Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART XIII-
Park Chanyeol sekali lagi memastikan bahwa penglihatannya pagi itu adalah benar ketika ia menyaksikan pemandangan Yifan sedang menyuapi dua orang anak. Tunggu! Anak mereka belum lahir kan? Chanyeol menggelengkan kepalanya ketika hal itu terlintas di pikirannya. Lagi pula, jarak usia kedua anak bermata sipit itu terlihat cukup jauh untuk menjadi anak kembar meskipun wajah keduanya hampir mirip.
"Good morning, Uncle Chanlie." Sapa gadis kecil yang menurut Chanyeol tidak asing itu.
"Yifan, what is 'that'?" Tanya Chanyeol merujuk pada dua orang tamu mereka pagi itu.
Yifan tertawa mendengar pertanyaan Omeganya itu.
"Ini Daiyu dan ini Baozhai. Mereka akan tinggal bersama kita selama beberapa jam hari ini." Kata Yifan sambil menyuapkan sereal ke dalam mulut Daiyu kemudian ke mulut Baozhai.
"Huh?" Chanyeol yang masih tidak mengerti hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau mau sarapan sereal juga? Atau mau aku buatkan sesuatu?" Tanya Yifan. Tangannya masih sibuk menyuapi dua orang anak itu.
Chanyeol mengangkat bahunya dan menarik kursi di hadapan mereka. Perut Chanyeol terlihat lebih menyembul ketika ia duduk. Bayi laki-laki bernama Baozhai itu menatap Chanyeol sambil mengunyah sereal yang dicampur susu di dalam mulutnya sementara Daiyu sibuk melihat ke sekelilingnya.
Setelah selesai sarapan, Yifan membantu Daiyu turun dari kursinya dan memberitahu gadis kecil itu agar bermain di ruang keluarga. Chanyeol yang masih terlihat mengantuk hanya memangku wajahnya di meja. Ketika Yifan bangkit untuk membuatkan susu untuk Chanyeol, Baozhai tiba-tiba merengek dan seperti akan menangis karena ia takut ditinggalkan oleh Yifan.
Yifan meraih bayi itu dan menggendongnya sebelum ia melanjutkan kembali aktivitasnya. Chanyeol menghembuskan nafasnya dengan cukup keras ketika ia menikmati pemandangan itu. Yifan meletakkan susu Chanyeol di hadapan pemuda itu menggunakan tangan kanannya sementara lengan kirinya ia gunakan untuk menopang tubuh Baozhai.
"Apa?" Yifan mengernyit ketika Chanyeol memandangnya dengan aneh.
Chanyeol tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya ketika kedua sudut bibirnya tertarik hingga lesung pipitnya terlihat.
"Can you stop being perfect?" Gumam Chanyeol tanpa melepaskan pandangannya dari Alphanya itu.
Yifan mendengus pelan sebelum ia sendiri ikut tersenyum mendengar komentar Chanyeol.
"Habiskan susumu, baobei."
Chanyeol hampir tersedak susu yang sedang ia minum mendengar panggilan Yifan untuknya. Ia tidak mengerti artinya, tetapi mengingat sifat Yifan yang gemar memanggilnya dengan Love, Sweetheart atau panggilan cheesy lainnya, Chanyeol duga artinya kurang lebih sama dengan panggilan-panggilan itu.
"Uncle fan-faaaannnn!"
Belum sempat Chanyeol melayangkan protes karena panggilan itu, sebuah teriakan nyaring terdengar dari ruang keluarga. Yifan tampak sedikit panik sebelum berjalan tergesa menuju sumber suara dengan masih menggendong Baozhai. Chanyeol yang akhirnya mendapatkan energi dari susu yang baru saja ia minum kemudian bangkit dan berniat untuk membersihkan diri sebelum memulai aktivitasnya menjadi baby stitter dadakan.
Langkah Chanyeol terhenti ketika ia menoleh ke arah ruang keluarga dan mendapati Daiyu mencium pipi Yifan.
"Yah!" Chanyeol tanpa sadar berteriak dari tempatnya berdiri.
Paman dan sepupu itu menatap Chanyeol dengan mata sipit mereka.
"Kenapa Daiyu menciummu?"
Yifan sebelumnya mengernyit tetapi kemudian menyeringai ketika ia menyadari ekspresi wajah Chanyeol. "Kami sedang main rumah-rumahan." Jelas Yifan.
Chanyeol menaikkan salah satu alisnya.
"Uncle fanfan is my baobei." Ujar Daiyu dengan aksen bahasa Inggris yang cukup fasih untuk anak kecil seusianya.
"H-ha?"
Ini sungguh tidak normal untuk cemburu dengan anak kecil kan? Tetapi Chanyeol hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebelum masuk ke dalam kamarnya.
.
.
.
Ketika Chanyeol kembali dengan memakai celana hitam pendek dan kaos abu-abu yang cukup besar untuk ukuran tubuhnya hingga menutupi perutnya yang mulai membuncit, Yifan terlihat sedang berusaha menenangkan Baozhai yang tiba-tiba menangis.
"Kenapa dia menangis?" Tanya Chanyeol seraya mendekati Yifan yang menggendong bayi laki-laki itu dan menepuk punggungnya pelan.
"Dia mencari Ibunya."
"Hey... Mau melihat mobil bersama Uncle Chanlie?" Chanyeol menyodorkan kedua tangannya di hadapan Baozhai yang masih menangis, menawarkan untuk menggendongnya.
Namun yang menjadi masalah utama di sini adalah bayi itu tidak mengerti bahasa lain selain Mandarin. Berkomunikasi dengan Daiyu mungkin akan jauh terasa lebih mudah karena gadis kecil itu mengerti bahasa Inggris. Baozhai menolak mentah-mentah tawaran Chanyeol dan justru semakin mengeratkan gelayutan lengan kecilnya pada leher Yifan.
"Mam..Mama..Mammma..." Baozhai masih terus memanggil Ibunya dan bahkan tangisannya semakin kencang.
Chanyeol akhirnya menyerah dan memilih duduk di sofa untuk menunggui Daiyu yang sedang menyisir rambut boneka barbienya. Gadis itu tiba-tiba berhenti dan menatap Chanyeol dengan tajam. Merasa tidak nyaman dengan tatapan gadis kecil itu, Chanyeol menurunkan tubuhnya hingga duduk di atas karpet di samping Daiyu dan berusaha mendekatinya.
"What is her name?" Tanya Chanyeol merujuk pada boneka barbie berambut panjang itu.
Daiyu mengangkat bahu kecilnya dan mengacuhkan Chanyeol begitu saja.
Chanyeol melirik ke arah jam dinding dan mendapati jarum pendeknya berada di angka 9. Masih ada beberapa jam lagi hingga tamu-tamu mereka ini pergi. Chanyeol tanpa sadar menghela nafas dan mengelus perutnya.
Daiyu yang mengikuti gerakan tangan Chanyeol tampaknya tertarik dan meletakkan bonekanya sebelum mendekati Chanyeol.
"Kenapa perut Uncle Chanlie gendut?" Tanya Daiyu sambil memandang perut Chanyeol.
Chanyeol tersenyum mendengar kata gendut yang dipilih Daiyu.
"Ada bayi di dalam perutku." Kata Chanyeol menjelaskan –meskipun ia tidak tahu apakah gadis itu mengerti atau tidak.
Kedua alis Daiyu menyatu. Gadis kecil itu terlihat berpikir.
"Apa Uncle Chanlie tidak menyayangi bayi itu?" Kali ini giliran Chanyeol yang mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan itu.
"Tentu saja Uncle Chanlie menyayanginya." Jawab Chanyeol.
"Kalau Uncle Chanlie menyayangi bayi itu, kenapa Uncle Chanlie memakannya?" Tanya Daiyu dengan wajah tanpa dosa.
Kalimat Daiyu sukses membuat Chanyeol hampir terjungkal dari tempat duduknya. Pemuda itu berharap ia lah yang tidak mengerti bahasa anak kecil itu, tetapi ketika Chanyeol mendengar tawa Yifan dari arah dapur –yang rupanya menguping pembicaraan mereka, Chanyeol hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Yifan menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawanya yang sewaktu-waktu siap meledak ketika ia kembali ke ruang keluarga dengan Baozhai yang sudah berhenti menangis. Bayi laki-laki itu berusaha menggigit buah apel yang ada di tangannya menggunakan gigi bawahnya yang baru tumbuh dua.
Melihat pamannya sudah kembali dan sedang menurunkan adiknya di karpet, Daiyu berjalan mendekati Yifan.
"Uncle fanfan, aku mau es krim." Kata Daiyu dengan tampang bossynya.
Yifan terlihat menghela nafas sebelum bangkit menuju dapur untuk mengambilkan permintaan gadis kecil itu. Namun lagi-lagi Yifan harus menghela nafas ketika ia mendapati freezernya dalam keadaan kosong.
"Daiyu, bagaimana kalau yoghurt?" Yifan mengacungkan sebotol yoghurt rasa strawberry dari pintu dapur.
"Itu yoghurtku!" Sahut Chanyeol yang tidak rela minuman favoritnya itu ditawarkan pada Daiyu.
"Kita kehabisan es krim, baobei." Yifan menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Hmph!" Chanyeol dan Daiyu merengut dan melipat tangan mereka di atas dada dengan bersamaan.
Yifan merasa seperti sedang mengasuh tiga orang bayi –dan bukannya dua.
Daiyu terus merengek dan bahkan mulai berguling di lantai ketika keinginannya tidak terpenuhi. Kepala Chanyeol mulai merasa pening mendengarnya. Sementara Yifan yang berusaha menenangkan gadis kecil itu tidak juga berhasil.
"Bagaimana kalau kau mengantarnya membeli es krim di luar? Aku akan menjaga Baozhai di sini." Kata Chanyeol sambil melirik bayi yang masih sibuk dengan apelnya itu. Kaos bayi itu sudah basah oleh saliva ketika ia tanpa menyerah menggigiti apel yang mengeluarkan banyak air itu.
"Kau yakin? Bagaimana kalau Baozhai menangis?" Tanya Yifan dengan khawatir.
"Aku bisa mengatasinya. Lagipula kau hanya pergi membeli es krim kan? Kepalaku rasanya mau pecah mendengar rengekan Daiyu."
Yifan merasa bersalah karena sudah menyetujui ide sepupunya untuk mengasuh anak-anaknya. Setelah berganti dengan pakaian yang lebih hangat dan memakaikan jaket pada Daiyu, Yifan menggandeng tangan gadis kecil itu ke luar apartemen untuk membeli es krim.
"Segera telepon aku kalau ada apa-apa, kay?" Kata Yifan sekali lagi dari arah pintu depan pada Chanyeol yang hanya mengangguk.
Kini tinggallah Chanyeol dengan bayi laki-laki itu –berdua saja. Chanyeol tiba-tiba gugup dan takut jika tiba-tiba bayi itu menangis. Namun melihat Baozhai yang begitu fokus pada apel itu, Chanyeol memilih untuk tidak mengganggunya dan menyalakan tv. Ia yakin bisa bertahan sampai Yifan kembali.
Namun baru beberapa menit Chanyeol menikmati acara kartun di tv, Baozhai yang apelnya jatuh dari tangannya tiba-tiba menangis. Chanyeol sontak panik dan berusaha menenangkan bayi itu dengan menggendongnya. Tapi bukannya berhenti, tangisan bayi itu justru semakin keras.
"Hey... kau mau apelnya lagi? Jangan menangis, kay?" Chanyeol menyerahkan apel itu pada Baozhai namun bayi itu justru membuangnya dan menangis hingga sesenggukan.
Chanyeol sudah berniat untuk menelepon Yifan, tetapi niat itu ia urungkan ketika ia sadar bahwa ini adalah salah satu hal yang harus dihadapinya jika anaknya sudah lahir nanti. Chanyeol membetulkan posisi Baozhai yang ia tempelkan di dadanya dan menepuk pelan punggung bayi itu.
Sambil terus menenangkan bayi itu, Chanyeol membuka tas bekal yang ditinggalkan sepupu Yifan dan menemukan susu yang sudah diracik di dalam botol. Pemuda itu meraih ponselnya dan mem-browsing cara membuat susu untuk bayi.
"Tunggu sebentar, kay." Chanyeol menahan Baozhai menggunakan satu lengan sementara lengan kanannya ia gunakan untuk menekan tombol dispenser air di dapur. Air panas mengucur dan mengisi botol susu itu. Setelah mengaduk dan memastikan suhunya tepat untuk siap diminum, Chanyeol kembali duduk di atas sofa dan memangku Baozhai. Tapi rupanya Baozhai ingin minum susunya sambil digendong dengan berdiri.
Chanyeol sedikit bernafas lega ketika Baozhai akhirnya berhenti menangis dan sibuk meminum susunya. Pemuda itu menepuk pelan punggung bayi itu sambil mengayunkan sedikit tubuhnya yang berdiri di samping pintu balkon. Udara dingin masuk dari celah-celahnya.
.
.
.
Ketika Yifan kembali ke apartemen bersama Daiyu yang menjilati es krimnya di musim dingin, ia mendapati Chanyeol tertidur di atas sofa dengan Baozhai terlelap di atas dadanya sambil menghisap botol susu yang sudah kosong. Yifan membuat gestur pada Daiyu agar tidak berisik dan mengganggu Chanyeol dan Baozhai.
Daiyu yang sudah mendapatkan apa yang ia inginkan mengangguk dan menuruti pamannya agar duduk dengan tenang. Yifan terlihat khawatir ketika melihat posisi Baozhai yang duduk di atas perut Chanyeol. Namun melihat dengkuran halus yang keluar dari mulut Chanyeol yang terbuka, pemuda itu sepertinya tidak terganggu dengan posisi tidur Baozhai.
Yifan tetap saja gelisah dan merasa perlu untuk memindah Baozhai agar tertidur di kamar mereka, tetapi jika ia melakukan hal itu, besar kemungkinan bayi itu akan terbangun dan membuat keributan dengan menangis. Sementara itu, Daiyu yang sudah menghabiskan es krimnya kemudian duduk mendekati Yifan yang berada di samping Chanyeol.
"Kau mengantuk juga?" Bisik Yifan sambil melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul 11 siang.
Gadis kecil itu menempatkan diri di atas pangkuan Yifan dan menyamankan kepalanya di atas dada pamannya itu. Yifan mengusap pelan rambut Daiyu hingga akhirnya gadis kecil itu jatuh tertidur.
Suasana di dalam apartemen itu begitu hening setelah beberapa jam terakhir ini penuh dengan suara rengekan dan tangisan anak kecil. Yifan memandang wajah Chanyeol yang terlihat begitu damai ketika ia tidur. Pipi Chanyeol yang semula bersih dan terlihat kenyal di awal kehamilan mulai ditumbuhi beberapa jerawat karena hormonnya yang berubah.
Namun selain perubahan itu, bibir Chanyeol tetap merah dan penuh, matanya tetap jernih meskipun terlihat sedikit kuyu karena sering mengantuk. Yifan begitu bersyukur mendapatkan Chanyeol sebagai pasangannya. Meskipun Omeganya itu begitu muda dan masih kekanakan, ia terus berusaha untuk mengimbangi Yifan. Baik mengenai pola hidup dan gaya berpikirnya. Yifan terkadang khawatir Chanyeol menahan diri untuk berkembang agar bisa mengikutinya.
Mata Chanyeol yang sebelumnya terkatup perlahan terbuka. Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya untuk membiasakan diri setelah terlelap dan mendapati Yifan sedang menatapnya.
"Daiyu sudah mendapatkan es krimnya?" Tanya Chanyeol dengan suara serak.
Tangannya otomatis menopang tubuh Baozhai ketika ia membetulkan posisi duduknya.
Yifan mengangguk. Tangannya bergerak untuk mengusap rambut Chanyeol yang sudah mulai menutupi telinganya lagi. Mungkin Yifan perlu mengingatkan Chanyeol untuk memangkas rambutnya.
"Kau baik-baik saja dengan Baozhai?"
Chanyeol memandang bayi laki-laki yang sama sekali tidak bergeming dari tidurnya itu sebelum memandang Yifan dan tersenyum.
"Dia menangis tadi." Kata Chanyeol.
"Bagaimana kalau kita meletakkan Daiyu dan Baozhai di tempat tidur agar bisa tidur dengan nyaman? Kau tidak apa-apa Baozhai tertidur di atas perutmu seperti itu?"
Chanyeol yang sebenarnya sudah nyaman dengan posisi itu akhirnya menyetujui usulan Yifan dan bangkit perlahan-lahan agar tidak membangunkan bayi itu. Yifan juga melakukan hal yang sama dan menempatkan Daiyu di samping Baozhai.
Chanyeol kemudian kembali ke dapur untuk memasukkan sesuatu ke dalam perutnya yang sudah mulai lapar. Yifan yang menyusul ikut menyiapkan sarapan –atau ini makan siang untuk Chanyeol.
Setelah selesai makan, sementara Yifan mencuci piring kotor, Chanyeol berdiri di depan kulkas di mana mereka menempelkan hasil sprint USG terakhir. Kehamilannya baru berjalan dua bulan dan Chanyeol sudah tidak sabar untuk melihat bayi-bayinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Yifan sambil mengeringkan tangannya.
Chanyeol mengangkat bahunya. Ada banyak pikiran yang bergumul di kepalanya. Salah satunya adalah bagaimana mereka akan mengasuh anak mereka nanti.
"Setelah mengasuh Daiyu dan Baozhai, aku tiba-tiba sadar." Chanyeol meletakkan gelas air putih di atas meja makan.
Yifan menunggu hingga Chanyeol mengeluarkan isi kepalanya.
"Bagaimana kalau kita tidak bisa mengasuh anak kembar ini dengan baik?"
Yifan berjalan mendekati Chanyeol dan berdiri di sampingnya.
"Apa kita perlu menyewa Baby sitter juga? Tapi aku mau mengurus mereka sendiri. Tapi kalau kau bekerja, lalu aku menjaga mereka dengan siapa?"
Ekspresi wajah Chanyeol begitu serius hingga Yifan tidak tega untuk menertawakan kekhawatiran Chanyeol. Yifan melingkarkan tangannya di pinggang Chanyeol dan mengangkat pemuda itu agar duduk di atas meja makan sementara Yifan menempatkan diri di antara kedua kakinya.
"Aku juga sempat memikirkan hal itu, tetapi kau tidak perlu khawatir. Kita akan menemukan jalan keluarnya nanti. Kau tidak boleh stres, ingat?"
Chanyeol mengangguk. Rasa mual tiba-tiba menguasai perutnya tetapi Chanyeol menahannya. Chanyeol justru mengalungkan lengannya pada bahu Yifan dan menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher Alphanya itu. Aroma maskulin yang menguar darinya membuat Chanyeol merasa lebih baik.
"Kau tidak melupakan kencan kita kan?" Tanya Chanyeol tanpa merubah posisinya.
Yifan mengecup puncak kepala Chanyeol sebelum tersenyum.
"Bagaimana kalau berjalan-jalan di Sungai Han?" Kata Yifan.
Chanyeol mendengus sebelum menarik kepalanya untuk menatap Yifan.
"Kau kuno sekali." Kata Chanyeol.
"But you love me." Yifan mengangkat salah satu alisnya membuat Chanyeol tertawa dengan tidak percaya.
"Sssttt." Yifan meletakkan jarinya di depan bibir Chanyeol agar pemuda itu memelankan sedikit suara tawanya mengingat mereka tidak lagi berdua di apartemen itu.
Chanyeol berniat menggigit jari Yifan yang ternyata bergerak lebih cepat darinya. Sebagai gantinya Yifan menundukkan sedikit wajahnya dan memagut bibir Chanyeol. Chanyeol menghela nafas menggunakan hidungnya di sela-sela ciuman itu. Keduanya begitu larut dalam ciuman itu hingga Chanyeol tiba-tiba mendorong bahu Yifan sambil memekik pelan.
"Aw." Chanyeol menyentuh bibir bawahnya yang baru saja Yifan –tanpa sengaja gigit.
"Sorry." Yifan tertawa melihatnya sebelum menyeka saliva di sekitar bibir Chanyeol.
Chanyeol menarik kembali wajah Yifan sebelum memberikan peringatakan. "Jangan menggunakan lidah."
Yifan tertawa sebelum mengangguk. "Okay."
Kedua bibir mereka kembali bertaut. Chanyeol menopang tubuhnya menggunakan tangannya yang ia letakkan di atas meja ketika ciuman Yifan semakin menuntut.
"Ngh!" Chanyeol mengerang di sela-sela ciuman ketika Yifan mengingkari janjinya dan mengeluarkan lidahnya untuk menjilat bibir bawah Chanyeol yang sebelumnya ia gigit.
Ketika Yifan memperdalam ciuman mereka dengan tangannya menahan kepala Chanyeol, suara rengekan bayi terdengar dari arah kamar utama. Yifan melepaskan ciumannya dengan nafas tersengal sementara Chanyeol tertawa.
"Jam berapa sepupumu menjemput mereka?" Tanya Chanyeol ketika Yifan menyatukan dahi mereka.
"Liu akan datang jam 2."
Yifan menggigit bibir bawahnya sendiri sebelum mengecup pipi Chanyeol dan melepaskan lengannya yang melingkar pada pinggang Chanyeol. Ia setengah berlari menuju kamar ketika tangisan Baozhai semakin keras.
Chanyeol mengelus perutnya dengan dada yang berdebar. Ia tidak sabar menanti momen di mana ia akan melihat Yifan berlari untuk merengkuh anak mereka yang menangis.
BERSAMBUNG
Ahem. Jadi sebenarnya orang nikah kayak gimana sih yak rasanyaaaa yawlaaaaa ini maapkeun yang ditulisnya bagian enak-enakan doang padahal keknya orang nikah itu isinya ribet semua #plakkk #digampar
Momong bayi sih juga kudu gimana T_T authornya juga kalo sama anak kecil rada-rada parno gitu jadi maapkeun lagi kalo Krisyeol –yang aslinya ngemong banget sama anak kecil jadi rada keki gitu. Wkwkwkwwkk
Btw lahirannya kapaaannn ini baru dua bulan aja hamilnya masak iya sampe tahun depan baru lahiran wkwkwkk #digamparin #kebanyakangayasih
Heuheu
Terima kasih untuk yang sudah membaca, me-review, mem-favorite dan mem-follow fanfic yang makin nggak jelas arah dan tujuannya ini ^^
Dengan cinta,
Mt_Chan
