Pairing: Kris X Chanyeol

Disclaimer: Characters belong to their own.

Warnings: PWP. Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol.

.

.

Mt_Chan proudly presents...

.

.

Sebuah sekuel untuk fanfic random saya sebelumnya "EFFLORESCENT"

.

"Make Us Forever"

-PART II-

Sebelum pernikahan ini, Chanyeol pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berjalan lurus dan membosankan. Orang tuanya sudah mapan dan menyiapkan masa depan cerah untuknya. Ia tidak perlu bersusah payah memikirkan untuk jadi apa, di mana atau bagaimana caranya. Semuanya sudah diatur dan ia hanya perlu menjalaninya. Setelah merenungkan hal itu semua, sejak di usia muda Chanyeol melatih dirinya sendiri untuk tidak bergantung dengan orang tuanya dan ia harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Namun dengan adanya pernikahan ini, Chanyeol kembali menimbang-nimbang renungannya itu. Tumbuh dewasa di lingkungan yang serba berkecukupan membuatnya mau tidak mau menjadi seorang anak yang manja dan jauh dari kata mandiri. Pemuda itu tiba-tiba merasa khawatir bahwa ia tidak bisa memenuhi ekspektasi Yifan, pasangannya, yang bisa jadi mengharapkannya untuk lebih bisa diandalkan.

Berbeda dengannya, Yifan adalah sosok yang dewasa dan mandiri. Meskipun usianya baru menginjak 23, ia sepertinya sudah siap untuk mengambil alih jabatan Direktur di perusahaan Ayahnya. Yifan pernah bercerita bahwa ia memulai karirnya sebagai karyawan biasa sebelum akhirnya sang Ayah mengakui kemampuannya dan mengangkatnya sebagai asisten di kantor. Selain itu, Yifan juga pandai mengurus dirinya sendiri –dan Chanyeol sekarang. Chanyeol terkadang merasa malu dan tidak berguna jika Yifan sering membantunya untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dan mengurusinya.

Park Chanyeol tersadar dari lamunannya ketika Yifan melepaskan sabuk pengamannya. Mobil audi Yifan sudah terparkir di halaman mansion keluarga Wu yang ada di Korea. Selama sebulan sekali, keluarga Wu akan pulang ke negeri asal mereka di Shanghai, China. Chanyeol sendiri belum pernah menginjakkan kaki di China sementara ini adalah kedua kalinya ia tiba di kediaman Wu.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Yifan dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran ketika Chanyeol terlihat pucat.

Chanyeol mengangguk sebelum bersiap untuk turun dari mobil. Ia beberapa kali mengatur nafasnya yang tiba-tiba tidak beraturan karena gugup. Ia sungguh akan menyalahkan Yifan jika orang tuanya protes karena ia berpakaian seperti ini. Chanyeol memandangi pantulan dirinya yang terlihat berantakan dengan kaos dan celana futsal.

Begitu pintu utama terbuka, Chanyeol dan Yifan disambut oleh Mrs. Wu yang begitu antusias dan langsung memeluk mereka berdua bersamaan.

"My babies..." Mrs. Wu kemudian menarik tangan mereka berdua agar segera masuk.

Pada awalnya Chanyeol kira hanya akan ada dirinya, Kris, Mr. dan Mrs. Wu di rumah itu, tetapi begitu Mrs. Wu melepaskan tangan mereka di ruang keluarga, mereka segera disambut oleh 5 orang anggota keluarga yang lain. Chanyeol menelan ludahnya sebelum tersenyum. Ini bukan pertama kalinya Chanyeol bertemu dengan keluarga Wu yang lain, ia bertemu mereka pada hari pernikahannya, dan Chanyeol berani bersumpah bahwa pertemuan itu sungguh canggung.

Chanyeol tanpa sadar melirik ke arah Yifan yang ternyata juga sedang memandangnya dengan ekspresi geli. Ia sepertinya terhibur ketika melihat wajah terkejut pasangannya yang mirip ikan koi itu.

"Hi, guys. Chanlie's a bit shy today." Yifan melingkarkan lengannya di pinggang Chanyeol sebelum mengajaknya berkeliling untuk menyalami anggota keluarganya satu per satu.

Anggota keluarga itu terdiri dari paman, bibi dan sepupu Yifan yang datang dari Beijing. Chanyeol mengalami kesulitan mengingat nama mereka yang asing bagi lidah Koreanya.

"My Chanlie baby.." Chanyeol menoleh dan mendapati Mr. Wu yang baru ia sadari ternyata tidak di ruangan itu sebelumnya, datang menghampirinya dan mencubit pipi kirinya sebelum memeluknya.

Selain kesan pertamanya yang salah mengenai Yifan, Chanyeol juga telah salah menilai Mr. Wu, pada pertemuan awal mereka. Ia mengira laki-laki itu bersifat angkuh dan dingin. Tetapi setelah mengenal lebih jauh Ayah mertuanya itu, penilaian Chanyeol mulai berubah. Laki-laki itu begitu ramah dan hangat padanya. Ia bahkan memberikan nama China untuk Chanyeol yaitu Pu Chanlie yang kemudian berubah menjadi Wu Chanlie setelah Chanyeol resmi menikah dengan Yifan.

"Kau sudah makan hari ini? Kau terlihat lebih kurus. Apa Yifan tidak memberimu makan?" Chanyeol tersenyum mendengar komentar Mr. Wu.

"Yifan mengurusku dengan baik, Baba."

Chanyeol memandang ke sekeliling dan tersadar bahwa Yifan sudah tidak ada di sampingnya. Yifan terlihat sedang menghampiri anak sepupunya yang baru berusia 13 bulan. Pemuda itu terlihat canggung ketika sepupunya memaksanya untuk menggendong bayi itu. Chanyeol tidak bisa menahan senyuman mengembang di wajahnya melihat pemandangan itu.

"Kalian tidak menunda untuk mempunyai anak kan?" Tanya Mr. Wu yang menyadari pandangan Chanyeol pada Yifan dan bayi itu.

Ekspresi wajah Chanyeol seketika berubah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Mereka belum sempat mendiskusikan hal itu dengan pikiran jernih. Terakhir kali Yifan menanyakan apakah ia ingin punya anak darinya, mereka berakhir dengan berhubungan seks dan hingga saat ini belum membicarakannya lagi.

"Kalian tidak menggunakan pengaman ketika berhubungan seks kan?" Mr. Wu masih menanti jawaban dari menantunya itu.

Chanyeol tiba-tiba kehabisan kata-kata dan sebagai gantinya wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Beruntung sekali Mrs. Wu yang muncul dari dapur menyela interaksi canggung itu dan mengantar Chanyeol ke kamar Yifan untuk mandi dan berganti baju.

Chanyeol baru saja keluar dari kamar mandi ketika ia melihat Yifan sedang sibuk memilih deretan pakaiannya yang tergantung di lemari. Begitu menyadari kehadiran Chanyeol, Yifan kemudian berbalik dan tersenyum melihat rambut Chanyeol yang masih basah dengan tubuhnya yang terbungkus bathrobe.

"Kau sudah selesai?" Tanya Yifan sambil menarik sebuah kemeja berwarna biru muda dan sewater berwarna abu-abu dari dalam lemari.

"Kau suka yang mana?" Tanya Yifan lagi sambil membandingkan kedua pakaian itu di hadapan Chanyeol.

Chanyeol mengkangkat bahunya. Ia sedang tidak mood untuk bingung memikirkan pakaian apa yang akan ia kenakan. Ia sebenarnya juga sedang tidak mood untuk berada di tengah-tengah banyak orang. Pikirannya tiba-tiba terasa penuh memikirkan hal-hal yang teradi di sekitarnya sekarang.

"Sweater saja kalau begitu. Mama akan memanggang barbeque di kebun belakang. Ini akan melindungimu dari angin." Yifan menyerahkan sweater itu pada Chanyeol yang kemudian berjalan kembali ke arah kamar mandi untuk berganti pakaian.

"Kau mau kemana?" Tanya Yifan.

Chanyeol mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan itu.

"Memakai sweater ini?"

Kali ini Yifan yang ganti mengernyitkan kedua alis tebalnya.

"Kenapa tidak memakainya di sini?"

Mulut Chanyeol terbuka dan tertutup dengan cepat untuk menanggapi pertanyaan Yifan barusan.

"D-di sini?" Ulang Chanyeol memastikan.

Yifan kemudian mengangguk. Pemuda itu mendengus ketika akhirnya ia mengerti dengan keraguan Chanyeol.

"Apa kau malu ganti baju di depanku?"

Wajah Chanyeol sontak memerah mendengar hal itu. Ia sudah sering telanjang di hadapan Yifan ketika mereka berhubungan seks, tetapi berganti baju di hadapannya adalah hal yang baru bagi Chanyeol. Dan entah kenapa keduanya terlihat begitu berbeda baginya.

Yifan mengambil sebuah celana boxer dan jeans untuk Chanyeol sebelum berjalan ke arah pemuda yang masih mematung itu. Chanyeol tanpa sadar menelan ludahnya ketika Yifan menyentuh tali bathrobenya dan dengan perlahan melepaskan ikatannya.

Chanyeol menutup matanya erat ketika Yifan menyibakkan bathrobenya dan menjatuhkannya begitu saja di lantai.

"You're so beautiful." Ujar Yifan sebelum mengecup pipi Chanyeol dan menurunkan bibirnya untuk mengecup rahang, leher dan pundak Chanyeol yang terekspos di hadapannya. Bulu-bulu halus di seluruh tubuh Chanyeol berdiri, selain karena udara yang menyentuh kulitnya tanpa penghalang, sebagian besar juga karena kalimat Yifan barusan.

Chanyeol mendengus. "Aku laki-laki dan aku tidak cantik."

Yifan menyibakkan rambut Chanyeol yang terjatuh di dahinya sebelum menatap pemuda itu.

"Kalau begitu kau adalah laki-laki yang paling cantik." Kata Yifan dengan ekspresi wajah datar.

Chanyeol masih tidak habis pikir bagaimana pasangannya itu tetap terlihat cool dengan ekspresi wajah yang begitu terkontrol ketika pada waktu yang bersamaan bibirnya mengungkapkan kata-kata yang baginya cukup cheesy dan memalukan. Tetapi Chanyeol juga tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum mendengar hal itu.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kau terlihat tidak seperti biasanya." Komentar Yifan yang akhirnya membiarkan Chanyeol memakai pakaiannya sementara ia duduk di tepi tempat tidur.

Salah satu tantangan dari kehidupan baru Chanyeol dan Yifan pada saat itu adalah bagaimana mereka berusaha mengenali sifat satu sama lain. Bagi Chanyeol yang masih begitu muda, hal itu adalah tantangan yang sulit untuk dilakukan dan sering kali justru membingungkannya. Sementara bagi Yifan yang sudah lebih dewasa, ia lebih bisa mengerti dan banyak mengalah jika sudah berhadapan dengan Chanyeol. Dan entah ini kabar baik atau buruk, tetapi mereka belum pernah sekalipun bertengkar.

Setelah berhasil memakai sweater abu-abu, boxer dan celana jeans Yifan, Chanyeol bisa sedikit bernafas lega karena setidaknya ia tidak perlu telanjang di depan Yifan lagi. Tetapi mendengar pertanyaan Yifan itu, Chanyeol tiba-tiba kembali tenggelam ke dalam pikirannya.

"Kau bisa memberitahuku apapun, Chanyeol." Sisi Omega Chanyeol bergidik ketika sang Alpha menyebut namanya.

"Mengenai permasalahan yang kau tanyakan tempo hari—" Chanyeol duduk di samping Yifan.

"Permasalahan?" Yifan berusaha mencari topik yang dimaksud Chanyeol.

"—Mengenai anak, kau bertanya padaku apakah aku ingin punya anak darimu dan aku menjawab iya—" Chanyeol menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk mendiskusikan hal ini pada Yifan. Ia sungguh tidak ingin pasangannya itu salah paham.

"Aku tidak tahu bagaimana dengan orang tuaku, tapi sepertinya orang tuamu sudah ingin punya cucu darimu. Kita sudah satu bulan menikah dan aku tidak ingin mengecewakan mereka. Aku tidak ingin mengecewakanmu." Chanyeol tidak berani menatap Yifan yang kini melingkarkan lengannya di pinggangnya. Sebuah gestur yang Chanyeol pelajari adalah cara Yifan untuk menunjukkan keposesifannya.

Yifan diam dan tidak langsung menanggapi pernyataan Chanyeol itu. Rasa panik tiba-tiba memenuhi dada Chanyeol karenanya.

"Bagaimana denganmu sendiri? Apa kau sudah mempertimbangkan keinginanmu sendiri mengenai hal ini?" Tanya Yifan dengan nada suaranya yang masih tenang.

Chanyeol tidak mengerti.

"Maksudku, aku ingin kau mengerti bahwa ini bukan hanya tentang orang tua kita atau keinginanku. Aku ingin mendengar keputusanmu setelah kau memikirkannya dari sudut pandangmu sendiri."

Kali ini Chanyeol yang terdiam. Bagaimana Yifan bisa berpikir begitu tenang dan melihat segalanya dari sisi positif.

" I want it too. Aku ingin punya anak darimu. Hanya saja—"

Yifan meremas pinggang Chanyeol dengan salah satu tangannya yang ia lingkarkan di sana.

"Hanya saja aku tidak yakin apakah aku siap dengan semua itu. Kau lihat sendiri aku masih belum bisa mengurus diriku sendiri dengan benar dan bagaimana aku harus mengurus bayi—" Yifan menutup mulut Chanyeol menggunakan bibirnya ketika ia sadar Chanyeol mulai meracau.

"Aku beritahu sebuah rahasia –aku juga tidak bisa mengurus bayi." Kata Yifan yang membuat Chanyeol mengedipkan kedua mata besarnya dengan kebingungan.

"Itulah kenapa kita tidak harus terburu-buru dalam hal ini. Orang tua kita pasti mengerti dan aku ingin kau terbebani karena ini. Kita jalani pelan-pelan saja, kay?"

Yifan mendorong pelan dahi Chanyeol menggunakan dahinya sebelum pemuda itu mengangguk dan melingkarkan lengannya pada leher Yifan. Menghirup aroma Alpha Yifan yang menguar dari lehernya membuat Chanyeol merasa begitu tenang dan terlindungi. Aroma itu begitu memabukkan hingga ia merasa seperti jatuh cinta –tunggu. Tubuh Chanyeol tiba-tiba membeku dengan jantung yang berdebar dengan kuat seolah akan keluar dari dadanya. Bagaimana rasanya jatuh cinta? Apakah perasaan itu seperti yang sedang dirasakannya ketika bersama Yifan saat ini?

Yifan menggeram ketika merasakan aroma Omega Chanyeol yang terasa lebih manis dari biasanya.

"You smell good. Apa kau dalam masa heat lagi?" Tanya Yifan sambil memeriksa wajah Chanyeol yang memanas dengan pipi yang bersemu merah.

Chanyeol cepat-cepat menggeleng. Ia kemudian beranjak dari tempatnya duduk dan menarik tangan Yifan agar melakukan hal yang sama.

"Kita sebaiknya keluar. Yang lain pasti sudah menunggu."

Yifan mendengus ketika sadar bahwa Chanyeol sedang berusaha kabur darinya sekarang.

.

.

.

Setelah membicarakan permasalahan yang menganggu pikirannya, Chanyeol kembali bersikap seperti biasanya dan membaur dengan mudah di tengah-tengah keluarga Wu yang sedang menikmati barbeque di halaman belakang mansion itu.

Mr. Wu bertugas memandang daging sementara Mrs. Wu menyiapkan makanan pendamping dibantu dengan anggota keluarga yang lain. Chanyeol berusaha membantu dengan membawakan bahan-bahan yang perlu di bawa ke halaman dari dapur.

Namun salah satu hal yang membuat Chanyeol hampir mengerang frustrasi adalah ketika keluarga itu mulai berkomunikasi dengan satu sama lain menggunakan bahasa Mandarin. Chanyeol yang tidak terbiasa dan begitu asing dengan bahasa itu hanya bisa mengikuti dengan tersenyum atau ikut tertawa ketika mereka tertawa. Sesekali ia akan menarik kemeja Yifan dari samping ketika pembicaraan terlihat serius untuk mengetahui artinya.

"Uncle." Seorang anak perempuan berusia lima tahun, yang merupakan anak pertama sepupu Yifan, mendekati Chanyeol dan menarik ujung sweaternya ketika Chanyeol baru saja melahap sepotong daging.

Dengan mulut penuh, Chanyeol memandang ke bawah dan melihat gadis itu memandangnya dengan penasaran. Baiklah, setidaknya gadis ini memanggilnya dengan sebutan yang bisa ia mengerti.

"Yes, sweetie?" Chanyeol berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis itu.

"I want a stlhawwbelhhy."

"Huh?" Chanyeol mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti dengan pengucapan gadis kecil itu.

"Stlhawwwbelhhy, Uncle."

"Huh?" Lagi-lagi Chanyeol masih belum bisa menangkap maksud gadis berkulit putih dengan mata sipit itu.

"Strawberry, Uncle Chanlie." Yifan yang diam-diam memperhatikan mereka sejak tadi akhirnya tidak tahan lagi dan mengambil semangkuk buah strawberry yang ada di meja dan menyerahkannya pada gadis itu.

Bibir Chanyeol hanya melongo ketika gadis itu memekik kegirangan dan menyambar mangkuk itu sebelum berlari ke arah orang tuanya. Tangan Chanyeol dengan refleks memukul lengan Yifan ketika pemuda itu tertawa melihat kejadian barusan. Chanyeol sampai harus mencubit lengan Yifan agar membuat pemuda itu berhenti menertawakannya.

Acara pesta barbeque itu kemudian berlanjut di ruang keluarga ketika Mr. Wu menyalakan perapian dan mengeluarkan salah satu koleksi anggurnya. Seluruh anggota keluarga berkumpul hingga tempat di sofa penuh dan membuat Chanyeol hanya bisa duduk di atas pangkuan Yifan.

"Kita memang seharusnya membeli mesin karaoke." Ujar Mrs. Wu pada suaminya yang membuat seluruh anggota keluarga keheranan.

"Your mother wants to sing, Yifan." Kata Mr. Wu sambil menyesap segelas anggur di tangannya.

Yifan mendengus. Hobi Ibunya itu memang cukup unik untuk wanita seusianya. Mrs. Wu suka menyanyi, tetapi wanita itu tidak ingin menyanyi tanpa iringan musik. Dan menurutnya, iringan musik dari dvd player biasa dan mesin karaoke jauh berbeda padahal komponen keduanya sama. Yifan dan Ayahnya yang sudah hafal dengan hal itu hanya bisa mengangkat bahu.

Chanyeol tiba-tiba berdiri dan melepaskan lengan Yifan dari pinggangnya.

"Apa piano itu masih berfungsi?" Tanya Chanyeol membuat perhatian mereka teralih padanya.

Mrs. Wu ikut bangkit dan menarik tangan Chanyeol untuk menghampiri piano itu.

"Aku yakin masih berfungsi dengan baik, tapi tidak ada satu pun dari anggota keluarga ini yang bisa memainkan piano. Papa Wu hanya membelinya sebagai koleksi. Apa kau bisa bermain piano?" Jelas Mrs. Wu dengan antusias.

Chanyeol membuka penutup piano itu dan menekan beberapa tuts kunci di piano itu untuk mengetesnya.

"Mama ingin bernyanyi?" Tanya Chanyeol.

Tanpa menunggu persetujuan ibu mertuanya, Chanyeol mulai memainkan sebuah melodi yang menurutnya cukup familiar bagi mereka. Lagu berjudul Can't Help Falling In Love versi Andrea Bocelli segera mengalun dan mengisi setiap sudut ruangan itu.

"Wise man say, only fools rush in, but I can't help falling in love with you..." Mrs. Wu yang ternyata hafal lirik lagu itu kemudian mulai memperdengarkan suara merdunya diiringi permainan piano Chanyeol.

"So take my hand, take my whole life, too. For I can't help falling in love with you."

Dan di tengah-tengah permainan pianonya, pandangan mata Chanyeol akan sesekali melirik ke arah Yifan yang juga tengah menatapnya.

BERSAMBUNG

Ini apaaaaa Yawlaaaaaaaa maapkeun gesss ini kenapa dedek Chanyeol jadi kayak anak gadis lagi puber yawlaaaaaa #gamparinauthornya

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan review semuanya ^^ semoga nggak gumoh ya sama ke-cheesy-an fanfic ini. Aku aja malu sendiri nulisnyaaa / hiks #ketauanjomblonya #plakk

Dengan cinta,

Mt_Chan