Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART VII-
Hari ini adalah kali pertama Chanyeol berpisah dengan Yifan dengan jarak yang cukup jauh. Sejak pernikahan mereka, Yifan dan Chanyeol hanya terpisah jarak antara kantor dan apartemen, atau kantor dan tempat kuliahnya. Selama empat bulan ini, mereka hampir selalu bersama di setiap kesempatan. Dan kenyataan bahwa kini Chanyeol harus melakukan segalanya sendiri membuat hati pemuda itu mencelos. Tapi bukankah hal ini yang ia ingin tunjukan pada Yifan? Bahwa ia juga bisa mengurus dirinya sendiri.
Chanyeol kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Pemuda itu menyeka kedua matanya yang sembab setelah bangun tidur dan menangis sebelum pergi ke kamar mandi untuk bersiap kuliah. Rasa mual dan pening yang menyerang tubuhnya masih tinggal, namun apapun keadaannya, Chanyeol tidak ingin membuat orang lain khawatir.
Di dalam kamar mandi, tangisan Chanyeol kembali pecah di bawah kucuran air dari shower manakala ia melihat alat cukur dan sabun perawatan wajah milik Yifan. Sebelumnya ia akan menertawakan pasangannya yang terlalu mempedulikan penampilannya itu, tetapi entah kenapa melihat benda-benda itu justru membuatnya semakin merindukan Yifan. Kepribadiannya yang tiba-tiba melankolis dan sensitif itu membuat Chanyeol keheranan. Mungkin ini pengaruh hormon Omeganya yang sedang tidak stabil, atau mungkin karena ia masih dirundung penyesalan setelah bertengkar dengan Yifan.
.
.
.
"Apa aku memang sebodoh itu?"
Sutrruuupp. "Kau baru sadar?"
Chanyeol meninju lengan sahabatnya, Sehun, yang sedang sibuk menyedot Bubble teanya hingga tidak bersisa.
"I miss him." Chanyeol melipat kedua lengannya di atas meja sebelum menundukkan kepalanya. Ia sudah akan menangis lagi ketika Sehun meletakkan tangannya di bahunya.
"You are not helping." Gerutu Chanyeol dengan masih menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya.
"Memangnya siapa yang bilang aku akan membantumu?"
Chanyeol kemudian menendang kaki Sehun di bawah meja. Sementara Sehun memegangi kakinya yang terasa nyeri –akibat tendangan Chanyeol, pelayan Cafe yang berada di samping kampus itu menyerahkan pesanan mereka. Chanyeol memesan Jjampong sementara Sehun memesan Ayam goreng.
Begitu makanan itu diletakkan di meja, Chanyeol yang mencium aroma Ayam itu mendongakkan kepalanya sambil menutup hidungnya.
"Kau memesan Ayam?"
Sehun mengambil sumpitnya dan bersiap untuk makan. "Waeee?"
Chanyeol yang sudah tidak bisa menahan rasa mualnya segera berlari ke arah toilet cafe itu. Sehun hanya memandangi sahabatnya itu dengan keheranan.
"Berpisah dengan Alphamu selama beberapa jam dan sekarang kau sakit?" Tanya Sehun yang untunglah sudah menghabiskan makanannya ketika Chanyeol kembali dengan wajah lebih pucat dari sebelumnya.
"Ini adalah salah satu alasan Yifan meninggalkanku." Jawab Chanyeol. Ia sudah kehilangan nafsu makannya dan kini hanya bisa memandangi hidangan mie dan seafood itu.
"Bukannya kau yang menyuruhnya pergi?" Ujar Sehun sambil mengingat-ingat kembali cerita Chanyeol sebelumnya.
"Ugh." Chanyeol kemudian meraih lemon tea yang tadi ia pesan ketika pandangannya tertuju pada wajah Sehun yang terlihat berseri-seri.
Chanyeol mengerucutkan bibirnya. "Kau sedang bahagia?"
Sehun mengangkat salah satu alisnya. "Perasaanmu saja."
Sebuah bel yang dipasang di pintu Cafe itu bergemirincing menandakan adanya pengunjung lain yang masuk. Chanyeol dan Sehun awalnya tidak memperdulikan siapa si pengunjung yang masuk ketika akhirnya Chanyeol yang merasa bahwa dirinya diperhatikan. Sehun yang menyadari kekikukan sahabatnya itu ikut menoleh ke arah pintu masuk Cafe itu dan menemukan segerombol pemuda yang merupakan kakak tingkat mereka.
"Apa ini hanya aku atau menurutmu mereka melihat ke arah kita?" Tanya Chanyeol sambil menyeruput lemon tea nya lagi untuk menutupi kekikukannya.
Sehun menyeringai sebelum kembali duduk menghadap Chanyeol seperti semula.
"Jangan panik. Salah seorang dari mereka berjalan kemari." Sehun memperingatkan.
"Huh?"
Salah seorang dari gerombolan pemuda tadi berdiri di samping meja Sehun dan Chanyeol.
"Sehun dan Chanyeol?" Sapa pemuda itu memastikan.
"Yes." Sehun yang menjawab sementara Chanyeol mengalihkan pandangannya.
Pemuda itu kemudian mengulurkan tangannya pada Chanyeol. "Aku Xiumin, kapten tim baseball di kampus kita."
Chanyeol menyambut jabatan tangan itu singkat sebelum menarik tangannya kembali. Sementara bergantian menjabat tangan Sehun, Xiumin sempat melirik cincin platinum yang melingkar pada jari manis Chanyeol dan tanda klaim di lehernya. Senyuman pemuda itu tidak juga memudar.
"Aku sudah membaca form pendaftaran kalian. Aku harap kita bisa bertemu setiap hari Sabtu untuk latihan." Ujarnya.
Chanyeol dan Sehun saling berpandangan. Jadi apakah ini pertanda resmi mereka sudah masuk ke dalam tim?
"Uh, aku permisi dulu. Bye Chanyeol.." Xiumin bergerak mundur sambil melambaikan tangannya.
"..dan Sehun." Tambahnya sebelum kembali pada gerombolannya tadi.
Chanyeol hanya bisa mengedipkan kedua mata besarnya sementara Sehun menahan tawanya.
"Apa dia baru saja mengundang kita untuk berangkat latihan bersama tim?" Tanya Chanyeol ragu-ragu.
Sehun mengangkat bahunya. "Yang aku tahu dia baru saja menggodamu." Kata Sehun dengan senyum jahil di wajahnya.
"Huh?"
Belum sempat kebingungan Chanyeol terjawab, ponsel pemuda itu tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk. Chanyeol menatap layar ponselnya dengan mata membulat.
"Mama?"
Pemuda itu menggeser ikon telepon berwarna hijau dan mengangkat teleponnya.
"Yeoboseyo?" Chanyeol menutup kedua matanya dan bersiap menerima omelan atau setidaknya sindiran dari Ibu mertuanya itu.
"Chanlie, kau ada di rumah? Mama sudah ada di depan, kau bisa membukakan pintu untuk Mama?"
Chanyeol menggigit bibir bawahnya. "Aku baru saja ada kuliah, apa Mama mau menunggu sebentar? Aku akan segera pulang."
"Kau membawa mobil?" Tanya Mrs. Wu.
"Tidak. Aku naik taksi tadi."
"Kalau begitu Mama akan menjemputmu di kampus lalu kita makan siang bersama, bagaimana?"
Chanyeol memandangi semangkuk Jjampongnya yang masih belum tersentuh sebelum menyetujui usul Ibu mertuanya itu.
.
.
.
Sejak pertemuan pertama mereka sebelum ia menikah dengan Yifan, Mrs. Wu selalu memperlakukan Chanyeol dengan baik. Ia selalu menganggap pemuda itu seperti anak kandungnya sendiri. Chanyeol sendiri selalu merasa nyaman berada di dekat Mrs. Wu seperti ketika ia bersama Ibunya sendiri. Setelah bertemu di depan pintu masuk kampus, Mrs. Wu yang mengendarai sendiri sedan Audinya mengajak Chanyeol makan siang di salah satu restoran favoritnya di Seoul. Chanyeol berdoa dalam hati semoga Ibu mertuanya itu tidak mengajaknya makan siang di restoran ala Prancis tempat ia bertemu dengan Yifan sebelum menikah.
Mrs. Wu memparkir mobilnya di sebuah restoran ala China dengan menu utama sajian meminum teh. Chanyeol bisa sedikit bernafas lega. Aroma teh yang menyegarkan segera mengisi hidungnya yang lebih peka dari sebelumnya, membuat perutnya yang sesekali masih terasa mual sedikit membaik. Mrs. Wu meletakkan tas bawaannya di samping meja yang mereka pilih.
Chanyeol duduk di atas sofa di hadapan Mrs. Wu yang hari itu memakai dress selutut berwarna hijau dengan rambut panjangnya yang ia gerai. Setelah memesan dua porsi teh melati dan kue beras khas China.
"Lain kali kalau kau berkunjung ke China, Mama akan mengajakmu minum teh di tempat favorit Mama." Ujar Mrs. Wu memulai obrolan dengan menantunya itu.
Chanyeol tersenyum dan mengangguk. Pemuda itu tanpa sadar menghela nafasnya karena ia tidak yakin apakah ia akan menginjakkan kakinya di tempat kelahiran Yifan.
Mrs. Wu mengulurkan tangannya dan menggenggam kedua tangan Chanyeol di atas meja.
"Yifan menelepon Mama dari Beijing tadi pagi." Kata Mrs. Wu.
Perasaan Chanyeol kembali terasa sendu. Yifan pasti sudah menceritakan semuanya pada Ibunya. Dan sekarang Mrs. Wu pasti akan memarahinya karena itu.
"Yifan bilang kau sedang sakit. Dia ingin Mama menemanimu di rumah."
Chanyeol masih terdiam. Ia menunggu hingga Ibu mertuanya itu mengungkapkan segalanya.
"Mama sudah memarahi Yifan karena meninggalkanmu sendirian. Lagi pula Papa Wu sudah berangkat, jadi Yifan sebenarnya tidak perlu—"
Chanyeol kembali menghela nafasnya. Jadi Yifan tidak menceritakan mengenai pertengkaran mereka pada Ibunya.
"Ma..." Chanyeol berusaha menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan Mr. Wu, tetapi perasaan bersalah yang semakin menggelayut di dadanya membuat pemuda itu mengeratkan genggaman Ibu mertuanya.
"Ini salahku." Kata Chanyeol tanpa berani menatap mata Mrs. Wu.
"Chanlie..."
"Aku tidak ingin Yifan terus mengkhawatirkan aku dan mengorbankan karirnya hanya karena aku sakit seperti ini. Aku menyuruh Yifan untuk berangkat ke Beijing dan berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil."
Mr. Wu menggeser tempat duduknya dan duduk di samping pemuda itu.
"Aku mengatakannya dengan cara yang salah sehingga Yifan sepertinya tersinggung dengan kata-kataku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitinya, tetapi pada saat itu aku tidak bisa mengendalikan diri..."
"Yifan pasti membenciku. Aku yang kesal padanya karena terus menganggapku seperti anak kecil dan sekarang aku bersikap seperti itu." Kedua mata Chanyeol memanas, tetapi ia tidak akan menangis di depan Ibu mertuanya.
Tepat saat itu pelayan mengantarkan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi Mrs. Wu meletakkan telapak tangannya pada bahu Chanyeol.
"Banyak yang mengatakan bahwa Yifan adalah orang yang angkuh dan dingin. Mungkin ini salah Mama karena tidak mengasuhnya dengan baik? Tapi Yifan adalah orang yang paling penyayang yang pernah Mama temui." Kedua manik sipit milik Mrs. Wu memantulkan pandangan yang hanya dimiliki seorang Ibu.
"Sejak kecil Yifan tidak pernah meminta apapun kepada Mama atau Papa Wu. Yifan akan menerima pemberian kami, atau jika ia menginginkan sesuatu, ia akan mengusahakannya sendiri. Tapi malam itu, setelah kembali dari rumahmu ketika kalian pertama kali bertemu, Mama merasa Yifan terlihat gelisah."
Chanyeol menggigit bibir bawahnya mengingat pertemuan pertamanya dengan Yifan.
"Papa bercerita pada Mama bahwa mereka bertemu dengan keluarga Park yang ternyata putranya adalah seorang Omega. Kami pikir Yifan masih terpengaruh oleh aroma Omega yang kau keluarkan."
"Apa orang tuamu sudah pernah menceritakan hal ini?"
Chanyeol memandang Mrs. Wu dengan kedua mata besarnya.
"Ikatan di antara seorang Alpha dan Omega tidak terjadi begitu saja. Kau dan Yifan mungkin sudah bertemu dengan banyak Alpha atau Omega lain, tetapi jika kalian memang tidak ditakdirkan untuk sama lain, maka ikatan itu tidak akan terjadi. Sayangnya, salah satu tanda bahwa seorang Alpha dan Omega memang ditakdirkan untuk sama lain hanya bisa dirasakan oleh si Alpha."
Chanyeol mengerutkan kedua alisnya.
"Indera penciuman mereka merupakan insting yang paling vital untuk menemukan pasangan yang tepat. Maka setelah beberapa hari sibuk dengan pikirannya sendiri, pada suatu malam Yifan mengetuk kamar kami."
"Kami kira Yifan terluka atau terjadi sesuatu yang buruk padanya. Tetapi dengan ketetapan hatinya –Oh Chanyeol kau harus melihat wajahnya saat itu, Yifan meminta Papa menjodohkan kalian."
Senyuman tergambar pada wajah Mrs. Wu. Chanyeol mau tidak mau berbuat hal yang sama.
"Aku sudah menduga kalau kau akan menganggapnya aneh dan menolak mentah-mentah ide perjodohan itu. Tetapi yang tidak Mama duga adalah kau menerimanya."
Bahkan hingga saat ini, Chanyeol sendiri masih belum mengerti kenapa ia dulu menyetujui pernikahan itu. Tetapi jika apa yang Mama Wu ceritakan mengenai ikatan itu memang benar, maka Chanyeol tidak perlu mencari tahu lagi alasannya.
"Mama tidak mengatakan hal itu semua karena Mama membela Yifan. Mama tidak akan ikut campur dalam permasalahan kalian. Tetapi sebagai orang yang peduli pada kedua anaknya, Mama ingin kalian lebih mengenal satu sama lain."
Chanyeol merenungkan kalimat Mrs. Wu dalam hatinya. Pemuda itu kemudian memeluk Ibu mertuanya.
"Thank you."
"Uuu, my baby."
Makan siang yang kemudian berubah menjadi sesi melihat galeri foto masa kecil Yifan itu berlanjut hingga sore hari ketika Mrs. Wu menawarkan diri untuk mengantar Chanyeol memenuhi janji bertemu dengan dokter keluarga Wu di Seoul, Dokter Lee.
.
.
.
Malam itu Chanyeol hanya bisa membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur. Setelah menemui Dokter Lee yang ternyata membuahkan hasil yang mengejutkan, Chanyeol memutuskan untuk kembali ke apartemen untuk menyelesaikan tugas kuliah dan mempelajari berkas-berkas yang ia bawa dari kantor sebelumnya. Ketika waktu menunjukkan pukul 10 malam pemuda itu masuk ke dalam kamar dan berniat untuk istirahat, tetapi hingga jarum jam bergerak ke angka 11, Chanyeol tidak juga berhasil memejamkan matanya.
Chanyeol meraih ponselnya dan tanpa berpikir panjang, atau sebelum nyalinya menciut, Chanyeol menekan tombol angka 1 cukup lama hingga ia terhubung pada nomor Yifan. Namun bukannya suara pemuda itu yang ia dengar, panggilannya justru tersambung pada mailbox.
Kau sudah makan? –Chanyeol menghapus pesan itu sebelum mengetik kembali.
I miss you. Apa kau merindukan aku? –Ugh, Chanyeol berguling dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal sebelum kembali menghapus pesan itu.
Chanyeol menghembuskan nafas panjang sebelum mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
Kita perlu bicara setelah kau pulang nanti.
Kirim.
I love you.
Kirim.
Tidak sampai beberapa menit laporan bahwa pesan itu sudah terkirim muncul pada notifikasi ponsel Chanyeol. Pemuda itu meletakkan ponselnya di atas meja nakas sebelum menggeser posisi tidurnya dan memeluk bantal yang biasa Yifan pakai. Dan ketika pemuda itu akhirnya terlelap, sebuah pesan masuk muncul di layar ponselnya.
I love you more.
.
.
.
Yifan sedang memandangi layar ponselnya ketika sebuah tepukan di bahunya membuat pemuda itu tersadar. Mr. Wu meringis sebelum mengemasi barang-barangnya di meja.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini terlebih dahulu kalau Baba ingin pulang duluan." Kata Yifan sambil memusatkan kembali perhatiannya pada laptopnya.
Mr. Wu menguap sambil melirik ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 11.30 malam.
"Kau bisa melanjutkan pekerjaannya besok." Kata Mr. Wu.
Yifan menggeleng. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya di Beijing dan kembali ke Seoul secepat mungkin. Mr. Wu hanya mengangkat bahunya sebelum menelepon supir untuk mengantarnya ke apartemen yang biasa ia tempati selama tinggal di Beijing.
.
.
.
Terdengar berlebihan sebenarnya, tetapi menjalani dua hari ini tanpa Yifan membuat Chanyeol serasa akan mati. Setelah meminum obat yang Dokter Lee berikan untuk mengurangi rasa mual dan pening yang menderanya, Chanyeol berniat untuk kembali ke ruangannya di perusahaan Wu. Mama Wu sudah melarangnya untuk masuk kerja sampai Yifan kembali, tetapi Chanyeol tetap bersikeras untuk melanjutkan tanggung jawabnya dan masuk ke kantor.
Sebuah pesan masuk membuat ponsel yang Chanyeol kantongi bergetar. Pemuda itu membuka ponselnya dan mendapati sebuah pesan dari Ibu mertuanya.
Yifan dan Papa Wu akan kembali ke Seoul malam ini.
Detak jantung Chanyeol seperti akan melompat keluar dari dadanya karena terlalu antusias membaca kabar itu. Pemuda itu dengan sigap mengetikkan balasannya.
Mama bisa mengirimkan jadwal kedatangannya? Aku akan menjemput mereka di Bandara.
Chanyeol semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya siang itu.
.
.
.
Hingga usianya yang hampir menginjak usia delapan belas tahun ini, Chanyeol belum pernah menjalin hubungan atau bahkan berkencan dengan orang lain. Itulah sebabnya pemuda itu terkesan amatir dan naif jika berurusan dengan hubungan asmara. Tetapi malam ini, ketika Chanyeol mematut diri di depan cermin, ia merasa seperti akan pergi berkencan dan bertemu dengan orang yang disukainya. Well, bagian terakhir itu mungkin ada benarnya. Pemuda itu mengoleskan lip balm di bibirnya dan mengatupkan bibir atas dan bawahnya seperti yang Yifan ajarkan padanya.
Setelah merasa bibirnya tidak terlalu kering, Chanyeol menyemprotkan parfum yang merupakan hadiah dari Papa Wu dan meraih kacamata hitam dari atas meja. Tubuh bagian atas pemuda itu dibalut dengan kaos putih polos dan dipadukan dengan celana jeans di bagian bawahnya. Chanyeol memandang sekali lagi pantulan dirinya di depan cermin sebelum pandangannya kemudian teralih pada perutnya. Pemuda itu tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya hingga lesung pipit yang berada di pipi kanannya mencekung.
Dengan mengendarai mobil sport hitam –yang baru bisa ia kendarai selama dua bulan terakhir ini, Chanyeol berangkat menuju bandara untuk menunggu Yifan dan Ayah mertuanya. Pada jadwal kedatangan yang Mrs. Wu kirimkan padanya, pesawat akan mendarat di bandara pukul 20.49. Beruntung pemuda itu sempat menyambar sebuah jaket berbahan denim dari lemari pakaiannya sebelum keluar apartemen tadi, karena rupanya angin malam bulan November itu lebih dingin dari perkiraannya.
Layar LCD yang menunjukkan jadwal kedatangan dan keberangkatan pesawat di Bandara itu adalah satu-satunya hal yang Chanyeol fokuskan. Pemuda itu sampai melepas kacamatanya –yang justru membuat pandangannya buram, dan memastikan bahwa kata delay pada jadwal kedatangan pesawat yang Yifan tumpangi benar adanya.
"Tsk." Chanyeol mendecakkan lidahnya dengan kesal.
Setelah hampir satu jam menunggu dari jadwal kedatangan awal, status pesawat itu berubah menjadi landing. Entah kenapa Chanyeol yang sebelumnya hampir mati bosan karena harus menunggu justru merasa gugup. Pemuda itu berkali-kali memastikan penampilannya masih terlihat rapi pada layar ponselnya. Satu per satu penumpang pesawat mulai keluar dan menemui sanak saudara yang menunggu di depan pintu keluar.
Dengan tinggi tubuhnya yang berada di atas rata-rata orang di sekitarnya, Chanyeol dengan mudah melihat siapa saja yang keluar. Tetapi sosok Yifan maupun Mr. Wu tidak juga nampak. Pemuda itu menggembungkan kedua pipinya. Lipbalm yang tadi ia oleskan mulai memudar ketika pemuda itu lebih sering menggigit bibir bawahnya.
Dan ketika Chanyeol mulai lengah dan kecewa karena sosok yang ditunggunya tidak juga muncul, mata pemuda itu mulai membesar begitu melihat sosok yang kini tengah menarik sebuah koper sambil menyampirkan jas di bahunya. Tanpa berpikir panjang Chanyeol segera berlari di antara kerumunan orang-orang itu dan berhenti di hadapan orang yang sudah ia rindukan selama dua hari ini.
Yifan yang kala itu penampilannya lebih mirip dengan zombie daripada pewaris sebuah perusahaan tersontak begitu melihat seseorang yang berlari kemudian berhenti di hadapannya. Tetapi rasa terkejutnya itu kemudian berubah dengan perasaan lega begitu menyadari Chanyeol kini ada di depan matanya.
Chanyeol terengah, ia sudah menahan diri untuk tidak segera merengkuh pemuda di hadapannya itu. Dan ketika Yifan melepaskan koper dan jasnya, Chanyeol seolah diberi tanda untuk kemudian menghamburkan diri pada tubuh Yifan yang sudah bersiap untuk memeluknya. Yang Yifan tidak duga selanjutnya adalah ketika Chanyeol melumat bibirnya seolah tidak ada hari esok.
"Hey..." Yifan menyibakkan rambut Chanyeol yang terjatuh di dahinya, sebuah gestur yang tidak akan pernah bosan ia lakukan.
Chanyeol masih terengah –kali ini karena ciuman itu, sebelum tersenyum dan berniat untuk melumat bibir Yifan lagi ketika sebuah deheman di samping mereka membuat pemuda itu sadar bahwa ada orang lain yang juga harus ia sapa.
"Baba!" Chanyeol melepaskan pelukan Yifan untuk memeluk Ayah mertuanya yang menepuk punggungnya.
"Aku kira kalian akan meninggalkan aku di sini." Ujar Mr. Wu membuat Chanyeol salah tingkah.
"Kau datang sendirian?" Yifan secara otomatis melingkarkan lengannya pada pinggang Chanyeol.
Pemuda itu mengangguk sebelum memeluk Yifan sekali lagi. Ini rasanya seperti mimpi ketika akhirnya ia bisa bertemu Yifan. "I miss you." Bisik Chanyeol di samping telinga kanan Yifan sebelum ia melepaskan pelukannya.
"Alright, gentlemen. Aku akan mengantarkan kalian sampai rumah hari ini." Chanyeol membantu Mr. Wu dan Yifan menarik koper mereka –yang segera ditolak keduanya tentu saja.
"Kau menyetir sendiri?" Tanya Yifan ketika mereka sampai di tempat parkir dan tidak ada supir yang menunggu.
Chanyeol mengedipkan kedua mata besarnya sebelum mengangguk.
"Berikan kuncinya." Yifan mengulurkan tangannya untuk mengambil kunci mobil dari Chanyeol, namun pemuda itu justru membukakan kursi belakang untuk Mr. Wu yang segera naik ke dalam mobil, sebelum membukakan pintu depan untuk Yifan.
"Kau yang jadi tuan putrinya hari ini." Chanyeol mendorong tubuh Yifan agar duduk di kursi samping kemudi.
"Tapi kau belum punya SIM—"
"Ssshhh." Chanyeol menutup pintu mobilnya sebelum berlari kecil menuju tempat duduknya di belakang kemudi.
Yifan dan Mr. Wu menelan ludah mereka begitu Chanyeol menyalakan mesin mobilnya.
.
.
.
"Ngh!" Chanyeol mengerang ketika Yifan mendorong tubuhnya hingga menyentuh dinding ruang tamu apartemen mereka begitu keduanya masuk. Pemuda itu berusaha mengimbangi lumatan bibir Yifan yang membuat kepalanya terasa ringan.
"Ah! Wait!" Chanyeol menahan tangan Yifan yang sudah menelusup di balik kaosnya sementara hidungnya ia tenggelamkan pada leher Chanyeol. Ia seolah sedang mengisi ulang kembali aroma Omega yang begitu ia rindukan.
Yifan yang sudah terbalut nafsu kemudian melumat kembali bibir Chanyeol. Pemuda itu sudah akan mengeluarkan lidahnya ketika Chanyeol mendorong bahunya pelan.
"Kita perlu bicara dulu."
Baik Yifan maupun Chanyeol berusaha mengatur nafas mereka yang memburu setelah ciuman panas di ruang tamu tadi. Keduanya kini duduk berhadapan di atas sofa ruang keluarga dengan mata saling berpandangan.
"I'm sorry." Chanyeol akhirnya membuka suaranya.
Tatapan mata Yifan melembut. "Aku juga minta maaf. Aku tidak seharusnya—"
Chanyeol menggenggam tangan kanan Yifan, menahan pemuda itu untuk mengatakan bahwa semua adalah salahnya.
"Selama dua hari ini, aku telah merenungkan semuanya. Aku merasa tidak adil karena telah menyuruhmu berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil sementara kenyataannya aku memang bersikap seperti itu."
Yifan membuka mulutnya, tetapi Chanyeol menahannya untuk bersuara sebelum ia selesai.
"Aku senang kau peduli dan khawatir padaku, tetapi itu bukan berarti kau juga harus mengorbankan segalanya untukku. Aku ingin kau percaya padaku."
"I trust you."
Chanyeol menarik telapak tangan Yifan dan mengecupnya. "Kau belum percaya padaku."
Yifan menelan ludahnya dan berusaha meyakinkan Chanyeol.
"Chanyeol—"
"It takes time, Yifan. Kita tidak usah terburu-buru. Mungkin sekarang belum, tetapi aku yakin kau akan percaya padaku nanti."
Mungkin apa yang Chanyeol katakan memang benar. Yifan masih belum mempercayai Chanyeol sepenuhnya ketika ia sering terlalu mengkhawatirkannya. Tetapi—
"Ini salahku karena belum bisa membuatmu percaya."
"I love you." Yifan mengusap pipi Chanyeol sebelum menurunkan tangannya untuk menyentuh tanda klaim di lehernya.
"Now you are being cheesy." Chanyeol akan menggigit ibu jari Yifan yang mengusap bibir bawahnya ketika pemuda itu berhasil menarik tangannya.
"But you love me." Kata Yifan dengan ekspresi wajah datarnya berhasil membuat Chanyeol tersenyum.
"I do."
Yifan kemudian memerangkap bibir bawah Chanyeol dan memagutnya. Tubuh Chanyeol terdorong ke belakang hingga ia kini terbaring di bawah Yifan ketika keduanya semakin larut dalam ciuman itu. Yifan melepaskan bibir Chanyeol sebelum mengalihkan wajahnya untuk mengecupi leher Chanyeol.
"Ini hanya perasaanku atau memang ada yang berbeda dengan aroma Omegamu?" Komentar Yifan di sela-sela serangan kecupannya.
Chanyeol yang seperti tersadar kemudian menarik kepala Yifan agar menghentikan kegiatannya dan menatapnya.
"Aku punya sesuatu untukmu."
Yifan menaikkan salah satu alis tebalnya. Chanyeol kemudian mendorong tubuh Yifan dari atasnya sebelum bangkit sambil menarik tangan Yifan agar mengikutinya. Mereka berdua berjalan ke dapur, dan ketika Chanyeol menyalakan lampunya, Yifan tidak mampu menyembunyikan keheranannya. Beberapa jenis makanan sudah tersaji di meja makan, tetapi yang membuat Yifan mengerutkan dahinya adalah kue ulang tahun yang belum dinyalakan lilinnya.
Chanyeol melirik ke arah jarum jam yang baru menunjukkan pukul 11 malam sebelum meraih sebuah korek api yang sudah ia siapkan.
"Anggap saja ini sudah jam 12 malam, kay?" Chanyeol mengangkat kue ulang tahun itu ke hadapan Yifan yang hanya bisa tersenyum.
"Happy birthday."
Yifan memejamkan matanya sebelum meniup lilin –sebuah ritual tidak resmi yang pasti setiap orang lakukan. Chanyeol membantu Yifan meniup lilin yang apinya tidak juga padam itu.
"Kau yang menyiapkan ini?" Yifan memandangi makanan yang tersedia di meja.
"Yup –um, Yes. Tidak semuanya, tapi sup rumput laut ini aku sendiri yang membuatnya. Kau mau aku memanaskannya dulu?" Chanyeol sudah akan menekan tombol di atas counter dapur untuk menyalakan kompor ketika Yifan sudah mengangkat sendoknya dan mencoba sup rumput laut buatannya.
Chanyeol mengambil tempat duduk di samping Yifan. "Aku bersumpah kali ini aku memastikan tidak ada cangkang telur yang ikut termasak."
Yifan tersenyum mendengar hal itu. Sup itu terlalu asin, tetapi Yifan terus memasukkannya ke dalam mulutnya seolah sup itu adalah sup paling enak yang pernah ia makan.
"Kau tidak perlu berpura-pura menyukainya kalau sup itu memang tidak enak." Kata Chanyeol seperti bisa membaca pikirannya.
Yifan hampir tersedak. Chanyeol kemudian membuka kulkas dan mengeluarkan sebuah botol anggur. Pemuda itu menuangkan cairan berwarna merah kehitaman itu pada sebuah gelas dan menyerahkannya pada Yifan.
"Aku harus berkonsultasi pada ahli anggur untuk mencocokkan rasa anggur ini dengan kepribadianmu." Kata Chanyeol ketika Yifan menyesap anggur itu.
"Only for you, princess." Chanyeol mengedipkan matanya yang kemudian dibalas dengusan oleh Yifan.
"Kau mau memotong kuenya? Atau kau mau—" Belum sempat Chanyeol menyelesaikan ocehannya, Yifan merengkuh pinggang Chanyeol dan kembali melumat bibirnya.
"I want you." Bisik Yifan sambil menuntun tubuh Chanyeol tanpa melepaskan ciumannya untuk masuk ke dalam kamar mereka.
"Kau tidak mau mandi dulu?"
"Nanti." Yifan segera melucuti kemeja beserta seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya sebelum melakukan hal yang sama pada pakaian Chanyeol.
Tunggu, bukannya Chanyeol keberatan dengan Yifan yang belum mandi –toh Alphanya itu paling higienis dalam hal kebersihan tubuhnya, tetapi entah kenapa Chanyeol merasa gugup seolah ini adalah kali pertama ia berhubungan sex dengan Yifan.
Yifan memagut rahang Chanyeol membuat pemuda itu seperti akan meleleh di bawah sentuhannya. Yifan menggeram untuk menekan nafsu yang bergolak di dadanya ketika sekali lagi ia menghirup dalam-dalam aroma Omega milik Chanyeol.
Yifan mengecup setiap jengkal kulit tubuh Chanyeol yang dilewati bibirnya. Leher, bahu, hingga kedua nipplenya yang mengeras. Chanyeol mendongakkan kepalanya ketika Yifan menghisap bagian tubuh berwarna pink kecokelatan itu.
Yifan kemudian memposisikan diri di atas tubuh Chanyeol. Bibirnya kembali ia tautkan pada bibir Chanyeol. Pemuda itu sudah cukup belajar bagaimana harus bernafas menggunakan hidungnya ketika Yifan memasukkan lidah ke dalam mulutnya, tetapi pada kenyataannya, ia tetap terengah dengan saliva yang keluar dari bibirnya.
Tidak ingin hanya tinggal di posisi penerima, Chanyeol mengusap pelan perut rata Yifan, sebelum tangan itu bergerilya semakin ke bawah. Yifan mengerang ketika Chanyeol menyentuh kejantanannya. Nafsu yang sudah membakar tubuhnya membuat Yifan ragu-ragu ia bisa menahan orgasmenya hingga ke bagian inti. Ketika Chanyeol mulai mengurut penisnya pelan, Yifan menahan gerakan pemuda itu.
"Is it not good enough?" Tanya Chanyeol dengan kedua alis yang menyatu ketika ia kira Yifan tidak menikmati handjobnya.
Melihat ekspresi wajah Chanyeol saat itu membuat Yifan justru semakin horny. Yifan melumat bibir Chanyeol dengan sedikit kasar sebelum memusatkan perhatiannya untuk mempersiapkan penetrasi pada lubang anal milik Chanyeol.
Chanyeol mengerang ketika Yifan memasukkan salah satu jarinya. Cairan pelumas yang secara alami diproduksi oleh si Omega cukup membantu jari Yifan yang sedang berusaha merenggangkannya itu. Ketika Yifan memasukkan kedua jarinya, Chanyeol tanpa sadar mencakar bahunya.
"Aku tidak bisa menahannya lagi." Yifan memposisikan batang penisnya di depan lubang anal Chanyeol sebelum mendorongnya pelan untuk mempenetrasi lubang itu.
Chanyeol menggigit bibir bawahnya. Kejantanan Yifan baru masuk setengahnya tetapi Chanyeol belum bisa rileks.
"Sakit?" Tanya Yifan. Bahkan di tengah-tengah gumulan nafsunya sendiri Yifan masih mengkhawatirkan Chanyeol.
Chanyeol membuka matanya yang semula terpejam. Bukannya menjawab, Chanyeol menarik kepala Yifan untuk memagut bibirnya. Menggunakan kesempatan itu, Yifan menghujamkan penisnya hingga seluruh bagiannya masuk ke dalam lubang milik Chanyeol membuat pemuda itu menjerit dalam ciumannya.
"Hah –ah!" Yifan yang kali ini tidak sanggup menahan desahan meluncur dari bibirnya ketika lubang Chanyeol seperti mencengkeram penisnya. Yifan tidak bisa mengira berapa lama lagi ia bisa bertahan.
Yifan mengumpulkan energi tubuhnya yang masih tersisa setelah bekerja lembur dua hari selama di Beijing dan mengangkat tubuh bagian atasnya agar tidak menindih tubuh Chanyeol. Keringat membanjiri tubuh keduanya.
Yifan mulai menggerakkan pinggulnya, namun entah dari mana Chanyeol mempelajarinya, Chanyeol mengatupkan lubang analnya dan semakin menghimpit penis Yifan hingga ia sulit bergerak.
"Chanyeol." Yifan yang sudah tidak sanggup lagi. Ia menyerah pada orgasmenya. Chanyeol mengerang ketika Yifan menyemprotkan cairan spermanya hingga menyentuh prostatnya.
Yifan melepaskan diri dari tubuh Chanyeol dan jatuh terlentang di sampingnya. Dada bidang Yifan naik turun tidak beraturan mengikuti desahan nafasnya yang memburu.
Chanyeol yang masih belum mencapai orgasmenya bergelung memeluk tubuh Yifan.
"Tunggu beberapa menit. I'll make it up to you." Ujar Yifan sambil berusaha mengumpulkan kembali tenaganya.
Chanyeol mendengus dan tertawa. "It's okay, Daddy."
Tubuh Yifan membeku. D-daddy? Apa Chanyeol sedang menggodanya dengan menggunakan panggilan itu atau—
Chanyeol melepaskan pelukannya pada Yifan dan meraih sebuah kotak kado berwarna biru dengan pita putih di atasnya.
"Ini kado untukmu. Sekarang sudah benar-benar tanggal 06 November." Kata Chanyeol sambil menyerahkan kado itu.
Yifan mengangkat sedikit tubuhnya untuk bersandar pada kepala ranjang. Ia membuka tali pita itu dan membuka isi kotaknya. Dahi pemuda itu mengerut ketika ia menemukan sebuah.. kertas?
.
.
.
BERSAMBUNG
Heuheu. 4000-an kata padahal cuma mau nulis bagian Yifan cuma tahan beberapa menit #digampar
Terima kasih sudah setia membaca dan meninggalkan review ^^ mohon kritik dan sarannya barangkali saia-nya perlu digamparin apa dibeliin pulsa #apaan #diem2maso #plakk #tuhkan
Heuheu.
Dengan cinta,
Mt_Chan.
