My Wife?

Disclaimer: Masashi Kishimoto

RATE : T – M (Just Lime Or More)

Genre: Romances

Fic ini terinspirasi dari komik yang lumayan lama sih tahun 2005-2006 akan saya beritahu judulnya jika fic ini sudah tamat. Oke?

Sumarry : Sasuke seorang bocah laki-laki berumur 12 tapi sudah mempunyai calon istri yang tidak lain adalah sepupu yang tidak pernah ia temui./ "Aku Hyuuga Hinata calon istrimu"/ "Kau tahu sendirikan kalau Sasuke masih anak-anak"/ "Sasuke masih belum bisa bikin anak ya?"/

DON'T LIKE, DON'T READ!

REMEMBER! DON'T LIKE, DON'T READ!

Siang Hari

Kediaman Keluarga Uchiha

"Hooo..."

"Uhhoooo," Hinata tampak duduk tenang di ruang tamu keluarga Uchiha, keluarga yang menurut Hinata adalah keluarga dari sang 'calon suaminya' berada. Dia masih sibuk memandangi ruang tamu yang menurutnya asing dan tatanan perabotannya yang jauh dari ruang tamu di rumahnya.

Di dapur

"Apa katanya?"

"Apa ibu tak salah dengar Sasuke?" Uchiha Mikoto tampak terkejut mendengar perkataan dari sang anak bungsunya.

"Apa kau yakin?"

"Makanya bu, dia bilang kalau dia datang kesini untuk jadi istriku," Sasuke mencoba meyakinkan sang ibu tentang apa yang ia katakan tadi bukanlah sebuah kebohongan. Ia berdiri di samping ibunya yang sedang menyiapkan teh untuk tamu yang tiba-tiba datang dan mengucapkan perkataan yang mengejutkan.

"Kenapa dia datang untuk jadi istrimu? Kamu kan masih SD, Sasuke?"

"Mana aku tahu!" Sasuke membentak ibunya sedikit, tanda ia sedang jengkel dan kebingungan. Sedangkan Naruto dan Sakura yang berdiri di belakang Sasuke hanya dapat terbengong sendiri mendengar percakapan antara Sasuke dan Ibunya. Mikoto yang tersadar kalau masih ada Naruto dan Sakura di belakang Sasuke kemudian wanita itu tersenyum kearah mereka berdua.

"Tante siapkan kue dan minumannya ya, kalian tunggu saja di kamarnya Sasuke," Mikoto telah selesai membuatkan teh untuk Hinata.

"Ah, tidak usah repot-repot, tante," Naruto dan Sakura mengibas-ibaskan kedua tangan mereka tanda mereka menolak secara halus pada Mikoto.

Sakura mendekati Sasuke dan berbisik lirih ke telinga Sasuke," Ne Sasuke kalau kau sibuk aku dan Naruto pulang dulu ya?"

"Hn."

Sakura memasangkan kembali jaket yang ia pakai dan mengajak Naruto pulang bersamanya," Naruto ayo kita pulang." Mendengar nama Naruto yang di ajak pulang juga oleh Sakura membuat Sasuke menahan tangan Naruto yang ingin mengikuti Sakura pulang ke rumah.

"Dobe, jangan pulang dulu!"

"Sakura kalau kau ingin pulang sana pulang sendiri saja, dobe di sini saja.."

"Apaan sih kau Sasuke, Naruto kan selalu pulang bersamaku!" Naruto hanya terdiam, ia menolehkan kepalanya kearah Sasuke dan Sakura secara bergantian saat mereka mulai bertengkar. Ia tidak tahu harus membela yang mana.

Mikoto yang melihat Sasuke dan Sakura mulai bertengkar lagi, mau tidak mau Mikoto harus memarahi anaknya," Sasuke jangan begitu dengan anak perempuan tidak baik."

"Tapi bu... Yang di ruang tamu bagaimana?" Sasuke menunjuk ke arah ruang tamu, tempat Hinata sedang menunggu sang tuan rumah menemuinya.

"Sudah biar ibu yang mengurusnya.."

"Ta-ta-tapi bu.."

"Sudahlah, ibu yang akan bertanya padanya.. biar begini ibu pernah lulus ujian bahasa inggris dengan nilai 70 lo.." Mikoto tertawa riang sambil membawa teh dengan nampan ke ruang tamu, nampaknya ia bangga karena pernah lulus ujian bahasa inggris dengan nilai 70. Namun, tidak dengan Sasuke ia cemberut mendengar ucapan ibunya.

'Dapat nilai 70 saja sudah bangga,' Batin Sasuke sebal melihat kelakuan ibunya yang terkadang menurut Sasuke itu konyol.

Mikoto berjalan keruang tamu diikuti oleh Sasuke yang mengekori ibunya di belakang. Sasuke melihat Hinata sedang membongkar isi kopernya. Merasa kalau ada orang berjalan kearahnya, Hinata menolehkan kepalanya ke kanan melihat siapa yang datang," Welcome to our home."

Hinata hanya tersenyum manis menanggapi sambutan dari Mikoto," Eh Loh? Apa dia tidak mengerti, ya?" Mikoto tampak salah tingkah melihat Hinata yang hanya tersenyum manis padanya, Mikoto merasa kalau bahasa inggris yang ia gunakan tadi sudah benar.

Hinata kembali sibuk dengan Kopernya dan mengacuhkan Mikoto, ia mulai mengeluarkan isi kopernya, mulai dari selendang, asesoris, dan topeng-topeng yang bentuknya aneh.

'Kok dia langsung mengeluarkan barang-barangnya ya? Apa dia ini misionaris agama, atau jangan-jangan ia adalah penjual yang suka menawarkan dagangannya secara paksa? Tapi kalau lihat dari barang-barangnya.. sepertinya dua-duanya..' Batin Mikoto saat ia melihat barang-barang apa saja yang keluar dari dalam koper Hinata.

'Lihat saja, pasti dia akan aku usir keluar,' Mikoto mulai duduk dan meletakan teh yang ia bawa tadi," kamu datang dari mana?"

Sekali lagi Hinata merespon pertanyaan Mikoto dengan Senyuman manis," dari Savalov, Kok."

"Naik kapal tiga kali, dan sempet nyasar sih," Hinata mulai menceritakan kisahnya hingga sampai ke rumah keluarga Uchiha dengan Riang tanpa memperhatikan raut muka ibu dan anak didepannya itu sedang terbengong.

Mikoto menolehkan kepalanya melihat anaknya yang berada di belakangnya," Savalov itu dimana?"

Sasuke menggelengkan kepalanya," Aku juga tidak tahu bu.."

"Aduh bagaimana sih kamu ini, kamu kan yang masih sekolah, seharusnya kamu tahu itu dimana Sasuke?!"

"Di pelajaran Geografi tidak ada nama pulau seperti itu ibu.."

Mikoto hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melihat Hinata yang masih menceritakan tentang perjalanannya hingga sampai ke tokyo.

Naruto dan Sakura keluar dari dapur berjalan ke arah Sasuke," Teme, kelihatannya kami harus pulang dulu, kau sibuk sih dengan tamumu."

"Hn."

"Boleh nanya gak?"

"APA?!" Sasuke sedikit membentak Sakura kembali.

"Yang di maksud dengan istri itu apa sih?"

"Justru aku yang mau nanya dari tadi!"

"Yah sudah kami pulang dulu, dah.." Sakura menghadap ke ibu Sasuke untuk pamitan pulang," Tante kami pulang dulu ya.."

"Iya.."

Sakura menarik tangan Naruto keluar dari rumah Sasuke. Setelah mereka berdua keluar dari rumah Sasuke untuk pulang, Mikoto mengemukakan pendapatnya pada Sasuke," Sepertinya kita harus menunggu ayah dan kakakmu pulang Sasuke."

"Iya ibu."

.

.

.

.

MALAM HARI

KEDIAMAN KELUARGA UCHIHA

DI KAMAR UCHIHA MIKOTO DAN FUGAKU.

"APA!?"

"Datang untuk jadi istri Sasuke? Apa maksudnya?" Fugaku tampak shock mendengar ucapan dari istrinya yang mengatakan kalau Hinata datang dari pulau yang jauh hanya untuk menjadi istri dari anak bungsunya yang bahkan masih SD.

Setelah mandi Fugaku masih tampak tak percaya dengan datangnya kejadian aneh ini," katanya dia datang karena di suruh ayah, coba kau temui dia, suamiku... eh dia juga membawa oleh-oleh loh," Mikoto menggandeng tangan suaminya agar menemui Hinata yang berada di ruang keluarga mereka.

Fugaku menggaruk kepalanya yang tidak gatal," apa maksudnya ini semua?"

.

.

.

RUANG KELUARGA UCHIHA

Fugaku dan Hinata tampak duduk berhadap-hadapan di meja kecil. Mereka masih diam dan saling memandang.

"Umm, Namamu Hinata?"

"Iya," Hinata kembali tersenyum pada Fugaku. Fugaku tampak memijit pelipisnya pelan," lalu apa hubunganmu dengan ayah? Ehem, maksudku Uchiha Madara?"

Hinata menatap Fugaku malu-malu," "Hubungan" itu apa?" Hinata memainkan jemarinya di depan dadanya, tanda saat ia bingung, malu atau gugup.

"Ng... gimana ya jelasinnya? Gini, Uchiha Madara itu siapanya Hinata?"

"Ayah ibuku itu namanya Madara, sih," entah Hinata itu memang polos atau bodoh? Jawaban yang ia berikan telah membuat laki-laki paruh baya di depannya itu tampak frustasi.

Fugaku menepuk jidatnya," Ah, kelihatannya ayah sudah bikin anak yang banyak di pulau itu, ya."

"Dasar ayah."

"Kalau gitu kamu cucunya madara ya?!"

"YA!... Itu dia, Sih!"

"Tapi kenapa namamu Hyuuga? Bukan Uchiha?" Fugaku mengerutkan alisnya sedikit saat ia merasa janggal dengan nama keluarga dari Hinata yang Hyuuga, kenapa bukan Uchiha?

"Um... Kakek mengikuti marga dari Nenek, kata kakek ia bosan dengan nama Uchiha dan ingin ganti suasana."

"Hah, dari dulu ayah tidak pernah berubah," Laki-laki paruh baya itu tampak menghela nafas lelah mendengar tingkah laku ayahnya yang seenaknya mengubah nama marganya sendiri karena alasan ingin mengganti suasana? Alasan konyol macam apa itu?

"Kalau gitu, dia sepupuku dong?!"

"Kalau gitu, dia bilang istri, pasti ada yang salah kan?!" Kini tampak Sasuke tengah mengeluarkan suaranya yang tadi terdiam mendengarkan percakapan antara ayahnya dan Hinata, gadis yang digadang-gadang akan menjadi istrinya.

"Belum tentu juga... Sepupu bisa nikah, kok," kali ini Itachi tampak memberikan pendapatnya dalam pembicaraan keluarganya.

"Yang benar kak?" Sasuke tampak shock saat mendengar ucapan dari kakak laki-lakinya tersebut.

"Hah, kenapa tingkah ayah makin ngaco? Apa-apa sih, mau ngejodohin Sasuke cucunya yang masih SD dan ingusan sepertinya?"

"Cucu yang belum pernah ditemui loh, ayah!"

"Yah.. Iya juga sih."

"Benar ini untukku?" Itachi tampak sibuk dengan hadiah yang di berikan oleh Hinata padanya tanpa mempedulikan adikknya yang masih mempeributkan tentang "calon istrinya"

"Iya, semuanya oleh-oleh kok jadi boleh diambil yang mana saja," Hinata membawa topeng antik yang berada ditangannya ia menoleh ke arah Sasuke dan mencoba memasangkan topeng yang ia bawa pada wajah Sasuke," Yang ini buat Sasuke ya, biar gak ada roh jahat yang mendekat."

Sasuke tampak menolak halus topeng yang Hinata coba pasangkan pada wajahnya, Sasuke tampak ngeri dengan wajah yang ada di topeng itu, terlihat menyeramkan," Eh, nggak usah makasih ya, tapi aku gak butuh oleh-oleh kok."

Fugaku tampak tenang meminum teh yang telah istrinya suguhkan padanya," Yah, seperti yang kau ketahui, Sasuke masih anak-anak... pernikahan itu masih jauh untuknya."

JITTS..

Hinata menatap Sasuke yang sedang membawa topeng mengerikan tadi ditangannya, Sasuke merasa gugup di tatap oleh mata Hinata secara intens.

"Sasuke masih belum bisa bikin anak ya?"

BRUUUUTTSSSS

Fugaku menyemburkan tehnya setelah mendengar ucapan polos dari Hinata, dan hebatnya lagi Hinata masih dengan senyuman polos Hinata masih memandang Fugaku yang tadi menyemburkan tehnya.

"Pokoknya, karena kau sudah jauh-jauh datang kemari, untuk sementara kau menginaplah disini ya dan lihat keadaan jepang."

"Bu, makanannya sudah siap?"

"Sudah dari tadi."

"Lalu, mana makanannya?"

"Sudah dihabiskan oleh Hinata." Mikoto tersenyum kikuk saat melihat Fugaku berekspresi konyol, menurutnya.

"Loh, nasi tambahannya kok sudah habis bu?" Sasuke membuka rice coocer yang kosong, tidak ada nasi sedikitpun.

"Wah, Sasuke makannya banyak ya?"

"Kan kau yang menghabiskannya Hinata..." Sasuke menatap Hinata sebal, rupanya ia jengkel pada Hinata yang telah menghabiskan jatah nasinya.

"Punya Hinata masih ada sedikit, nih aku bagi ya.."

"Apa-apa tuh, nasinya segunung gitu di piringmu?!"

"Hehehe," Hinata menggaruk pipinya yang tidak gatal, ia malu karena Sasuke mengetahui porsi makannya yang bisa dibilang "banyak".

XXXXXX

Setelah selesai makan malam Hinata menonton tv dengan jarak yang dekat dari layar televisi," Hooo.."

"Hoooo..Hoooo..."

"Apa dia gak pernah nonton tv disana? Norak banget," Komentar sinis telah terucap dari bibir Sasuke menanggapi tingkah laku Hinata yang tampak terpesona saat melihat layar televisi.

"Hn."

Acara televisi yang Hinata tonton saat itu adalah berita, ia tampak tenang menontonnya. Namun, saat acara televisi berganti dengan acara musik ia berjoget ria mengikuti irama musiknya.

"Dia Nari Tuh yah.." Sasuke melihat tingkah konyol Hinata yang menari riang dari belakangnya.

Lama menari-nari riang, Hinata segera merebahkan tubuhnya di karpet dan tertidur pulas disana.

"Yah, dia tidur.. baru jam 8 sudah ngantuk.. dia payah."

"Dia capek Sasuke, tadi kan perjalanannya panjang.. sudah kau bentangkan kasur disana."

Sasuke menolehkan kepalanya ke arah Ayahnya," Kenapa harus aku?"

"Dia kan calon istrimu, jadi sebagai calon suami kau harus perhatian padanya."

"Aku gak pernah bilang mau ambil dia jadi istri, kok," dengan setengah menggerutu Sasuke berusaha mengangkat Hinata agar pindah ke kamar tamu.

Itachi mendekati adiknya yang berusaha mengangkat Hinata dari karpet," Gak papa kan Sasu-chan, untung banget loh, dari sekarang udah punya calon istri.."

"Jangan menggodaku, Baka Aniki." Sasuke bersusah payah mengangkat Hinata dan membawanya ke kamar tamu yang ada di lantai dua.

"Barangnya juga di bawa keatas ya Sasu-chan.."

"Kenapa mesti aku sih!"

"Kan dia calon istrimu," Sasuke tampak dongkol dengan kakaknya, bukannya membantu adiknya mengangkat Hinata eh malahan kakaknya menggodanya terus dan mengatakan kalau Hinata calon istrinya..calon istrinya..

Sesampainya di kamar tamu Sasuke membuka pintu dan meletakkan Hinata sementara bersandar di tembok. Dia membuka lemari dan mengambil kasur lipat dan segera menggelarnya, saat ia selesai mempersiapkan kasur untuk Hinata.

Ternyata Hinata terbangun dan ia berjalan ke arah kasur yang telah selesai dipersiapkan untuknya dan ia segera tidur di kasur.

"Hah, giliran kasurnya sudah siap dia bangun, tapi saat pergi keatas dia tidak mau bangun dan terpaksa aku mengangkatnya, dasar gadis merepotkan. Tapi... dia cantik juga sih," Sasuke berjalan keluar kamar Hinata dan berjalan menuju kamarnya sendiri pergi tidur.

XXXXX

CIP.. CIP..CIP..

Sasuke bangun dari tidurnya saat ia mendengar burung berkicau di jendelanya, " Huaaaemm, kayaknya aku nggak tidur nyenyak nih." Sasuke menggosok matanya demi mengurangi kantuk yang masih menderanya.

"Sasuke ayo bangun makanan sudah siap," mendengar teriakan dari ibunya dari arah tangga Sasuke segera turun dari kasur dan membuka pintu kamarnya.

Dia melihat ibunya di bawah tangga menatapnya," Hinata mana bu?"

"Oh dia sudah bangun dari tadi, ayo cepat cuci muka sana."

"Iya..iya.."

SROKS..SROKS..

Sasuke sedang menggosok gigi di tempat khusus menggosok gigi di rumahnya. Hingga ia mendengar suara aneh di kamar mandi yang tepat berada di sebelahnya.

"Laut di sini dingin sekali sih." Sasuke menolehkan kepalanya ke arah kamar mandi," Hinata kamu sedang mandi?" Sasuke heran kalau Hinata mandi kenapa pintu kamar mandi terbuka sedikit?

"Iya! Sasuke juga mau ikut mandi?" jawab Hinata dari dalam kamar mandi.

"Jangan meledek ya mentang-mentang aku masih kecil kau bisa meledekku ya," Sasuke berjalan ke kamar mandi dan sedikit membuka pintu agar dia dapat masuk ke kamar mandi.

"Aku beneran masuk loh.."

Saat Sasuke telah masuk kedalam kamar mandi, disaat bersamaan Hinata menolehkan kepalanya ke belakang menghadap Sasuke," Pagi, Sasuke."

Sasuke tampak Shock melihat Hinata hanya memakai celana dalam tanpa memakai atasan yang berarti Hinata polos dari atas dan hanya rambutnya yang panjang yang ia taruh di depan demi menutupi dadanya sendiri.

"AAAAKKKKHHHHH!" Dan tanpa Sasuke kehendaki ia berteriak kencang melihat kepolosan Hinata yang seperti itu.

To Be Continue

A/N : Nah sesuai janjiku kalau aku bakalan update ya malam ini... terima kasih buat readers yang udah mau baca, review, nge fav dan nge follow cerita ini.. aku ucapka terima kasih sedalam-dalamnya atas reviewnya Oh ini updatedanku sebelum hiatus yang ke enam, oh ya ada reader yang bertanya kenapa aku hiatus? Jawabannya karena aku ingin melakukan sesuatu yang aku impikan sejak lama di real life milikku jadi gomen kalau aku akan hiatus di bulan juni, juli atau agustus dan akan hiatus selama satu tahun.

Dan gomen sekali lagi kalau aku gak bisa bales review dari para readers karena keterbatasan waktu saya, tapi aku tetap melihat review dari readers di hape kok tenang aja pasti aku baca review-an kalian semua.

Oke tanpa banyak berkata, sampai jumpa di ceritaku yang lain.. Jaa nee...