Chapter 17
"Kami ditugaskan untuk membunuhnya,"
Keterkejutan jelas mewarnai wajah Yifan saat ini. Kenapa tiba-tiba sekali, dan siapa sebenarnya Byun Baekhyun itu sampai-sampai kedua utusan senat ini ditugaskan untuk mencari dan membunuhnya.
Sementara itu, di dalam ruangan yang letaknya di ujung kamar Yifan, Baekhyun baru saja selesai mengenakan pakaian yang dipinjamnya dari Yifan.
"Aku benar-benar melepas bajuku di depan mereka berdua ya? Aduh kenapa aku sampai melakukan hal yang memalukan seperti itu sih?" gumamnya seraya tersipu malu. Tak bisa terbayangkan seperti apa, pasti kelakuannya sungguh memalukan. Lalu bagaimana kalau bertatap muka dengan Chanyeol nanti? mungkin dia tak akan sanggup untuk sekedar mengangkat wajahnya.
Srak
Suara pintu dibuka, ia pun segera memutar tubuhnya. Di depannya kini ada dua orang berpakaian formal dengan pedang panjang ditangannya.
"Siapa kalian?" tentu ia menjadi was-was saat mendapati dua orang itu seperti akan menyerangnya.
"Itu dia!"
"Akhirnya kita menemukannya!"
Baekhyun tak mengerti apa maksud dua orang ini. Tapi ia yakin kalau dua orang ini berbahaya untuknya.
"Kami disini untuk menghabisimu!"
"APA?" benar dugaannya. Nyatanya sekarang ia memang berada dalam bahaya.
"Ini adalah pedang khusus untuk membunuh vampire aku akan menghabisimu dengan sekali tebas!" ucap orang asing itu seraya mengacungkan pedangnya kearah Baekhyun.
"HUWAAA!" Baekhyun segera menghindar saat orang-orang itu berusaha menyerangnya. Ia tak merasa berbuat salah, tapi kenapa dua orang ini menyerangnya? yang bisa ia lakukan saat ini adalah sikap waspada dan menghindari setiap serangan yang mereka layangkan padanya.
'Gerakan mereka cepat sekali, sial!' Umpatnya dalam hati. Ia sampai kewalahan menghadapi kegesitan dua orang itu.
Belum juga ia sempat mengambil nafas, tapi dua orang itu sudah kembali menyerangnya. Tapi tanpa diduga Yifan datang dan merebut pedang itu dengan rantai panjang yang ia lemparnya.
Crak
"YIFAN-NIM?" pekik mereka saat pedang itu berhasil direbut dari tangan salah satunya.
"Aku tak mengizinkan kalian membunuh tamuku!"
Baekhyun tak mengira Yifan akan membelanya seperti itu. Tentu ia harus bersyukur karenanya.
"Kami kesini atas perintah langsung dari Senat,"
"Perintah Senat sama pentingnya dengan perintah Yunho-nim,"
"Kalau kalian berniat membunuhnya, beritahu aku alasannya!" Benar yang dikatakan Yifan. Tentu harus ada alasan kenapa Baekhyun harus sampai di bunuh.
'Perintah senat? Mereka bicara apa sih?' Gumam Baekhyun dalam hati.
"Itu, Karena yeoja itu ancaman bagi kaum Vampire!" Seru orang itu seraya menunjuk kearah Baekhyun yang tengah berlindung di balik tubuh Yifan.
"Apa karena dia bisa menghisap darahku?" Tanya Yifan seraya mengeryitkan alisnya.
"Bukan hanya itu saja, dia bukan hanya ancaman bagi anda dan Chanyeol-nim, tapi juga ancaman bagi Yunho-nim,"
Tak ayal ucapan orang itu membuat Yifan maupun Baekhyun terkejut karenanya. Apakah benar yeoja secantik Baekhyun bisa se-membahayakan itu? Tentu Yifan meragu.
Sementara Baekhyun tentu saja tak terima atas tuduhan yang orang itu layangkan terhadapnya. Ia merasa tak pernah melakukan hal-hal yang membahayakan seperti yang dituduhkan.
"Mana mungkin! Kapan aku pernah membahayakan mereka!" Serunya tak terima.
"Yifan-nim tolong jangan halangi kami," pinta keduanya dan bersiap untuk menyerang Baekhyun kembali.
'Yeoja ini merupakan ancaman bagi aku, Chanyeol dan Appa kami?' Terlihat keraguan di wajah Yifan saat ia mengamati wajah gelisah Baekhyun yang siap melarikan diri itu.
'Sial! Bisa-bisa aku dibunuh kalau terus berada disini,' ia pun bergegas melarikan diri dengan melewati kedua orang itu. Namun sayangnya ia kalah cepat, salah satunya sudah menghadangnya terlebih dahulu di depan pintu.
"Mau kemana kau!"
"Ah!"
"MATI KAU!" Pasrah, itulah yang Baekhyun lakukan saat orang itu kembali melayangkan pedangnya dengan cepat.
"Aku tak bisa membiarkannya mati ditanganmu!"
"YIFAN-NIM!"
Yifan menolongnya lagi dengan menggendongnya ala pengantin. Sementara Baekhyun terlihat masih syok dan hanya terdiam berada dalam dekapan Yifan.
"Jangan menghalangi kami Yifan-nim!"
Tentu mereka kesal saat lagi-lagi Yifan menggagalkan aksinya. Padahal kalau Yifan tak menolong Baekhyun tadi, mungkin nyawa yeoja itu sudah melayang di tangan mereka.
"Apa asyiknya membunuh dia sekarang?" jawab Yifan seraya menatap datar dua orang itu.
"Kalau begitu kami tak akan sungkan lagi pada Yifan-nim,"
"Perintah senat tak dapat diganggu gugat!"
"Aku tak butuh bantuanmu! Turunkan aku!" Baekhyun mulai berontak meminta Yifan menurunkannya. Kekeras kepalaannya kambuh tak tau waktu.
"JANGAN BERONTAK!" Yifan meninggikan suaranya guna memperingatakan Baekhyun. Tantu saja ia kesal menghadapi kekeras kepalaan Baekhyun yang kambuh tak tau situasi ini. Ia pun segera mengeratkan dekapannya agar tubuh Baekhyun tak lepas dari gendongannya.
"Agh!" pekik Baekhyun saat Yifan seperti meremas lengannya kuat. Tanpa diduga Yifan membawanya mendekati jendela kaca besar itu.
Kretak
Pyarr
Jendela kaca itu hancur dalamm sekejap, dan Yifan berdiri diatasnya.
"Kejar saja kalau kalian bisa!"
"APA?"
"KYAAA!" pekik Baekhyun saat Yifan membawanya terjun bebas tanpa peringatan terlebih dahulu. Ia merasa akan mati saja, tubuhnya melayang seperti nyawanya akan dicabut saat itu juga.
Sungguh tak terduga, Yifan mendarat di tanah dengan sempurna. Senyum kemenangan pun tersungging di bibirnya mengejek dua orang yang tengah mengintip dari jendela apartemennya.
"Sial! Kita tak bisa melompat dari lantai 20 ini terlalu tinggi!"
"Yifan-nim tak mungkin menyerahkan yeoja itu, mari kembali dan melaporkannya pada senat,"
0
0
Setelah cukup jauh dari sana, nyatanya Baekhyun masih mencengkeram erat baju Yifan. Sepertinya ia masih syok setelah dibawa terjun dari lantai 20. Tapi perasaan itu hilang dalam sekejap saat Yifan tanpa berperasaan melepaskan tubuhnya begitu saja.
Brug
"Memangnya mau sampai kapan kau mau ku gendong heh?"
"KYAA! Aww!"
Sekali kejam tetap saja kejam. Baekhyun sampai mengumpat dalam hatinya. Setidaknya bisa kan? Yifan menurunkannya perlahan, tak perlu membantingnya seperti itu hingga membuat pantatnya nyeri.
"Tadi itu berbahaya sekali! Bisa-bisa umurku berkurang 10 tahun karenamu!" Hardiknya seraya menatap Yifam kesal. Ia pun segera bangkit sambil memegangi pinggangnya yang ikut terasa nyeri.
"Lebih baik umurmu berkurang dari pada langsung mati disana kan?" ucapnya dengan smik yang menghiasi bibirnya.
Kejam, ya itulah Yifan, memang begitulah tabiatnya selama ini.
"Apa?"
"Orang-orang tadi adalah pembunuh khusus yang diutus senat, sangat mudah bagi mereka untuk membunuhmu!" Ucap Yifan dengan raut wajah serius.
"Lalu kenapa kau menyelamatkanku? Bukankah kau benci padaku?" Tanyanya seraya mengeryitkan alisnya.
"Karena aku sudah memutuskan untuk memilikimu?" Bisiknya seraya memegang bahu Baekhyun. Tak lupa smik yang masih menghiasi wajahnya.
Blush
"APA?" Tak ayal perkataan Yifan barusan mampu membuat pipinya bersemu.
"Ini kali pertamanya aku merasakan seperti ini pada seorang yeoja, aku terus memikirkanmu dan tak bisa melupakanmu," wajah Yifan terlalu dekat nyaris hidung keduanya bersentuhan. Kalau dilihat dari dekat seperti ini wajah Yifan memang tampan.
"Begitu ya?" Tak tau harus berekspresi seperti apa saat Yifan mengatakan itu. Alih-alih Baekhyun malah menunjukan ekspresi wajah yang aneh seraya menjauhkan dirinya.
"Dan satu hal lagi, karena Chanyeol juga menyukaimu,"
"APA?" Hello, tentu saja Baekhyun terkejut, mana mungkin Chanyeol yang dingin itu menyukainya kan? Tapi sekalipun tak percaya, tetap saja pipinya bersemu merah, bahkan lebih merah dari yang tadi.
"Orang itu benar-benar menyukaimu," Yifan kembali menunjukan wajah seriusnya saat mengatakan itu.
"Tak mungkin! Chanyeol tak mungkin menyukaiku!"
"Chanyeol membiarkanmu menghisap darahnya, itu artinya dia rela menjadi budakmu," tentu reaksi Baekhyun mengundang kekehan geli di bibir Yifan.
"APA?"
"Pembunuh tadi akan segera datang, pergilah terlebih dahulu!"
"Apa? Kau membiarkanku pergi?" sungguh aneh memang. Bukankah Yifan berniat memilikinya? lalu kenapa membiarkannya pergi begitu saja?
"Sebenarnya aku ingin menahanmu, tapi senat akan terus mengawasiku,"
"K-kalau begitu aku pergi dulu," tak mau tau lebih jauh, Baekhyun pun bergegas pergi dari sana sebelum Yifan membuat pipinya semakin merah.
Greb
"Tunggu dulu!" Yifan menahan tangannya dan memutar tubuh Baekhyun dengan cepat.
"Ada ap-"
Cup
Mengejutkan, Yifan sudah menundukkan kepalanya dan menempelkan dibibirnya hingga membuat bola mata Baekhyun nyaris melompat keluar.
"APA YANG KAU LALUKAN?" Serunya seraya memghapus bekas kecupan Yifan di bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu ia terkejut saat Yifan melakukan itu. Padahal kalau saja dia ingat, biasanya dialah yang suka mencuri ciuman dari Yifan saat ia dalam keadaan tak sadar.
"Aku menyukai dirimu yang seperti ini dari pada saat kau menjadi yeoja gila," ucapnya seraya mengusap pipi Baekhyun yang masih bersemu merah. Mungkin seperti itu lah tipe yeoja yang Yifan inginkan. Yeoja yang suka berontak dan sulit untuk di dapatkan. Bukankah menjinakkan kuda liar lebih menantang?
"Berhati-hatilah orang-orang dari senat itu pasti akan terus memburumu," ucapnya memperingatkan seraya menatap Baekhyun dengan tatapan lembut. Tak lupa juga senyum tulus yang menghiasi wajahnya.
"J-jangan khawatir," Baekhyun pun bergegas pergi dari sana sebelum Yifan membuat pipinya semakin merah lebih dari ini.
'Aku tak bisa apa-apa sekarang, tapi suatu saat aku akan merebut yeoja itu dari sisimu Chanyeol, karena aku sudah memutuskan untuk memilikinya,' gumamnya seraya menatap punggung Baekhyun yang semakin menjauh.
000
Cklek
"Apa Chanyeol ada di dalam?" Tanyanya saat Jongdae baru saja membuka pintu utama rumah Chanyeol.
"Apa yang terjadi padamu? Kudengar kau ditangkap oleh Yifan-nim?" Tanya Jongdae seraya mengeryitkan alisnya. Tentu saja ia bingung saat mendapati Baekhyun ada di depannya.
"Aku hampir saja dibunuh oleh pembunuh dari utusan senat," adunya seraya menghela nafas.
"Utusan senat?" Jongdae terkejut mendengarnya.
"Aku tak tau kenapa, tapi mereka diutus untuk membunuhku,"
Jongdae pun memutuskan membawa Baekhyun masuk kedalam.
"Masuklah dulu,"
"Chanyeol apa dia tak apa-apa?"
"Dia sedang istirahat, kondisinya sangat lemah sekarang, karena kau telah menghisap darahnya,"
Deg
Baekhun jadi merasa bersalah karenanya. Tapi mau bagaimana lagi, dia bahkan tak ingat apapun dan tak tau kapan ia menghisap darah Chanyeol.
Diamatinya wajah terlelap itu, begitu pucat dan lemah. Tentu Baekhyun sedih melihatnya, kalau boleh memilih tentu dia tak akan mau menghisap darah namja yang diam-diam dicintainya itu. Tapi mau bagaimana lagi, saat dia menjadi gila, dia bahkan lupa pada dirinya sendiri dan tak ingat apapaun setelahnya.
"Kondisinya bisa lebih baik kalau saja dia menghisap darah seseorang, meskipun begitu, dibutuhkan 2-3 hari untuk memulihkan kondisinya seperti semula, karena dia sangat lemah sekarang,"
Setelah mengatakan itu, Jongdae meninggalkan Baekhyun bersama Chanyeol yang masih terbaring lemah di ranjangnya.
"Ini semua karena aku," wajah murung terlihat jelas menghiasi wajah cantik itu. Baekhyun semakin merasa bersalah saat melihat Chanyeol yang tak berdaya di atas ranjang. Tanpa sadar tangannya terulur berniat menyentuh wajah tampan itu. Tapi niatnya urung saat ia melihat pergelangan tangannya, ia jadi teringat sesuatu. Ya darah, kalau Chanyeol meminum darah seseorang ia akan segera membaik kan? itu berarti darahnya tentu bisa memulihkan Chanyeol kan?
Segera diraihnya pisau yang ada di atas meja, tak menunggu lama ia segera menyayat pergelangan tangannya sendiri.
"Uhh!" Perih, tapi ia harus melakukannya demi Chanyeol. Segera diulurkan pergelangan tangannya di atas mulut Chanyeol yang sedikit terbuka terbuka. Perlahan darahnya pun menetes memasuki mulut namja itu perlahan.
Tiba-tiba mata Chanyeol terbuka dan bangkit dari tidurnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" pekiknya seraya menatap Baekhyun tajam. Tentu ia terkejut saat merasakan ada darah yang memasuki rongga mulutnya.
"Cepat hisap lagi, aku ingin mengembalikan darah yang sudah kuhisap darimu!" pintanya seraya mengulurkan tangannya kearah Chanyeol.
Greb
"Jangan lakukan hal-hal seperti ini lagi! aku tak membutuhkan darahmu!" Ucapnya seraya menahan pergelangan tangan Baekhyun.
"Kalau begitu jangan biarkan aku meminum darahmu lagi! Yeoja yang haus akan darahmu itu bukan aku! Kalau sampai aku berubah menjadi monster itu lagi, maka bunuhlah aku! Kalau kau membiarkanku hidup? Aku akan menjadi ancaman bagi kau, Yifan dan Appa mu" Baekhyun marah, marah pada dirinya sendiri. Tentu ia tak mau lagi kalau sampai melukai orang yang dicintainya untuk seterusnya. Bukankah lebih baik dia mati saja? Baekhyun pun segera menundukan kepalanya sendu.
"Aku tak bisa melakukannya!"
Tak ayal ucapan Chanyeol mempu mengalihkan tatapan Baekhyun kembali pada namja didepannya.
"Karena aku menyukaimu!"
"APA?"
Terkejut? Tentu saja Baekhyun terkejut mendengar pengakuan Chanyeol. Ia tak menyangka Chanyeol akan mengatakannya.
"Karena aku menyukaimu, aku tak akan bisa membunuhmu, karena itu aku tak akan membiarkanmu mati!" ucapnya seraya menangkup pipi Baekhyun lembut.
"Chanyeol," Baekhyun tak mengira kalau ia akan mendengar itu langsung dari bibir Chanyeol.
Kemudian Chanyeol segera merengkuhnya dan mendekap tubuhnya dengan erat. Baekhyun pun segera menyamankan dirinya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu. Nyaman dan hangat, itulah yang dirasakannya saat lengan kekar itu mendekapnya.
'Chanyeol benar-benar menyukaiku,' Pipinya bersemu merah. Senyum manis pun tersungging dibibirnya.
0
0
Tok tok tok
"Chanyeol-nim apa anda sudah bangun?"
Namun tak ada suara yang menjawab seruannya. Dengan sedikit ragu, Jongdae pun memutuskan masuk kedalam karena pintu kamar itu tak terkunci.
'Sepertinya dia masih tidur,'
Tapi kemudian pemandangan di depannya membuatnya tertegun. Chanyeol masih tertidur dengan Baekhyun berada dalam dekapannya. Sungguh pemandangan yang langka dan tak terduga.
"Huhh? K-kepala pelayan? I-ini aku-"
Baekhyun tak tau harus mengatakan apa, ia pun segera beranjak dan turun dari ranjang itu dengan perlahan agar tak membangunkan Chanyeol.
"Apa kau tidur dengan Chanyeol-nim?"
"Tidak tidak! Aku hanya tertidur saja di sini, kami tak melakukan apa-apa!" Ucapnya panik dengan wajah yang merah sempurna.
"Jadi kau tidur dengannya?"
Baekhyun pun terpaksa menganggukan kepalanya dan segera menundukan dalam guna menyembunyikan rona wajahnya.
"Tapi aku hanya tidur saja, hanya itu saja," ucapnya masih dengan wajah yang tertunduk.
'Tadi malam Chanyeol memelukku saat ia tidur, kurasa aku tidur juga,' gumamnya tak yakin.
"Sapu tangan itu?" tanya Jongdae seraya menunjuk sapu tangan di pergelangan Baekhyun.
"Oh! Itu semalam Chanyeol-"
Ingatan tentang semalam bersama Chanyeol pun terlintas seketika.
-Flashback-
"Jangan pernah melakukan hal itu lagi," pinta Chanyeol seraya melilit pergelangan tangan Baekhyun dengan sapu tangan miliknya.
"Tapi-"
"Aku yang membuatmu menjadi seperti ini, jadi kau tak perlu bertanggung jawab atas apapun yang kau lakukan, aku yang bertanggung jawab, jadi jangan khawatir," bisiknya seraya menangkup pipi Baekhyun dan menatapnya lekat.
"Baiklah," jawabnya pasrah seraya membalas menatap Chanyeol tak kalah lembut.
-Flashback End-
'Aku tak tau sebelumnya, rasanya dilindungi dan dicintai seperti apa,' inernya dalam hati.
"Jadi seperti ini ya rasanya menjadi seorang yeoja?" gumamnya tanpa sadar.
"Huh?" Tak ayal apa yang Baekhyun ucapkan mengundang keterkejutan bagi Jongdae.
"B-bukan apa-apa, aku hanya baru merasakan keuntungan menjadi yeoja," ucapnya seraya tersenyum tipis.
Jawaban Baekhyun semakin membuat Jongdae tertegun. Ia hanya mampu terdiam dan menatap Baekhyun dengan ekspresi tak terbaca.
"Aku tak ingin merusak suasana hatimu, tapi jangan pernah melepaskan kostum namja mu mulai sekarang," ucap Jongdae mengingatkan seraya membungkukkan badannya.
"Huh? kenapa?"
"Aku baru saja mencari tahu dan memang benar senat mengirim perintah untuk membunuh mu, aku rasa mereka hanya mengetahui sosok yeoja mu saja, jadi lebih baik kau memakai kostum namja saja untuk seterusnya,"
Seketika senyum di wajah Baekhyun perlahan menghilang. Kebahagiaannya yang baru sebentar ia dapatkan terpaksa ia kesampingkan.
"Tapi aku tak bisa mengontrol diriku saat aku berubah menjadi yeoja gila itu,"
"Masalah itu sebaiknya kau diskusikan dengan Chanyeol-nim, mohon ikut aku untuk mengganti kostum mu,"
Mau tak mau Baekhyun pun mengikuti Jongdae dengan mengekori di belakangnya.
Tak berapa lama Baekhyun sudah kembali dengan seragam sekolah dan tampang cupunya setelah Jongdae kembali memotong rambutnya.
"Aku sudah menyiapkan mobil diluar,"
"Baiklah aku akan kesana sebentar lagi, aku ingin melihat Chanyeol sebentar,"
"Aku akan menunggu di luar,"
0
0
'Melihatnya tidur begitu nyenyak, sepertinya dia sangat lelah, ini karena aku menghisap darahnya,' ucapnya sendu seraya melepas kacamatanya.
'Chanyeol menyukaiku, aku masih tak percaya ini,' imbuhnya kemudian dengan pipi yang bersemu merah.
Deg deg deg
Dengan hati yang berdebar diapun segera melihat keadaan, melihat kearah pintu kalau-kalau ada seseorang yang mengamatinya. Saat ini Baekhyun persis seperti seseorang yang ingin mencuri sesuatu.
"Karena tak ada yang melihatnya-"
Cup
'Aku menyukaimu Chanyeol,' gumamnya dalam hati dengan bibir yang menempel sempurna diatas bibir Chanyeol. Nyatanya Baekhyun memanglah seorang pencuri, pencuri ciuman dari seorang pangeran tampan yang masih terlelap.
"Tolong jangan masuk Seulgi-nim!"
Deg
Dengan panik Baekhyun cepat-cepat menegakkan tubuhnya dan segera mengenakan kacamatanya kembali.
"KAU!" Tuding Seulgi saat Baekhyun memutar tubuhnya.
"Kau masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu," ucap Baekhyun kikuk seraya memijit tengkuknya. Ia harap Seulgi tak melihat perbuatan nistanya tadi.
"Maaf aku tak bisa menghentikan Seulgi-nim, karena dia sangat pemaksa," ucap Jongdae penuh sesal.
"Kau? Byun Baekhyun kan? Sedang apa kau disini?" Tanya Seulgi penuh selidik.
"Be-begini-"
"Chanyeol-nim dan Baekhyun-nim adalah sahabat baik, dia berkunjung kemari karena menjenguk Chanyeol-nim yang sedang sakit,"
"I-iya aku kesini untuk mengunjungi Chanyeol," jawab Baekhyun kikuk. Ia sangat bersyukur ada Jongdae yang membantunya.
"APA MUNGKIN MEREKA BERDUA HANYA SAHABAT? APA SAHABAT BISA BERCIUMAN? TERLEBIH MEREKA BERDUA ADALAH LAKI-LAKI!"
Jleger
Rupanya Yeoja itu tau perbuatan nistanya yang mencuri sebuah ciuman dari Chanyeol.
"A-apa?" Pipi Baekhyun langsung memerah seperti kepiting rebus.
Sementara itu tatapan horor Jongdae layangkan kearah Baekhyun. Jangan lupa pipinya juga yang ikut memerah. Ia tak tau kalau Baekhyun seberani itu.
"Aku sudah bertanya-tanya tentang hubungan mereka?" Ucap Seulgi seraya memicingkan matanya kearah Baekhyun.
"Ini semua salah paham! Kami tak punya hubungan seperti itu," sangkal Baekhyun seraya menggenggam tangan Seulgi.
Plak
"Lepaskan tangan kotormu dariku!"
Tak
Baekhyun sampai terhuyung saat Seulgi menamparnya dengan keras sampai-sampai kacamatanya terjatuh kelantai.
"SEBELUM KAU DATANG, CHANYEOL MASIH NORMAL-NORMAL SAJA, TAPI SETEAH KAU DATANG CHANYEOL MENJADI-"
"Tolong tenangkan dirimu Seulgi-nim,"
"K-KAU!" Terkejut, itulah yang Seulgi rasakan saat ini, saat mendapati Baekhyun ada di depannya dan tanpa kaca mata konyol yang biasa dikenakannya.
"Kau kan yang muncul di hutan sekolah waktu itu! Orang yang tiba-tiba datang dan memukul Chanyeol itu kau kan?" Hardiknya seraya menunjuk wajah Baekhyun. Benar saja, pertama kali mereka bertemu memang di hutan sekolah, saat pertama kali ia dimintai tolong oleh Sehun untuk menjadi yeojachingu pura-puranya.
"Huh?"
Baekhyun tak tau harus mrnanggapinya apa saat melihat yeoja didepannya tengah berai-api.
Greb
"ITU BENAR, KAU KAN YANG MULAI MENGGODA CHANYEOL SEJAK ITU DENGAN WAJAH CANTIKMU?"
Tanpa berperasaan Seulgi menarik kedua pipi Baekhyun dengan keras demi melampiaskan kemarahannya.
"M-menggoda? Apasih yang kau bicarakan?" Sakit, pipinya sungguh sakit sekarang, ia yakin bekasnya akan memerah karena tarikan yeoja itu tak main-main hingga membuat pipinya nyaris melar rasanya.
"BERANINYA KAU MENGGODA CHANYEOL DENGAN WAJAH CANTIKMU YANG SEPERTI YEOJA ITU!
Plak Plak
Setelah melepaskan pipi Baekhyun yang sudah memerah, dengan kejamnya yeoja itu menyerangnya lagi demgn memukuli kepala Baekhyun menggunakan kedua tangannya. Seumur-umur baru kali ini Baekhyun merasakan kemarahan seorang Yeoja. Benar-benar menyeramkan dan brutal.
Cras
"Ahh!"
Tanpa di duga kuku-kuku panjang Seulgi menggores pipi mulus Baekhyun hingga mengeluarkan darah segar.
"Seulgi-nim! Jangan begitu!" Pinta Jongdae seraya menahan tangan Seulgi yang ingin menyerang Baekhyun lagi.
"Lepaskan aku!"
"Ada apa sih ribut-ribut?"
Rupanya keributan yang mereka timbulkan membangunkan Chanyeol dari tidurnya.
"Chanyeol!" Seulgi pun segera menghampiri Chanyeol yang kini terduduk di rajangnya.
"Anda sudah bangun Chanyeol-nim?" Jongdae pun ikut menghampiri Chanyeol.
"A-aduduh, aww!"
Pekikan kesakitan Baekhyun mengalihkan pandangan Chanyeol dari Seulgi.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" tentu Chanyeol marah saat melihat pipi Baekhyun sampai berdarah seperti itu. Jelas ia tau, siapa lagi pelakunya kalau bukan Seulgi.
"Sadarlah Chanyeol! Dia itu namja! Bisa-bisanya kau bermain-main dengan seorang namja, kau kan seharusnya cepat-cepat mencari pengantin untuk menjadi ahli waris!"
"Apa kau bilang?"
"Kau hanya bosan dan bermain-main dengan namja itu kan? Kau tak benar-benar menyukai namja itu kan? Iya kan?"
Tapi Chanyeol hanya menatapnya datar tanpa mengatakan apapun.
"Kenapa tak menjawab? Bilang padaku, Kau tak benar-benar menyukainya kan?"
Tanpa sadar air mata Seulgi sudah menetes.
"Bagaimana kalau ku bilang aku benar-benar menyukai Baekhyun?" Ucapnya seraya tersenyum miring.
"APA?" Seketika mata Seulgi membulat sempurna. Bahkan Jongdae ikut melakukan hal yang sama.
"JANGAN BICARA SEMBARANGAN! Chanyeol mungkin belum benar-benar sembuh, dia hanya bicara ngelantur, kami tak mungkin punya hubungan seperti itu!" Seru Baekhyun dengan wajah yang memerah.
Greb.
"Itu tak benar," alih-alih membenarkan ucapan Baekhyun, Chanyeol malah memeluk pinggangnya dan menariknya hingga terduduk dipangkuan namja itu.
"Huh?"
"Kita berdua memang mempunyai hubungan yang spesial," tangan Chanyeol naik keatas dan mendekap tubuh Baekhyun lebih erat.
"KENAPA KAU-"
Cup
Siapa yang menyangka Chanyeol akan menciumnya didepan kedua orang ini. Matanya bahkan nyaris melompat keluar.
"Ahh," nyawa Baekhyun seperti baru saja ditarik keluar. Ini kali pertama Chanyeol menciumnya.
"Seperti yang kau lihat, aku mencintai Baekhyun, aku tak peduli dengan ahli warisku, dan aku tak takut dengan omongan orang lain, apa kau masih mau mengejar-ngejar ku terus?" Tatapan tak suka pun Chanyeol layangkan pada Seulgi.
Brak
Seulgi bergegas pergi dari sana tanpa mengatakan apapun terlebih dahulu.
"Seulgi-nim!" Seru Jongdae seraya mengejar Seulgi. Tentu ia khawatir dengan yeoja itu. Jelas ia tau kalau yeoja itu benar-benar menyukai Chanyeol dengan tulus. Meskipun begitu ia tetap menghargai perasaan Chanyeol.
"K-kau tak bisa membiarkannya pergi begitu saja!" Hardik Baekhyun seraya mengacungkan jarinya wajah Chanyeol setelah dia menjauh dari namja itu.
"Aku tak peduli!" Ia menghempaskan tubuhnya kembali ke atas ranjang.
"Aku hanya berkata jujur tadi, aku memang tak ingin menjadi ahli waris, orang-orang terus menunjukku dan memperhatikanku seolah aku ini tontonan, aku hanya menginginkanmu," ucapnya tanpa beban seraya menatap langit-langit kamarnya.
"C-canyeol?" Baekhyun tak mengira kalau ucapan Chanyeol tadi sungguh-sungguh.
Sementara itu diluar Jongdae tengah mengejar Seulgi yang terus berlari.
"Seulgi-nim! Aku akan mengantar anda ke mobil!"
Tak disangka Seulgi mau menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya kearah Jongdae. Dapat dilihatnya dengan jelas, air mata yeoja itu sudah berderai tiada henti.
"S-seulgi-nim?"
"Aku sudah menyukai Chanyeol sejak kami masih kecil, aku tak peduli Chanyeol menjadi ahli waris atau tidak, a-aku hanya ingin Chanyeol menyukaiku seperti aku menyukainya,"
Sungguh yeoja yang malang, cintanya begitu tulus namun sayang Chanyeol tak melihat itu.
"Bukankah anda pernah bilang kalau cinta akan semakin kuat kalau diterpa halangan?" Ucap Jongdae mengingatkan sekaligus berusaha menenangkan yeoja malang itu.
"Cintaku semakin kuat meskipun Chanyeol selalu menolakku, tapi sekarang situasinya sudah berbeda,"
"Ah iya," Jongdae sendiri terlihat bingung harus menanggapinya seperti apa.
"Aku akan pulang sendiri, kau tak perlu mengantarku!" ia memutar tubuhnya ceapt dan pergi begitu saja.
'Chanyeol-nim yang selalu menggunakan kepala dingin dalam menyelesaikan masalah, sekarang bertingkah gegabah seperti Yifan-nim,' iner Jongdae dalam hati seraya menatap punggung Seulgi yang semakin menjauh.
'Aku jadi takut pada Baekhyun, dia bisa merubah Chanyeol-nim seperti itu,' ucapnya seraya menegadah keatas dimana letak kamar Chanyeol berada.
TBC
Krik-krik bunyi jangkrik:
(Ini sekolah campuran yang sepertiga muridnya adalah Vampire)
Tentang Baekhyun:
(Pertama: Baekhyun versi cowok dalam keadaan normal dan sadar)
(Kedua: Baekhyun versi cewek dengan rambut pendek karena rambutnya dipotong oleh jongdae, disini gendernya masih cewek waktu dia sekolah atau Menyamar saat disekolah)
(ketiga: Baekhyun versi cewek rambut panjang dalam keadaan sadar dan normal., suka memanjang sendiri terjadi kalau dia mendapat tekanan ringan)
(keempat: Baekhyuh rambut panjang dalam keadaan tak sadar, berubah jadi cewek nakal, agresif, penggoda, wajahnya cenderung lebih cantik, tatapan mata memikat, lebih kuat, terjadi kalau tekanan ya terlalu berat, dia kehilangan dirinya sendiri) masih misterus apa penyebabnya.
Setelah Baekhyuun kembali ke versi ketiga dia akan lupa apa yang dilakukannya saat menjadi versi Keempat, dan akan menjadi versi kedua kalau Jongdae sudah memotong rambutnya, disini baek masih cewek)
(Seingatku selama baek menjadi vampire ia hanya pernah berubah menjadi cowok itu sekali yaitu saat pertama kali dia dibawa kerumah Chanyeol, waktu Chan ingin menarik kain perbannya tapi tak jadi soalnya baek keburu bangun)
Itu saja, kali aja ada yang bingung dengan pemilihan kata-kataku yang kurang tepat.
Hwaaaaa terima kasih banyak, akhirnya yang review nggak hanya 3 reader setia saja, nambah beberapa makasih yaaaa.
Sekian dulu, sampai jumpa di chap selanjutnya.
-Salam damai inchan88-
