Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART XII-
Berciuman dengan Yifan rasanya begitu dreamy. Seberapa keras kau berusaha untuk tetap tersadar, kau akan terjatuh dan tenggelam di dalamnya tanpa bisa kembali. Tetapi Chanyeol sungguh tidak keberatan dengannya. Karena perasaan seperti kepalanya melayang dan letupan-letupan detak jantungnya ini membuatnya tidak bisa berhenti.
Lidah Yifan menyapu permukaan bibir plump Chanyeol sebelum memagut bibir bawahnya. Chanyeol membalas pagutan Alphanya sebelum membuka sedikit bibirnya untuk memberi akses pada lidah Yifan. Jemari yang Chanyeol letakkan di belakang kepala Yifan berusaha mencengkeram sesuatu untuk membuat otaknya yang sudah mulai berkabut tetap terjaga. Maka jadilah ia kini menarik rambut Yifan di sela-sela jarinya sementara bibir mereka masih terpaut.
"Ngh!" Chanyeol hampir menggigit lidah Yifan ketika tangan pemuda itu menelusup ke dalam celananya tanpa ia sadari sebelum menangkup salah satu bongkahan pantat Chanyeol.
Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka dan memundurkan sedikit wajahnya untuk memandang wajah Yifan yang sama terengahnya dengan dirinya. Yifan tersenyum hingga kedua matanya menyipit sebelum mengecup pelan bibir Chanyeol yang basah.
Sesi making out itu sayangnya harus terjeda ketika Chanyeol mendorong pelan bahu Yifan agar melepaskan ciumannya begitu ia mendengar bel di apartemen mereka berbunyi. Keduanya melirik ke arah jam dinding secara bersamaan dan mendapati waktu sudah hampir pukul 08.00 malam.
Yifan mengeluarkan tangannya dari celana Chanyeol sementara pemuda itu bangkit untuk melihat ke layar monitor kecil yang tertempel di tembok untuk mengetahui siapa tamu mereka.
Chanyeol membulatkan kedua matanya melihat tamu yang menunggu di balik pintu. Ia memastikan penampilannya sudah cukup rapi sebelum menoleh ke arah Yifan.
"It's our parents." Kata Chanyeol yang otomatis membuat Yifan bangkit dari sofa dan membetulkan kancing bajunya yang sebelumnya terbuka.
Kunjungan mendadak dari kedua orang tua mereka entah kenapa rasanya seperti sedang menerima tim audit di kantor. Yifan menekan kata sandi di dekat monitor itu ketika Chanyeol sudah berlari ke pintu depan untuk menyambut mereka. Suara gaduh segera mengisi apartemen yang biasanya hanya berisi suara bass Chanyeol yang merengek pada Yifan atau ketika pemuda itu menirukan bagian rap dari artis favoritnya.
Mr. Wu yang sudah tidak bisa menahan rasa bahagianya bertemu dengan menantunya yang akhirnya hamil itu kemudian meraup Chanyeol ke dalam pelukan dan bahkan mengangkat sedikit tubuh tinggi Chanyeol dan memutar-mutarnya. Chanyeol tertawa dengan suara bassnya sementara Mrs. Wu menggelengkan kepalanya melihat pemandangan itu.
"Happy birthday, my Chanlie baby."
Chanyeol mengucapkan terima kasih pada Ayah mertuanya sebelum mengalihkan pandangannya pada kedua orang tuanya yang entah kenapa hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu melihat putra mereka dan Mr. Wu.
Chanyeol buru-buru memeluk Mr. Park yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Sementara Mrs. Park menyapa Yifan yang segera mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruang keluarga. Entah kenapa apartemen yang sebelumnya terlalu luas bagi Yifan dan Chanyeol kini terasa begitu sempit begitu orang tua mereka datang menyambangi secara bersamaan.
Mrs. Wu dan Mrs. Park segera mengambil alih dapur untuk menyiapkan makan malam yang sudah mereka bawa dari rumah. Sementara Yifan pamit untuk mandi dan berganti pakaian, Chanyeol duduk di ruang keluarga bersama Ayah dan Ayah mertuanya.
"Kau tidak merayakan ulang tahun bersama teman-temanmu?" Tanya Mr. Wu ketika Chanyeol sibuk membuka bungkus Nori, atau camilan dari rumput laut.
Chanyeol menggeleng dan memasukan beberapa lembar Nori sekaligus ke dalam mulutnya.
"Aku tidak pernah merayakan ulang tahunku." Kata Chanyeol sambil mengunyah Nori itu.
Mr. Park sempat memelototinya karena menurutnya berbicara dengan mulut penuh makanan itu tidak sopan. Tetapi Mr. Wu hanya tersenyum dan justru terhibur dengan sifat Chanyeol itu.
"Apa kau mau makan sesuatu? Dulu Mama Wu sering menyuruh Baba untuk membeli masakan kerang di tengah malam ketika ia mengandung Yifan." Kata Mr. Wu.
Chanyeol mengedipkan mata besarnya dan berusaha mengingat-ingat apakah ia pernah melakukan hal itu pada Yifan sementara mulutnya masih sibuk mengunyah Nori.
Yifan yang sudah selesai mandi kembali ke ruang keluarga di mana makanan dan roti ulang tahun sudah tergelar di meja. Mrs. Park dan Ibunya juga sudah kembali dari invasi mereka di dapur.
"Kau memberikan kado apa untuk Chanyeol?" Tanya Mrs. Wu ketika Yifan mengambil tempat duduk di samping Omeganya.
"Aku memberinya jam tangan." Kata Yifan. Tato baru di dadanya terasa sedikit kebas setelah ia membersihkannya menggunakan air hangat.
Mr. dan Mrs. Wu otomatis menatap tajam ke arah putra semata wayang mereka. Dalam tradisi Cina, memberi kado ulang tahun berupa jam tangan akan membawa nasib buruk. Namun Yifan tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena ia tidak begitu percaya dengannya.
Chanyeol meniup kue ulang tahunnya yang kedua hari ini. Pemuda itu tidak bisa berhenti tersenyum ketika melihat keluarganya berkumpul dan merayakan hari kelahirannya yang ke-delapan belas bersama. Mrs. Wu menyendokkan segumpal besar mie menggunakan sumpitnya dan menyuapkannya pada Chanyeol.
"Jangan dipotong." Kata Mrs. Wu ketika mulut Chanyeol sudah penuh dan ia berencana untuk memotong gumpalan mie itu menggunakan giginya.
Chanyeol yang tidak mengerti hanya bisa menatap ke arah Yifan untuk meminta belas kasihan sementara yang bersangkutan hanya tersenyum melihatnya. Begitu gumpalan mie itu akhirnya masuk semua ke dalam mulut Chanyeol, barulah Mrs. Wu meletakkan kembali sumpitnya dan bertepuk tangan.
"Panjang mie itu artinya sama dengan panjang usiamu. Semakin panjang mie yang kau makan semakin bagus, makanya kau tidak boleh memotongnya." Jelas Mr. Wu seolah mengerti dengan kebingungan di wajah Chanyeol yang kedua pipinya menggembung akibat mie yang tadi Mrs. Wu suapkan.
Mr. dan Mrs. Park mengangguk-angguk. Ini adalah tradisi baru bagi mereka. Setelah Mrs. Wu selesai dengan 'ritual'nya, kini Mrs. Park menyendokkan semangkuk kecil sup rumput laut yang sudah ia buat dari rumah untuk Chanyeol. Dalam tradisi Korea, sup rumput laut selain menjadi makanan khas untuk orang yang berulang tahun, hidangan itu juga bagus untuk orang yang sedang hamil. Chanyeol membuka mulutnya lebar-lebar dan menerima suapan demi suapan sup rumput laut dari Ibunya.
Setelah acara makan-makan selesai, Mr. Park mengeluarkan sebuah amplop putih pada Chanyeol.
"Ini kado dari kami." Kata Mr. Park merujuk pada dirinya sendiri dan keluarga Wu.
Sebelum datang ke apartemen Yifan dan Chanyeol, Mr. Park dan Mr. Wu sepakat untuk mengumpulkan kado mereka menjadi satu.
Chanyeol yang perutnya kekenyangan, duduk di atas karpet dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Pemuda itu membuka amplop yang berisi sebuah kertas. Chanyeol membacanya dengan cermat sebelum kedua matanya membulat.
"Apa kalian serius memberikan ini sebagai kado ulang tahunku?" Tanya Chanyeol.
Yifan yang mengernyit melihat ekspresi wajah Chanyeol begitu membuka kado saat itu ikut melirik ke arah kertas itu.
Mr. Wu memandang ke arah besannya dan tersenyum puas melihat ekspresi Chanyeol yang entah kenapa membuat mereka bahagia. Kertas berwarna putih itu merupakan sebuah sertifikat rumah yang berlokasi di area Cheomdamdong. Mr. Park dan Mr. Wu awalnya ragu-ragu untuk membelikan Chanyeol sebuah rumah, tetapi ini adalah salah satu bentuk ucapan syukur mereka karena Chanyeol bukan saja beranjak ke delapan belas tahun tetapi ia kini juga sedang mengandung cucu mereka yang pertama.
"Whoa." Chanyeol membaca kertas itu sekali lagi untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
"Kalian bahkan tidak memberikan kado apapun pada Yifan." Kata Chanyeol sambil mengusap belakang kepala Yifan yang sedikit basah karena keramas sebelumnya.
"I already had the best gift." Yifan mengecup pipi Chanyeol sebelum meletakkan tangannya di atas perut Chanyeol yang entah kehamilannya sudah mulai terlihat –atau karena efek makanan yang sedari tadi tidak berhenti masuk ke dalam.
Mrs. Wu kemudian mengambil tasnya dan juga mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah sebelum menyerahkannya pada Chanyeol.
"Papa Wu membawanya langsung dari Shanghai. Ini kado dari Nenek Yifan." Kata Mrs. Wu menjelaskan.
Chanyeol menerima kotak itu dan membukanya perlahan. Ia belum pernah bertemu Nenek Yifan sebelumnya karena beliau tidak hadir pada hari pernikahan mereka. Sebuah kalung bertali merah dengan bandul batu giok berwarna hijau menyapa kedua mata besar Chanyeol.
"Itu kalung keberuntungan. Nenek Yifan sudah membawanya ke Vihara sebelum menyerahkannya pada Papa Wu." Jelas Mrs. Wu lagi.
Yifan mengambil kalung itu dan memakaikannya pada Omeganya. Kalung bertali merah itu terlihat kontras dengan kulit leher Chanyeol yang seputih susu. Chanyeol tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya karena dikelilingi oleh orang-orang yang begitu peduli dan menyayanginya.
"Kau menyukainya?" Tanya Mr. Wu.
Chanyeol menyalahkan hormon kehamilannya yang membuat emosinya tidak stabil ketika pemuda itu menyeka cairan panas yang menggenang di ujung matanya. Yifan merangkul pundak Chanyeol dan membantu Omeganya itu menyeka pipinya ketika justru tangannya ditampik oleh Chanyeol.
"Ini salahmu." Kata Chanyeol sambil merengut ke arah Yifan dengan mata merah.
Yifan yang tidak mengerti di mana letak kesalahannya hanya bisa mengernyitkan dahi. "What?"
Tawa keluarga itu kemudian pecah ketika tangisan Chanyeol justru semakin menjadi.
.
.
.
Memasuki usia kehamilan di bulan ke-2, perut Chanyeol yang semula rata mulai terlihat menyembul di balik kaosnya. Dan meskipun morning sicknessnya belum juga berhenti, tubuh Chanyeol terlihat mengalami kenaikan berat badan, jika dilihat dari pipinya yang lebih chubby. Yifan berkali-kali harus menahan diri untuk tidak menggigit pipi itu ketika Chanyeol tanpa sadar menggembungkannya atau menarik salah satu sudut bibirnya hingga lesung pipitnya muncul.
Hari ini Yifan menunda berangkat ke kantor untuk menemani Chanyeol ke dokter untuk check up rutin.
"Dokter Lee is scary." Kata Chanyeol tiba-tiba ketika keduanya sudah bersiap di dalam mobil.
Yifan memastikan Chanyeol sudah nyaman dengan mantel tebal membungkus tubuhnya dan sabuk pengamannya tidak terlalu kencang. Memasuki bulan Desember, suhu di luar semakin terasa dingin.
"Kenapa dia menakutkan?" Tanya Yifan begitu mobilnya sudah keluar dari area parkir dan memasuki jalanan utama yang terlihat sibuk di pagi hari itu.
Chanyeol mengangkat bahunya sebelum menggenggam tangan Yifan di atas pahanya. Yifan tersenyum ketika Chanyeol menyandarkan tubuhnya.
"Kau beruntung karena hari ini kita tidak akan bertemu Dokter Lee."
"Wae?" Chanyeol yang akhir-akhir ini mudah mengantuk menutup mulutnya ketika ia menguap.
"Dokter Lee adalah dokter umum, dia tidak bisa menangani pasien hamil. Jadi ia merekomendasikan dokter kandungan untukmu." Jelas Yifan tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan.
Chanyeol mengangguk dan menutup matanya. "Kau akan pulang jam berapa hari ini?"
Yifan mengecek jam tangannya sebelum mengeratkan genggamannya pada tangan Chanyeol.
"Karena aku berangkat lebih siang, jadi kemungkinan aku akan pulang lebih lambat. Kenapa?"
Chanyeol menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah luar ketika kini mereka melewati sebuah jembatan di sungai Han.
"Kau mau makan sesuatu? Aku akan membelikannya pulang kerja nanti." Kata Yifan berusaha mengerti keinginan Omeganya itu. Namun Chanyeol lagi-lagi hanya menggeleng.
Sesampainya di klinik Dokter Lee, Yifan dan Chanyeol diarahkan ke bagian kandungan. Mereka menunggu di ruang tunggu dengan gelisah. Chanyeol terus menguap ketika rasa kantuk menyerangnya. Yifan sudah berniat untuk membiarkan Chanyeol tidur sebentar ketika akhirnya nama mereka dipanggil oleh resepsionis untuk menemui Dokter.
Ruangan itu terasa hangat ketika Yifan dan Chanyeol memasukinya. Seorang Dokter perempuan dengan name tag Amber Liu di mejanya menyapa mereka dengan hangat. Pembawaan dokter muda itu terlihat boyish dan kasual. Sungguh berbeda dengan penampilan Dokter Lee selama ini.
"Wu Yifan dan Chanyeol?" Dokter itu membaca berkas di hadapannya.
Pasangan itu mengangguk. Jadwal check up hari ini adalah memeriksa kesehatan janin dan perkembangannya.
"Kalian mau melakukan USG juga atau hanya periksa?"
Chanyeol memandang ke arah Yifan untuk membuat keputusan.
"Can we see the baby?" Kata Chanyeol sambil menggigit bibir bawahnya.
Dokter Amber tersenyum melihat kilat antusias di mata Chanyeol.
"Tentu saja. Tapi dia masih sekecil ini." Dokter Liu membuat gestur sebuah lingkaran sebesar kacang polong. Ia kemudian menyiapkan alat yang akan digunakan untuk memeriksa keadaan janin Chanyeol.
Yifan membantu Chanyeol melepaskan mantel tebalnya sebelum membuka kancing kemeja bagian bawahnya. Chanyeol kemudian berbaring di atas ranjang ketika Dokter Amber memakai stetoskopnya.
Stetoskop itu terasa dingin ketika menempel di perut Chanyeol. Dokter Amber mengernyitkan dahinya sebelum meletakkan tangannya yang sudah terlindung sarung tangan karet dan meraba perut Chanyeol.
"Ukuran perutmu terlalu besar untuk usia janin dua bulan." Komentar Dokter Amber. Entah itu adalah sebuah pujian –atau ledekan karena nafsu makan Chanyeol sudah kembali normal meskipun morning sicknessnya belum berhenti.
"Apa itu tidak bagus?" Tanya Yifan yang duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan Chanyeol.
"Apa kalian suka kejutan?" Tanya Dokter Amber sambil meraih sebuah cairan.
Yifan dan Chanyeol kemudian berpandangan, tidak mengerti dengan maksud dokter itu. Dokter Amber mengoleskan cairan kental itu di atas perut Chanyeol sebelum menyalakan sebuah monitor di samping tempat tidur.
"We'll see your babies."
Yifan awalnya tidak terlalu menangkap kalimat Dokter itu, tetapi ketika mendengar kata babies dengan makna jamak, Yifan tidak bisa menyembunyikan antusiasnya lagi.
Alat yang terhubung ke monitor itu mulai digerakkan di atas perut Chanyeol. Awalnya gambar yang tampil di layar monitor itu terlihat tidak jelas, tetapi ketika Dokter Amber menggerakkan alatnya lagi, Yifan dan Chanyeol bisa melihat dua buah janin yang jantungnya berdetak bersahutan.
"Congratulations. Kalian punya janin kembar."
Chanyeol tanpa sadar menahan nafasnya mendengar kalimat itu. Tangan kirinya yang sedari tadi berada di genggaman Yifan juga bergetar sementara Yifan tidak bisa berhenti tersenyum.
"I love you." Yifan mengecup tangan Chanyeol sebelum menatap kembali ke arah layar monitor.
.
"Janin kalian sehat. Mungkin Chanyeol perlu menambah nutrisi makanannya mengingat sekarang kau harus memberi makan dua janin sekaligus. Dan, apa Dokter Lee sebelumnya menyinggung hal ini?"
Setelah menyelesaikan tes USG, Yifan dan Chanyeol kembali duduk di meja Dokter Amber untuk mendengarkan hasil pemeriksaan hari itu.
"Kandungan Chanyeol cukup lemah untuk Omega seumurannya. Jadi pastikan Chanyeol tidak terlalu lelah atau stres, karena hal itu akan berpengaruh besar pada perkembangan janin di dalam perutnya."
Chanyeol mengerutkan alisnya dan ekspresi wajahnya berubah murung.
"Tapi kau tidak perlu khawatir. Asalkan kau tidak beraktivitas secara berlebihan, atau merasa stres, aku yakin kandunganmu akan baik-baik saja. Selama tiga bulan ini aku juga sarankan agar kalian menghindari seks dengan penetrasi karena itu akan memancing kontraksi di perut Chanyeol."
Yifan mengangguk mengerti. Dia akan melakukan apapun untuk menjaga Chanyeol dan calon bayi-bayinya.
.
.
.
Chanyeol jatuh tertidur selama perjalanan pulang menuju apartemen. Pemuda yang hari itu tidak ada jadwal kuliah membuka matanya ketika Yifan memakirkan mobil mereka di basement. Begitu masuk ke dalam apartemen, Yifan tiba-tiba memeluk tubuh Chanyeol yang sedang melepaskan mantelnya dari belakang.
"Thank you." Bisik Yifan membuat Chanyeol mau tidak mau tersenyum. Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir Yifan singkat.
"Is Daddy happy?" Chanyeol melingkarkan lengannya pada leher Yifan. Keduanya tertawa ketika perut Chanyeol kali ini tidak bisa membuat tubuh keduanya berpelukan dengan erat.
"Daddy is beyond happy." Kata Yifan yang sebenarnya masih keberatan dengan panggilan Daddy untuknya.
"Mengenai tadi.." Chanyeol menggantung kalimatnya membuat Yifan menunggu.
"I want to go to a date with you." Kata Chanyeol pada akhirnya.
"Kau ingin pergi kencan?" Tanya Yifan memastikan.
Chanyeol mengalihkan pandangannya sebelum mengangguk. Wajah pucatnya sedikit merona di bagian pipi.
"Bagaimana kalau sabtu besok? Kau bisa pikirkan dulu ke mana kita akan pergi lalu aku akan menyiapkan segalanya untukmu."
Chanyeol lagi-lagi hanya mengangguk dengan wajah memerah. Yifan tertawa melihat ekspresi wajah Omeganya sebelum mengecup pipi chubby Chanyeol dan meraup bibirnya.
.
.
.
Pada hari sabtu pagi itu, Yifan terbangun oleh suara bel yang berbunyi di apartemen yang ia tinggali bersama Chanyeol. Omeganya itu terlihat masih bergelung memeluk gulingnya ketika Yifan akhirnya bangkit untuk melihat tamu yang mendatangi mereka di pagi hari itu.
Yifan mengernyitkan dahinya ketika melihat seorang wanita dengan dua anak di gendongannya.
"Good morning, fanfan. Akhirnya kau membuka pintunya." Gerutu wanita itu dan segera masuk begitu Yifan membukakan pintu untuknya.
"Uncle fanfan." Gadis kecil berusia sekitar lima tahun yang baru saja turun dari gendongan Ibunya itu memeluk kaki panjang Yifan.
"Hey, Daiyu." Yifan mengangkat gadis kecil itu dan menggendongnya.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Yifan pada sepupunya yang meletakkan barangnya di atas ruang sofa ruang keluarga dan memandang ke sekeliling.
"Chanlie belum bangun?" Tanya wanita yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yifan itu.
"Kenapa kau ke sini pagi-pagi sekali?" Yifan masih tidak habis pikir dengan sepupunya, yang bahkan sejak Yifan masih melajang, datang padanya hanya jika membutuhkan bantuan. Dan firasat Yifan merasakan hal yang buruk dengan kedatangannya.
"Uncle fanfan jahat." Kata Wu Liu yang kemudian menjadi Zhang Liu mengikuti marga suaminya, sepupu Yifan, yang merupakan anak dari adik Ayahnya itu.
"Aku butuh bantuanmu." Kata Liu sambil mengusap punggung anak laki-laki berusia 18 bulan yang tertidur dalam gendongannya.
Yifan menurunkan Zhang Daiyu, anak perempuan sepupunya, sambil menghela nafas ketika dugaannya benar.
"Aku bahkan tidak mau mendengar alasanmu datang ke Korea." Kata Yifan yang kemudian membimbing mereka untuk duduk di ruang keluarga.
"Aku ada reuni dengan teman-temanku di Korea hari ini dan kau tahu aku tidak bisa membawa anak-anakku. Kalau kau bersedia aku ingin menitipkan mereka padamu untuk beberapa jam saja." Kata Liu dengan wajah memelas.
"No." Yifan menolak dengan tegas. Ia sudah merencanakan untuk pergi kencan dengan Chanyeol sore nanti, dan ia tidak ingin mengecewakan Omeganya itu.
"Yifan, please."
"Kemana suamimu? Kau bisa menitipkan mereka di tempat penitipan anak." Kata Yifan.
"Memangnya kau tega melihat mereka diasuh orang asing? Si pemalas itu tinggal di Beijing." Liu masih terus berusaha membujuk Yifan.
"Pleasee, Yifan. Aku janji hanya untuk beberapa jam. Aku akan kembali sebelum jam 2 siang."
Yifan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00 pagi. Daiyu sudah mulai petualangannya dengan menarik playstation Chanyeol. Uh-oh! Chanyeol tidak akan menyukainya jika mainannya disentuh.
"Kenapa kau datang pagi-pagi sekali?" Keluh Yifan yang bahkan belum sempat mencuci wajahnya.
"Aku harus bersiap dan pergi ke salon, Uncle Fanfan. Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau aku membawa mereka ke sana. Pleaaseee." Jelas Liu dengan masih merengek pada sepupunya.
Yifan menghela nafas sebelum menghampiri Daiyu agar melepaskan mainan Chanyeol.
"Daiyu mau tinggal sebentar bersama Uncle Fanfan dan Uncle Chanlie?" Tanya Yifan sambil mendudukkan gadis itu di pangkuannya.
Gadis bermata sipit itu mengangguk. Namun matanya masih terpaku pada playstation milik Chanyeol yang terletak di bawah tv.
"Kau yakin?" Tanya Yifan memastikan.
Gadis itu lagi-lagi mengangguk.
"Kau tahu Daiyu akan menuruti apapun yang kau katakan, Yifan." Kata Liu.
Yifan yakin gadis kecil itu tidak terlalu menjadi masalah, tetapi Yifan menelan ludahnya ketika melihat Baozhai yang masih tertidur pulas di gendongan Ibunya.
"Fine. Tapi kau harus menjemput mereka sebelum jam 2." Kata Yifan akhirnya setuju untuk mengasuh anak sepupunya selama beberapa jam itu.
"Yaayyyy!" Liu ber-high five dengan Daiyu sebelum bangkit dan menyerahkan Baozhai pada Yifan.
.
.
.
Sementara itu Chanyeol yang masih sebelumnya masih terlelap akhirnya terbangun ketika waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Sudah lama sekali sejak ia bisa bangun siang seperti ini tanpa terganggu rasa mual atau keinginan untuk buang air kecil. Pemuda itu melirik ke sampingnya dan mendapati bagian tempat tidur Yifan sudah kosong. Chanyeol memutuskan untuk bangkit dan mencari sosok Alphanya itu.
"Yifaannn." Chanyeol mengucek matanya yang terasa gatal sambil berjalan ke arah dapur.
Tubuh pemuda itu otomatis membeku ketika ia melihat pemandangan di meja makan. Yifan sedang sibuk menyuapi seorang gadis kecil dan bayi laki-laki. Chanyeol yang merasa masih bermimpi mengerjap-ngerjapkan matanya dan bahkan mengucek matanya lebih keras untuk memperjelas penglihatannya.
"Good morning, Uncle Chanlie." Sapa gadis kecil yang menurut Chanyeol tidak asing itu.
"Yifan, what is 'that'?" Tanya Chanyeol merujuk pada dua orang tamu mereka pagi itu.
Yifan tersenyum melihat ekspresi horror di wajah Chanyeol, ditambah dengan rambut pemuda itu yang mencuat berantakan serta perut yang sedikit menyembul dan wajah bengkak. Yifan begitu memuja penampilan Chanyeol setiap paginya.
"Ini Daiyu dan ini Baozhai. Mereka akan tinggal bersama kita selama beberapa jam hari ini." Kata Yifan sambil menyuapkan sereal ke dalam mulut Daiyu kemudian ke mulut Baozhai.
"Huh?" Chanyeol yang masih tidak mengerti hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
BERSAMBUNG.
Heuheu. Terima kasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan review.
Oh iya, in the last chapter, I decided to pair Sehun with Jongin, but some of you were not be happy with my decision. I was perfectly fine and totally respect your choice to stop reading this fanfic bcs of that. Hehe I know I can't make everyone happy at the same time but I still want to say thank you for reading this fanfic till now. Hehe
Terima kasih juga untuk yang sudah setia membaca fanfic nggak jelas ini sampai sekarang hiks saia terharu dan semakin semangat untuk menulis.
Mari terus sebarkan cinta untuk Krisyeol kita tercintaa~
Mohon kritik dan sarannya kalo ada yang ngganjel ya gengs ^^
Dengan cinta,
Mt_Chan
