Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART IX-
"Appa, Chanyeol hamil."
Pemuda bersurai hitam itu terkikik sebelum menegakkan posisi duduknya yang duduk bertimpuh di atas kakinya.
"Apa? Bagaimana kau bisa membuat putraku hamil?" Kata pemuda itu dengan suara dalam yang dibuat-buat.
Pemuda yang satunya mengernyit. "Chanyeol..." ujarnya memperingatkan.
"Kita ulangi lagi." Chanyeol berdehem sambil menahan tawanya ketika ia sekali lagi membetulkan posisi duduknya.
"Aku tidak mau melakukannya lagi. Kita langsung bicara pada orang tuamu." Yifan sudah akan beranjak dari tempatnya duduk ketika Chanyeol melipat kedua tangannya di dadanya.
"You're no fun." Gerutu Chanyeol dengan kedua pipinya yang digembungkan.
Yifan menghela nafasnya. Siang itu begitu mereka sampai di mansion keluarga Park, seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka untuk kemudian mendapati bahwa tuan rumahnya sedang tidak ada di tempat. Mr. dan Mrs. Park sedang menghadiri sebuah acara reuni yang bertempat di sebuah hotel.
Chanyeol yang begitu antusias bisa pulang kembali ke rumah yang ia tempati selama 17 tahun hidupnya itu sampai lupa bahwa ia sedang merajuk pada Yifan dan justru menyeret suaminya ke dalam kamar untuk memamerkan isinya.
Setelah memperlihatkan koleksi topi dan hoodienya, Chanyeol yang merasakan kegugupan Yifan yang akan memberitahu orang tuanya bahwa ia sedang hamil, mengusulkan agar mereka berlatih sebelum melakukannya. Chanyeol sebagai Mr. Park, dan Yifan sebagai –well, Yifan. Namun pada akhirnya, Chanyeol yang tidak bisa menahan tawanya ketika ia berpura-pura menjadi Ayahnya justru membuat latihan itu justru membuat Yifan tidak merasa lebih baik.
Kamar Chanyeol yang didominasi warna biru itu terlihat rapi untuk kamar seorang pemuda sepertinya. Buku-buku tertata di atas rak dan figura foto keluarga dan teman-temannya berjejer di atas dinding. Chanyeol bahkan menyimpan koleksi sepatunya di dalam lemari dengan keadaan bersih. Yifan mengabaikan Chanyeol yang kembali merajuk di atas tempat tidur dan beralih untuk melihat rak buku Chanyeol. Perhatian Yifan terhenti pada sebuah album foto yang diletakkan di salah satu raknya.
Album foto itu berisi foto-foto masa kecil Chanyeol. Entah kenapa pemuda itu menyimpannya di sana. Yifan tersenyum ketika melihat foto Chanyeol kecil, dengan tubuh gembul berjongkok dan tersenyum ke arah kamera. Senyum Yifan semakin melebar ketika menyadari bahwa bentuk daun telinga Omeganya itu sudah unik sejak ia masih kecil.
"Oh my god! You did not—" Kedua mata Chanyeol membulat begitu menyadari bahwa Yifan sedang melihat album foto yang sengaja ia sembunyikan di antara rak buku pelajaran yang ia pikir membosankan.
Chanyeol berkali-kali menyelundupkan album foto itu dari tangan orang tuanya yang gemar memamerkannya pada koleganya dan berpikir tidak ada satu orang pun yang akan menemukannya di antara rak buku pelajarannya. Chanyeol segera berjingkat dari tempatnya duduk dan berusaha merebut album foto itu dari tangan Yifan yang ternyata lebih cepat darinya dan sekarang sudah mengangkat tinggi-tinggi album foto di tangannya.
Tinggi keduanya memang tidak jauh berbeda, tetapi Yifan tetap lebih tinggi beberapa sentimeter darinya membuat Chanyeol kesulitan meraih album foto itu.
"Yifaaannn." Chanyeol merengek sambil terus berjinjit dan melonjak untuk mengambil album foto –yang menurutnya isinya terlalu memalukan untuk dilihat.
"Kau tidak mau aku melihatnya?" Yifan yang sedari tadi diam-diam menikmati sensasi menggoda Chanyeol seperti ini tidak berhenti tertawa.
"No!" Chanyeol masih bersikukuh untuk tidak membiarkan Yifan melihat foto-fotonya lebih lanjut.
Namun karena memang dasarnya Yifan yang berniat menggoda Chanyeol, ia justru membuka kembali album foto itu di antara kedua tangan panjangnya yang terangkat tinggi. Tawa Yifan kembali tergelak ketika melihat Chanyeol kecil –masih berbadan gembul, dengan kacamata berbentuk bulat berfoto dengan hewan sejenis musang.
Chanyeol kemudian menginjak salah satu telapak kaki Yifan yang saat itu tanpa alas, membuat suaminya itu sontak melepaskan album foto itu dan memegangi kakinya. Namun ketika Chanyeol berjalan mundur untuk menikmati pembalasannya pada Yifan, kepalanya justru terantuk rak buku yang berbahan kayu itu.
"Aw!" Chanyeol mengerang dan memegangi kepalanya.
Yifan yang sebelumnya meringis kesakitan setelah kakinya Chanyeol injak kembali tertawa, namun kali ini Yifan menarik leher Chanyeol dan memeluknya sebelum mengusap bagian kepala Chanyeol yang terantuk rak tadi.
"You're mean." Chanyeol mengerucutkan bibirnya.
"You're meaner." Kata Yifan yang otomatis melepaskan pelukannya ketika Chanyeol meninju dadanya.
Mereka kemudian kembali duduk di atas tempat tidur Chanyeol yang syukurlah berukuran cukup besar untuk tubuh raksasa mereka berdua. Kali ini Chanyeol sudah menyerah untuk menahan Yifan melihat isi dari album foto itu.
"Matamu minus?" Tanya Yifan ketika ia membuka beberapa halaman yang memperlihatkan foto Chanyeol berkacamata.
Pemuda itu mengangguk. "Umma menyuruhku operasi lasik ketika SMP jadi sekarang mataku sudah baik-baik saja."
Yifan mengelus puncak kepala Chanyeol sebelum mengacak rambutnya. Yifan kemudian meletakkan album foto itu di atas meja nakas dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur Chanyeol. Belum ada tanda-tanda bahwa kedua mertuanya akan kembali dalam waktu dekat. Chanyeol mengikuti Alphanya dan menyandarkan kepalanya di atas dada Yifan.
"Kau pernah punya pacar sebelum menikah denganku?" Tanya Yifan tiba-tiba.
Getaran suara Yifan di dadanya menggelitik telinga Chanyeol yang sensitif. Chanyeol menggeleng sementara Yifan memainkan rambutnya.
"Kalau begitu aku yang pertama?" Tanya Yifan.
Chanyeol lagi-lagi mengangguk. Senyuman jahil tiba-tiba mengembang di wajah Yifan.
"Mungkin tidak ada yang mau denganmu karena takut melihat telingamu?"
Chanyeol sontak terbangun dari posisinya sebelumnya dan kini beralih duduk di atas perut Yifan.
"I hate you." Chanyeol meninju dada Yifan dengan cukup keras sebelum menahan tangan Yifan di atas kepalanya.
"I'm going to punish you." Ucap Chanyeol sambil menatap Yifan dengan sinis.
"Yeah?" Namun Yifan justru terasa seperti tertantang.
"Attack on kisses!" Chanyeol kemudian menundukkan kepalanya dan berusaha untuk mencium Yifan namun Yifan yang sudah bersiap menggerakkan kepalanya hingga ciuman Chanyeol meleset ke pipinya. Yifan tertawa melihat wajah Chanyeol yang cemberut. Chanyeol kembali mengejar bibir Yifan yang lagi-lagi menggerakkan kepalanya untuk menghindari ciumannya.
"Yifaaannn."
Yifan akhirnya menghentikan tawanya dan menggerakkan tangannya yang masih Chanyeol tahan di atas kepalanya. Kejahilan yang sudah lenyap dari wajah Yifan membuat Chanyeol melepaskan tangan Yifan.
Tanpa berkata apa-apa lagi Yifan meletakkan tangannya pada leher Chanyeol dan membimbing kepala Omeganya itu agar lebih menunduk untuk kemudian ia klaim bibirnya. Chanyeol tanpa sadar menghela nafas melalui hidungnya dan menutup kedua matanya ketika Yifan memagut bibirnya.
"Chan—oh!"
Keduanya begitu larut dalam ciuman hingga tidak sadar ketika pintu kamar terbuka dan sosok Mr. Park muncul dengan ekspresi terkejut tergambar jelas di wajahnya. Bagaimana tidak, Mr. Park begitu antusias saat melihat mobil Yifan terparkir di halaman, dan kini ia berniat untuk menyapa putra dan menantunya namun justru menemukan keduanya dalam posisi yang cukup menjanjikan –Chanyeol berada di atas Yifan dengan bibir keduanya yang terkunci.
.
.
.
Kejadian ini seharusnya bukan seperti Mr. Park menemukan anak gadisnya sedang berbuat mesum di dalam kamar ketika orang tuanya pergi. Kejadian ini adalah Mr. Park menemukan anak laki-laki semata wayangnya –yang sudah menikah, sedang bermesraan dengan suaminya. Namun entah kenapa Mr. Park terlalu menjiwai pernyataan pertama. Ia tak henti-hentinya menatap tajam ke arah putra menantunya yang justru berbalik menatap tajam ke arahnya. Duel tatapan mata dari dua orang Alpha itu terhenti ketika Chanyeol dan Mrs. Park bergabung dengan mereka di ruang keluarga.
"What's going on?" Chanyeol yang merasakan aura aneh di ruangan itu menatap ke arah Yifan dan Ayahnya secara bergantian.
"Nothing." Jawab Yifan dan Mr. Park secara bersamaan sambil membuang muka dari Chanyeol yang mengedipkan kedua mata besarnya dengan pipi menggembung ketika ia mengunyah kue mochi yang Ibunya siapkan.
Mrs. Park menyembunyikan senyuman dari wajahnya ketika menyadari perangai suaminya.
"Kalian akan menghabiskan akhir pekan di sini kan?" Tanya Mrs. Park dengan antusias.
Chanyeol mengangguk cepat sebelum memasukkan kembali kue mochi ke dalam mulutnya.
"Kami akan menginap kalau tidak merepotkan Eomonim dan Aboenim." Kata Yifan menggunakan sapaan sopan untuk kedua mertuanya.
"Tentu tidak, Yifan. Kami justru berharap kalian lebih sering datang ke rumah. Pak Tua ini lebih sering melamun sejak putranya menikah." Kata Mrs. Park sambil melirik ke arah suaminya yang masih berwajah tegang.
Tidak seperti Mr. Wu yang lebih terbuka mengungkapkan perasaan sayangnya pada putra dan menantunya, Mr. Park kurang bisa mengekspresikan emosinya. Mungkin jika dengan Chanyeol saja Mr. Park bisa membuka diri, namun ia masih terlihat canggung dengan Yifan.
"Oh iya, bukankah hari ini ulang tahun Yifan? Kalian sudah belanja sebelumnya, apa kita perlu masak Bulgogi?"
Kedua mata Chanyeol berbinar dan lagi-lagi mengangguk dengan cepat sebelum memasukkan kue mochinya yang kelima. Yifan mengernyitkan dahinya ketika nafsu makan Chanyeol tiba-tiba berubah drastis dibandingkan dengan di apartemen sebelumnya.
.
Sementara Yifan membantu Mrs. Wu di dapur menyiapkan makan malam, Chanyeol mengeluarkan harta karunnya berupa seperangkat playstation ditemani Mr. Park yang sibuk menanyainya mengenai pengalaman bekerja di perusahaan Wu.
Setelah hampir satu jam berada di dapur membantu Ibu mertuanya, Yifan kemudian melongok ke luar untuk kemudian mendapati Chanyeol masih berkutat dengan playstationnya sementara Mr. Park membaca koran di atas sofa. Meskipun waktu baru menunjukkan pukul 4 sore, namun karena musim dingin, hari terlihat mulai gelap.
"Kau sebaiknya mandi." Kata Yifan sambil mengacak rambut Chanyeol yang matanya tidak lepas dari layar tv. Chanyeol tidak menyahut.
"Chanyeol..." Yifan memperingatkan sebelum Chanyeol mem-pause game nya dan menatap Yifan dengan kedua mata besarnya.
"Lima menit lagi." Kata Chanyeol sambil berniat untuk melanjutkan gamenya.
"Now." Sisi Alpha Yifan terlihat puas ketika Chanyeol –meskipun dengan ekspresi wajah masam, mematikan gamenya dan melakukan apa yang Yifan katakan.
Mr. Park yang sedari tadi diam-diam menyaksikan kejadian itu hanya menggelengkan kepalanya. Di satu sisi ia merasa lega karena Yifan berhasil mendisiplinkan Chanyeol dan entah bagaimana caranya ia bisa membuat Chanyeol menuruti perkataannya, namun di sisi lain ia juga berharap Yifan tidak cepat bosan dengan sikap Chanyeol yang memang masih kekanak-kanakan itu.
Sementara Chanyeol masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, Yifan membereskan kekacauan yang Omeganya itu buat dengan kabel playstation berserakan dan remah-remah makanan di sekitarnya.
"Kau tidak harus melakukannya, Yifan. Biar nanti pelayan yang membersihkannya." Kata Mr. Park.
Yifan tersenyum kecil sebelum duduk di atas sofa setelah ia selesai. Mr. Park melipat kembali korannya dan berniat untuk memulai obrolan dengan menantunya itu. Namun belum sempat ia memulai, Chanyeol melongok dari balik pintu kamarnya dengan hanya memakai celana boxernya.
"Yifan, celana dalamku di mana?" Teriak Chanyeol.
Yifan menutup kedua matanya sebelum menoleh dan menatap Chanyeol dengan tidak percaya. "Kau meletakkannya di bagian tas paling dalam." Kata Yifan.
"OK!" Chanyeol mengangkat ibu jarinya sebelum kembali menghilang di balik pintu.
Meskipun ia mempunyai pakaian ganti di rumah itu, namun Chanyeol tetap bersikeras untuk membawa beberapa pakaian dari apartemen mereka.
Tawa Mr. Park yang menyaksikan hal itu akhirnya mencairkan suasana yang canggung dengan Yifan.
"Apa Chanyeol merepotkanmu ketika berada di kantor?" Tanya Mr. Park setelah ia menghentikan tawanya.
Yifan menggeleng. "Aku menempatkannya di Departemen lain. Jadi, kami hanya bertemu ketika berangkat atau pulang kerja."
"Baguslah. Aku kira dia hanya akan mengganggumu selama di kantor." Kata Mr. Park.
"Mengenai hal itu juga, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan." Yifan mengira ini adalah saat yang tepat untuk membagi berita itu pada Ayah mertuanya.
Mr. Park mengangkat salah satu alisnya dan menunggu Yifan menyelesaikan kalimatnya.
"Chanyeol dinyatakan positif hamil..." Yifan sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi Mr. Park mendengar hal itu. Namun entah karena beritanya yang terlalu mengejutkan atau apa tetapi ekspresi wajah pemilih perusahaan bisnis Park itu hanya datar.
"Jadi aku rasa sebaiknya kita tunda dulu mengenai Chanyeol menerima bagian saham dan menempati posisinya di perusahaan." Kata Yifan menyelesaikan kalimatnya.
Mr. Park masih belum menunjukkan reaksi apapun.
"Appa?" Yifan memastikan bahwa Mr. Park masih tersadar.
"Bisa kau ulangi kalimatmu sebelum itu?" Mr. Park memandang Yifan dengan kebingungan.
"Chanyeol hamil?"
"Omona!"
Mrs. Park yang baru saja keluar dari dapur hampir saja menjatuhkan piring berisi makanan yang ia bawa menuju ruang makan ketika ia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Yifan dengan suaminya. Wanita itu segera meletakkan piring itu di atas meja dan mendekati menantunya.
"Apa aku tidak salah dengar?" Mrs. Park ingin memastikan sekali lagi.
Yifan mengangguk. Ia berusaha tersenyum tetapi bibirnya justru melengkung dengan aneh ketika Mr. dan Mrs. Park saling bertatapan dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan.
"Apa menurutmu Chanyeol tidak terlalu muda untuk hamil? Aku tahu dia sudah matang dan—" Mrs. Park tidak melanjutkan kalimatnya ketika sang Alpha menahan tangannya.
Yifan berusaha mengerti kekhawatiran Ibu mertuanya mengenai usia Chanyeol yang masih terbilang muda untuk hamil. Sang Alpha sendiri sudah berkali-kali memikirkan hal itu di benaknya, tetapi ia juga sudah tidak sabar untuk segera mempunyai keturunan dengan Omeganya itu.
Mrs. Park yang semula mengerutkan dahinya kemudian berusaha tersenyum ketika Yifan menyadari apa yang dirasakannya mendengar kabar itu. Sementara Mr. Park yang juga tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya, melakukan hal yang sama dengan istrinya. Namun dari ekspresi wajah Mr. Park kali ini, ia terlihat –lega.
"Aku sudah memikirkan mengenai kesehatan Chanyeol dan yang lainnya, itulah kenapa aku ingin Appa menunda tugas Chanyeol di perusahaan sampai dia siap. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjaga Chanyeol." Kata Yifan berusaha meyakinkan kedua mertuanya.
"Kami minta maaf, Yifan. Bukannya kami tidak percaya padamu, kami hanya terkejut dengan kabar ini. Chanyeol masih seperti anak-anak dan dia sudah akan punya anak –oh!" Mrs. Park mendadak merasa sentimentil hingga kedua matanya berkaca-kaca.
Mr. Park merangkul pundak istrinya yang sibuk menyeka sudut matanya yang memerah.
"Kami bahagia mendengarnya. Aku tahu kau akan menjaga Chanyeol kami dengan baik."
Yifan akhirnya bisa bernafas lega mendengar hal itu.
Kali ini, yang menjadi topik pembicaraan di ruang keluarga itu muncul dari balik pintu kamarnya menggunakan celana piyama panjang berwarna putih dengan motif beruang dan kaos berwarna hitam. Chanyeol tanpa sadar mengelus perutnya hingga kedua sudut bibirnya tertarik. Ia bahkan bersenandung kecil ketika ia sampai di ruang keluarga dan mendapati ketiga orang di tempat itu menatapnya dengan pandangan yang errr –
"Apa?" Chanyeol memeriksa kembali penampilannya dari ujung kaki hingga ke tubuh bagian atasnya ketika ia pikir ada yang salah dengan apa yang dipakainya. Namun ia masih belum juga mengerti dengan tatapan Alpha dan orangtuanya itu.
Mrs. Park kembali menyeka sudut matanya sebelum beranjak dari tempatnya duduk. Wanita itu kemudian memeluk putra tunggalnya. Chanyeol berkedip pelan dan berusaha menatap Yifan untuk meminta penjelasan. Sang Alpha hanya tersenyum melihat pemandangan itu.
"Kau mau makan apa? Umma akan memasaknya untukmu." Mrs. Park menangkup pipi kiri Chanyeol sambil menatapnya dengan mata sembab.
"Huh?"
"Bagaimana ini, kau sudah akan menjadi orang tua tapi kau sendiri masih anak-anak." Mrs. Park tidak dapat lagi menyembunyikan tangisan harunya. Ia kemudian mencubit pipi Chanyeol hingga pemuda itu mengerang kesakitan.
"Kau sudah memberitahu mereka?" Tanya Chanyeol pada Yifan setelah ia berhasil melepaskan diri dari Ibunya.
Yifan mengangguk. Chanyeol kemudian berdiri di depan Ayahnya yang masih termangu.
"Appa tidak suka?" Tanya Chanyeol.
"Hm?" Mr. Park tidak tahu bagaimana ia harus mengekspresikan dirinya di hadapan Chanyeol yang masih menunggu reaksinya.
"Appa bahagia mendengarnya." Mr. Park mengangkat tangannya, sebuah gestur yang begitu Chanyeol hafal hingga pemuda itu otomatis menundukkan kepalanya dan membiarkan sang Ayah mengelus puncak kepalanya.
Entah kenapa Yifan justru teringat anak anjing yang sedang dielus oleh pemiliknya. Tunggu –Chanyeol bukan anak anjing. Yifan menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran itu.
Mereka berempat kemudian berpindah ke meja makan untuk makan malam. Menu utama di meja itu adalah bulgogi dengan hidangan sampingan berupa japchae, telur dadar gulung, kimchi dan sup rumput laut untuk Yifan yang sedang berulang tahun. Namun Yifan sepenuhnya mengerti ketika sup rumput laut itu justru Mrs. Park sodorkan kepada Chanyeol yang memang disarankan untuk banyak memakan makanan jenis itu.
Chanyeol menyendokkan sup rumput laut itu dan menyuapkannya pada Yifan yang dengan canggung menerima suapan itu di hadapan kedua mertuanya. Mr. Park tanpa sadar menatap ke arah keduanya dengan tajam. Chanyeol biasanya akan menyendokkan makanan yang ia suka dan menyuapkannya pada Ayahnya agar mencicipinya.
Chanyeol yang baru saja memasukkan telur dadar gulung tiba-tiba merasa mual dan hampir memuntahkan makanan itu ketika ia berhasil menahannya. Yifan meletakkan sendoknya dan mengelus punggung Chanyeol.
"Apa kau sering mual?" Mrs. Park mengawasi putranya dengan khawatir.
Chanyeol meneguk air putih sebelum menggeleng. "Tidak sering. Tetapi sepertinya aku sudah dikutuk oleh ayam-ayam itu hingga aku bahkan tidak boleh memakan telur mereka." Gerutu Chanyeol sebelum memasukkan bulgogi –yang merupakan makanan berbahan daging sapi, ke dalam mulutnya.
"Ayam?" Mr. Park mengernyitkan dahinya yang sudah menampakkan garis usianya.
"Chanyeol akan mual setiap kali mencium aroma daging ayam. Aku kira tidak masalah jika ia memakan telurnya, tetapi ternyata ia juga tetap mual." Jelas Yifan.
"Aigooo." Mrs. Park menggelengkan kepalanya sementara Mr. Park menyingkirkan piring telur dadar itu dari hadapan Chanyeol dan menggantinya dengan bulgogi.
.
.
.
"Apa menurutmu mereka benar-benar senang mendengar berita ini?" Tanya Chanyeol ketika ia sudah berbaring dengan Yifan di atas tempat tidurnya.
Yifan yang sudah memejamkan matanya dan mengelus perut Chanyeol itu tersenyum.
"They're the happiest." Jawab Yifan.
Tangan Yifan membuat pola memutar di atas perut Chanyeol. Omeganya itu sempat keberatan dengan kebiasaan baru yang Yifan lakukan karena tangan Yifan terasa dingin di atas perutnya, tetapi setelah cukup terbiasa, gerakan itu justru membuatnya nyaman.
"Kau seharusnya menunggu aku kalau ingin memberitahu mereka." Protes Chanyeol.
Yifan membuka kedua matanya. Ia kemudian mengangkat wajahnya yang sebelumnya ia sembunyikan pada leher Chanyeol. Mereka berdua bertatapan sebelum Yifan menundukkan wajahnya dan menangkap bibir Chanyeol dalam ciuman. Chanyeol otomatis menutup kedua matanya dan membalas pagutan lembut bibir Yifan.
Tangan Yifan yang semula berada di atas perut Chanyeol mulai bergerak semakin ke bawah sebelum tangan Chanyeol berhasil menahannya. Chanyeol melepaskan ciuman itu dan menatap Yifan.
"Aku lupa bilang kalau Dokter Lee menyarankan agar kita tidak berhubungan seks selama tri semester pertama."
"Huh?"
"Tapi kau membiarkan aku melakukannya kemarin sepulang dari Beijing?" Tanya Yifan.
Chanyeol hanya meringis. "That's because I miss you and it's your birthday."
"Tapi hari ini masih ulang tahunku." Sanggah Yifan.
Chanyeol mengecup singkat bibir Yifan sebelum menarik selimut dan memunggungi suaminya itu.
"Night, Alpha."
Yifan mengerang sebelum kembali menjatuhkan diri di atas tempat tidur sembari berusaha memikirkan hal-hal yang membuatnya turn off.
.
.
.
Mr. Park belum bisa memejamkan matanya malam itu ketika ia kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar. Mr. Park sebelumnya sempat meraih sebuah album foto yang ia simpan di laci meja nakasnya dan membawanya ke ruang keluarga. Laki-laki itu mulai membuka album foto itu dan merangkai kembali memori yang tersimpan di kepalanya setiap kali ia melihat foto putra semata wayangnya itu.
Mr. Park mengetahui bahwa Chanyeol menyembunyikan album foto yang asli darinya. Seperti sudah mengantisipasi hal itu, Mr. Park sudah terlebih dahulu membuat salinan untuk dirinya sendiri.
Mr. Park begitu larut dalam nostalgianya sampai ia tidak sadar Chanyeol sudah berdiri di samping sofa tempatnya duduk.
"Appa tidak tidur?" Tanya Chanyeol dengan suara bassnya yang otomatis membuat jantung Mr. Park hampir melompat dari dadanya.
Pemuda itu memegang sebuah cup yoghurt ukuran besar sambil memeluk semangkuk buah strawberry yang tadi dibelinya di Supermarket. Tanpa menunggu jawaban dari Ayahnya, Chanyeol mengambil tempat duduk di samping Mr. Park sebelum mencelupkan buah strawberry ke dalam yoghurt dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kau lapar?" Tanya Mr. Park.
Chanyeol mengangguk sebelum mengambil sebuah strawberry dan menyuapkannya pada Ayahnya. Mr. Park tiba-tiba merasa sentimentil. Chanyeol –putra semata wayang dan kesayangannya ternyata belum berubah.
"Itu apa?" Tanya Chanyeol melihat album foto di atas pangkuan Ayahnya.
Mr. Park berusaha menutup album foto itu namun terlambat ketika Chanyeol membulatkan kedua matanya.
"Yah! Jadi Appa masih punya yang lain?" Kata Chanyeol hampir berteriak.
"Sssttt." Mr. Park memperingatkan Chanyeol agar tidak berisik dan membangunkan yang lain.
Chanyeol merengut dan memajukan bibir bawahnya.
"Kau ingat nama musang ini?" Tanya Mr. Park sambil memperlihatkan foto Chanyeol yang memeluk seekor musang kecil.
Chanyeol yang awalnya berniat merajuk pada Ayahnya mau tidak mau melirik ke arah album foto itu sebelum tersenyum. Pemuda itu mengangguk sambil memasukkan buah strawberry ke dalam mulutnya.
"Ddori. Aku memberinya nama Ddori."
Mr. Park dan Chanyeol tertawa kecil mengingat bagaimana musang itu hampir menggigit jarinya ketika Ayahnya membelikan pertama kali untuknya. Namun tiba-tiba Chanyeol merasa sedih karena Dori akhirnya lari dari kandang dan tidak pernah pulang.
"Kau mau hewan peliharaan lagi? Appa akan membelikannya untukmu." Kata Mr. Park sambil mengelus puncak kepala Chanyeol. Ia terkadang menyesali sikapnya seperti ini yang sering memanjakan Chanyeol. Tetapi ia hanyalah seorang Ayah.
Chanyeol menggeleng sebelum meletakkan mangkuk strawberry dan yoghurtnya. Ia kemudian memeluk Ayahnya itu dan meletakkan kepalanya di atas dada.
"Aku akan menjadi ayah seperti Appa." Kata Chanyeol sambil mengeratkan pelukannya.
Mr. Park berusaha mati-matian menahan lelehan cairan panas yang keluar dari matanya.
BERSAMBUNG
Capek nggak sih gaessss baca fanfic iniiihhh? Wkwkkwwk
Saia udah nyerah bikin konflik berat di fanfic ini #lahemangada?
Jadi, kayaknya fanfic ini isinya bakalan begini2 aja, nggak jelas. Saia juga nggak tahu mau diterusin sampe chapter berapa wkwkwkk #nggakjelasjugaauthornya
Terima kasih untuk yang sudah setia membaca dan meninggalkan review ya ^^ sini cium dulu #ditaboks
Errr, anu, itu fanfic saia yang "PARADISE" di akun satunya juga udah update lho #jiwasalespantangmundur #promosimulu hihi ^^
Dengan cinta,
Mt_Chan
