Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART X-
Memasuki usia kehamilan yang baru berada di minggu ke tiga, banyak perubahan yang terjadi dalam diri Chanyeol. Selain kebiasaan sehari-harinya yang kini lebih banyak dihabiskan untuk buang air kecil dan mual, perubahan emosi dalam diri pemuda itu juga sering tidak terduga. Yifan sebisa mungkin memaklumi dan melakukan yang terbaik yang ia bisa untuk mendampingi Chanyeol.
Pagi itu, usai menghabiskan waktu di toilet untuk mual-mual, Chanyeol yang biasanya akan terbangun jauh setelah alarm berbunyi, kini sudah terjaga ketika jam di dinding kamarnya masih menunjukkan pukul 04.00 pagi. Yifan bahkan masih terlelap di tempat tidur dengan posisi terlentang. Tidak mau mengganggu tidur Alphanya itu, Chanyeol memilih untuk keluar dari kamar dan menuju dapur. Pemuda itu berniat untuk memakan buah strawberry kesukaannya ketika lagi-lagi rasa mual melanda perutnya.
Sementara itu, Yifan yang mendengar alarm di kamarnya berbunyi segera membuka mata. Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi dan ketika ia menengok ke sampingnya, sisi tempat tidur itu sudah kosong. Setelah meregangkan otot tubuh dan merapikan tempat tidur, Yifan keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Omeganya. Pemuda itu otomatis mengernyit ketika ia melihat mesin penyedot debu otomatis sudah berkeliling di ruang tengah sementara pintu kaca yang menghubungkan ruangan itu dengan balkon sudah terbuka. Hawa dingin pagi di bulan November berhembus ke dalam rumah.
"Chanyeol?" Yifan masuk ke dalam dapur. Tidak ada Chanyeol di sana, namun ia melihat coffee maker sudah menyala dan sibuk menyiapkan kopi.
Yifan kembali berjalan ke arah ruang keluarga dan akhirnya ia bisa bernafas lega ketika mendapati Chanyeol terbaring di atas sofa dengan salah satu lengan menutupi wajahnya. Dengkuran kecil keluar dari sela-sela mulut Chanyeol yang terbuka. Yifan kemudian berjongkok dan memandangi wajah Omeganya yang terlihat pucat.
Sepulang dari mansion keluarga Park, Yifan bersikeras untuk mampir ke klinik Dokter Lee untuk memastikan kesehatan Chanyeol. Dengan senyum di wajahnya, Dokter Lee menjelaskan bahwa Chanyeol berada dalam kondisi baik dan morning sickness yang dialaminya masih wajar. Namun Yifan tetap tidak bisa berhenti khawatir setiap kali melihat Chanyeol menunduk di depan wastafel untuk mengeluarkan isi perutnya.
Chanyeol menggerakkan lengannya dan membuka kedua matanya ketika ia merasakan sebuah kecupan di pipi kirinya. Yifan meringis ketika Chanyeol mengerjapkan kedua matanya. Entah ini hanya perasaan Yifan atau apa, tetapi sejak dinyatakan hamil, kulit Chanyeol terlihat lebih kenyal dan begitu lembut sampai Yifan terus menahan diri untuk tidak menggigit pipinya.
"Kenapa kau membiarkan pintunya terbuka? Kau tidak kedinginan?" Yifan mengusap dahi Chanyeol dan menyisir rambutnya menggunakan jemarinya.
Chanyeol melongok ke arah pintu kaca di samping ruang keluarga itu. "Aku ingin menghirup udara segar." Jelasnya dengan suara serak.
"Masih mual?" Tanya Yifan tanpa menghentikan gerakan tangannya.
Chanyeol mengangguk sebelum bangkit untuk duduk. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa tertidur di atas sofa. Sepertinya tadi ia baru saja berniat untuk menyiapkan sarapan untuk Yifan. Pemuda itu kemudian memajukan tubuhnya dan memeluk tubuh hangat Yifan yang kini sudah duduk di tepi sofa.
"Mau tidur lagi?" Yifan mengusap pelan tanda klaim yang ia berikan di leher Chanyeol.
Tanpa perlu mendengar jawaban Chanyeol, Yifan seperti sudah bisa mengerti ketika Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya. Yifan membimbing tubuh Chanyeol dan masuk kembali ke dalam kamar.
Yifan sadar bahwa ia akan terlambat sampai di kantor jika sampai detik ini ia tidak juga bersiap. Namun sekarang ini yang menjadi prioritasnya adalah sang Omega yang segera terlelap kembali begitu kepalanya menyentuh bantal. Yifan menepuk pelan punggung Chanyeol dan memastikan dengkuran kecil itu sudah kembali terdengar sebelum ia melepaskan diri darinya untuk mandi dan bersiap ke kantor.
.
.
.
"Yifan?!"
"Yes, love?"
"Kau berangkat tanpa memberitahu aku?"
"Huh? Tapi tadi—"
"I hate you!"
Tut. Tut. Tut.
Chanyeol melemparkan ponselnya di atas tempat tidur ketika bibirnya mengerucut dengan pipi menggembung. Ia merasa kesal ketika terbangun sendirian di kamar dan Yifan sudah berangkat ke kantor. Biasanya hal ini sering terjadi dan Chanyeol tidak pernah mempermasalahkannya, tetapi hari ini Chanyeol seperti merasa terkhianati ketika tahu Yifan berangkat tanpa membangunkannya.
Pemuda itu menarik selimut berwarna biru itu kembali dan membungkus seluruh tubuhnya sebelum beberapa detik kemudian membukanya kembali. Ponsel yang tadi ia lempar itu ia raih kembali. Sebuah pesan masuk dari Yifan.
Aku tidak tega membangunkanmu tadi pagi. Aku akan pulang lebih awal. Love you.
Chanyeol memutar kedua matanya sebelum memutuskan untuk menelepon sahabatnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi dan Chanyeol yang tidak ada jadwal kuliah hari itu merasa bahwa ia akan mati bosan jika hanya tinggal di rumah.
"Apa?" Tanya Sehun begitu sambungan telepon itu terhubung.
Chanyeol yang sudah terbiasa dengan sifat Sehun yang ketus hanya bisa menghela nafas mendengar sapaan itu. Apalagi ditambah ketika Chanyeol baru memberitahu kabar mengenai kehamilannya pada sahabatnya itu kemarin, Sehun sepertinya masih sedikit kesal.
"Kau di mana?" Tanya Chanyeol yang segera bangkit dari tempat tidur tanpa merapikannya kembali.
"Aku sedang di kampus. Ada apa?"
"Aku bosan di rumah." Kata Chanyeol yang bisa mendengar helaan nafas Sehun di seberang.
"Aku masih ada dua kelas lagi setelah ini. Kau tentukan tempatnya, aku akan menjemputmu di rumah setelah selesai." Kata Sehun sebelum menutup teleponnya.
.
.
.
Hari itu Chanyeol memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan bermain bowling dengan Sehun. Yifan sudah melarangnya untuk berangkat ke kantor karena ia khawatir Chanyeol kelelahan dan menganggu kesehatannya, namun bukan berarti Yifan tidak mengizinkannya untuk pergi ke luar rumah.
Sehun yang masih menderita dari putusnya hubungan dengan Omeganya hanya bisa menuruti keinginan sahabatnya yang sedang hamil itu. Mereka berdua bergantian melemparkan bola untuk menjatuhkan pin. Skor Chanyeol saat ini lebih unggul.
"Apa kau sudah mencoba bicara dengannya?" Tanya Chanyeol ketika ia akhirnya menyusul Sehun yang duduk di meja mereka.
Nafas Chanyeol sedikit terengah. Ia merasa kondisi tubuhnya sekarang sangat lemah, karena ia akan merasa cepat lelah hanya karena bergerak sedikit. Sehun mengangkat wajahnya yang sedari tadi fokus melihat layar ponselnya. Pemuda yang usianya lebih muda dari Chanyeol itu kemudian mengangkat bahunya untuk menanggapi pertanyaan sahabatnya itu.
"Kau seharusnya sedikit mengalah dan mulai bicara padanya. Aku dengar semakin lama kalian berpisah, maka semakin pudar pula ikatan yang sebelumnya ada." Kata Chanyeol sebelum menyeruput jus strawberrynya. Awalnya ia sudah akan memesan minuman soda, namun begitu Sehun memelototinya, hal itu urung ia lakukan.
Sehun menghela nafas sebelum memutar kedua matanya mendengar ocehan Chanyeol.
"Kau baru menikah beberapa bulan dan sudah bertingkah seperti seorang ahli." Ujarnya.
Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Setidaknya ia dan Yifan jarang bertengkar, dan sekalinya bertengkar, mereka bisa menyelesaikannya dengan baik.
"Atau jangan-jangan kau sengaja melepaskan ikatan itu agar kau bisa mendapatkan Omega baru?" Kata Chanyeol menggoda Sehun.
Namun rupanya hal itu sontak membuat Sehun menegakkan tubuhnya dan menendang tulang kering Chanyeol hingga membuat pemuda itu mengerang kesakitan.
"Aw! Aku akan mengadukanmu pada Yifan." Gerutu Chanyeol sambil memegangi kakinya.
"Tch." Sehun mendecakkan lidahnya dan menyeruput Bubble teanya. Meskipun ia terlihat tidak peduli, tetapi di dalam kepalanya ia sibuk merenungi kalimat Chanyeol.
Dua orang pemuda itu melanjutkan permainan bowling mereka. Namun kini Chanyeol lebih banyak menonton ketika ia merasa terlalu lelah untuk sekedar mengangkat bola yang cukup berat itu. Chanyeol tertawa terpingkal ketika melihat tangan Sehun hampir ikut tertarik ketika bola itu menggelinding. Keduanya begitu larut mengawasi pin-pin yang mulai berjatuhan hingga tidak sadar ketika ada seseorang yang mendekati mereka.
Chanyeol akhirnya menghentikan tepukan tangannya ketika hidungnya menghirup aroma yang tidak asing baginya. Pemuda itu berbalik dan benar dugaannya, ia mendapati Yifan sudah berdiri di belakang mereka dengan kedua tangan ia simpan di saku celananya dan rahang tajamnya mengeras.
Chanyeol menelan ludahnya melihat pandangan yang Yifan berikan padanya.
"Ups." Sehun yang akhirnya ikut menyadari kehadiran Yifan mengangkat kedua alisnya ketika situasi mendadak canggung.
"Kau sudah pulang?" Tanya Chanyeol ketika Yifan belum juga melepaskan ekspresi wajah seriusnya.
Sementara itu Sehun segera mengemasi barang-barangnya dan berpamitan pada kedua orang itu. Yifan berusaha keras untuk tersenyum ketika Sehun menjabat tangannya.
"Thank you." Ucap Yifan dengan nada bicara dan tingkah laku yang begitu terlatih untuk tetap bersikap sopan apapun yang terjadi.
Yifan kemudian memusatkan kembali perhatiannya pada Chanyeol yang hanya bisa berdiri dengan kikuk.
"Ayo kita pulang." Kata Yifan sambil berjalan terlebih dahulu.
Chanyeol yang sudah menunggu agar Yifan menggandeng tangannya akhirnya hanya bisa mengekor di belakangnya.
Ketika mereka memasuki mobil Yifan, Chanyeol sudah tidak bisa menahan mulutnya lagi. Ia tidak suka dengan sikap Yifan yang dingin seperti itu.
"Kau marah?" Tanya Chanyeol ketika Yifan mulai melajukan mobilnya.
"No." Jawab Yifan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di hadapannya.
Chanyeol menghela nafas panjang. Ia juga bisa bersikap dingin seperti yang Yifan lakukan sekarang, tetapi entah kenapa dalam situasi ini, Chanyeol merasa dirinyalah yang bersalah. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Musim dingin membuat sore itu terlihat lebih gelap dari seharusnya. Kilau lampu jalan yang memantul ke dalam mobil audi berwarna hitam itu menjadi satu-satunya penerangan.
Chanyeol melirik ke arah Yifan yang masih membisu dengan kedua tangan yang mencengkeram kemudi. Yifan biasanya akan meletakkan salah satu tangannya di atas paha Chanyeol atau menggenggam tangannya.
Dengan ragu-ragu Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada Yifan dan menggandeng lengannya. Yifan yang raut wajahnya begitu serius terlihat sedikit melembut ketika Chanyeol meletakkan kepalanya di atas bahunya.
"I'm sorry." Bisik Chanyeol sebelum menenggelamkan wajahnya pada leher Alphanya.
Reaksi yang Yifan berikan membuat sisi Omega Chanyeol mendengkur seperti anak kucing ketika salah satu tangan Yifan akhirnya terlepas dari kemudi dan menggenggam tangannya.
"Kau sudah makan?" Tanya Yifan sambil mengecup puncak kepala Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang dilaluinya menggunakan mobil.
Chanyeol menggeleng. Sepiring kentang goreng dan jus strawberry yang tadi ia habiskan di tempat bowling menghilang dari ingatannya.
Yifan akhirnya tersenyum. "Kau mau makan apa? Aku akan memasak di rumah."
Chanyeol sungguh tergoda untuk memakan masakan buatan Yifan yang jauh lebih baik dari masakannya, apalagi ketika ia menghabiskan waktu untuk menunggu makanan siap dengan duduk di meja makan sambil memandangi punggung Yifan yang bergerak di konter dapur. Namun Chanyeol menelan ludahnya ketika ia terbayang sebuah makanan yang sudah lama ingin ia makan.
"Aku ingin makan ddeobboki." Kata Chanyeol.
"Tapi aku ingin ddeobboki yang dijual di dekat sekolahku dulu." Tambah Chanyeol ketika Yifan sepertinya sudah berpikiran untuk membelokkan mobilnya pada sebuah restoran yang menjual ddeobboki.
Yifan melirik arloji yang berkilauan di tangan kirinya sebelum mengeratkan genggamannya di tangan Chanyeol.
"Your wish is my command." Kata Yifan.
Chanyeol menutup kedua matanya sambil berusaha untuk tidak tersenyum mendengar cheesy line dari Alphanya itu.
"You're the best." Chanyeol mengecup rahang Yifan sebelum kembali menyandarkan kepalanya pada bahu pemuda itu.
"Dan oh! Sepertinya kita sudah terlewat jauh jadi kau harus memutar balik." Kata Chanyeol ketika melihat jalanan yang kini mereka lewati.
.
.
.
Beruntung ketika keduanya sampai, kedai ddeobokki yang Chanyeol maksud belum tutup. Kedai kaki lima itu terlihat ramai dengan beberapa pengunjung. Chanyeol dan Yifan memilih tempat duduk dan memesan dua porsi ddeobboki dan beberapa tusuk Odeng atau fish cake. Begitu pesanan mereka tiba, Chanyeol segera menusukkan sepotong ddeobokki dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Yifan yang sebenarnya tidak terlalu suka makanan pedas mengawasi Chanyeol yang tiba-tiba meletakkan kembali tusuk gigi yang ia pakai untuk makan ddeobokki itu.
"Tidak enak?" Tanya Yifan mengerutkan dahinya.
Chanyeol menggeleng sebelum menutup mulutnya. Ia menarik selembar tissue dan mengeluarkan kembali makanannya.
"Kau mau makan yang lain?" Tanya Yifan menawarkan. Ia sempat melihat bahwa selain kedai ddeobokki, ada juga deretan kedai makanan lain di tempat itu.
Chanyeol yang sudah kehilangan nafsu makannya menggeleng. Namun ia meraih kembali tusuk giginya dan menusukkan sepotong kue beras itu.
"Aaaa..." Chanyeol menyodorkan ddeobokki yang ke hadapan mulut Yifan.
Dengan ragu-ragu Yifan memakan kue beras berlapis saus pedas itu. Rasa panas dan terbakar segera memenuhi mulutnya, tetapi Yifan lagi-lagi hanya bisa menerima suapan Chanyeol yang entah kenapa justru merasa kenyang hanya dengan melihat Yifan makan.
"Kau harus makan juga." Kata Yifan ketika bulir-bulir keringat mulai bermunculan di wajah tampannya.
"Hnggg..." Chanyeol menahan tangan Yifan yang akan menyuapinya dengan makanan itu.
Yifan dengan refleks memundurkan wajahnya ketika porsi ddeobokki milik Chanyeol sudah hampir habis disuapkan padanya sementara miliknya masih utuh. Rasa pedas menguasai mulutnya sementara seluruh tubuhnya sudah mulai berkeringat sampai Yifan harus melepaskan jasnya.
"Kau tidak suka?" Chanyeol mengerucutkan bibirnya ketika Yifan menolak suapannya.
"Aku suka, tapi aku sudah kenyang." Ujar Yifan membuat alasan agar tidak perlu menghabiskan makanan yang menyiksa lidahnya itu.
"I hate you!" Kata Chanyeol sambil membuang wajahnya membuat Yifan yang kepedasan mengernyitkan dahinya.
"Chanyeol..." Apakah Omeganya itu sedang mengerjainya dengan membuatnya makan makanan pedas seperti ini? Batin Yifan dalam hati sambil meraih tissue dan mengelap wajahnya.
Setelah rasa pedas di mulutnya mulai mereda, Yifan kembali menyiapkan diri untuk menuruti keinginan Omeganya. "Aku akan menghabiskannya."
Kalimat itu sukses membuat wajah Chanyeol bersinar hingga pemuda itu kembali mengangkat tusuk gigi tadi dan mulai menyuapi Yifan yang berkeringat di musim dingin.
Beberapa pengunjung memperhatikan dua orang itu.
"Bukannya aku senang melihatmu menderita karena kepedasan seperti ini, tetapi aku juga tidak tahu kenapa aku ingin sekali melihatmu makan ddeobokki." Kata Chanyeol dengan senyuman di wajahnya.
Yifan hanya berharap dalam hati bahwa anak yang sedang berada di dalam perut Chanyeol tidak mewarisi sifat Omeganya yang unik itu.
Bibir Yifan sudah merah dengan wajah berhias keringat ketika akhirnya ia berhasil memakan dua porsi ddeobokki seperti keinginan Chanyeol. Telinga Yifan sampai berdengung akibat rasa pedas itu.
"I love you." Ucap Chanyeol tiba-tiba ketika melihat kondisi Yifan di hadapannya.
Hal itu mau tidak mau membuat Yifan tersenyum dan sedikit meredakan rasa pedas yang dideritanya.
"Besok ulang tahunmu. Kau mau merayakannya?" Tanya Yifan setelah menghabiskan segelas air putih.
Chanyeol menyandarkan wajahnya di telapak tangannya sambil berpikir. "Aku ingin merayakannya denganmu."
"Kalau begitu kau mau kado apa?" Tanya Yifan lagi.
Chanyeol kembali berpikir. "Entah. Surprise me?" Chanyeol mengangkat kedua alisnya.
Yifan tertawa melihatnya.
"Tapi tolong jangan berpikir untuk memberiku hadiah anak lagi. Yang ini saja belum lahir." Gumam Chanyeol ketika ia tiba-tiba ingat kado apa yang ia berikan untuk Yifan di hari ulang tahunnya.
"I love you." Yifan mengacak pelan rambut Chanyeol mendengarnya.
.
.
.
Yifan memakirkan mobilnya di depan sebuah toko. Ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan pulang lebih awal dari biasanya. Hari ini adalah hari yang spesial dan Yifan ingin mempersiapkan sesuatu untuk itu.
"Sudah lama sekali." Seseorang menyambut Yifan di dalam toko dan keduanya kemudian berjabat tangan.
"Mau menambah lagi?" Tanya orang itu.
Yifan mengangguk sebelum melepaskan jas dan dua kancing teratas kemejanya.
"Yang sekarang di sini." Kata Yifan tanpa berbasa-basi.
Ia ingin segera menyelesaikan urusan itu dan pulang ke rumah.
BERSAMBUNG
Heuheu. Halo semuanya.
Terima kasih untuk yang sudah membaca, me-review, mem-follow, dan mem-favorite.
Sampai kapan hai Yifan kau akan menjadi suami idaman nan sempurna di mata semua wanita –dan laki ada nggak? –kali-kali Chanyeol digaplokin gpp lho mas... ntar paling pada nganggepnya lagi adegan BDSM #plakkk #disambit #abaikan
Dengan cinta,
Mt_Chan.
