Sesuai janji, hari ini update lagi untuk chapter 6 dan bakal update berturut-turut lagi di besok hari. Anyway, aku mau kasih tau kalau kalian bisa reviews bagian dari chapter kesukaan kalian yang mana, ok, selamat membaca!
Warning: Fangboy
Suara kereta api yang berhenti dan suara ketenangan sore dengan langit jingga menemani Boboiboy sedang memakan kue kesukaannya sambil berjalan menuju rumah tercinta, namun pikirannya masih tertuju kepada temannya yang ia tinggali ditengah caffe siang tadi.
'Aku gak tahan kecoa terbang, maafkan aku Sai!' Batin Boboiboy merasa sedikit tidak sopan.
"Boboiboy" suara itu bersumber dari belakangnya.
"Ah, Fang—kenapa kau terlihat banyak perban?"
"Panjang ceritanya"
Tadi saat Fang digebuk masal...
"UDAH DIBILANG AKU BUKAN MALING!!" kesal Fang sambil berusaha melarikan diri."MANA ADA MALING NGAKU!!" Warga setempat tetap tidak percaya." 'tidak ada pilihan lain' LIHAT DILANGIT ADA AGNES MONICA NAIK GUNDAM!!" Teriak Fang menunjuk langit."HAH? Mana, mana, mana?" Saat warga melihat langit, Fang langsung cabut dan bersembunyi dari tempat mengerikan itu.
Flask back off...
"Tadi aku dengar ada maling didekat caffe, terus katanya dia digebuk masal, kasihan ya, tapi memang sudah nasib maling sih" kata Boboiboy sambil mengambil sup untuk Fang.
"A, ahahaha (#fakelaugh) begitu ya 'sebenarnya itu aku Boboiboy!!'"
"ok, istirahat aja, aku mau kerjain tugas lagi" Fang menatap punggung Boboiboy yang ingin mengambil barang didalam tasnya. Fang menahan tangan Boboiboy yang ingin pergi.
"...Boboiboy" Fang memeluk tubuh Boboiboy dari belakang.
"Hn? Kenapa?"
"...aku berani melakukan apapun demi kamu" kalimat yang mengandung sebuah makna tersembunyi dari Fang, membuat lelaki bersurai coklat dan putih itu sedikit memiringkan kepalanya.
"Hah? Hahaha, apa maksudmu? Ya sudah, cepat makan bubur itu lalu sehat"
"... 'kau tidak mengerti Boboiboy, aku sangat khawatir akan hubungan kita'" Fang menutupi lebamnya dengan handuk.
...
...
Mendung, Payung dirumah cuman satu. Ayah dan ibu Boboiboy pergi ke sebuah acara dan hanya ada Fang dan Boboiboy. Fang melihat berita kemungkinan besar akan badai besar hari ini.
"hm, aku gak punya payung"
"nih, aku ada" Fang mengeluarkan payung yang identik dengan warnanya, hitam. Boboiboy menghargai kebaikan Fang ia berusaha mengambil kesempatan.
"makasih Fang, selagi hujan, ayo kita pakai payung barengan" mendengar kata Boboiboy, Fang tidak mau dan hanya memberikan payung itu.
"kan hari ini mau hujan badai, payung itu terlalu kecil untuk berdua, kalau kita berdua nanti Boboiboy pergi saja deluan, aku bakal tunggu sampai hujan sedikit reda 'aku hanya khawatir denganmu Boboiboy'"
"ta, tapi..."
"sudahlah, tidak apa" jawab Fang sambil mencium kecil Boboiboy. Boboiboy dengan berat hati pergi dari rumah dan mulai membuka payung.
'padahal aku ingin Fang berangkat berdua denganku' batin Boboiboy sedikit kecewa. Saat Boboiboy berjalan terus menerus, didekat market, Boboiboy dipanggil oleh seseorang.
"Hai Boboiboy" Sai sedang berteduh didekat toko buku.
"Halo, maaf ya kemarin aku pulang deluan, tugas kita jadi gak cepat siap"
"gak masalah kok, selagi itu yang Boboiboy mau, pasti bakal aku turuti"
"*blush* dasar, selalu saja bercanda hahaha" melihat payung Boboiboy, Sai mendekat dan memegang tangkai payung Boboiboy.
"boleh aku satu payung denganmu?" kata Sai ceria dan dengan tatapan penuh harapan. Boboiboy merenung sedikit mengalihkan tatapan ke bawah dan berusaha untuk tersenyum.
"Em, masalahnya payung ini kecil, jadi gak bisa untuk dua orang"
"Begitu ya..." Sai melepaskan jaket hijaunya dan memberikannya menyelimutikannya dipunggung Boboiboy.
"Aku khawatir denganmu, jadi pakai saja jaketku, kau boleh mengembalikannya kapan saja"
"makasih Sai, kau selalu pengertian ya... 'Sai persis dengan Fang, dia sangat perhatian kepadaku'" Boboiboy segera pergi ke kampusnya.
...
...
"hujan gak reda-reda" Fang melihat langit yang semakin lama semakin gelap. Fang akhirnya memaksakan diri untuk pergi dengan jaket sebagai pelindung kepala.
Fang sampai pukul 08.15 dan itu adalah jam terlambat. Fang masuk, syukurlah dosen terjebak macet dan membuat Fang tidak terjerat dalam hukuman.
...
...
Pulangnya, Sai berdua bersama Boboiboy dikampus mereka. Sai melihat bacaan Boboiboy yang terlihat seru dan menarik.
"Boboiboy, buku apa itu?"
"eh? Novel kesukaan aku, novel ini sangat berharga bagiku, karena dia yang menyatukanku dengan orang yang kusayang"
"ORANG YANG KAU SAYANG???"
"Eh? i, iya? Kenapa kau kaget gitu"
"eh? Tunggu dulu! Memang siapa? Ibumu ya? 'Jangan-jangan pacar? BOBOIBOY DAH PUNYA PACAR? MUSTAHIL! DIA KAN POLOS!!'"
"S, soal itu...dia Fa—" Mendadak suara petir besar mengagetkan mereka dan sekejap lampu...
"MATIIIIIIII!!" Boboiboy langsung berlari entah kemana. Sai sontak heran karena tidak melihat apa-apa, namun ia mendengar Boboiboy berteriak. Sai yang belum mengetahui kelemahan Boboiboy, hanya kebingungan, handphone Sai juga lowbat, karena itu ia tidak bisa memakai senter handphone dan berusaha mencari Boboiboy.
Sai meraba-raba rak buku untuk berjalan. Saat Sai berjalan di jalan panjang labirin rak buku, terdengar langkah kaki seorang.
"e, Boboiboy, itu kau ya?" tanya Sai sedikit takut.
"...hei" suara itu terdengar Familiar di telinga Sai, tapi suara itu bukanlah suara Boboiboy.
"Boboi...boy—"
"kalau kau sentuh dia, aku bakal...membunuhmu" petir besar membuat cahaya sekilas untuk penglihatan Sai. Terlihat lelaki berjaket hitam dengan wajah tertutup topi jaket dan mata merah violet mengerikan.
"WAAAAKKH!!!" Sai langsung berlari entah kemana dan terus-terusan menabrak rak buku.
" 'wangi violet ini...Fang!' FA—hah?? Ka, ka, kamu siapa?" Siapa laki-laki misterius itu?
Tbc
Untuk chapter selanjutnya aku minta maaf kalau sedikit lama dibanding biasanya, see you in the next cahpter!!
