikit menjauhkan wajahnya dan mencium Kai dengan lembut. Kai langsung membalas ciumannya. Begitu lembut dan dalam, tidak terburu-buru atau penuh nafsu. Mereka hanya mengekspressikan cinta mereka yang tak cukup digambarkan dengan kata-kata.
"Kita harus menyusun rencana untuk menjebak Heigh dan ayahmu," kata Sehun setelah Kai melepaskan bibirnya.
"Aku akan berikan semua infonya padamu," kata Kai mengangguk. "Aku akan menebus semua kesalahanku padamu, Sehun. Aku akan membayar kesalahanku hingga aku bisa menjadi pria yang layak bagimu," kata Kai menatap ke mata Sehun.
Ada kesenduan, tekad yang bulat, dan cinta yang begitu dalam dimata Kai. Semuanya hanya untuk Sehun. Tapi Sehun bingung kenapa ada kesedihan dimata Kai ketika mengucapkan janjinya itu. Sehun memutuskan untuk tak berpikir terlalu jauh dan hanya menutup matanya, menikmati ketika Kai mulai kembali melumat bibirnya.
•AR•
