Chapter 15
'Aduh orang ini tinggi sekali, susah sekali memapahnya, d-di sini kan?' Perbedaan tinggi badan tentu menyusahkan Baekhyun memapah namja jangkung itu. Untuklah kini mereka sudah sampai di depan pintu yang ia yakini adalah kamar Yifan. Maklum saja ia baru sekali kemari dan sedikit lupa letaknya.
"Kita sudah sampai!" ucap Baekhyun begitu mereka sudah berada di dekat ranjang king size milik Yifan.
"Hmmm," Hanya gumaman pelan yang keluar dari mulut Yifan, sementara matanya masih tertutup rapat membuat Baekhyun gemas sendiri melihatnya.
"Hei kau!" pundaknya terasa pegal dan ia memutuskan menegakkan tubuh namja jangkung itu dan mengguncangnya agar namja itu bangun. Tapi bukannya bangun tubuh namja itu malah semakin condong kearahnya dan mengakibatkan keduanya berakhir terjatuh di atas ranjang.
"Whaaa!" Oke cukup. Sepertinya ia teralu lelah.
'Uhh, aku tak mau tidur dengan orang sepertimu,' sekuat tenaga ia berusaha, tapi nyatanya tangan yang menghimpit tubuhnya itu lebih berat dari perkiraannya.
"Uhh, Bisa menyingkir sebentar!" sungguh ia mulai kesal sekarang. Tangan itu, tentu harus ia singkirkan segera sebelum ia berujung tidur bersama namja itu semalaman.
"Carikan aku yeoja itu,"
Baekhyun langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar suara Yifan. Dilihatnya mata itu masih terpejam dan hanya mulutnya saja yang terbuka.
Deg
"Eh? Apa! Yeoja itu?" tak ayal ucapan Yifan barusan membuat Baekhyun membulatkan matanya. Ia harap bukan dirinya lah yang Yifan maksud.
"Kemarin ada seorang yeoja yang hampir meminum darahku, yeoja sialan itu," perlahan mata Yifan terbuka dan menatap Baekhyun sayu.
"A-apa?" nyatanya harapannya tak menjadi nyata. Karena memang dialah yang Yifan maksud.
"Kalau kau berhasil menemukan yeoja itu untukku, aku akan membebaskanmu dan akan mengembalikan ingatan teman-temanmu,"
Penawaran yang sungguh menarik sebenarnya. Tapi tetap saja itu tak ada artinya bagi Baekhyun. Kalau itu ia lakukan, sama saja ia menyerahkan dirinya sendiri.
"B-benarkah?"
"Iya, tapi itu jika kau berhasil membawakan yeoja itu,"
"Menangkap dan membawanya padamu?" gumamnya seraya melirik kearah Yifan.
"Aku akan membuatnya berlutut dan mencium kakiku, aku akan menghukumnya karena telah berani mencoba meminum darahku,"
Seketika buku kuduknya meremang mendengarnya. Baekhyun sadar kalau kini hidupnya dalam bahaya.
"O-oh huhh! b-begitu ya?" kekehnya seraya memijit tengkuknya. Sungguh, sepertinya Baekhyun harus berhati-hati mulai sekarang.
'Kalau aku tertangkap aku bisa mati,' inernya dalam hati.
"Sialan! kenapa aku tak bisa berhenti memikirkannya," ucap Yifan seraya menjambak rambutnya frustasi.
"Eh?" ia tak salah dengar kan? Barusan Yifan mengatakan 'tak bisa berhenti memikirkannya?' tolong ambilkan pengorek telinga untuk Baekhyun.
"Yeoja itu tak bisa pergi dari pikiranku," Yifan tampak memijit keningnya. Mungkin kepalanya pusing efek dari mabuk, atau pusing karena tak bisa melupakan yeoja itu dan belum berhasil menemukannya?
"Kau? kau m-memikirkannya terus? apa dia pernah datang ke mimpimu?" tanya Baekhyun sok tau. Mungkin saja itu perasaan yang sama seperti yang dialaminya.
"Kadang-kadang," jawab Yifan singkat
"Hehehe," Sepertinya tebakannya benar. Tanpa sadar Baekhyun terkekeh karenanya.
"Apa?" tak ayal kekehan Baekhyun mendapat tatapan tajam dari Yifan. Mungkin Yifan berpikir kalau Baekhyun tenh mengejeknya.
"Kau menyukainya," ucap Baekhyun dengan sangat yakin seraya tersenyum bodoh.
"Apa kau bilang?" keterkejutan terlihat jelas di mata Yifan.
"Dia muncul di mimpimu dan kau memikirkannya terus, itu artinya kau menyukainya," katakan saja Baekhyun terlalu konyol karena sudah mengatakan itu. Padahal ia juga baru mengetahui hal itu dari percakapannya dengan yeoja di Klub beberapa waktu yang lalu. Dan sekarang Baekhyun mengutip ucapan yeoja itu untuk Yifan.
"Aku menyukai yeoja itu?" Yifan termenung dan melebarkan matanya.
"Kau bodoh ya? sudah jelas sekali kan?" lagi-lagi Baekhyun mengutip perkataan yeoja itu. Oh dan sepertinya ia kelewat berani mengatai Yifan yang terkuat itu dengan kata 'bodoh'.
"KAU MAU MATI YA?"
Duagh!
"Arghh!" Baekhyun pun terjatuh dari atas ranjang ketika Yifan menendang dadanya tanpa peringatan.
"Apa-apaan sih! aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya!" bibirnya mempout lucu dan menatap Yifan sinis, sementara tangannya memegangi punggangnya yang terasa nyeri.
'Eh?' Baekhyun merasa ada yang tak beres.
Glegh
Susah payah ia menelan ludahnya saat melihat aura kemarahan yang Yifan pancarkan.
"K-kalau begitu aku pergi dulu!" serunya seraya bergegas pergi dari sana sebelum ia dijadikan pelampiasan oleh Yifan.
"Sial! apa aku benar-benar menyukai yeoja itu? JANGAN BERCANDA!" Kursi tak bersalah itu akhirnya menjadi sasaran kemarahan Yifan.
0
0
0
"Huhh! hampir saja aku mati karena mulut besarku," desahnya lega setelah ia sampai di kamar asramanya.
"Aku pasti sudah gila, masak aku hampir menggigitnya dan tadi aku mengatakan kalau dia menyukaiku," gumamnya seraya melepas kacamata botolnya. Lalu dia pun segera membalikan badannya dan menemukan sosok yang sangat dikenalinya tengah berdiri di depannya.
'Tuh kan, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas,' Baekhyun kira sosok Chanyeol di depannya kini adalah bayangan yang tak nyata.
'Tanganku akan melewatinya begitu saja karena dia hanya halusinasiku saja,' Baekhyun masih belum sadar kalau itu Chanyeol yang asli dan mengulurkan tangannya menyentuh pipi itu.
Deg Deg Deg
Itu suara detak jantung Baekhyun setelah berhasil menyentuh pipi Chanyeol yang dikiranya halusinasi.
'Hahh? aku bisa merasakan kulitnya yang halus, mungkin aku benar-benar menyukai orang ini,' gumamnya dalam hati seraya memeluk tubuh Chanyeol dan menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. Katakanlah Baekhyun terlalu dungu karena tak bisa membedakan mana Chanyeol nyata dan mana halusinasi.
"Kau lelah sekali ya?" Suara Bass itu menyapa gendang telinga Baekhyun dan membawanya kembali kealam nyata dalam sekejab.
Deg
"Huwaaaa!" pekiknya seraya menjauhkan dirinya dan menatap Chanyeol dengan tatapan horor.
"Maaf mengagetkanmu, tapi aku sudah menunggumu pulang sedari tadi," tatapan bersalah Chanyeol lemparkan kala Baekhyun kini mendudukkan dirinya di lantai dan menyembunyikan wajahnya di balik poninya.
'Uhh, Memalukan sekali,' semburat merah menjalar di pipi Baekhyun hingga ketelinga. Ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir seraya mendudukan dirinya di samping Baekhyun.
'Kenapa dia malah ikut duduk disampingku sih?' pekiknya saat mendapati Chanyeol sudah duduk di sampingnya.
"Aku ingin tau, apa Yifan mengganggumu? apa dia mengamcammu?" Chanyeol melihat kearahnya dengan tatapan lembut.
"Itu-"
"Aku ingin membantumu, jadi katakan saja," pintanya saat melihat keraguan di wajah Baekhyun.
'Kalau kau begitu baik padaku, aku akan semakin jatuh cinta padamu, Kumohon jangan terlalu baik padaku,' bukan apa-apa, hanya saja kalau cintanya pada Chanyeol semakin besar itu akan sulit baginya. Apalagi mengingat gender nya yang berubah-ubah. Sekarang tak masalah mungkin(?) karena dia yeoja, tapi nanti kalau gendernya kembali menjadi namja, tentu itu akan menjadi cinta terlarang.
"Tidak! tak begitu kok, aku hanya capek saja, jadi kau pergi saja ya," pintanya seraya beranjak dari sana.
'Jangan berdiri begitu dekat denganku,' imbuhnya dalam hati.
"Baekhyun!" Suara itu menahannya.
"Ya?"
"Tidur yang nyenyak ya,"
"B-baiklah," Baekhyun melanjutkan langkahnya mendekati ranjang miliknya tapi suara Chanyeol kembali menahannya.
"Dan sebelum aku pergi, ada satu hal yang ingin kukatakan," dilihatnya Chanyeol berjalan mendekati nakas dan mengambil kacamatanya.
'Ah kacamataku,'
Greb
'Ah!' ia sedikit terkejut saat Chanyeol tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
"Jangan pernah melepaskan kaca matamu," bisiknya seraya meletakkan kaca mata itu di tangan Baekhyun.
'Apa?'
"Jangan pernah memperlihatkan matamu pada Yifan," imbuhnya kemudian.
"Kenapa?" gumamnya seraya membalas tatapan Chanyeol.
"Kalau Yifan melihat matamu, dia akan mengetahui identitasmu yang sebenarnya, jadi jangan pernah melepasnya di depan siapapun, kecuali di depanku," ucapnya kemudian, lalu segera pergi meninggalkan Baekhyun yang mematung.
Deg Deg Deg
Entah mengapa jantung Baekhyun berdetak cepat saat Chanyeol mengatakan itu.
"Jangan pernah melepasnya di depan siapapun kecuali di depanku? Argh! saat mendengarnya mengatakan itu kenapa jantungku berdebar kencang?!" racaunya seraya mengacak rambutnya frustasi.
'Tolong berhenti menggangguku!' pintanya seraya merebahkan dirinya di atas ranjang dengan posisi tengkurap.
"Apa yang harus kulakuakan sekarang? menjadi vampire saja sudah masalah rumit, dan aku menambahnya dengan masalah cinta ini? tolong berhentilah memikirkannya," gumamnya seraya memejamkan matanya berharap ketika ia terbangun nanti, perasaan itu hilang.
000
'Ahh kepalaku pusing, aku kurang tidur semalam,' gumam Baekhyun saat ia berjalan menuju kelasnya, kelas barunya bersama Yifan.
'Anak-anak kurang ajar itu!' decitnya saat melihat Hyunbin menghadangnya dengan memalangkan kakinya di depan pintu kelas.
"Apa yang sedang kau lakukan?" dimatanya kini apa yang Hyunbin lakukan sungguh menyebalkan.
"Sepatuku sudah kotor," jawabnya singkat seraya tersenyum miring.
"Di seberang sekolah ada tempat untuk menyeir sepatu, pergilah saja kesana!" ucapnya seraya memutar bola matanya malas. Ayolah, mood Baekhyun sedang tak baik saat ini, tapi Hyunbin malah mengganggunya.
"Buat apa aku jauh-jauh kesana kalau ada pembantu di depanku sekarang?" ucapnya dengan seringain yang menyebalkan.
"Apa kau bilang? Ahh!" tiba-tiba ada yang menendang lututnya dari belakang dan itu adalah kelakuan dua anak buah Hyunbin.
"Cepat bersihkan! dan bersihkan sepatu kami juga!" ucapnya seraya menyodorkan kakinya di depan Baekhyun yang masih berlutut.
Ctak
Muncul perempatan di pelipis Baekhyun.
"Kalian ini!" mereka lupa kalau Baekhyun punya pengendalian emosi yang buruk.
"Sedang apa kalian?" Ah! Yifan dengan segala kharismanya datang di waktu yang tepat semakin memperburuk mood Baekhyun.
"Yifan-nim, kami sedang memberi anak ini pelajaran, dia bicara begitu lancang, padahal dia kan budak," adunyanya seraya menunjuk kearah Baekhyun yang masih terduduk di lantai.
"Jangan salah sangka ya!"
'Eh?'
"Maaf?" Hyunbin sama sekali tak mengerti maksud perkataan Yifan.
"Dia memang budakku, tapi dia bukan budakmu, jadi kau tak berhak menyuruhnya seperti itu," bolehkah Baekhyun percaya kalau Yifan baru saja membelanya? sungguh mengejutkan.
"I-iya tuan," seketika Hyunbin dan dua temannya itu menciut nyalinya.
Greb
"Ayo bangun," tangannya terulur dan menarik lengan Baekhyun untuk segera bangkit. Lagi-lagi Yifan melalukan sesuatu yang mengejutkan. Sejak kapan Namja penuh ego itu mau membantu orang lain. Tentu hal itu menimbulkan tanda tanya besar di benak orang-orang yang melihatnya.
"Baik," jawab Baekhyun singkat.
'Orang ini? kenapa dia membelaku?' Bahkan Baekhyun sendiri cukup terkejut melihat kelakuan Yifan yang tak biasa itu.
"Tunggu apa lagi? cepat masuk dan siapkan buku-buku pelajaranku," pintanya saat mendapati Baekhyun masih berdiri dengan keterkejutanya.
"Ahh! B-baik!" Baekhyun pun bergegas memasuki kelas guna melaksanakan apa yang Yifan minta.
"Cihh!" Hyunbin pun berdecak pelan melihat itu. Tentu ia kesal, semenjak Baekhyun bergabung dengan mereka, Yifan selalu mengandalkan Baekhyun, seolah menganak tirikan dia dan teman-temannya.
"Bisa mingkir sedikit? aku ingin masuk kelas," Sehun dengan segala ketampanannya berdiri disana dan membuat mood Hyunbin semakin buruk.
"Inikan bukan kelasmu Oh Sehun!" ucapnya seraya menatap Sehun tak suka.
"Aku ingin bertemu Baekhyun, dia ada disini kan?" tanyanya tanpa pedulikan tatapan tak suka yang Hyunbin layangkan.
"Memangnya ada urusan apa kau dengan anak itu?" sekali lagi Sehun tak mempedulikan dan berjalan melalui Hyunbin begitu saja.
Di dalam kelas dapat Sehun lihat, Baekhyun tengah duduk di samping Yifan dan iapun segera menghampirinya.
"Hei! B-bisakah kau memberiku meja?" pinta Baekhyun seraya mengirik Yifan yang ada di sampingnya dengan sedikit kikuk. sungguh keterlaluan memang, masak ia hanya diberi kursi dan tak diberi meja sendiri.
"Apa?" tanya namja itu seraya menatap Baekhyun malas.
"Baekhyun!" seruan Sehun mampu membuat keduanya mengalihkan pandangannya.
"S-sehun!" tentu Baekhyun terkejut saat mendapati Sehun ada di kelasnya. Ia pun cepat-cepat menarik Sehun sebelum Yifan melakukan sesuatu.
"Ayo kita bicara diluar saja," pintanya pada Sehun dengan raut wajah panik.
"Sebenatar lagi pelajaran akan dimulai, kau mau kemana?" suara Yifan berhasil menghentikan langkah Baekhyun yang ingin membawa Sehun pergi.
"Ah!"
"Kita tak perlu bicara di luar Baekhyun, cukup berikan nomor telepon Byun Baekhie saja," pinta Sehun dengan tak sabaran.
"I-itu,"
'Aduh bagaimana ini?' inernya dalam hati. Tentu ia bingung bagaimana cara menolak permintaan Sehun.
"Kumohon, berikan nomor telepon Byun Baekhie," pintanya seraya memegang lengan Baekhyun dengan tatapan memohon.
"A-aku tak bisa!"
"Sehun! Terjadi sesuatu, Gawat!"
itu suara Irene yang tiba-tiba datang menarik tangan Sehun dan membawanya keluar kelas.
'Irene?' tentu Baekhyun juga bingung mendapati Irene yang tiba-tiba datang.
'Huhh! aku tertolong karena Irene, tapi, apa yang harus kulakukan di lain waktu? ini pertama kalinya aku melihat Sehun begitu kacau karena seorang yeoja,'
"Siapa itu Byun Baekhie?" suara Yifan berhasil menyadarkan Baekhyun dari lamunannya.
'Hwaa! Yifan tak boleh tau tentang ini,'
Seketika Baekhyun panik saat mendapati keingin tahuan yang Yifan tunjukkan.
"Sepertinya kemarin kau juga membicarakan itu dengan namja itu?" tanyanya seraya mengeryitkan alisnya dan menatap Baekhyun penuh selidik.
"I-itu Byun Baekhie adik sepupuku, Sehun menyukainya jadi-"
"Berhenti!" pintanya seraya mengangkat tangannya memberi tanda agar Baekhyun tak melanjutkan ceritanya.
"Huhh?" Baekhyun seketika terbengong seperti orang dungu.
"Terdengar seperti kisah cinta yang konyol, aku muak dengan cerita seperti itu," sebuah pernyataan menggelikan yang menguntungkan bagi Baekhyun.
"Haha memang cerita yang konyol," entah Baekhyun harus bersyukur atau tertawa menanggapinya. Karena sesungguhnya cerita itu tak sekonyol yang Yifan duga, tapi ya sudahlah, yang penting rahasianya aman sementara ini.
000
"Apa yang terjadi Irene? Hal gawat apa yang kau bilang tadi?" tanyanya saat mereka sudah berada cukup jauh dari kelas Baekhyun.
"Aku akan membantumu mencari tahu tentang Byun Baekhie," sebuah pernyataan mengejutkan yang keluar dari mulut Irene.
"Apa?" bahkan Sehun sampai terkejut karenanya.
"Aku sudah tau kalau Byun Baekhie bukan yeojachingumu Sehun, kau berpura-pura untuk membuatku mundur kan?"
"Kalau sudah tau, lalu kenapa kau mau membantuku mencarinya?" pertanyaan lumrah yang bisa Sehun tanyakan. Karena sikap Irene saat ini memang sedikit aneh dan berbeda dari biasanya.
"Kalau aku tak melakukan apa-apa, kau pasti akan terluka nanti," ucapnya dengan raut wajah sedih.
"Apa?"
"Kau tipe orang yang jatuh cinta begitu dalam dengan sangat cepat, kau tak akan mudah menyerah sampai kau bisa bersama orang yang kau cintai Sehun," pernyataan yang tepat sasaran dan itu membingungkan Sehun. Seorang Irene, bagaimana bisa mengetahui apa yang dirasakannya.
"Bagaimana bisa kau bilang begitu? kau kan tak tau isi hatiku?"
"Aku sama sepertimu, jadi aku tentu tau bagaimana rasanya," ya Irene tau itu. Karena apa yeng dirasakannya terhadap Sehun meman seperti itu.
"Aku tak mengerti, mengapa kau mau membantuku mencari Byun Baekhie padahal kau tau aku menyukainya," Memang benar itu tak masuk akal kalau dipikirkan menggunakan logika. Seorang Irene yang begitu menyukainya bahkan nyaris menjadi penguntitnya itu. Mengatakan akan membantunya mencari Byun Baekhie. Bukan kah itu terdengar aneh?
"Aku melakukan ini bukan untuk membuatmu bersamanya, aku melakukan ini karena aku menghawatirkanmu, caramu mencari tahu tentang Byun Baekhie itu terlalu beresiko, apa kau sudah gila bicara tentang Byun Baekhie di depan Yifan seperti itu? jika Yifan menyukai Byun Baekhie maka dia akan membuat kehidupan sekolahmu seperti di neraka," ucapnya memperingatkan.
"Aku tak takut pada Park Yifan,"
"Kau tak mengenalnya sepertiku, kau tak tau dia sebejat apa, aku akan mencari Byun Baekhie secepatnya, jadi tolong jangan melakukan hal-hal yang beresiko, Sabarlah sebentar! aku memintamu sebagai teman,"
"Baiklah," sebenarnya ia tak yakin, tapi ia memuturkan untuk menuruti keinginan Irene.
0
0
"Iya aku mengerti," setelah itu Irene menutup teleponnya.
Pip
"Bagaimana pencariannya?" tanya Zelo seraya menghampiri saudara kembarnya itu.
"Byun Baekhie tak ada di dunia ini," jawabnya dengan wajah serius.
"Memm? tak mungkin! tapi kalau itu benar, mungkin kunci dari misteri ini adalah Byun Baekhyun," ucapnya dengan sedikit tak yakin.
"Byun Baekhyun, aneh sekali kenapa dia bisa kenal dengan Kim Jongin, dan jelas sekali dia menyimpan rahasia besar," ucap Irene dengan ekspresi tak terbaca.
"Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa membantu Sehun menemukan Byun Baekhie? sementara yeoja itu bahkan tak pernah ada di dunia ini?" tana Zelo kemudian.
"Kalau kita menemukan rahasia Byun Baekhyun, kita akan menemukan Byun Baekhie," Irene pun menyunggingkan senyum miringnya ketika mengatakan itu.
Sepertinya Baekhyun harus ekstra hati-hati mulai sekarang.
000
"Bereskan buku-bukuku!" pinta Yifan seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Kita akan kemana hari ini?" tanya Baekhyun seraya membereskan buku-buku milik Yifan.
"Klub," jawab Yifan Singkat
"Lagi?" Baekhyun tampak memandang Yifan tak percaya. Bagaimana bisa anak SMA tiap hari berkeliaran di Klub.
"Kenapa? kau keberatan?" tanyanya seraya menarap Baekhyun tajam.
"Ah b-bukan, bukan begitu maksudku," Baekhyun langsung menciut ketika mendapat tatapan tajam dari Yifan.
"Lalu kenapa kau diam saja berdiri disana ?" tanyanya saat Baekhyun hanya berdiri disana dan tak mengikuti langkahnya.
"A-aku ingin ke toilet sebentar," jawab Baekhyun seraya menunjuk kearah toilet.
"Setelah itu langsung kemobil, jangan berani datang terlambat!" ucapnya dengan nada yang penuh ancaman.
"Iya aku mengerti," jawabnya seraya berlari cepat menuju toilet.
0
0
"Huft, aku bisa melarikan diri, ini hanya 2 meter, kurasa aku bisa melompat," ucapnya saat ia berdiri di atas jendela di lantai 2. Dengan penuh pertimbangan, Baekhyun pun melompat dan mendarat dengan sempurna di atas tanah.
"Ternyata ada untungnya juga menjadi vampire, kalau Yifan tau aku melarikan diri dia bisa membunuhku, tidak-tidak saat ini menolong Jongin dan kawan-kawan adalah prioritasku," gumamnya seraya berlari kencang menuju tempat perkelahian itu.
000
"Jjang, dimana tempat kita akan bertarung melawan SMA Jinha?" tanya salah satu anak buah Jongin ketika mereka tengah berjalan menuju lokasi pertarungan.
"Di tempat pembangunan, di belakang Apartemen XX,"
"Anak SMA Jinha itu, kenapa mereka berani menantang kita lagi? padahal mereka itu kan hanya rengking 7 tahun lalu," gumam seorang namja yang ada di belakang Jongin.
"Kita ini no 1 di Seoul, jadi tak mungkin kita bisa dikalahkan oleh rangking 7," ucap namja disebelahnya dengan sangat yakin. Andai mereka tau kalau bahanya telah menanti mereka.
"Kalau kita tak menghitung SMA Korea, kita bisa dibilang nomor 1 se Korea," ucap Jongin kemudian.
"Tapi murid-murid di sana kan aneh sekali, jadi kita tak perlu memperhitungkan mereka," ucap salah satunya kemudian.
"Hahaha," dan mereka meresponnya dengan tertawa bersama ketika menganggap itu adalah sesuatu yang lucu. Karena sesungguhnya peringkat "1" atau "4" yang mereka maksud bukan lah dalam bidang akademik, melainkan dalam urusan berkelahi atau tawuran.
"Karena ini akan jadi pertarungan yang mudah, mari kita pemanasan dulu sebelum berangkat," ucap Jongin kemudian seraya meregangkan tangannya keatas.
"Lebih baik jangan menggampangkan seperti itu, pertempuran kalian dengan SMA Jinha adalah jebakan,"
Itu suara Baekhyun yang saat ini berdiri diatas pohon.
"Apa aku bilang?"
"Siapa kau?
Tentu mereka terkejut saat mendapati seseorang tengah menginterupsi pembicaraan mereka.
"Siapa aku tidaklah penting, Yang terpenting sekarang adalah Jjang SMA Jinha telah bersekongkol dengan SMA Shinbi untuk mengalahkan kalian," ucap Baekhyun memperingatkan.
"Jjang SMA Shinbi?" gumam Jongin seraya melebarakan matanya.
"SMA Shinbi kan sekolah no 1 sebelum Jjang mengalahkan mereka dan membuat mereka turun di nomor 4," ucap teman Jongin kemudian.
"Jjang SMA Shinbi dan Jjang SMA Jinha? Siapa kau sebenarnya? kenapa kau memberi tahu kami?" tentu saja ia tak bisa mempercayai semudah itu kata-kata namja asing yang bahkan tak ia ketahui siapa. Wajahnya saja samar karena tertutupi oleh ranting pohon diatas sana.
"Kalian tak perlu mengenalku, karena kalian bisa terluka jika mengenalku, Aku pergi dulu," Baekhyun berniat pergi tapi suara Jongin menahannya.
"Tunggu dulu!" seru Jongin saat melihat Baekhyun akan beranjak dari sana.
Kretak
"Huwaaaa!"
Gdebug!
"Aww," ringisnya seraya memegangi pantatnya yang ngilu akibat menghantam tanah dengan keras.
Krik Krik
Seketika suasana menjadi hening, mereka seketika terbengong mendapati Baekhyun jatuh dari atas pohon dengan tidak elitnya. Padahal tadi ia sudab sok keren begitu.
"A-apa apaan ini? bukankah kau?"
"Siapa namja culun ini?"
"Hahaha Halo!" ya ampun malunya itu loh. Mau terlihat keren malah gagal gara-gara ranting sialan yang patah tak tau waktu.
"Bukankah itu seragam SMA Korea? apakah kau murid sekolah itu?" Jelas sekali tatapan itu, Jongin sangat tak menyukai anak SMA Korea.
"Ermm emm begini," padahal tadi ia ingin pergi tanpa meninggalkan jejak, kenapa malah jadi begini? benar-benar deh.
"Dia anak SMA Korea? memangnya ada ya di SMA itu anak culun begini?"
Doeng
Sekarang Baekhyun berhasil menghancurkan imaje SMA terelit di Korea dimata teman-teman lamanya.
'Padahal beberapa hari yang lalu aku masih Jjang kalian, dasar bodoh!' gerutunya dalam hati saat teman-temannya mengatainya culun.
"Kenapa kau memberitahukan info itu kepada kami? apa kau punya teman dekat disini?" tanya Jongin seraya menatap Baekhyun curiga.
Greb
"Aku hanya ingin memperingatkan mu! sebaiknya kalian mundur dari pertempuran malam ini!" pintanya seraya memegang lengan Jongin.
"Lepaskan aku!" Jongin menepis tangan Baekhyun dengn kasar hingga membuat namja mungil itu terjerembab di tanah.
"Aghh!"
"Maaf ya, tapi aku tak bisa mempercayai omongan anak SMA korea," ucapnya seraya berjalan pergi meninggalkan Baekhyun yang masih termenung di tanah.
"Ayo kita pergi!"
'Kalau begini aku bisa gila, dengan tampang seperti ini orang-orang tak menganggapku, mungkin hanya itu satu-satunya jalan,' putus Baekhyun kemudian.
000
"Jadi ada yang bersembunyi selain mereka?" tanya Jongin seraya mengintip d ibalik semak-semak.
"Aku tak melihat ada orang lain selain mereka," gumam namja disebelahnya seraya mengintip di balik lunang kecil teropong yang dipegangnya.
"Tak ada yang bersembunyi, lawan kita hanya anak SMA Jinha," imbuhnya kemudian.
"Hemm sudah kuduga, anak culun itu membohongi kita, kalau begitu ayo kita kesana dan habisi anak-anak SMA Jinha," Jongin pun mengerahkan anak buahnya mendekati anak-anak SMA Jinha yang berkumbul dibelakang gedung apartemen XX itu.
Pertarungan sengit pun tak terelakkan lagi. Anak SMA Kangwoo tampak menyerang dengan bringas. Satu lawan satu sampai tak berapa lama kemudian hasilnya mulai terlihat, banyak anak-anak dari SMA Jinha yang telah tumbang. Tentu itu membuat mereka semakin yakin bahwa mereka akan memang sebentar lagi.
"Anak SMA Jinha benar-benar, mereka lemah sekali, kurasa kita bisa menyelesaikan pertarungan ini dalam setengah jam," ucap Jongin dengan penuh percaya diri.
"Hehh ini baru permulaan saja," ucap salah satu anak SMA Jinha yang berdiri tak jauh dari Jongin.
"APA?"
Namja itu mengangkat tangannya keatas, dalam sekejap Jongin dan teman-temannya sudah berada dalam lingkaran neraka.
"APA-APAAN INI?" sekarang kalau sudah begini, mau tak mau ia harua percaya kalau semua yang dikatakan Baekhyun benar adanya.
"Hahaha! aku datang untuk balas dendam atas perbuatan mu 3 bulan yang lalu,"
Itu suara Jjang SMA Shinbi yang kini berdiri di hadapan Jongin. Oh sungguh malang nasib Jongin, padahal itu berbuatan Baekhyun, tapi ia yang menanggungnya.
"Chh, Jjang SMA Shinbi?" decaknya seraya menatap namja di depannya dengan tatapan sengit.
"Apa mereka benar anak SMA Shinbi?" ucap mereka tak percaya. Tampang anak SMA Shinbi sanangar-sangar terutama Jjangnya.
"Kalian tak ada waktu aku mengawasi area ini? dari mana kalian datang?" tanya namja pemegang teropong yang tadi mengawasi bersana Jongin.
"Tentu saja kau tak melihat kami, kami bersembunyi di Basement tadi," jawab Jjang SMA Shinbi seraya menunjukan smiknya.
"B-bagaimana mungkin?" gumam mereka tak percaya.
"Ini saatnya balas dendam, sekarang saatnya kita habisi anak-anak SMA Kangwoo!"
Dalam sekejap keadaan menjadi berbalik, SMA Kangwoo kalah telak dan menyisakan 3 orang yang masih bersiaga termasuk Jongin.
"Aku salah, kita akan segera kalah,"
"Kurang ajar, pengecut ini menyerang kita dengan 2 kali lipat orang," umpat Jongin kesal.
"Kekeke aku telah memimpikan saat ini, aku akan balas dendam dengan memotong kepalamu!" Jjang SMA Shinbi itu mengayunkan pedang bambunya kearah Jongin.
"Whaaaa!" Jongin hanya bisa pasrah ketika tak memungkinkan untuknya menghindar.
Krak!
"Huh?" Ada bunyi patahan namun itu bukan leher Jongin, melainkan pedang bambu yang terpotong menjadi dua.
"K-kayunya patah?" ucap Jjang SMA Shinbi terkejut.
"Siapa orang ini?"
"Dari mana dia datang?"
"Dasar bocah sialan! Kau mau mati ya!" ucap Jjang itu marah. Tapi kepalan tangannya berhenti di udara ketika matanya terpaku pada paras ayu Baekhyun.
"Hwaaa!"
"C-cantik sekali, siapa dia?" Jongin sekalipun bahkan ikut terpesona melihatnya.
"Jangan terlihat senang begitu, aku datang kesini bukan untuk menghibur kalian," ucap Baekhyun seraya tersenyum miring. Tapi yan mereka lihat bukanlah senyum miring, melainkan senyum manis nan memabukan hingga membuat pipi mereka bersemu merah.
"Aku kesini untuk menghajar kalian! Hiyaaa!"
Duagh
Baekhyun memulai penyerangannya dengan menendang dada salah satu anak SMA Shinbi yang tak jauh darinya.
"Argh!"
Duag
Dug
Brugh
"A-apa?" seorang namja nampak bergetar ketakutan saat Baekhyun menghampirinya.
"Bangun, kau lebih suka kupermalukan dulu baru ku habisi? atau kuhabisi sekarang juga?" masalahnya Baekhyun mengatakan itu dengan tersenyum manis. Laksana madu yang mengandung racun.
"K-kenapa kalian hanya berdiri disana, cepat hajar mereka!" seru namaj itu seraya mengalihkan wajahnya dari Baekhyun.
Buagh
Dug
Duagh
"Fufh!" Baekhyu langsung menyeka keringat didahinya ketika mereka semua tumbang dan meninggalakan decak kagum anak-anak SMA Kangwoo.
"K-keren!" gumam Jongin penuh kekaguman.
"Seorang yeoja menghabisi orang sebanyak itu?"
"A-aku tak percaya ini?"
"Dan dia cantik sekali,"
'Kurang ajar, kenapa mereka memandangiku dengan tatapan seperti itu, mereka sudah gila, lebih baik aku pergi sekarang,' gumam Baekhyun begitu menyadari tatapan memuja yang teman-temannya lancarkan.
"Waspada lah!" seru Baekhyun seraya beranjak dari sana.
"Byun Baekhyun! kau Byun Baekhyun kan?" seru Jongin dan itu berhasil menghentikan langkah Baekhyun.
"K-kau mengenalku?" tanya Baekhyun dengan wajah terkejutnya.
TBC
Sekian dulu ya. Terima kasih kalian sudah setia review T3T. Kurang panjang ya? maaf yaaa
Garingnya? sebenarnya cerita aslinya nggak garing, hanya saja akunya aja yang kurang bisa mengemasnya hehe peace,
Buat yang nungguin momen Baek jadi cewek, chap" depan bakalan lebih banyak lagi, dan kisah baek semakin manis, asin, asem, pahit, nano-nano pokoknya.
Sampai jumpa di Chap selanjutnya.
-Salam damai inchan88-
