Pairing: Kris X Chanyeol

Disclaimer: Characters belong to their own.

Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!

.

.

Mt_Chan proudly presents...

.

.

.

"Make Us Forever"

-PART VIII-

"Ini kado untukmu. Sekarang sudah benar-benar tanggal 06 November." Kata Chanyeol sambil menyerahkan kado itu.

Yifan mengangkat sedikit tubuhnya untuk bersandar pada kepala ranjang. Ia membuka tali pita itu dan membuka isi kotaknya. Dahi pemuda itu mengerut ketika ia menemukan sebuah.. kertas?

Wu Yifan, putra tunggal dari pemilik perusahaan Wu, tidak pernah menyangka hidupnya akan berjalan semulus ini. Di usianya yang tepat berada di dua puluh empat tahun, ia sudah mempunyai pekerjaan tetap, seorang pasangan Omega yang sempurna, dan... selembar kertas yang ada di tangannya sekarang. Yifan membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca isinya. Awalnya ia pikir Chanyeol memberikannya sebuah surat cinta yang berisi ucapan selamat ulang tahun, namun ketika melihat kop instansi yang ada di bagian atas kertas itu membuat detak jantung Yifan memacu.

Tangan Yifan bergetar ketika membaca pernyataan dokter Lee yang dalam kertas itu menyatakan bahwa Chanyeol positif hamil. Pemuda itu sampai harus membaca ulang surat keterangan itu sampai beberapa kali sebelum akhirnya ia memandang Chanyeol yang sedang menggigit bibir bawahnya. Menunggu reaksi Yifan atas berita itu.

"Kau suka kadonya?" Tanya Chanyeol memecahkan keheningan di antara mereka.

Yifan kehilangan kata-kata. Otaknya berusaha lebih keras untuk menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan itu namun lidahnya tidak bisa bekerja sama. Satu-satunya hal yang masuk akal bagi Yifan untuk lakukan saat itu adalah menghamburkan diri pada tubuh Chanyeol dan memeluknya. Chanyeol yang tidak siap dengan reaksi yang Yifan berikan terdorong hingga tubuhnya terjatuh di atas tempat tidur.

"Thank you." Yifan memeluk tubuh Chanyeol untuk menenangkan debar jantung dan adrenalin yang tiba-tiba terpacu di tubuhnya.

Pemuda itu tanpa sadar mulai berbicara menggunakan bahasa Mandarin yang tidak Chanyeol mengerti. "I'll give the world for you."

"Ng, apa itu artinya kau menyukai kadonya?" Chanyeol mengedipkan mata besarnya sementara Yifan tersenyum mendengar hal itu.

Ini adalah kado yang Yifan tidak pernah bayangkan akan terima. Pemuda itu mengangkat tubuhnya dari atas Chanyeol dan memandang kedua matanya.

Yifan menundukkan kepalanya dan memagut bibir merah Chanyeol. Ketika Chanyeol mulai membalas ciumannya, Yifan mengalihkan bibirnya untuk mengecup dahi, mata, hidung, pipi, dagu dan kembali memerangkap bibir Chanyeol.

"Saranghae." Bisik Yifan –kali ini dalam bahasa Korea.

Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya sebelum mengalungkan kedua lengannya pada leher Yifan ketika mereka kembali larut dalam ciuman yang dalam.

.

.

.

Entah itu hari Senin, Selasa, Sabtu, atau Minggu sekali pun, Yifan akan selalu terbangun sebelum alarm di dalam kamar mereka berbunyi. Tapi kali ini, Yifan yang biasanya membiarkan Chanyeol terbangun dengan sendirinya di hari libur, mengguncangkan tubuh Omeganya itu untuk membangunkannya.

"Chanyeol?"

"Hm?"

"Aku bermimpi."

"Hm?"

"Aku bermimpi kalau kau hamil."

Kalimat yang baru saja Yifan utarakan itu sukses membuat Chanyeol terjaga sepenuhnya. Pemuda yang dalam bulan ini juga akan berulang tahun itu membalikkan posisi tubuhnya yang sebelumnya memunggungi Yifan. Chanyeol kira Alphanya itu sedang bercanda, tetapi ketika ia melihat alis Yifan yang bertaut, ia sadar bahwa Yifan benar-benar mengira apa yang terjadi semalam adalah mimpi. Chanyeol menarik tangan kiri Yifan dan meletakkannya di atas perutnya yang masih telanjang.

"Kau mau membaca surat keterangannya lagi?" Kata Chanyeol dengan suara serak khas bangun tidur.

Yifan membulatkan kedua matanya. "Jadi aku tidak bermimpi?"

Chanyeol mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat ekspresi wajah Yifan yang jauh dari kata cool seperti biasanya. Pemuda itu memajukan wajahnya dan mengecup bibir Yifan singkat.

"Good morning, Daddy. Sekarang aku mau tidur lagi." Chanyeol menarik kembali selimut yang sedikit tersingkap hingga sebatas perutnya sebelum membalikkan tubuhnya dan memunggungi Yifan.

"Chanyeol?"

"Hm?"

"Stop calling me Daddy."

"Wae?"

Pipi Yifan memanas sementara mulutnya terbuka dan tertutup ketika ia kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.

"Kita tidak akan menggunakan panggilan itu untuk anak kita nanti kan? Maksudku—"

Chanyeol memutar kedua matanya sebelum menolehkan kepalanya dan memandang Yifan dengan pandangan tidak percaya.

"Kau terlalu banyak menonton film porno, Daddy." Chanyeol terkikik ketika wajah Yifan memerah. Panggilan 'Daddy' bagi Yifan entah kenapa bermakna lain, mungkin Chanyeol benar –eh, tunggu! Yifan akhirnya menyerah dan menjatuhkan kembali kepalanya di atas bantal sementara Chanyeol masih terkikik.

.

.

.

"Apa kita harus ke tempat Dokter Lee lagi?" Tanya Yifan ketika Chanyeol akhirnya keluar dari kamar setelah mencuci muka dan menggosok giginya.

Sang Alpha meletakkan sepiring roti panggang dengan daging bacoon dan segelas susu cokelat untuk Omeganya.

"Kau tidak percaya?" Chanyeol bersungut-sungut sambil meraih susu cokelatnya.

"Bukan begitu, sayang. Ini hanya untuk memastikan, lagipula kita juga harus bertanya apa saja yang boleh dan tidak boleh kau lakukan. Kau pergi sendiri kemarin?"

Chanyeol menggeleng. "Aku pergi bersama Mama."

"Jadi Mama sudah tahu?"

Chanyeol mengangguk. Bunyi 'ding' dari microwave menandakan masakan sudah selesai dipanaskan.

"Apa aku orang terakhir yang tahu tentang kabar ini?"

Chanyeol mendengus mendengar pertanyaan Yifan. "Orang tuaku belum tahu. Baba belum –um, mungkin Mama akan memberitahunya? Sehun—"

Yifan tersenyum mendengar ocehan Chanyeol yang sibuk mengabsen orang-orang yang akan ia beritahu mengenai kabar gembira ini. Pemuda itu kemudian bangkit untuk meraih makanan yang ia tadi masukkan ke dalam microwave. Begitu mesin itu dibuka, hidung Chanyeol segera mencium aroma yang saat ini menjadi musuh terbesarnya.

Chanyeol menutup mulutnya ketika ia sudah akan muntah dan berlari ke arah kamar mandi. Yifan memandangi sepiring Ayam di tangannya kemudian punggung Chanyeol yang menghilang dari balik pintu.

"Kau masih sering mual? Apa Dokter Lee tidak memberimu obat? Apa kita harus kesana lagi?" Tanya Yifan dengan panik. Pembawaannya yang biasanya tenang terlihat gugup ketika melihat Chanyeol berusaha mengeluarkan isi perutnya.

Setelah membasuh wajahnya dan berkumur sekali lagi, Chanyeol menarik tangan Yifan untuk keluar dari kamar mandi.

"Begini saja, bagaimana kalau untuk sementara kita tidak makan Ayam dulu? Aku benar-benar tidak tahan dengan baunya." Kata Chanyeol sambil menutup hidungnya.

Yifan mengangguk sebelum berlari kembali ke arah dapur untuk menyingkirkan hidangan yang semula akan menjadi sarapannya itu.

"Done." Kata Yifan ketika Chanyeol duduk kembali di meja makan.

Wajah pemuda itu terlihat pucat. Yifan menahan diri untuk tidak mengutarakan kekhawatirannya.

"Kau harus sarapan dulu." Yifan menyodorkan piring berisi makanan yang tadi ia siapkan.

Chanyeol menggeleng lemah. Setelah mual barusan, ia kehilangan nafsu makannya.

"Atau kau mau makan buah? Aku akan mengupaskannya untukmu." Tanpa menunggu jawaban Chanyeol, Yifan membuka kulkas dan mengambil sebuah apel dan jeruk Mandarin.

Yifan menyodorkan potongan buah itu ke hadapan Chanyeol yang masih saja menggeleng.

"Kau mau aku suapi?" Yifan mengambil sepotong jeruk Mandarin dan mengarahkannya pada mulut Chanyeol.

Pada awalnya, Chanyeol masih tetap menggelengkan kepalanya dan bahkan berusaha menjauhkan tangan Yifan, tetapi begitu melihat tatapan yang Yifan berikan, Chanyeol akhirnya membuka mulutnya dan memakan jeruk itu.

Yifan memang tidak terlahir sebagai seorang Alpha tanpa alasan. Pemuda itu tahu kapan harus menggunakan dominasinya pada si Omega.

"Kau mau pulang ke rumah?" Tanya Yifan tanpa menghentikan tangannya yang terus menyuapkan buah ke mulut Chanyeol.

Kedua mata Chanyeol berbinar. "Maksudmu ke rumah Umma?"

Yifan mengangguk. Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya hingga ia tersenyum lebar.

"Kajja!" Chanyeol yang terlalu antusias sudah akan melesat ke kamarnya untuk bersiap-siap ketika Yifan menahan tangannya.

"Only if you finish your breakfast."

Chanyeol memajukan bibir wajahnya dan memasang wajah seperti anjing terbuang.

"A.." Chanyeol membuka mulutnya kembali ketika Yifan menyuapkan sepotong apel.

.

.

.

Sebelum berkunjung ke rumah keluarga Park, Yifan dan Chanyeol memutuskan untuk mampir ke pusat perbelanjaan dan berbelanja beberapa bahan makanan. Yifan memastikan Chanyeol memakai mantel hangat untuk melindunginya dari udara dingin khas bulan November yang mulai membuat mereka menggigil. Keduanya sepakat memakai topi couple berwarna hitam. Chanyeol menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemarinya sebelum memasang kembali topinya sementara Yifan mengambil troli belanja.

Chanyeol memasukkan beberapa kotak buah strawberry yang dilihatnya ke dalam troli sementara Yifan memilih daging sapi Korea. Pemuda itu hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika Chanyeol berkeliling kembali untuk mengambil makanan lain yang ia suka.

"Chanyeol-ssi?" Seorang pemuda berhenti di hadapan Chanyeol yang sedang memeluk beberapa bungkus makanan ringan.

Chanyeol mengedipkan kedua mata besarnya dan membuka mulutnya ketika kini ia berhadapan dengan kapten tim baseball kampus.

"Err- Xiumin-sshi?" Chanyeol memastikan. Ia tidak terlalu mudah menghafal nama orang lain.

Pemuda itu mengangguk dan melihat ke sekeliling Chanyeol ketika ia menyadari bahwa Chanyeol sendirian di antara rak makanan ringan itu.

"Kau sendirian di sini?"

"Uh..." Chanyeol sudah akan menjawab ketika tiba-tiba seseorang melingkarkan lengan di pinggangnya.

Yifan dengan ajaib sudah berada di sampingnya begitu saja. Namun yang membuat Chanyeol bergidik adalah aura yang Yifan keluarkan ketika ia memandang Xiumin yang notabene tinggi badannya jauh lebih pendek di antara mereka berdua.

"Teman Chanyeol?" Tanya Yifan pada Xiumin dengan nada dingin.

"Uh, dia kapten tim baseball di kampus. Xiumin-sshi, ini Yifan." Chanyeol meletakkan makanan ringan itu pada troli belanja sambil memperkenalkan kedua orang itu.

"Xiumin." Xiumin mengulurkan tangannya ke hadapan Yifan yang tidak secara langsung disambut oleh pemuda itu.

Chanyeol sampai harus menyikut Alphanya itu untuk menjabat tangan sang kapten.

"Wu Yifan. Aku suami Chanyeol." Yifan menjabat singkat tangan Xiumin sebelum melingkarkan kembali lengannya pada pinggang Chanyeol yang pada saat itu mengalihkan pandangannya untuk menutupi wajahnya yang memerah.

"Ah." Xiumin menganggukkan kepalanya. Ia seperti baru menyadari sesuatu. Pemuda itu tersenyum sebelum menggaruk lehernya.

"Senang bertemu kalian. Dan Chanyeol, kau datang latihan hari ini kan?"

Yifan menoleh dan menatap Chanyeol tajam hingga Chanyeol merasa rambut halus di seluruh tubuhnya berdiri.

"Uh, maaf. Aku sepertinya belum bisa datang. Aku harus ke rumah orang tuaku hari ini." Kata Chanyeol sambil membalas tatapan Yifan dengan penuh tanya.

"Baiklah. Aku duluan kalau begitu." Xiumin kemudian membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Yifan dan Chanyeol.

Chanyeol bisa melihat Yifan mengeraskan rahangnya ketika menatap punggung Xiumin yang berlalu di hadapan mereka.

"Kau bergaul dengannya di kampus?" Tanya Yifan dengan ketus.

Chanyeol menggeleng. "Aku bertemu dengannya beberapa kali dan kebetulan aku baru saja mendaftar dalam tim baseball bersama Sehun."

"Jadi kalian akan sering bertemu?" Yifan memandanginya dengan tatapan menyelidik.

Chanyeol mengangguk.

"Keluar dari tim." Kata Yifan.

"Huh? Waaeee?" Chanyeol menarik mantel Yifan ketika pemuda itu sudah berjalan mendahuluinya.

"Kau sedang hamil dan tidak seharusnya bermain baseball." Kata Yifan memberikan pembelaan pada keputusannya dengan alasan paling masuk akal yang terpikir oleh otaknya.

Chanyeol menggembungkan kedua pipinya. "Bergabung dalam tim bukan berarti aku harus bermain baseball."

"Aku tetap tidak setuju." Kata Yifan bersikukuh dengan pendapatnya.

Chanyeol mendecakkan lidahnya sebelum meninggalkan Yifan sendirian di antara rak-rak itu untuk kembali ke mobil sendirian. Ia tidak mengerti dengan sikap Yifan yang tiba-tiba mengatur kegiatannya. Chanyeol terus menggerutu dalam hati sementara Yifan menyelesaikan pembayaran barang belanjaan mereka dan menyusul Omeganya itu ke dalam mobil.

Chanyeol masih melipat wajahnya ketika Yifan masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk menyalakan mesinnya. Yifan menghela nafas dan mematikan kembali mobilnya.

"Xiumin itu... dia seorang beta?" Tanya Yifan dengan nada bicara sepelan mungkin.

"Entah." Jawab Chanyeol sambil mengalihkan pandangannya dari Yifan.

"Chanyeol..." Pada akhirnya Yifan yang harus mengalah.

"Hmph!" Chanyeol justru semakin mengabaikan Yifan dan memunggunginya.

"Bukannya aku tidak suka kau bermain baseball atau bergabung dalam tim, tapi..." Yifan menghela nafas lagi.

"...Apa kau tidak menyadarinya si Beta itu memandangmu seperti Hyena melihat Rusa?"

Chanyeol masih tidak bergeming.

"Chanyeol..."

"Apa kau cemburu?" Tanya Chanyeol tanpa membalikkan tubuhnya dan menatap Yifan.

Pemuda itu berusaha mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak tersenyum apalagi tertawa ketika menyadari Alphanya itu juga bisa cemburu. Namun Yifan bisa melihat pantulan wajah Chanyeol dari kaca jendela di sampingnya. Yifan menggelengkan kepalanya melihat hal itu.

"Pakai sabuk pengamanmu." Yifan sudah bersiap untuk menyalakan mobilnya lagi.

Senyum tipis itu menghilang dari wajah Chanyeol ketika pemuda itu akhirnya membalikkan tubuhnya dan menatap Yifan. "Kau menyerah begitu saja?"

Yifan menggigit bibir bawahnya agar tidak tersenyum. Namun usahanya gagal ketika melihat ekspresi wajah Chanyeol yang seperti anak anjing sedang marah. Tanpa berkata-kata Yifan menarik sabuk pengaman Chanyeol dan memasangkannya.

"Kenapa kau tidak mengaku saja kalau kau menyuruhku keluar dari tim karena kau cemburu pada Xiumin." Gerutu Chanyeol sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Kyeopta!" Yifan mencubit pipi kiri Chanyeol sebelum tangannya itu ditepis oleh si empunya.

Yifan tertawa ketika Chanyeol menggosok pipinya yang memerah.

BERSAMBUNG

Intermezzo aja kali ya update chapter isinya nggak penting #lahemangsebelumnyapenting? #huks T_T

Terima kasih yang sudah setia membaca dan meninggalkan review meskipun fanfic ini rasa-rasanya makin absurd dan nggak jelas. *which I enjoy writing it somehow pffttttt*

Mari sebarkan cinta Krisyeol di dunia per-fanfiksi-an(?) Indonesyaaaahhhh~ #apaan #digampar

Dengan cinta,

Mt_Chan.