Pairing: Kris X Chanyeol

Disclaimer: Characters belong to their own.

Warnings: PWP. Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol.

.

.

Mt_Chan proudly presents...

.

.

.

"Make Us Forever"

-PART III-

Pagi hari yang mendung kembali menyapa keluarga kecil Wu yang anggotanya bangun lebih awal dari biasanya. Mengenai marga yang disandang kedua pasangan itu, Yifan dan Chanyeol sudah pernah mendiskusikannya sebelum mereka menikah –atau lebih tepatnya Yifan yang menanyakan hal itu pada Chanyeol. Dan pada saat itu hanya dijawab dengan anggukan oleh Chanyeol yang otomatis membuat marganya mengikuti marga keluarga Yifan yakni Wu.

"Tidak bisakah kau tidak pergi kerja hari ini?" Tanya Chanyeol dengan serak khas bangun tidur ketika ia duduk di pangkuan Yifan sambil memeluk pemuda yang lebih tua 6 tahun darinya itu. Chanyeol sempat berpikir Yifan sudah berangkat kerja tanpa memberitahunya ketika ia menemukan Yifan masih duduk di meja makan menikmati kopinya.

Yifan yang sudah bersiap untuk berangkat kerja tersenyum ketika melihat sifat manja Chanyeol yang muncul tiba-tiba seperti ini. Pemuda itu sudah bersiap dengan kemeja lengkap sementara Chanyeol masih memakai piyama tidurnya. Chanyeol menyembunyikan wajahnya di leher Yifan ketika pemuda itu bergerak untuk menyesap kopinya.

"Rambutmu mulai panjang. Ku rasa kau perlu merapikannya." Ujar Yifan sambil mengusap punggung Chanyeol dan di saat yang bersamaan tangan kirinya menyentuh rambut Chanyeol yang sudah mulai menutupi telinganya.

"I hate haircuts." Rengek Chanyeol sambil mengerucutkan bibirnya membuat Yifan berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak menggigit bibir itu.

"Bagaimana kalau hari ini aku pulang lebih awal lalu kita pergi ke salon setelah itu shopping?" Tawar Yifan sambil menyibakkan rambut yang terjatuh di dahi Chanyeol.

Pemuda yang lebih muda mendengus. "Apa kau sedang menyuapku sekarang?"

"Kau bisa membeli apapun yang kau mau."

Mata Chanyeol tiba-tiba berbinar. "Deal." Ucapnya sebelum bangkit dari paha Yifan dan beralih ke meja dapur untuk membuat susu.

"Kau ada kelas jam berapa hari ini?" Tanya Yifan sambil melirik ke arah arlojinya.

"Aku hanya ada satu kelas hari ini. Aku akan selesai jam 1." Jawabnya.

"Baiklah. Aku akan menjemputmu di kampus?"

Chanyeol mengangguk dan segera menghabiskan susu putihnya.

"Aku berangkat dulu." Yifan menghampiri Chanyeol dan berniat untuk menciumnya ketika Chanyeol menahan tubuhnya untuk mendekat. Chanyeol mengusap bibirnya menggunakan lengan piyamanya sebelum mendongak sedikit untuk mengecup bibir Yifan. Tinggi mereka yang tidak terlalu berbeda membuat berciuman bukanlah hal yang sulit dilakukan.

"Take care." Yifan mengacak rambut Chanyeol dan tersenyum ketika pemuda itu menggembungkan pipinya.

.

.

.

Hari itu Chanyeol benar-benar mendapatkan make over dengan rambutnya. Pemuda kelahiran bulan November yang biasanya memotong cepak rambutnya dengan model rambut mangkok terbalik itu kini berubah total ketika Yifan memilihkan model rambut koma untuknya. Chanyeol terlihat lebih tampan dan rapi –meskipun tetap terlihat cute bagi Yifan.

Dan seperti janji Yifan, mereka melanjutkan kegiatan sore itu dengan berbelanja di pusat perbelanjaan. Dengan penampilan barunya ditambah dengan penampilan Yifan yang memang selalu terlihat rapi, Chanyeol dan Yifan menjadi pusat perhatian di tempat itu. Dengan tangan kiri Yifan yang terus menggenggam tangan kanan Chanyeol ditambah cincin platinium yang melingkar di jari manis mereka membuat status keduanya terlihat jelas bagi orang-orang.

"Kebetulan sekali aku akan mengajakmu ke acara makan malam kantor besok. Kau mau membeli jas baru?" Kata Yifan sambil menarik tangan Chanyeol untuk masuk ke dalam sebuah toko dengan brand terkenal di papan namanya.

Tapi Chanyeol yang sama sekali tidak berpengalaman memilih pakaian berjenis jas dan kemeja hanya bisa mengekor di belakang Yifan yang menarik beberapa jenis jas. Pemuda itu biasanya akan berbelanja kaos atau hoodie yang memang mendominasi deretan pakaiannya di lemari. Pemuda itu bergantung pada kedua orang tuanya jika hal itu menyangkut ke pakaian formal.

"Kenapa? Apa kau lelah?" Yifan menepuk pelan pipi Chanyeol. Pemuda itu menggeleng tapi ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi bosan di wajahnya.

Yifan yang sepertinya mengetahui hal itu kemudian mengusap pipi Chanyeol sebelum menyerahkan setelan jas yang tadi ia pilih ke pelayan toko.

"Aku akan membayar ini sebentar lalu kita pergi makan." Yifan merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet hitamnya.

"Kau tidak menyuruhku untuk memilih?" Tanya Chanyeol sambil mengawasi Yifan yang menyerahkan kartu kredit pada pelayan toko tadi.

Yifan mengangkat bahunya. "Aku tahu kalau aku melakukannya, kau akan bingung dan pada akhirnya kau akan menyerahkan pilihan itu padaku. Jadi yang baru saja aku lakukan adalah menghemat waktu."

Chanyeol memutar matanya mendengar hal itu. Pasangannya itu sudah mulai ahli dalam hal membaca pikirannya. Sementara menunggu barang mereka dikemas, Chanyeol melirik ponselnya untuk melihat jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.45.

"Bagaimana kalau kita memesan makanan di rumah saja?" Tanya Chanyeol ketika Yifan menenteng kantung belanjaan mereka dan berjalan keluar dari toko itu.

"Kau tidak ingin membeli apapun lagi?" Yifan mengangkat alisnya ketika Chanyeol tidak meminta dibelikan apapun olehnya.

Chanyeol menggeleng dan mengaitkan tangannya pada lengan Yifan.

"Ayo kita pesan Jajangmyeon dan menonton tv di rumah."

Dan Yifan hanya bisa tersenyum melihat keantikan pasangannya itu.

.

.

.

Begitu mereka sampai di apartemen yang mereka tinggali berdua itu, Chanyeol segera memesan makanan via delivery order dan menunggu pesanan mereka sambil menonton tv. Yifan memutuskan untuk pergi mandi terlebih dahulu.

30 menit kemudian Yifan selesai mandi dan keluar menuju ruang keluarga di mana Chanyeol duduk bersila di atas karpet dengan deretan makanan di meja.

"Kau yakin bisa memakan semua ini?" Tanya Yifan dengan handuk di bahunya memperhatikan beberapa jenis makanan yang Chanyeol pesan.

3 porsi jajjangmyeon, 3 porsi dumpling, dan 3 porsi babi asam manis. Chanyeol bahkan sudah mengeluarkan sepiring Kimchi buatan Ibunya yang mereka simpan di kulkas. Yifan menelan ludahnya hanya dengan melihat porsi makanan itu.

Setelah Yifan meletakkan kembali handuknya, ia duduk di samping Chanyeol dengan rambut setengah basah. Chanyeol menyerahkan sumpit pada Yifan dan mengambil satu porsi jajjangmyeon dan mengocoknya agar mie-nya tercampur dengan bumbu pasta kedelai hitam itu.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Yifan dengan heran.

Chanyeol mengernyitkan dahinya. "Mencampurnya? Kau tidak pernah makan jajjangmyeon sebelumnya?"

Chanyeol kemudian membuka penutup plastik pada mangkuk jajjangmyeon itu dan meletakkannya di hadapan Yifan.

"Aku pernah. Tapi aku tidak mengocoknya seperti itu." Ujar Yifan.

"Dasar pemula." Komentar Chanyeol sambil menyeringai sebelum meraih satu porsi jajjangmyeon untuk dirinya sendiri.

Yifan hanya tersenyum mendengar hal itu dan mulai memakan makanannya. Sesekali ia akan melirik ke arah Chanyeol yang sepertinya sangat fokus dengan makanannya. Bahkan ketika Yifan baru memakan separuh porsi makanannya, Chanyeol sudah menghabiskan satu mangkuk jajjangmyeon dan dumpling.

"Apa kita perlu membagi ini?" Bisik Chanyeol sambil menunjuk satu porsi jajjangmyeon yang masih belum tersentuh.

Yifan sampai harus menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya agar makanan yang ada di dalam mulutnya tidak menyembur keluar ketika ia berusaha untuk tidak tertawa.

"Tidak. Kau bisa menghabiskannya." Kata Yifan ketika ia berhasil menelan makanannya tanpa tersedak.

Chanyeol terlihat begitu bahagia ketika ia mengangkat kedua tangannya sebelum mengambil jajjangmyeon itu. Yifan dalam hati merasa lega karena Chanyeol bisa makan dengan baik di sampingnya tanpa merasa canggung atau malu. Chanyeol yang sekarang berbeda sekali dengan Chanyeol yang ia temui ketika mereka bertemu di restoran malam itu untuk membicarakan mengenai pernikahan ini.

"Kau ingat ketika kita bertemu di restoran Italy itu?" Tanya Yifan.

Chanyeol yang sudah hampir menghabiskan mangkuk kedua jajjangmyeonnya itu mendongak dan menatap Yifan dengan mulut penuh dan mata besarnya. Chanyeol mengangguk.

"Apa kau benar-benar tidak bisa memakan spaghetti itu atau kau hanya menggodaku?" Tanya Yifan sambil menunggu reaksi Chanyeol, yang sudah seperti dugaannya, membulatkan kedua mata besarnya dan hampir tersedak mie hitam itu.

"H-ha?" Wajah Chanyeol memerah hingga ke telinga dan lehernya.

Yifan yang sepertinya puas dengan reaksi itu semakin ingin menjahili Omeganya itu.

"Kau sebenarnya bisa makan spaghetti dengan baik kan? Kau hanya ingin agar aku menyuapimu kan?" Kata Yifan sambil menyeringai.

Menyadari bahwa Yifan hanya menggodanya, Chanyeol kemudian menendang kaki Yifan menggunakan kaki kanannya yang sebelumnya duduk bersila di bawah meja. Yifan tertawa ketika wajah Chanyeol semakin memerah.

Mereka kemudian melanjutkan makan dengan tenang –meskipun dengan Chanyeol sesekali menendang kaki Yifan atau meninju lengannya ketika pemuda itu terus menggodanya. Yifan yang hanya sanggup menghabiskan satu porsi jajjangmyeon, beberapa potong dumpling dan babi asam manis akhirnya menyerah dan meletakkan sumpitnya. Sementara itu Chanyeol juga meletakkan sumpitnya sambil menjejalkan sepotong dumpling yang masih tersisa sebelum naik ke atas sofa.

"Aku rasanya seperti mau mati." Ujar Chanyeol sambil mengelus perutnya yang membuncit. Pemuda itu kemudian membuka ikat pinggangnya dan melepaskan celana jeansnya hingga kini ia hanya memakai kaos dan celana boxernya.

"Yifan, lihat!" Yifan yang sedang mengganti-ganti channel tv itu menoleh ke arah Chanyeol dan mendapati pemuda itu menyingkap kaosnya untuk menunjukkan perutnya.

"Apa perutku akan seperti ini kalau aku hamil?" Tanya Chanyeol sambil mengelus perutnya.

Yifan mendengus sebelum menarik tangan Chanyeol hingga pemuda itu jatuh di atas sofa dengan kepala yang mendarat di dada Yifan.

"Kau tidak belajar?" Yifan mengusap leher bagian belakang Chanyeol yang kini tidak tertutupi rambut. Yifan merasakan bahwa Chanyeol bergidik dengan sentuhannya.

Chanyeol menggeleng sebelum melingkarkan lengannya pada perut rata Yifan.

"Aku akan bertanding futsal besok. Kau mau melihatku bermain?" Tanya Chanyeol sambil menatap Yifan dengan penuh harap.

Yifan mengecup puncak kepala Chanyeol sebelum menjawab.

"Tidak bisa. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum acara makan malam besok. Kau pulang jam berapa?"

Chanyeol mengerucutkan bibirnya. "Aku akan pulang sebelum jam 4. Kau mau aku jemput di kantor?"

"Kedengarannya ide bagus. Aku akan menunggumu besok."

Chanyeol mengangguk sementara Yifan melepaskan diri darinya untuk membereskan meja dari sisa makan malam mereka.

Yifan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa segelas minuman berwarna putih keemasan.

"Apa itu?" Tanya Chanyeol ketika Yifan duduk di sampingnya.

"Ini anggur." Jawab Yifan sambil menyesap minuman itu.

Chanyeol terus memperhatikan minuman itu sebelum mendekatkan diri pada Yifan.

"Can I try it?" Tanya Chanyeol lagi.

Yifan mendengus sebelum melingkarkan tangannya pada pinggang Chanyeol.

"Chanyeol, dengar. Kau hanya boleh meminum minuman ini ketika ada aku, kay?"

Chanyeol mengangguk dan membuka mulutnya ketika Yifan mendekatkan gelas itu dan membiarkan Chanyeol menyesap sedikit demi sedikit minuman itu.

Chanyeol mengernyit dan menjulurkan lidahnya ketika akhirnya ia meminum alkohol untuk pertama kalinya. Rasa hangat kemudian mengisi tenggorokannya sementara rasa pahit tetap tinggal di lidahnya. Pemuda itu heran bagaimana orang dewasa bisa menikmati minuman itu.

"Good?" Yifan tertawa melihat reaksi Chanyeol yang masih mengernyitkan dahinya.

Chanyeol menggeleng cepat.

.

.

.

"No, Yifan."

"Come on, Chanyeol."

"No."

"Chanyeol.."

Chanyeol menghela nafasnya sebelum akhirnya menyerah. "Ugh, fine."

Yifan meletakkan tangan kirinya di leher Chanyeol agar pemuda itu tidak menggerakkan kepalanya sementara jari kanannya meratakan lip balm pada bibir Chanyeol.

"Ini terasa aneh—"

"Sssshhh." Yifan memastikan lip balm itu rata di setiap sudut bibir Chanyeol.

Setelah membantu Chanyeol memakai setelan jas hitamnya, Yifan juga menata rambut Chanyeol dan memakaikan lip balm pada bibir Chanyeol –meskipun dengan sedikit paksaan karena pemuda itu terus menolak.

Yifan tampaknya puas melihat penampilan Chanyeol yang terlihat begitu tampan dan rapi dengan rambut tertata. Pasangan Alpha dan Omega itu sedang bersiap untuk acara makan malam yang diadakan oleh perusahaan Wu. Yifan sendiri memakai setelan jas yang warnanya senada dengan milik Chanyeol sementara rambutnya ia sisir ke belakang seperti biasanya membuatnya terlihat begitu tampan dan maskulin.

Chanyeol mengecup bibir Yifan ketika pemuda itu sedang memastikan penampilannya sudah cukup rapi di depan cermin.

"Kau akan bibirmu berantakan lagi." Kata Yifan ketika Chanyeol hanya meringis.

Yifan kemudian menarik lengan Chanyeol sebelum menciumnya lagi. Erangan Chanyeol ketika Yifan menjilat lidahnya membuat Yifan sadar bahwa mereka seharusnya sudah berangkat sekarang. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 sementara acara akan dimulai pukul 19.00 dan Yifan benci terlambat.

"Kita sebaiknya berangkat atau Baba akan memenggal kepala kita." Ujar Yifan sebelum menggandeng tangan Chanyeol untuk berangkat.

Chanyeol hanya mengangkat bahunya. "Baba akan hanya akan memenggal kepalamu, bukan kepala Chanlie baby nya." Komentar Chanyeol.

Yifan mendengus. Ayahnya itu memang begitu memanjakan Chanyeol terkadang ia meragukan siapa yang anak kandungnya di sini.

.

.

.

Acara makan malam yang memang diadakan setiap satu bulan sekali itu dihadiri oleh seluruh karyawan dan jajaran petinggi perusahaan Wu yang kantor pusatnya sebenarnya berada di China. Namun mengingat cabang di Korea yang sama besarnya dengan di China membuat perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan besar yang patut diperhitungkan.

Pasangan pengantin Yifan dan Chanyeol yang baru saja datang segera mencuri perhatian para hadirin. Santer terdengar berita bahwa Perusahaan Park yang dipimpin oleh Mr. Park, Ayah Chanyeol, akan di-merger dengan Perusahaan Wu begitu Chanyeol siap menerima bagian sahamnya pada perusahaan itu. Namun baik keluarga Park maupun keluarga Wu masih belum membahas hal itu bersama.

Yifan terus menggenggam tangan Chanyeol sementara mereka berkeliling untuk menyapa para tamu. Chanyeol yang masih belum terbiasa dengan acara formal seperti itu lebih banyak diam dan hanya tersenyum ketika beberapa kolega Yifan berkomentar mengenai betapa serasinya mereka malam itu.

Ketika Yifan menyerahkan segelas air mineral untuk Chanyeol, seseorang mendatangi mereka. Laki-laki itu terlihat tampan dengan tubuh ramping dengan setelan jas berwarna biru. Lesung pipit yang berada di pipi kanannya menambah pesonanya. Pemuda itu berdehem untuk menunjukkan kehadirannya ketika Yifan sedang mengusap bibir Chanyeol yang sedikit belepotan terkena air.

Yifan mendongak dan ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah ketika ia menatap laki-laki itu.

"So is this your little Omega?" Tanya laki-laki itu. Tangan kirinya memegang segelas champagne sementara tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celananya.

Yifan sedikit mendongakkan kepalanya, membuat aura Alphanya menguar.

"Kau datang? Ku kira acara ini hanya untuk karyawan di Korea." Ujar Yifan.

"Believe me I was invited." Laki-laki itu mengedipkan matanya sebelum melirik ke arah Chanyeol yang hanya bisa memperhatikan mereka berdua bergantian.

Yifan terlihat canggung sebelum meletakkan tangan kirinya pada punggung Chanyeol, mengusapnya pelan.

"Chanyeol, ini Yixing. Dia adalah.. kepala departemen marketing di China." Kata Yifan dengan keraguan pada kalimatnya.

Chanyeol tersenyum sebelum mengulurkan tangannya.

"FYI, aku juga mantan kekasih Yifan sebelum dia menikah denganmu." Tambah Yixing sambil meremas sedikit telapak tangan Chanyeol.

Ekspresi wajah Chanyeol mengeras membuat garis rahangnya terlihat lebih tajam. Yifan yang merasakan hal itu kembali mengusap punggung Chanyeol.

"Tapi kau tidak usah khawatir, kami sudah berakhir dan dia adalah orang yang setia." Yixing kemudian tertawa mendengar kalimatnya sendiri. Mungkin ia berniat untuk bercanda, tetapi entah kenapa Chanyeol tidak bisa tertawa mendengarnya. Ia justru menganggap kalimatnya barusan itu sebagai ancaman.

"Apa Ayahku juga akan datang?" Tanya Chanyeol berusaha mengalihkan perhatian sambil melingkarkan lengannya pada punggung Yifan. Sebuah gestur yang baru bagi Yifan yang tidak pernah ia duga akan Chanyeol lakukan.

"Tentu saja. Kau mau bertemu dengannya?"

Chanyeol mengangguk.

"Kami permisi dulu." Kata Yifan sebelum meninggalkan Yixing hanya bisa mendengus dan menyeringai melihat mereka berdua.

Setelah semua karyawan hadir dan Chanyeol sudah menyapa Ayahnya, acara kemudian dilanjutkan dengan makan malam ketika hidangan mulai dikeluarkan. Ruangan disetting dengan meja-meja yang diisi oleh 5-6 orang. Chanyeol dan Yifan duduk bersama orang tua mereka di meja VVIP.

"So you have an ex-boyfriend?" Tanya Chanyeol ketika orang tua mereka sibuk berbincang. Ia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak membahas hal itu.

"Kami hanya main-main dan itu sudah lama sekali. Kau dengar sendiri darinya kalau kau tidak perlu khawatir, kay." Yifan menepuk pipi Chanyeol.

"Aku tidak khawatir." Kata Chanyeol sambil mengangkat bahunya.

Setelah hidangan penutup dikeluarkan, acara dilanjutkan dengan para karyawan yang mulai membaur dengan satu sama lain. Yifan sudah bersiap untuk mendampingi Ayahnya menemui para tamu ketika ia melihat Chanyeol masih belum menghabiskan eskrimnya.

"Kau mau ikut berkeliling?" Tanya Yifan sambil meletakkan di atas bahu Chanyeol.

Chanyeol menggeleng. "Aku akan menunggu di sini."

Yifan mengecup pipi Chanyeol sebelum beranjak dari tempat duduknya ketika Chanyeol memanggil namanya.

"Yes, love?" Pipi Chanyeol bersemu mendengarnya sebelum ia mengulurkan tangannya.

"Pinjam handphonemu. Aku tidak membawa punyaku." Kata Chanyeol.

Yifan merogoh sakunya dan menyerahkan ponselnya pada Chanyeol sebelum bergabung dengan Ayahnya.

Chanyeol segera membuka aplikasi game yang beberapa hari lalu ia install pada ponsel Yifan.

Baru lima belas menit Chanyeol bermain game, tetapi ia sudah merasa bosan. Pemuda itu memandang ke sekeliling untuk mencari Yifan. Ia sudah beranjak untuk menghampiri pemuda itu yang sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya ketika pemuda itu tiba-tiba berhenti. Chanyeol melihat Yixing duduk di samping Yifan. Dan Chanyeol tidak sebodoh itu untuk tidak menyadarinya ketika Yixing duduk terlalu dekat dengan Yifan dengan tangan yang ia letakkan pada bahu pasangannya itu.

Yixing yang menyadari pandangan Chanyeol justru menyeringai dan membisikkan sesuatu pada telinga Yifan. Hal itu membuat Chanyeol tidak tahan lagi untuk melihatnya, maka pemuda itu membalikkan tubuhnya untuk pergi. Tapi sebelum meninggalkan ruangan itu, tanpa berpikir panjang, Chanyeol menyambar dua gelas champagne dan menenggaknya dalam beberapa teguk ketika dahaga tiba-tiba menyerang tenggorokannya.

Nafas Chanyeol naik turun tidak beraturan menahan kesal yang menohok dadanya. Sesuatu yang keras seperti mengganjal di ujung tenggorokannya ketika matanya ikut memanas. Apakah Chanyeol telah salah menilai jika ia kira Yifan menyayanginya?

.

.

.

Sementara itu Yifan sedang asyik mengobrol dengan beberapa karyawan dari China yang ikut hadir di acara itu kemudian menyadari bahwa Chanyeol sudah tidak ada di tempatnya ketika ia tidak menemukan pemuda itu. Yifan kemudian undur diri dan berkeliling untuk mencari Omeganya itu.

"Chanyeol di mana?" Tanya Yifan pada Ibunya yang sedang mendampingi Ayahnya.

"Aku kira dia bersamamu?" Kata Mrs. Wu heran.

Yifan kemudian kembali berjalan dan memastikan untuk memeriksa di seluruh penjuru ruangan itu ketika ia tidak juga menemukan Chanyeol. Yifan merasa panik setelah ia memeriksa ke dalam toilet dan Chanyeol juga tidak ada di sana.

"Boleh aku pinjam ponselmu?" Tanya Yifan pada seorang karyawan yang ia temui di depan toilet. Ia baru ingat bahwa Chanyeol membawa ponselnya.

Selama beberapa menit, Chanyeol tidak juga mengangkat ponselnya. Yifan sudah akan menyerah ketika pada panggilan kelima, Yifan mendengar suara Chanyeol di seberang.

"Chanyeol! Where are you?" Tanya Yifan dengan nada suara panik yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Who are you?" Tanya Chanyeol dengan nada suara yang aneh.

"Chanyeol, ini Yifan. Kau di mana?" Yifan menunggu dengan sabar, namun tiba-tiba hening. Chanyeol tidak juga menjawab.

"Aku sedang bersama ikan-ikan, Yiiiiiifan." Chanyeol akhirnya menyahut.

"Ikan?" Yifan merasa kembali merasa panik dengan jawaban itu.

"I hate you." Kata Chanyeol sebelum menutup teleponnya.

Setelah mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya, Yifan berlari ke luar ruangan tempat acara makan malam itu dan menghentikan seorang pegawai restoran itu.

"Apa kalian punya ikan di sini?" Tanya Yifan.

Pegawai restoran itu memandangnya dengan kebingungan. "Huh?"

"Aku tidak tahu. Tapi apa kalian punya tempat dengan ikan di sini? Ugh." Yifan sendiri tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan, tetapi ia harus segera menemukan keberadaan Chanyeol.

Pegawai itu terlihat berpikir sebentar sebelum tersenyum. "Ah, kami punya kolam ikan di bagian belakang restoran ini. Ada yang bisa kami bantu?"

"Bisa kau tunjukkan arah tempat itu?"

Setelah memperhatikan petunjuk yang diberikan pegawai itu, Yifan segera berlari menuju tempat yang dimaksud. Ia hanya berharap Chanyeol benar-benar berada di tempat itu.

Dan pemuda itu sedikit bernafas lega ketika ia menemukan seorang pemuda lain yang duduk di tepi kolam dengan kepala menunduk. Yifan yakin pemuda itu adalah Chanyeol. Aroma Omeganya yang begitu ia hapal menguar ketika ia semakin mendekatinya.

"Don't." Chanyeol tiba-tiba memperingatkan ketika Yifan melangkah untuk mendekatinya.

Tanpa menolehkan kepalanya, Chanyeol sudah menyadari kehadiran Yifan melalui aroma Alphanya.

"Chanyeol, what's wrong?" Yifan berusaha mencari penjelasan dengan sikap Chanyeol yang tiba-tiba berubah. Seingatnya ia meninggalkan Chanyeol dengan keadaan baik-baik saja. Apakah karena ia meninggalkan Chanyeol cukup lama? Tetapi Chanyeol bukan tipe orang yang marah hanya karena masalah sepele seperti itu.

"Kenapa kau menikah denganku?" Tanya Chanyeol. Dan Yifan seperti tidak percaya dengan yang didengarnya.

"Chanyeol." Yifan menggunakan geraman Alphanya dan sisi Omega Chanyeol tetap menolak untuk berbalik. Tapi kali ini Yifan yang mendekat dan berlutut di samping Chanyeol, membalikkan tubuh Chanyeol agar menatapnya.

Chanyeol menyeka cairan panas yang entah kenapa tidak bisa lagi ia tahan untuk tidak berjatuhan dari matanya menggunakan lengan kemejanya. Dada Yifan mencelos melihat pemandangan itu. Apa yang telah ia lakukan hingga membuat Chanyeol seperti ini.

"Hey..." Yifan mengusap pipi Chanyeol yang basah.

Bahu Chanyeol sesekali bergetar ketika ia sesenggukan. Dan Yifan bisa mencium aroma alkohol dari mulut Chanyeol.

"Apa kau minum alkohol?" Tanya Yifan.

Chanyeol diam. Hal itu membuat Yifan frustrasi. Chanyeol mungkin akan kesal padanya ketika moodnya sedang tidak bagus, tetapi ia tidak pernah mendiamkan Yifan seperti ini.

"Kau bisa jelaskan kenapa kau bersikap seperti ini?" Yifan kembali berusaha membuat pemuda itu bicara namun hasilnya masih nihil.

"Chanyeol, please. Tolong jawab aku. Aku tidak tahu kenapa kau bersikap seperti ini. Jika kau marah padaku, then say it. Say why you're mad at me." Kali ini Yifan mencengkeram kedua lengan Chanyeol. Pemuda itu sudah hampir kehilangan kesabarannya.

"You don't love me." Ucap Chanyeol pada akhirnya. Suaranya terdengar sengau setelah menangis.

"What?" Yifan tidak mengerti dengan kalimat Chanyeol.

"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"

Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Yifan. Hidung, mata dan pipinya memerah karena udara dingin dan juga menangis.

"Apa ini karena Yixing?" Yifan masih berusaha menduga penyebab dari kekacauan ini.

"You're mine, right?" Chanyeol meletakkan kedua tangannya pada pipi Yifan. Dan sebelum Yifan sempat menjawab, Chanyeol sudah menyatukan kedua bibir mereka.

Yifan menggeram ketika Chanyeol menggigit bibirnya. Keduanya begitu larut dalam ciuman itu hingga akhirnya Chanyeol melepaskan ciuman itu ketika kebutuhan akan oksigen membuatnya berhenti.

Yifan yang juga tersengal mencium aroma khas yang tiba-tiba menguar dari tubuh Chanyeol. Aroma itu menguar semakin kuat ketika Chanyeol mengerang.

"You're in heat." Bisik Yifan sebelum menarik tubuh Chanyeol untuk berdiri.

"Let's go home." Yifan mengangkat tubuh Chanyeol sementara pemuda itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Yifan dan kedua kakinya pada pinggang Yifan. Yifan memastikan Chanyeol sudah nyaman dalam posisi itu sebelum ia berjalan untuk meninggalkan tempat itu sambil menyangga punggung dan paha Chanyeol menggunakan tangannya.

Pandangan pengunjung restoran itu teralih pada mereka berdua. Selain karena pemandangan Yifan yang menggendong Chanyeol, juga aroma Omega Chanyeol yang sedang dalam masa heat membuat beberapa Alpha di ruangan itu menajamkan hidung mereka. Yifan tidak sempat berpamitan pada orang tuanya ketika ia segera menjalankan mobil dengan terburu-buru menuju rumah.

.

.

.

Alkohol yang tadi Chanyeol tenggak ditambah dengan masa heatnya yang tiba-tiba datang membuat kepala Chanyeol terasa begitu ringan. Pemuda itu menarik kepala Yifan ketika ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur mereka. Yifan melucuti pakaian mereka satu per satu sebelum bergabung dengan Chanyeol di atas tempat tidur.

Kejantanan Yifan sudah menegang sepenuhnya ketika tangan Chanyeol meraihnya. Yifan sedang meninggalkan tanda di leher Chanyeol ketika Chanyeol tiba-tiba membalik tubuh mereka hingga kini Yifan yang terbaring di tempat tidur dengan Chanyeol yang duduk di atas perutnya.

"I don't want to share you with anyone." Bisik Chanyeol ketika ia menundukkan tubuhnya dan mencium Yifan.

Dan kenyataan itu membuat sebagian otak Yifan yang masih bekerja sadar bahwa Chanyeol sedang cemburu.

"I'm yours." Ucap Yifan di sela-sela serangan bibir Chanyeol yang menghisap bibirnya.

Tangan Yifan bergerak menuju lubang Chanyeol yang sudah mengeluarkan cairan pelumas. Namun Chanyeol tiba-tiba menyentakkan tangan Yifan dan mengangkat tubuhnya kembali hingga ciuman mereka terlepas.

Chanyeol menggerakkan tubuhnya hingga kini pantatnya berada di atas kenjantanan Yifan yang menegang. Yifan tidak mau berharap tetapi ia membulatkan matanya ketika Chanyeol meraih kejantanannya dan mengarahkannya pada lubangnya. Yifan belum mempersiapkan lubang Chanyeol dan pemuda itu sudah akan...

"Chanye—AH!" Yifan tidak bisa menahan erangan yang keluar dari bibirnya ketika Chanyeol memasukkan kejantanan Yifan ke dalam lubangnya. Nafas Yifan memburu ketika lubang sempit itu menyelimuti penisnya. Tidak pernah sedetik pun dalam mimpi liar Yifan ia membayangkan dirinya dalam posisi ini.

Chanyeol memejamkan matanya dan tanpa sadar menggigit bibir bawahnya ketika penis Yifan memprenetasi lubangnya tanpa persiapan. Keringat membanjiri tubuh keduanya. Chanyeol mengatur nafasnya sebelum ia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun di atas penis Yifan untuk menciptakan ritme gesekan.

Yifan menahan pinggulnya untuk tidak bergerak dan membiarkan Chanyeol yang melakukannya. Ia tidak ingin menyakiti pasangannya itu dan membiarkan Chanyeol yang bergerak adalah salah satu caranya. Namun stamina Chanyeol yang masih belum cukup membuatnya sudah berhenti ketika ia baru bergerak beberapa menit.

Paha Chanyeol terlihat bergetar.

"Yifan..." Kuku jemari tangan Chanyeol membuat tanda di dada Yifan. Chanyeol yang sudah tidak sanggup bergerak naik turun pun menggerakkan pantatnya maju mundur hingga penisnya bergesekan dengan perut rata Yifan.

"Chanyeol..." Gerakan itu sukses membuat Yifan mengerang dan kehilangan kendalinya. Yifan bangkit hingga ia duduk tanpa melepaskan Chanyeol sebelum ia menggerakkan pinggulnya ke atas hingga membuat ujung penisnya menyentuh prostat Chanyeol.

Chanyeol terengah ketika ia mencengkeram bahu Yifan sambil menggerakkan pantatnya sementara Yifan terus menyerang prostatnya.

"I love you... I love you.. Yifan, I love you..." Bisikan Chanyeol di telinganya seperti mantra yang hampir membuat Yifan gila. Pemuda itu semakin cepat menggerakkan pinggulnya membuat tubuh Chanyeol menggelinjang ketika ia mencapai klimaksnya yang pertama.

Yifan berhenti bergerak meskipun ia belum mencapai klimaksnya. Ia menunggu Chanyeol hingga nafas pemuda itu lebih teratur sebelum membalik posisi mereka hingga Chanyeol terbaring di bawahnya.

"I love you more." Bisik Yifan sebelum menghirup aroma yang menguar dari leher Chanyeol.

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Chanyeol kembali bergejolak. Gelombang kedua heatnya telah datang dan Yifan menggeram ketika Chanyeol menyempitkan lubangnya.

"Chanyeol.." Yifan mengerang sebelum ia mengangkat tubuh bagian atasnya agar tidak menindih tubuh Chanyeol dan mulai menggerakkan kembali punggungnya.

Chanyeol kembali mengerang ketika ia menerima kenikmatan bertubi-tubi itu.

BERSAMBUNG

Heuheu.

Ngumpet aja kali ya . huks nggak kapok2 nulis yang beginian, padahal sendirinya kalo liat couple PDA rasanya mau gumoh wkwkwkwk #bukancurhatsumpah

Btw terima kasih untuk yang sudah setia membaca dan meninggalkan review. Your reviews and feedbacks are like my favorite things to read and please forgiv me for being such an lazy ass and never reply any of it but I swear I read them.

Muuciiiii, Luvs. Maapkeun kalo ada typos yes, manusia memang gudangnya salah #lah

Mummumumuuuuuuu~ #digampar

Dengan cinta,

Mt_Chan