Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART XV-
Pada check up terakhirnya, Dokter Amber sudah memperingatkan pada Chanyeol bahwa ia memiliki resiko anemia. Sel darah merah yang diproduksi tubuhnya tidak cukup banyak untuk menopang kehidupan tiga orang sekaligus. Dokter Amber memberinya resep obat dan makanan-makanan apa saja yang sebaiknya ia konsumsi untuk mengurangi resiko itu.
Chanyeol memutuskan untuk tidak memberitahu Yifan mengenai hal itu agar tidak membuat Alphanya itu khawatir. Yifan sedang disibukkan dengan pekerjaan dan Chanyeol tidak ingin menambah beban pikirannya. Toh Chanyeol yakin ia akan baik-baik saja selama mengikuti saran dari Dokter dan menjaga kesehatannya sendiri.
Yifan memberitahunya pagi itu bahwa hari ini adalah hari di mana Yifan akan mempresentasikan hasil proyek yang ditanganinya untuk memenangkan promosi jabatan sebagai Direktur cabang perusahaan Wu di Korea.
"Apa aku harus bolos kuliah hari ini agar bisa menemanimu?" Tanya Chanyeol sambil memasukkan beberapa potong buah apel ke dalam mulutnya sekaligus.
Chanyeol sudah menyerah untuk menjaga berat badannya agar tidak naik selama kehamilan ini. Selain karena memang nafsu makannya yang sudah kembali normal, juga karena ia sadar bahwa ia tidak boleh membiarkan calon bayi di dalam perutnya kelaparan.
Yifan yang hari itu menyisir rambutnya ke belakang dengan rapi, memakai setelan jas berwarna hitam, dasi berwarna senada, dan kemeja berwarna putih, hanya tersenyum.
"Kau tidak perlu melakukannya. Kau sebaiknya tetap berangkat kuliah. Aku akan meneleponmu setelah hasilnya keluar." Kata Yifan sebelum menyesap kopinya dan membereskan beberapa berkas yang harus ia bawa ke kantor.
Yifan kemudian menghampiri Chanyeol yang masih menghabiskan sarapannya di meja makan dan menangkup salah satu pipi Chanyeol di tangannya. Yifan mengernyit ketika melihat wajah Chanyeol yang terlihat lebih pucat dari biasanya namun ia memilih untuk menyimpannya dalam hati karena mungkin hal itu hanya perasaannya saja.
"I love you." Yifan mengecup bibir Chanyeol yang kemerahan sebelum menunduk dan melakukan hal yang sama pada perut Chanyeol dua kali.
"Hwaiting!" Chanyeol mengepalkan salah satu tangannya dan membuat gestur untuk memberikan semangat pada Yifan.
Bulan ini musim dingin masih menyelimuti, tetapi Yifan bersumpah ia bisa melihat cerahnya matahari dari senyuman yang Chanyeol berikan untuknya.
.
.
.
Tidak pernah dalam seumur hidupnya Yifan melajukan mobilnya dalam kecepatan ini. Pemuda berusia 27 tahun itu baru saja bernafas lega setelah menyelesaikan presentasinya, namun jantungnya harus berpacu kembali ketika Ayahnya memberikan kabar bahwa Chanyeol masuk rumah sakit. Dengan tergesa –atau panik lebih tepatnya, Yifan meninggalkan kantor begitu saja tanpa mengemasi barangnya dan berlari menuju mobilnya.
Pemuda itu sudah berfirasat buruk ketika melihat Mr. Park meninggalkan presentasinya yang belum selesai dengan ekspresi wajah tegang. Yifan membanting pintu mobilnya ketika ia sudah sampai di rumah sakit. Ia bahkan sampai lupa bertanya di ruang mana Chanyeol dirawat sehingga harus menelepon Ayah mertuanya itu.
Hati Yifan mencelos manakala ia melihat keadaan Chanyeol saat itu. Pemuda itu terbaring dengan wajah pucat dan terlihat pula selang yang terhubung dengan kantung darah tertancap di tangannya. Mr. dan Mrs. Park yang sudah datang terlebih dahulu memberikan senyum pada Yifan.
"Yifan sudah datang." Bisik Mrs. Park pada putranya yang saat itu sedang memejamkan mata.
Chanyeol menoleh dan mendapati Yifan berdiri di hadapannya dengan ekspresi wajah yang tidak karuan.
"Hey..." Chanyeol mengulurkan tangannya pada Yifan yang justru membeku di tempatnya.
Seolah ingin memberikan privasi pada mereka berdua, Mr. dan Mrs. Park kemudian meninggalkan ruangan itu.
Yifan menyambut uluran tangan Chanyeol dan tanpa sadar meremasnya. Perasaan bersalah dan menyesal membuat perut Yifan seperti diaduk dengan tidak nyaman. Tenggorokan Yifan juga tercekat dan matanya memanas. Tapi Yifan tidak akan menangis, setidaknya tidak di depan Chanyeol.
Melihat Yifan yang sepertinya masih shock dan khawatir, Chanyeol kemudian menggerakkan tubuh lemasnya untuk duduk. Pemuda itu menarik bahu Yifan dan meletakkan kepala sang Alpha di lehernya. Saat itulah lelehan panas akhirnya tidak kuasa Yifan bendung.
"Aku baik-baik saja. Mereka juga baik-baik saja. Papa tidak perlu khawatir." Kata Chanyeol dengan suara serak sambil menyisir rambut Yifan menggunakan tangannya yang tidak terhubung dengan selang.
Chanyeol sudah hampir pingsan di tempat kuliahnya akibat trombositnya menurun. Ketika ia dibawa ke rumah sakit, Dokter menyarankan untuk melakukan transfusi darah.
Yifan menenggelamkan wajahnya di leher Chanyeol, menghirup dalam-dalam aroma khas Omeganya –yang sedikit berubah setelah kehamilannya. Ini adalah pertama kalinya Chanyeol melihat Yifan menangis. Pembawaan Alphanya yang begitu kuat membuat Chanyeol sulit membayangkan bahwa Yifan juga bisa menangis.
"Kenapa kau tidak meneleponku?" Tanya Yifan yang akhirnya mendongakkan kepalanya.
Chanyeol meraih selembar tissue di meja nakas dan menyeka wajah Yifan yang basah menggunakannya.
"Aku baru di sini 3 jam dan berniat untuk meneleponmu setelah presentasimu selesai." Jelas Chanyeol sambil membetulkan bantalnya dan membaringkan tubuhnya kembali.
"Bagaimana dengan mereka?" Tanya Yifan sambil mengelus perut Chanyeol yang semakin hari semakin membesar.
Chanyeol tersenyum. Ia awalnya juga khawatir bahwa anemianya ini akan membawa dampak buruk pada kesehatan calon bayinya. Namun Dokter memastikan bahwa mereka dalam kondisi yang sehat.
"Mereka sepertinya tahu kalau Papa mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Jadi mereka memutuskan untuk mencari perhatian dengan hal ini." Kata Chanyeol dengan bercanda.
Namun ketika melihat dahi Yifan yang berkerut membuat Chanyeol mendengus. Alphanya itu kadang terlalu serius.
"I'm sorry." Yifan menundukkan kepalanya dan menciumi perut Chanyeol yang terbungkus kaos hingga membuat empunya kegelian.
"Yifan, stop." Ciuman Yifan di perutnya merangkak naik menuju leher Chanyeol. Yifan menghirup aroma Omega Chanyeol dalam-dalam untuk memuaskan sisi Alphanya yang menuntut untuk dipenuhi. Pemuda itu ingin memastikan bahwa Chanyeol baik-baik saja.
Yifan mengangkat wajahnya dari leher Chanyeol ketika ia mendengar suara pintu yang terbuka dan langkah kaki yang mendekat. Mr. dan Mrs. Park yang sebelumnya menunggu di luar sudah masuk kembali ke ruangan di mana Chanyeol dirawat dengan diikuti oleh kedatangan Mr. dan Mrs. Wu yang segera menyusul ke rumah sakit.
"My Chanlie baby." Mr. Wu menghampiri menantunya itu dan mengusap puncak kepala Chanyeol dengan lembut.
Sementara itu Yifan menggenggam tangan Chanyeol yang bebas ketika tangan yang satunya harus tersambung dengan selang yang mengantarkan darah dari kantung ke tubuhnya. Yifan sungguh tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu dengan Chanyeol atau calon bayi mereka.
.
.
.
Chanyeol sudah merengek beberapa kali dan meminta untuk pulang ketika Dokter mengharuskannya untuk menginap di rumah sakit. Setelah menerima transfusi darah sebanyak dua kantung, Chanyeol merasa sudah lebih baik dan ingin segera pulang. Namun ketika Dokter memeriksanya sore itu, Chanyeol hanya bisa merengut dan merengek pada Yifan agar membawanya pulang.
Mr. dan Mrs. Park yang juga bersikeras untuk tetap tinggal dan menemani putra mereka di rumah sakit juga akhirnya harus menyerah ketika Yifan memaksa mereka untuk pulang. Pemuda itu tidak ingin merepotkan kedua mertuanya yang pasti juga sudah lelah menjaga Chanyeol ketika ia berada di kantor sebelumnya.
Kini tinggallah Yifan dan Chanyeol di kamar VVIP rumah sakit ternama di Seoul. Yifan mematikan AC di dalam kamar dan duduk di samping tempat tidur Chanyeol yang sudah terlelap setelah minum obat. Yifan sendiri sudah menahan kantuknya dengan beberapa kali menguap. Ia akhirnya menyandarkan kepalanya pada sisi tempat tidur Chanyeol untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang sama-sama lelah. Ia bisa saja tidur di sofa yang ada di ruangan itu, namun melihat tangan Chanyeol yang sedari tadi tidak melepaskan tangannya membuat Yifan urung melakukannya.
Saat jarum jam menunjukkan pukul 02.00 malam, Chanyeol membuka matanya perlahan ketika ia merasa ingin buang air kecil. Pemuda itu mengucek matanya dan mendapati Yifan tidur dengan meletakkan kepala di sisi tempat tidurnya. Dari melihat posisi duduk Yifan saja Chanyeol sudah tahu bahwa Yifan tidak nyaman.
Chanyeol perlahan menggerakkan tubuhnya agar tidak membangunkan Yifan sambil menahan perutnya yang tertutup selimut. Namun seberapa keras Chanyeol berusaha untuk tidak membuat suara, Yifan yang merasakan gerakan Chanyeol akhirnya membuka mata. Rambutnya yang tadi pagi ia tata rapi sudah berantakan dan mencuat ke berbagai arah.
"Aku mau buang air kecil." Kata Chanyeol seolah menjawab pertanyaan yang tersirat di wajah mengantuk Yifan.
Sang Alpha kemudian bangkit dan membantu Chanyeol turun dari tempat tidur sambil memastikan selang infus yang terhubung di tangan Chanyeol tidak terganggu. Yifan menuntun Chanyeol ke toilet sambil mengangkat kantung infus yang terhubung ke tangan Chanyeol. Sampai di toilet, mereka berdua kemudian berpandangan.
"Aku tidak akan menutup pintunya, tapi kau harus berbalik." Kata Chanyeol sambil membuang muka.
"Huh?" Yifan terlihat kebingungan.
"Berbalik." Perintah Chanyeol yang otomatis membuat Yifan membalikkan tubuhnya dan memunggungi Chanyeol. Yifan sampai harus menggigit bibir bawahnya agar tidak tersenyum.
Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Chanyeol yang memakai pakaian ganti dari rumah sakit, naik kembali ke tempat tidur. Yifan sudah berniat kembali ke tempatnya ketika Chanyeol menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi ruang di tepi tempat tidurnya.
"Kau bisa tidur di sini." Kata Chanyeol sambil menepuk ruang kosong itu.
Yifan tahu bahwa tempat tidur itu terlalu kecil untuk tubuh bongsor mereka berdua. Dan selain hal itu akan membuat tidur Chanyeol tidak nyaman, jika ada perawat yang melihat mereka seperti ini juga pasti akan mencibir.
Chanyeol merengut dan sudah akan merajuk ketika akhirnya Yifan menghela nafas dan menuruti keinginan Omeganya itu. Namun ketika Yifan membuka ikat pinggangnya, wajah pucat Chanyeol tiba-tiba memerah.
"K-kenapa kau membuka ikat pinggangmu?" Tanya Chanyeol tanpa berani menatap wajah Yifan.
Yifan awalnya mengernyit mendengar pertanyaan Chanyeol itu. Memangnya apa salah Yifan karena melepaskan ikat pinggang yang jika nanti logamnya menekan perut Chanyeol justru akan membuatnya tidak nyaman?
Yifan kemudian seperti bisa membaca pikiran Chanyeol ketika melihat wajah Chanyeol yang memerah. Pemuda itu tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengus.
"Memangnya kenapa kalau aku melepas ikat pinggangku? Toh aku tidak melepas celanaku?" Bisik Yifan tepat di samping telinga Chanyeol setelah ia berhasil menempatkan diri di samping Omeganya itu. Yifan masih memakai pakaian kantornya dengan lengkap meskipun ia telah menanggalkan jasnya.
Wajah Chanyeol tidak lagi memerah namun juga memanas ketika Yifan menggodanya karena sudah berpikir macam-macam.
"Yah!" Chanyeol menampik tangan Yifan yang sudah akan memeluknya. Ia tiba-tiba menyesal menawarkan tempat pada Alphanya yang suka menjahilinya itu.
Yifan tertawa melihat ekspresi wajah Chanyeol. Mereka berdua akhirnya jatuh tertidur ketika Yifan merentangkan salah satu lengannya dan kepala Chanyeol yang otomatis terangkat untuk kemudian ia letakkan di atas bahu Yifan.
.
.
.
Memasuki usia kehamilan yang keenam, Chanyeol akhirnya mengambil cuti kuliah dan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Pemuda yang justru semakin aktif dan banyak bergerak itu sering mengeluh karena bosan dan tidak tahu harus berbuat apa. Mr. Wu dan Ibunya akan bergantian untuk mengunjunginya di apartemen dan memastikan bahwa Chanyeol meminum vitamin dan memakan makanan yang sehat. Yifan yang sudah resmi menjabat sebagai Direktur di cabang perusahaan Wu di Korea menggantikan Ayahnya juga sudah mengurangi jam kerjanya di kantor dan pulang lebih awal dari sebelumnya.
Dokter Amber yang selama ini menjadi Dokter kandungan Chanyeol menyarankan agar pemuda itu mengambil kelas yoga untuk ibu hamil atau berenang sebagai pilihan olahraga. Ia juga mengatakan bahwa perkembangan janin di dalam perut Chanyeol meningkat dan memperingatkan bahwa mereka akan lebih aktif di dalam sana.
Hari sabtu ini, Yifan yang selalu bangun pagi, dan Chanyeol yang sudah kembali ke kebiasaan awalnya bangun siang, menghabiskan akhir pekan itu untuk mendesain ulang apartemen mereka. Well, sebenarnya mereka tidak benar-benar merubah tatanan apartemen itu, namun Chanyeol merasa bahwa mereka perlu memberikan beberapa sentuhan di sudut rumah mereka.
"Geser ke kanan." Kata Chanyeol sambil memegangi perutnya ketika Yifan yang naik di atas tangga lipat menggeser figura itu seperti keinginannya.
"Ke kiri sedikit." Kata Chanyeol yang saat ini mengenakan kaos berwarna cokelat dan topi yang dibalik. Yifan menggeser figura yang berisi foto pernikahan mereka ke kiri.
"Tsk. Ke kanan lagi, Yifan." Kata Chanyeol yang mulai sedikit kesal.
Yifan menggeser figura foto itu lagi. Mereka sudah melakukan hal itu selama hampir 10 menit dan Chanyeol tidak juga menemukan posisi yang pas untuk memajang foto itu. Yifan sudah berpikir bahwa Chanyeol hanya mengerjainya ketika tangannya mulai kebas menahan figura foto serta palu dan paku di tangannya.
"Hmph. Terserah kau saja." Ujar Chanyeol pada akhirnya yang membuat Yifan memutar kedua matanya.
Jika morning sickness dan gejala awal kehamilan Chanyeol sudah benar-benar berhenti di tri semester pertama, maka entah kenapa mood swings Chanyeol justru sedang gencar-gencarnya di usia kehamilannya yang ke-enam ini. Sebagai seorang suami yang sempurna, Yifan hanya bisa memaklumi dan berusaha menuruti setiap keinginan Omeganya itu, namun ada kalanya pula Yifan akan mengerang frustrasi ketika keinginan Chanyeol kadang tidak masuk akal.
Pernah pada suatu malam ketika waktu sudah menunjukkan pukul 03 pagi, Chanyeol membangunkan Yifan agar mengajaknya jalan-jalan di Mall. Yifan kira Chanyeol sedang mengigau atau bercanda, tetapi ketika melihat pemuda itu bangkit dari tempat tidur sambil mengganti pakaiannya, Yifan sudah ingin menjambak rambutnya sendiri. Mereka akhirnya menghabiskan waktu di swalayan 24 jam dan makan es krim di sana. Yifan menahan giginya yang bergemeletuk karena udara dingin –dan es krim di mulutnya.
"Aku ingin makan Ayam." Kata Chanyeol yang kembali dari dapur sambil menenteng sebungkus kripik kentang.
Yifan yang sedang turun dari tangga sampai harus membeku sejenak. "Kau yakin?"
Chanyeol mengangguk sambil mengunyah kripik kentang itu di mulutnya. Yifan meraih ponselnya dan memesan masakan ayam secara delivery dengan hati berdebar. Di awal kehamilannya, Chanyeol begitu sensitif dengan bau ayam hingga mereka harus berhenti makan ayam secara total. Namun kini, tiba-tiba Chanyeol menginginkan ayam.
Tidak sampai satu jam, pesanan Ayam mereka pun datang. Yifan membukakan pintu dan membayar pesanan itu sebelum membawanya ke dapur. Chanyeol masih menikmati kripik kentangnya sambil menonton tv ketika bau Ayam goreng itu begitu semerbak hingga memenuhi apartemen itu.
"Hoegk." Chanyeol otomatis menutup hidungnya ketika rasa mual tiba-tiba memenuhi perutnya akibat bau itu.
"Kau mau makan siang sekarang atau—" Yifan mematung di ambang pintu dapur ketika Chanyeol menatap tajam ke arahnya sambil menutup hidungnya.
"Kenapa kau memesan Ayam?" Tanya Chanyeol dengan pandangan menyelidik.
Yifan tidak berniat untuk menjawab dan hanya mengela nafas panjang sebelum menyimpan Ayam tadi di kulkas. Ia akan memakannya sendirian nanti.
.
.
.
Chanyeol yang sebelumnya memejamkan matanya tiba-tiba tersentak ketika merasakan sesuatu di perutnya. Yifan yang awalnya sedang memijat kaki Chanyeol yang bengkak ikut tersentak dan memandang pemuda itu dengan khawatir. Malam itu mereka berdua duduk di atas sofa di ruang keluarga sambil menonton film. Chanyeol membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan tumpukan bantal mengganjal punggungnya sementara kakinya ia letakkan di atas paha Yifan.
Chanyeol mengelus perutnya pelan sebelum merasakan kembali sensasi asing itu. Yifan yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Omeganya itu semakin penasaran.
"Mereka mulai menendang." Bisik Chanyeol dengan kilat di matanya yang cemerlang.
Yifan buru-buru mematikan tv dan menempelkan telinganya di perut Chanyeol yang membuncit. Tidak ada gerakan apapun. Yifan menyingkap piyama yang Chanyeol pakai dan menempelkan telinganya kembali.
"Hey, ini Papa." Kata Yifan sambil mengusap perut Chanyeol dengan lembut.
Dug. Gerakan kecil itu membuat tangan Yifan bergetar. Chanyeol menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa kegembiraan yang menggebu-gebu di dadanya melihat pemandangan itu.
Dug. Yifan mengecup perut Chanyeol, menumpahkan rasa kebanggaan sekaligus syukur pada Omeganya itu. Pada saat-saat seperti ini mood swings Chanyeol bukanlah apa-apa baginya, ia bahkan bersedia melakukan apapun demi Omega dan calon bayinya itu.
"You are beautiful." Ucap Yifan tiba-tiba, membuat pipi Chanyeol bersemu.
"Aku TIDAK cantik." Kata Chanyeol sambil memutar kedua matanya.
Yifan menundukkan wajahnya dan meraup bibir Chanyeol dalam ciuman yang dalam. Chanyeol membalas ciuman Yifan dengan tak kalah bersemangat. Tangan Chanyeol menekan kepala Yifan dan membuat rambut pemuda itu berantakan ketika ciuman mereka semakin memanas. Tangan Yifan yang semula mengusap perut Chanyeol mulai merangkak naik dan menyentuh nipple Chanyeol yang lebih sensitif dari sebelumnya.
"Ngh." Chanyeol tanpa sadar mengerang ketika Yifan memainkan nipplenya. Bagian tubuh berwarna pink kecokelatan itu sudah menegang ketika Yifan melepaskan ciuman di bibir Chanyeol dan kini meraup nipple itu ke dalam mulutnya.
Chanyeol memejamkan matanya menikmati sensasi itu. Yifan mengulum nipple Chanyeol lembut sebelum menggigitnya pelan.
"Aw." Chanyeol mengerang ketika ia justru merasakan tendangan yang lebih kuat di perutnya –dan bukan karena gigitan Yifan di nipplenya.
Mereka berdua kemudian berpandangan sebelum tawa mereka pecah.
"Sepertinya mereka tidak suka kalau perhatian kita teralih." Komentar Chanyeol sambil mengelus perutnya.
Yifan mengangguk setuju dan ikut mengusap perut Chanyeol.
.
.
.
BERSAMBUNG
Heuheu. Terima kasih untuk yang sudah membaca, me-review, mem-follow dan mem-favorite.
Mohon maaf jika masih ada typos dan EYD yang kurang tepat.
Semoga menghibur ^^
Dengan cinta,
Mt_Chan
