'Hey, kau yang disana, Apa itu permintaan terakhirmu?'
kekehan ringan terdengar mengaungi seluruh pendengaran yang ada. Terlihat sebuah sosok menatap intens pada sosok lain didepannya dengan ragu. Tidak lama, pandangan itu hanya bertahan beberapa detik saja, setelah itu, satu sosok menghilang membaur pada cahaya pendar putih yang terlihat menyilaukan.
'Egois sekali. Baiklah, akan aku kabulkan. Tapi ingat, ada harga yang besar untuk sebuah permintaan,'
Hilang, sosok itu hilang tanpa jejak. Lenyap bagai ditelan oleh cahaya putih yang tiba-tiba datang tanpa di undang. Meninggalkan berbagai macam Tanya yang terpaksa di simpan didalam benak.
'Jangan menyesalinya, bocah.'
Bleach © Tite Kubo
Salve et Vale © Rabbit- Aito
Pair : Grimmichi (Grimmjow x Ichigo)
Warning(s)! : AU! Typos bertebaran, OOC, BL Story (Boy x Boy), Oneshot
Genre: fantasy/hurt/comfort
[Dedicated to Sempakz Swap Idea's Challange (Vannila Thunder) ]
….
Entah sudah berapa lama ia terlelap, Entah sudah pukul berapa saat ini, Ichigo sama sekali tidak tahu. Kamarnya gelap, Temaram dan sunyi, Seperti tidak ada kehidupan lain selain keberadaan Ichigo disana.
Ichigo beranjak dari ranjangnya. Berjalan sangat hati-hati agar tidak menabrak apapun itu yang tak terlihat. Tangannya mulai meraba-raba sesuatu bidang yang datar –mungkin sebuah tembok, mencari sesuatu yang mampu memberikan cahaya pada ruangannya.
Sepersekian detik ketika Ichigo mencapai sesuatu tersebut dan menekannya, lalu cahaya yang begitu terang mendiami ruangan tersebut. Ichigo menghela nafasnya pelan. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu kamarnya yang terbuka.
Tunggu, sejak kapan—
"Oi Berry, kalau kau sudah bangun, cepat buatkan makan malam"
—Grimmjow disana?
"Oi Berry, kau dengar tidak?"
Ichigo cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari wajah Grimmjow, melangkahkan kembali kakinya menuju dapur, memutar melewati tubuh bidang dan tegap milik Grimmjow.
"Berry, kau baik-baik saja?"
Grimmjow melayangkan pertanyaan kendati melihat wajah Ichigo yang masih sedikit pucat.
"Hm," Sebuah anggukan singkat menjadi jawabannya.
Tapi, jawaban berupa anggukan ringan tidak membuat Grimmjow lega. Grimmjow yakin, kalau Ichigo sedang memaksakan diri. Ini memang salahnya, Grimmjow tahu akan hal itu. Tapi dia sudah terlanjur menyanggupi janji itu.
"Berry—"
"Aku tidak apa-apa Grim, berhentilah menjadi menyebalkan!"
Kekehan ringan terdengar mengelilingi udara di ruangan tersebut. Grimmjow mulai sedikit lega. Ah, bukan, dia merasa lebih ringan sekarang. suara Ichigo sedikit parau, tapi intonasinya menunjukkan kalau ia baik-baik saja.
"Khawatir sedikit tidak salah 'kan?"
Kekehan itu berlalu melewati Ichigo yang masih diam ditempatnya. Kaki-kaki tegap atletis itu berhenti sebelum benar-benar meninggalkan Ichigo sendirian disana.
"Oi Berry, Besok kau ada kelas?"
Ichigo termangu dalam pikiran yang waspada. Ada sesuatu yang menggelitik pikirannya tentang pertanyaan dari Grimmjow tersebut. pertanyaan tersebut terdengar tidak asing. Dan untuk suatu alasan, Ichigo tidak suka.
"Besok minggu, jangan berlagak seperti orang bodoh, Grim. Kau tahu besok libur."
Kekehan ringan lagi-lagi terdengar. Kali ini di iringi oleh derapan kaki-kaki atletis yang terus menjauh dari tubuh Ichigo.
"Kalau begitu, besok kita kencan."
Ichigo ingin meneriaki dengan kata Jangan bercanda, brengsek! andalannyadi depan wajah Grimmjow saat ini juga. Tapi sepelintir relung hatinya menahannya. Firasat-nya mengatakan untuk ikuti alur yang di tuntun oleh sosok surai biru itu. dan Ichigo tahu, kalau firasatnya terkadang benar-benar menuntunnya untuk menemukan potongan-potongan misteri yang mengganggunya. Lebih tepatnya, mengganggu pikirannya.
Untuk kali ini, Ichigo akan mengikuti alur takdir yang sudah terlanjur mengikatnya.
Setelah berdamai dengan pikirannya yang terus tidak bisa berhenti untuk memikirkan konsekuensi, dan potongan –potongan kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini, Ichigo kembali menyusul Grimmjow menuju dapur.
Si surai biru akan jadi sangat berisik bila menyangkut perutnya yang tidak kunjung terisi.
...
..
Omellete dan nasi kepal adalah makan malam mereka hari ini. Bukan salah Ichigo karena hanya dua menu tersebut yang menemani mereka di meja makan, Salahkan semua pada kejadian yang akhir-akhir ini menimpanya. Karena terlalu sibuk menghindari semua pertanyaan demi pertanyaan dari sekitarnya, Ichigo lupa untuk kembali mengisi stok makanan mingguannya.
"Hanya ini?" Grimmjow bertanya dengan gayanya yang biasa saja. Tapi terdengar tidak demikian pada Ichigo.
"Kau bisa cari di rumah lain jika ingin lebih." Desisan tidak suka keluar dari rongga pita suara Ichigo.
Alis Grimmjow menukik tajam. Hey, dia hanya bertanya. kenapa Ichigo harus terlihat tidak suka?
Mau tidak mau Grimmjow pun menerima dengan lapang dada menu makan malam kali ini. Grimmjow mengambil bagiannya dan mulai memakan dengan khidmat hidangan di depannya. Mengunyah dengan santai makanannya sambil sesekali mencuri pandang pada si manis oranye di depannya.
"Kau tahu, tindakanmu sedikit membuatku risih. apa ada sesuatu yang aneh di wajahku, huh?" Ichigo melirik sekilas ke arah Grimmjow di sela-sela kunyahannya.
"Oh berry, percaya diri sekali kau. Aku hanya melihat kuku-kuku jarimu yang panjang dan lentik itu." Seringaian itu mengundang delik kesal Ichigo. decihan dan umpatan kecil terdengar halus dari bibir ranum milik si surai oranye.
Grimmjow terkekeh singkat. Ayolah, siapa yang tahan melihat wajah kesal Ichigo yang dapat dikatagorikan lucu? Grimmjow tahu, dan Grimmjow sangat menikmatinya.
"Jangan coba menggodaku dengan kata manis sialanmu itu hanya untuk mendapatkan menu sarapan yang lebih besok." Ichigo masih tetap mencoba menahan kekesalannya dengan bersikap seolah tidak perduli.
Grimmjow yang mendengar perkataan Ichigo barusan malah tertawa terbahak dengan sesekali mengetuk meja di depannya.
"Oh Berry, kau selalu menarik, huh?"
Grimmjow masih tertawa dan Ichigo melemparnya dengan cangkir plastik di depannya. Grimmjow protes, Ichigo mengabaikannya. Malam itu tanpa disadarinya, Ichigo banyak tersenyum. Sudah lama rasanya ia tidak tersenyum se-lega ini. Benaknya terasa ringan, seolah semua beban yang ada telah pergi entah kemana, Grimmjow sangat menghiburnya mala mini. Ah, kapan terakhir kali ia merasakan momen semenarik ini? Ya, ketika orang itu datang dan mengaja-
"Ugh,.." Rasa nyeri itu datang lagi.
"Hey Berry, Apa kau baik-baik saja?" Grimmjow menarik tangan Ichigo dengan kasar.
"Mana yang sakit? Tanganmu? Kakimu? Atau Otakmu?" Ichigo ingin memaki dan mengumpat saat mendengar kata terakhir dari kalimat yang baru saja Grimmjow lontarkan, tapi ia urungkan saat iris cinnamon-nya bertemu dengan samudra bening yang terlihat kalut.
Ichigo menarik tangannya yang sebelumnya di tarik kasar oleh Grimmjow. "Aku tidak apa-apa, Cuma sakit kepala biasa." Ichigo melepaskan pandangannya pada objek di depannya.
Tanpa di sadari, Grimmjow membawa dirinya dalam pelukan yang terbilang cukup erat dan sedikit menyakitkan. –entahlah, bagi Ichigo, pelukan ini pernah ia rasakan sebelumnya.
"Maaf, Aku disini.."
Grimmjow mengeratkan pelukan yang memang sedari awal telah erat, agar lebih erat lagi. Ichigo hanya bisa diam, pasrah dan sedikit menikmatinya. Pelukan yang diberikan Grimmjow terkesan menenangkan baginya, bahkan nyeri di kepalanya berangsur membaik, ajaib bukan?
Pelukan itu tidak bertahan lama. Ketika Ichigo merasakan suhu tubuh mereka kian meningkat, dan itu membuatnya sedikit gerah, Ichigo mendorong Grimmjow pelan. Tanda ia sudah tidak nyaman. Tapi Grimmjow tidak menanggapinya. Ichigo memberikan sedikit tenaga pada dorongannya, tapi Grimmjow malah semakin mengeratkan pelukannya. Ichigo ingin protes, ia pun mengadahkan kepalanya guna untuk menatap Grimmjow. Akan tetapi, yang ia dapatkan adalah,
—Wajah menyeramkan dan gerutuan gigi Grimmjow.
Ichigo terbelalak, tanpa sadar seluruh saraf motoriknya tidak bekerja. Dapat ia rasakan tubuhnya sedang terserang tremor mendadak.
"G-..Grimm?"
Ichigo mencoba memanggilnya, memastikan kalau Grimmjow yang didepannya ini masih Grimmjow yang sama ketika ia beradu argumen saat makan malam tadi.
—Suara geraman menyentak Ichigo, membuatnya tanpa sadar meremas fabrik putih yang Grimmjow kenakan
"Kurosaki…."
Seseorang memanggil namanya
"Kurosaki….. Hey, Apa yang kau lakukan disana?…."
Ia mengenal suara ini. Tunggu, ini suara orang itu.
"Kurosaki… Aku disini…."
Ichigo meronta dalam pelukan erat Grimmjow. Matanya dengan panik menelusuri seluruh sudut ruang disekitarnya.
"SIAPA ITU?!"
Ichigo masih terus meronta, Grimmjow tidak melepaskannya.
"SIAPA?! KELUARLAH!" Ichigo berteriak.
Grimmjow semakin mengeratkan pelukannya, Ichigo terus bersikeras untuk melepasnya dan terus berteriak.
"HEY! JAWAB AKU!" Ichigo memanggilnya dengan frustasi. Cinnamonnya bergerak liar ke seluruh sudut ruangan.
"DIAM!" Grimmjow mulai kesal, sangat kesal. Ia melepaskan pelukannya, tapi tidak melepaskan Ichigo.
"Dengar Berry! Kau hanya perlu melihatku!" Grimmjow mencengkram kedua pundak Ichigo, –Possesive.
"Hanya aku! Kau mengerti?" Grimmjow mengguncang tubuh Ichigo sedikit kasar, membuat Ichigo mengangguk tanpa sadar.
Ichigo menatap Grimmjow dengan sirat yang tidak bisa di telaah oleh Grimmjow. Rasa sedih, depresi, frustasi, panik, khawatir, kesal dan penasaran serta kebingungan mendominasi cinnamon itu. Grimmjow berdecih lalu memeluknya. Kali ini dengan lebih lembut dan menenangkan.
"Berry…. I'm sorry."
…..
To Be continued
…..
Cuap-cuap Author,
Hallo, masih ada yang baca cerita ini? Hahaha, kalau ada, Saya mau minta maaf sekali sebelumnya karena baru bisa update sekarang setelah sekian lama. Sebenarnya chapter ini sudah lama jadi, Cuma…. Yah, saya sempat bingung dengan plot dasarnya untuk melanjutkan chapter-chapter ke depannya dan juga sempat ragu untuk melanjutkan cerita ini atau tidak. Hahaha, maaf ya.
Dan lagi, atas ancaman seseorang yang menyinggung bakal 'Susah buang air besar selama se-abad kalau tidak di selesaikan ceritanya', maka saya putuskan untuk mencoba melanjutkan. Mungkin, saya akan coba update 2 minggu per chapter paling cepat. Dan 1 bulan per chapter paling telat.
Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan(?) readers dan terima kasih karena masih berkenan untuk membaca cerita saya.
Terakhir, tolong tinggalkan jejak baik berupa fav, follow atau review (Saran/kritik) bila berkenan.
Terima kasih,
-Aito.
