Pairing: Kris X Chanyeol

Disclaimer: Characters belong to their own.

Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!

.

.

Mt_Chan proudly presents...

.

.

.

"Make Us Forever"

-PART XVI-

Dibalik kebahagiaan menunggu calon bayi-bayinya terlahir di dunia, Chanyeol juga harus merasakan penderitaan –atau lebih tepatnya ketidaknyamanan selama masa kehamilan. Selain berat badannya yang naik drastis hingga membuat pipinya semakin chubby, ia juga mulai mengalami sakit punggung dan kontraksi ringan begitu usia kehamilannya memasuki usia ke delapan. Bahkan untuk tidur setiap malamnya, Chanyeol harus menemukan posisi yang pas sebelum jatuh terlelap –di mana hal itu membutuhkan waktu yang tidak cepat dan banyak energi.

Seperti malam ini, Yifan sudah jatuh tertidur hampir dua jam yang lalu di sampingnya dan Chanyeol masih mengelus perutnya sambil berusaha untuk memejamkan matanya. Kali ini ia bersandar di atas tumpukan bantal yang ia susun agar membuat tubuh bagian atasnya sedikit naik. Dokter Amber tidak menyarankannya untuk tidur dengan bantal rendah dan posisi terlentang karena hal itu bisa membuatnya kesulitan bernafas. Chanyeol pernah mencoba untuk tertidur miring seperti yang Dokter sarankan, namun tubuhnya justru merasa tidak nyaman.

Chanyeol mengernyit ketika sebuah tendangan ia rasakan di bagian samping perutnya. Pemuda itu melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul 1 dinihari. Calon bayi-bayinya itu belum juga tertidur dan menghentikan gerakan mereka di dalam perutnya. Mereka justru terasa lebih aktif pada jam-jam seperti ini membuat Chanyeol kepayahan.

Chanyeol meringis kesakitan ketika ia merasakan dua tendangan secara bersamaan. Pemuda itu sempat tergoda untuk membangunkan Yifan dan mengeluh pada Alphanya itu. Tetapi mengingat Yifan sudah lelah bekerja seharian membuat Chanyeol mengurungkan niatnya.

Dan seolah bisa merasakan Omeganya yang sedang kesakitan, Yifan yang sebelumnya tidur memunggungi Chanyeol kemudian membalikkan tubuhnya dan membuka matanya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Yifan sambil mengangkat kepalanya dan memeriksa wajah Chanyeol yang merautkan ekspresi kesakitan.

"Mereka tidak mau berhenti menendang. Aku rasanya seperti mau mati." Kata Chanyeol sambil mengerutkan dahinya. Agak berlebihan memang, tetapi Chanyeol sudah berada di ambang batasnya.

"Hey..." Yifan akhirnya bangkit dan mendekatkan diri ke arah Chanyeol. Sang Alpha meletakkan tangannya di perut Omeganya sebelum mengusap rambutnya pelan.

Pada awalnya, Yifan merasa khawatir dan panik ketika Chanyeol kesakitan seperti sekarang, namun Dokter memastikan bahwa apa yang Chanyeol rasakan adalah wajar dan mereka harus bersabar. Maka setiap kali Chanyeol sedang menderita –di mana pemuda itu lebih memilih diam daripada mengeluh pada Yifan mengenai apa yang ia rasakan, Yifan hanya bisa membantu dengan menenangkan calon bayi mereka.

"Kenapa mereka jadi lebih tenang setiap kali kau sentuh?" Kata Chanyeol sambil mengerucutkan bibirnya.

Rasa sakit di perutnya sudah mulai mereda dan kini digantikan dengan tendangan-tendangan yang lebih pelan. Tangan Yifan tidak berhenti mengusap perut dan dahinya.

Yifan yang matanya terlihat lebih sipit setelah tertidur sebelumnya kemudian tersenyum dan mengecup dahi Omeganya itu. Seandainya Yifan bisa menggantikan rasa sakit yang Chanyeol rasakan sekarang, tentulah Alpha itu akan bersedia melakukannya.

"Karena mereka anak-anakku?" Ujar Yifan yang membuat Chanyeol memutar matanya.

"Memangnya mereka bukan anak-anakku juga?" Kata Chanyeol dengan sebal.

Yifan tertawa mendengarnya.

"Aw!" Chanyeol mengernyitkan wajahnya ketika lagi-lagi terasa tendangan yang cukup keras.

"Aku rasa mereka akan mirip denganmu. Selalu menjahili aku." Gumam Chanyeol sambil menahan rasa sakit di perutnya.

Yifan mengecup setiap jengkal wajah Chanyeol sebelum membuat Omeganya itu menatap kedua matanya.

"Mereka akan mencintaimu sama seperti aku."

Chanyeol mengalihkan wajahnya ketika semburat merah di pipinya sukses membuatnya lupa akan rasa sakit yang dirasakannya.

.

.

.

"Yifaaannn!" Chanyeol membuka pintu kamar mandi itu serta merta tanpa memperdulikan keadaan Yifan yang sedang membilas tubuhnya di bawah kucuran shower –tanpa sehelai benang pun menutupinya.

Yifan yang terkejut bukan main hampir terpeleset dan berhasil menahan tubuhnya pada dinding di sampingnya. Chanyeol meringis tanpa merasa bersalah.

"Kau ada acara di luar kantor hari ini?" Tanya Chanyeol sambil menyangga perutnya.

Yifan terlihat berpikir sebentar sebelum menggeleng. "Kenapa?" Tanya Yifan ingin tahu.

Tidak biasanya Chanyeol menanyakan jadwalnya di kantor. Namun pemuda itu hanya mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu kamar mandi kembali. Yifan semakin penasaran ketika Chanyeol terkikik di luar.

.

.

.

Par—Wu Chanyeol terlihat sedang mengeluarkan satu per satu barang dari sebuah kantung plastik di meja makan. Pemuda itu mengernyit dan memeriksa kantung plastik yang kini sudah kosong itu sekali lagi sebelum menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan menyelidik.

"Kau lupa membeli daun bawangnya?" Tanya Chanyeol sambil melipat tangannya di depan dada. Sebuah gestur yang pernah ia lihat ketika Ibunya memarahi bibi asisten rumah tangga di rumahnya dulu.

"Ada daun bawang?" Pemuda itu –Oh Sehun, mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan memeriksa kembali daftar belanjaan yang Chanyeol kirimkan padanya untuk dibeli.

"Hmph!" Chanyeol mendengus keras dan bersiap untuk –memasak.

Sehun hanya mengangkat bahunya tanpa merasa bersalah karena ia juga tidak pintar berbelanja. Dan meskipun ia sudah memastikan tidak ada bahan yang lupa dibeli, tetap saja ada yang ketinggalan.

Chanyeol membuka laci dapurnya dan mengambil sebuah apron berwarna pink yang biasa Yifan pakai untuk memasak. Sehun membungkam mulutnya ketika melihat pemandangan yang tidak biasa itu.

"Whoa." Sehun kembali meraih ponselnya dan berniat untuk mengambil gambar Chanyeol ketika ponselnya itu berhasil direbut dari tangannya.

"Jangan main-main dan bantu aku." Kata Chanyeol yang membuat Sehun akhirnya meledak dan tertawa sambil menahan perutnya. Kedua mata Chanyeol yang membulat justru mengingatkan Sehun pada Ibunya yang galak.

Setelah memastikan Yifan sudah berangkat ke kantor hari itu, Chanyeol menelepon sahabatnya dan memberitahu –memerintah lebih tepatnya, untuk membelikannya barang-barang belanjaan yang sudah ia buat daftarnya. Sehun awalnya menolak permintaan –perintah itu, namun ketika Chanyeol mengatakan bahwa hari ini adalah anniversary pertama pernikahannya dengan Yifan dan pemuda itu ingin memberikan kejutan kecil untuk Alphanya, Sehun akhirnya hanya bisa menghela nafas dan menyerah.

Chanyeol sadar bahwa ia tidak bisa berbelanja dan melakukan beberapa hal sendirian, untuk itulah ia meminta pertolongan Sehun. Setidaknya ia tidak merasa sungkan untuk meminta tolong pada sahabatnya itu –daripada harus merepotkan Ibunya atau Ibu mertuanya.

"Kau pernah memasak ini sebelumnya?" Tanya Sehun sambil memotong paprika dengan hati-hati.

Chanyeol terlihat berpikir sebentar sebelum menggeleng. Sehun sudah menduga bahwa Chanyeol memang tidak terlalu berbakat dalam bidang itu.

"Aku menemukan resepnya di internet dan itu cukup mudah untuk dimasak." Kata Chanyeol sambil menyentuh layar ponselnya untuk membuka resep masakan yang sudah ia simpan.

.

.

.

Setelah selesai membuat makan siang untuk Alphanya, Chanyeol meminta Sehun untuk mengantarnya ke kantor Yifan tepat ketika jam makan siang. Setelah mengisi buku tamu di meja resepsionis –yang segera petugas resepsionis itu sesali begitu ia mengetahui nama yang tertera, Chanyeol segera naik ke lantai 4 di mana ruangan Yifan berada. Pemuda itu sengaja tidak memberitahu Yifan bahwa ia akan datang hari ini untuk memberikan kejutan.

Resepsionis tadi rupanya menginformasikan kedatangannya pada sekretaris Yifan yang segera menyambutnya di depan ruangan suaminya. Wanita paruh baya berkewarganegaraan China itu membungkuk pada Chanyeol dan tersenyum.

Chanyeol yang hari itu memakai jumper berwarna hitam dan topi berwarna senada itu membalas dengan membungkuk sebelum menanyakan keberadaan Yifan.

Setelah menghabiskan masa awal kehamilan di musim dingin, kini Chanyeol bisa sedikit bernafas lega karena cuaca mulai menghangat dan ia tidak perlu memakai pakaian tebal pada tubuh gendutnya.

"Tuan Wu sedang menyelesaikan rapat. Ia akan kembali lima belas menit lagi." Kata sekretaris itu sambil sesekali memperhatikan perut Chanyeol yang sudah membesar.

Chanyeol mengangguk.

"Anda mau menunggu di dalam?" Tanya wanita itu yang lagi-lagi dibalas anggukan oleh Chanyeol.

Ruangan yang didominasi warna putih itu terasa sejuk karena AC begitu Chanyeol memasukinya. Sekretaris itu sudah akan bersiap untuk menyediakan minuman dan beberapa makanan untuknya ketika Chanyeol menahannya agar tidak melakukan hal itu. Ia justru memberi pesan pada wanita itu agar tidak memberitahu Yifan mengenai kedatangannya.

Chanyeol meletakkan kotak makan siang yang ia bawa di atas meja dan duduk di sebuah sofa sebelum mengeluarkan ponselnya. Pemuda itu mencari posisi duduk yang nyaman sebelum mulai bermain game.

Hampir 30 menit kemudian, pintu ruangan Yifan akhirnya terbuka dan menampakkan sosok bertubuh tinggi dan tegap yang tidak lain adalah orang yang Chanyeol tunggu-tunggu, sang Alpha. Aroma yang sudah Chanyeol hafal itu mengisi hidungnya dan membuat sisi Omeganya berdesir. Yifan terlihat cukup terkejut ketika menemukan Chanyeol sudah menunggu di ruangannya. Pemuda itu sudah bangkit dan berniat untuk menghampiri Yifan ketika aroma lain menggelitik hidung Chanyeol. Alphanya itu tidak datang sendirian.

Seorang pemuda yang tidak asing bagi Chanyeol, tak kalah terkejut melihatnya. Yixing tersenyum dan menyapa Chanyeol dengan manis yang justru membuat suasana menjadi semakin canggung. Ekspresi wajah Chanyeol yang semula tersenyum lebar seketika berubah begitu melihat kehadiran mantan kekasih Yifan itu.

"Euhm..." Yifan yang merasakan kecanggungan –dan suasana yang mulai suram itu berjalan dengan tergesa ke arah mejanya dan mengambil sebuah berkas yang kemudian ia serahkan pada Yixing.

Yixing kemudian menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Chanyeol sebelum meninggalkan ruangan itu.

"Hey, kau sudah menunggu lama? Aku tidak tahu kau datang." Kata Yifan sambil mendekat ke arah Chanyeol yang masih berdiri dengan canggung mengamati peristiwa yang baru saja terjadi.

Chanyeol mengangguk ketika Yifan mengecup pipi kirinya. Moodnya mendadak buruk setelah melihat Yifan datang bersama Yixing. Tetapi Chanyeol tidak ingin merusak hari ini dan berusaha menutupi perasaannya.

Yifan membimbing Chanyeol agar kembali duduk di atas sofa yang biasanya diperuntukkan untuk tamu yang datang ke ruangannya. Chanyeol meraih kotak makan yang tadi ia bawa dan meletakkannya di hadapan Yifan.

"Kau sudah makan siang? Aku membuatnya untukmu." Kata Chanyeol dengan tersenyum.

Yifan yang masih merasakan ketidaknyamanan pada diri Chanyeol kemudian mengangkat alisnya melihat kotak makan itu. Ia sebenarnya sudah memakan beberapa makanan di rapat tadi, tetapi karena tidak ingin membuat mood Chanyeol semakin buruk, Yifan membuka kotak makan itu.

Pada tumpukan paling atas, Yifan menemukan berbagai sayuran yang dicampur menjadi salad, kemudian di tumpukan kedua ada beberapa egg roll, dan di tumpukan paling bawah Chanyeol menempatkan nasi merah dan masakan sosis dan paprika yang ia masak dengan saus.

"Aku pastikan makanan ini layak untuk kau makan." Kata Chanyeol dengan khawatir.

Yifan tersenyum mendengarnya dan mengambil sumpit.

"Ini tidak biasanya. Apa ada sesuatu yang spesial di hari ini?" Tanya Yifan dengan senyuman di wajahnya yang justru membuat Chanyeol membeku di tempatnya duduk.

Yifan yang merasakan perubahan ekspresi wajah Chanyeol kemudian meletakkan tangannya di atas paha Omeganya itu. Yang tidak Yifan duga selanjutnya adalah ketika Chanyeol sedikit berjengit menerima sentuhannya.

"Chanyeol—"

"Kau tidak ingat?" Tanya Chanyeol pelan. Ia bahkan tidak memandang wajah Yifan.

Yifan lagi-lagi hanya bisa mengernyitkan dahinya sebelum melirik ke arah arlojinya. Uh-oh!

Hari ini adalah hari di mana Yifan dan Chanyeol resmi menikah. Setelah Chanyeol menyetujui perjodohan mereka, dalam kurun waktu satu bulan mereka melangsungkan acara pernikahan yang digelar tertutup dan sederhana. Dan hari ini, Yifan merasa seperti orang bodoh karena melupakan hari penting seperti itu. Melihat usaha yang Chanyeol lakukan untuknya, tentulah pemuda itu sudah mempersiapkan hal ini sebelumnya.

"Hari ini ulang tahun pernikahan kita?"

Yang pertama dan Yifan sudah melupakannya. Chanyeol tiba-tiba merasa insecure dan meragukan perasaan Yifan padanya selama ini. Namun pemuda itu memilih diam dan memalingkan wajahnya dari sang Alpha.

"Chanyeol..." Yifan meremas telapak tangan Chanyeol agar pemuda itu menatapnya. Namun hasil yang Yifan dapatkan adalah nihil.

"Kau sebaiknya segera makan dan melanjutkan pekerjaanmu. Aku akan pulang." Chanyeol tiba-tiba bangkit hingga Yifan harus menahan lengannya agar tidak pergi. Tidak sebelum mereka menyelesaikan hal ini.

"Chanyeol." Sisi Omega Chanyeol tidak bisa mengelak ketika Yifan sudah menggunakan kuasanya sebagai Alpha hingga mau tidak mau Chanyeol menoleh ke arah Yifan.

Raut kekecewaan tergambar di wajah pemuda yang baru berusia 18 tahun itu.

"Aku sudah akan mengabaikan kenyataan bahwa kau datang bersama Yixing sebelumnya. Tapi aku tidak menyangka kau akan melupakan hari ini." Kata Chanyeol yang membuat Yifan semakin bersalah.

"Yixing hanya datang untuk mengambil berkas di mejaku tadi. Dan.. maaf, tapi aku benar-benar lupa. Aku tentu akan menyiapkan sesuatu kalau aku ingat." Kata Yifan berusaha memberikan pembelaan.

Namun kalimat sang Alpha justru membuat Chanyeol semakin kesal. Ia tidak menginginkan apapun dari Yifan, tetapi melihat kenyataan bahwa sang Alpha melupakan hari peringatan pernikahan mereka yang pertama membuat Chanyeol kecewa. Chanyeol kembali menggerakkan tubuhnya yang lagi-lagi Yifan tahan.

"Chanyeol, please. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ini?" Yifan tidak bisa membiarkan kondisi ini membawa mereka pada pertengkaran.

"Biarkan aku pulang." Namun Chanyeol sepertinya memiliki pemikiran lain dan justru meninggalkan Yifan di ruangannya dengan perasaan kesal berkecamuk di dadanya.

Beberapa karyawan terlihat memperhatikan ketika Chanyeol lewat dengan berjalan tergesa sambil menyangga perutnya dan Yifan yang mengikuti di belakang dengan ekspresi wajah khawatir.

"Aku akan mengantarmu." Kata Yifan ketika mereka ada di dalam lift.

"No." Chanyeol menekan angka 1 sebelum lift itu membawa mereka ke lantai pertama.

Yifan hanya bisa menghela nafas panjang dan memijat keningnya ketika Chanyeol menghentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Yifan.

.

.

.

Beberapa menit setelah Chanyeol tiba di apartemen, Yifan berhasil menyusul menggunakan mobil pribadinya dan melempar apapun yang ada di tangannya saat itu ketika melihat Chanyeol membungkuk di samping sofa sambil menyangga perutnya. Ekspresi wajah Omeganya itu meringis menahan sakit yang menyerang perutnya.

"Chanyeol..." Yifan menahan pundak Chanyeol dan membimbing pemuda itu agar duduk di atas sofa.

Yifan sudah berniat untuk mengambil ponselnya dan menelepon Dokter ketika Chanyeol menahannya agar tidak bangkit.

"Kita harus pergi ke rumah sakit." Nafas Yifan sudah memburu karena panik namun Chanyeol menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak mau ke rumah sakit." Kata Chanyeol sambil meremas tangan Yifan ketika rasa sakit itu belum juga mereda.

"Tapi kau kesakitan. Bagaimana kalau—"

"Ah!" Belum sempat Yifan menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol mengerang kesakitan ketika ia merasakan tendangan di perutnya.

Yifan meraih kepala Chanyeol agar bersandar di dadanya dan mengelus perut Omeganya itu untuk meredakan sakitnya. Ia akan menunggu selama beberapa menit, dan jika rasa sakit itu tidak juga mereda, Yifan akan tetap membawa Chanyeol ke rumah sakit.

Chanyeol melesakkan wajahnya pada leher Yifan dan menghirup dalam-dalam aroma sang Alpha. Hal itu rupanya memberikan efek yang signifikan dalam meredakan rasa sakitnya karena begitu aroma Yifan memenuhi hidungnya, rasa sakit itu perlahan-lahan mulai surut.

Chanyeol menggerakkan tangan Yifan yang berhenti sebentar dari mengelus perutnya. Gerakan tangan Yifan di perutnya rupanya cukup membantu untuk meredakan rasa sakit yang dideritanya.

"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk melupakan hari ini tetapi aku benar-benar tidak ingat." Kata Yifan ketika Chanyeol sudah mulai sedikit tenang.

Chanyeol yang memejamkan matanya dan terus menghirup aroma Alpha yang menguar dari leher Yifan awalnya hanya diam. Namun ketika ia bisa merasakan kegugupan sekaligus rasa bersalah pada diri Yifan, Chanyeol akhirnya mendongakkan kepalanya dari leher sang Alpha.

"Aku juga minta maaf. Aku sudah bersikap berlebihan hanya karena kau lupa tentang hari ini. Aku sebenarnya hanya kesal karena—" Chanyeol terlihat ragu-ragu ketika ia memalingkan wajahnya dari tatapan Yifan dengan bibir yang mengerucut.

"Karena Yixing?" Tanya Yifan berusaha menebak jalan pikiran Chanyeol.

Ekspresi wajah Chanyeol yang semakin masam membuat Yifan tidak membutuhkan jawaban apapun dari pemuda itu untuk mengetahui isi kepalanya. Chanyeol memang masih terlalu muda. Tetapi Yifan benar-benar tidak keberatan dengan hal itu.

"Sudah berapa kali aku bilang kalau Yixing hanyalah rekan kerja sekarang? Aku tidak akan pernah mengkhianati ikatan kita." Kata Yifan sambil menggenggam tangan Chanyeol. Cincin platinum yang terselip pada jari keduanya terlihat mengkilap.

"Kau pernah berciuman dengannya?"

Yifan menghela nafas sebelum mengangguk.

"Sex?" Dahi Chanyeol berkerut dengan pandangan mata menyelidik.

Yifan menggeleng. "Seorang Alpha tidak bisa berhubungan sex dengan Omega yang bukan mate-nya."

Yifan berani bersumpah bahwa Chanyeol tersenyum dengan sudut bibirnya.

"Jadi kau sudah tidak suka padanya sekarang?" Tanya Chanyeol untuk memastikan sekali lagi.

"Memang dari awal tidak ada perasaan di antara aku dan Yixing. Kami hanya main-main." Jelas Yifan.

Namun Chanyeol masih enggan menatapnya membuat Yifan mendekatkan wajahnya.

"Aku hanya suka Chanyeol, cup, Chanyeol, cup, Chanyeol, cup, dan Chanyeol." Yifan memastikan untuk mengecup dahi, mata, hidung, bibir, pipi dan leher Chanyeol sambil menyebutkan nama pemuda itu. Sisi Omega Chanyeol mendengkur puas mendengar pernyataan sang Alpha.

"Kau melupakan mereka?" Tanya Chanyeol sambil mendorong bahu Yifan agar menjauhinya.

Yifan mendengus sebelum menundukkan kepalanya untuk mengecup perut Chanyeol.

"Aku tidak akan pernah melupakan my little Loeys."

Chanyeol tidak bisa menahan tawanya mendengar panggilan itu. "Kreatif sekali. Jadi sekarang mereka Loeys kecilmu?"

Yifan ikut tertawa sebelum memeluk Chanyeol. "I love you."

"I love you too. Dan kau pasti meninggalkan makan siang yang aku buatkan untukmu di kantor." Kata Chanyeol sambil mencubit dan meninju lengan Yifan.

"I'm sorry. Aku benar-benar panik dan tidak bisa memikirkan hal lain selain mengejarmu. Apa masih ada sisa di rumah? Aku akan mencobanya." Kata Yifan.

Chanyeol mengerucutkan bibirnya. "Yang di rumah itu jatahku." Kata Chanyeol.

"Okay." Yifan menepuk pelan kepala Chanyeol dengan senyuman di wajahnya.

.

.

.

Dan sebagai kompensasi atas kelupaan Yifan akan hari jadi pernikahan mereka, ia sudah menyiapkan sebuah liburan ke Pulau Jeju bersama Omeganya. Awalnya Yifan ragu-ragu untuk melakukan perjalanan itu mengingat kehamilan Chanyeol yang sudah membesar. Namun mereka belum pernah bepergian bersama sejak menikah, dan Yifan kira akhir pekan ini adalah waktu yang tepat di samping untuk secara resmi merayakan anniversary mereka. Lagipula jarak antara Seoul dan Pulau Jeju yang tidak terlampau jauh membuat Yifan mantap untuk mengemudikan mobilnya siang itu ke Bandara.

"I'm so excited." Ujar Chanyeol yang tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya ketika mereka sudah naik ke pesawat.

Yifan ikut tersenyum melihat senyum lebar Chanyeol yang tidak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan mereka.

Di Pulau Jeju, Yifan sudah menyiapkan cottage atau sebuah pondok kecil milik keluarga Wu yang letaknya berada di bibir pantai sebagai tempat menginap mereka selama liburan itu. Yifan ingin membuat semuanya begitu sempurna hingga Chanyeol melupakan rasa kekecewaannya sebelum ini.

Cuaca yang juga sudah mulai menghangat juga membuat mood Chanyeol menjadi lebih hyper. Setelah sampai di cottage itu dan meletakkan barang-barang mereka, Chanyeol segera menarik tangan Yifan untuk mulai petualangan mereka di Pulau Jeju. Tubuh Chanyeol yang biasanya mudah lelah dan sering mengantuk ketika di Seoul sungguh berbeda dengan sekarang di mana tubuhnya justru merasa penuh energi dan antusiasme.

"Kau yakin tidak mau duduk sebentar?" Tanya Yifan ketika mereka berjalan di sebuah pasar tradisional. Chanyeol menggeleng dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah sejak tadi.

Yifan akhirnya hanya bisa menuruti setiap permintaan Omeganya itu sambil tetap memastikan Chanyeol tidak kelelahan.

Ketika mereka kembali ke cottage, matahari sudah tenggelam sepenuhnya di ufuk barat dan mereka tidak sempat melihat pemandangan itu. Yifan awalnya sudah merencanakan sebuah makan malam di restoran dekat pantai, namun Chanyeol yang sudah kelelahan –dan kekenyangan, akhirnya membuat mereka membatalkan rencana itu.

Chanyeol yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan sebuah bathrobe dan sedang mengeringkan rambutnya itu mengernyit ketika tiba-tiba Yifan berjengit panik melihat kedatangannya. Yifan yang sudah membersihkan tubuhnya terlebih dahulu tersenyum dengan gugup ketika Chanyeol memandangnya dengan curiga.

"Ada apa?" Tanya Chanyeol.

Yifan mengernyitkan dahinya dengan canggung. "Tidak ada apa-apa."

"Kau menyembunyikan sesuatu?" Tanya Chanyeol yang masih belum puas dengan jawaban Yifan.

Pemuda itu bersumpah ia melihat Yifan akan mengeluarkan sesuatu dalam koper mereka ketika ia keluar dari kamar mandi tadi.

Yifan menggeleng membuat Chanyeol mendengus pelan.

"Aku tahu kau berbohong." Kata Chanyeol dan berniat untuk merajuk hingga Yifan mengatakan yang sebenarnya.

Hampir setahun tinggal bersama Yifan dan Chanyeol sudah hafal betul jika Yifan membohonginya –di mana hal itu jarang dilakukannya. Yifan akhirnya menyerah dan membuka kembali koper mereka untuk mengeluarkan sebuah kotak.

Yifan menarik tangan Chanyeol pelan agar mereka berdiri di samping pintu kaca yang menghubungkan kamar mereka dengan balkon yang menghadap langsung ke arah pantai.

"Aku sebenarnya berniat untuk memberikannya padamu ketika makan malam, tapi kita baru saja membatalkannya jadi aku sedang berusaha mencari waktu yang tepat untuk melakukannya." Kata Yifan dengan nada gugup dalam suaranya.

Chanyeol menunggu hingga Yifan mengeluarkan semuanya.

"Mungkin alasan kenapa aku bisa sampai lupa pada peringatan hari pernikahan kita karena pada saat itu aku merasa tidak ada yang spesial di antara kita dan—" Kalimat Yifan terputus karena tenggorokannya tercekat akibat gugup.

"Aku juga tidak melakukannya dengan benar, maksudku, dengan mengajakmu menikah begitu saja. Aku ingin melakukannya sekarang. Aku—"

Yifan kemudian berlutut di hadapan Chanyeol membuat pemuda itu membulatkan matanya.

"Park Chanyeol, uhm, apa sebaiknya Wu Chanyeol?—" Yifan menggelengkan kepalanya sebentar agar pikirannya kembali fokus.

"Chanyeol, mau kah kau menikah denganku?"

Ini mungkin terlihat konyol dan yang Yifan lakukan begitu cheesy, tetapi Chanyeol tidak bisa menahan senyuman terkembang di wajahnya hingga ia harus menggigit bibir bawahnya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi sekarang.

Yifan membuka kotak berwarna merah yang tadi ia berusaha sembunyikan dari Chanyeol. Kotak itu menampakkan sebuah cincin platinum yang bentuk dan warnanya sama persis dengan yang keduanya pakai sekarang.

"Aku sudah menikah denganmu, silly." Jawab Chanyeol –yang sebenarnya juga tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Jadi jawabannya iya?" Goda Yifan seraya bangkit dan meraih tangan Chanyeol sebelum melepaskan cincin yang yang ia pakai.

"Ini mungkin terlihat sama dengan yang sebelumnya, tapi kali ini aku memilihnya sendiri dan lihat—" Yifan meraih salah satu cincin platinum dari kotak itu dan menunjukkan sebuah ukiran bertuliskan aksara China yang membuat Chanyeol mengernyit.

"Ini Yifan dan Chanyeol." Kata Yifan mengartikan tulisan itu pada Chanyeol yang lagi-lagi tersenyum.

Yifan memakaikan cincin itu pada jari Chanyeol sebelum memakai miliknya sendiri.

"Dan juga—ada hal lain yang ingin aku lakukan dengan benar."

Chanyeol mengernyit mendengar hal itu sebelum Yifan tersenyum dan mendekatkan wajahnya.

"Aku seperti sedang mencium patung ketika kita berciuman di altar waktu itu." Bisik Yifan yang segera Chanyeol balas dengan sebuah tinju di dadanya.

Mereka tertawa sebelum Chanyeol memejamkan matanya ketika Yifan mendekatkan wajahnya untuk menyatukan kedua bibir mereka. Tidak ada kecanggungan dan perasaan tidak nyaman ketika bibir mereka mulai memagut satu sama lain. Yang ada sekarang justru candu dan gelitik aneh di dada mereka setiap kali mereka berciuman.

"Kau sudah ahli sekarang." Komentar Yifan ketika mereka melepaskan satu sama lain untuk bernafas.

"Aku bersyukur kita membatalkan makan malam tadi. Aku akan sangat malu kalau kau melakukannya di depan banyak orang. Mereka pasti akan mengira kalau aku hamil sebelum menikah." Ujar Chanyeol dengan bercanda yang kemudian diikuti oleh tawa Yifan yang menggema di ruangan itu.

"Kau sebaiknya segera berpakaian atau kau bisa sakit." Yifan melepaskan diri dari Chanyeol dan menyimpan kembali kotak yang kini berisi cincin mereka yang lama ketika Chanyeol justru berdiri dengan gelisah.

"Uh, Yifan?" Panggil Chanyeol.

"Yes, love?" Yifan menghampiri Chanyeol kembali dan menarik tubuh Omeganya itu mendekat.

Chanyeol menelan ludahnya dan mengumpulkan segala keberanian yang ia miliki untuk mengalungkan lengannya pada leher Yifan.

"Kau melupakan sesuatu." Kata Chanyeol yang sukses membuat Yifan mengernyit.

Yifan sudah akan membuka mulutnya ketika tangan Chanyeol memainkan kancing piyama yang Yifan kenakan.

"Kita juga tidak melakukannya dengan benar pada saat pertama kali." Wajah Chanyeol sudah memerah seperti tomat rebus dan ia tidak berani menatap Yifan yang akhirnya mengerti dengan maksud Chanyeol.

Yifan meraup bibir Chanyeol dengan sedikit kasar karena perasaan yang seolah meletup di dadanya. Keduanya melepaskan bibir satu sama lain sejenak ketika Chanyeol mulai melepaskan kancing piyama Yifan.

"Kau yakin?" Tanya Yifan dengan nafas yang memburu. Ia ingin memastikan sekali lagi karena ia tidak yakin bahwa ia bisa berhenti begitu mereka mulai.

Chanyeol mengangguk pelan sebelum menekan kepala Yifan untuk menyatukan bibir mereka kembali. Yifan membimbing Chanyeol ke arah tempat tidur sambil melepaskan ikatan bathrobe yang membungkus tubuh Chanyeol.

.

.

.

BERSAMBUNG

Heuheu. Sampe sini dulu ya mugyaaaaaa /ngumpet.

Ehm, anu, ini yang bagian a/b/o dynamicnya aku banyak ngawur jadi maapkeun kalau ada istilah atau kesalahan presepsi mengenai itu yes.

Terima kasih untuk yang sudah membaca, me-review, mem-follow dan mem-favorite. Muuci ngets yak belum bosen sama ff ini wkwkwkwk

Untuk yang nungguin paradise, ini masih otw yup, ditunggu aja /nunggumele wkwkwkk

Dengan cinta,

Mt_Chan