Unseen Bound

.

.

.

.

.

Yang mereka tahu, cinta itu tidak selalu harus ditandai dengan suatu ikatan. Tapi tanpa sadar, mereka sudah terikat satu sama lain.

Arilalee present

Title : Unseen Bound

Author : Arilalee

Genre : Romance, lil-angst, school-life

Cast : 2MIN, Meanie, KaiSoo

Support Cast : SHINee, Seventeen, EXO, Lee Joon, Krystal, Ravi, Timotheo, Lee Yoobi

Warning : Yaoi, BxB, Typo, dramatisasi berlebihan, OOC, perubahan usia

Notes : SHINee dan EXO kecuali Sehun dan Kai kelas tiga. Sehun, Kai kelas dua. Seventeen hyung line (SCoups, Jeonghan, Joshua, Jun, Hoshi, Wonwoo, Woozi) kelas dua. Seventeen dongsaeng line (Dokyeom, Mingyu, The8, Seungkwan, Vernon, Dino) kelas satu. Krystal kelas dua juga. Ravi, Timo, Yoobi kelas tiga. Lee Joon alumni.

Setiap seri, main cast-nya berbeda. Tergantung yang akan disertakan dalam judul. Polanya selalu sama, misal chapter 1 2min, chapter 2 kaisoo, chapter 3 meanie, chapter 4 2min, chapter 5 kaisoo, chapter 6 meanie, dan seterusnya.

Buat yang Cuma pengen baca otp-nya aja, lompat-lompat chapter ngga apa-apa. Karena mereka punya kisah masing-masing yang meski berhubungan tetep nggak membingungkan (semoga) buat dibaca per-pairing.

UNSEEN BOUND

FILE 4

2MIN : SLEEPLESS NIGHT

"Aku heran – sangat. Bukankah seharusnya aku menangis saja jika aku terluka? Aku terjaga, melewati malam tanpa sekali pun memejamkan mata. Membiarkan rasa sakit menggerogotiku saat aku memutar musik tentang kisah kita. Karena sesakit apa pun itu, cinta tetap akan selamanya menjadi cinta." – Lee Taemin.

xxxxx

TUK!

Kepala Taemin menoleh ke arah jendela kamarnya. Sedikit melirik jam dinding dan mendengus saat melihat jarum jam berada di antara angka dua belas dan angka satu. Tengah malam – dan siapa yang mengetuk jendela kamar Taemin yang berada di lantai dua di waktu seperti ini?

"Kau gila?" Taemin memaki sejurus setelah ia membuka jendelanya dengan gusar. Matanya terlihat sayu karena Taemin sudah hampir tertidur sebelum suara berisik dari jendelanya membangunkannya.

Dan orang yang dikatai gila tadi hanya tersenyum tanpa merasa berdosa sambil bersandar pada batang pohon di bawah sana.

"Kau benar-benar gila."

Dan si orang gila itu adalah Choi Minho.

"Ayo keluar." Minho tidak perlu berteriak meski mereka berjarak cukup jauh, karena malam ini sangat sepi.

Taemin mengerutkan dahi. Sedikit memijat pelipisnya yang berdenyut akibat tidak jadi tertidur. "Kau tahu ini pukul berapa?"

"Entah, tepatnya tengah malam – ah, lebih sedikit." Minho mengatakannya dengan santai. Seperti ia tidak sedang melakukan kejahatan apa-apa – karena menurut Taemin, membuat Taemin terbangun di jam seperti ini adalah sebuah tindakan kriminal. "Ayo keluar, Taemin!"

Dahi Taemin berkerut, "Aku mengantuk, Minho. Baru tidur satu jam karena mengerjakan tugas."

"Sebentar saja." Minho menyimpul sebuah senyum di bibirnya, yang meski gelap Taemin bisa melihatnya dengan jelas. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"Besok saja."

"Hei – mulai besok aku harus latihan olimpiade!"

Taemin melakukan rolling eyes dan mengibaskan tangannya dengan malas. "Kalau kau hanya ingin mengatakan itu – kuingatkan, kau sudah mengatakannya saat kita pulang sekolah tadi – sebaiknya kau pulang saja."

"Apakah aku harus memanjat ke atas sana dan menggendongmu untuk keluar?"

Taemin terdiam setelah menghembuskan nafasnya dengan kesal. Kalau Minho sudah sebersikeras itu, Taemin tidak akan punya kekuatan untuk melawannya.

"Aku ambil jaket dulu." Taemin mendesuh dan berbalik. Meninggalkan Minho yang tersenyum lebar di bawah sana tanpa beranjak dari sandarannya sama sekali.

xxxxx

Dan di sinilah mereka sekarang, terduduk di hamparan rumput – dan bunga – yang tak jauh dari rumah mereka. Bisa dibilang tempat pelarian setiap mereka menghabiskan malam tanpa tertidur hanya untuk membicarakan sesuatu.

"Besok aku mulai latihan untuk olimpiade."

"Serius, Minho – aku akan memenggal kepalamu." Taemin memekik kesal. Benar-benar kesal karena Minho berhasil menghilangkan rasa kantuknya – yang Taemin yakin itu akan menyerangnya besok di sekolah – dan sekarang Taemin sedang kedinginan. Ditambah lagi Minho hanya mengatakan kalimat yang sudah cukup bosan Taemin dengar.

Minho terkekeh di tempatnya. Dan Taemin terdiam mendengarkannya – menikmati kerenyahan suara Minho yang terasa menyenangkan di telinganya. Seolah ia adalah seseorang yang tidak pernah mengatakan akan memenggal kepala Minho sebelumnya.

Ya, bukan Minho tapi Taemin yang gila.

"Kau tahu itu artinya apa?" Minho akhirnya menoleh. Membiarkan kedua manik pekatnya bertabrakan dengan milik Taemin yang berwarna cokelat madu.

"Apa?"

"Waktu kebersamaan kita berkurang, Taemin."

"Kalau itu aku juga tahu." Taemin yang lebih dulu memutuskan kontak mata mereka untuk menatap langit malam ini. Dan Taemin baru sadar kalau tak ada bintang sama sekali di atas sana. Mungkin besok pagi akan turun hujan.

Taemin masih memperhatikan langit saat ia merasakan sebuah lengan yang terasa lebih kekar dari miliknya melingkari bahunya dengan mudah. Taemin menoleh pada si pemilik tangan dan Minho malah menarik kepala Taemin untuk bersandar di bahunya sehingga Taemin tidak sempat melihat wajah Minho.

"Apa yang kau lakukan, Minho?" Taemin bertanya – dan itu terdengar seperti berbisik.

Minho tidak langsung menjawab. Ia memasangkan penutup kepala jaket Taemin dengan benar sebelum kemudian menarik Taemin untuk lebih dekat padanya. "Kau kedinginan, 'kan? Dan sepertinya kau benar-benar mengantuk tadi. Tidur saja."

"Idiot." Taemin memaki sambil meninju pinggang Minho – yang tidak menghasilkan apa-apa. "Aku sudah tidak mengantuk karenamu, Minho."

Minho tidak menjawab. Ia malah memposisikan tangannya untuk mengusap kepala Taemin dari tudung jaketnya. Dan sebelah tangannya melingkar cukup jauh melewati tubuh Taemin di pelukannya untuk memberikan tepukan lembut di punggungnya.

Dan ajaib, Taemin jadi merasa lebih tenang dan matanya kembali memberat.

Minho memang seperti sebuah keajaiban setiap Taemin berada di dekatnya.

"Apa yang kau lakukan?" Taemin kembali mencicit. Masih tidak mengerti kenapa Minho melakukan semua ini.

Minho sepertinya tersenyum, Taemin bisa merasakan pipi Minho yang agak naik dari puncak kepalanya. "Menghabiskan waktu denganmu untuk membayar ketidakbersamaan kita besok?"

"Idiot."

"Aku diutus mengikuti olimpiade dan kau menyebutku idiot."

"Memang." Suara Taemin semakin hilang. Matanya sudah terpejam tapi rasanya Taemin tidak rela untuk tidur. Karena saat kesadarannya hilang bersama mimpi, Taemin tidak bisa merasakan bagaimana nyatanya kenyamanan yang sedang Minho berikan padanya.

"Tidurlah." Minho berbisik di salah satu telinganya dan Taemin tidak keberatan akan itu. Ia malah menggerakkan wajahnya lebih dekat ke ceruk leher Minho. Membiarkan dadanya sesak karena terlalu banyak menghirup aroma pria itu.

"Ayo pulang saja. Ibu akan mencariku, Minho."

"Kita akan kembali sebelum matahari terbit." Minho berjanji dan Taemin tidak pernah meragukan janji yang Minho berikan padanya.

Jadi yang Taemin lakukan hanyalah menyerah pada rasa kantuknya. Membiarkan Minho memeluknya sampai matahari terbit.

xxxxx

Pagi ini Taemin siap beberapa menit lebih awal. Bukannya sedang rajin atau apa, tadi Taemin seperti dikejutkan oleh mimpi yang aneh makanya ia terbangun lebih awal dari biasanya. Taemin bisa menyimpulkan kalau ia benar-benar kepagian saat melihat Ibunya masih berkutat dengan toaster.

"Selamat pagi,"

Ibunya menyapa tanpa membalikkan tubuhnya yang dipeluk erat apron biru laut yang menjadi kado ulang tahun pernikahan dari Ayahnya. Kado yang menurut Taemin terlalu murahan untuk sebuah acara peringatan spesial, tapi melihat bagaimana Ibunya tersenyum lebar dan memakai benda itu setiap pagi membuat Taemin sedikit maklum. Ayahnya pernah bilang kalau mereka sudah tidak muda lagi, jadi dibanding benda-benda picisan – seperti bunga, cokelat atau boneka – benda yang bisa berguna untuk keperluan sehari-hari lebih romantis.

"Pagi." Taemin menyahut dengan suara malas yang sudah menjadi ciri khasnya setiap pagi. Taemin memang bukan morning person, jadi wajar saja.

Sambil mengintip meja makan yang masih kosong, Taemin melangkahkan kaki-kaki jenjangnya ke arah lemari es. Tangannya bergerak meraih pegangan lemari pendingin dan melongokkan kepalanya begitu pintunya terbuka. "Dimana Ibu meletakkan susu?"

"Di supermarket."

"Apa?" Dahi Taemin mengernyit mendengar sahutan Ibunya.

Ibu Taemin membawa senampan toasted ke meja makan dan menoleh pada anak satu-satunya yang sedang menatapnya dari sisi pintu lemari es. "Ibu lupa menuliskannya ke dalam shopping list, jadi Ibu tidak membelinya kemarin." Lalu wanita itu mendorong cangkir kecil yang terlihat mengepulkan asap, "Minum saja tehnya. Ibu akan belikan siang nanti."

Taemin mendengus pelan sambil kembali menelusuri lemari es. "Lupakan. Aku mau jus jeruk saja."

"Tidak untuk sepagi ini." Ibunya kembali menyahut. Kali ini sambil berkacak pinggang dan memberi gestur perintah agar Taemin menutup pintu lemari pendinginnya. "Kau tidak ingat punya riwayat sakit lambung?"

"Aku sedang baik saja, Bu. Sudah lama juga tidak kambuh lagi. Tidak akan sampai masuk rumah sakit hanya karena segelas jus jeruk di pagi hari." Taemin mencebik tapi tetap menuruti perintah wanita yang melahirkannya. Ia melangkah ke arah meja makan dan duduk di kursi yang biasanya. "Dan Ibu tahu aku tidak suka toasted yang pinggirnya kering."

"Kau bisa melepaskan pinggirannya, sayang." Ibunya menekankan kalimatnya meski terlihat sangat bersahabat. "Sebaiknya kau cepat sarapan sebelum kau kehabisan waktu hanya untuk merengek seperti bayi."

"Ibu yang membuatku seperti ini." Taemin menggumam tapi cukup dapat didengar oleh Ibunya. Dan Taemin semakin kesal saat Ibunya menyodorkan kembali teh hangat ke arahnya. "Setengah gelas jus jeruk mungkin tidak akan terjadi apa-apa, Bu."

"Kubilang tidak, Lee Taemin."

"Tapi – "

"Kau boleh meminumnya sore nanti," Ibunya menyela. Kemudian menyodorkan dua lembar toasted yang sudah ia pilih – yang pinggirannya tidak terlalu kering – pada Taemin. "atau saat Minho tidak ada jadwal tambahan untuk persiapan olimpiadenya sehingga bisa memastikan keadaanmu baik-baik saja sampai kembali ke rumah."

"Ibu, aku – tunggu." Taemin melebarkan matanya secara spontan saat mencerna alasan yang Ibunya ucapkan beberapa sekon yang lalu. "Ibu tahu soal jadwal persiapan olimpiade Minho? Bagaimana bisa? Aku sepertinya belum mengatakannya pada Ibu dan – oh! Minho tidak mampir ke rumah sejak kemarin, 'kan?"

"Siapa bilang?"

"Apa dia mampir? Atau aku mengatakannya tanpa sadar?"

"Minho sendiri yang mengatakannya, tadi."

Dahi Taemin berkerut semakin dalam. "Tadi? Kapan? Kenapa aku tidak tahu? Kenapa dia kemari?"

"Mungkin dia juga tidak bermaksud." Ibunya menghela nafas. "Ibu memergokinya saat dia masuk mengendap-endap sambil menggendongmu yang sedang tidur. Dan tadi itu matahari belum terbit – Ibu kebetulan terbangun karena ingin ke kamar mandi. Jadi, Ibu interogasi sekalian. Dan katanya dia ingin menghabiskan waktunya denganmu sebagai ganti sore ini karena kalian tidak bisa pulang bersama – itu yang Ibu ingat, entahlah apa maksudnya."

Mata Taemin mengerjap. Bibirnya sedikit menganga. Dan ruam kemerahan mulai menjalar ke sekitar pipinya.

Sekelebat ingatan mampir ke kepalanya, tentang Minho yang melempari jendelanya dengan kerikil untuk memanggilnya keluar di tengah malam. Lalu keduanya pergi diam-diam dan duduk di lapangan untuk memandangi langit malam tak berbintang. Kemudian Minho membiarkan Taemin tertidur dalam pelukannya yang nyaman setelah berjanji akan mengembalikan Taemin ke rumah sebelum matahari terbit.

Jadi – itu bukan mimpi?

Taemin menangkup pipinya dan menopangnya di meja. Menatap Ibunya yang kelihatan heran dengan tingkah anaknya. "Seharusnya aku bisa memahami kalau mimpi tentang melayang dan dijatuhkan di tempat tidur itu bukan mimpi."

"Kau bicara apa, sayang?" Ibunya terlihat heran. Tapi Taemin menggeleng untuk itu. Padahal Ibunya sudah tahu kalau gelengan itu hanyalah bualan – memangnya, siapa yang tidak bisa melihat semerah apa pipi Taemin sekarang?

xxxxx

"Kenapa kau malah menggendongku bukannya membangunkanku?"

Taemin benar-benar mengomel saat dirinya dan Minho sudah berada cukup jauh dari rumah – tapi tidak terlalu jauh juga, karena mulut Taemin sudah gatal untuk tidak memarahi pria Choi itu.

Tapi alih-alih merasa takut, Minho malah mengedik tanpa berekspresi. "Memangnya salah?"

"Salah? Tentu saja salah!" Taemin mencak-mencak. Membiarkan rambutnya yang sudah disisir rapi harus berantakan lagi karena ulahnya sendiri. "Kau bisa membangunkanku, Minho. Memangnya aku tidak punya kaki?"

Minho memegang bahu Taemin dan menahannya agar Taemin tidak semakin melompat-lompat. "Kalau aku bilang aku sudah membangunkanmu tapi kau tidak mau bangun – kau mau apa?"

"Itu mustahil." Taemin mendengus. Menepis lengan Minho meski ia merasa menyesal karena tidak bisa merasakan kehangatan telapak tangan Minho lagi di bahunya. "Memangnya aku kau yang tukang tidur?"

"Kau benar-benar tidak bisa dibangunkan, Lee Taemin. Jadi aku menggendongmu." Ucapan Minho terdengar sangat santai dan membuat Taemin agak meragukan dirinya sendiri. "Masih bagus tidak kutinggalkan di lapangan."

"Kau tak akan melakukannya."

"Kulakukan kalau kau tidak mau bangun lagi."

"Tidak akan terjadi karena aku tidak akan pernah mau diajak keluar malam-malam lagi." Taemin mengerucut lalu berjalan mendahului Minho yang tak tertarik mengejarnya.

Taemin mencoba menetralkan nafasnya yang agak tersengal akibat ia berjalan sangat terburu-buru – untuk menghindari terkejar oleh Minho – begitu ia sampai di halte. Dengan lemas ia dudukkan tubuhnya di bangku yang disediakan. Mungkin Taemin seharusnya memarahi Minho di halte saja sehingga ia bisa meninggalkan Minho dengan cara naik bus duluan lalu menutup pintunya agar Minho ketinggalan.

Ya, Taemin akan melakukannya.

"Minumlah."

Taemin berdecak dan mendongak saat menemukan sebotol air mineral di depan wajahnya. Ia mencibir tapi tetap merampas botol itu dari tangan Minho sebelum meneguknya dengan rakus.

"Biasakan membawa air minum kalau kau cepat lelah begini."

"Aku bukan siswa taman kanak-kanak."

"Siapa yang bilang begitu?"

Taemin hanya mendelik, malas meladeni Minho yang entah kenapa selalu saja menang setiap berdebat dengannya – seperti Ibunya. Taemin bahkan sempat mencurigai Minho adalah titisan Ibunya sendiri.

"Mungkin nanti kau mau kupesankan taksi?"

"Untuk apa?" Taemin mengerutkan dahinya saat Minho tiba-tiba bertanya hal di luar topik mereka sebelumnya.

Minho mengangkat bahu, "Barangkali kau tidak suka naik bus dan jalan sendirian saat pulang nanti?"

"Aku bilang aku bukan anak kecil, kenapa kau begitu cerewet seperti ibu-ibu?" Taemin menggerutu dan menenggak lagi minumannya. Tapi kemudian ia tersedak saat matanya tidak sengaja menangkap seseorang yang terlihat familiar melintas di jalanan dengan motornya.

Melihat Taemin tersedak, Minho dengan sigap menepuk bahu dan punggung Taemin dengan lembut. Lalu ia mengambil tissue dan menyeka bibir Taemin yang tersiram air minumnya. "Kau harus menarik kata-katamu – tentang kau bukan anak kecil – tadi."

"Aku tersedak bukan karena aku anak kecil tapi – hei, kau tidak lihat kalau tadi itu Kim Mingyu?" Taemin tiba-tiba histeris saat ia ingat hal apa yang tadi membuatnya tersedak.

Minho menoleh ke arah jalanan dan tentu saja Mingyu dan motornya sudah tidak ada di sana. "Tidak lihat."

"Aish!" Taemin mendengus. "Tadi itu benar-benar Mingyu."

"Dan kau tersedak hanya karena melihat Mingyu? Kau menyukainya?"

"Kau tahu kalau aku tidak seperti itu."

"Lalu?" Dahi Minho memicing. Tidak bisa memahami hal yang membuat Taemin bisa seheboh ini.

"Kau ingat anak kelas sebelas yang dulu juga jadi partner-mu di olimpiade?" Taemin bertanya dengan antusias setelah ia sebentar berpikir.

Minho mengangguk dengan cepat, "Jeon Wonwoo. Dia jadi partner-ku juga sekarang. Ada apa?"

"Dia bersama Mingyu tadi – itu yang membuatku tersedak."

Minho masih mengernyit, tidak mengerti poin yang sedang berusaha Taemin berikan padanya. "Kau terkejut karena melihat Jeon Wonwoo? Kau menyukainya?"

"Oh ayolah!" Taemin kesal rasanya. Beruntung ia cukup sabar jadi tidak melempar kepala Minho dengan botol air mineral di tangannya. "Kau sepupu Mingyu, Choi."

"Memang."

"Dan kau tidak tahu kalau Mingyu menyukai si Jeon itu?" Taemin membuat kerutan di dahi Minho agak tersamar. "Kalau mereka yang sudah sedekat itu sampai berangkat sekolah bersama – aku juga tidak tahu."

"Jadi kau mulai peduli dengan hubungan orang lain? Apa kau mulai masuk klub jurnalistik?"

Mata Taemin memutar. Malas meladeni Minho yang benar-benar hanya menggodanya sejak tadi. Mungkin lebih baik diam saja sampai bus datang daripada terus menerus menahan kesal kalau Minho sedang dalam mode menyebalkan seperti ini.

xxxxx

Taemin terduduk di rangka jendela kelasnya sambil memainkan gordyn yang tergantung di sana. Sekarang sedang jam kosong dan itu artinya boring time is coming. Dan hal yang sering Taemin lakukan saat tidak tahu harus melakukan apa adalah ini ; duduk di rangka jendela kelasnya, memandangi lapangan yang terlihat sama saja setiap harinya – kadang beralih ke langit tapi kemudian tidak jadi karena matahari sedang bersinar dengan teriknya, Taemin hanya tidak mau matanya rabun dini – sambil memain-mainkan gordyn sampai suaranya terdengar mengganggu.

"Hei! Bisa diam tidak?!" Dan seperti biasanya, akan ada yang marah-marah pada Taemin karena merasa terganggu dengan suara kerekan gordyn yang begitu berisik.

Taemin mengangkat tangan tanda meminta maaf meski ia sebenarnya tidak merasa harus melakukan itu. Tapi Taemin langsung menyandera tangan usilnya sendiri dengan menyilangkannya di depan perut. Tatapannya terlempar jauh ke lapangan yang terlihat ramai, kelas Jongin sedang olahraga ternyata – mereka sedang bermain lempar tangkap bola dengan seru sekali.

"Taemin, kudengar Minho kembali mewakili sekolah untuk olimpiade?" Moonkyu tiba-tiba datang dengan berisik bersama Wonshik. Keduanya langsung menarik kursi untuk menghadap jendela juga sebelum mendudukinya.

"Memang." Taemin menyahut seadanya sebelum menggeleng saat Wonshik menawarkan snack padanya. Jelas sekali dua lelaki heboh itu baru saja kembali dari kantin – pasti sambil berlari takut ketahuan guru-guru karena mereka sangat berkeringat sekarang. "Sebaiknya kalian ganti baju, tidak sadar kalau bau kalian begitu menyengat?"

"Kau ini," Moonkyu terkekeh sementara Wonshik mengendusi tubuhnya.

"Dia itu – maksudku, Minho – sebenarnya otaknya terbuat dari apa, sih? Kenapa dia begitu pintar?" Wonshik bertanya setelah selesai dengan kegiatan mari–mengendus–tubuh–nya. Lalu sedikit meringis karena Taemin memukul kepalanya dengan kepalan tangan. "Kenapa memukulku, sih?"

"Kau pikir aku tahu terbuat dari apa otak Minho? Aku tidak pernah melihatnya." Taemin memperbaiki posisinya sambil melemparkan kembali pandangannya ke arah lapangan. "Aku lebih ingin tahu hal lain pada diri Minho dibandingkan dengan otaknya."

"Eo?" Moonkyu dan Wonshik berpandangan. Lalu keduanya tertawa jahil sebelum Wonshik menyiku Taemin yang terkesiap dan refleks memelototinya.

"Hal lain? Jadi – kau mau tahu apanya Minho yang lain, Taemin-ah?" Wonshik menanyakannya dengan suara pelan dan dikombinasikan dengan gerak naik turun dari alis Moonkyu.

Taemin berdecak. Memutar bola matanya jengah saat tahu maksud pikiran duo heboh di depannya. "Kalian sepertinya butuh air suci."

"Aish, kenapa mengalihkan topik?" Moonkyu mendesak.

"Ayo, ceritakan pada kami!" Wonshik ikut mendesak.

Taemin menghela nafas. Agak merasa menyesal karena sudah mengatakan kalimat yang membuat kedua sahabatnya ini jadi sepenasaran ini. "Aku ingin tahu tentang.. hatinya."

"Huh?" Moonkyu mengerutkan dahi. "Kupikir kalian sudah sangat dekat dan kau pasti tahu apa isi hatinya, 'kan? Seperti dia tidak perlu mengatakan sesuatu tapi kau sudah mengerti apa maksudnya."

"Tidak." Kepala Taemin menggeleng. "Dia memang memahamiku – ya, dia melakukan itu – mengerti apa yang kumau tanpa aku harus mengatakannya. Tapi aku bahkan sama sekali tidak bisa membacanya."

"Maksudmu dia misterius?"

"Bukan sesuatu yang seperti itu." Taemin menggeleng lagi. "Aku hanya ingin tahu apa yang ia rasakan sesungguhnya. Tentang bagaimana dia menganggapku selama ini, alasan kenapa ia melakukannya, bagaimana perasaannya saat aku terus saja menempelinya seperti hama, apakah aku sama spesialnya seperti dia yang sangat spesial bagiku – sesuatu yang seperti itu. Dan semakin lama pikiran-pikiran itu terus saja menggangguku."

"Apa kau baru saja mengakui perasaanmu terhadapnya?"

"Aku serius."

"Kau sudah coba menanyakannya?"

"Dia tidak pernah memberikan jawaban yang membuatku lega. Dia hanya berusaha melakukannya, tapi tidak benar-benar berhasil membuatku percaya sepenuhnya. Masih banyak pertanyaan lain yang akan timbul saat mendengar jawabannya. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku terlalu takut untuk mengetahui kenyataannya."

"Kau terkesan seperti – kau meragukannya, ya?" Wonshik tiba-tiba berubah jadi serius.

Moonkyu mengangguk untuk memperkuat tuduhan Wonshik barusan. "Kau tidak yakin dengan Minho?"

"Memang apa yang harus kuyakini?" Taemin mengulum senyum. Tapi matanya kembali terlempar ke luar sana. "Tentu saja – aku yakin kalau kami adalah sepasang sahabat. Selebihnya, aku tidak berhak meyakini apapun. Perasaannya padaku saja aku tidak memahaminya. Dia adalah orang baik dan kurasa dia juga tidak hanya baik kepadaku."

Moonkyu dan Wonshik sama-sama terdiam. Seperti sengaja memberi ruang bagi Taemin untuk merenungi dirinya sambil menutup matanya, menghadapkan wajahnya ke arah langit. Merasakan sengatan terik matahari yang langsung menerpa wajahnya, tapi diselingi dengan tiupan angin sepoi-sepoi yang menerbangkan anak-anak rambutnya.

xxxxx

Taemin benar-benar pulang sendirian sore harinya. Tadinya Taemin sudah sangat kesal karena saat dia meminta Jongin mengantarnya, Jongin malah sudah ada urusan. Pun dengan Mingyu yang sedang evaluasi club basket. Apalagi Wonshik dan Moonkyu ikut-ikutan sibuk kencan buta. Tapi kekesalannya sedikit menguap saat Minho menahannya di depan gerbang sekolah dan memberikan jaketnya pada Taemin.

Taemin tentu saja heran, meski ia senang juga karena Minho terlihat perhatian sekali.

"Sepertinya mendung, sebaiknya pesan taksi saja supaya tidak harus berjalan kaki dari halte ke rumah." Minho mengatakannya sambil memakaikan jaketnya pada Taemin yang menurut saja. "Kalau tidak membawa uang lebih, bayar saja di rumah."

Taemin mencebik, "Aku sudah bilang padamu kalau aku ini bisa melakukannya, Minho. Kau menyebalkan kalau kau terus memperlakukanku seperti aku adalah anakmu."

Minho terkekeh lalu mengusak rambut Taemin yang sudah lepek karena keringat seharian ini. "Kalau begitu, bergegaslah. Sebelum kau kehujanan. Kalau keadaan tak memungkinkan, berteduh saja di halte dulu dan telepon Ibumu untuk menjemputmu dengan membawa payung."

"Kau terkesan seperti dewa hujan."

"Cepat pulang, kubilang."

"Iya, cerewet!"

Dan Taemin berakhir dengan menyesal telah mengatai Minho seperti dewa hujan, karena sekarang benar-benar hujan. Mood Taemin yang tadinya sempat naik karena jaket Minho – yang tentu saja aromanya sangat Minho sekali – sudah berada di pelukannya, sekarang harus turun kembali karena hujan turun dengan sangat deras bahkan sebelum Taemin turun dari bus.

Sudah hampir lima belas menit Taemin berdiam diri di halte, tapi ia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda hujan akan berhenti. Ponselnya juga ternyata kehabisan daya baterai, pun power bank-nya tertinggal di locker – salahkan diri sendiri yang sangat ceroboh. Double sial.

Sebenarnya Taemin bisa saja menunggu beberapa saat lagi, setidaknya sampai hujan tidak sederas ini, tetapi ia tidak bisa melakukannya saat melihat siluet seseorang yang sangat dikenalnya terlihat menuruni bus di hadapannya.

Lee Joon.

Sejurus kemudian pikiran Taemin kembali pada Minho yang sempat marah padanya karena orang itu. Jadi tanpa harus menunggu lebih lama lagi – sebelum Joon menyadari keberadaannya sekarang – Taemin memutuskan untuk berlari menerjang hujan dengan bermodalkan jaket Minho yang menutupi kepalanya. Padahal percuma saja ia melakukan itu, tapi satu hal yang ada di pikiran Taemin sekarang adalah ia harus segera menghindari Joon.

Kenapa harus? Karena Taemin hanya ingin menghargai Minho.

Meski kalau dipikir lagi, Taemin tidak yakin apakah Minho cemburu atau dia hanya terlalu peduli sebagai sahabat yang tidak setuju pada hubungannya dengan Joon.

xxxxx

Dan akibat usaha Taemin untuk menjaga perasaan Minho sore tadi, malamnya Taemin demam tinggi. Ibunya sudah mengomel sejak tadi – tentang kenapa Taemin tidak menunggu hujan reda, pesan taksi, atau menelepon Ibunya, persis seperti apa yang dikatakan Minho siang tadi – dan itu membuat Taemin semakin buruk. Kepalanya terasa berputar imajiner. Matanya berair terus meski Taemin sudah menyekanya berkali-kali. Ini sudah pasti besok ia akan flu.

"Aku sudah kenyang, bu," Taemin mendorong nampan dengan semangkuk bubur di pangkuannya. Meski alasan sebenarnya adalah Taemin tidak suka rasa bubur panas itu saat menyentuh lidahnya.

Ibunya menghela nafas. Sedikit mengoceh tentang 'minum obatnya dan cepat tidur, jangan main ponsel terus' sebelum pergi dari kamar Taemin dengan bubur yang masih tersisa separuh.

Taemin menyeka sudut matanya lagi. Ia sudah pakai piyama lengan panjang dan sweater di bagian luarnya, tapi masih terasa dingin juga. Jadi Taemin menarik selimut tebalnya dan menggulung tubuhnya dengan nyaman sebelum meringkuk sambil berusaha memejamkan matanya.

Entah berapa lama Taemin bertahan dalam posisi itu. Dia juga tidak ingat sejak kapan dia benar-benar tertidur karena seingatnya tadi bahkan ia masih berusaha menetralkan rasa pusing di kepalanya di tengah usahanya memejamkan mata. Dan sebelum itu Ibunya juga sudah pergi dari kamarnya, 'kan? Lantas, siapa yang sedang mengusap bagian atas kepala Taemin saat ini?

Mata Taemin terbuka sedikit. Meski seharusnya ia tidak perlu sepenasaran itu karena rasa familiar dari usapan di kepalanya sudah memberinya clue.

"Minho?" Mata Taemin menyipit – dan ia bersyukur matanya sudah tidak terus-terusan berair. Taemin beringsut menggerakkan tubuhnya menjadi telentang. Memaksa tangan Minho tertarik ke arah si empunya dari kepalanya. "Sejak kapan kau di sini?"

"Jam delapan yang lalu." Minho menjawab tanpa mengira-ngira.

Taemin mengernyit. Tidak jadi protes saat matanya menangkap jarum jam sudah menunjuk pukul satu dan menggantinya dengan gumaman, "Aku tidak ingat sejak kapan aku tidur."

"Aku juga tidak tahu, saat aku datang kau sudah tidur." Minho menjawab meski Taemin tidak bermaksud bertanya padanya.

Tapi bukan itu yang membuat Taemin jadi terdiam kaku saat ini. Melainkan – ah, sudah pasti, Minho pasti akan marah karena Taemin melanggar semua ucapannya siang tadi, 'kan?

"Maafkan aku karena aku tidak mengikuti ucapanmu." Taemin mengatakannya sambil memainkan gulungan selimut di atas dadanya. Ia pikir Minho akan menanggapinya dengan meminta penjelasan atau menyalahkannya, tapi yang dilakukan Minho hanya mengusap dahi Taemin yang Taemin sendiri baru sadar sudah ditempel plester demam.

"Yang harusnya kau lakukan saat ini adalah istirahat." Minho mengatakannya tanpa ekspresi tapi Taemin tahu Minho sedang menahan emosinya. "Kalau mau membicarakan ini, lakukan setelah demammu turun."

"Baiklah, aku akan tidur." Taemin mengangguk. Tidak tahu harus bagaimana merespon Minho selain menurutinya. Lalu ia mengeratkan selimut sampai dagunya sebelum menoleh kembali pada lelaki Choi yang masih duduk di sisi ranjangnya. "Kau tidak pulang? Kurasa kau juga perlu tidur, 'kan?"

"Aku bisa melakukannya meski tidak pulang." Minho menyahut sambil mengerling ke arah kursi meja belajar Taemin. "Aku akan menjagamu sampai rasa bersalahku hilang."

"Kau bermaksud untuk menginap? Maksudku – kau tidak perlu melakukan ini. Demamku, itu karena kesalahanku sendiri."

"Itu tidak berarti apa-apa. Aku tetap tidak bisa menjagamu. Jadi sebaiknya berhentilah mendebat dan pergi tidur."

Kalau sudah begitu, Taemin hanya bisa diam. Ia memiring, membawa tubuhnya memunggungi Minho. Tapi matanya belum terpejam. Entah karena faktor ia baru saja terbangun atau karena memang Taemin tidak bisa membiarkan matanya melewatkan Minho untuk sebentar saja.

"Minho," Taemin memanggil dengan suara pelan.

Dan dengungan Minho lontarkan sebagai jawaban.

"Terimakasih."

"Ini bukan kali pertama kau sakit dan aku melakukan ini, Taemin. Kau sudah tahu pasti kalau aku akan menungguimu selagi aku bisa."

Taemin mengangguk mengiyakan. Memang selama ini, selama ia sakit, pasti Minho akan menemaninya. Pun saat Minho sakit, tak jarang Taemin juga melakukan hal yang sama – tapi itu jarang sekali karena Minho itu terkesan seperti orang paling sempurna, termasuk kesehatannya. Dan biasanya Taemin akan jadi ikut tertular Minho, seolah Taemin adalah orang paling ceroboh di dunia.

"Tapi kau juga harus tidur, Minho." Taemin mengatakannya sambil berusaha mengintip Minho dari bahunya sendiri. Dan sedikit terkejut saat mendapati pandangan mata Minho ternyata masih tertuju padanya. "Aku – jangan sampai kau sakit juga karena tidak tidur. Besok kau masih ada kelas tambahan dan juga persiapan olimpiade, 'kan?"

"Kalau begitu, bergeserlah."

"Apa?" Taemin benar-benar membolakan matanya saat Minho menyetujui ucapannya begitu saja. "Maksudku – kau tidak harus tidur di sini menungguiku, pulanglah. Aku – "

"Bergeserlah. Kau mau di sisi kanan atau kiri?"

Taemin tak bisa lagi berkata-kata. Ia langsung menggeser tubuhnya ke arah kiri, memberikan space untuk Minho bisa membaringkan dirinya di kasur Taemin yang tidak terlalu besar. Dan Taemin pikir demamnya semakin tinggi saat Minho membuat mereka berbagi selimut yang sama.

Mata Taemin berkedip, rasanya seperti mulai berair seperti tadi. Dan Taemin tidak bisa membedakan panas di pipinya adalah efek dari demam atau dari desiran darahnya yang terasa lebih cepat dua kali lipat dari biasanya.

Lantas, sebelah tangan Minho yang merayap menjadi bantal bagi leher Taemin serta sebelah tangan lainnya yang mendekap Taemin untuk mendekat sampai hidungnya menabrak dada Minho. Itu bukan sebuah hal yang bagus. Sungguh. Taemin tidak bisa berpikir dengan jernih dan mungkin saja ia akan mati saat itu juga.

Ini aneh, Taemin bukan pertama kalinya melakukan ini dengan Minho. Bahkan pelukan Minho terasa sangat familiar seperti sebuah kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi kenapa rasanya semakin membahagiakan kian hari?

"Tidurlah." Bisik Minho di telinganya dengan suara yang berat.

"Kalau sedekat ini aku khawatir kau akan tertular."

"Tak masalah. Tidurlah."

Dan Taemin menggeleng dalam diam. Dia tidak yakin bisa tertidur pulas malam ini kalau aroma Minho masih memenuhi rongga hidungnya sampai paru-parunya tercekat. Mungkin malam ini juga akan menjadi malam tanpa tidurnya seperti semalam.

xxxxx

Taemin memasuki kelasnya dengan iringan sapaan selamat pagi dari Moonkyu yang entah kenapa sudah datang sepagi ini. Taemin hanya membalasnya dengan anggukan singkat sambil berlalu ke mejanya.

"Kau tidak tanya kenapa aku datang pagi hari ini?"

Taemin mengedik. Malas menanggapi, "Bukan urusanku, kurasa."

"Ini urusanmu." Moonkyu mengatakannya sambil mendudukkan diri di meja Taemin. Benar-benar tidak sopan. "Aku tetap akan memberitahumu meski kau tidak mau."

"Jadi?" Taemin menaikkan sebelah alisnya.

"Oh! Maaf aku terlambat!" Ucapan Moonkyu terpotong dengan suara ribut Wonshik yang terlihat kelelahan – sepertinya ia berlari dari koridor sampai kelas. Dan itu adalah pemandangan aneh mengingat Wonshik adalah orang paling tidak peduli dengan kata terlambat. "Aku benar-benar baru bangun tidur saat menerima pesannya jadi baru bisa sampai sekarang. Apakah kau sudah cukup lama berada di sini?"

Taemin mengerjap mendengar permintaan maaf Wonshik dan juga pertanyaan yang tiba-tiba. "Aku? Baru saja aku duduk. Dan – hei, apa yang terjadi pada kalian?"

"Ini karena Minho-mu." Moonkyu yang mejawab sementara Wonshik yang masih terengah-engah hanya mengangguk.

"Karena Minho?"

"Dia mengirim pesan padaku – dan sepertinya pada Wonshik juga – untuk datang sepagi mungkin sebelum kau sampai untuk memastikan kau benar-benar sudah sembuh. Itu isi pesannya." Moonkyu membeberkan dengan detail pada Taemin yang clueless di tempatnya. "Jadi apa kau sakit?"

"Itu – ya, semalam aku demam tinggi. Dan hari ini aku rasa agak sedikit flu." Taemin tak bisa menyangkal. "Tapi sekarang aku baik saja."

"Haah, sudah kuduga." Moonkyu terlihat gusar.

Wonshik berdecak di tempatnya, "Seharusnya aku tidak perlu terburu-buru 'kan? Aku seharusnya sudah hafal dengan perangai Minho yang terlalu berlebihan mengkhawatirkanmu. Kau bahkan kelihatan lebih sehat daripada aku."

"Dia membuat kita panik seolah-olah kau sedang sekarat dan memaksa untuk pergi sekolah." Moonkyu mengacak rambutnya sendiri diiringi dengusan kesal dari Wonshik yang masih terlihat terengah.

Taemin menggigit lidahnya – merasa agak bersalah karena semuanya memang berawal darinya. "Maafkan Minho, kalian sudah hafal 'kan bagaimana dia?"

"Ya ya ya!" Moonkyu menyahut sambil mengangkat tangannya tanda ia tidak mau lebih lanjut mendengar permintaan maaf Taemin. "Tapi kau benar baik-baik saja 'kan?"

Kepala Taemin mengangguk sambil sesekali menggumamkan maaf lagi pada dua temannya itu.

"Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur sampai di sini sekarang." Moonkyu menghempaskan punggungnya ke atas meja – ia berbaring di sana. "Kalau kau merasakan sesuatu, katakan saja. Kita akan mengantarmu ke UKS."

Taemin mengangguk kecil. Membiarkan Moonkyu dan Wonshik mengumpati Minho sambil meringis memandangi mereka dengan rasa bersalah.

xxxxx

Rasanya baru saja tadi pagi Taemin merasa seperti seorang pangeran paling beruntung di dunia karena Minho sengaja meminta Moonkyu dan Wonshik untuk mengawalnya seharian ini – dan itu benar-benar terjadi sampai-sampai Taemin hampir menyiram Moonkyu dan Wonshik yang sampai mengikutinya ke toilet.

Tapi itu hanya terjadi sampai siang hari – tepatnya saat matahari tepat berada di atas kepala dan membuat kepala Taemin sedikit pening ; mungkin dengan efek tambahan dari hidungnya yang mampet – saat Minho menghampiri Taemin yang sedang menikmati makan siangnya.

Seharusnya Taemin senang karena ia tidak hanya akan makan bersama dua pengawal barunya – Moonkyu dan Wonshik – siang ini. Tapi jelas saja Taemin jadi jengah karena Minho tidak datang sendirian.

"Dia Lee Yoobi, partner kelompokku yang tempo hari kuceritkan padamu." Minho mengenalkan gadis berambut hitam agak bergelombang itu. Entah perasaan Taemin saja atau Yoobi memang gadis yang terlalu banyak memamerkan senyum. Bahkan Taemin sempat berprasangka buruk kalau gadis itu tersenyum karena Minho. "Yoobi-ya, dia Lee Taemin. Dia – sahabat kecilku."

Taemin melengos usai menjabat tangan Yoobi sebagai formalitas. Dia berpura-pura menekuni makanannya meski terlihat sekali ia tidak benar-benar melakukan itu.

"Ah – senang bisa berkenalan denganmu, Lee Taemin." Yoobi mengatakannya dengan iringan senyum yang membuat Taemin ingin segera melepas pandangan darinya. "Mereka semua membicarakan persahabatan kalian berdua. Kupikir aku juga bisa merasakan ikatan persahabatan itu semakin jelas saat ini."

"Eum, benarkah?" Taemin berbasa-basi. Sedikit melirik Moonkyu dan Wonshik yang asyik sendiri dengan makanan masing-masing.

"Ya." Yoobi menyahut dengan cepat. "Kalian benar-benar terkenal di sekolah. Semua orang tahu kalau kalian tidak bisa terpisah."

"Itu agak berlebihan." Taemin meringis sebelum melegakan tenggorokannya yang mendadak kering dengan air lemon pesanannya.

"Tapi itu sungguhan." Yoobi terlihat bersikeras di tempatnya. Bahkan Taemin heran kenapa wanita itu malah sibuk membicarakan hal aneh itu bukannya memakan makan siangnya.

Taemin menyesal tidak segera menyahuti si gadis saat Minho yang malah angkat suara. "Mereka terlalu melebihkannya. Kami bahkan bukan selebritis. Kami hanya teman biasa. Semua orang punya teman kecil, itu tidak seistimewa kelihatannya." Minho beralih pada manik Taemin yang terpaku pada wajahnya. Lalu tanpa merasa bersalah – atau mengabaikan sorot terluka Taemin dari matanya – Minho melanjutkan dengan, "Ya 'kan, Taemin?"

Tentu saja Taemin tak punya kemampuan memikirkan alasan untuk menolak secepat itu. Jadi ia mengangguk sambil memaksakan sebuah senyuman lebar yang Taemin yakin pasti terlihat menyakitkan. "Tentu saja, ya."

"Uh, kurasa kalian tidak sebiasa itu. Tapi – baiklah, kalian narasumber aslinya 'kan?" Yoobi sedikit mengedik sebelum akhirnya fokus pada makanannya.

Tanpa gadis itu tahu bahwa ada kepala seseorang di meja tersebut yang sedang dipenuhi kabut hitam yang pekat. Tanpa gadis itu mengerti bahwa ada sepasang mata seseorang yang sedang menahan pedih di sudut-sudutnya. Tanpa gadis itu peduli bahwa ada sebuah hati dari seseorang yang merasa tergores sesuatu yang tajam. Tidak terlalu dalam, tapi cukup lebar.

"Matamu agak memerah, Taemin?" Wonshik yang paling awal menyadari perubahan itu.

Dan Taemin semakin merasa sakit hati karena ia berharap Minho yang menjadi orang pertama. "Ah? Benarkah?"

"Ya, kurasa juga agak berair." Moonkyu mengangguk dan ikut memperhatikan Taemin lebih lama. "Kau baik saja?"

"Sebenarnya agak pusing – mungkin efek flunya." Taemin menyeka sudut matanya lalu menggosok hidungnya sebentar.

Kemudian bunyi deritan kursi muncul dari arah Minho yang terlihat akan berdiri. "Kita ke ruang kesehatan, kau hanya perlu istirahat di sana dan – "

"Dan sebaiknya aku pergi bersama Wonshik dan Moonkyu." Taemin menyela sebelum Minho menyelesaikan kalimatnya. "Kau bahkan belum menghabiskan makan siangmu."

"Aku sudah selesai."

"Kau belum," Taemin menyela lagi. Kemudian ia menggamit lengan Moonkyu untuk berpegangan. "Kurasa dua temanku juga tidak keberatan untuk mengantarku ke sana."

"Ya, serahkan Taemin pada kami." Wonshik seolah mengerti situasinya kemudian menyahut. Ia ikut berdiri setelah menenggak habis minumannya. "Makan saja dengan baik, Taemin akan kami urus."

Dengan itu Taemin pergi berbalik bersama Moonkyu yang memeganginya serta Wonshik yang berjalan mengekor di belakangnya. Taemin tidak berniat sama sekali untuk menoleh – ia tidak penasaran apakah Minho akan mengejarnya atau tidak. Karena kenyataannya, lelaki Choi itu memang tidak akan pernah mengejarnya.

Memangnya seistimewa apa seorang Lee Taemin untuk Choi Minho sampai pria itu harus mengejarnya?

Mereka hanya sepasang teman kecil.

Yang biasa.

TO BE CONTINUED

Ps :

Feelnya ambyar, maafin :''

Aku lagi butuh banyak asupan 2min sebenernya :''

Mood aku semakin buruk karena si mantan istri-istrian Taemin bakal satu drama sama Minho. Padahal itu drama kayaknya punya plot yang bagus. Tapi kenapa harus sama wanita itu? :''

Bulan ini, aku memutuskan untuk mengikuti keputusan Pak Jinki (?) :'' Kalau Pak Jinki akhirnya muncul, aku akan stay sampai akhir. Tapi kalau Pak Jinki menyerah, okay, aku juga menyerah :''

Di chap ini ada spoiler Meanie dari chap sebelumnya (Abuse) yang bakal jadi kunci buat chap Meanie selanjutnya. Tapi KaiSoo nggak ada apa-apa padahal seharusnya aku kasihnya hint buat KaiSoo :'' Tapi itu Jongin-nya udah disebut-sebut kok, meski nggak menampakkan diri

Setelah kemaren penuh emot :v sekarang penuh emot :''

Sorry for late post

Love, arilalee