Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol.
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART VI-
Awan berwarna kehitaman yang sudah menampung mendung itu akhirnya menurunkan hujan. Sore yang basah itu menghiasi kota Seoul. Sementara di dalam apartemen yang terletak di area Gangnam itu, terlihat dua orang pemuda yang duduk di atas sebuah sofa. Pemuda yang lebih tua, Yifan terlihat duduk menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sementara kedua kakinya ia letakkan di atas meja ruang keluarga itu. Pemuda yang satunya, Chanyeol, menyandarkankan kepalanya pada bahu Yifan sambil kedua lengannya memeluk pasangannya itu. Tangan kanan Yifan memegang sebuah buku sementara tangan kirinya ia lingkarkan pada punggung Chanyeol, menepuk-nepuknya pelan ketika Chanyeol mulai terlelap.
Sudah hampir 45 menit mereka berada dalam posisi itu. Setelah menemani Chanyeol bertanding futsal bersama teman-temannya, Yifan kemudian menarik Chanyeol pulang dan membersihkan tubuh pemuda itu sebelum mengobati lututnya yang lecet setelah terjatuh tadi. Chanyeol berhenti meringis kesakitan setelah Yifan menempelkan plester di kedua lutut dan sikunya yang lecet. Dan ketika hujan mulai turun, Chanyeol mendekatkan diri pada Yifan yang membuka bukunya dan menyamankan diri di dalam pelukannya.
"Kau harus lebih berhati-hati." Ujar Yifan mengomentari lecet yang ada pada tubuh Chanyeol.
"Ini sudah biasa. Aku dulu pernah tidak bisa berjalan seminggu setelah kakiku kesleo." Kata Chanyeol membela diri.
"Tetap saja."
Chanyeol menggembungkan kedua pipinya. "Kau bicara seolah kau tidak pernah bermain olahraga."
"Sport is not my type." Yifan berusaha fokus pada buku yang ia baca ketika Chanyeol justru menyeringai.
"Then what's your type? Me?"
Yifan mendengus sementara Chanyeol mengedipkan kedua mata besarnya.
.
.
.
Park Chanyeol –atau yang kini menjadi Wu Chanyeol, mematut dirinya di depan cermin setelah Yifan selesai memasangkan dasi untuknya. Hari ini Chanyeol akan memulai pekerjaannya sebagai karyawan di cabang perusahaan Wu yang berada di Korea. Di hari pertama kerjanya, Chanyeol memutuskan untuk membolos kuliah, meskipun ke depannya nanti ia harus bisa membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Terdengar berat bagi pemuda yang akan beranjak 18 tahun dalam satu bulan ke depan itu, tetapi ia ingin membuktikan pada Ayahnya dan Yifan bahwa ia juga bisa diandalkan.
"You ready?" Yifan sendiri sedang bersiap memakai jasnya.
Chanyeol menghembuskan nafas dalam-dalam untuk mengurangi rasa gugupnya sebelum mengangguk pasti.
"Yup." Chanyeol berusaha menarik kedua bibirnya untuk tersenyum.
"Yes, not yup." Yifan mengingatkan. Sebelum ini, ia sudah memberikan beberapa pesan pada Chanyeol tentang bagaimana ia harus bersikap ketika berada di perusahaan. Meskipun mereka berhubungan, tetapi mereka tetap harus menjaga profesionalitas. Untuk itu, Chanyeol terus mengingatkan dirinya untuk tidak memanggil Ayah mertuanya dengan Baba, atau Yifan dengan nama depannya ketika mereka bertemu di perusahaan nanti.
"Yes, sir." Rambut Chanyeol yang biasanya dibiarkan terjatuh di dahi kini tersisir rapi menyamping, membuat penampilannya begitu tampan dengan setelan jas hitam membalut tubuhnya.
"You can do it." Yifan mengecup dahi Chanyeol yang kini tidak tertutup satu helai rambut pun.
.
.
.
Ini adalah pertama kalinya Chanyeol menginjakkan kakinya di perusahaan Wu. Pada pukul 07.50 –10 menit sebelum jam kerja dimulai, Yifan memarkir mobilnya dan menggandeng tangan Chanyeol untuk masuk ke dalam. Karyawan lain yang juga sudah mulai berdatangan tidak dapat melepaskan pandangan dari pasangan itu. Ini bukan kali pertama mereka bertemu dengan pasangan pewaris perusahaan Wu dan Park itu, tetapi desas-desus mengenai penggabungan kedua perusahaan itu semakin santer terdengar dan melihat pasangan itu berada di perusahaan semakin menguatkan dugaan itu.
Mereka berdua kemudian memasuki lift bersama dengan beberapa orang karyawan ketika secara insting Yifan melingkarkan lengannya pada pinggang Chanyeol. Chanyeol berusaha untuk tidak memutar kedua matanya ketika sedari tadi Yifan mengingatkannya mengenai profesionalitas dan kini ia sendiri yang tidak bisa menyembunyikan rasa posesifnya. Lift berhenti di lantai 3 dan Yifan menuntun Chanyeol menuju sebuah ruangan berpintu kaca. Di dalam ruangan itu ada sekitar 5 orang karyawan yang sudah bersiap di meja kerja masing-masing.
Yifan akhirnya melepaskan Chanyeol ketika mereka berhenti di depan sebuah meja yang berada di paling ujung ruangan itu. Seorang laki-laki paruh baya mendongak begitu menyadari kehadiran pasangan itu. Laki-laki tadi membungkuk memberi hormat sebelum mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Yifan.
"Chanyeol, ini Kim Yesung, kepala bagian pemasaran. Mulai hari ini kau akan bekerja di bawah bimbingannya." Kata Yifan memperkenalkan. Laki-laki itu kemudian menjabat tangan Chanyeol yang dibalas ragu-ragu oleh pemuda itu.
"Annyeong haseyo. Par—Wu Chanyeol imnida." Chanyeol membungkukkan tubuh tingginya hingga 90 derajat.
Yifan menggigit bibir bawahnya mendengar bagaimana Chanyeol memperkenalkan dirinya. Sisi Alphanya terlihat begitu puas ketika Chanyeol menggunakan nama belakangnya dan bukannya menggunakan nama belakang aslinya.
"Aku tidak bekerja denganmu?" Bisik Chanyeol di samping telinga Yifan.
Yifan tersenyum. Sesuatu yang jarang ia lakukan ketika berada di kantor.
"No,love. I'll see you later?" Yifan mengusap pelan tanda klaim yang ada di leher Chanyeol sebelum berpamitan pada kepala Kim.
Chanyeol mengangguk dengan terpaksa, menyaksikan punggung bidang Yifan menghilang dari pandangannya sebelum akhirnya perhatiannya teralih pada Kepala Kim yang sudah bersiap dengan pandangan mengintimidasinya.
"Okay, Chanyeol. Itu meja kerjamu dan ini pekerjaan untukmu." Kepala Kim menunjuk sebuah meja kosong yang sudah disiapkan untuknya.
"Aku ingin kau menyusun laporan ini dalam satu berkas dan menyerahkannya padaku siang ini."
Chanyeol memandangi tumpukan kertas yang tebalnya melebihi tumpukan buku kuliahnya selama satu semester ini. Chanyeol menelan ludahnya sebelum mengangguk dan mengangkat tumpukan kertas itu dengan susah payah menuju meja kerjanya.
.
.
.
"Chanlie jadi masuk kerja hari ini?" Tanya Mr. Wu ketika Yifan masuk ke dalam ruangannya untuk menyerahkan beberapa berkas yang perlu ditandatangani.
Yifan mengangguk sementara kedua mata Mr. Wu terlihat berbinar.
"Di departemen mana kau menempatkannya?"
"Aku menempatkannya bersama Kepala Kim." Jawab Yifan. Kali ini Mr. Wu mengernyitkan dahinya.
"Departemen bagian Marketing? Tega sekali kau menempatkannya bersama Kepala Kim." Komentar Mr. Wu dengan ekspresi wajah khawatir.
Laki-laki itu kemudian meraih sebuah remote di mejanya dan menyalakan layar LCD tv yang segera menampakkan rekaman cctv yang terpasang di setiap ruangan perusahaan itu.
"Let's see how is our Chanlie baby doing."
Yifan merapikan kembali berkas yang sudah selesai ditandatangani meskipun matanya melirik ke arah layar yang menampilkan departemen marketing di mana Chanyeol bekerja. Mendengar komentar Ayahnya yang menganggapnya kejam karena menempatkan Chanyeol dengan karyawan killer di perusahaan itu membuatnya ikut khawatir, tetapi Yifan meyakinkan dirinya bahwa ia melakukan semua itu demi kebaikan Chanyeol.
"Dan Yifan, sepertinya kau harus ke Beijing lusa."
"Untuk apa?" Tanya Yifan. Ayahnya biasanya akan turun tangan sendiri untuk menangani urusan perusahaan utama di China, meskipun ia lebih banyak tinggal di Korea.
"Ada yang perlu dibereskan, dan aku ingin kau yang melakukannya. Aku akan mempercepat promosi jabatanmu kalau kau berhasil." Kata Mr. Wu.
Yifan mengangguk sebelum undur diri.
.
.
.
Pada jam makan siang, Yifan melirik ke arah layar ponselnya yang sama sekali tidak bergeming. Biasanya Chanyeol akan mengirimkan pesan padanya untuk mengingatkan agar ia segera makan siang. Yifan menghentikan ketikan jemarinya pada keyboard laptopnya sebelum berganti mengetikkan sebuah kalimat di ponselnya.
Kau sudah istirahat?
Sudah hampir 10 menit dan masih belum ada jawaban. Yifan kemudian mengakses ke sebuah aplikasi di dalam laptopnya yang menampilkan rekaman cctv yang sama seperti pada layar LCD di ruangan Ayahnya. Chanyeol masih terlihat berkutat dengan pekerjaannya. Yifan kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Omeganya itu, tetapi sambil mengawasi ke arah layar laptopnya, Chanyeol tidak juga meraih ponselnya. Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Chanyeol, namun tidak juga membuahkan hasil, Yifan sudah tergoda untuk menghubungi Kepala Kim.
"Mr. Wu?"
Yifan menarik nafas dalam-dalam ketika ia berhasil menghubungi salah seorang karyawan yang bekerja dalam Departemen Marketing. Kim Jongdae, 28 tahun, pegawai kontrak. Yifan memperhatikan profil karyawan itu pada layar laptopnya.
"Iya. Ini aku. Uh, apa Chanyeol tidak istirahat?" Tanya Yifan sebisa mungkin membuat nada suaranya netral.
Jongdae terdiam sebelum menjawab, "Um, Kepala Kim sudah mengingatkannya untuk istirahat tetapi kalau aku tidak salah dengar Chanyeol ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu."
"Dan apa menurutmu pekerjaannya sudah hampir selesai?"
Jongdae terdiam kembali sebelum menjawab, "Um, ku rasa tumpukan berkas yang belum selesai lebih tinggi dibandingkan yang sudah, Mr. Wu."
"Baik. Terima kasih informasinya. Uh, aku harap kau tidak memberitahu siapapun mengenai hal ini." Kata Yifan sebelum menutup teleponnya.
Pemuda berstatus Alpha itu kemudian menghubungi sekretarisnya agar menyuruh seseorang untuk mengantarkan makanan ke meja Chanyeol. Yifan sadar bahwa ia tidak seharusnya melakukan hal itu, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan Chanyeol begitu saja. Ia sendiri ingat betul bagaimana sulitnya hari pertama kerja.
.
.
.
Chanyeol segera memeluk leher Yifan begitu mereka memasuki lift menuju lantai basement di mana mobil Yifan terparkir. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.15 malam dan Chanyeol baru menyelesaikan pekerjaannya. Pemuda itu bersikeras untuk menyelesaikan pekerjaannya hari itu juga meskipun Kepala Kim sudah menyuruhnya pulang. Sebagian besar karyawan sudah meninggalkan kantor dan kembali ke rumah mereka masing-masing.
"How's life?" Tanya Yifan sambil menepuk-nepuk punggung Chanyeol.
Chanyeol merengutkan bibir bawahnya mendengar pertanyaan Yifan seolah mereka sudah tidak bertemu selama beberapa tahun.
"Ku kira aku akan belajar langsung darimu." Kata Chanyeol sambil melepaskan diri dari Yifan yang segera melingkarkan lengannya pada pinggang Chanyeol.
"Well, kalau kau berada dalam satu ruangan denganku, aku takut kau justru belajar hal lain." Ujar Yifan dengan kilat jahil di matanya sebelum mengecup leher Chanyeol singkat ketika pintu lift terbuka.
"Pervert." Komentar Chanyeol sambil mendorong bahu Yifan pelan.
Yifan memastikan Chanyeol sudah memakai sabuk pengamannya sebelum melajukan mobilnya keluar.
"Kau mau makan di luar? Atau kita beli sesuatu sebelum pulang?" Tawar Yifan ketika Chanyeol sudah menyandarkan tubuhnya pada jok mobil dengan nyaman.
"Aku ingin makan yangnyeom chikin."
Yifan tersenyum sebelum mengarahkan mobilnya pada restoran yang menjual ayam goreng dengan balutan bumbu pedas sesuai dengan permintaan Chanyeol. Tidak sampai sepuluh menit berkendara, mereka sampai di restoran itu. Namun Yifan mendapati Chanyeol sudah tertidur pulas di tempat duduknya ketika ia menghentikan mobilnya.
Yifan membetulkan posisi kepala Chanyeol yang tertunduk agar bersandar pada neck pillow yang ia sediakan di dalam mobil sebelum ia keluar dari menuju restoran untuk memesan permintaan Chanyeol.
Sesampainya di gedung apartemen, Yifan terlihat kebingungan ketika ia harus membawa tas kerja, plastik berisi makanan, dan... Chanyeol. Alpha berusia yang akan beranjak ke usia 24 tahun itu tidak sampai hati untuk membangunkan Omeganya. Chanyeol terlihat begitu lelah dengan wajah tertidurnya yang cemberut. Setelah bersusah payah menjinjing tas dan plastik makanan di tangan kirinya, Yifan mengangkat tubuh Chanyeol ala bridal style sebelum menendang pintu mobilnya agar tertutup. Langkah pemuda itu beberapa kali terhuyung sementara kepala Chanyeol bersandar di bahunya.
Mungkin Yifan perlu mempertimbangkan saran Chanyeol agar ia mulai berolahraga karena ia sadar bahwa mengangkat tubuh seorang pemuda berusia 17 tahun dengan tinggi 180cm dan berat badan hampir 70 kg bukanlah pekerjaan yang mudah. Yifan menekan sebuah tombol di dalam lift yang nantinya akan mengantar mereka menuju lantai di mana apartemen mereka berada.
Ketika Yifan menunduk dan memperhatikan wajah Chanyeol, ia mendapati bahwa ekspresi wajah pemuda itu telah berubah. Sudut bibir Chanyeol terangkat hingga menampilkan lesung pipinya.
"Kau menikmatinya?" Ujar Yifan dengan nafas yang tidak beraturan.
Chanyeol tidak lagi dapat menahan senyuman yang terkembang di wajahnya ketika Yifan sadar bahwa ia sudah terbangun. Namun bukannya lekas turun dari kedua lengan Yifan yang menopang tubuhnya, Chanyeol justru mengalungkan kedua lengannya pada leher Yifan, membuat beban di bagian bahu pemuda itu semakin berat.
"You're impossible." Gumam Yifan sambil membetulkan posisi lengannya agar Chanyeol tidak terjatuh.
.
.
.
Dengan terburu-buru Chanyeol segera memakai piyamanya setelah ia selesai mandi sebelum melesat menuju meja makan. Yifan yang sudah mandi terlebih dahulu terlihat sedang mengaduk susu cokelat favorit Chanyeol dan meletakkannya di meja makan ketika Chanyeol sudah duduk dan membuka bungkusan berisi yangnyeom chikin.
Namun begitu aroma ayam menguar dan mengisi ruangan berisi meja makan sekaligus dapur itu, Chanyeol tiba-tiba merasa mual. Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya dan berlari menuju wastafel di dalam kamar mandi.
"Chanyeol?" Yifan tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya ketika Chanyeol menunduk di depan wastafel.
"You okay?" Yifan mengusap punggung Chanyeol ketika pemuda itu terus merasa mual dan berusaha mengeluarkan isi perutnya namun tidak bisa.
Chanyeol kemudian membasuh mulutnya menggunakan air bersih sebelum keluar dari kamar mandi. Yifan yang sedari tadi berada di sampingnya mengekor di belakangnya ketika mereka kembali ke meja makan.
"I'm not eating that chicken." Chanyeol mendorong bungkusan makanan itu sambil menutup hidungnya menggunakan kedua tangannya.
Yifan menutup kembali bungkusan ayam itu dan memasukkannya ke dalam kulkas. Ia kemudian duduk di samping Chanyeol.
"Kalau begitu kau mau makan apa? Aku akan memasaknya atau kau mau pesan delivery?" Tawar Yifan sambil memeriksa temperatur tubuh Chanyeol.
Ia menduga reaksi Chanyeol yang tiba-tiba mual itu karena ia telat makan siang sebelumnya. Namun tidak seperti biasanya, Chanyeol yang paling semangat jika berurusan dengan makanan hanya menggeleng untuk menanggapi tawaran Yifan.
"Kau harus makan sesuatu. Aku tau kau tidak istirahat makan siang tadi." Yifan mengusap rambut Chanyeol yang terjatuh di dahinya.
Chanyeol kembali menggeleng. "Aku sudah memakan makanan yang kau berikan tadi."
"Kalau begitu minum susumu lalu pergi tidur." Yifan menyodorkan susu cokelat hangat yang tadi ia buat.
Setelah menghabiskan susu cokelatnya, Chanyeol membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Yifan menyusul dan berbaring di sampingnya. Tangan Yifan menelusup di balik kaos Chanyeol dan mengusap perutnya.
"Perutmu sakit?"
"Tidak. Kau tidak makan?"
"Nanti." Yifan mengusap perut Chanyeol hingga pemuda itu tertidur.
.
.
.
Keesokan harinya, Chanyeol yang biasanya terbangun karena alarm atau Yifan, kini dibangunkan dengan rasa mual yang kembali menyerang perutnya. Dengan hati-hati karena Yifan masih tertidur, Chanyeol bangkit dari tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi. Kali ini rasa mual itu didampingi dengan rasa pening yang menyerang kepalanya.
"Sepertinya kita harus pergi ke dokter." Yifan yang sebelumnya keheranan karena mendapati Chanyeol tidak lagi terlelap di sampingnya bisa membaca situasi ketika ia melihat Chanyeol duduk di meja makan dengan segelas air dan botol obat antasida.
Chanyeol menggeleng dan memeluk perut Yifan yang berdiri di sampingnya.
"Aku tidak mau kau mengabaikan kesehatanmu." Yifan mengusap rambut Chanyeol yang masih berantakan setelah bangun tidur.
"Aku sudah merasa lebih baik. Ini pasti karena asam lambungku yang naik. Kau tidak perlu khawatir." Kedua mata Chanyeol terlihat sembab setelah bangun tidur.
"Kalau begitu kau tidak usah ke kantor hari ini. Aku akan—"
"No, Yifan! Aku akan ke kantor setelah kuliah hari ini." Potong Chanyeol sebelum Yifan menyelesaikan kalimatnya.
"Chanyeol..."
Chanyeol menggenggam telapak tangan Yifan sebelum mengecupnya singkat.
"Kau harus berjanji padaku kalau kau akan makan dulu sebelum datang ke kantor." Yifan akhirnya menyerah ketika melihat pandangan yang Chanyeol berikan.
Sebagai seorang Omega, Chanyeol telah berhasil mempelajari bagaimana membuat Alphanya menyerah padanya.
.
.
.
Yang membuat Yifan dilema sekarang adalah bagaimana ia harus memilih tinggal dan mendampingi Chanyeol ketika pemuda itu sedang sakit, atau berangkat ke Beijing untuk menyelesaikan tugas dari Ayahnya. Hari itu Chanyeol masih saja mual dan bahkan mulai memuntahkan apapun yang masuk ke dalam mulutnya. Pemuda itu masih bersikeras masuk kerja dan menyelesaikan pekerjaannya, meskipun hampir setiap jam sekali ia berlari ke toilet untuk muntah. Tidak tahan melihat pemandangan itu –sekaligus khawatir melihat calon bosnya, Jongdae melaporkan hal itu pada Yifan ketika kebetulan Kepala Kim sedang cuti hari itu. Yifan berusaha membujuk Chanyeol agar mau periksa ke dokter, tetapi usahanya itu hanya berhasil hingga membujuk Chanyeol agar mau pulang. Setidaknya pemuda itu bisa beristirahat di rumah dan tidak terbebani dengan pekerjaan di kantor.
"I'm sorry." Bisik Chanyeol ketika mereka berada di dalam mobil Yifan untuk pulang.
"Untuk apa?" Tanya Yifan yang tidak mengerti dengan permintaan maaf Chanyeol.
"Aku tahu aku seharusnya membuatmu bangga dengan bekerja dengan baik, tetapi aku mengacaukannya seperti ini."
Yifan tanpa sadar menghela nafas mendengar ucapan Chanyeol kala itu. Ia melonggarkan sedikit dasinya ketika benda itu rasanya seperti akan mencekik lehernya.
"Kau seharusnya minta maaf pada dirimu sendiri karena telah mengabaikan kesehatanmu hanya demi pekerjaan. Aku tidak bisa bangga pada keberhasilan yang dicapai dengan cara itu." Yifan tidak bermaksud untuk berkata dengan nada sedingin itu, tetapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya. Ini semua demi kebaikan Chanyeol.
Chanyeol menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap Yifan. Sisa perjalanan itu kemudian mereka habiskan dalam diam.
.
.
.
Setelah membuatkan bubur untuk Chanyeol dan memaksa pemuda itu makan dan beristihat, Yifan kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya di dalam apartemen yang ia tinggali bersama Chanyeol. Kalau ia harus meng-cancel keberangkatannya ke Beijing besok, ia setidaknya harus membereskan beberapa hal untuk sedikit membantu Ayahnya itu.
Chanyeol bangun dari tidurnya ketika waktu menunjukkan pukul 18.20. Ia tertidur cukup lama setelah menghabiskan bubur buatan Yifan dan meminum obat sakit kepala. Pemuda itu terus menolak diajak periksa ke dokter karena ia merasa bahwa ia baik-baik saja dan apa yang dideritanya ini hanya sakit yang sepele. Chanyeol tidak ingin membuat Yifan terus mengkhawatirkannya.
"Yifaaaaannn." Chanyeol mengucek mata kirinya sambil mencari keberadaan Alphanya itu ketika telinganya mendengar gumaman dari dalam ruang kerja Yifan.
Ruangan itu tidak tertutup rapat ketika Chanyeol berjalan mendekat. Chanyeol sudah akan masuk namun niat itu ia urungkan saat Yifan membicarakan mengenai keberangkatan ke Beijing.
"Tidak, dia sudah lebih baik. Aku akan mengajaknya ke dokter besok. Untuk itu aku tidak bisa berangkat ke Beijing. Aku akan menelepon ketua Chang di kantor pusat untuk menyiapkan keperluan Baba."
Chanyeol membeku di tempatnya berdiri.
"Aku juga sudah menyelesaikan berkas-berkas yang perlu Baba bawa jadi Baba tidak perlu repot. Aku minta maaf mengenai hal ini, tetapi aku juga tidak bisa meninggalkan Chanlie begitu saja."
Chanyeol tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia ingin beranjak dari tempatnya berdiri sekarang dan berpura-pura tidak mendengar semuanya ketika Yifan sudah menyelesaikan pembicaraannya di telepon dan mendapati siluetnya di balik pintu.
"Chanyeol?" Yifan yang saat itu masih memakai kemeja lengkap dengan dasi yang sedikit berantakan membuka pintu ruang kerjanya.
"Kau sudah merasa lebih baik?" Yifan kembali memeriksa temperatur tubuh Chanyeol melalui dahinya sebelum mengusap lehernya pelan.
Chanyeol mengangguk dengan kaku. "Kau akan ke Beijing?" Tanyanya.
Yifan menarik tangannya dari leher Chanyeol sebelum mengangguk. "Rencananya begitu, tapi aku sudah membatalkannya."
"Wae?"
"Kita harus ke dokter besok. Aku akan menemanimu." Yifan melepas dasi dan kancing kemejanya ketika ia berniat untuk pergi mandi.
"Kau tidak perlu membatalkannya. Aku bisa ke dokter sendiri." Kata Chanyeol yang akhirnya mendongak dan menatap Yifan.
"Chanyeol—"
"Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku. Kalau urusan di Beijing itu penting, kau sebaiknya pergi. Aku tidak mau kau membatalkannya karena aku." Chanyeol tidak bisa menyembunyikan nada suaranya yang bergetar. Ia tidak bermaksud untuk memulai perdebatan kembali dengan Yifan seperti di mobil sebelumnya, tetapi ia juga tidak ingin diam saja ketika Yifan mengorbankan hal-hal yang penting untuknya hanya demi dirinya.
"Baba sudah bersedia untuk menggantikan aku. Kita ke dokter besok." Yifan yang sepertinya juga tidak ingin berdebat berusaha untuk beranjak dari tempat itu.
"Yifan!"
Yifan berhenti.
"Aku tidak mau kau terus-terusan menganggapku seperti anak kecil. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Berpisah denganmu selama beberapa hari tidak akan membuatku mati." Chanyeol menyesali kalimat terakhirnya barusan. Ia juga tidak bisa mengontrol emosi yang tiba-tiba menguasai tubuhnya yang lelah.
Ekspresi wajah Yifan terlihat datar ketika pemuda itu tanpa berkata-kata berjalan menjauh dari Chanyeol.
.
.
Ini adalah awal bulan November yang merupakan bulan keempat pernikahannya ketika Chanyeol terbangun tanpa Yifan di sisinya. Pemuda itu menemukan selembar kertas di meja nakas dengan tulisan rapi Yifan di atasnya.
Mungkin kau benar, maaf karena terus-terusan memberlakukanmu seperti anak kecil. Aku jadi berangkat ke Beijing karena ku pikir jarak ini bisa membuat kita bisa berpikir lebih jernih tanpa satu sama lain sementara waktu. Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tetapi aku akan berusaha bertahan hidup tanpamu selama beberapa hari ini.
Love,
Yifan.
Ps. Aku sudah menyiapkan bubur di meja makan dan janji dengan dokter Lee nanti sore. Aku mohon kau mau melakukan hal ini.
Chanyeol tidak bisa lagi membendung cairan panas yang menggenang di pelupuk matanya. Penyesalan yang sekarang ia rasakan lebih menyakitkan dibandingkan dengan semalam. Ia tidak seharusnya melontarkan kata-kata itu pada Yifan. Setelah perdebatan mereka semalam, Chanyeol menutup diri di dalam kamar dan tidak tahu Yifan tidur di mana –atau bahkan jika pemuda itu tidur sama sekali.
Chanyeol menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya ketika ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Aku sudah sampai di Beijing.
Bersambung
Errr...anu...um...
Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan review ya tayang-tayangkuuhhhhhh #digampar
Sampai jumpa di chapter selanjutnyaaa~ #inikapantamatnyawoy
Dengan cinta,
Mt_Chan.
