Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART XIV-
Ini adalah untuk yang ke sekian kalinya bagi Chanyeol ketika pemuda itu melirik ke arah jarum jam di ruang keluarga dan waktu menunjukkan pukul 11 malam namun yang ia tunggu-tunggu belum juga datang. Chanyeol sudah menyelesaikan tugas kuliahnya, membuat makan malam untuk dirinya –dan bayi-bayi di dalam perutnya, mencuci pakaian kotor miliknya dan Yifan, ia bahkan baru saja menyelesaikan satu set game di laptopnya. Pemuda itu akhirnya bangkit dari tempatnya duduk di atas karpet ruang keluarga untuk mengambil sesuatu yang bisa ia makan di kulkas. Setelah berhasil menenteng semangkuk buah anggur, Chanyeol kembali ke tempatnya dan menonton sebuah film yang ia temukan di folder laptopnya.
Usia kehamilan Chanyeol sudah memasuki bulan kelima. Perutnya yang semula rata sudah membulat dengan sempurna, membuat siapa pun yang melihatnya akan tahu bahwa ia sedang hamil. Ditambah lagi dengan keadaannya yang hamil anak kembar, perut Chanyeol terlihat lebih besar dari ukuran perut orang hamil lima bulan kebanyakan. Morning sickness Chanyeol sudah berhenti. Pemuda itu tidak lagi muntah-muntah, namun yang menjadi salah satu persoalan adalah ia mulai kesulitan tidur dan merasa cepat lelah. Yifan sudah menasihatinya untuk segera mengambil cuti di kampus, tetapi Chanyeol bersikeras untuk menyelesaikan semester duanya ini dan mengambil cuti di usia kehamilannya yang ke-enam.
Sementara itu, Yifan justru sedang begitu sibuk dengan pekerjaan hingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. Hal itu bukan karena Yifan gila kerja atau tidak ingin menghabiskan waktunya dengan Chanyeol, tetapi karena Yifan sedang mengejar posisi Direktur cabang perusahaan Wu di Korea menggantikan Ayahnya. Setelah mendapatkan promosi dari Mr. Wu selepas kepulangan mereka dari Beijing beberapa bulan yang lalu, kini Yifan harus bekerja ekstra untuk menyelesaikan sebuah proyek yang nantinya akan menentukan hasil apakah ia layak menempati jabatan itu atau tidak. Karena meskipun Yifan adalah putra tunggal dari Mr. Wu, namun karena perusahaan mereka berbasis investasi, maka Yifan tetap harus berkompetisi dengan pemegang saham lainnya untuk mendapatkan posisi itu.
Chanyeol sedang mengunyah beberapa buah anggur sekaligus di dalam mulutnya ketika ia mendengar pintu depan dibuka. Tak lama kemudian muncul sosok yang sedari tadi Chanyeol tunggu kepulangannya. Aroma mint yang kuat segera mengisi ruangan itu dan menyenangkan hati Omega Chanyeol yang mendengkur seperti anak kucing begitu menghirup aroma Alpha Yifan. Yifan meletakkan jas dan tas kerjanya di atas sofa sebelum mendekati Chanyeol.
"Papa's home." Kata Chanyeol sambil mengelus perutnya ketika Yifan mengecup pipinya.
"Sudah bukan Daddy lagi?" Goda Yifan yang kemudian menunduk untuk mengecup perut Chanyeol.
"Kenapa kau hanya menciumnya sekali?" Chanyeol mengerutkan alisnya, membuat Yifan justru keheranan.
"Hm?"
"Ada dua orang bayi di dalam sana, dan kau sungguh tidak adil kalau hanya mencium salah satunya." Jelas Chanyeol membuat Yifan tergelak. Chanyeol tidak pernah gagal untuk menghiburnya.
Maka Yifan menundukkan kepalanya untuk mengecup perut Chanyeol sekali lagi sebelum berbisik. "Mommy kalian cerewet sekali."
Chanyeol menarik kulit pipi Yifan hingga Alphanya itu mengerang dan kepalanya terjatuh di atas pahanya. Well, karena paha Chanyeol yang terasa begitu empuk, Yifan justru menyamankan diri di atasnya.
"Aku tidak mau dipanggil Mommy." Kata Chanyeol sambil memasukkan kembali sebuah anggur ke dalam mulutnya.
Chanyeol yang baru saja memangkas rambutnya hingga tidak lagi menutupi telinga dan dahinya, justru terlihat lebih chubby dan cute.
"Kalau begitu kau mau dipanggil apa? Umma? Mama? Okaa-san?" Tanya Yifan yang kemudian membuat Chanyeol merengut.
"Aku sudah ke dokter lagi tadi." Kata Chanyeol, mengalihkan pembicaraan mereka.
Yifan yang semula berbaring dengan kepala di atas paha Chanyeol sontak bangkit.
"Kau pergi sendirian? Kenapa tidak menelepon aku?" Tanya Yifan dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.
"Ini hanya check up rutin seperti biasanya. Lagi pula kau pasti sedang sibuk, jadi aku pikir tidak ada salahnya pergi sendirian." Jelas Chanyeol sambil mendorong bahu Yifan agar kembali ke tempatnya semula.
Yifan memiringkan kepalanya hingga menghadap perut Chanyeol.
"Apa kalian menjaga Mama dengan baik? Maafkan Papa belum bisa melihat kalian hari ini." Kata Yifan sambil mengelus perut Chanyeol dan berbicara dengan calon bayi-bayinya.
Chanyeol tersenyum melihat pemandangan itu –meskipun ia masih protes dengan panggilan Mama, dan mengusap pelan rambut Alphanya.
"Bagaimana hasil check up hari ini?"
"Mereka sehat. Aku sehat. Kita hanya perlu menunggu 4 bulan lagi."
Yifan bisa sedikit bernafas lega mendengarnya –meskipun ia tetap merasa bersalah karena tidak bisa menemani Chanyeol untuk periksa ke dokter. Sementara Chanyeol hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika ia tidak –atau belum bisa menceritakan hasil check up hari itu sepenuhnya pada Yifan. Dokter Amber mengatakan bahwa ia memiliki resiko anemia, tetapi dokter itu mengatakan bahwa ia tidak perlu khawatir jika ia bisa menjaga nutrisi yang dimakannya dan mengonsumsi obat yang diberikan. Chanyeol yakin ia dan bayi-bayinya akan baik-baik saja. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Yifan.
"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Yifan, kali ini pada Chanyeol yang kembali fokus pada layar laptop di atas meja.
"Aku tidak bisa tidur." Kata Chanyeol tanpa menghentikan gerakan tangannya di atas rambut Yifan.
Yifan menelusupkan tangannya ke dalam kaos yang dipakai Chanyeol sebelum mengelus perut Chanyeol tanpa penghalang, sebuah kebiasaan yang ia lakukan sejak Chanyeol hamil. Dan ketika gerakan tangan di perutnya berhenti setelah beberapa saat, Chanyeol tahu bahwa Yifan sudah jatuh tertidur. Pemuda itu sebenarnya tidak terlalu keberatan ketika Yifan menggunakan pahanya sebagai bantal, tetapi mengingat kondisinya sekarang yang tidak bisa diam dengan satu posisi dalam waktu lama membuat Chanyeol menarik bantal dari atas sofa dan secara perlahan mengangkat kepala Yifan agar berpindah ke atasnya.
Baru beberapa menit jatuh tertidur tetapi Yifan terlihat seperti sudah begitu pulas hingga Chanyeol tidak tega membangunkannya. Chanyeol mengecup singkat puncak kepala Yifan sebelum ia bangkit dengan susah payah untuk masuk ke dalam kamar dan mengambil krim perawatan wajah milik Yifan.
Setelah hidup selama beberapa bulan dengan Yifan, Chanyeol sudah hafal betul dengan kebiasaan Alphanya itu dari ia membuka mata hingga menutupnya kembali. Salah satu kebiasaannya adalah Yifan tidak pernah lupa untuk membersihkan wajahnya sebelum tidur.
Chanyeol duduk kembali di atas karpet di samping tubuh Yifan yang tertidur sebelum membaca label setiap produk yang ia bawa dari kamar tadi. Pemuda itu tidak tahu menahu mengenai produk perawatan seperti ini hingga ia sendiri sangsi mengenai cara menggunakannya.
Chanyeol mengoleskan krim pembersih pada wajah Yifan dan mulai meratakannya. Yifan terlihat mengernyit dalam tidurnya –mungkin karena rasa basah di wajahnya, namun tidak membuka matanya. Setelah itu Chanyeol mengambil selembar kapas dan mulai membersihkan wajah Yifan. Untuk sekali ini, Chanyeol ingin menjadi orang yang memperhatikan Yifan dan bukan sebaliknya.
Setelah selesai membersihkan wajah Yifan, Chanyeol kembali bangkit dan masuk ke dalam kamarnya sebelum keluar dengan membawa selimut dan bantal yang lebih nyaman. Dengan hati-hati, Chanyeol mengganti bantal sofa Yifan menggunakan bantal yang biasa ia pakai tidur. Chanyeol memastikan bantalnya sendiri sudah nyaman sebelum ia ikut berbaring di samping Yifan dan menggelar selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Yifan menggerakkan tubuhnya hingga memunggungi tubuh Chanyeol. Chanyeol menghela nafas sebelum melakukan hal yang sama dan melingkarkan lengannya di atas perut Yifan. Karena kondisi perutnya yang menyembul, Chanyeol tidak bisa menempelkan tubuh sepenuhnya pada tubuh Yifan.
.
.
.
Keesokan paginya, Yifan bangun dalam keadaan panik ketika ia tidak menemukan Chanyeol di dalam apartemen mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi kala itu dan Yifan harus segera bersiap untuk berangkat ke kantor. Yifan meraih ponselnya dan berusaha menghubungi ponsel Chanyeol ketika ia mendapati ponsel Omeganya itu bergetar di atas meja.
Yifan memperhatikan keadaan sekitarnya dan sadar bahwa ia tidur semalam di ruang keluarga. Chanyeol pasti kesulitan membangunkannya hingga membiarkannya tidur di luar seperti ini. Namun Yifan kemudian menghela nafas panjang ketika melihat bantal Chanyeol di sampingnya yang menandakan bahwa pemuda itu juga pasti ikut tidur di luar semalam. Yifan menyisir rambutnya ke belakang ketika ia mendengar pintu depan terbuka.
"Kau dari mana? Kenapa tidak membangunkan aku?" Tanya Yifan sambil tanpa sengaja menekan bahu Chanyeol ketika rasa panik menyelimutinya.
Chanyeol mengedipkan kedua mata besarnya pelan sementara pipinya memerah karena hawa dingin di luar. Pemuda itu tidak begitu mengerti dengan sikap Yifan.
"Kita kehabisan kopi dan aku ke minimarket sebentar." Kata Chanyeol sambil mengayunkan kantung plastik di tangannya.
Lagi-lagi Yifan menghela nafasnya. "Lain kali bangunkan aku, kay. Di luar dingin, kau tidak perlu bersusah payah seperti ini. Kalau hanya kopi, aku bisa membelinya sendiri nanti." Kata Yifan.
Entah kenapa kalimat Yifan itu justru membuat Chanyeol berkecil hati. Ia tidak kesusahan jika hanya membeli kopi di luar. Tetapi Chanyeol tidak ingin membuat kekhawatiran Yifan berlanjut, maka pemuda itu hanya bisa tersenyum.
"I'm sorry." Chanyeol mengecup pipi Yifan sebelum masuk ke dalam.
"Apa semalam kau juga tidur di luar?" Tanya Yifan ketika Chanyeol melepaskan mantel dan syal yang ia pakai untuk menghalau udara dingin di luar tadi.
Chanyeol menganggukkan kepalanya sebelum menyalakan coffee maker di dapur.
"Aku tidak keberatan kalau kau tidak bisa membangunkan aku dan membiarkan aku tidur di luar. Tetapi itu keterlaluan kalau kau juga ikut tidur di luar dan membuat dirimu sendiri tidak nyaman." Kata Yifan sambil memunguti bantal dan selimut yang masih tergeletak di atas karpet ruang keluarga.
Chanyeol hanya diam dan menelan gumpalan aneh yang bergumul di tenggorokannya mendengar omelan Yifan. Mungkin Yifan hanya lelah dan terlalu khawatir padanya hingga ia berbicara seperti itu. Chanyeol menahan cairan panas yang menggenang di sudut matanya. Ia tidak secengeng itu hingga menangis hanya karena membuat kesalahan seperti itu. Tetapi apakah yang Chanyeol lakukan itu salah ketika ia sendiri merasa baik-baik saja membeli kopi atau menemani Alphanya tidur di luar.
.
.
.
Yifan memijat pelipisnya ketika ia sampai di kantor dan sudah disuguhi dengan tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan segera. Pagi itu, Yifan meninggalkan apartemen dengan perasaan bersalah karena telah bersikap berlebihan terhadap Chanyeol. Ia tidak seharusnya mengucapkan kalimat-kalimat itu ketika ia sadar bahwa Chanyeol semata-mata melakukan hal itu semua karena peduli padanya. Tetapi Yifan belum sempat minta maaf ketika ia harus segera sampai di tempat kerja.
Yifan akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Ia tahu ia tidak akan bisa berkonsentrasi bekerja sebelum mengirimkan pesan itu.
.
.
.
Chanyeol yang sedang dalam perjalanan ke kampus merasakan ponselnya bergetar. Taksi yang ia tumpangi melaju dengan mulus ketika Chanyeol memastikan pada sang supir sebelum ia naik agar lebih berhati-hati.
Maaf aku sudah bersikap berlebihan pagi ini. Aku harap kau mengerti.
I love you.
-Yifan.
Chanyeol menghela nafas yang tanpa sadar ia tahan ketika membaca pesan dari sang Alpha. Setelah membaca pesan itu berulang-ulang, Chanyeol akhirnya menekan tombol 'balas'.
Aku mengerti. Jangan lupa makan siang.
I love you.
-Loey-mu.
Yifan akhirnya tersenyum membaca balasan Chanyeol.
.
.
.
Ketika hari presentasi akhir untuk seleksi jabatan itu semakin dekat, Yifan semakin dikejar oleh deadline dan proyek lain yang harus ia selesaikan dalam waktu yang hampir bersamaan. Selain fisiknya yang kelelahan, Yifan juga menderita stres yang membuat moodnya sering berubah-ubah. Yifan sebisa mungkin membagi waktunya untuk bekerja dan menemani Chanyeol di rumah. Yifan sadar betul bahwa ia seharusnya memprioritaskan perhatiannya pada Omeganya yang sedang hamil itu dibandingkan dengan pekerjaannya saat ini. Tetapi Yifan harus mencapai goalnya untuk menempati jabatan yang tidak mudah didapatkan itu.
Yifan yakin bahwa ia harus bekerja keras sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Toh ke depannya, jika ia berhasil mendapatkan posisi itu, keuntungan yang didapatkan berjangka panjang. Ia bisa meluangkan lebih banyak waktu bersama Chanyeol.
Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari ketika Yifan sampai di apartemen. Yifan segera membuka pintu kamar ketika apartemen itu didapatinya dalam keadaan sepi. Dugaan Yifan benar ketika ia melihat Chanyeol sudah bergelung di atas tempat tidur dengan selimut berantakan.
Yifan melonggarkan dasinya sebelum mengecup puncak kepala Chanyeol yang segera membuka matanya. Yifan duduk di tepi tempat tidur sebelum menunduk untuk mengecup perut Chanyeol. Ia memastikan untuk melakukannya dua kali. Chanyeol tersenyum dengan wajah yang sedikit bengkak karena tertidur.
"Papa is home." Kata Chanyeol membuat Yifan tersenyum.
"I'm home." Yifan mengelus perut Chanyeol dan menyuruhnya untuk kembali tidur.
Setelah memastikan Chanyeol kembali terlelap, Yifan kemudian bangkit dan keluar dari kamar. Yifan mengambil sebuah gelas dan es batu dari dalam kulkas sebelum menuangkan whiskey ke dalamnya. Alkohol mungkin akan membuatnya sedikit rileks. Yifan menyesap minuman beralkohol itu sebelum berjalan menuju ruang kerjanya. Ia berniat untuk mengerjakan pekerjaannya agar ia bisa sedikit bersantai besok.
Namun bahkan setelah Yifan menghabiskan segelas whiskey, ia belum bisa menyelesaikan satu pekerjaan pun dan justru mulai mengantuk. Yifan melipat kedua tangannya di atas meja dan menyandarkan kepalanya di atasnya. Ia akan memejamkan mata selama beberapa menit sebelum kembali bekerja.
Ketika waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Chanyeol membuka matanya dan mendapati sisi tempat tidur di sampingnya kosong. Ia sadar betul bahwa Yifan sudah pulang. Chanyeol kemudian bangkit dari tempat tidur untuk mencari keberadaan Alphanya itu.
Yifan tersentak ketika merasakan seseorang menyentuh kepalanya. Chanyeol mengusap rambutnya pelan ketika Yifan mulai sadar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Yifan sambil melihat ke sekitarnya.
Es batu yang berada di gelas sudah mencair sepenuhnya. Berkas-berkas dari kantor berceceran di mejanya.
"Bukankah itu seharusnya menjadi pertanyaanku?" Kata Chanyeol.
Yifan memijat tengkuknya sebelum menarik pinggang Chanyeol agar duduk di pangkuannya. Yifan kemudian menenggelamkan wajahnya pada leher Chanyeol.
"Mulutmu bau alkohol." Kata Chanyeol.
"Aku minum sedikit." Ujar Yifan sambil menghirup aroma Omega yang Chanyeol keluarkan.
"Kenapa kau tidak tidur di kamar saja?"
Yifan menarik kembali wajahnya dan kali ini bersandar pada kursi kerjanya tanpa melepaskan tangannya pada kedua pinggang Chanyeol.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku."
"Kau bisa menyelesaikannya besok—" Kalimat Chanyeol terpotong ketika Yifan meletakkan tangan kirinya pada pipi Chanyeol.
"Aku bisa menyelesaikannya sekarang." Kata Yifan.
Chanyeol sungguh ingin menyanggah, tetapi ia juga tidak ingin berdebat dengan Yifan.
Yifan menyapu bibir bawah Chanyeol menggunakan ibu jarinya, dan biasanya, Chanyeol akan menggigitnya, namun kali ini, tanpa melepaskan pandangannya dari Yifan, Chanyeol menghisap ibu jari itu ke dalam mulutnya. Yifan menahan nafasnya.
Sejak dinyatakan hamil, Yifan tidak pernah berhubungan sex dengan Chanyeol. Sex yang mereka lakukan setelah ia kembali dari Beijing adalah pengecualian tentu saja. Yifan adalah seseorang dengan pendirian teguh di mana begitu ia menentukan sikap, ia akan berpegang pada pendiriannya itu, apapun kondisinya. Termasuk ketika Dokter menyatakan bahwa mereka tidak boleh melakukan hubungan sex selama tri semester pertama, Yifan menahan hasrat biologisnya itu mati-matian dan mengutamakan Omega dan calon bayi mereka.
Namun kali ini, meskipun dengan kondisi tubuh yang lelah, sesuatu dalam diri Yifan yang sudah lama ia tahan kembali muncul ke permukaan ketika Chanyeol menghisap ibu jarinya. Salahkan juga alkohol ditambah dengan aroma Omega Chanyeol yang manis membuat kepalanya terasa begitu ringan. Yifan menarik ibu jarinya dari mulut Chanyeol dan memeluk pemuda itu.
Hasrat itu sudah menggebu di dadanya dan sesuatu di bawah sana juga sudah bertindak sesuai keinginannya sendiri. Yifan hanya berharap Chanyeol tidak menyadarinya dan menganggap hal ini sebagai angin lalu. Namun jika melihat posisi duduk Chanyeol yang berada di atas pahanya membuat hal itu sulit disembunyikan.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Chanyeol dengan khawatir ketika nafas Yifan mulai memburu ditambah wajahnya yang memerah.
"Kau sebaiknya kembali tidur." Yifan mendorong pelan tubuh Chanyeol agar bangkit dari tempatnya duduk.
Namun hal itu justru membuat kejantanannya yang mengeras di balik celana kerjanya bersentuhan dengan paha Chanyeol yang terbungkus piyamanya.
"You're hard." Bisik Chanyeol ketika Yifan melesakkan kepalanya pada leher Chanyeol.
"It's fine." Kata Yifan memastikan.
Namun Chanyeol tidak percaya bahwa Yifan baik-baik saja ketika tubuh Yifan mulai bergetar dan bulir keringat memenuhi dahinya. Mungkin seorang Alpha tidak memiliki masa heat mereka, tetapi kebutuhan biologis seperti sex merupakan sesuatu yang tidak bisa dianggap biasa. Apalagi untuk seorang Alpha yang sudah berpasangan, Yifan benar-benar tangguh untuk menahan hasratnya selama beberapa bulan tanpa pelepasan.
Tanpa berbicara apa-apa lagi, Chanyeol memagut bibir Yifan untuk mengalihkan perhatiannya ketika tangan Chanyeol bergerak untuk melepaskan ikat pinggang yang melingkar di celana Yifan.
Dengan nafas memburu, Yifan menahan tangan Chanyeol untuk menghentikannya berbuat lebih lanjut. Namun Yifan seperti tidak berdaya ketika Chanyeol mengecup kejantanannya meskipun masih terhalang celananya. Pada akhirnya Yifan hanya bisa bersandar pada kursi yang ia duduki ketika Chanyeol berlutut di antara pahanya dan mengeluarkan kejantanannya yang sudah mengeras.
"Chanyeol..." Yifan tidak dapat menahan erangan keluar dari mulutnya ketika Chanyeol menjilat pangkal kejantanannya yang sudah mengeluarkan pre-cum.
Ada kebanggaan tersendiri dalam diri Chanyeol ketika melihat ekspresi wajah Yifan layaknya penuh ekstasi ketika Chanyeol membuka mulutnya dan mengulum kepala penis Yifan. Bunyi keceplak basah memenuhi ruangan kerja seukuran kamar itu ketika Chanyeol mulai menghisap setiap jengkal kejantanan Yifan. Pemuda itu sesekali akan mengurut kejantanan Yifan ketika mulutnya menghisap testisnya.
Yifan berpikir bahwa Chanyeol hanya mengikuti instingnya ketika ia terlihat begitu ahli dalam memanjakannya di bawah sana. Yifan tidak dalam kondisi di mana ia sanggup protes ketika Chanyeol melepaskan tangannya dan mengulum kejantanan Yifan hingga ke pangkalnya. Yifan sampai harus menggigit punggung tangannya agar tidak berteriak ketika kenikmatan menyerang tubuhnya.
Pinggul Yifan tanpa sadar bergerak maju hingga ujung kepala penis Chanyeol yang berada di dalam mulut Chanyeol menyentuh tenggorokannya. Chanyeol otomatis mengeluarkan kejantanan Yifan dari mulutnya ketika ia hampir tersedak. Pemandangan itu entah kenapa justru semakin membuat Yifan mendekati klimaksnya.
Chanyeol kembali menghisap kejantanan Yifan dan sesekali memberikan jilatan di bagian di mana urat nadinya menyembul sebelum ia mengeluarkannya lagi untuk mengambil nafas. Yifan tidak ingin hal ini berakhir, tetapi ia juga tidak bisa menahan diri begitu lama.
"Chanyeol..." seperti mengerti dengan apa yang dibutuhkan Yifan, Chanyeol memasukkan kembali kejantanan Yifan, menghisapnya begitu kuat hingga ujung kejantanan itu menyentuh pangkal tenggorokannya kembali.
Kali ini Chanyeol yang sudah bersiap mampu mengendalikan tenggorokannya dan mulai memaju mundurkan kepalanya untuk menciptakan friksi dengan kejantanan Yifan. Ketika nafsu sudah menguasai tubuhnya secara penuh, Yifan tidak mampu menahan pinggulnya untuk tidak bergerak mengikuti ritme yang Chanyeol buat dengan gerakan kepalanya.
"Ngh!" Chanyeol sukses tersedak dan terbatuk ketika Yifan mencapai klimaksnya dengan tiba-tiba dan menyemburkan cairan spermanya di dalam mulut Chanyeol.
Sebuah beban berat seperti baru saja diangkat dari tubuh Yifan ketika ia merasakan tubuhnya begitu ringan dan rileks setelah mencapai orgasmenya. Namun Yifan tidak serta merta menikmatinya sendirian begitu saja ketika Chanyeol masih terbatuk akibat tersedak tadi. Yifan meraih tissue dari atas meja kerjanya dan membantu Chanyeol membersihkan mulutnya.
Setelah berhasil mengatur nafasnya, Yifan menarik tubuh Chanyeol agar kembali duduk di atas pangkuannya. Yifan memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Chanyeol ketika pemuda itu justru memalingkan wajahnya.
"Mulutku baru saja penuh dengan sperma dan kau mau menciumku?" Kata Chanyeol tanpa berani menatap wajah Yifan.
Yifan mendengus pelan mendengar jawaban dari Chanyeol sebelum menahan wajah Chanyeol agar menatapnya sebelum meraup bibir itu dalam ciuman yang dalam. Chanyeol berusaha mendorong bahu Yifan agar melepaskan ciumannya, namun hal itu sia-sia ketika tangan Yifan menelusup ke dalam celananya untuk menyentuh kejantanan Chanyeol yang juga ikut menegang.
"Yifan, no!" Ujar Chanyeol ketika Yifan mulai mengecup lehernya dan menggigit beberapa bagian.
Tangan Yifan memijat pelan kejantanan Chanyeol. Semuanya berjalan lebih lambat dari sebelumnya ketika Chanyeol mengerang di samping telinga Yifan.
Aroma pheromone yang menguar dari leher Chanyeol membuat Yifan seperti mabuk. Namun tangan Yifan tidak berhenti memijat di bawah sana hingga Chanyeol mencapai puncaknya sendiri dengan nafas yang terengah.
"I love you." Yifan mengecup leher Chanyeol ketika pemuda itu sedang mengatur nafasnya.
.
.
.
Pada hari H di mana Yifan akhirnya mempresentasikan hasil kerjanya selama menangani proyek untuk kompetisi mendapatkan jabatan sebagai Direktur di perusahaan, Chanyeol tidak bisa ikut mendampingi karena ia harus masuk kuliah. Siang itu, dengan kepercayaan diri penuh, Yifan memasuki ruangan yang dihadiri oleh para pemilik saham dan kepala bagian. Pemuda itu tidak mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari hadirin yang datang.
Ketika Yifan tengah menjawab sebuah pertanyaan dari seorang kepala bagian, asisten Mr. Park –Ayah mertuanya yang juga hadir di ruangan itu, membisikkan sesuatu hingga raut wajah laki-laki itu berubah khawatir. Kedua alis Mr. Park menyatu sebelum ia mengepalkan kedua tangannya. Mr. Park yang duduk di samping Mr. Wu membisikkan sesuatu pada besannya itu sebelum meninggalkan ruangan.
Yifan menutup presentasinya dengan tepuk tangan dari para hadirin dan senyum puas dari wajah Mr. Wu. Yifan sudah akan menanyakan ke mana perginya Ayah mertuanya tadi ketika Ayahnya berjalan mendekatinya dengan ekspresi wajah serius.
"Good job, Yifan. Tapi ada yang harus kau ketahui." Kata Mr. Wu. Lenyap sudah senyuman di wajahnya, membuat Yifan melakukan hal yang sama.
"Ada apa?" Tanya Yifan.
"Chanyeol masuk rumah sakit."
Dunia yang Yifan bangun dengan susah payah seakan runtuh begitu saja.
BERSAMBUNG
Hehehe. Kali-kali bikin deg-deg'an nggak papa kali ya. #plaakkkk #emangpadadeg-degan?
Btw sempet lupa kalo ff ini ratingnya M, barusan inget jadi tak kasih anu2 dikit #plaakkk
Maapkeun kalo masih banyak typonya gaes
Terima kasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan review ya ^^
Sayang kalian semuaa mumumumumu~ #idih
Dengan cinta,
Mt_Chan.
