Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: PWP. Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol.
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART IV-
Wu Yifan membuka matanya dengan tiba-tiba ketika ia merasakan sebuah lengan menimpa wajahnya. Pemuda yang tahun ini akan beranjak ke usia 24 tahun itu melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pagi. Dengan hati-hati Yifan memindahkan tangan itu kembali ke pemiliknya sebelum ia merubah posisi tidurnya menjadi miring. Chanyeol yang semula tidur dengan posisi terlentang di sampingnya ikut bergerak dan kini memeluknya.
Yifan kemudian membetulkan posisi mereka hingga kini bahunya menjadi bantal tidur Chanyeol. Yifan sadar bahwa posisi itu kurang menguntungkan baginya karena bahunya pasti akan kebas setelah ini, tetapi melihat Chanyeol yang tertidur pulas dengan melingkarkan lengan dan kaki panjangnya pada tubuhnya membuat Yifan rela melakukan hal itu.
Semakin banyak Yifan menghabiskan waktu dan mengenal Chanyeol, semakin Yifan belajar bahwa pasangannya itu mempunyai kepribadian yang unik. Wajahnya yang manis dan cantik –menurut Yifan, sungguh bertolak belakang dengan suara bass yang keluar dari tenggorokan Chanyeol setiap ia bicara. Tubuhnya yang tinggi dan tegap juga sungguh tidak cocok dengan sifatnya yang terkadang masih kekanak-kanakan dan manja.
Tetapi sifat Chanyeol yang baru saja Yifan sadari malam itu adalah bagaimana pemuda itu begitu tulus mencintainya. Cinta? Mungkin jika yang memikirkan hal ini adalah Yifan yang belum mengenal Chanyeol, maka ia hanya akan menertawakannya. Tetapi Yifan yang setelah mengenal Chanyeol merasa dadanya hangat setiap kali melihat senyuman pemuda itu terkembang. Yang Yifan khawatirkan mengenai perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka adalah bagaimana kenaifan Chanyeol itu pada akhirnya akan menyakiti dirinya sendiri nanti. Dan Yifan tidak mau menyaksikan hal itu.
Maka dalam hati Yifan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjaga Chanyeol dan perasaannya, meskipun sebagai manusia biasa, ia juga sadar bahwa hal itu akan sulit dilakukan. Yifan mengeratkan pelukannya pada tubuh Chanyeol sebelum mengecup puncak kepala pemuda itu dan memutuskan untuk kembali tidur.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang dan Chanyeol masih belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan terbangun dalam waktu dekat. Sementara itu Yifan yang hari ini memutuskan untuk mengambil cuti dari kantor tetap memonitoring pekerjaannya. Sambil sesekali melihat ke arah Chanyeol yang mendengkur pelan, Yifan duduk bersandar di kepala tempat tidur memangku laptop.
Pada saat itu tiba-tiba ponsel Yifan berdering cukup keras. Pemuda itu segera menyambar ponselnya dan mengangkat panggilan itu. Sementara Yifan menerima panggilan dari sekretaris di kantor, Chanyeol terlihat menggeliat sebelum akhirnya membuka kedua matanya pelan. Melihat hal itu Yifan segera mengakhiri panggilannya dan mendekati Chanyeol.
"Hey..." Sapa Yifan sambil mengusap rambut Chanyeol yang terjatuh di dahinya ke belakang. Chanyeol mengerang pelan dan menutup kembali kedua matanya ketika rasa pening menguasai kepalanya. Belum lagi rasa mual yang menohok di perutnya membuat Chanyeol merasa seperti akan mati. Yifan mengambil segelas air putih yang sudah ia siapkan di meja nakas dan membantu Chanyeol meminumnya.
Chanyeol melihat ke sekelilingnya dan menyadari bahwa ia berada di kamar yang ia tempati bersama Yifan. Pemuda itu bisa merasakan bahwa ia tidak memakai sehelai benang pun di balik bed cover itu. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana ia bisa berakhir di tempat tidur dengan kondisi tubuh terasa seperti akan remuk. Seingatnya semalam ia menghadiri acara makan malam perusahaan Yifan.
"Jam berapa sekarang? Kau tidak ke kantor?" Tanya Chanyeol yang akhirnya membuka suaranya dengan suara serak. Tenggorokannya bahkan terasa mengerikan.
"Aku mengambil cuti hari ini—"
"Apa yang terjadi?" Potong Chanyeol sambil berusaha bangkit dan duduk. Namun sepertinya hal itu adalah sebuah kesalahan karena pinggangnya serasa akan putus ketika Chanyeol bergerak.
Yifan mengangkat salah satu alis tebalnya. "Kau tidak ingat?"
Chanyeol menggeleng. Well, di bagian ia berhubungan seks dengan Yifan semalam, Chanyeol bisa menduganya karena bercak merah di dadanya ini tidak mungkin muncul dengan sendirinya, tetapi bagian di mana kepalanya terasa akan pecah dan mual yang terus mengaduk perutnya, Chanyeol tidak mengerti.
"Aku juga tidak melihatnya sendiri, tapi sepertinya kau meminum alkohol dan mabuk semalam." Kata Yifan.
Chanyeol seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Chanyeol bahkan tidak menyukai alkohol yang dicobanya pertama kali dari gelas Yifan, dan tiba-tiba saja Yifan menyatakan bahwa ia mabuk?
"M-mabuk?" Tanya Chanyeol memastikan.
"Kenapa aku mabuk?"
Yifan mendengus dengan senyuman tergambar di wajahnya. "Kau benar-benar mau mendengarnya?"
Chanyeol mengangguk cepat. Ia pasti punya alasan kenapa ia meminum alkohol kan?
"I thought you were jealous of seeing me with my ex-boyfriend."
"Huh?" Chanyeol butuh waktu beberapa menit untuk mencerna kalimat yang baru saja Yifan katakan. Jealous? Ex-boyfriend?
Yifan yang sepertinya terhibur dengan ekspresi wajah kebingungan Omeganya itu tersenyum sebelum ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
"Mau kemana?" Tanya Chanyeol.
"Aku akan menyiapkan bath up. Mungkin kau bisa berpikir lebih jernih dan mengingat sedikit mengenai semalam setelah kau mandi?" Kata Yifan sambil mengedipkan matanya.
Chanyeol melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 12 siang. Pemuda itu menyingkap bed cover yang menutupi tubuhnya dan benar saja bahwa ia dalam keadaan telanjang. Chanyeol menemukan pahanya juga dihiasi dengan beberapa tanda kemerahan. Wajah Chanyeol memerah ketika membayangkan bagaimana tanda itu bisa berada di sana.
"Come on." Yifan yang sudah keluar dari kamar mandi kemudian menghampiri Chanyeol dan membantunya berjalan ke kamar mandi.
Yifan menyiapkan air hangat di dalam bath up dan Chanyeol menghela nafas lega ketika tubuhnya terbenam hingga sebatas dada. Yang Chanyeol tidak duga kemudian adalah bagaimana Yifan ikut melucuti pakaiannya satu per satu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Chanyeol sambil memalingkan wajahnya ketika ia disuguhi dengan tubuh sempurna Yifan terpampang di hadapannya.
"Aku sedang ber-multitasking." Kata Yifan sambil bergabung dengan Chanyeol di dalam bath up yang untungnya cukup besar untuk mereka berdua.
Chanyeol akhirnya mengalihkan wajahnya kembali pada Yifan. Pandangan Chanyeol kemudian tertuju pada bercak merah yang juga menghiasi leher Yifan, bahkan ada garis bekas kuku di dada bidangnya.
"Aku tidak tahu apakah keadaanmu yang sedang mabuk dan dalam heat adalah sebuah keberuntungan atau petaka bagiku." Ujar Yifan sambil meraih sebuah handuk basah.
Pipi Chanyeol bersemu. Seandainya ia bisa mengingat bagaimana ia memberikan tanda itu pada Yifan. Pemuda itu kemudian memekik ketika Yifan menarik lengannya hingga kini tubuhnya semakin mendekat dengan tubuh Yifan.
"Apa orang tuaku tahu kalau aku mabuk semalam?" Tanya Chanyeol dan tanpa sadar menghela nafasnya ketika Yifan mulai membersihkan tubuhnya menggunakan handuk basah yang tadi ia ambil.
Yifan menggeleng sebelum ia membalik tubuh Chanyeol hingga kini pemuda itu duduk membelakanginya. Yifan mulai menggosok punggung Chanyeol menggunakan handuk basah itu. Mandi berdua pada tengah hari bukanlah sesuatu yang romantis untuk dilakukan, tetapi here they are.
Chanyeol tanpa sadar menutup matanya dan membiarkan tubuhnya rileks. Rasa sakit kepala yang sebelumnya ia derita juga mulai berangsur-angsur menghilang. Namun ternyata rasa pening itu tergantikan dengan sebuah ingatan yang sontak membuat Chanyeol membuka kedua matanya.
Tanpa berpikir panjang Chanyeol menyikut tulang rusuk Yifan di belakangnya.
"Aw. Chanyeol, what was that for?" Yifan mengernyitkan dahinya ketika Chanyeol menoleh dan memandangnya dengan ekspresi wajah kesal.
"Kau meninggalkanku sendirian semalam dan memilih untuk duduk dengan mantan pacarmu kan?" Tuduh Chanyeol.
"H-ha?" Dari semua yang terjadi semalam, Yifan tidak habis pikir kenapa yang diingat Chanyeol untuk pertama kali adalah bagian itu. Tunggu—jadi memang benar dugaannya bahwa Chanyeol cemburu melihatnya bersama Yixing semalam. Yifan tiba-tiba meringis –entah karena rasa sakit dari sikut Chanyeol di tulang rusuknya atau karena kenyataan bahwa Chanyeol memang cemburu semalam.
"Are you jealous?" Tanya Yifan.
Chanyeol menggembungkan pipinya dan menolak untuk menatap Yifan yang meletakkan dagunya di atas bahunya.
"Chanyeol, please. Kau dengar sendiri dari Yixing kalau kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Kau sendiri bilang kalau kau tidak khawatir." Kata Yifan memberikan penjelaskan.
Tetapi Chanyeol justru melipat kedua tangannya di atas dadanya. Yifan tidak tahu kalau dalam keadaan marah pun Chanyeol bisa terlihat se-cute ini.
"Aku memang tidak khawatir, tetapi aku tidak suka kalau kau duduk dengannya. Yixing juga sepertinya masih menyukaimu." Bantah Chanyeol yang membuat Yifan mendengus.
"Yixing hanya sedang mempermainkanmu, love. Kau lihat sendiri aku tidak duduk berdua saja dengannya, ada orang lain di sana." Yifan mengecup pipi Chanyeol yang kemudian Chanyeol usap menggunakan tangannya. Pemuda itu sepertinya masih belum puas dengan pembelaan yang Yifan utarakan.
"Tapi tetap saja—"
"I love you." Ucap Yifan yang membuat wajah, telinga dan leher Chanyeol memerah seketika.
"That's what you said to me last night." Tambah Yifan sebelum melingkarkan lengannya pada pinggang Chanyeol di dalam air, memerangkap pemuda itu dalam pelukannya.
Chanyeol kehabisan kata-kata. Yifan pasti sedang mengarang cerita sekarang karena tidak mungkin ia mengatakan hal itu pada Yifan. Namun otak Chanyeol kala itu seperti sedang membuat lelucon ketika tiba-tiba isi kepalanya memutar kembali kejadian dimana Yifan menghentakkan kejantanan di lubangnya dan Chanyeol meneriakkan kata-kata itu.
"Oh god." Chanyeol menelan ludahnya dan serasa ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam bath up yang airnya sudah mulai dingin itu.
"Kau ingat sekarang?" Tanya Yifan.
Chanyeol memejamkan matanya dan berusaha mengelak ingatan yang terus berputar di kepalanya.
"You love me last night but –do you love me, now?" Bisik Yifan sambil mengecup leher dan daun telinga Chanyeol.
Dengan wajah yang masih memerah, Chanyeol kemudian mengangguk.
"I love you too." Bisik Yifan sebelum menggigit pelan telinga Chanyeol membuat pemuda yang lebih muda darinya itu bergidik.
Ini adalah bulan ketiga pernikahan mereka dan Chanyeol tidak sabar untuk melihat hari-harinya ke depan dilalui bersama Yifan.
.
.
.
"Chanyeol?"
"Hm?"
"Chanyeol?"
"Hm?"
"Chanyeol –stop."
Chanyeol akhirnya meletakkan ponselnya dan mendapati sahabatnya, Sehun, memandangnya dengan sinis. Chanyeol mengernyit.
"What?"
"Berhenti menatap ponselmu dan terkikik seperti anak SMA sedang puber. Disgusting." Komentar Sehun sembari menenggak Bubble Teanya tanpa menggunakan sedotan.
Chanyeol mendengus. "You are just jealous. Dan asal kau tahu, kita baru lulus SMA beberapa bulan yang lalu."
"Yeah? Shut up." Balas Sehun.
Chanyeol memutar kedua matanya melihat tingkah Sehun yang jika sedang dalam bad mood, bisa berubah menjadi super menyebalkan. Namun setelah berteman dengan pemuda itu sejak SMP membuat Chanyeol sudah tidak kaget lagi dengan sikap sahabatnya itu.
Sehun meneleponnya sebelum kuliah dimulai dan mengajaknya makan siang bersama. Meskipun mereka berada di satu kampus, tetapi jurusan yang mereka ambil berbeda sehingga mereka jarang bertemu satu sama lain.
"Kau mau bergabung ke tim baseball? Aku mulai bosan bermain futsal." Kata Sehun berusaha memperbaiki moodnya sendiri.
Siang ini Chanyeol mengetahui bahwa Sehun baru saja putus dari kekasihnya yang seorang Omega. Hal ini jarang terjadi dalam hubungan Alpha dan Omega mengingat ikatan kedua tipe itu tidak bisa diputuskan begitu saja. Apalagi setahu Chanyeol, Sehun yang seorang Alpha, sudah meng-klaim kekasihnya.
Chanyeol mengangkat bahunya sementara ia menyeruput ice Americano yang ia pesan. Sesekali matanya akan melirik ke arah ponselnya, melihat apakah Yifan sudah membalas pesannya.
"Bagaimana kalau Rugby? Tapi aku tidak tahu apakah Yifan akan menyetujuinya kalau aku bergabung dalam tim." Kata Chanyeol.
"Seriously? Kau juga butuh persetujuannya untuk bermain dalam tim?" Sehun memandang sahabatnya itu dengan pandangan tidak percaya.
"Well, sebenarnya dia akan membiarkan aku melakukan apapun yang aku suka, tetapi kadang pendapatnya lebih masuk akal dan dia juga lebih dewasa, jadi aku pikir aku tetap harus bertanya padanya terlebih dahulu." Jelas Chanyeol.
Mata besar pemuda itu berbinar ketika melihat ponselnya menyala dan menampakkan notifikasi pesan masuk. Tanpa menunggu lama, Chanyeol membuka pesan itu dan melihat sebuah sticker berbentuk love yang Yifan kirimkan padanya untuk membalas pesannya tadi. Chanyeol tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
"Kau mulai bergantung padanya." Kata Sehun mengalihkan perhatian Chanyeol.
"No, I'm not." Sanggah Chanyeol.
"Yes, you are." Bantah Sehun tidak mau kalah.
"Aish." Chanyeol meletakkan kembali ponselnya setelah membalas pesan Yifan menggunakan sticker yang sama.
Meskipun Chanyeol berusaha untuk mengabaikan kalimat yang Sehun utarakan, namun hal itu tetap mengganggu pikirannya. Benarkah ia mulai bergantung pada Yifan? Chanyeol tanpa sadar menghela nafas.
"Sekarang kau mulai sadar." Kata Sehun seperti bisa membaca pikiran Chanyeol.
"But he loves me." Kata Chanyeol sambil memangku wajahnya menggunakan tangan kirinya.
"Tapi itu bukan berarti kau bisa bergantung padanya dalam segala hal. Kau juga harus bisa memutuskan sendiri apa yang kau inginkan. Nantinya kau juga akan mewarisi perusahaan Ayahmu, ingat?"
Chanyeol menggembungkan pipinya mengingat hal itu.
"Aku sudah berpikir untuk menggabungkan perusahaan Ayahku dengan milik Yifan dan menyerahkan kepemimpinan padanya. Aku tidak tertarik untuk berbisnis." Kata Chanyeol.
"Tapi kau mengambil jurusan itu di kuliahmu." Gumam Sehun.
"Ugh, right." Chanyeol melipat kedua tangannya di atas meja sebelum menenggelamkan wajahnya.
"Apa aku harus ganti jurusan kuliah?" Chanyeol kembali mendongak dan menatap Sehun dengan pandangan seperti anjing terbuang.
Sehun memutar matanya sambil menggelengkan kepalanya. Ia tiba-tiba menyesal memberikan masukan kepada Chanyeol dan baru ingat bahwa pemuda itu sering bersikap overthinking.
"Mungkin kau harus membicarakannya dengan Yifan." Kata Sehun.
Chanyeol mengernyitkan dahinya dan menatap sahabatnya itu dengan kesal.
"Kau sendiri bilang aku tidak seharusnya bergantung pada Yifan, dan sekarang kau menyarankan aku untuk membicarakan ini dengannya?"
"Hm, maksudku kau tidak seharusnya bergantung padanya untuk hal-hal yang kecil, tetapi untuk masalah perusahaan, kau tidak bisa untuk tidak berdiskusi dengannya, kay?" Sehun menenggak kembali bubble teanya.
Lagi-lagi Chanyeol hanya bisa menghela nafas. Sahabatnya itu benar-benar tidak membantu. Tetapi Chanyeol kemudian sadar bahwa ia tidak seharusnya mendengarkan Sehun yang mungkin saja masih menderita setelah putus dari kekasihnya dan sebenarnya mempunyai motif tersembunyi dengan mengatakan hal itu agar ia ikut menderita dengannya.
"You are the worst." Kata Chanyeol sebelum melirik ponselnya lagi.
Kali ini Chanyeol menerima pesan baru dari Yifan yang menanyakan apakah ia sudah makan siang. Tidak ingin menghabiskan waktu dengan berbalas pesan, Chanyeol memilih untuk menelepon Yifan.
"Yes, love?" Chanyeol terkikik ketika mendengar suara Yifan dari seberang.
Meskipun suara Yifan tidak asing lagi baginya, namun sensasi yang ditimbulkan dari panggilan-panggilan Yifan padanya membuat rambut-rambut halus di belakang leher Chanyeol berdiri.
"Aku sedang makan siang dengan Sehun. Apa kau sendiri sudah makan?" Tanya Chanyeol.
Sehun yang memainkan gelas Bubble Teanya membuat gestur seperti akan muntah mendengar percakapan Chanyeol dengan Alphanya. Chanyeol menendang kaki Sehun di bawah meja melihat hal itu.
"Um, Ayahmu mengajakku makan siang hari ini. Kami akan bertemu lima belas menit lagi." Jawab Yifan.
Ekspresi wajah Chanyeol berubah keheranan. "Appa mengajakmu makan siang?"
"Yup."
Entah kenapa Chanyeol merasa ada yang aneh dengan hal itu. Tetapi mungkin saja Ayahnya memang hanya ingin makan siang dengan Yifan?
"Apa kau mau aku ikut denganmu?" Kata Chanyeol.
Yifan tersenyum mendengar hal itu.
"Tidak perlu. Kau masih ada kelas setelah ini kan? Aku akan baik-baik saja. Ayahmu tidak akan menggigitku."
Kali ini Chanyeol yang tersenyum mendengarnya.
"Alright, then. I'll see you later."
"Sure. I love you." Chanyeol bergidik mendengarnya.
"Um.. I love you too." Jawab Chanyeol pelan sebelum menutup ponselnya.
Sehun sudah menutup telinganya menggunakan kedua tangannya sementara Chanyeol kembali menendang kakinya.
"Yah!" Chanyeol terus menendang kaki Sehun di balik meja.
"Pfffttttt." Sambil menghindari tendangan Chanyeol, Sehun menutup rapat kedua mulutnya yang sudah tidak tahan untuk tertawa.
BERSAMBUNG
Please tell me if it gets boring! Teeheeee another chapter nggak penting tapi yup, setelah bertapa beberapa hari dan mbayangin mereka enaknya diapain, akhirnya lahirlah chapter ini. Sempet berkali-kali jambak-jambak rambut sampe gigit-gigit bantal pas bagian mereka ngomong ayaflu ayaflu mulu. Hiks T_T nggak kukuuuuuuuu!
Terima kasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan review, please accept my hugs and kisses XOXO
Dan tbh, I don't know where this fic are going or when it is gonna end, I just enjoy writing them in this verse and I hope that I can continue till they're old #kemudiandigampar #mautamatsampeberapachaptermut
Hehe
Dengan cinta,
Mt_chan.
