CHAPTER EIGHTEEN: CLOSURE PT. 2

Sepuluh hari telah berlalu dan terasa begitu berat bagi Sehun. Ia, Shixun, Minseok, Jongdae, dan Kai sering lembur untuk membalikan keadaan Jenguk Grup. Sejauh ini mereka sudah mendapatkan kembali 25% dari semua kerugian mereka yang disebabkan CEO Heigh, berkat semua info dari Kai tentu saja. Dan mereka masih terus merebut kembali kerugian mereka sebelum menjebloskan CEO Heigh dan Kim Youngmin ke penjara.

Bukan hanya itu, sudah 3 hari ini kepala Sehun terasa begitu pusing dan ia sering muntah. Ia mulai menjadi pemilih soal makanan dan juga wangi parfum orang-orang disekitarnya. Minseok, Jongdae, Shixun, dan Kai sudah 2 kali ganti parfum dalam 3 hari ini hanya karena Sehun tak suka mencium parfum yang mereka kenakan. Mereka jelas tak bisa menolak perintah Sehun apalagi Sehun menyuruh mereka dan terlihat menggemaskan dengan wajah cemberutnya itu.

"Kita ke dokter hari ini," kata Shixun tegas begitu selesai menangani Sehun yang muntah pagi itu. "Jangan membantah, Hyung. Kalau perlu aku akan menggendongmu sampai ke rumah sakit. Kau ingin itu terjadi?"

Sehun cemberut dan memukul dada Shixun kesal karena ancaman adiknya itu. "Baiklah, tapi kau tak boleh meninggalkanku sendirian!" kata Sehun memperingatkan.

Shixun tersenyum, ia merangkul pinggang ramping Sehun dan mengecup pelipis Hyungnya yang sedikit berkeringat itu. "Tidak akan, Hyung. Aku tak mau kau diculik karena kau terlalu menggemaskan," kata Shixun bercanda.

"Aku tidak menggemaskan!" protes Sehun cemberut kembali memukul dada Shixun.

Shixun hanya tertawa mendengar itu.

Keduanya kembali tidur sebentar karena waktu masih menunjukan pukul 4 subuh. Begitu bangun keduanya langsung siap-siap untuk ke dokter. Shixun mengabari yang lainnya mengatakan ia dan Sehun mungkin datang terlambat atau tidak datang sama sekali karena ada urusan mendadak —Sehun melarangnya memberitahu mereka ke dokter karena tak ingin membuat yang lain cemas, tentu saja Shixun langsung menurut—. Dan setelah itu si kembar Oh langsung menuju ke rumah sakit.

Mereka mengisi form, menunggu dokter sebentar, lalu masuk menemui dokter. Sehun menjelaskan keluhan kesehatannya, dokter mengambil darahnya dan mengatakan mereka untuk menunggu sekitar 30 menit hingga hasil lab keluar, baru kembali menemui dokter mereka kembali. Ternyata, kabar yang dibawa sang dokter benar-benar mengejutkan.

"Selamat, Sehun-sshi. Anda sedang hamil," kata si dokter tersenyum ramah.

Kedua kembar itu membeku mendengar itu. Jantung Sehun bertalu keras mendengar kabar itu. Kabar yang tak pernah diduganya. Ia tak pernah tahu bahwa pria bisa hamil, ia tak pernah tahu bahwa ia bisa hamil. Ia pernah berpikir bahwa ia akan mengadopsi anak bersama Kai nantinya karena ia tak bisa memberikan keturunan untuk Kai, tapi kabar ini begitu mengejutkan.

"Hamil?" tanya Shixun kosong, bagai mendengar kabar kematian.

Sehun menatap adiknya, jelas terkejut dengan reaksi Shixun itu. Apa Shixun benci karena Sehun hamil? Kenapa reaksi Shixun seperti ini?

"Ya, benar. Sehun-sshi termasuk segelintir pria yang bisa mengandung. Itu merupakan keajaiban. Tapi perlu anda ketahui, sebagai seorang pria, kehamilan bukanlah hal yang lazim sehingga kandungan Anda jauh lebih rentan daripada wanita. Anda harus menjaga kandungan Anda baik-baik dan rutin untuk kontrol, Sehun-sshi," kata Sang dokter menasehati.

"Sa-saya mengerti, dokter. Te-terima kasih banyak," kata Sehun sulit berbicara karena kabar bahagia ini, terlalu bahagia hingga ia tak tahu harus seperti apa. Bahagia dan bingung, masih sulit percaya bahwa keajaiban ini benar-benar terjadi.

"Anda bisa mulai memeriksakan kandungan Anda di minggu keempat, saya akan merekomendasikan dokter kandungan terbaik disini berhubung kondisi Anda bisa sangat rentan."

"Terima kasih banyak, dokter. Saya akan memeriksakannya sesuai saran dokter," jawab Sehun, melirik adiknya yang hanya duduk dan terlihat hampa.

"Baik kalau begitu Anda boleh keluar sekarang, jaga kesehatan Anda, Sehun-sshi. Anda juga, Shixun-sshi," kata si dokter ramah.

"Ah, ya. Sekali lagi, terima kasih banyak, dokter," kata Sehun berdiri dan menarik Shixun bersamanya, memberi salam pada si dokter dan keluar.

Shixun masih tak bicara apa-apa bahkan ketika mereka sampai dimobil. Seakan adiknya itu hilang dalam dunianya sendiri. Sehun yang menyetir kali ini dan mereka menuju rumah, jelas Shixun tidak bisa bekerja dalam keadaan seperti ini.

Adik kembarnya itu masih tidak mengatakan apapun bahkan ketika mereka tiba di rumah. Sehun menuntun Shixun untuk ke kamar dan mendudukan adiknya dikasur mereka. "Xunnie, bicaralah sesuatu," bisik Sehun memohon.

"Kau hamil," kata Shixun hampa.

Sehun menunduk, menatap perut ratanya, dimana calon kehidupan ada disana. "Aku hamil," kata Sehun mengulang, mengelus perut ratanya penuh sayang, air mata haru dan kebahagiaan mulai memenuhi pelupuknya. Aku hamil anak Jongin, batin Sehun bahagia.

Tangan Sehun ditarik hingga ia duduk dipangkuan Shixun, membuat pria manis itu memekik terkejut. Namun yang benar-benar tak terduga adalah ketika Shixun mencium bibirnya. Mata Sehun membola merasakan bibir adiknya dibibirnya, menciumnya dengan dalam. Tangan Shixun memeluk pinggangnya erat hingga tubuh mereka merapat.

Sehun mendorong bahu Shixun dan menggerakan badannya, berharap bisa lepas dari pelukan Shixun yang erat itu. Ini salah. Ini sangat-sangat salah. Seharusnya mereka tak lagi melakukan ini, seharusnya ini semua sudah berhenti sejak belasan tahun lalu, sejak 20 tahun lalu. Seharusnya Shixun tak lagi mencium Sehun.

"Shi-Shixun— apa yang—" Sehun menatap adiknya tak percaya dengan nafas berat begitu Shixun melepaskan bibirnya. Matanya mencari-cari jawaban dimata Shixun. Mata Shixun penuh dengan berbagai macam emosi, kesedihan, rasa frustasi, marah, dan sesuatu yang lain. Yang selalu ada di dalam mata Shixun ketika menatapnya, sesuatu yang tak pernah Sehun tahu apa artinya.

"Aku mencintaimu, Hyung. Bukan sebagai adik tapi sebagai pria," kata Shixun mengatakan sambil menatap ke dalam mata Sehun, ingin Sehun menyadari seberapa besar perasaannya yang telah ia pendam selama lebih dari 20 tahun.

Sehun jelas terkejut mendengar itu. Sulit baginya untuk mempercayai itu, tapi melihat mata Shixun, kini semuanya terasa jelas. Seakan titik-titik rancu di masa lalu telah terkait satu sama lain membentuk sebuah rangkaian. Kini terjawab kenapa Shixun suka menciumnya, kini terjawab kenapa Shixun begitu posesif padanya, kini terjawab kenapa Shixun begitu marah ketika ia mengatakan bahwa ia menyukai Kai sebelas tahun lalu, kini terjawab… bahwa sesuatu yang lain dalam pandangan Shixun adalah cintanya yang telah lama ia pendam untuk Sehun.

"Aku mencintaimu sejak kecil dan perasaan itu semakin menggila ketika kita remaja, kau terlihat begitu cantik dan sulit bagiku untuk menekan perasaanku, hasratku. Karena itu aku memutuskan untuk pergi, agar aku bisa berhenti mencintaimu. Tapi nyatanya itu tak merubah apapun. Bahkan ketika bertemu kembali di Rusia, meskipun wajahmu begitu dingin, aku masih tetap mencintaimu. Aku tak bisa menyangkalnya seberapapun tak normalnya perasaanku ini. Aku mencintaimu, Hyung," kata Shixun mengakui semuanya.

Sehun tak tahu bagaimana harus menjawab hal itu. Hatinya hancur mendengar pengakuan Shixun, hatinya hancur karena tahu hati Shixun hancur mengetahui Sehun takkan pernah membalas perasaannya. Sehun menyayangi Shixun sebagai adik, sangat menyayanginya, namun Kim Jonginlah satu-satunya pria yang Sehun cintai. Dan itu takkan berubah.

"Aku tahu kau jijik padaku—"

Sehun langsung memeluk Shixun dengan erat begitu kata-kata itu keluar dari mulut Shixun. Isak tangisnya mulai tak tertahankan dan ia hanya bisa membiarkan air matanya mengalir. Hatinya terasa teremas dan begitu menyakitkan, sangat menyakitkan karena ia begitu menyayangi Shixun dan tak ingin ia tersakiti. Sayang takdir berkata lain, karena hati Shixun akan terus tersakiti selama Sehun tak membalas perasaannya.

"Aku tidak jijik padamu," kata Sehun disela-sela isakannya. "Aku takkan pernah jijik padamu, Shixun," ulang Sehun menenggelamkan wajahnya dibahu Shixun.

Shixun bersandar di kepala tempat tidur, Sehun masih terisak dipangkuannya. Ia menghela nafas panjang sementara satu tangannya memainkan rambut halus Sehun, menunggu Hyungnya itu berhenti menangis. "Jangan menangisiku, Hyung. Aku tahu kau takkan pernah membalas perasaanku. Aku sudah mengetahui itu sejak dulu, jadi jangan menangisiku."

Meski Shixun mengatakan itu, nyatanya sulit bagi Sehun untuk berhenti menangis. Hatinya sangat sakit membayangkan bagaimana sakitnya Shixun selama bertahun-tahun ini. Sehun jelas tahu bagaimana sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, ia mengalami itu 7 tahun lamanya hingga hatinya mendingin dan tak merasakan sakit itu lagi. Sehun tahu jelas bagaimana menyakitkannya itu, selama 7 tahun menangisi Kai diam-diam. Tapi Shixun berbeda, ia telah mencintai Sehun dari mereka kecil, bukan hanya 7 tahun, mungkin belasan tahun, mungkin juga lebih dari 20 tahun lalu ketika umur mereka masih 5 tahun dan Shixun menciumnya untuk pertama kalinya, ia memendam rasa begitu lama dan terus mencintai Sehun. Ia berada disamping Sehun meski ia tak bisa memiliki Sehun.

Shixun sudah terlalu menderita, aku tak ingin Xunnie terus menderita. Tapi apa yang harus kulakukan kalau yang kucintai adalah Jongin dan aku mengandung anak Jongin? batin Sehun.

Seandainya Sehun tak kembali bertemu kembali dengan Kai, seandainya Kai tak mengutarakan perasaannya pada Sehun, seandainya Sehun tahu perasaan Shixun sebelum ia jatuh cinta lagi pada Kai… maka Sehun akan menerima perasaan Shixun. Meski ia tidak mencintai Shixun, ia akan menerima perasaan Shixun karena ia terlalu menyayangi Shixun, karena ia ingin Shixun bahagia. Meskipun incest bukanlah hal yang normal, bukanlah hal yang bermoral, Sehun akan melakukan itu demi Shixun. Demi kebahagiaan Shixun.

Tapi sekarang adalah kenyataan, bukan lagi seandainya, pikir Sehun memejamkan matanya dan semakin memperat pelukannya dileher Shixun, wajahnya masih terbenam dibahu Shixun.

"Tak perlu menjawab, Hyung. Aku sudah tahu jawabanmu. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku yang sebenarnya. Jadi berhentilah menangis," kata Shixun mengusap punggung Hyungnya yang bergetar karena isak tangisnya.

Sehun mengambil nafas dalam, wangi tubuh Shixun yang begitu khas dan maskulin memasuki indra penciumannya, menenangkan dan membuatnya merasa aman. Ia berusaha untuk mengendalikan dirinya, berusaha menghentikan isakannya.

"Kenapa keluarga Oh harus menderita cinta bertepuk sebelah tangan?" gumam Sehun merengek dengan suara paraunya.

Shixun tertawa mendengar itu dan Sehun menyadari ia menyukai mendengar Shixun tertawa, ia suka berada dipelukan Shixun ketika adiknya itu tertawa. "Entahlah, mungkin karena keturunan? Apa Hyung tahu ayah diam-diam mencintai ibu selama belasan tahun dan akhirnya mereka menikah karena dijodohkan?" tanya Shixun tertawa geli.

Sehun mengangkat wajahnya, terkejut mendengar hal itu. "Benarkah? Aku baru tahu itu!" kata Sehun tak percaya.

"Ibu baru mulai mencintai ayah ketika mereka mulai menikah. Oh, bahkan kakek mencintai nenek diam-diam selama beberapa tahun hingga akhirnya mereka jadian dan menikah. Pernikahan mereka sempat ditentang, tapi kakek berjuang untuk nenek hingga akhirnya tak ada jalan lain selain menerima nenek di keluarga Oh," kata Shixun menceritakan dengan geli.

"Bohong! Darimana kau tahu itu?!" tanya Sehun masih sulit percaya omongan Shixun itu.

Shixun menyeringai dengan bangga. "Tentu saja aku mendesak ibu dan nenek untuk cerita."

Sehun cemberut mendengar itu. "Itu tak adil, aku baru tahu sekarang," protesnya merengek.

Si Bungsu Oh hanya tersenyum lembut menatap Hyungnya yang begitu menggemaskan itu. Perlahan matanya turun ke bibir Hyungnya dan wajahnya semakin mendekat pada wajah Sehun. Sehun jelas menyadari itu, tubuhnya hanya terdiam dengan kaku dan matanya terpejam erat. Detik berikutnya bibir Shixun menyapu bibirnya dengan lembut, lalu melumat bibirnya. Sehun tak melakukan apa-apa, ia hanya diam dan tak membalas ciuman Shixun, jari-jarinya meremas baju dibagian bahu Shixun dan matanya masih terpejam dengan erat.

Sehun membuka matanya perlahan begitu Shixun berhenti menciumnya, ia menemukan Shixun menatapnya penuh kesenduan dan cinta yang besar. Begitu besar hingga menyesakan Sehun. "Aku hanya ingin bersamamu meski cintaku tak pernah berbalas. Kumohon jangan menjauhiku, Hyung. Jika perlu, anggap saja pembicaraan ini tak pernah terjadi," kata Shixun mengusap-usap pipi Sehun yang masih tersisa jejak air mata yang belum mengering.

"Xunnie…"

"Aku serius, Hyung. Aku hanya ingin bersamamu. Aku tak ingin ada yang berubah diantara kita, tapi aku terlalu lelah menyimpan perasaan itu. Aku hanya ingin kau tahu itu saja," kata Shixun serius.

Sehun menunduk. "Maafkan aku," bisik Sehun menyesal dan tetesan air mata kembali mengalir dipipinya itu.

"Jangan minta maaf, Hyung. Ini bukan salahmu. Berhenti disini, ok? Kita takkan perlu membahasnya lagi."

Sehun mengangkat wajahnya dan hendak kembali bicara, namun melihat wajah Shixun membuatnya mengurungkan niatnya. Sehun tahu semakin mereka membahas ini justru Shixun semakin tersakiti, jadi ia memilih untuk diam dan mengangguk.

"Kurasa pagi ini cukup melelahkan, kau ingin tidur atau jalan-jalan?" tanya Shixun menyeka air mata Hyungnya itu.

Ketika Shixun menanyakan itu, kantuk mulai mendatangi Sehun dan pria manis itu menguap lebar membuat Shixun tertawa kecil. "Tiba-tiba aku mengantuk," kata Sehun mengusap matanya, menghapus sisa-sisa air matanya.

"Aku bisa lihat itu," kata Shixun tertawa. "Kalau begitu, ayo kita tidur, Hyung," katanya mengubah posisi mereka.

Shixun berbaring, satu tangannya memeluk pinggang Sehun dan kepala Sehun beristirahat di dada bidang Shixun sedangkan tangan Shixun lainnya mengambil tangan Sehun dan memainkan jari-jari kurus itu. Sehun bisa mendengar detak jantung Shixun dengan jelas, kini Sehun baru menyadari bahwa detak jantung Shixun selalu lebih cepat darinya ketika mereka berdekatan. Apa ini karena Sehun? Karena Sehun sendiri selalu merasakan itu ketika bersama Kai.

Detak jantung Shixun cepat dan beritme, begitu menangkan Sehun bagai sebuah nina bobo. Jari-jari Shixun yang memainkan jari-jarinya membuatnya semakin mengantuk. Sehun tahu tak lama baginya untuk pergi ke alam mimpi.

e)(o

Shixun menatap langit-langit kamar mereka. Sehun sudah terlelap, kejutan emosional yang diterimanya pagi ini jelas membuat tubuhnya lelah. Apalagi ia sedang mengandung saat ini.

Mengandung.

Sehun sedang mengandung dan Shixun yakin itu adalah anak Kai. Pria bedebah sialan itu benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan dan menghamili Sehun. Sehunnya. Shixun sangat ingin membunuh Kai saat ini, hasrat membunuh mantan sahabatnya itu sangat tinggi apalagi begitu mengetahui Sehun hamil. Justru hal itulah yang membuat Shixun mengurungkan niatnya membunuh Kai.

Sehun pasti akan syok dan depresi jika Kai mati, itu malah berpotensi membuat Sehun keguguran karena kandungan Sehun yang rentan. Aku memang membenci Kai hingga ingin membunuhnya, tapi aku takkan bisa membenci darah daging Sehun meski itu juga anak Kai. Aku pasti akan mencintai anak itu seperti anakku sendiri, pikir Shixun menghela nafas panjang.

Mungkin aku bisa membunuh Kai setelah Sehun melahirkan. Orang itu tak pantas hidup sama sekali.

Shixun menatap Sehun yang tertidur lelap di dadanya, jari-jari mereka bertaut dan pinggang ramping Sehun terasa begitu pas dipelukannya. Pria tampan itu menciumi rambut Hyungnya penuh sayang, menghirup wangi yang begitu ia sukai, membuatnya tenang.

"Aku mencintaimu, Hyung. Tetaplah kuat dan lahirkan anak ini dengan sehat," bisik Shixun yang terbenam rambut halus Sehun. Setelah itu aku akan membunuh Kai dan membuatmu mengandung anak-anakku. Kita akan membentuk keluarga yang sempurna. Kita selalu berdua sejak awal, takkan kubiarkan orang lain merusak dunia kita.

e)(o

Sehun terbangun ketika waktu menunjukan pukul 3 sore. Shixun langsung ikut terbangun begitu menyadari Sehun bergerak di dalam pelukannya.

"Hei, Hyung, kau sudah bangun," kata Shixun terlihat sangat mengantuk, tapi ia tetap mengecup pelipis Sehun dengan sayang dan berusaha tetap sadar. "Apa ada yang kau inginkan?" gumamnya bertanya kembali memjamkan matanya.

"Bubble tea," gumam Sehun memeluk tubuh berotot Shixun dan kembali meletakan kepalanya di dada Shixun sambil mengamati Shixun yang masih belum bangun sepenuhnya.

"Hmmm," gumam Shixun mengerti masih tak membuka matanya.

"Xunnie, aku ingin bubble tea," rengek Sehun kini mulai tak sabaran. Ia benar-benar butuh bubble tea sekarang, 3 gelas! Tidak, mungkin 5! Harus! Sekarang juga! "Xunnie!" rengek Sehun memukul bahu adiknya keras agar terbangun itu.

Shixun mengerang karena pukulan Sehun itu, perasaannya saja atau pukulan Sehun terasa lebih sakit dari biasanya? Aish, kekuatan ibu hamil memang berbeda, pikir Shixun meringis. Shixun mau tak mau membuka matanya dan menengok ke balkon kamar mereka lalu kembali mengerang. "Hyung, ini sedang hujan deras, mungkin akan berubah menjadi badai! Kenapa kau ingin minum bubble tea dingin," erang Shixun.

Sehun cemberut. Ini memang bulan Juli dan curah hujan sedang tinggi di Seoul. Tapi tetap Sehun ingin bubble tea sekarang dan ia sangat ingin memakan siapapun yang dilihatnya jika ia tak mendapatkan bubble teanya. "Aku ingin bubble tea," kata Sehun cemberut, menatap tajam Shixun. "Antarkan aku membeli bubble tea!" suruh Sehun sedikit merengek.

Shixun menatap Hyungnya yang terlihat sangat menggemaskan itu, membuatnya tak bisa menolak permintaan Hyung tercintanya itu. "Bayar uang muka dulu padaku, kau sudah tahu harganya," kata Shixun menyeringai.

Sehun langsung merona menyadari apa yang Shixun minta, ia langsung menggeleng kuat. "Tidak mau, nanti kau semakin menyukaiku."

Shixun tertawa mendengar jawaban polos Hyungnya itu. "Baiklah, kalau begitu tidak perlu beli bubble tea, ya," kata Shixun menggoda Sehun.

Sehun cemberut mendengar itu dan memukul bahu Shixun dengan keras lalu langsung mengecup kilat bibir Shixun itu. Pria manis itu langsung menenggelamkan wajahnya yang merona di dada Shixun. "Sudah," kata Sehun malu-malu, mengintip ekspressi Shixun.

Si Bungsu Oh itu masih berbaring mematung, ciuman itu begitu singkat dan begitu polos bagi standar Shixun, tapi tetap saja Shixun bisa merasakan manisnya bibir Sehun dengan jelas. Perlahan membangkitkan gairahnya.

"Hyung," panggil Shixun sedikit serak dan lebih dalam.

"Eung?" tanya Sehun bingung menangkat wajahnya untuk menatap Shixun.

"Kita harus segera berangkat sebelum aku tegang."

Sehun langsung duduk dengan tegak dengan wajah yang merona malu hingga ke kupingnya, mengerti benar maksud Shixun itu. Si Sulung melihat boxer Shixun sedikit menonjol membuatnya memekik terkejut dan ngeri.

"MESUM!" seru Sehun memukul keras perut berotot Shixun dengan tinjunya dan langsung melompat kabur dari tempat tidur mereka, meninggalkan Shixun yang mengerang kesakitan karena kebrutalan Sehun itu.

A•R

Hari ini begitu penuh dengan kejutan bagi Sehun, baik maupun buruk. Ia menemukan dirinya hamil anak Jongin dan mengetahui bahwa adik kembar mencintainya dengan tidak wajar. Keinginan ngidamnya mulai aneh-aneh membuat Shixun cukup kewalahan menangani Sehun seharian ini.

Setelah mereka bangun tidur siang, Shixun menuruti Sehun yang menginginkan bubble tea meski sedang hujan deras. Setelah minum 5 gelas bubble tea –Shixun hanya bisa menggeleng melihat Hyungnya itu, mengingatkan untuk berhenti minum karena kadar gulanya terlalu tinggi dan bisa membahayakan bayinya. Tentu saja itu diabaikan oleh Sehun yang menikmati waktu dalam hidupnya–, Sehun mengatakan ingin hujan-hujanan.

Shixun berusaha mencegah Sehun, tapi Hyungnya itu malah menatapnya memelas dan tampak ingin menangis karena dilarang hujan-hujanan. Pada akhirnya Shixun segera mencari penjual mantel hujan terdekat dan membelikan mantel hujan yang tebal dan sepatu boot untuk Sehun agar Hyungnya tak sakit. Tentu saja ia harus ikut hujan-hujanan dengan Hyungnya itu.

Tidak hanya sampai situ, sehabis hujan-hujanan, Sehun mengatakan ingin makan di resotran Prancis di pinggiran kota yang membutuhkan waktu satu jam berkendara untuk menempuhnya. Shixun benar-benar ingin menolak dan mengajak Sehun ke restoran mewah bergaya Prancis yang jaraknya 10 menit dari tempat mereka bermain hujan, tapi tentu saja Sehun selalu menang dengan pandangan memelasnya itu.

Pada akhirnya mereka pulang ketika waktu menunjukan pukul 8 malam dan semua keinginan Sehun sudah terpenuhi. Siapa sangka ada tamu yang menanti mereka di rumah untuk membawakan kabar yang mengejutkan.

"Ma-maaf?" tanya Sehun berharap pendengarannya bermasalah, menatap terkejut kedua tamu dadakannya itu.

"Kim Jongin-sshi menyerahkan diri ke kantor polisi atas tindakan kriminal seksualnya yang dilakukannya pada Anda sekitar 6 tahun lalu di London, Sehun-sshi. Jongin-sshi sekarang menjadi tahanan sementara hingga pengadilan memutuskan hukuman yang pantas ia terima. Ada beberapa dokumen laporan juga pertanyaan yang perlu kami tanyakan sebelum kami mempersiapkan sidang perdana kasus ini minggu depan," kata si petugas kepolisian itu memberitahu kembali lebih jelas dan lebih perlahan menyadari ini jelas kabar yang sulit diterima oleh Sehun.

Dunianya terasa berputar dan dijungkir-balikan mendengar itu. Kepalanya begitu pusing dan badannya tiba-tiba lemas. Titik-titik hitam mulai memenuhi visinya dan terakhir yang Sehun dengar adalah suara Shixun yang memanggilnya.

A•R

Ketika Sehun kembali terbangun, waktu sudah mendekati tengah malam, ia berbaring di ranjangnya dan Shixun duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan laptop dipangkuannya, mengerjakan sesuatu.

"Xunnie," bisik Sehun serak.

"Oh, kau sudah bangun, Hyung," kata Shixun langsung meletakan laptopnya di meja nakas dan merapat pada Hyungnya. "Bagaimana keadaanmu? Dokter bilang kau terlalu syok hingga pingsan, itu tak baik untuk kandunganmu yang masih terlalu muda," kata Shixun mengusap-usap rambut Hyungnya.

Begitu mendengan soal kandungannya, Sehun refleks mengelus perut ratanya dan matanya mulai berair. "Jonginnie…" isaknya kembali mengingat kabar yang diterimanya beberapa jam lalu.

Shixun langsung memeluk Hyungnya itu dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut. "Tenang Hyung, ia hanya ingin menebus kesalahannya dimasa lalu. Biarkanlah ia melakukan itu sebagai seorang pria. Kau harus menghargainya," kata Shixun menenangkan.

"Aku tak ingin ini terjadi," kata Sehun terisak.

"Kau harus menerima ini semua. Ini keputusan Kai."

Sehun semakin terisak dan memeluk Shixun erat. "A-aku tak bisa, Xunnie. Aku tak bisa menghadapi kasus ini, aku tak bisa berada dipengadilan untuk menuntutnya."

"Aku akan mewakilimu. Aku akan urus ini semua, Hyung. Kau cukup fokus menjaga kandunganmu dan mengambil kembali Jenguk Grup. Aku yakin Kai juga pasti masih bisa membantu meski di dalam sel."

Isakan Sehun semakin tak terkendali mendengar kata-kata Shixun yang terakhir itu. Hatinya hancur membayangkan Kai berada di penjara.

"Hyung, berhentilah menangis, kumohon," bisik Shixun mengecupi rambut Sehun penuh sayang, ia jelas takut kandungan Sehun terancam karena rollercoaster emosi yang ia alami seharian ini. "Kau harus kuat, Hyung. Apapun yang terjadi ke depannya, aku akan terus mendampingimu meski Kai tak disampingmu. Pengadilan juga pasti meringankan hukumannya berhubung ia menyerahkan dirinya sendiri," kata Shixun mencoba menenangkan.

Mendengar perkataan Shixun itu sedikit banyak menenangkan Sehun dan membuat isakannya berkurang. Butuh beberapa saat bagi Sehun untuk menghentikan isakannya sepenuhnya dan mengendalikan dirinya. Shixun benar, ia harus menjadi kuat demi bayinya.

Demi bayiku dan Jongin, batin Sehun mengelus-elus perut ratanya. Dan ada Shixun yang selalu bersamaku, semua akan baik-baik saja, pikir Sehun menguatkan dirinya.

Shixun mengangkat wajah Sehun dan mengusap air mata Sehun dengan lembut. "Apa kau ingin sesuatu, Hyung? Kau lapar?" tanya Shixun lembut.

"Mau lasagna," gumam Sehun. "Aku ingin makan lasagna buatan Kyungsoo-hyung," katanya lagi cemberut merasakan perutnya sudah lapar lagi.

Shixun mengerang mendengar itu. "Kyungsoo-hyung sudah tertidur jam segini, Hyung. Tak mungkin membuatkanmu lasagna," katanya. "Serius, Hyung, kau baru seminggu hamil permintaannya sudah aneh-aneh. Apa jadinya bulan-bulan ke depannya," gumam Shixun menggeleng.

Sehun cemberut mendengar itu. "Kau lelah mengurusku," katanya menuduh dan matanya kembali berair.

"Tidak, Hyung, tidak," kata Shixun cepat sebelum Sehun kembali menangis lagi. "Okay, maafkan Xunnie, Hyung. Maaf, ya? Xunnie takkan bicara seperti itu lagi," kata Shixun meminta maaf dan mengecupi seluruh wajah Sehun membuat Hyungnya itu terkikik geli. Terahkir ia mengecup bibir Sehun kilat.

"Aku akan maafkan setelah aku makan lasagna Kyungsoo-hyung," kata Sehun.

Shixun mengerang mendengar itu dan segera mengambil ponselnya. Ia harus membangunkan Kyungsoo untuk membuatkan Sehun lasagna selagi Shixun dan Sehun menuju ke sana. Untungnya Kyungsoo tak banyak protes dan langsung mengiyakan permintaan Shixun itu.

Kyungsoo dan Suho adalah orang kedua dan ketiga yang tahu tentang kehamilan Sehun. Mereka mengatakan akan tutup mulut hingga Sehun sendiri yang mengumumkan pada yang lainnya setelah memberitahu Kai.

Tak ada yang tahu bahwa Sehun berniat memberitahu Kai setelah putusan pengadilan atas hukuman yang Kai terima.

A•R

Sebulan terlalu terasa cepat namun juga lambat. Sulit bagi Sehun untuk menetapkan apakah ia menyukai sebulan penuh rollercoaster ini. Ia fokus menjaga kandungannya dan mengurus masalah Jenguk Grup, Shixun mengurus kasus Kai dan Kai sendiri membantu menjatuhkan CEO Heigh dan Kim Youngmin dari selnya. Pada akhirnya mereka berhasil mengambil kembali semua kerugian mereka serta bunganya dan memproses kedua orang itu dijalur hukum.

Suho mengurus Huntak Grup diluar urusan Jenguk Grup dibantu dengan Shixun, Baekhyun, Seulgi, dan Kyungsoo, sangat meringankan pekerjaan Sehun sehingga ia tak terlalu lelah dan kandungannya tak terancam. Shixun juga selalu mendampingi Sehun melewati masa awal-awal kehamilannya. Krystal, Taemin, dan Taejoon datang ke Korea begitu mengetahui kabar Sehun hamil, mereka tinggal di Korea seminggu untuk menjaga Sehun sementara Shixun sibuk mengurus yang lain.

Pada akhirnya, dikehamilan Sehun yang menginjak 6 minggu ini, semua teman-temannya sudah tahu kecuali anak dari bayinya. Hanya Kai yang tak tahu soal kabar kehamilan Sehun ini dan Sehun sendiri tak kuat jika harus mengunjungi Kai. Emosinya terlalu rapuh untuk melihat kondisi orang yang ia cintai itu.

Tapi pagi ini berbeda, pagi ini ia akan menghadiri persidangan Kai. Persidangan terakhir Kai. Kemarin ia dan Shixun sudah ke dokter untuk memeriksa kandungannya dan bayinya begitu sehat, jadi Sehun memutuskan untuk menghadiri persidangan hari ini.

"Kau yakin, Hyung?" tanya Shixun ragu memakaikan Sehun jaketnya agar tidak kedinginan.

Sehun mengangguk sambil tersenyum kecil. "Ini persidangan terakhir, aku ingin hadir dan mendengar sendiri keputusan hakim," kata Sehun menenangkan adiknya.

Shixun mengangguk dan tak lagi membantah. Setelah memastikan tak ada lagi yang tertinggal, si kembar menuju ke pengadilan bersama. Persidangan itu berlangsung sangat lama bagi Sehun meski sebenarnya berjalan selama 30-45 menit. Sejak matanya menangkap sosok Kai yang memasuki ruang sidang, ia berusaha menahan air matanya dan menahan tubuhnya untuk tidak menghambur kepelukan Kai. Sehun baru menyadari betapa ia sangat merindukan Kai.

"Dengan ini saya menyatakan, Kim Jongin-sshi akan dijatuhi hukuman 3 tahun penjara," kata si Hakim lalu mengetuk palu 3 kali.

Air mata Sehun mengalir deras mendengar itu. Ia tak lagi mendengarkan apa kata hakim berikutnya soal tetek-bengek banding atau apapun itu. Matanya hanya terfokus pada Kai dan mata Kai juga hanya tertuju padanya. Ketika petugas membawa Kai untuk keluar pengadilan menuju tempat tahanan, Sehun tak lagi menahan dirinya dan memeluk Kai erat sambil menangis.

"Maafkan aku, Sehun," bisik Kai parau.

"Aku merindukanmu," aku Sehun. "Dan aku sudah memaafkanmu sejak awal," kata Sehun terisak.

"Aku tahu," jawab Kai serak.

Hanya itu pembicaraan mereka, begitu singkat karena petugas langsung membawanya pergi keluar. Lagi, Sehun hanya bisa menangis terisak dipelukan Shixun.

Satu jam berikutnya, Sehun menjadi pengunjung pertama Kai di tempat tahanan itu. Ia tak bisa menyentuh Kai karena mereka terhalang oleh kaca. Kai sudah mengenakan baju tahanannya dan tampak tak terlalu terawat, membuat Sehun kembali menangis.

"Kau tahu, Sehunnie? Mencintaimu adalah bagian terbaik dalam hidupku," kata Kai memecah keheningan diantara mereka. "Aku tak tahu kenapa saat itu aku begitu bodoh untuk menyangkalnya hingga melukaimu begitu dalam. Aku sangat merasa bersalah atas semua itu," kata Kai parau.

"Aku sudah memaafkanmu, Jongin. Kau tak perlu seperti ini," kata Sehun menangis.

"Ya, aku perlu, Sehun. Ketika aku melakukan itu— semua itu sudah kurencanakan dari awal. Aku tak mabuk. Aku melakukannya dengan sengaja. Aku menyakitimu dengan sengaja, Sehun. Aku tak bisa lepas dan hidup sebagai pengecut hanya karena kau memaafkanku. Aku harus menebusnya, sebagai seorang pria. Agar aku layak untuk memulai kembali denganmu setelah semua ini berlalu," kata Kai serius.

Sehun terisak mendengar tulusnya pengakuan Kai itu. "A-aku sudah tahu kau tak mabuk saat itu, Jongin. Dan aku tetap memaafkanmu," katanya terisak.

Kai tersenyum sendu. "Aku tahu. Kau selalu memaafkanku, seperti seorang malaikat," kata Kai. "Aku benar-benar minta maaf, Sehun. Atas semua yang kulakukan padamu selama ini. Aku sangat menyesali semuanyaa."

"Aku tahu," kata Sehun terisak.

"Jangan temui aku lagi, Sehun."

Perkataan Kai jelas membuat Sehun terkejut. Apakah Kai memutuskan hubungan mereka? Apa Kai sudah lelah dengannya? "Ke-kenapa?" tanya Sehun tak bisa menahan air matanya yang mengalir menderas.

"Shhh, dengarkan aku, baby, kumohon jangan langsung berasumsi," kata Kai lembut menyentuh kaca di depannya, berharap bisa menyentuh wajah Sehun dan mengusap air matanya. "Aku tak ingin kau menderita dan mengunjungiku disini. Aku ingin kau bebas, Sehun. Cintai orang yang kau pantas kau cintai, hingga suatu saat aku keluar dari sini dan menjadi pria yang pantas kau cintai, aku akan kembali mencoba mengambil hatimu kembali. Aku takkan memaksamu, tapi aku takkan menyia-nyiakan kesempatanku lagi. Aku mencintaimu, Sehun, dan aku ingin kau bahagia. Bebaslah, Sehun. Relakan aku menebus kesalahanku disini dan membentuk diriku untuk menjadi seorang pria yang pantas kau cintai."

Sehun tak bisa menahan tangisnya mendengar semua itu. Ia tahu jelas, Kai sudah jauh berubah. Ia kini bertanggungjawab untuk menebus kesalahannya. Dan Sehun juga harus bisa kuat dan bersabar sementara Kai berjuang untuk memperbaiki dirinya disini. Kai benar, ia harus merelakan Kai mendekam ditempat ini.

Demi kebaikan Kai sendiri, demi masa depan mereka.

"A-ada hal yang perlu kau ketahui, Jongin," kata Sehun bergetar, mengambil sesuatu dari saku jaketnya dan memberikannya pada Kai melalui celah yang ada.

Kai mengambil foto hitam-putih itu dengan tangan bergetar dan menatapnya tampak tak percaya. "I-ini—"

Sehun mengangguk sambil tersenyum dengan air mata yang mengalir. "Aku hamil, Jongin. Anakmu," kata Sehun memberitahu.

Air mata Kai tak lagi tertahankan mendengar kabar bahagia itu. "Demi Tuhan, Sehun," kata Kai tampak begitu tak percaya namun sangat bahagia. "Terima kasih, Sehun. Terima kasih banyak. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Oh, Tuhan, terima kasih banyak, Sehun," bisik Kai tak bisa menghentikan mulutnya. Ia benar-benar sangat ingin memeluk dan mencium Sehun dengan dalam mendengar kabar itu, tapi sayang ia tak bisa melakukan itu. Ia tak bisa melakukan itu selama 3 tahun ke depan.

"Karena itu, aku akan menunggumu. Bersama dengannya, kami akan menunggumu pulang," bisik Sehun mengelus perut ratanya. "Kami akan menunggumu pulang, Jongin."

Air mata Kai mengalir deras mendengar itu. "Terima kasih, Sayangku. Aku pasti akan kembali pulang, kepelukanmu dan anak kita."

END•

Mungkin ini bukanlah akhir terbaik untuk Jongin dan Sehun, tapi ini merupakan awal yang baik untuk mereka memulai kembali cerita mereka. Tanpa dibayangi penyesalan dan masa lalu yang buruk. Mereka bisa memulai kembali kisah mereka dengan murni dan bersih, seperti kertas kosong yang siap dituliskan cerita-cerita kehidupan mereka ke depannya.

3 Years Later•

Kai keluar dari gedung yang sudah menahannya selama 3 tahun itu. Tas ranselnya berisi dengan barang-barang yang berharga baginya. Foto-foto usg anak pertamanya dan foto-foto pertumbuhan Taeoh, anaknya itu selama 2 tahun lebih ini. Semua Sehun kirimkan padanya selama ia dipenjara melalui Kris. Sehun tak mengunjunginya sama sekali seperti yang telah Kai minta darinya.

Ia sangat merindukan Sehun. Ia juga sangat merindukan Taeoh.

Mata Kai langsung menangkap kedua sosok yang mengisi hatinya dan benaknya ketika menghadapi hari-hari sepinya dipenjara. Pria manis itu menggendong seorang anak laki-laki berumur 2 tahun lebih dan tersenyum dengan cantiknya kepadanya dibawah sinar matahari.

Sehun dan Taeoh menjemputnya.

Kai langsung berlari menghampiri keduanya dan memeluknya erat, berhati-hati agar tak menyakiti Taeoh. Kai mengambil Taeoh dari gendongan Sehun dan kekasih hatinya itu langsung memeluk lehernya erat dan menciumnya dengan dalam, mencurahkan kerinduannya selama ini begitu juga dengan Kai.

"Selamat pulang ke rumah," bisik Sehun menatap Kai dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya. "Aku merindukanmu."

"Aku juga merindukanmu, Sehunnie-ku sayang," bisik Kai kembali mengecup bibir manis Sehun. Oh, Tuhan, ia benar-benar merindukan bibir ini. "Aku pulang," balas Kai kembali mengecup bibir Sehun sebelum beralih pada Taeoh yang hanya diam menatapnya.

"Appa?" tanya Taeoh bingung menatap Kai.

Air mata Kai tak tertahankan mendengar itu dan mengangguk. "Ya, ini Appa, Taeoh sayang. Appa sudah pulang," kata Kai menciumi kepala anaknya itu hingga ke wajahnya dengan penuh sayang.

"Appa! Geli!" seru Taeoh terkikik dan memeluk leher Kai dengan erat.

Kai benar-benar menangis harus mendengar tawa anaknya itu. Anaknya begitu sehat dan tampan. Satu tangan Kai meraih Sehun, memeluk pinggangnya hingga merapat padanya. Ia menciumi pipi Sehun hingga ke bibir pria manis itu. "Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak. Aku sangat mencintaimu," bisik Kai tak melepaskan bibirnya dari kulit mulus Sehun. "Aku sangat mencintaimu dan Taeoh."

"Aku juga mencintaimu, Kim Jongin," kata Sehun tersenyum lembut.

"Taeoh juga sayang Papa dan Appa!" seru Taeoh lalu terkikik geli.

Kai memeluk erat Taeoh dan Sehun, keluarganya. Alasannya untuk memulai hidupnya kembali. Sumber kebahagiaannya. Ini semua sudah cukup. Mereka bisa memulai kembali kisah mereka, keluarga mereka.

OTHOR'S NOTE•

AKHIRNYA SELESAAAAAIIIIII!
Sebenarnya ini jauh lewat deadline-ku sendiri. Kupikir aku bisa up ini sama epilogue sebelum aku hiatus. Dimana bener-bener happy ending-nya. Tapi akhirnya aku mutusin buat up final chap ini aja dengan bittersweet ending.

DAN YEP, ini berakhir dengan KaiHun. Kali ini Kai udah ngebuktiin dirinya supaya dia layak buat Sehun, dia nebus kesalahannya dimasa lalu dan sekarang mereka bisa mulai kisah mereka dengan benar kali ini hehehe

Semoaga kalian puas dengan ini yaaaa :D

Terima kasih atas dukungan dan kesetiaannya untuk mengikuti cerita ini sampai akhir~~~
It mean so much for me :'D

-willis.8894

P.S: Another storay will be up today! xD