Chapter 14

Ketika Chanyeol mulai memperdalam ciumannya dan merengkuh tubuhnya lebih erat Baekhyun mulai panik.

'Ini salah, kita tak boleh melakukan ini, tidak! tidak!'

"Kita tak boleh melakukan ini tidak! tidak!" seru Baekhyun panik seraya berdiri dari tempat duduknya.

Siing!

"Huhh? apa? dimana ini?" didapatinya tatapan aneh teman-teman sekelasnya ketika ia mengedarkan pandangannya.

"Haha mimpi, ternyata cuma mimpi," kekehnya seraya menggaruk belakang kepalanya. Ya ampun, ketahuan tidur di kelas saat jam pelajaran berlangsung dan itu di kelas barunya. Bahkan Yifan yang ada di sampingnya ikut menatapnya aneh.

"Ini masih jam pelajaran," ucap guru di depan kelas itu dengan raut wajah menyedihkan. Tentu ia sedih saat ada muridnya yang tak memperhatikan penjelasannya apalagi sampai tidur di kelasnya.

'Tadi itu seperti Chanyeol benar-benar menciumku,' gumam Baekhyun dalam hati seraya menangkup wajahnya yang memerah. Pandangannya menerawang jauh kedalam mimpi yang baru dialaminya itu.

"Kau adalah milikku, bahkan sebelum aku bertemu denganmu, kita sudah ditakdirkan untuk bersama," kata-kata itu mampu melambungkan angan Baekhyun hingga langit kejutuh. Apalagi diucapkan dengan suara bass yang mampu menggetarkan hatinya.

Blush

'Kyaaa!' tak pedulikan rona merah dipipinya juga tatapan Yifan yang sulit diartikan itu, Baekhyun masih saja tenggelam dalam dunianya sendiri.

Riiiiiiing!

Tak lama berselang Bell istirahat pun berbunyi menandakan bahwa pelajaran matematika telah usai.

"Bawa ini dan ikut denganku," pinta Yifan seraya menyerahkan beberapa buku kepada Baekhyun.

"Baik," tak ada pilihan lain selain menuruti kemauan namja itu. Langkah kaki mengikuti tapi pikiran masih melayang membayangkan betapa nyatanya bibir Chanyeol kala menyesap bibirnya.

"Yifan-nim, aku telah menelepon 3 yeoja di klub itu, mungkin yeoja yang kemarin itu akan datang lagi," bahkan ucapan Hyunbin tak Baekhyun pedulikan. Ia masih saja merenungi mimpinya itu.

'Kenapa aku kepikiran tentang mimpi itu terus? itukan cuma mimpi, ya benar itu cuma mimpi,' berapa kalipun ia menggeleng, namun nyatanya bayangan itu terus menghantuinya.

'Hwaaa! cuma mimpi Baekhyun itu cuma mimpi,' tak sadarlah ia kalau Yifan dan rombongannya sudah berbelok di tikungan. Tembok keras itu akhirnya menjadi sasaran pendaratan wajah Baekhyun dalam sekejap.

Bugh

"Aww!" pekiknya kala hidungnya terasa ngilu. Tubuhnya pun terhuyung kebelakang dan pantatnya mendarat di lantai dengan keras. Namun nyatanya itu tak mengundang tawa bagi Hyunbin dan teman-temannya.

"Berhentilah bermain-main dan ikutlah bersama kami," ucapnya seraya memutar bola matanya malas. Sekali menyebalkan dan akan selalu menyebalkan hingga membuat Baekhyun ingin mendaratkan kepalan tangannya pada kacamata yang dikenakannya.

"Baik," Baekhyun segera bangkit setelah mengambil buku-buku yang berserakan di lantai. Tapi saat tubuhnya sudah kembali berdiri tegak ia dikejutkan oleh seseorang yang sudah berdiri di depannya entah sejak kapan.

'Eh? whaaaa! Chanyeol yang asli ada disini!,' pekiknya panik seraya melebarkan matanya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya seraya mengeryitkan alisnya saat melihat Baekhyun ada di depan kelasnya.

"Ah itu a-aku, aku-"

Entah mengapa matanya tak kuasa hanya untuk sekedar membalas tatapan namja jangkung itu. Ia hanya berdiri kikuk dan menundukkan kepalanya dalam.

"Ada urusan apa kau dengan budakku?" tau-tau Yifan sudah berdiri diantara keduanya menghalangi pandangan Chanyeol kepada Baekhyun.

"Dia bukan budakmu!" suara Chanyeol meninggi, ia tak terima Yifan mengatakan itu tentang Baekhyun.

'Apa yang harus kulakukan, kalau aku mengatakan benar bahwa aku budak Yifan, Chanyeol pasti merasa dihianati, lebih baik aku pergi diam-diam saja,' putus Baekhyun kemudian saat melihat kedua namja itu sedang bersitegang.

Chanyeol menyadari itu dan segera menahan pergelangan tangan Baekhyun. "Tunggu dulu!"

Plak

"Ah!" Baekhyun terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Chanyeol pun sama terkejutnya dengan dirinya hingga membuatnya melebarkan matanya. Sungguh dia tak bermaksud menepis tangan Chanyeol. Ia hanya refleks.

Ketika tangan itu menyentuhnya, seperti ada sambaran petir hingga membuat jantungnya berdetak cepat. Ia tak tau mengapa selalu begini tiap kali berada di dekat Chanyeol. Ditambah kini ia teringat mimpi itu lagi. Karna tak kuasa menahan debaran dihatinya yang semakin menjadi, iapun bergegas pergi dengan berlari sekencang mungkin meninggalkan Chanyeol yang termangu di tempat.

"Heh! Park Chanyeol baru saja ditolak murid pindahan yang baru ditemuinya kemarin," ejek Yifan dengan wajah yang menyebalkan. Namun Chanyeol hanya menanggapinya dalam diam.

"Kalau aku sudah bosan dengan budak itu, nanti juga akan kuberikan padamu, jadi tunggu saja!" ucapnya seraya menunjukan senyum miringnya. Tak mendapat respon apapun dari Chanyeol, iapun memutuskan pergi dari sana.

"Tapi kemana namja itu pergi?" gumamnya seraya meninggalkan Chanyeol dan berjalan menyusul Baekhyun.

"Baekhyun kenapa?" Ia merasa ada yang berbeda dari Baekhyun, berubahan sikap yang Baekhyun tunjukan padanya terlalu jelas. Biasanya kalau bertemu dengannya, Baekhyun akan menatapnya dengan tatapan tak suka, namun kini namja mungil itu bahkan enggan untuk menatapnya dan lebih terkesan menghindarinya.

000

"Hahh hahh hahh," nafas Baekhyun memburu setelah ia berhasil melarikan diri sampai di taman belakang sekolah. Namun sepertinya bayangan Chanyeol yang menciumnya masih terus menghantuinya hingga membuatnya sedikit frustasi.

"Aaaarg! aku sudah gila!" serunya seraya mengacak rambutnya frustasi. Dilihatnya danau buatan ada di hadapannya, iapun segera masuk kedalamnya dan mengenggelamkan kepalanya disana, berharap itu bisa memuatnya lupa akan mimpinya.

"Lupakan! Lupakan!" racaunya frustasi seraya menenggelamkan kepalanya lagi sesekali.

"Huh?" dari kejauhan ia menangkap sosok namja jangkung yang sangat di kenalinya.

"Baekhyun!" dapat ia dengar seruan namja itu yang kini berjalan kearahnya.

"Ah ada Sehun," cepat-cepat ia menenggelamkan kepalanya lagi berharap Sehun tak menemukannya.

'Eh? sepertinya aku tadi melihat sesuatu?' gumam Sehun seraya mengamati permukaan air danau itu yang bergerak pelan.

"Aku yakin melihat dia berlari kemari tadi," karena tak menemukan keberadaan Baekhyun, Sehun pun bergegas meninggalkan taman itu.

"Pwahh hahh hahh Sehun maaf ya, aku tak bisa memberikan nomor telepon Byun Baekhie yang kau sukai," gumamnya seraya menundukan kepalanya sendu.

"Seharusnya aku tak perlu menyelam tadi," sesalnya saat mendapati bajunya yang basah setelah ia menepi pada pinggiran danau. Tapi sepertinya ia harus mengulangi hal yang sama ketika dilihat Yifan berjalan kearahnya.

"I-itukan Yifan!" Dengan panik iapun cepat-cepat kembali kedalam danau dan menenggelamkan dirinya sekali lagi di sana. Dan benar saja, Yifan berhenti tepat di tepi danau tak jauh darinya.

Yifan tampak mengeryitkan alisnya saat melihat gelembung-gelembung menyumbul naik ke permukaan danau.

"Pwahh hahh, bagaimana kau tau kalau aku ada disini? dasar br*ngs*k!" Baekhyun yang sudah tak mampu menahan nafas di dalam air pun menyumbul kepermukaan. Kemudian ia menatap Yifan sinis ketika namja itu terlalu lama berdiri disana.

"Keluar dari sana! kita harus pergi," ucapnya seraya menatap Baekhyun malas.

"kemana?" tanya Baekhyun seraya mengeryitkan alisnya.

"Ketempat yang keren, kau akan senang sekali disana, kita akan ke klub," ucapnya seraya berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu persetujuan Baekhyun terlebih dahulu.

"Klub?" seketika Baekhyun melebarkan matanya. Kalau boleh jujur ia bahkan tak tau seperti apa tempat yang bernama klub itu. Walaupun Chanyeol pernah bilang ia pernah mengacau disana, tapi kan ia tak mengingat kejadian itu.

0

0

"Jadi ini yang namanya klub?" gumam Baekhyun seraya mengamati orang-orang yang menari dibawah gemerlap lampu kelap kelip.

"Hehh, ini pertama kalinya kau ke klub? payah sekali," ejek Hyunbin dengan tampang menyebalkan.

"Bukankah ada batasan umur ya di tempat seperti ini? minum alkohol juga?" gumam Baekhyun seraya menatap gelas berisi cairan bening yang Hyunbin tuangkan untuknya.

"Berhenti bicara seperti orang tua,"

Cuuurr

"HEI!" pekik Baekhyun saat minuman itu sudah menyiram kepalanya, tentu saja pelakunya adalah Hyunbin yang kini duduk di sampingnya.

"Apa yang kau lakukan!" protes Baekhyun seraya mengeringkan rambutnya dengan tisu yang disediakan.

"Yifan!"

"Kyaa ada Yifan disini!" pekik beberapa Yaoja yang tiba-tiba datang mengerumuni Yifan.

"Hei!" pekik Baekhyun saat tubuhnya tanpa sengaja terusir dari sana setelah beberapa Yeoja mendesak ingin mendekati Yifan.

"Siapa anak kecil ini?" tanya seorang yeoja saat pantatnya tak sengaja bersenggolan dengan pantat Baekhyun yang berniat menjauh.

"Haha abaikan saja dia," ucap Hyunbin seraya terkekeh pelan. Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal ketika disangka anak kecil.

"Ini adalah klub terbaik di negeri ini, walaupun kau memotong kelima jarimu, itu tak akan cukup untuk membayar biaya masuknya, semua yeoja yang datang kemari adalah anggota premium," ucap Hyunbin seraya menggoyangkan gelas berisi minuman beralkohol itu.

'Anggota premium?' gumamnya dalam hati.

"Dia populer sekali?" gumamnya tanpa sadar saat tatapannya beralih pada Yifan yang tengah di kerumuni banyak Yeoja itu.

"Tentu saja, ada banyak yeoja yang datang kemari hanya untuk melihat Park Yifan-nim, mereka berharap bisa berkenalan dan menjadi yeojachingunya, mereka yeoja gigih sekali,"

'Dia berbeda sekali dengan Chanyeol, ternyata dia suka bermain-main dengan yeoja, sedangkan Chanyeol begitu baik dan perhatian, Hwaaa! jangan pikirkan Chanyeol terus,' tanpa sadar hatinya refleks telah memuji sosok Chanyeol.

"Yifan ayo kita menari!" dua yeoja menarik kedua tangan namja itu untuk mengajaknya ke dance floor, Yifan seperti tak keberatan dengan itu dan mengikuti kemana yeoja-yeoja itu membawanya pergi. Seiring dengan hentakan musik, Yifan menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik yang berdentum kencang.

"Kyaa,"

"Tampan sekali!"

Pekik beberapa yeoja saat melihat tarian Yifan yang memabukkan.

'Huhh! Dia memang dilahirkan tampan, apalagi dia memancarkan kharisma disetiap gerakannya, yeoja-yeoja itu jadi mabuk kepayang karenanya, Chanyeol juga punya kharisma seperti itu, jelas sekali karena mereka memang saudara seayah, tapi tetap saja kharisma yang keduanya pancarkan berbeda,' tanpa sadar setiap kali ia mengagumi sosok Yifan ia akan selalu membandingkannya dengan Chanyeol.

'Haha kenapa aku jadi memikirkan Chanyeol lagi! tolong berhenti memikirkannya!' berapa kalipun ia mengelak tetap saja bayangan namja itu menghantuinya.

"Aku harus bagaimana nih? kurasa aku sudah jatuh cinta," ucap seorang yeoja yang duduk tak jauh dari Baekhyun.

"Apa?" sementara yeoja di sebelahnya menanggapinya dengan pekian pelan.

"Berapa hari yang lalu aku bermimpi berkencan dengan Yifan dan dia menciumku," terlihat jelas rona merah dikedua pipi yeoja itu saat mengatakannya. Mendengar pembicaraan keduanya Baekhyun langsung memasang telinganya lebar-lebar.

"Kyaa aku juga ingin bermimpi seperti itu?" sementara teman yeoja itu menanggapinya dengan antusias.

"Setelah memimpikan itu aku tak bisa berhenti memikirkan Yifan, jantungku berdetak sangat cepat," mimpi yeoja itu sama persis dengan yang dimimpikannya tadi. Baekhyun jadi penasaran, dan memberanikan diri untuk bertanya.

"Apa itu berarti kau sedang jatuh cinta?" tanya Baekhyun dengan sesikit kikuk saat dua yeoja itu menoleh kearahnya.

"Haha tentu saja, aku tak bisa berhenti memikirkannya, dan jantungku berdetak cepat karena aku menyukainya," yeoja itu mengatakannya dengan tersipu malu.

"Orang yang kita sukai akan datang kemimpi kita," tambah teman yeoja itu seraya tersenyum manis.

"Karena kau menyukainya?" gumam Baekhyun dengan tatapan kosong. Benarkah itu? lalu kalau yang datang kemimpinya itu Chanyeol, lantas dia menyukai Chanyeol? begitu kah? bolehkah Baekhyun menertawakan dirinya sendiri sekarang.

"kau bodoh ya, itu sudah jelas kan? hahaha," rasanya tak perlu, karena dua yeoja itu sudah menertawakan kedunguannya.

Setelah itu Baekhyun memutuskan pergi ketoilet untuk membasuh wajahnya.

0

0

'Apa itu berarti aku menyukai Chanyeol?' gumamnya ketika teringat pembicaraannya dengan dua yeoja tadi.

"Tidak! itu tak mungkin! Aku tak mungkin menyukainya, kenapa aku harus suka pada sesama namja?" gumamnya seraya menatap pantulan dirinya pada cermin dengan tatapan kosong. Sepertinya ia lupa kalau saat ini dirinya telah berubah menjadi yeoja.

'Ah sampai saat ini aku memang tak pernah menyukai satu yeojapun hingga sekarang, apa itu berarti-, ah! aku rasa aku harus memikirkan terlebih dahulu tentang itu,' tak mau ambil pusing, Baekhyun segera membasuh wajahnya kembali.

"Anak-anak br*ngs*k dari SMA Kangwoo akan dihabisi besok,"

Deg

Baekhyun langsung mengalihkan pandangannya pada dua namja yang berdiri tak jauh darinya.

'Kangwoo?'

"Sebenarnya besok itu adalah pertempuran antara Jjang SMA kangwoo dengan Jjang SMA Jinha saja, tapi Jjang SMA Kangwoo tak tau kalau SMA Jinha akan bersekutu dengan SMA Shinbi untuk menyerang bersama," tanpa sadar Baekhyun mengepalkam kedua tangannya saat mendengar itu.

"Jjang SMA Shinbi telah dikalahkan habis-habisan oleh Jjang dari SMA Kangwoo, ia telah menunggu lama mencari waktu yang pas untuk pembalasan,"

"Iya, Jjang SMA Kangwoo masih berpikir kalau besok hanya pertempuran melawan SMA Jinha saja, Jinha dan Shinbi bersatu habislah SMA Kangwoo," ucapnya seraya terkekeh pelan. Meraka tak menyadari kalau mantan Jjang yang dulu mengalahkan SMA Shinbi ada disana dan mendengar percakapan mereka.

'Jongin dan anak-anak SMA Kangwoo dalam bahaya!' yang dipikirkannya saat ini ialah bagaimana cara memberitahukan hal ini pada Jongin dan kawan-kawannya, sementara mereka telah melupakan dirinya sejak Chanyeol menghapus ingatan orang-orang tentangnya.

"Permisi apa kalian tau dimana mereka akan berkelahi?" tanya Baekhyun menyela pembicaraan kedua namja itu.

"Apa? Siapa kau? salah satu anak SMA Kangwoo ya?"

"Apa kau pikir kita bisa dibodohi segampang itu?"

Tak sadarkah mereka kalau Baekhyun itu salah satu orang yang pengendaluan emosinya buruk.

CTAK

Muncul perempatan dipelipis Baekhyun. Kepulan asap seperti keluar dari telinga Baekhyun. Sungguh emosinya sudah sampai ubun-ubun dan siap meledak.

"Kenapa kau melepas kaca matamu?" tanya salah satunya seraya mengeryit aneh saat melihat Baekhyun meletakkan kacamatanya di dekat westafel.

Greb

"Hwaaa!" pekiknya saat Baekhyun mencengkeram kerah kedua namja itu.

"KALIAN BOLEH PILIH! MEMBERITAHUKU SETELAH AKU MELAMPIASKAN KEMARAHANKU PADA KALIAN? ATAU SELAMAT DAN BERITAHU AKU SEKARANG JUGA!" ancamnya dengan penuh penekanan seraya menatap tajam kedua namja yang kini berada dalam cengkramannya.

000

Sementara itu di dance floor ada yeoja cantik yang dengan beraninya mendekati Yifan dengan sedikit intim.

"Kau sangat tampan," ucap seorang Yeoja yang bergelayut manja di leher Yifan.

Cup

"Kau tak bisa menggigitku karena kau adalah pelayanku,"

"A-apa kau bilang?"

Seketika kata-kata dan wajah Baekhyun (versi wanita) terngiang di benaknya. Ia bahkan tak menikmati saat yeoja cantik ini tengah melumat bibirnya.

"Kurang ajar!" serunya mendorong yeoja yang tengah menciumnya itu hingga tersungkur dilantai.

"Kyaa!"

'Yeoja itu! kenapa dia selalu muncul di kepalaku?' tentu ia tak peduli pekian terkejut dari yeoja yang kini terduduk di lantai. Ia memilih kembali kemejanya.

"Yifan-nim kenapa?" tanya Hyunbin ketika Yifan kembali dengan mood buruknya.

"Apa dia mengatakan sesuatu yang buruk padamu?" tanya yeoja yang tadi bersama Baekhyun.

"Tenanglah, kami akan membuatmu merasa lebih baik," teman Yeoja itu ikut menenangkan Yifan.

"AKU TAK BUTUH KALIAN," serunya seraya mendorong kedua yeoja itu menjauh, terlihat jelas kalau moodnya benar-benar buruk.

"Yifan-nim ada apa?" Hyunbin memutuskan bertanya kembali ketika tak mendapat jawaban dari Yifan.

"Kau masih belum menemukan yeoja itu?" Sebotol minuman beralkohol ia tuangkan pada gelas di depannya. Tak menunggu lama ia segera menegak habis minuman keras itu.

"Kita masih belum menemukan petun-"

Brag

"KURANG AJAR!" moodnya yang buruk semakin buruk saja setelah mendengar jawaban mengecewakan dari Hyunbin.

"Aku sudah mengerahkan seluruh anak buah kita, jadi sabarlah sebentar lagi," Sesungguhnya Hyunbin juga takut dengan kemurkaan Yifan yang menyeramkan itu. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya memang susah mencari tau keberadaan yeoja itu.

"Berhenti bertele-tele pergi kau!"

"Baik Yifan-nim," Hyunbin cepat-cepat pergi dari sana sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya.

'Aku pasti bisa mendapatkanmu,' pada mata Yifan kini terpancar obsesi yang begitu besar ingin memiliki yeoja yang pernah menghancurkan pestanya itu. Andai dia tau kalau yeoja itu adalah Baekhyun yang selama ini ada disekitarnya.

0

0

"Huft, besok di tempat pembangunan di belakang apartemen XX," gumam Baekhyun seraya berjalan keluar dari toilet. Lalu ia mengeryitkan alisnya saat menangkap kelakuan aneh Hyunbin dan dua temannya.

"Huhh? mereka sedang apa?" Baekhyun tak mengerti mengapa 3 namja itu bersembunyi dibalik tiang/pilar besar yang ada disudut ruangan. Tak mau tau ambil pusing, Baekhyun memutuskan kembali ke tempat duduknya semula. Tapi kemudain ia dikejutkan saat melihat Yifan duduk seorang diri disofa panjang berbentuk U itu dengan beberapa botol berjejeran dimejanya.

"KAU MEMINUM ITU SENDIRIAN?" bagaimana bisa anak SMA minum sebanyak itu.

"Aku mau kembali keasrama," gumamnya seraya mencoba bangkit dengan terhuyung-huyung setelah mendengar suara Baekhyun.

"Yifan-nim, kami akan membantumu," Hyunbin dan temannya yang semula bersembunyi akhirnya bergegas mendekati Yifan untuk membantunya kembali keasrama. Namun sayangnya Yifan tak menyukai itu.

"Pergi kau!" racaunya seraya menepis tangan ketiganya yang berniat membantu.

"Ahh!"

"Tunggu apa lagi?" ucapnya seraya menatap Baekhyun tajam.

"Hah?" Baekhyun tampak terbengong seperti orang bodoh menanggapi permintaan Yifan.

"Papah aku!" pintanya seraya berjalan mendekati Baekhyun.

"Baik," sejujurnya dia bingung kenapa Yifan memilih meminta bantuannya dan menolak pertolongan Hyunbin. Tapi akhirnya ia memilih menuruti kemauan namja yang sudah mabuk berat itu.

"Yifan-nim selalu meminta bantuan namja itu,"

"Padahal kita yang selalu melakukan pekerjaan kotor untuknya," terdengar nada iri saat teman Hyunbin mengatakan itu.

"Tenang saja, ini pasti hanya sementara, sebentar lagi pasti ia akan bosan dan membuangnya seperti sampah," ucap Hyunbin seraya menatap kepergian dua namja berbeda tinggi badan itu dengan senyum miring tersungging di bibirnya.

TBC

AHAHAHA ternyata cuma mimpi, aku bahkan sempat terkecoh kok, jadi kalau reader juga itu artinya kita satu sama.

Sampai disini dulu yaaaa~ maaf bahasanya ancur banget, udah aku baca berkali-kali tapi kok tetep aja kurang gimana gitu. Ini aja ada beberapa percakapan yang aku ubah bahasanya, maklum saja di manhwa aslinya hanya menyediakan gambar dan percakapannya saja. Kalau kurang ngena baca aja manhwa nya chap 17 yaaaa~ dengan judul yang sama.

Terimakasih to: reader setia My Boyfriend is Vampire, aku sayang kalian :3

Jangan bosan-bosan tinggalkan review ya~

-Salam damai inchan88-