Chapter 24

"Keputusan yang bagus Baekhyun, apapun masalahmu inilah keputusan terbaik bagi orang-orang disekitarmu" Yunho menyambut kedatangan Baekhyun dengan suka cita. Setelah sebelumnya Baekhyun menolak, tentu Yunho senang akhirnya Baekhyun mau melakukannya.

"Iya aku tau, aku telah memilih," jawab Baekhyun singkat.

"Baekhyun, aku akan melakukan yang terbaik agar tak menjadi beban bagimu," Sehun tentunya sama senangnya dengan Yunho. Ia segera menghampiri Baekhyun lalu meremas pundak sahabatnya itu agar Baekhyun yakin dan percaya padanya.

"Sehun, kau tak perlu melakukan itu untukku, aku hanya-"

'Jika kau merasa seperti ini, aku jadi semakin merasa bersalah' tambahnya dalam hati.

"Aku memahami diriku sendiri, jadi kau jangan menyesali keputusanmu," ucap Sehun sambil melepaskan tangannya dari pundak Baekhyun.

"Ayo kita mulai upacara ini," Jongdae datang dan menginterupsi pembicaraan mereka berdua.

0

0

"IJBTHWQEDF," Yunho membacakan sebuah mantera perjanjian darah sebelum meminta Sehun mengulurkan tangannya. Setelah itu tangan Sehun di gores dan darahnya ditaruh kedalam cawan. Setelah dirasa cukup, Yunho juga meminta tangan Baekhyun untuk diambil darahnya dan disatukan kedalam cawan yang sama dengan darah Sehun.

'Setelah ini aku dan Sehun akan bersatu,' iner Baekhyun dalam hati. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia belum sepenuhnya yakin untuk melakukan perjanjian darah ini.

"IJBTHWQEDF," Yunho kembali membacakan mantra sambil menangkat cawan itu tinggi-tinggi menggunakan kedua tangannya. Setelah selesai membacakan mantra, Yunho menyerahkan cawan itu pada Sehun.

"Kalian harus meminum darah ini,"

Sehun menerimanya dengan senang hati lalu segera meminumnya sebagian.

'Sehun benar-benar mencintaiku dan dia serius dengan ucapannya, aku jadi semakin merasa bersalah kalau seperti ini,' kebimbangan Baekhyun semakin menjadi saat Sehun meminum darah itu.

"Baekhyun ayo minum," pinta Yunho seraya menyerahkan cawan itu kepada Baekhyun.

Walau ragu, namun pada akhirnya Baekhyun menerimanya juga.

'Jika aku tak meminumnya itu sama saja aku menghianati Sehun, padahal dia sangat tulus, tidak aku harus meminumnya demi kebaikan orang lain, untuk Sehun, Chongsu, Yifan, serta untuk Chanyeol,' Setelah mengatakan itu, perlahan Baekhyun mendekatkan cawan itu bibirnya. Tapi saat cawan itu sudah menempel dibibirnya, kepingan kenangan-kenangan bersama Chanyeol tiba-tiba bermunculan dipikiranya. Tanpa bisa dibendung lagi cairan bening pun keluar dari pelupuk matanya dan mengalir deras membasahi pipinya.

"Ahh," Baekhyun pun kembali menurunkan cawan itu saat dirasakan air matanya terus meluncur.

"Ayo minumlah," pinta Yunho sekali lagi saat melihat keraguan diwajah Baekhyun.

Tak

"Maafkan aku," ucap Baekhyun penuh sesal. Sungguh, ia tak sanggup lagi kalau harus meneruskan upacara ini. Ia tak akan bisa selagi cintanya masih milik Chanyeol.

"Baekhyun?" Sehun pun termangu melihat Baekhyun yang tiba-tiba menangis.

"Maafkan aku Sehun, aku-, aku tak bisa bersumpah darah denganmu" ucap Baekhyun penuh sesal. Tanpa mengizinkan mereka berucap, Baekhyun segera berlari keluar dari ruangan itu.

"Baekhyun/Byun Baekhyun/Baekhyun-nim!" Seru mereka secara bersamaan saat melihat Baekhyun melarikan diri.

"Aku rasa dia akan menemui Chanyeol-nim, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jongdae dengan gelisah.

"Ikut aku!"

"Baik,"

Yunho dan Jongdae pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Sehun yang masih terdiam di tempatnya. Perlahan dia mendekati meja besar itu dan meraih cawan yang masih berisi darahnya dan darah Baekhyun.

Glugh glugh glugh

Tanpa ragu ia menghabiskan darah itu sampai tandas.

"Ahh darahmu manis sekali Baekhyun," Sehun pun terkekeh dalam tangisnya. Rasanya sungguh sakit ketika mendapatkan penolakan Baekhyun untuk yang kesekian kalinya.

000

"Zelo kau tak tidur?" tanya Irene saat melihat saudaranya duduk di tepi ranjangnya.

"Sebentar lagi, kau tak seperti belajar, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Zelo saat melihat Irene termenung di meja belajarnya.

"Tentang Baekhyun, ada rahasia yang belum kita ketahui kurasa," ucap Irene ragu.

"Benar, saat aku memikirkan Baekhyun seperti ada yang hilang dari dia," ucap Zelo menyetujui pernyataan Irene.

"Kau juga merasakannya?"

"Seperti ada sesuatu yang penting yang sudah kita lewatkan,"

"Benar, tentang Baekhyun, Ohh!" Tiba-tiba Irene berdiri dan melihat keluar jendela.

"Oh Sehun?"

"Ada apa?" Zelo pun berjalan mendekati Irene.

"Bukankah itu Oh Sehun yang sedang menuju kemari?" Tanya Irene seraya mengeryitkan alisnya.

"Seharusnya dia tak ada disini, apa yang dia lakukan?"

"Kelihatannya dia lemah, energinya berkurang, aku akan turun dan melihatnya," Irene pun bergegas keluar dari kamarnya.

"Ayo kita lihat bersama!"

"Sehun? Ada apa jam segini kau kemari? Apa kau mencari Baekhyun?" tanya Irene setelah ia berhadapan dengan dengan Sehun.

"Tapi Baekhyun tak ada disini," ucap Zelo menambahkan.

"Tidak, aku kesini mencarimu," tatapan Sehun tertuju pada Irene.

"Irene? Untuk apa?" Zelo pun mengeryitkan alisnya bingung.

"Tak mungkin!" Seolah tau apa tujuan Sehun kemari, Irene pun memekik karenanya.

"Tadi pagi kita tak jadi melakukannya," ucap Sehun dengan kefrustasian yang sama dengan tadi pagi.

"Bukan, bukan seperti itu," ucap Irene panik.

"Apa maksudmu dengan tadi pagi?" Zelo yang tak tau menau pun menjadi penasaran karenanya.

"Aku memintamu untuk meminum darahku," ucapnya masih ditujukan untuk Irene.

"APA?" Zelo pun terkejut mendengarnya.

"Tadi pagi kita tak bisa melakukannya karena Park Chanyeol datang, sekarang tak ada yang mengganggu kita,"

"T-tapi-" Irene mulai gelisah. Chanyeol sudah memperingatkannya. Haruskah ia melakukan permintaan Sehun sekarang?

"Aku mohon! Ubah aku menjadi vampire," pintanya seraya menggenggam tangan Irene.

"Dasar bodoh! Kau ingin mati!" Seru Zelo tak suka.

"Lebih baik aku mati dari pada menjadi manusia!" Seru Sehun frustasi.

"Apa?"

"Oke, aku akan mengubahmu menjadi vampire," ucap Irene sendu. Ya sepertinya ia memang tak punya pilihn lain.

"Apa kau sudah gila! Kau tau akibatnya kalau kau menggigitnya!" Zelo pun menatap Irene tak percaya. Bisa-bisanya saudaranya itu menuruti keingingan namja yang tengah frustasi itu. Salah-salah akan berakibat fatal dan mengakibatkan Sehun kehilangan nyawanya.

"Tapi dia akan gila atau bisa bunuh diri kalau kita meninggalkannya seperti ini Zelo!"

"Kau pikir inikah solusinya?" Zelo masih tak habis pikir dengan pemikiran dua orang dihadapannya ini. Ia merasa mereka terlalu terburu- buru dan gegabah.

"Irene benar, aku akan gila bila seperti ini terus, Cepat minum darahku!"

"Jangan!" Zelo pun segera menahan tubuh Irene agar jangan menuruti keinginan Sehun.

"Jangan mencoba menghalangiku, aku akan mengubah Sehun menjadi vampire," Irene pun segera menepis tangan Zelo dan mendekat kearah Sehun.

Plak

"Sadarlah!" Terpaksa Zelo menampar Irene dengan keras agar yeoja itu menyadari kebodohannya.

"Ugh"

"Sehun akan menjadi lemah, kau mau menanggung resikonya bila Sehun mati!" Seru Zelo dengan emosi yang memuncak.

"I-itu,"

"Irene jangan dengarkan dia! Cepat minum darahku," kali ini Sehun sedikit memaksa saat melihat Irene mulai ragu kembali.

"Maafkan aku Sehun, aku tak bisa," ucap Irene penuh sesal.

"Apa?"

"Zelo benar, aku tak bisa menanggung akibatnya bila kau mati," ucapnya seraya menuntukan kepalanya sendu. Mana mungkin kan? Ia membiarkan Sehun mati dengan percuma. Kalau itu terjadi, ia pasti tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.

Sehun sempat membulatkan matanya sebelum akhirnya memilih pergi dari sana.

"Sehun! Kau mau kemana?" Seru Irene saat melihat Sehuh berlari menjauh. Ia semakin Khawatir melihatnya. Ia takut kalu Sehun akan berbuat nekat dan bunuh diri.

"Jangan pergi," pinta Zelo seraya menahan tangan Irene agar tak mengikiluti Sehun.

"Sehun," Irene pun menuruti permintaan saudaranya seraya menatap punggung Sehun yang semakin menjauh.

0

0

Sehun terus berlari tak tentu arah sambil menarik rambutnya frustasi.

"SESEORANG! TOLONG UBAH AKU MENJADI VAMPIRE!" Teriaknya nyaris seperti orang gila.

Tap

"Eh? Siapa kau?" Tanya Sehun ketika ada seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Aku disini karena kau membutuhkanku!" Ucap Daniel sambil tersenyum miring.

"Vampire? Gigit dan ubah aku menjadi vampire kumohon," Sepertinya rasa frustasinya mempengaruhi kewarasan. Ia bahkan meminta orang asing mengubahnya menjadi vampire tanpa memikirkan akibatnya.

"Apa kau Oh Sehun?" tanyanya sambil meneliti penampian Sehun.

"Iya aku Oh Sehun,"

"Jadi begitu," seringai jahat langsung terlihat di bibir Daniel. Siapa yang sangka? Orang yang ditakutkan akan bersumpah darah dengan Baekhyun malah ada di hadapannya. Sungguh suatu keberuntungan bukan?

"Aku bisa saja mengubahmu jika kau bersikeras, tapi kau akan mati jika gagal menjadi vampire," ucapnya sambil mencengkeram pundak Sehun.

"Tak apa-apa, tolong gigit aku,"

"Aku akan melakukannya dengan senang hati," ucap Daniel senang. Ia pun segera menunjukan taringnya dan langsung menancapkannya di leher Sehun.

Brug

"Ah!" Lutut Sehun terasa lemas ketika Daniel melepasnya.

"Terimakasih, sekarang kekuatanku kembali," Daniel segera menghapus sisa darah disudut bibirnya, lalu melesat pergi meninggalkan Sehun yang gemetaran di atas tanah.

"Sehun!" Seru Irene sambil menengok kesana kemari mencari keberadaan Sehun. Irene terpaksa tak mengindahkan larangan Zelo dan memutuskan mengejar jejak Sehun.

"Jangan mencarinya Irene!" seru Zelo yang kini mengejar Irene.

"Sehun?" Irene tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika di dapati Sehun terduduk lemas tak jauh darinya.

"Ada apa?" Zelo segera datang menghampiri dan terkejut melihat keadaan Sehun yang jauh dari kata baik.

"D-dia terluka," pekik Irene saat melihat lelehan darah di leher Sehun.

"Mustahil! Dia sudah digigit vampire!" Pekik Zelo dengan tatapan tak percaya. Padahal baru sebentar Sehun meninggalkan mereka berdua, tapi kini mereka menemukan Sehun dalam keadaan yang sekarat.

"Ugh! A-aku tak bisa bernafas," nafas Sehun terlihat tersengkal-sengkal sambil mencengkeram dadanya.

"Sehun!" Irene pun segera menaruk kepala Sehun di atas pangkuannya.

"Ughh,"

"Apa yang harus kita lakukan? Dia akan mati!" Racau Irene panik sambil memeluk kepala Sehun.

"Tidak Sehun! Kau jangn mati!" Seru Irene sambil mengguncang tubuh Sehun yang melemas.

"Kau tau sendiri, seseorang bisa saja mati kalau digigit vampire," ucap Zelo mengingatkan.

"Zelo! Lakukan sesuatu!" racaunya frustasi.

"Kita tak bisa melakukan apapun, kecuali-"

"Masih ada cara lain?" Potong Irene tak sabar.

"Tapi kita tak bisa melakukan ini Irene,"

"Kenapa?"

"Manusia yang bertahan dengan cara seperti ini tak akan menjadi vampire, tapi dia akan menjadi monster, dalam situasi ini kita tak bisa melakukan cara ini," ucap Zelo penuh sesal.

"Arrgh!" Tiba-tiba tubuh Sehun kejang-kejang sambil mencengkeram lehernya.

"Oh! Bertahanlah kumohon! Tak masalah dengan itu yang penting dia hidup! Cepat lakukan!" Pinta Irene sambil menggunjang bahu Zelo memintanya untuk menolong Sehun.

"Arrrgh uh!"

"Apa yang akan kita lakukan nanti kalau dia berubah menjadi monster?"

"Kira pikirkan itu nanti, yang penting sekarang selamatkan dia! Cepatlah!" pintanya tak sabar.

Zelo pun menghela nafas lalu segera menggigit pergelangan tangannya sendiri.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Irene dengan raut bingung.

"Seseorang yang digigit vampire akan bertahan kalau dia meminum darah juga," ucap Zelo sambil meneteskan darahnya kemulut Sehun.

"Biar bagaimanapun, orang yang bertahan dengan cara ini akan berubah menjadi monster," ucap Zelo sambil mendesah pelan.

Irene tak mampu berkata apa-apa lagi mendengar penuturan Zelo.

"Aku tak akan menjelaskan secara detail akan menjadi monster seperti apa, nanti kita juga akan tahu," setelah dirasa cukup, Zelo segera menjauhkan tangannya.

Secara ajaib, raut pucat Sehun berangsur-angsur menghilang dan kembali segar seperti sedia kala.

"Wajahnya kembali normal!" Pekik Irene senang.

"Benar, dia kembali bernafas, dia mungkin akan berubah menjadi monster setelah sadar, tapi aku tak tau dia akan berubah menjadi monster yng seperti apa, akan lebih baik jika kita merawatnya,"

000

"Jika firasatku benar, Chanyeol ada disini," gumam Baekhyun ketika dia sampai di depan sebuah penginapan di tepi pantai.

"Ah!" Benar dugaannya, dia melihat Chanyeol berdiri tegak ditepi pantai tak jauh dari penginapan itu. Tak menunggu lama Baekhyun pun segera berlari menghampiri Chanyeol.

"Chanyeol!" Serunya sambil tersenyum senang.

"Pergi!" Ucap Chanyeol dingin sambil menatap Baekhyun datar.

"Aku tak mau!"

"Orang yang seharusnya disampingmu bukanlah aku,"

"Tapi aku ingin kau disampingku," ucap Baekhyun sendu.

"Menunggu seseorang itu pekerjaan sia-sia, kau masih ingin aku di sampingmu?" Tanya Chanyeol tetap dengan ekspresi yang sama membuat Baekhyun termangu dibuatnya. Lalu tiba-tiba Chanyeol berlalu dari hadapannya tanpa mengatakan apapun.

Baekhyun mengepalkan tangannya. Rasnya sakit ketika mengetahui Chanyeol sudah tak peduli padanya. Bukankah tak ada artinya lagi juka dia terus hidup? Tanpa menahan Chanyeol pergi, Baekhyun segera berlari ketengah pantai.

"Baekhyun?" Chanyeol terkejut dan segera berlari mengejar Baekhyun.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" Seru Chanyeol seraya menahan lengan Baekhyun.

"Lepaskan!" Baekhyun pun berontak menepis tangan Chanyeol tanpa mau menatap namja itu.

"INI KEPUTUSAN TERBAIK JIKA AKU MATI! LEBIH BAIK AKU MATI DARIPADA HIDUP DENGAN NAMJA YANG TAK AKU CINTAI! JADI LEPASKAN AKU!"

Chanyeol menhela nafas sesaat lalu segera memeluk Baekhyun dari belakang.

"Kematianmu adalah hal terburuk bagiku!" Chanyeol kalah, ia tak bisa lagi memaksakan kehendaknya ketika yang dipaksa lebih memilih mati.

"Bagiku situasi terburuk adalah bertunangan dengan orang lain selain kau!" Air mata Baekhyun sudah tak dapat dibendung lagi. Meluncur lepas tanpa bertahanan sedikitpun.

"Sama sepertiku, jika aku kabur denganmu-"

"Ayo kita kabur!"

"Apa?" Seketika Chanyeol menjauhkan dirinya.

"Jika kau benar-benar menyukaiku, tunjukan jika kau benar bisa melakukan itu!" Tantang Baekhyun kemudian.

Chanyeol terdiam sejenak lalu gegera menarik tangan Baekhyun.

"Ayo! Bersumpah darahlah denganku,"

"Apa?" Baekhyun menghentikan langkahnya dan menatap Chanyeol tak percaya.

"Jika kita bersumpah darah, kita tak bisa dipidahkan dari siapapun,"

Kini giliran Baekhyun yang terdiam, ia hanya terlalu terkejut ketika Chanyeol seperti tengah melamarnya.

"Kau tak mau?"

"Ah bukan, aku mau pergi denganmu!"

"Pergi!" Tiba-tiba Chanyeol berseru dan menerjang Baekhyun hingga terjerembab dipantai.

"Apa yang terjadi? Ah kau!"

Tiba-tiba Daniel ada dihadapannya dengan campuk ditangannya. Rupanya tadi Chanyeol menerjangnya untuk melindunginya dari cambuk Daniel.

"Bersumpah darah? Belum tentu kau bisa melakukannya," ucap Daniel sambil mengangkat sudut bibirnya.

"Kang Daniel! Jangan sombong dan enyah dari hadapan kami!" Seketika emosi Chanyeol tersulut melihat namja itu.

"Aku sombong? Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai calon suami Baekhyun," ucapnya dengan penuh percaya diri.

"APA?"

"Siapa bilang aku mau menikah denganmu!" Seru Baekhyun tak terima. Jelas-jelas ia tak pernah mengatakan itu. Namja itu jelas mengatakan kebohongan belaka.

"Kau lupa? Kau bilang akan menikah denganku," ucapnya sambil tersenyum miring.

"Medusa yang bilang itu! Bukan aku!"

"Aku tak mengizinkan kalian bersumpah darah! Karena kau milikku!" Seru Daniel sambil melayangkan cambuknya melilit tubuh Baekhyun.

"AH!

"Baekhyun!" Chanyeol berniat menolong Baekhyun tapi rupanya Daniel dengan gesit menarik Baekhyun mengakibatkan Chanyeol meraih udara kosong.

'Kenapa dia menjadi lebih kuat?'

"AH!"

Buagh

"Bisakah kau menyelesaikan masalah tanpa cambuk!" Seru Baekhyun sambil memukul wajah Daniel dengan keras. Sekali lagi Baekhyun melayangkan pukulannya tapi Daniel berhasi menahannya.

"Tenang,"

"Agh!"

'Aku tak bisa bergerak,' ucapnya dalam hati saat tangannya ditahan oleh Daniel di belakang tubuhnya.

"Kondisiku saat ini, aku tak menyangka kalau meminum darah manusia bisa menjadi lebih kuat,"

"Kau meminum darah seseorang?" Pekik Baekhyun terkejut. Andai ia tau kalau yang baru saja diminum Daniel adalah darah Sehun, pasti Baekhyun tak akan mengampuni namja ini.

"Kang Daniel!"

Duagh

"Agh!" Daniel pun terpental jauh saat Chanyeol memanfaatkan kelengahannya dengan menendang dadanya.

"Tak peduli apa yang kau lakukan, tak ada yang berubah, kau lebih lemah dariku!" Ucap Chanyeol dingin.

"Kau abik-baik saja?" Tanya Chanyeol sambil melepaskan Baekhyun dari jerat cambuk Daniel.

"Iya," Baekhyun pun tersenyum manis sebagai tanda kalau ia baik-baik saja.

"Park Chanyeol! Mati kau!"

"Bahaya!" pekik Baekhyun panik.

Dor

Untung Chanyeol cepat menghindar terlambat sedikit saja peluru itu pasti sudah menembus punggungnya.

"Chanyeol tanganmu!" Pekik Baekhyun khawatir saat melihat robekan baju di bagian lengan atas Chanyeol.

"Tak apa-apa, hanya menyerempet sedikit,"

Tak

"Ucapkan selamat tinggal padanya!" mereka lengah. Daniel tiba-tiba saja sudah nemempelkan ujung pistolnya di kepla belakang Chanyeol.

"Ah!" Pekik Baekhyun seraya membulatkan matanya.

Daniel menarik pelatuknya bersamaan dengan pisau yang melayang membuat peluru itu menembak bebas ke laut lepas.

Dor

"Agh," tangan Daniel terasa kebas seketika.

"Siapa?" Pekik Chanyeol dan Baekhyun bersamaan. Tapi itu segera terjawab ketika didapatinya Park Yunho berdiri tak jauh dari mereka.

"Chongsu?" Pekik Daniel terlejut. Tak mau menyerah ia segera meraih pistol itu kembali.

Krak

"Agh!" Rintihnya saat Yunho menginjak tangannya.

"Tak baik anak kecil bermain pistol, aku menyita" dengan santai Yunho mengambil alih pistol itu dari tangan Daniel.

'Sudah kuduga, aku tak punya kekuatan untuk melawannya,' gerutu Daniel dalam hati.

Rupanya Chanyeol cukup cerdik dengan memanfaatkan kesempatan itu membawa Baekhyun pergi dari sana.

"Ayo kesana!" Ajak Chanyeol ke arah speetboat yang ada dibalik batuan besar ditepi pantai.

"Eh?"

"Cepatlah! Ayo kita kabur, hanya ada kau dan aku ke tempat dimana tak ada orang lain yang mengetahuinya," ucap Chanyeol sambil mengulurkan tangannya. Tentu Baekhyun menyambutnya dengan senang hati.

"Aku akan pergi bersamamu," ucap Baekhyun sambil tersenyum senang.

"Chanyeol berhenti!" Seru Yunho sambil berjalan mendekati keduanya.

"Cepat!" Chanyeol segera menarik Baekhyun menaiki speetboat itu dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.

"Terlalu cepat menghentikan mereka," Yunho hanya berdecak pelan ketika gagal menghentikan putranya.

"Ayo pergi ketempat dimana tak ada seseorang yang menghentikan kita," gumam Baekhyun sambil menengok kebelakang melihat Yunho yang berdiri terdiam melihat kepergiannya.

"Tak semestinya seperti itu,"

"Huh?" Baekhyun tak mengerti maksud perkataan Chanyeol.

"Ayo kita bersumpah darah disini," Taunya Chanyeol sudah menghentikan speetboatnya dan menatap Baekhyun intens. "Kau mau?"

"Aku tak akan berhenti," jawab Baekhyun yakin.

Sepertinya Chanyeol sudah menyiapkan semuanya. Terbukti dengam sebuah kita kuno ditangannya juga sebuah gelas untuk menyatukan darah mereka.

"Benar, kemudian, IJBTHWQEDF," Chanyeol pun membaca mantra yang tertera di kitap kuno itu lalu segera mengambil cutter disakunya. Setelah menyatukan darahnya dengan darah Baekhyun dalam satu gelas, Chanyeol segera mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengucapkan mantera itu sekali lagi. Setelah itu ia meminum darah itu sebagian dan menyerahkan sisanya pada Baekhyun. "Ini,"

Baekhyun menerimanya dengan senang hati.

'Setelah ini aku dan Chanyeol akan bersatu, hanya maut yang memisahkan kita, tak ada yang lain,'

Perlahan Baekhyun mengangkat gelas itu. Tapi tiba-tiba gerakannya terhenti saat tiba-tiba jantungnya berdetak dengan kencang.

Deg deg deg

'T-tidak!' Baekhyun tau apa yang terjadi padanya. Sepertinya medusa itu tak mengizinkan Baekhyun untuk bersumpah darah dengan Chanyeol.

"Apa yang terjadi?" Tanya Chanyeol khawatir.

"Me-medusa," rintihnya saat tangannya tiba-tiba kaku.

"Minumlah sebelum medusa datang," Chaneol pun mengambil alih gelas itu dan mendekatkannya ke bibir Baekhyun.

Plak

Baekhyun sudah tak bisa mengendalikan tangannya dan menampik gelas itu hingga tercebur kelaut.

"Ugh!"

Slash

Rambut Baekhyun memanjang dalam sekejap.

"Oh! Kalian berdua beniat bersumpah darahnya?" senyum miring menghiasi bibir mungil Baekhyun.

"Medusa!" Pekik Chanyeol dengan mata yang membulat sempurna. Ya, Chanyeol tau kalau tubuh Baekhyun sekarang sudah dikuasai medusa kembali.

"Aku tak mengizinkan musuhku bersumpah darah dengan anakku," ucapnya masih dengn senyum yang sama.

"Kau tau! Baekhyun menderita karena balas dendammu!" hardik Chanyeol sambil menatap Baekhyun tajam.

"Itu semua karena kalian para vampire! Kalau tidak, Baekhyun sudah hidup normal dan bahagia sebagai manusia! Semua kemalangan ini terjadi karena vampire!" ucalnya sambil menatap Chanyeol tak kalah tajam.

"Kau yang menyebabkan kemalangan Baekhyun!" Hardik Chanyeol sekali lagi.

"DIAM! KAU ADALAH ORANG YANG INGIN MEMGHANCURKAN BAEKHYUN!"

Jleb

Belati yang Baekhyun pegang menancap di dada Chanyeol tanpa peringatan. Tapi kemudian hal aneh terjadi. Tangan Baekhyun tiba-tiba bergetar dan segera menjauh dari Chanyeol sambil mencengkrem kepalanya frustasi.

"Ah tidak!Chh Baekhyun datang, kau tak bisa kembali sekarang Baekhyun!" Ucapnya sambil berdecit pelan.

"Chanyeol!" Air mata Baekhyun mengalir. Iapun segera berhambur kepelukan Chanyeol.

"Baekhyun? Apa itu kau?" Tanya Chanyeol ragu. Ia kebingungan melihat ekspresi Baekhyun yang berubah dalam hitungan detik. Seperti Baekhyun dan Medusa keluar secara persamaan. Sungguh membingungkan.

"Ini aku," ucap Baekhyun sambil menarik belati itu perlahan dengan tangan yang bergetar.

"Agh!" Chanyeol pun merintih kesakitan saat Baekhyun mencabut belati itu.

"Kau akan selamat, lukamu akan sembuh," Baekhyun pun tersenyum disela tangisnya. Lalu ekspresi wajah Baekhyun beruba lagi.

"Sayang sekali, belati ini terbuat untuk membunuh vampire, aku menusuknya tepat dijantungnya, tak apa jika kau vampire, dan kau akan mati! A-apa yang telah kulakukan?" ketakutan jelas menguasai Baekhyun saat ini. Medusa mengambil alih dirinya dalam hitungan detik dan menusuk Chanyeol begitu saja.

"Apakah medusa dan Baekhyun muncul bersamaan?" gumam Chanyeol sambil bersikap waspada.

"Bukan itu masalahnya, sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Baekhyun panik.

"Aku baik-baik aja, lebih baik kau fokus pada dirimu agar tak kehilangan kontrol,"

"Oke, tapi aku tak bisa membiarkanmu mati! aku harus melakukan ini!"

"Baekhyun,"

"Kau harus mati!" sekali lagi Baekhyun kehilangan kontrol dirinya dan langsung mencekik Chanyeol.

"Ugh!"

"Ah! kenapa aku tak bisa mengontrol medusa! Jika begini terus aku bisa membunuh Chanyeol," racaunya sambil menjambaki rambutnya sendiri.

Brugk

Tubuh Chanyeol pun merosot terbaring lemas diatas speetboat.

"Chanyeol! Dia akan mati, ucapkan selamat tinggal padanya!"

"Tidak! Aku akan bunuh diri! dengan begini medusa akan mati!" ucap Baekhyun cepat sambil meraih belati itu kembali.

"Hentikan!" seru Chanyeol dengan sisa kekuatan yang ia miliki.

"Jangan hentikan aku! jika terus begini, aku bisa membunuhmu!" ucap Baekhyun frustasi.

"Kita berjanji untuk tak mati seperti ini, kita berjanji untuk bersumpah darah!," pujuknya agar Baekhyun tak melakukan tindakan bodoh.

"Chanyeol! hik," Baekhyun pun berhambur kepelukan Chanyeol dan menangis disana.

"Kita harus hidup untuk bersumpah darah," ucapnya sambil menatap Baekhyun lekat.

"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi!" Seru Baekhyun sambil mencoba menusuk Chanyeol sekali lagi.

"Ugh!" Sekuat tenaga Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang ternyata lebih kuat dari dugaannya.

"Ha! Kau tak bisa mengalahkanku fengan kekuatanmu! MATI! Ahh!"

Tiba-tiba badai datang dan menghantam speetboad mereka. Tubuh keduanya pun terombang ambing sampai akhirnya perahu itu berbalik dan menjatuhkan keduanya kelaut.

"Ahh!"

"Baekhyun!" Chanyeol berusaha berenang kearah Baekhyun. Namun nyatanya badai itu terlalu kuat dan membuatnya kesusahan berenang.

"Chanyeol! Ahh!"

Badai yang besar serta hujan yang lebat menjadi pemisah keduanya dilaut lepas. Tubuh Chanyeol tertelan badai, sementara Baekhyun terseret arus yang berlawanan arah dengan Chanyeol. Entah apa yang akan terjadi nanti, hanya takdir yang bisa menentukannya.

000

"Apa benar mereka pergi kelaut?" tanya Yifan sambil memandangi laut lepas dihadapannya.

"Iya, mereka pergi tanpa ragu," jawab Yunho sambil berjalan menghampiri Yifan dan berdiri disampingnya.

"Sial!" Yifan pun menendang bebas air laut dibawahnya untuk melampiaskan kekesalannya.

"Mereka kabur-, ah! aku bisa merasakannya!" ucap Yunho sembil mempertajam instingnya.

"Apa?"

Yunho tak memberikan jawabannya, namun ia memilih menelusuri pantai itu guna memastikan hawa keberadaan seseorang yang ia rasakan.

"Keberadaan siapa?" Yifan pun memilih mengikuti Appanya untuk mencari jawaban dari rasa penasarannya.

"Ah!" Yunho pun segera menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang yang tengah terbaring tak jauh darinya.

"Itu! Byun Baekhyun?" Yifan pun bergegas menghampiri Baekhyun dan membawa kepala yeoja itu di pangkuannya.

"Baekhyun! Hei! Bangunlah!" seru Yifan sambil menggunjang tubuh Baekhyun.

"Uhh!" Perlahan Baekhyun membuka matanya dan menemukan wajah Yifan ada dihadapannya. "I-ini?"

"Apa yang terjadi? Kenapa kau terbaring disini?" Tanya Yifan penasaran.

"Ah! Chanyeol! Dimana Chanyeol!" Baekhyun pun bergegas bangkit dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Chanyeol.

"Kau mencari dimana Chanyeol?" tanya Yifan bingung.

"Chanyeol tercebur! kita harus mencarinya!" seru Baekhyun sambil mencengkeram baju Yifan dengan panik.

"Dia tak ada disini, aku tak merasakan keberadaannya," ucap Yunho kemudian.

"Itu-, Chanyeol! Chanyeol! dimana kau?" Baekhyun pun berlari menelusuri pantai berharap menemukan keberadaan Chanyeol.

'Ini tak mungkin,'

"Chanyeol!" Serunya sekali lagi berharap Chanyeol menjawab seruannya.

"Percuma, aku juga tak merasakan keberadaannya," ucap Yifan sambil membuntuti Baekhyun.

Lutut Baekhyun terasa lemas seketika. Ia langsung terduduk diatas pasir dengan tertunduk lemas.

"Ah! aku berubah menjadi medusa dan menusuk Chanyeol tepat dij antungnya," pekiknya ketika ingatan tentang itu terlintas dibenaknya.

"Apa?" Yifan yang mendengar itu langsung membulatkan matanya.

"Tangan ini, aku menusuknya tepat di jantungnya! aku tak percaya ini," racaunya sambil memandangi tangannya yang gemetaran.

"Itu medusa, bukan kau,"

"Iya medusa, tapi aku tak menginginkannya! kenapa harus aku!" Air mata Baekhyun pun mengalir deras membasahi pipinya. Ia pun menjambak rambutnya sendiri dan mengerang frustasi. Kemudian Baekhyun berdiri lalu berlari menuju ketengah laut.

"Kau mau kemana!" seru Yifan sambil menahan lengan Baekhyun.

"Tinggalkan aku! biarkan aku mati! Aku tak mau hidup seperti ini! aku telah membunuh orang yang kucintai!" racaunya sambil berontak dari dekapan Yifan.

"Tenanglah Baekhyun! tenangkan dirimu!" pinta Yifan sambil mendekap erat tubuh Baekhyun.

"Hik,"

Yifan sempat terkejut melihatnya. Ia baru menyadari kalau Baekhyun menangis. Perlahan diapun menuntun Baekhyun kembali ke tepi. Setelah sampai ditepi, Yunho menyambut keduanya dengan raut wajah khawatir. Tapi saat Baekhyun sudah dekat, ia merasa ada yang salah dengan Baekhyun. Saat Baekhyun dan Yifan melewatinya, ia segera menahan tangan Baekhyun.

"Kenapa?" Yifan pun ikut menghentikan langkahnya ketika Yunho memegang tangan Baekhyun.

"Apa yang terjadi?" tanya Yunho pada Baekhyun.

"Ya?" Baekhyun pun mengeryitkan alisnya bingung. Ia sungguh tak mengerti dengan maksud pertanyaan Yunho.

"Aku tak mencium bau vampire dalam dirimu,"

"A-APA/APA?" Pekik Baekhyun dan Yifan bersamaan.

TBC

Terima kasih untuk Reader-nim semua! love you (n3n)

Untuk chap selanjutnya bersabar yaaaaaa, Soalnya kelanjutanya itu bahasa INGGRIS hik hik T-T, butuh waktu untuk nerjemahin dan memahami isi ceritanya, bahasa inggrisku BAD banget soalnya hik.

Ah dan bentar lagi udah end, tinggal 3 chapter lagi komiknya, tp 1 chapternya ada 5 bagian masing-masing, kalau nggak salah. tulisannya itu 33a, 33b, 33c, dan seterusnya ya begitulah, ada 35 chap totalnya.

-Salam damai inchan88-