Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART XI-
Tidak pernah terpikirkan dalam diri Chanyeol sebelumnya bahwa ia akan menjadi morning person atau orang yang bisa bangun pagi tanpa paksaan atau setelah mendengar alarm berbunyi. Hal itu mungkin sebagian karena ia harus pergi ke toilet untuk buang air kecil dan sebagian lagi karena calon bayi yang ada di perutnya ini akan mengikuti gen Yifan yang memang mempunyai kebiasaan bangun pagi.
Tetapi Chanyeol tidak akan mengeluh dengan hal itu. Toh ini adalah salah satu kebiasaan baik yang sudah lama ia usahakan untuk dilakukan. Seperti pagi ini, ketika waktu baru menunjukkan pukul 05.00 pagi, ia sudah terjaga dan berlari kecil ke dalam toilet. Memasuki minggu ketiga masa kehamilannya, ia masih sering mual namun tidak seburuk dua minggu pertama.
Chanyeol tersenyum kecil melihat Alphanya yang tampan masih terlelap di tempat tidur.
.
Ketika Yifan terbangun, ia mendapati Chanyeol sedang sibuk di dapur dengan memakai kaos berwarna putih yang ukurannya terlalu besar untuknya dan celana hitam pendek yang memamerkan paha putihnya.
"Playing housewife?" Tanya Yifan sambil mendekati Omeganya itu dan mengecup pelipisnya.
Wajah Chanyeol masih terlihat bengkak setelah bangun tidur dengan rambut yang mencuat ke berbagai arah. Tapi bagi Yifan, pemandangan itu salah satu yang membuatnya bersyukur menikahi Chanyeol.
"Kau mau kopi dengan krim, atau kopi hitam saja seperti biasa?" Tanya Chanyeol, mengabaikan komentar Yifan sebelumnya.
"Aku mau kopi dengan mu."
Chanyeol memandangi Yifan dengan tidak percaya sebelum bibirnya ia katupkan untuk menahan tawa yang sudah akan lolos. "Pffttttt."
Chanyeol kemudian mendorong tubuh Yifan agar kembali ke kamar dan bersiap untuk pergi ke kantor.
.
.
.
"Kenapa ada Bubble Tea di kulkas?" Tanya Chanyeol ketika Yifan akhirnya keluar dari kamar dengan penampilan rapi untuk berangkat ke kantor.
Yifan mengernyitkan dahinya sebelum menghela nafas. Sambil membenahi kancing kemejanya, Yifan menarik kursi di meja makan dan duduk.
"Kau tidak ingat?"
Kali ini giliran Chanyeol yang mengernyitkan dahinya.
*flashback*
Malam itu Yifan sengaja mengeset alarm di ponselnya agar berbunyi tepat pada pukul 12 malam. Namun hingga alarm itu berbunyi selama beberapa menit, pemuda berusia dua puluh empat tahun itu tidak juga membuka matanya.
"Yifan..." Chanyeol yang merasa terganggu dengan suara dering di ponsel itu akhirnya mengguncang lengan suaminya.
"Hm?" Yifan yang sebelumnya menghabiskan dua piring doebokki sendirian itu justru memiringkan tubuhnya dan memeluk perut Chanyeol.
"Ponselmu berbunyi." Chanyeol masih berusaha menyadarkan Yifan dari tidurnya ketika akhirnya pemuda itu membuka matanya.
Yifan kemudian mematikan alarm di ponselnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12.10 tanggal 22 November. Chanyeol sudah akan kembali terlelap ketika Yifan menenggelamkan wajah di lehernya.
"Chanyeol..."
"Hm?"
"Shengri kuaile." Bisik Yifan dalam bahasa Mandarin.
"Apa itu artinya makanan enak?" Tanya Chanyeol setengah sadar.
Yifan tertawa kecil mendengarnya. "Happy birthday." Ucap Yifan sebelum mengecup pipi Chanyeol.
Meskipun godaan untuk kembali ke alam mimpi begitu besar, tetapi Chanyeol menahan diri agar tetap terjaga. Pemuda itu membuka matanya yang terasa lengket dan menatap Yifan yang masih memeluknya.
"Kau memasang alarm untuk mengucapkan selamat ulang tahun padaku?" Tanya Chanyeol yang kini sudah terjaga sepenuhnya.
Dan bukannya menjawab, Yifan kembali menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Chanyeol untuk menghirup dalam-dalam aroma Omeganya yang sedikit berubah setelah ia hamil. Chanyeol tertawa kecil sebelum melingkarkan lengannya pada kepala Yifan dan menepuk-nepuk pelan Alphanya yang bersikap seperti anak anjing malam itu.
"My big baby." Chanyeol memekik pelan sebelum tertawa ketika Yifan menggigit lehernya mendengar panggilan itu.
"Mana kado ku?"
Yifan mengangkat kepalanya sebelum meringis. Pemuda itu kemudian melepaskan diri dari Chanyeol dan keluar kamar. Setelah beberapa menit, pemuda itu kembali dengan kue blackforrest ukuran kecil di tangannya yang sudah dihiasi lilin yang menyala dan sebuah kotak berwarna merah dengan pita berwarna putih melingkarinya.
Chanyeol kemudian duduk dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhhnya. Ia menutup matanya untuk membuat permohonan sebelum meniup lilin yang entah kenapa sulit sekali untuk dimatikan apinya. Yifan sampai harus ikut meniup lilin-lilin itu hingga apinya padam. Mereka berdua kembali tertawa ketika akhirnya Yifan menyerahkan kadonya.
"Jangan terlalu berharap banyak. Aku tidak tahu harus memberimu apa." Kata Yifan ketika Chanyeol melepas ikatan pita itu.
Senyuman otomatis terkembang di wajah Chanyeol ketika ia membuka kotak berwarna merah itu dan menemukan sebuah jam tangan. Jam tangan dengan merk Bulgari edisi Magsonic Sonnerie Tourbillon hanya dibuat beberapa buah dengan harga fantastis itu menjadi kado ulang tahun ke delapan belas dari Yifan untuk Chanyeol.
"Xiexie." Chanyeol tertawa mendengar ucapan terima kasihnya dalam bahasa Mandarin.
"Kau suka?" Tanya Yifan yang mengerutkan dahinya. Ia begitu khawatir bahwa Chanyeol tidak akan menyukai kado pemberiannya.
Chanyeol mengangguk. Ia tidak terlalu mempermasalahkan kado apa yang Yifan berikan padanya, karena dengan Yifan yang sudah mau bersusah payah menyiapkan semua ini saja sudah menghangatkan hatinya.
"I like it. I like you?" Chanyeol mengangkat kedua alisnya dan kembali tersenyum.
Yifan menyisir rambut yang terjatuh di dahi Chanyeol ke belakang sebelum ia memajukan wajahnya. Chanyeol yang mengira bahwa Yifan akan mengecup bibirnya secara otomatis menutup matanya ketika ia justru merasakan bibir Yifan mendarat di dahinya. Sebuah gestur yang membuat Chanyeol seakan rela memberikan dunia ini pada sang Alpha.
"I love you." Chanyeol mengalungkan lengannya pada leher Yifan dan mengecup rahang tajamnya.
"I love you more." Yifan menggigit pipi Chanyeol yang membuatnya dihadiahi sebuah pukulan di lengannya.
Mereka berdua tenggelam dalam pelukan satu sama lain sebelum Chanyeol membuka suaranya kembali.
"Yifan?"
"Hm?"
"Aku ingin mengunyah mutiara di Bubble Tea." Ucap Chanyeol tanpa nada bersalah.
Yifan memejamkan kedua matanya sebentar sebelum tertawa.
"Sekarang?" Tanya Yifan memastikan.
Chanyeol mengangguk dengan kedua matanya yang terlihat sedikit menyipit setelah bangun tidur dan bibir merah penuh yang basah setelah ia menjilatnya.
Yifan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia sibuk memikirkan di mana ia akan membeli Bubble Tea pada tengah malam seperti ini.
"Apa tidak bisa menunggu besok?"
Chanyeol mengerucutkan bibirnya dan bersiap merajuk ketika akhirnya Yifan bangkit.
"Baiklah. Kenapa kau tidak makan kuenya sementara aku pergi membeli Bubble Tea-mu?"
Yifan menyambar sebuah jaket tebal berwarna hitam sebelum meraih kunci mobilnya. Chanyeol mengangkat kepalan tangannya dan menyemangati Yifan.
Seoul memang sebuah kota yang tidak pernah tidur. Setelah berputar-putar di beberapa tempat yang ia ketahui menjual minuman campuran susu dan teh dengan tambahan mutiara kenyal itu, Yifan akhirnya memperoleh Bubble Tea di toko swalayan yang buka 24 jam. Kasir yang melayaninya sempat menaikkan salah satu alisnya melihat belanjaan Yifan.
Begitu sampai di rumah, Yifan lagi-lagi hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya ketika ia mendapati Chanyeol sudah kembali terlelap di tempat tidur tanpa menyentuh kue ulang tahunnya. Yifan sempat ragu-ragu untuk membangunkan Omeganya itu. Tetapi mendengar dengkuran yang keluar dari mulut Chanyeol yang terbuka sedikit membuat Yifan urung melakukannya.
*End of Flashback*
Chanyeol hanya menganggukkan kepalanya begitu Yifan selesai menjelaskan bagaimana Bubble Tea itu bisa berada di kulkas mereka.
"Jangan bilang kau juga lupa bagaimana ada kue ulang tahun di sana." Komentar Yifan sebelum Chanyeol duduk di atas pahanya.
Ketika Yifan bersiap di kamar tadi, Chanyeol menyiapkan sarapan berupa semangkuk oatmeal dengan campuran susu segar dan potongan buah strawberry dan blueberry. Tidak lupa secangkir kopi hitam tanpa gula mendampingi sarapan yang tidak perlu dimasak itu.
"Aku juga tidak mengerti tapi akhir-akhir ini aku sering merasa aneh." Kata Chanyeol sambil memainkan kancing kemeja Yifan.
Pemuda itu mengernyit sebelum menyesap kopinya. "Aneh?"
"Aku sering tiba-tiba menginginkan sesuatu, tetapi begitu mendapatkannya, aku sudah tidak ingin lagi. Kalau tidak, aku hanya suka melihatmu melakukan keinginan-keinginanku itu." Ujar Chanyeol sambil memiringkan kepalanya.
Yifan tersenyum sebelum menelusupkan tangannya di balik kaos Chanyeol dan mengusap perutnya yang masih rata itu.
"It's okay. I'll do anything for you."
Chanyeol menarik kedua pipi Yifan dengan arah saling berlawanan membuat Yifan mengerang kesakitan. Chanyeol tertawa sebelum memagut bibir Yifan dengan sedikit terburu-buru. Tangan Yifan menahan leher Chanyeol untuk membalas ciumannya dengan tak kalah antusias.
Nafas Chanyeol memburu ketika ia melepaskan diri dari Yifan sebelum ciuman itu berlanjut. Yifan menggigit bibir bawahnya yang basah setelah bertukar saliva dengan Chanyeol.
"Eat your breakfast, Daddy." Chanyeol mengedipkan salah satu matanya sebelum mengambil gelas di rak untuk membuat segelas susu.
Yifan menggelengkan kepalanya dan menyendokkan sarapan buatan Chanyeol itu.
"Kalau dipikir-pikir lagi, aku sepertinya cukup murahan dan mudah sekali menerima pernikahan ini." Ujar Chanyeol sambil mengaduk susu rasa strawberrynya.
Yifan tersedak makanan yang ada di dalam mulutnya begitu mendengar kosakata yang dipilih Chanyeol untuk mengungkapkan perasaannya. Dan topik pembicaraan yang tiba-tiba beralih sungguh terasa random. Yifan berusaha menerka apa yang ada di dalam kepala Chanyeol saat itu.
"Kau tahu, kita tidak pernah pergi berkencan seperti pasangan lainnya. Kita hanya pergi makan malam sekali sebelum menikah, itu pun hanya berlangsung beberapa menit karena kau begitu mengerikan..." Chanyeol mulai meracau dengan ekspresi wajah merengut.
Yifan berharap ini hanyalah salah satu mood swing Chanyeol karena kehamilannya.
"Kau mau kita pergi berkencan?" Tanya Yifan dengan hati-hati.
Chanyeol berusaha menyembunyikan antusiasmenya begitu mendengar tawaran Yifan. Namun Yifan tidak bisa melewatkan lesung pipit Chanyeol yang mencekung di pipinya.
"Tentu saja. Mungkin lain kali?" Chanyeol memiringkan kepalanya.
Yifan berdehem untuk melegakan tenggorokannya yang sempat tersedak tadi.
"Kalau begitu kau mau merayakan ulang tahunmu di luar?"
Chanyeol menggeleng cepat. Ia meletakkan susunya dan kembali duduk di atas pangkuan Yifan.
"Aku mau merayakannya denganmu." Kata Chanyeol, seperti merayakan ulang tahun di luar berarti tanpa Yifan.
"Kalau begitu aku akan pulang lebih cepat hari ini, berbelanja, dan memasak makan malam spesial untukmu." Kata Yifan berusaha menebak keinginan Chanyeol.
"Aku akan berbelanja setelah pulang kuliah nanti." Usul Chanyeol.
"Kau sebaiknya langsung pulang. Bagaimana kalau kau kelelahan nanti?"
Chanyeol tersenyum. "Aku akan mengajak Sehun, jadi dia bisa membawakan barang-barang untukku."
Yifan tertawa mendengar ide Omeganya itu sebelum meletakkan telapak tangan besarnya di leher Chanyeol.
"Apa kau pikir aku tidak akan cemburu kalau kau terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Sehun?"
Chanyeol menggigit bibir bawahnya. "Tapi dia sahabatku, dan Sehun tidak suka pasangan berisik. Lagipula aku tidak akan pernah tertarik padanya karena..."
Wajah Chanyeol memerah. Yifan sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan kedekatan Chanyeol dengan Sehun, tetapi ia hanya merasa terhibur menggoda Omeganya itu.
"Karena?" Yifan masih menunggu lanjutan kalimat Chanyeol yang buru-buru memalingkan wajah darinya sementara pipinya bersemu.
"Kau akan terlambat." Chanyeol kemudian bangkit dari atas paha Yifan sementara pemuda itu tersenyum.
.
.
.
"Kau hanya memanfaatkanku untuk membawakan barang-barang ini kan?" Gerutu Sehun ketika ia mendorong troli belanja di sebuah pusat perbelanjaan.
Chanyeol menurunkan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya sebelum mendecak ke arah Sehun.
"Memangnya kau tega melihat aku belanja sendirian?" Kata Chanyeol sambil meraih beberapa krat botol yoghurt dan memasukkannya ke dalam troli.
Sehun hanya mengangkat bahunya.
Ketika mereka berada di bagian rak sayuran, Sehun tiba-tiba membeku dan menghentikan trolinya membuat Chanyeol hampir menabraknya. Chanyeol mengikuti pandangan Sehun yang terpaku pada sosok yang kini tengah melihat-lihat jamur. Rahang Sehun mengeras sementara genggamannya pada troli belanjaan itu menguat.
"Go talk to him." Chanyeol mendorong pelan tubuh Sehun agar membuatnya bergerak.
Dengan kikuk, Sehun memberanikan diri untuk menghampiri sosok tadi sementara Chanyeol menghilang di balik rak lain untuk memberi mereka privasi –yang sulit dilakukan mengingat lokasi di mana mereka berada.
.
.
.
Sehun lebih banyak diam ketika ia membantu Chanyeol menurunkan beberapa kantong plastik berisi belanjaan dari bagasi mobilnya. Pemuda itu juga membisu selama perjalanan dari supermarket menuju apartemen yang Chanyeol tinggali. Memang pemuda itu asalnya tidak banyak bicara, tetapi tidak biasanya ia sediam ini. Chanyeol berusaha mengerti ketika ia mengetahui apa yang baru saja dilalui sahabatnya itu.
Sehun meletakkan barang belanjaan Chanyeol di meja dapur begitu mereka sampai di apartemen. Ia sudah akan pamit setelah menyerahkan kado ulang tahun pada Chanyeol ketika pemuda yang lebih tua menahannya.
"Kau mau jus? Atau susu?" Kata Chanyeol menawari.
"Tidak. Aku akan—" Sehun akhirnya menutup wajahnya ketika pemuda itu sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi.
Chanyeol segera menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya. Pundak Sehun berguncang ketika ia menangis hingga sesenggukan. Sehun bukan orang yang mudah menangis, tetapi manusia juga mempunyai batas kan?
Di supermarket tadi, Chanyeol dan Sehun tanpa sengaja melihat Jongin, mantan kekasih sekaligus Omega yang pernah Sehun klaim. Keduanya sudah berhubungan selama lebih dari tiga tahun hingga beberapa bulan lalu Sehun mengatakan bahwa mereka sudah tidak bersama lagi. Chanyeol awalnya mengira perpisahan itu hanya sementara mengingat sebelumnya pun mereka sering bertengkar, berpisah beberapa hari dan kembali berbaikan. Tapi kali ini, Sehun terlihat muram dan semakin tidak bersemangat setiap kali Chanyeol berbicara mengenai hubungannya dengan Jongin.
"Dia bilang dia masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya kembali." Ucap Sehun yang akhirnya membuka suaranya.
Chanyeol mengusap pelan punggung Sehun untuk menenangkannya.
"Mungkin memang seharusnya begitu—"
"Tapi kami akan kehabisan waktu!" Potong Sehun sementara kedua matanya sudah sembab dan hidungnya memerah.
Chanyeol menuntun Sehun untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"Ikatan kami akan memudar, dan jika memang Jongin bersedia kembali, kami harus memulai semuanya dari awal." Kata Sehun menarik tissue yang Chanyeol sodorkan.
Chanyeol menghela nafas. Ia sendiri masih baru dalam hubungan Alpha-Omega dan belum mengerti betul bagaimana ikatan itu bekerja.
"Kalau begitu kenapa selama ini kau membuang-buang waktu dan membiarkan Jongin pergi begitu saja?"
"Aku sudah berusaha membuatnya tinggal. Tapi kau tahu sendiri Jongin seperti apa, dan aku pikir ada benarnya tentang kami berpisah untuk sementara waktu, tapi kenyataannya Jongin justru—" Sehun menutup kembali wajahnya dan berusaha untuk tidak menangis.
Chanyeol memangku wajah di tangannya sebelum menarik kepala Sehun agar bersandar di bahunya. Ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Sehun selain meminjamkan bahunya.
.
.
.
Yifan mengernyit ketika jarum itu menembus kulit dada bagian kirinya. Sore itu, sepulang dari kerja, Yifan berhenti di depan sebuah toko yang terletak di area pecinan kota Seoul. Ia berniat untuk memberikan kejutan lain pada Chanyeol. Yifan membuat sebuah tato, kali ini di dada kirinya, tepat di atas jantungnya.
Yifan sudah berniat untuk membuatnya beberapa hari yang lalu agar tato itu mengering tepat pada hari ulang tahun Chanyeol. Namun hal itu tidak akan menjadi kejutan jika Chanyeol sudah mengetahuinya terlebih dahulu.
Tempat tato yang Yifan datangi adalah tempat di mana ia membuat tato berbentuk scorpio di lengannya dulu. Pemilik toko itu juga orang China, yang kebetulan berdomisili di Seoul. Yifan yang saat itu baru tinggal beberapa bulan di Seoul mengikuti Ayahnya berbisnis, memantapkan hati untuk membuat tato di tubuhnya sebagai simbol kebebasan atas dirinya.
"Ku dengar kau sudah menikah?" Tanya si penato yang mengetahui identitas pelanggannya sore itu.
Yifan mengangguk. Pikirannya sibuk menahan rasa sakit dari sentuhan jarum itu.
"Apa ini namanya?" Si penato mengernyitkan dahinya ketika mengeja nama yang Yifan ukir di dadanya.
Yifan tersenyum. "Kau bisa bilang begitu."
Si penato akhirnya hanya tersenyum memaklumi. Kebanyakan pelanggan yang datang padanya adalah antara yang sedang jatuh cinta –atau patah hati. Ia yakin Yifan adalah pelanggan dengan alasan pertama.
"Kenapa kau tidak menulisnya dalam aksara China?"
"Dia tidak bisa mengejanya." Jawab Yifan.
"Scorpio memang terkenal dengan loyalitas mereka, huh?" Si penato melirik tato di lengan Yifan, sekaligus merujuk pada rasi bintang pemuda itu.
.
.
.
Chanyeol berjalan mondar-mandir sambil sesekali melirik ke arah jam dinding yang berada di ruang keluarga apartemennya. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 7 malam tetapi Yifan belum juga pulang. Ia sudah beberapa kali berusaha menghubungi Alphanya itu, namun terhubung pada Voice Mail. Dalam kondisi seperti ini, Chanyeol berharap ia tahu bagaimana cara Yifan yang dengan ajaib bisa menemukannya di tempat bowling bersama Sehun kemarin. Ketika ia mendengar pintu utama dibuka, Chanyeol otomatis berlari ke arah ruang tamu.
"Unfh!" Yifan yang tidak siap hampir terjerembab ke belakang ketika Chanyeol menghamburkan diri ke arahnya. Bukan itu saja, Chanyeol sukses membuat nafasnya tersengal ketika pemuda itu melumat bibirnya sementara tubuhnya ia lekatkan pada tubuh Yifan seperti koala.
"Hey..." Yifan menempelkan dahinya pada dahi Chanyeol yang memeluk lehernya ketika pemuda itu melepaskan ciumannya.
"Kau darimana?" Tanya Chanyeol dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran hingga membuat Yifan merasa bersalah karenanya.
"Aku harus menyelesaikan sesuatu. Maaf ponselku mati jadi aku tidak bisa menghubungimu." Yifan mengecup singkat bibir Chanyeol sekali lagi sebelum mendorong pelan tubuh Chanyeol agar turun dari tubuhnya.
"Well, setidaknya kau tidak menginjaknya." Yifan meringis sebelum memungut rangkaian bunga yang tadi ia bawa dan menyodorkannya pada Chanyeol.
Chanyeol otomatis memundurkan tubuhnya melihat bunga itu di tangan Yifan sementara matanya membulat. Bunga mawar merah itu terlihat segar dan begitu harum di dalam rangkaian besar –Hatchuuuu! Chanyeol menutup hidungnya ketika ia mulai bersin-bersin tanpa henti.
Yifan menyatukan kedua alisnya melihat reaksi Chanyeol kala itu.
"Apa aku tidak pernah memberitahumu –Hatchuuu!"
Hidung Chanyeol mulai memerah ketika ia menggosoknya agar berhenti bersin.
"Aku alergi serbuk sari –Hatchuuuu!"
"Huh?"
Rasa panik segera menguasai Yifan mendengar hal itu. Dengan terburu-buru Yifan berlari keluar dari apartemen sambil menjinjing rangkaian bunga seperti itu adalah benda paling mematikan sedunia. Yifan akhirnya harus merelakan rangkaian bunga mawar itu teronggok di tempat sampah di luar apartemen mereka begitu mengetahui kenyataan bahwa Chanyeol memiliki alergi terhadap serbuk sari.
"Aku sudah membuangnya." Kata Yifan ketika ia masuk kembali ke dalam apartemen sementara Chanyeol membuka pintu kaca di ruang keluarga untuk membiarkan udara segar masuk.
Chanyeol meraih selembar tissue sebelum mengusap hidungnya dan menghampiri Yifan yan kini duduk di atas sofa.
"Sayang sekali." Komentar Chanyeol pada nasib rangkaian bunga itu.
"Aku tidak tahu kau punya alergi." Kata Yifan. Ekspresi wajahnya masih menunjukkan rasa khawatir.
Chanyeol menyamankan kepalanya di atas dada kanan Yifan sambil mengusap hidungnya yang masih berair akibat bersin-bersin tadi.
"Aku lupa memberitahumu. Musim semi tahun lalu aku harus di opname di rumah sakit karena tugas sekolah yang mengharuskan kami melakukan penelitian di kebun bunga matahari." Kata Chanyeol dengan ringan seolah alerginya itu adalah persoalan sepele.
"Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?" Yifan mengangkat wajah Chanyeol yang hidungnya masih memerah.
Chanyeol menggeleng dan memindah posisi duduknya hingga kini duduk di atas pangkuan Yifan.
"Ku kira kau menjanjikan aku makan malam?" Chanyeol menangkup wajah Yifan di telapak tangannya.
"Aku akan menyiapkan makan malam untukmu setelah kau membuka kado ulang tahunmu." Kata Yifan sambil mengecup telapak tangan Chanyeol.
Chanyeol menaikkan alisnya. Yifan sudah memberinya hadiah ulang tahun berupa jam tangan semalam dan sekarang pemuda itu masih membicarakan kado ulang tahun?
"Kau mau membuka kadonya?"
Chanyeol menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. Yifan menegakkan posisi duduknya –dengan Chanyeol di atas pahanya, sebelum membuka satu per satu kancing kemejanya.
Chanyeol terkesiap melihat perban menempel di dada kiri Yifan.
"Oh my god, Yifan! What is that?" Chanyeol memekik melihat Yifan akan membuka perban itu.
Chanyeol menutup matanya menggunakan telapak tangannya ketika Yifan akhirnya membuka perban yang menutupi tatonya.
Yifan tertawa melihat reaksi Chanyeol sebelum ia menarik tangan Chanyeol agar pemuda itu melihat hasil karya di dadanya. Tato dengan tinta berwarna hitam itu berkilauan ketika ditempa cahaya lampu di ruang keluarga. Aksara latin bertuliskan "Loey" terukir di atas dada kiri Yifan.
Chanyeol memiringkan kepalanya ketika ia agak kesulitan memaknai tato Yifan itu.
"Loey?"
Yifan sebelumnya sudah menduga bahwa tidak mudah bagi Chanyeol untuk mengerti tulisan ini.
"Kenapa kau tidak mentato namaku saja?" Kata Chanyeol menggembungkan pipinya.
Yifan tertawa sambil menepuk pelan pipi Chanyeol.
"This is your name, love."
Chanyeol memperhatikan tulisan itu sekali lagi. Sejak kapan namanya berubah menjadi Loey, namanya Chanyeol. Park Chanyeol. Chan-yeol. Chan –Tunggu!
"Loey itu... Yeol?" Chanyeol tidak dapat menahan diri ketika kedua sudut bibirnya tertarik ke atas hingga membuatnya tersenyum lebar seperti orang bodoh.
Setelah Sehun meninggalkan apartemennya tadi, Chanyeol sempat tenggelam dalam pikirannya –dimana hal itu adalah kabar buruk, mengingat Chanyeol sering overthinking. Pemuda itu tidak bisa membayangkan jika yang terjadi pada Sehun akan terjadi pada dirinya dan Yifan. Apakah ia sanggup berpisah dengan Yifan dalam waktu yang cukup lama? Bagaimana jika pada akhirnya Yifan menyerah menghadapi sifat kekanakannya dan memilih untuk meninggalkannya? Pikiran itu terus memenuhi kepala Chanyeol, ditambah dengan Yifan yang tidak kunjung pulang membuatnya begitu cemas.
Namun begitu melihat Yifan sekarang, pikiran yang berkecamuk di kepala Chanyeol itu perlahan menguap. Ia boleh sedikit berharap bahwa mereka berdua tidak akan berpisah kan?
Yifan menahan tangan Chanyeol yang sudah akan menyentuh tato itu.
"Kau belum boleh menyentuhnya." Kata Yifan.
Chanyeol merengek pelan dan sebagai gantinya Yifan menangkap bibir Chanyeol ke dalam ciuman yang dalam.
"Our little Loey likes it." Kata Chanyeol ketika bibirnya masih menempel dengan bibir Yifan.
"Little Loey?"
Chanyeol menarik tangan Yifan dan meletakkannya di atas perutnya. Dengusan nafas Yifan yang keluar dari hidungnya menerpa hangat kulit pipi Chanyeol yang bersemu.
Yifan kembali melumat bibir Chanyeol sementara tangannya mengusap pelan perut Omeganya itu. Tangan Chanyeol yang semula melingkar di leher Yifan, beralih ke rambut Yifan dan meremasnya hingga berantakan ketika Yifan menghisap lidahnya.
Bibir Yifan masih mengejar bibir Chanyeol ketika tangan Chanyeol mendorong bahunya pelan. Nafas keduanya tersengal ketika Chanyeol menyadari bunyi bel di apartemen mereka.
BERSAMBUNG
Terima kasih untuk yang sudah membaca, meninggalkan review, mem-follow dan mem-favorite. Semoga menghibur ^.^)/
Maapkeun jikalau masih ada typos atau makna kata yang nggak dipahami. Ini udah jam 2 pagi dan saia masih segar bugar pengen jumpalitan tapi males baca lagi #digampar
Dengan cinta,
Mt_Chan.
