Pairing: Kris X Chanyeol

Disclaimer: Characters belong to their own.

Warnings: PWP. Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol.

.

.

Mt_Chan proudly presents...

.

.

.

"Make Us Forever"

-PART V-

Nafas kedua pemuda itu memburu. Desahan demi desahan saling bersahutan mengisi ruangan kamar yang cukup luas itu. Chanyeol menumpukan tubuhnya dengan tangan dan lututnya di atas tempat tidur sementara Yifan mencengkeram pinggangnya dengan kejantanannya yang ia gerakkan keluar masuk di dalam lubang milik Chanyeol. Yifan tanpa sadar menggeram ketika Chanyeol menghimpit kejantanannya hingga ia hampir tidak bisa bergerak. Tetapi Yifan justru menghentakkan pinggulnya keras hingga membuat kejantanannya menyentuh prostat Chanyeol hingga tangan pemuda itu bergetar dan tidak mampu lagi menumpu tubuh bagian atasnya.

"Yifan!" Chanyeol mendesah menggunakan suara bass khas miliknya membuat bulu-bulu halus di tubuh Yifan seketika berdiri.

Yifan kemudian menundukkan tubuhnya dan mengecup telinga Chanyeol yang sensitif. Chanyeol menggigit bibir bawahnya ketika sebuah desahan sudah akan meluncur dari mulutnya ketika Yifan menggigit kulit di bagian belakang telinganya sementara pinggulnya terus menghentak.

Gerakan Yifan yang terus menyerang prostat Chanyeol membuat pemuda itu menggigit bantal di bawahnya demi meredam teriakannya ketika ia mencapai klimaks. Tubuh Chanyeol bergetar ketika Yifan mengeluarkan cairan spermanya di dalam lubang milik Chanyeol. Cairan kental itu terasa hangat ketika Yifan mengeluarkan penisnya dan membuat cairan itu ikut mengalir keluar. Nafas keduanya terengah. Chanyeol menggeliat ketika Yifan mengecup tanda klaim di lehernya.

"Kau mau mandi?" Tanya Yifan sambil bangkit dari tempat tidur dan meraih tissue basah yang tersedia di meja nakas.

Chanyeol yang masih lemas dan terengah-engah mengangkat kepalanya untuk melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul 23.24. Chanyeol menggeleng pada Yifan yang sedang membersihkan tubuhnya.

"Aku lapar." Gumam Chanyeol sebelum meletakkan kembali kepalanya di atas bantal sementara tubuhnya masih tengkurap di atas tempat tidur.

Yifan tertawa tidak percaya.

"Aku akan mandi duluan setelah itu aku akan membuatkan ramen untukmu kalau kau mau mandi setelah ini." Kata Yifan sembari berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar mereka.

"Kalau aku tidak mau?" Chanyeol kembali mengangkat kepalanya.

"Kau tidur di luar." Ucap Yifan sebelum menutup pintu kamar mandi.

"Huh?"

.

.

.

Jika sebelum menikah hal pertama yang Chanyeol lakukan setelah bangun tidur adalah mengecek ponselnya, maka kini setelah menikah hal pertama yang Chanyeol cari adalah keberadaan Alphanya yang selalu secara ajaib bangun terlebih dahulu. Tidak peduli jam berapa pun mereka pergi tidur pada malam harinya, Yifan selalu bisa bangun lebih awal dari Chanyeol.

"Yifaaannnn." Panggil Chanyeol sambil mengucek mata kirinya.

Ketika Yifan tidak juga menyahut, pemuda yang baru saja duduk di bangku kuliah itu segera bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar yang ia tempati bersama pasangannya itu.

"Tidurmu nyenyak?" Tanya Yifan dari meja makan ketika Chanyeol menemukannya sedang sarapan di sana.

Tanpa berkata apapun Chanyeol kemudian membuka kedua kakinya dan duduk di atas paha Yifan sebelum menenggelamkan wajahnya pada leher Alphanya itu. Yifan meletakkan garpu yang ia pakai untuk memakan pancake di atas piring. Tangannya kemudian ia gunakan untuk mengusap punggung Chanyeol.

"Aku kira kau sudah berangkat." Kata Chanyeol.

"Well, aku sebenarnya akan melakukan hal itu kalau dalam lima menit kau tidak bangun." Kata Yifan yang segera ditanggapi Chanyeol dengan menepuk dadanya.

Yifan tertawa sebelum meraih cangkir kopinya.

"Chanyeol..." Yifan meletakkan kembali cangkir kopinya dan menahan tangan Chanyeol yang terus mengucek matanya. Ia sudah sering memperingatkan Omeganya itu untuk tidak mengucek kedua matanya setelah bangun tidur. Chanyeol mengerucutkan bibirnya sebelum kembali meletakkan kepalanya di atas bahu Yifan.

Tangan Chanyeol kemudian menyentuh jakun di leher Yifan dan menekan-nekannya menggunakan jari telunjuknya.

"Bagaimana kalau kau bolos kerja hari ini?" Kata Chanyeol tanpa menghentikan gerakan tangannya di leher Yifan.

"Baba akan membunuhku." Kata Yifan sambil berusaha menyingkirkan tangan Chanyeol.

"Aku akan bicara pada Baba kalau kau tidak bisa berangkat kerja hari ini." Kata Chanyeol.

"I hate it when you go to work." Tambah Chanyeol.

Yifan mendengus. "Terdengar seperti lirik lagu untukku."

Chanyeol mengerucutkan bibirnya sebelum menekan jakun di leher Yifan cukup keras hingga membuatnya memekik. Chanyeol terlihat seperti bayi besar yang menggelendot di atas pangkuan Yifan. Namun ukuran dan postur tubuh keduanya yang tidak terlalu berbeda jauh membuat mereka begitu cocok untuk satu sama lain.

"Lagipula hari ini sudah hari jumat. Sabtu dan Minggu aku milikmu." Kata Yifan menekan pinggang Chanyeol membuat pemuda itu kemudian bangkit dari pangkuannya.

"Aku ada pertandingan futsal hari Sabtu, ingat?" Chanyeol mengambil gelas dari atas rak dan bersiap membuat susu cokelat untuk dirinya sendiri.

"I'll go with you, then." Kata Yifan sambil membetulkan kemeja dan jasnya.

"Really? Yay!" Chanyeol terkesiap dan menghentikan seluruh kegiatannya untuk menghampiri Yifan.

Pemuda dengan warna rambut hitam itu tidak bersiap ketika Chanyeol menangkup kedua pipinya sebelum mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Yifan tersenyum ketika Chanyeol membuat gestur berbentuk hati menggunakan kedua tangannya yang ia angkat di atas kepalanya.

"Dan kau belum bercerita padaku tentang makan siangmu dengan Appa." Kata Chanyeol yang kembali memusatkan perhatiannya pada susu cokelat yang sedang ia buat.

Ekspresi wajah Yifan yang semula rileks kembali berubah stoic. Pemuda itu kemudian mengecup pipi kiri Chanyeol sebelum bersiap untuk berangkat kerja –atau menghindari topik yang baru saja Chanyeol utarakan.

"Kita bicarakan itu nanti malam?" Tawar Yifan.

Chanyeol yang tidak merasakan ada yang aneh dengan sikap Yifan kala itu hanya mengangkat bahunya. Segelas susu cokelat hangat lebih menarik perhatiannya.

"Baiklah."

"I love you." Yifan meraih tas kantor dan kunci mobilnya sebelum berjalan keluar.

"love you." Balas Chanyeol sebelum menenggak susu cokelatnya hingga habis.

Selama perjalanan menuju kantor, Yifan terus memikirkan bagaimana ia akan menceritakan isi dari makan siang yang ia lakukan bersama Ayah mertuanya kemarin. Tidak ada topik yang terlalu serius sebenarnya, toh apa yang mereka bicarakan juga untuk kebaikan Chanyeol, hanya saja Yifan tidak tahu bagaimana ia harus memulai dengan Chanyeol tanpa membuat pemuda itu salah paham.

*flashback*

Yifan memastikan bahwa ia datang tepat waktu di restoran yang Mr. Park rekomendasikan untuk makan siang mereka. Pemuda itu beberapa kali melirik ke arloji bvlgari miliknya sebelum masuk ke dalam restoran khas Amerika. Ia menyebutkan namanya pada resepsionis sebelum seorang pelayan mengantarkannya ke meja pesanannya. Tak sampai 5 menit kemudian, Mr. Park muncul dari lobi restoran dan bergabung bersama Yifan.

Seorang pelayan menuangkan champagne pada gelas Yifan dan wine pada gelas Mr. Park setelah mereka selesai memesan. Mr. Park terus tersenyum hingga kedua matanya menyipit –dan entah kenapa, hal itu justru membuat sesuatu dalam diri Yifan lebih terjaga. Tetapi ia bukanlah seorang Alpha yang mudah terintimidasi.

"Bagaimana kabarmu dengan Chanyeol? Aku tahu pasti sulit sekali menjaga dia." Ujar Mr. Park berbasa-basi seolah ini adalah pertemuan pertamanya dengan menantunya itu setelah pernikahan.

Yifan tersenyum. "Chanyeol anak yang baik. Aku tidak mengalami kesulitan hidup dengannya."

Mr. Park mengangguk sebelum menyesap winenya.

"Kau pasti heran kenapa aku mengajakmu makan siang di luar berdua saja. Kau tidak keberatan kan?"

Yifan kembali tersenyum mendengar pertanyaan klise laki-laki di hadapannya.

"Tidak masalah, Mr. Park. Chanyeol yang sebenarnya khawatir ketika aku memberitahunya mengenai makan siang ini."

"Chanyeol tahu mengenai hal ini?"

Yifan mengangguk.

Namun sebelum Mr. Park kembali melanjutkan pembicaraannya, pesanan mereka kemudian datang. Yifan mulai mengambil sendok dan garpunya setelah Mr. Park memasukkan sepotong steak ke dalam mulutnya –sebuah manner yang ia pelajari selama beberapa tahun tinggal di Korea. Ia harus menunggu orang yang lebih tua darinya makan terlebih dahulu sebelum ia sendiri memulai.

"Aku sebenarnya cukup terkesan dengan sikapmu yang begitu sopan dan mandiri. Aku tahu pasti orang tuamu juga memanjakanmu selama ini, tetapi mereka berhasil mendidikmu dengan baik."

Yifan menunggu hingga Mr. Park menyampaikan maksud sebenarnya dari kalimat-kalimat pujian untuknya barusan.

"Aku juga masih tidak menyangka kau tertarik dengan Chanyeol yang suka merengek dan manja itu. Aku yakin betul dia hanya akan merepotkanmu."

Yifan lagi-lagi hanya tersenyum. Mr. Park menghela nafas.

"Kau pasti muak mendengar aku bicara barusan."

Yifan hampir tersedak daging domba muda yang masuk ke tenggorokannya begitu mendengar pernyataan itu dari mulut Ayah mertuanya. Mr. Park tersenyum.

"Aku sebentar lagi akan mengajukan pensiun. Aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk menyerahkan saham yang Chanyeol miliki di perusahaan padanya."

Kali ini Yifan mengernyit. "Chanyeol baru saja masuk kuliah."

"Kau benar. Tapi kau juga mulai bekerja di perusahaan Ayahmu pada usia itu. Chanyeol bisa melakukannya sambil ia menyelesaikan kuliahnya. Tapi kau tahu sendiri, anak itu terlalu banyak melakukan hobinya bermain game, bermain olahraga..."

Yifan meraih gelas champagnenya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.

"Kau mungkin juga sudah mendengar tentang rumor bahwa perusahaan kita akan di-merger. Well, aku tidak keberatan dengan hal itu. Aku percaya padamu, tetapi aku ingin Chanyeol juga tetap ikut ambil bagian dalam perusahaan. Aku ingin anak itu belajar tanggung jawab."

"Appa ingin aku mengajari Chanyeol?" Yifan yang sudah tidak tahan dengan basa-basi Mr. Park akhirnya mengutarakan kesimpulannya. Panggilan Appa ia gunakan ketika sadar bahwa meskipun pembicaraan ini terkesan formal dan membicarakan tentang perusahaan, tetapi pembicaraan ini lebih kepada pembicaraan seorang Ayah pada anaknya.

Mr. Park menarik nafas dalam-dalam. "Kau bisa membaca pikiranku. Selama ini aku kesulitan untuk mengungkapkan hal ini pada Chanyeol. Ia pasti akan merengek dan menolak hal ini dengan alasan kuliah."

Yifan tahu bahwa Mr. Park bisa mengungkapkan hal ini dengan mudah pada Chanyeol. Pemuda itu juga pasti akan menuruti permintaan orang tuanya. Yifan tiba-tiba berkesimpulan bahwa hal ini Mr. Park lakukan untuk mengetes apakah ia bisa membimbing Chanyeol dengan baik.

"Aku akan mencobanya." Jawab Yifan setelah ia menyelesaikan makanannya dan menyeka mulutnya menggunakan selembar tissue.

"You are the best." Mr. Park mengacungkan jempolnya ketika Yifan hanya bisa tersenyum kecil.

"Dan oh! Ada satu hal lagi."

Yifan menatap ke arah Mr. Park.

"Apa Umma sudah bicara denganmu?"

"Mengenai apa?" Yifan berusaha menangkap arah pembicaraan Mr. Park selanjutnya.

Mr. Park tampak ragu-ragu. "Uhm, mengenai kalian –uhm, apa kalian berniat untuk langsung mempunyai anak atau—"

Sikap Mr. Park barusan mengingatkan Yifan pada Chanyeol ketika pemuda itu sedang berusaha membicarakan topik canggung dengannya.

"Umma menyarankan agar kami menunda untuk mempunyai anak. Umma pikir Chanyeol masih terlalu muda dan—"

"Aku tidak setuju dengan hal itu, asal kau tahu." Potong Mr. Park.

Yifan mengangguk. "Aku sudah membicarakan hal itu dengan Chanyeol dan dia setuju dengan tidak menunda untuk mempunyai anak –maka dari itu kami tidak menggunakan pengaman ketika berhubungan seks." Tegas Yifan.

Wajah Mr. Park memerah. Yifan akhirnya tahu dari mana Chanyeol mendapatkan kebiasaan itu ketika ia malu.

"Okay. Well done." Komentar Mr. Park dengan salah tingkah.

Yifan menahan diri untuk tidak tersenyum.

*end of flashback*

.

.

.

Sementara itu, Chanyeol yang hari ini memiliki 3 jadwal kelas sekaligus tanpa sengaja bertemu dengan Sehun yang sedang duduk menunggu jadwal selanjutnya. Sebuah ide jahil muncul di benak pemuda itu. Sehun tampak sibuk dengan ponselnya, dan menggunakan kesempatan itu, Chanyeol mengendap-endap untuk mengejutkannya dari belakang ketika pada saat yang bersamaan Sehun menoleh ke belakang. Bukannya Sehun yang terkejut, tetapi kala itu justru Chanyeol yang merasa jantungnya seperti akan lepas dari dadanya hingga membuatnya terhuyung ke belakang.

Tempat duduk yang berada di samping koridor kelas itu merupakan jalan utama sehingga banyak mahasiswa-mahasiswa lain yang berlalu lalang. Sialnya, ketika Chanyeol hampir terjatuh ke belakang, dan bukannya pantatnya yang terjerembab ke lantai, ia justru menabrak seseorang.

Sehun sudah menahan perutnya yang terasa kaku akibat tertawa melihat adegan itu. Sementara Chanyeol yang akhirnya menemukan keseimbangannya segera meminta maaf pada orang yang ditabraknya. Pemuda yang Chanyeol tabrak, dengan seragam dan tongkat baseball di tangannya, hanya tersenyum.

"Oh my god." Sehun bergumam begitu menyadari siapa yang Chanyeol tabrak.

Setelah pemuda dengan mata sipit dan berpostur tubuh lebih pendek dari Chanyeol itu akhirnya berjalan meninggalkan tempat itu –dengan Chanyeol yang berkali-kali membungkuk meminta maaf, Sehun segera menarik tangan Chanyeol.

"Kau tahu siapa dia?" Tanya Sehun –meskipun ia sudah tahu jawabannya.

Chanyeol memperhatikan punggung pemuda yang tadi ia tabrak sebelum mengangkat bahunya.

"It's Xiumin. Dia kapten tim baseball." Jelas Sehun.

Chanyeol mengernyit dan memandang Sehun dengan kebingungan. "Okay –and?"

Sehun sudah akan menepuk dahinya ketika ia menyikut perut Chanyeol yang berdiri di sampingnya. Xiumin yang sudah berjalan beberapa meter dari kedua pemuda itu menolehkan kepalanya kembali sebelum melemparkan senyuman –pada Chanyeol yang hanya mengedipkan kedua mata besarnya tanpa ekspresi.

"Oh my god. He's smiling at you." Goda Sehun ketika Chanyeol menyadari maksud sahabatnya itu.

"Huh? Kenapa dia tersenyum padaku? Oh my god. Dia pasti masih marah karena aku tabrak tadi. Apa kita sebaiknya mengundurkan diri dari tim?" Ujar Chanyeol panik.

Sepertinya baru kemarin ia mendaftar untuk masuk ke dalam tim baseball dengan Sehun dan hari ini ia sudah membuat masalah dengan kapten timnya.

"You idiot." Sehun yang sudah tidak tahan lagi kemudian mendorong dahi Chanyeol sebelum kembali fokus untuk mengupload foto anjing kesayangannya ke internet.

"Kau datang bertanding besok?" Tanya Chanyeol sambil melirik jam di ponselnya dan menghitung bahwa ia masih punya waktu beberapa menit sebelum kelas dimulai.

Sehun mengangkat bahunya. "Kau?"

"Aku sudah berjanji pada Suho-hyung untuk bergabung dalam tim futsal besok dan uhm, kau tau—"

"Tidak." Potong Sehun sebelum Chanyeol menyelesaikan kalimatnya.

"Yifan's coming." Lanjut Chanyeol dengan antusias.

Sehun hanya memandangnya dengan bosan. "Then I'm definitely not coming."

"What? Why?" Protes Chanyeol. Temannya di tim futsal bukan hanya Sehun, tetapi rasanya aneh setelah melakukan hampir sebagian hal bersama dan sahabatnya itu tidak ikut bertanding.

"Kau pasti akan menempel padanya sepanjang, dan bukannya fokus bertanding, kau akan lebih tertarik untuk melihat ke arah Yifan."

Chanyeol sudah akan memberikan pembelaan namun mulutnya hanya membuka dan menutup tanpa ada suara yang keluar. Semenjak putus dari pacarnya, Sehun sering kesal melihat pasangan lain melakukan PDA di hadapannya. Well, Chanyeol tidak bisa menyalahkan sikap sahabatnya itu karena sebelum menikah dengan Yifan, ia juga sering protes setiap kali Sehun bermesraan dengan pacarnya di hadapannya.

"You are no fun." Chanyeol menjulurkan lidahnya sebelum meninggalkan Sehun untuk masuk ke dalam kelas.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam ketika Chanyeol masuk ke dalam rumah setelah menyelesaikan kuliahnya. Apartemen masih dalam keadaan gelap dan hal itu berarti Yifan juga belum pulang dari kantor. Setelah meletakkan Mac book dan buku-buku yang ia bawa, Chanyeol memutuskan untuk mandi.

Selama lima belas menit menghabiskan waktu untuk membersihkan dirinya, Chanyeol keluar dari kamar mandi mengenakan sebuah bathrobe dengan rambut masih basah. Pemuda itu menemukan kemeja yang tadi Yifan kenakan untuk berangkat ke kantor sudah berada di tumpukan pakaian kotor. Chanyeol tersenyum dan berlari kecil untuk menemukan Alphanya itu.

"Hey..." Sapa Chanyeol ketika ia menemukan Yifan sedang mengaduk sesuatu di dalam panci di dapur.

Yifan menoleh dan tersenyum pada Chanyeol sebelum kembali fokus pada pekerjaan di hadapannya. Chanyeol yang berdiri di ambang pintu dapur memperhatikan punggung Yifan yang bidang dan sepertinya begitu nyaman untuk dipeluk. Chanyeol terlihat ragu-ragu sebelum memberanikan diri untuk menghampiri pasangannya itu.

Yifan tidak begitu terkejut ketika Chanyeol melingkarkan kedua lengannya di perutnya sementara kepalanya ia tempelkan pada punggungnya.

"Kau membuat kaosku basah." Komentar Yifan yang sudah berganti pakaian dengan memakai sebuah kaos dan celana piyama panjang.

"I miss you." Tapi Chanyeol justru mengeratkan pelukannya dan menyamankan kepalanya yang menempel pada punggung Yifan. Ia tidak peduli ketika rambutnya yang masih basah menempel pada kaos Yifan.

Kedua sudut bibir Yifan tertarik ke atas tanpa bisa ia tahan. Yifan bisa mencium aroma Omega Chanyeol bahkan ketika aroma cokelat cair yang sedang ia aduk di dalam panci mengisi ruangan dapur itu.

"Cepat ganti pakaian dan aku akan menyiapkan sesuatu untukmu." Kata Yifan sebelum mematikan kompor.

Ia kemudian berbalik dan meletakkan tangannya pada leher Chanyeol sebelum mengecup singkat bibir merahnya. Chanyeol berlari kembali ke dalam kamar untuk berpakaian.

Ketika Chanyeol keluar dari kamar, Yifan sudah duduk di sofa ruang keluarga dengan tv yang menyala dengan volume kecil. Di atas meja, tersedia sebotol champagne yang dimasukkan ke dalam mangkuk berisi es batu, dua gelas kosong, semangkuk cokelat cair dan strawberry segar.

"What was this for?" Tanya Chanyeol ketika ia duduk di samping Yifan.

"Nothing." Yifan mengambil botol champagne itu dan menuangkannya pada gelas kosong yang tersedia.

"Kalau gelas yang satunya untukku, ku rasa kau sudah lupa bagaimana efek minuman itu padaku." Kata Chanyeol dengan horor ketika mengingat tubuhnya yang tidak terlalu bisa menerima alkohol dengan baik.

"Then it's all for me." Yifan menenggak salah satu gelas sebelum meraih gelas lain dan melakukan hal yang sama.

Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya sebelum meraih buah favoritnya dan mencelupkannya pada cokelat cair yang sudah Yifan siapkan.

Yifan menuangkan kembali minuman berwarna putih keemasan itu ke dalam gelas. Yifan kemudian meraih sebuah strawberry, mencelupkannya pada cokelat cair dan memasukkannya ke dalam mulutnya. setelah itu Yifan kembali menyesap champagne di tangannya.

"That's how you're supposed to eat it." Kata Yifan sementara Chanyeol hanya memperhatikan dengan setengah hati.

Melihat Yifan yang duduk bersandar pada sofa, Chanyeol mengangkat kedua kaki jenjangnya dan meletakkannya di atas paha Yifan. Chanyeol meringis ketika yifan menoleh ke arahnya.

Yifan menenggak champagne yang tersisa di gelas sebelum mendekatkan wajahnya pada Chanyeol yang sedang menjilat sisa cokelat dari bibirnya.

Yifan meraup bibir merah Chanyeol dan memerangkapnya dengan bibirnya sendiri. Chanyeol bisa merasakan champagne itu di dalam mulut Yifan. Chanyeol mengerang dan menyesap lidah Yifan yang masuk ke dalam mulutnya. Ciuman itu berantakan tetapi mereka berdua begitu larut di dalamnya hingga salah seorang di antara mereka menghentikan pautan kedua bibir karena kebutuhan akan oksigen.

Yifan tertawa ketika bibir Chanyeol terlihat basah dan memerah. Chanyeol yang sudah berhasil mengatur kembali nafasnya kemudian menyamankan duduknya hingga ia bersandar penuh pada sandaran sofa sebelum tangannya menarik kepala Yifan untuk menautkan bibir mereka kembali.

Namun kali ini ciuman itu tidak berlangsung lama ketika Yifan melepaskan bibirnya. Tujuan awal pemuda itu menyiapkan semua ini adalah untuk memulai pembicaraan dengan Chanyeol mengenai masalah perusahaan, dan jika ciuman itu terus berlanjut Yifan yakin rencananya akan gagal.

"Kau ingin tahu apa yang aku bicarakan dengan Appa saat makan siang itu kan?"

Chanyeol mengangguk. Ia masih melingkarkan kedua lengannya pada leher Yifan dengan keadaan kakinya yang juga masih sama.

"Appa akan segera pensiun."

Chanyeol mengedipkan kedua mata besarnya perlahan. "Okaayy."

Yifan memperhatikan baik-baik ekspresi wajah Chanyeol sebelum ia menjatuhkan bomnya.

"Dia ingin aku mulai mengajarimu untuk menghandle perusahaan."

Kali ini Chanyeol melepaskan diri dari Yifan dan menegakkan duduknya.

"Maksudmu aku bisa mulai bekerja denganmu?" Tanya Chanyeol memastikan.

Yifan mengernyitkan dahinya sebelum menjawab, "Yes?"

Kedua mata Chanyeol berbinar sebelum ia mengangkat kedua tangannya dan berteriak, "Yay!"

Yifan tidak habis pikir dengan reaksi Chanyeol kala itu. Ia duga Chanyeol akan menolak mentah-mentah ide itu karena hal itu berarti ia harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja dan mengurangi kegiatan selain itu. Atau tunggu—

"Kau senang mendengar hal itu?" Tanya Yifan.

"Maksudmu di mana aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu denganmu?"

Jadi Chanyeol terlihat antusias pada bagian itu. Yifan bahagia tentu saja, tetapi ia ingin Chanyeol mengerti.

"My love, itu juga berarti kau harus mengurangi kegiatanmu selain di kantor dan kuliah. Waktumu untuk bermain futsal, bermain game..."

"Huh?"

Sebanyak Chanyeol menyukai ide tentang menghabiskan waktu bersama Yifan, Chanyeol juga menyukai hobinya.

BERSAMBUNG

Heuheu.

Terima kasih yang sudah baca dan meninggalkan review ^^

Dengan cinta,

Mt_Chan.