Chapter 9

"Emhh, apa aku masih hidup? sudah berapa lama aku keluar?" gumamnya seraya menormalkan pandangannya. Setelah tubuhnya meluncur kebawah dari lantai 6, Baekhyun tak sadarkan diri hingga beberapa saat. Lalu saat ia terbangun kepalanya terasa pening dan sekujur tubuhnya terasa nyeri. Mungkin itu akibat dari tubuhnya yang membentur tanah dengan keras.

"Badanku sakit semua, rasanya ada tulangku yang patah, sepertinya aku harus bertemu Chanyeol dan menyembuhkan luka ku" racau Baekhyun seraya meraba punggungnya yang terasa nyeri.

"Ah! Sehun sedang menungguku!" pekiknya ketika mengingat janjinya dengan Sehun. Tanpa mempedulikan sakitnya ia segera beranjak dari sana. Yang diharapkannya kali ini hanyalah segera sampai ke tempat perjanjian dan memastikan bahwa Sehun masih ada disana.

"Aku bisa bergerak, kurasa tulangku akan baik-baik saja meskipun itu akan sakit, jadi aku harus bertemu Sehun terlebih dahulu baru menemui Chanyeol nanti," putus Baekhyun kemudian seraya berlari menuju halaman belakang sekolahnya.

'Jika yeojachingu Sehun tak datang maka Irene tak akan membiarkan Sehun pergi,' iner Baekhyun dalam hati. Ia pun segera mempercepat langkahnya ahar ia lekas sampai disana.

0

0

"Jadi yeojachingumu tak datang? aku tau dia tak akan datang sejak awal," ucap Irene seraya tersenyum miring. Ia sangat yakin kalau Baekhyun tak akan datang.

"Apa?"

"Sebenarnya kau tak punya yeojachingu kan?" tanyanya seraya menunjukan smiknya dan berjalan mendekati Sehun.

Sehun hanya terdiam tanpa bisa mengatakan apapun. Tentu saja yang dikatakan Irene memang benar adanya. Sejak awal dia memang tak pernah mempunyai yeojachingu. Ia juga tak pernah menyanggupi pertemuan ini. Baekhyun lah yang memintanya datang hingga membuatnya berada disini bersama yeoja ini.

Grep.

"Berkencanlah denganku, kau tak benar-benar mempunyai yeoja yang kau sukai, jadi mengapa kau menjawabnya tidak?" pinta Irene seraya menggenggam tangan Sehun dan menunjukan senyum manisnya.

"Aku sudah bilang bahwa aku tak mau berkencan denganmu!" Sehun pun segera menepis tangan Irene yang tengah menggenggam tangannya.

"Jika kau berkencan denganku, kau bisa belajar mencintaiku dari awal," ucapnya tak mau menyerah. Benar-benar yeoja yang tangguh.

"Itu tak benar, aku mempunyai yeoja yang kusukai," sangkal Sehun dengan pipi yang bersemu merah. Entah mengapa dia kembali teringat yeoja berambut panjang yang pernah menghampirinya beberapa hari yang lalu. Tentu saja yeoja itu tak lain adalah Baekhyun versi yeoja. Dan Sun tak mengetahui itu.

"Yeoja?" tanya Irene seraya tersenyum miring. Tentu saja ia meragukan ucapan Sehun. Karena dari informasi yang ia dapat Sehun memang tak memilikinya.

"Tidak, tidak, aku baru saja bertemu dengannya," seolah mengerti arti tatapan Irene, Sehun pun segera menjelaskannya.

"Hphm, itu mungkin kebohonganmu lagi," ucap Irene seraya mendengus geli.

"Itu bukan kebohongan, aku baru bertemu dengannya sekali, tapi aku tak bisa melupakannya, sejak hari itu aku selalu memikirka-, Oh!" Sehun membulatkan matanya saat yeoja yang dibicarakannya tau-tau sudah berdiri di hadapannya, lebih tepatnya di belakang Irene.

'Dia benar-benar datang!' pekik Irene yang terkejut melihat kedatangan yeoja itu tiba-tiba.

Sementara Baekhyun masih berdiri di sana seraya memegang ujung rambutnya yang lagi-lagi kembali memanjang.

'Rambutku kembali tumbuh,' iner Baekhyun dalam hati seraya menggigit bibir bawahnya. Itu artinya dia sekarang benar-benar seorang Yeoja. Kalau dulu hanya tubuhnya yang berubah, tapi sekarang rambutnya lah yang tiba-tiba memanjang dengan sendirinya.

"Kau Byun Baekhyun yang waktu itu?" tanya Sehun seraya berjalan menghampiri Baekhyun. Sehun memanggilnya Baekhyun karena saat pertama kali menghampirinya Baekhyun mengatakan bahwa ia bernama Byun Baekhyun.

"Ayolah, jangan pura-pura lupa nama yeojachingumu sendiri, ini aku Byun Baekhie," ucap Baekhyun seraya mempoutkan bibirnya.

"Byun, Byun Baekhie?" gumam Sehun seraya melebarkan matanya.

'Jadi dia yang namanya Byun Baekhie,' iner Sehun dalam hati.

"Bukankah namja berkacamata tadi pagi namanya juga Byun Baekhyun?" tanya Irene seraya mengeryitkan alisnya bingung.

"I-itu,"

'Sial! dia menyadarinya,' rutuk Baekhyun dalam hati ketika mendengar apa yang Irene katakan.

"Apa kalian kakak beradik?" tanya Irene seraya memicingkan matanya kearah Baekhyun.

Doeng

Baekhyun seempat berpikir kalau Irene tengah curiga, tapi dugaannya melesat jauh hingga membuatnya cengok seketika.

"Haha tidak, lebih tepatnya seperti sepupu," ucap Baekhyun seraya terkekeh garing. Tentu saja Baekhyun tak menyangka kalau ternyata Irene hanyalah yeoja yang naif.

"Lalu kenapa dia tak bilang begitu?" tanya Irene seraya mengeryitkan alisnya bingung.

'Dasar yeoja yang cerewet!' umpat Baekhyun kesal.

"Apa kau memanggilku kemari hanya untuk mengetahui hubunganku dengan Baekhyun?" tanya Baekhyun seraya tersenyum tipis.

"Tidak!" sangkal Irene kemudian.

"Kau bilang kau akan menyerah jika tau hubungan kami, jadi kau tak akan pergi mengganggunya lagi kan setelah ini?" tanya Baekhyun seraya bergelayutan di tangan Sehun manja.

"Ah!" seketika Irene melebarkan matanya begitu menyadari itu. Dia memang pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Ia tak menyangka kalau kata-katanya akan memojokkannya seperti ini. Tanpa sadar Sehun mengulum senyum saat melihat reaksi Irene.

"Jadi jangan ganggu dia lagi, ayo pergi Sehun-ah," Baekhyun segera menggenggam tangan Sehun dan menariknya meninggalkan Irene yang mematung di sana.

"Ada yang salah, mereka tak benar-benar berkencan, aku yakin itu, tapi-" sepertinya Irene masih bimbang, sepertinya ia belum sepenuhnya percaya bahwa Sehun benar-benar memiliki Yeojachingu.

"Yeoja itu, Byun Baekhie, dia lebih menarik dari sebelumnya, pasti banyak namja yang jatuh hati padanya," ucap Zelo yang tiba-tiba datang menghampiri Irene.

"Lalu kau juga menyukainya?!" tanya Irene seraya menatap Zelo tajam.

"Hpft, aku tak akan menyukai yeoja jika kau tak menyetujuinya," ucap Zelo seraya mendengus geli.

"Sehun adalah orang pertama yang aku sukai, kenapa yeoja itu datang dan mengganggu hubungan kami? sebelum ini Sehun tak memiliki teman kencan atau yeoja yang disukai," tanpa sadar air mata Irene sudah menggenang di pelupuk matanya.

"Kau, tidakkah kau merasakannya?" tanya Zelo seraya memutar tubuhnya.

"Merasakan apa?" Tanya Irene seraya mengeryitkan alisnya bingung.

"Yeoja itu, dia adalah vampire,"

"APA?!" seketika Irene membulatkan matanya mendengar apa yang Zelo katakan. Kenapa dia tak menyadari itu sejak awal? kalau itu benar, berarti Sehun dalam bahaya. Yeoja itu akan menggigit Sehun terlebih dahulu sebelum Baekhyun menggigitnya.

000

Saat ini Baekhyun dan Sehun sudah berada cukup jauh dari jangkauan Irene. Mereka tengah berjalan di trotoar menikmati hiruk pikuknya suasana malam di sudut kota.

'Apa ini? kepalaku terasa pening dan jantungku berdebar-debar dengan cepat,' Baekhyun tak tau apa yang tengah dirasakannya, tapi perasaannya kini menjadi tak menentu. Jantungnya berdetak cepat dan rasanya siap untuk meledak.

"Terima kasih Baekhyie, ku pikir Irene akan menyerah karenamu setelah ini," ucap Sehun seraya tersenyum tulus.

"Itu bagus, aku akan pergi sekarang kalau begitu," ia tak punya waktu untuk berbasa basi dengan Sehun disaat kondisi tubuhnya yang tak baik seperti ini. Perasaannya benar-benar tak enak, iapun memutuskan untuk segera pergi dari sana sebelum sesuatu terjadi.

'Tubuhku mungkin akan berubah lagi, jadi aku harus cepat-cepat pergi dari sini dan meninggalkan Sehun,' iner Baekhyun dalam hati seraya bergegas meninggalakan Sehun.

Grep

"Aku tak mau pertemuan ini berhenti sampai disini," ucap Sehun seraya menahan tangan Baekhyun. Ia tak mengerti kalau Baekhyun berada dalam masa genting dan ia malah menahannya.

"Apa?" terpaksa Baekhyun pun menghentikan langkahnya dan menengok kearah Sehun.

"Berkencanlah denganku untuk yang sesungguhnya!" pinta Sehun dengan nada serius dan menatap wajah Baekhyun lekat.

"Huhh?" sepertinya ia harus mengorek telinganya saat mendengar apa yang Sehun katakan. Ia tak tuli, tapi ia takut apa yang didengarnya barusan itu salah. Terlebih jika yang mengatakannya adalah sahabatnya sendiri.

"Kumohon, berkencanlah denganku," pinta Sehun seraya mengeratkan genggamannya pada tangan Baekhyun.

"Apa?" Baekhyun pun melebarkan matanya saat Sehun mengulang kata-katanya kembali.

"Aku tak bisa berhenti memikirkanmu, aku tak pernah seperti ini sebelumnya, aku tak tau kenapa, tapi kupikir aku menyukaimu," ucap Sehun seraya menggenggam tangan Baekhyun erat.

"Ah!"

'Sepertinya Sehun benar-benar jatuh cinta padaku, apa yang harus ku lakukan sekarang?' Baekhyun benar-benar bingung harus menjawab apa, tapi ia juga tak ingin membuat Sehun bersedih.

Deg Deg

"Argh!"

Bruk

Jantung Baekhyun terasa semakin berdetak kencang hingga membuatnya susah mengendalikan diri dan terjatuh ketanah.

'Perasaan apa ini? gelisah tak menentu, jantungku terasa mau meledak, aku seperti merasakan kehausan yang sangat,' rintih Baekhyun dalam hati seraya memegangi lehernya sendiri.

"Ada apa? apa kau baik-baik saja?" tanya Sehun seraya menunjukan kekhawatirannya.

"Aku sangat haus," rintih Baekhyun seraya memegangi leher dan dadanya yang terasa sesak.

"Aku akan pergi ke toko terdekat untuk membeli air mineral, tunggulah disini," Seru Sehun seraya berlari meninggalkan Baekhyun.

Ged Ged Geg

'Aku, ada apa denganku? sepertinya ada yang tak benar,' racau Baekhyun seraya menutup kedua telinganya dengan telapak tangan saat ia mendengar detak jantungnya sendiri dengan begitu jelas.

Deg Deg Deg

"Aaaagh!" rintih Baekhyun seraya menutup kedu telinga ya. Suara jantungnya itu benar-benar terdengar jelas di telinganya dan ia marasa terganggu dengan itu.

'Aku merasa jantungku mau meledak,' rintih Baekhyun mencengkeram dadanya.

000

Sementara itu di sebuah rumah mewah, Chanyeol tampak duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan yang gelisah tak menentu.

"Apa terjadi sesuatu dengan tubuh Baekhyun?" gumam Chanyeol yang menunjukan raut gelisahnya.

Sepertinya Chanyeol dapat merasakan apa yang Baekhyun rasakan setelah dia meminum darah Baekhyun. Seperti yang dikatakan Yifan. Bila seorang vampire membagi darahnya maka si penerima dapat merasakan emosi dan perasaan dari si pemberi darah.

"Chanyeol-nim!" Seru Jongdae yang berlari kecil menghampirinya.

"Ada apa?"

"Tuan Yifan dan pengikutnya menyewa klub untuk berpesta disana," serunya melaporkan apa yang ia ketahui tentang Yifan pada tuannya.

"Tapi itu kan kebiasaannya? aku harus pergi kesuatu tempat, jadi-"

"Itu, Ku dengar yeoja-yeoja cantik yang terkenal di Korea di undang untuk dijadikan istrinya," ucap Jongdae menambahkan.

"APA!? Tak mungkin kan, dia ingin meminum semua darah manusia yang diundangnya malam ini?" pekik Chanyeol seraya melebarkan matanya. Saudaranya itu benar-benar mencari gara-gara sepertinya. Sama sekali tak mendengarkan peringatannya.

"Sepertinya dia tertarik pada sesuatu yang berbeda, dan sepertinya dia juga berencana membawa vampire tingkat tinggi teman dekatnya,"

"Untuk mengelabuhi anggota perkumpulan?" tanya Chanyeol seraya berdecit.

"Aku juga berpikir begitu, sama seperti Chanyeol-nim, Yifan-nim juga bisa menghapus ingatan manusia, jika ia membunuh 100 orang, ia tinggal membuat cerita itu hilang begitu saja," ucap Jongdae seraya menatap miris lantai tempat ia berpijak.

"Yaeh, dia bisa membohongi Appa dan perkumpulan, karena itulah yang bisa dia lakukannya," ucapnya seraya menghela nafas. Ia benar-benar lelah menghadapi kelakuan saudara tirinya itu.

"Pestanya pasti sudah dimulai sekarang, jadi apa yang akan kita lakukan? memberi tahu anggota perkumpulan-"

"Percuma saja memberitahu mereka, anggota perkumpulan lebih percaya padanya daripada aku, Appaku tak akan percaya padaku sekalipun aku berteriak," ucap Chanyeol seraya menundukan wajahnya. Karena memang begitulah kenyataannya. Terlebih setelah dia lebih memilih keluar dari rumah utama, semua kata-katanya tak pernah sekalipun didengar baik oleh ayahnya sendiri maupun anggota perkumpulannya.

"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Jongdae seraya mengeryitkan alisnya.

"Aku yang akan pergi sendiri, siapkan mobil untuk ku," putus Chanyeol kemudian seraya beranjak dari duduknya.

"Baik Chanyeol-nim," Jongdae pun segera membunggukkan badannya dan segera menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya.

'Aku khawatir tentang Baekhyun, tapi masalah Yifan adalah prioritas utama,' dia benar-benar bimbang saat ini, sejak tadi perasaannya tentang Baekhyun terus mengganggunya. Tapi masalah yang Yifan timbulkan juga harus ia tangani

'Aku hanya berharap tak terjadi apa-apa pada Baekhyun,' harap Chanyeol dalam hati lalu bergegas keluar dari rumahnya.

000

"Sa-kit!" rintih Baekhyun yang tengah memegangi perutnya seraya merayap di dinding pertokoan yang berjajar di sepanjang jalan.

Dug

"Apa yang? Hei! hati-hati kalau jalan!" proter seorang namja yang tak sengaja tertabrak oleh Baekhyun seraya membalikkan badannya. Begitu tau kalau yang menabraknya adalah yeoja, namja itu pun mengangkat dagu Baekhyun dengan tangannya.

"Wow dia sangat cantik," pujinya dengan mata berbinar.

"Iya, dia cantik,"

"Dari mana datangnya yeoja cantik ini muncul?" tanya salah satunya dengan mata berbinar takjub.

Greb

"Aku khawatir bagaimana melewati kesendirianku malam ini, lalu tiba-tiba kau muncul, jadi mari melewati malam ini bersama," ucapnya seraya memeluk tubuh Baekhyun erat dan tersenyum senang.

"Pergi! tinggalkan aku sendiri!" pinta Baekhyun seraya mendorong dada namja yang baru saja memeluknya untuk segera menjauhinya. Ia merasa akan kehilangan kendali tubuhnya sebentar lagi.

"Apa?"

"Ting-galkan aku sendiri!" pinta Baekhyun seraya memeluk perutnya sendiri yang terasa bergejolak aneh.

"Oh begitu, jadi kau sedikit mabuk," ucap Namja itu salah sangka mengira Baekhyun ingin muntah karena sedang mabuk.

"Kami akan minum 2-3 gelas, jadi jangan khawatir," ucap namja itu seraya menuntun Baekhyun agar mengikutinya.

"Mari bersenang-senang," ucap namja yang satunya lagi.

Siing!

"Bukankah sudah kubilang tinggalkan aku sendiri!" seketika tatapan Baekhyun berubah menjadi tajam dan menatap tiga namja itu geram.

Buagh!

Salah satu dari mereka pun tersungkur ketanah setelah Baekhyun memukul wajahnya dengan keras.

"Argh!"

"Ugh!" ritih namja itu saat Baekhyun melemparnya ketanah.

"Waaaa!" sementara namja yang satunya lagi tampak ingin melarikan diri.

"Kau pikir kau bisa kemana?!" ucap Baekhyun geram. Dengan sigap ia mengejar namja itu dan menendang punggungnya dengan keras.

Duagk!

"Aargg!" namja itu pun gagal melarikan diri saat Baekhyun menendang punggungnya hingga tersungkur di tanah.

Lalu saat melihat salah satunya tampak merangkak ingin melarikan diri, Baekhyun segera menghampirinya dan menginjak kepalanya tanpa berperasaan.

"Argh!"

"Siapa yang bilang kau boleh pergi!" ucap Baekhyun dengan begisnya seraya menginjak kepala namja itu dengan keras.

"M-maafkn aku, kumohon maafkan aku dan biarkan aku pergi!" pintanya saat kepalanya terasa bersenyut sakit.

"Kau, tak bisakah kau memberikan darahmu?" tanya Baekhyun seraya mengangkat salah satunya dengan mencengkeram kerah baju namja itu seraya menunjukan seringaiannya.

"D-darah? apa yang kau bicarakan?" pekik namja itu terkejut.

"Kau harus memberikan semua darahmu," ucap Baekhyun seraya menunjukkan seringaiannya dan mendekatkan mulutnya ke leher namja itu.

"Aaaaah!" pekik namja itu panik saat Baekhyun tengah menjilat lehernya.

0

0

"Baekhyun ini airnya! loh kemana dia? gumam Sehun saat melihat Baekhyun tak ada di tempatnya semula.

"Apa yang terjadi?" pekiknya saat melihat kerumunan yang tak jauh dari sana. Iapun segera menerobos orang-orang itu.

"Baekhyun!" serunya seraya menghampiri Baekhyun yang tengah bersama seorang namja.

Wing!

Baekhyun melempar namja itu begitu saja saat melihat Sehun tengah berlari menghampirinya.

"Ah, Sehun!" ucap Baekhyun seraya tersenyum manis.

"Apa yang terjadi disini? kau yang melakukannya ya?" tanya Sehun seraya mengeryitkan alisnya saat melihat tiga namja yang terkapar di tanah dengan luka lebam dimana-mana.

"Kau sangat kejam!" ucapnya seraya berhambur kepelukan Sehun.

"Ahh!" pekik Sehun saat tiba-tiba Baekhyun bertingkah manja padanya.

'Apa yang terjadi?' ia merasa aneh dengan sikap yang Baekhyun tunjukan.

"Mereka yang menggangguku, aku korban disini," adunya seraya menenggelamkan wajahnya di dada Sehun.

"O-oke, tapi kau baik-baik saja sekarang, dan ini aku membelikan minuman untukmu," Sehunpun segera menyodorkan sebotol air mineral kepada Baekhyun dengan pipi yang bersemu merah.

"Aku tak butuh air," protes Baekhyun seraya menampik air itu hingga terjatuh ketanah dan kembali memeluk tubuh Sehun manja.

"Aku butuh sesuatu yang lebih dari air Sehun~" rengeknya manja seraya mencengkeram kaus yang Sehun kenakan di bagian dadanya.

Sehun bingung harus melakukan apa, ia Baekhyun tak baik-baik saja, jadi diapun berinisiatif menggendong Baekhyun ala mengantin dan membawanya pergi.

"Ku pikir kau tak baik, ayo pergi kerumah sakit," ucapnya seraya membawa Baekhyun pergi dari kerumunan itu.

Greb

"Yeah, aku tak berpikir aku tak baik," ucap Baekhyun dengan nada sensual seraya memeluk leher Sehun.

"Eh?" Seketika Sehun membulatkan matanya. Ia cukup terkejut melihat Baekhyun yang semakin agresif.

"Darah," ucap Baekhyun seraya menarik leher Sehun agar semakin dekat dari jangkauannya.

Slruph

"Aku ingin tau rasa darahmu seperti apa," bisik Baekhyun seraya menjilat leher tegas Sehun.

TBC

Sampai disini ya sebenarnya mau aku jadiin satu Chap dengan chap 8, tapi males ngeditnya jadi kupotong saja terus ku jadikan chap 9 deh hehe peace.

Disini Baek mulai kehilangan kendali dirinya, ada alasan dibalik itu semua. Pokoknya diikutin saja ya kalau masih penasaran dan mau baca.

Jangan lupa tinggalkan review dan terimakasih untuk reader-nim yang sudah meninggalkan jejak di chap 8.

Dari pada galau mikirin nggak bisa nonton Mubank live, baca ff aja deh nyari ff yg melow biar mendukung suasana T-T

-Salam damai inchan88-