Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART XVII-
Sudah satu minggu sejak kepergian Yifan dan Chanyeol ke Pulai Jeju untuk perayaan anniversary slash liburan slash honeymoon, kini keduanya disibukkan dengan berbagai persiapan untuk menyambut kelahiran bayi kembar mereka. Usia kehamilan Chanyeol sudah memasuki bulan ke-9, yang dalam beberapa minggu jika perkiraannya sesuai, maka keduanya akan secara resmi menjadi orang tua. Pasangan Alpha dan Omega itu sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin calon bayi mereka untuk menyimpannya sebagai kejutan di hari kelahiran mereka nanti.
Yifan harus merelakan ruang kerjanya di apartemen untuk dirombak menjadi kamar bayi mereka. Meskipun pada akhirnya mereka tetap meletakkan box bayi di kamar utama, tetapi menyiapkan kamar untuk buah hati mereka adalah kesenangan tersendiri –yang juga diwarnai beberapa perdebatan seperti warna cat, posisi lemari dan bahkan letak mainan dan aksesoris di ruangan itu.
Di usia pernikahan mereka yang sudah menginjak satu tahun, Chanyeol terlihat lebih vokal dalam hal mengutarakan pendapat dan keinginannya. Meskipun status Omeganya yang tetap tidak bisa mengelak dominasi Alphanya, tetapi Chanyeol punya caranya sendiri untuk membuat Yifan luluh dan menuruti permintaan –perintahnya. Sebagai seorang Alpha yang berpikiran dewasa, Yifan tidak terlalu mempermasalahkan sifat Chanyeol itu, tetapi ia juga tidak bisa menghindari perdebatan kecil yang terjadi di antara mereka setiap kali ada perbedaan pendapat. Mungkin justru hal itu yang membuat pernikahan mereka terasa jauh lebih menarik dari sebelumnya?
Malam itu, Yifan yang baru saja selesai membersihkan diri sepulang dari kantor terlihat mencari-cari sesuatu di lemari pakaiannya, ia tampaknya tidak bisa menemukan salah satu piyama tidur favoritnya. Dengan hanya memakai handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya hingga sebatas paha, Yifan keluar dari kamar dan menemukan Chanyeol sedang menikmati yoghurt favoritnya di depan tv.
"Kau lihat celana piyamaku?" Tanya Yifan.
Chanyeol yang sebelumnya fokus menyedot yoghurt dari sedotan itu mengalihkan pandangannya dari tv dan mendapati tubuh Yifan yang membuatnya menelan yoghurt di mulutnya dengan terpaksa agar ia tidak tersedak. Chanyeol menikmati waktunya sebentar untuk melihat tubuh sempurna Alphanya itu sebelum meringis.
"Huh? Celana piyama yang mana?" Tanya Chanyeol.
Pemuda itu sering –atau itulah tugas sehari-hari yang rajin ia lakukan yakni mencuci pakaian kotor mereka berdua dan tentunya Chanyeol tahu di mana keberadaan benda yang Yifan cari itu.
"Yang ku pakai kemarin?" Ujar Yifan ragu-ragu.
Chanyeol memutar kedua matanya mendengar hal itu.
"Yifan, my love, kalau kau sudah memakainya kemarin, itu artinya celanamu masih berada di keranjang pakaian kotor dan aku belum mencucinya. Kenapa tidak memakai celana yang lain?" Tukas Chanyeol mengikuti kata panggilan Yifan untuknya.
Tiba-tiba ada kerling jahil berkilat di kedua mata Chanyeol. "Atau bagaimana kalau tidak usah memakai celana saja?"
"Pervert." Kata Yifan sambil menarik pelan telinga Chanyeol dan meninggalkan ruangan itu untuk berpakaian.
Ketika Yifan kembali dan sudah memakai celana pendek dan kaos, Chanyeol terlihat sedang mengangkat piyama yang dipakainya hingga sebatas dada dan mengelus perutnya yang membuncit.
"Kenapa?" Tanya Yifan sambil duduk di samping Omeganya itu.
Chanyeol menyandarkan kepalanya di atas sandaran sofa dan mengganti channel di tv.
"Panas sekali hari ini." Kata Chanyeol.
Yifan tersenyum sebelum melirik ke arah AC di ruangan itu yang sudah menyala dengan temperatur paling rendah. Pemuda itu kemudian menundukkan kepalanya dan mencium perut Chanyeol yang terpampang.
"Kau akan sakit kepala kalau tidak mengeringkan rambutmu." Komentar Chanyeol sambil menyisir rambut Yifan yang basah menggunakan jemarinya.
Yifan kemudian mendongak dan menyeringai.
"Bukankah ini favoritmu?" Goda Yifan.
Chanyeol mendengus ketika Yifan mencium leher dan pipinya. Sang Alpha tidak henti-hentinya menggoda Chanyeol ketika pemuda itu tanpa sadar pernah mengutarakan isi kepalanya bahwa Yifan terlihat jauh lebih tampan dan menarik ketika rambutnya basah dan dibiarkan jatuh di atas dahinya.
"Stop. Ini panas sekali." Chanyeol mendorong bahu Yifan yang sudah menempel di tubuhnya dan membetulkan posisi duduknya ketika hawa panas membuat tubuhnya terasa pengap.
Yifan kemudian mengambil –atau lebih tepatnya merebut remote tv dari tangan Chanyeol dan mengganti channelnya. Chanyeol meliriknya dengan sinis sebelum kembali menyandarkan kepalanya.
"Kau sudah jadi menyiapkan nama untuk mereka?" Tanya Chanyeol.
"Uhm.." Yifan terlihat berpikir sebentar yang justru membuat Chanyeol mendecak kesal.
"Kau belum menyiapkannya." Kata Chanyeol.
"Memangnya kau sudah?" Tanya Yifan bergantian.
Kali ini Chanyeol yang terlihat berpikir. "Uhm..."
Yifan mendecakkan lidahnya mengikuti Chanyeol sebelumnya dan membuatnya mendapatkan sebuah tepukan keras di lengannya. Yifan mengerang kesakitan dan menggosok lengannya ketika Chanyeol mengerucutkan bibirnya.
"Aku kira itu tugasmu?" Chanyeol merengut.
"Aku sudah memikirkan beberapa nama tetapi aku merasa belum ada yang tepat." Jelas Yifan dengan penuh kesabaran.
Chanyeol semakin mengerucutkan bibirnya –yang entah kenapa justru membuat Yifan tersenyum dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik gumpalan pipi pucat milik Chanyeol.
"Aw." Chanyeol mengerang kesakitan ketika Yifan tertawa melihatnya.
Yifan kemudian melanggar larangan Chanyeol sebelumnya dan mendekatkan tubuhnya sebelum menyerang Omeganya itu dengan ciuman di leher dan pipinya.
"Yifaaaaannn." Chanyeol berteriak kegelian sambil meninju pelan tubuh Yifan agar menjauh darinya.
Tawa keduanya menggema di setiap sudut ruangan itu.
.
.
.
Kontraksi awal dirasakan Chanyeol ketika ia sedang menata sandwich di dapur pagi itu. Waktunya yang banyak ia habiskan di rumah selama beberapa bulan terakhir membuat Chanyeol sedikit lebih ahli dalam membuat makanan. Yifan yang bahkan belum sempat mengancingkan kemejanya berlari tergopoh-gopoh ketika Chanyeol berteriak memanggilnya.
"Yifan, sakit." Chanyeol mengerang sambil mengerutkan wajahnya menahan rasa sakit di perutnya.
Yifan membimbing Chanyeol untuk duduk di sofa ruang keluarga sementara ia menyiapkan segalanya. Mereka sudah mempersiapkan dan bahkan berlatih untuk menghadapi hal ini, namun rasa panik tetap saja membuat keduanya gugup. Yifan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi pihak rumah sakit untuk bersiap. Tas berisi perlengkapan milik Chanyeol dan calon bayi mereka sudah teronggok di dekat pintu kamar mereka sejak beberapa hari yang lalu dan siap untuk dibawa kapan pun.
Chanyeol menyangga perutnya ketika Yifan memapahnya untuk berjalan menuju mobil mereka di tempat parkir. Yifan sudah berniat untuk memanggil ambulance saja, tetapi hal itu juga berarti mereka akan membuang lebih banyak waktu. Tangan kiri Yifan terus menggenggam tangan Chanyeol ketika tangannya yang satu sibuk memegang kemudi.
"Kita harus menunggu beberapa jam lagi sebelum memulai operasinya. Tolong bertahan sebentar." Kata Dokter Amber setelah memeriksa keadaan itu.
Dokter itu pula yang akan membantu proses persalinan Chanyeol hari itu. Yifan mengerutkan dahinya tidak mengerti. Chanyeol sudah kesakitan dan operasinya belum bisa dilakukan.
"Ini normal, Tuan Wu." Dokter Amber berusaha meyakinkan Yifan bahwa ia tahu apa yang ia lakukan.
Setelah mendengar kabar dari Yifan, keluarga Park segera menyusul datang ke rumah sakit sementara keluarga Wu yang saat itu sedang berada di Shanghai harus menunggu jadwal penerbangan selanjutnya menuju Korea. Mrs. Park mengusap dahi putra semata wayangnya yang dibanjiri keringat akibat menahan rasa sakit dari kontraksi di perutnya.
"Kau pasti bisa melakukannya, Chanyeol-ah." Ujar Mrs. Park menenangkan.
Sementara Mr. Park yang tidak bisa menutupi rasa cemas dan gugup berjalan mondar-mandir di luar ruangan yang ditempati Chanyeol. Ia tidak tega melihat putranya kesakitan di dalam sana. Sementara itu Yifan terus berada di samping Chanyeol dan melakukan hal yang sama seperti Ibu mertuanya. Beberapa orang perawat datang dan membantu Chanyeol untuk berganti pakaian. Setelah itu mereka mulai menyuntikkan obat bius melalui selang infusnya.
Yifan mengeluh kepada perawat itu ketika Chanyeol terlihat kesulitan bernafas. Para perawat kemudian memasang selang oksigen pada hidung Chanyeol untuk membantu pemuda itu bernafas.
"Apa Tuan juga akan ikut ke dalam ruang operasi?" Tanya perawat itu pada Yifan.
Yifan tiba-tiba membeku sebelum menatap Omeganya yang berbaring tidak berdaya dengan masih menahan rasa sakit itu. Chanyeol meremas genggaman tangannya pada Yifan sebelum sang Alpha mengangguk.
"Kalau begitu Tuan juga perlu berganti pakaian." Salah seorang perawat menyodorinya pakaian steril sebelum mereka keluar dari ruangan untuk menyiapkan meja operasi.
Obat bius yang hanya melumpuhkan syaraf di bagian bawah tubuh Chanyeol itu mulai bekerja dan membuat pemuda itu sedikit lebih tenang. Namun Chanyeol mulai meracau akibat pengaruh obat itu ketika perawat memindahkannya ke ruang operasi.
Tidak pernah dalam hidup Yifan, ia mengalami ketakutan seperti ini. Yifan tidak keberatan dengan bau darah atau bunyi pisau bedah yang berdenting, tetapi yang pemuda itu takutkan adalah bagaimana ia harus melihat orang yang paling disayanginya itu mempertaruhkan nyawa di hadapannya. Yifan menggenggam tangan Chanyeol ketika ia duduk di sampingnya.
"Selamat siang, Tuan Wu. Sudah siap?" Sapa Dokter Amber ketika ia memasuki ruang operasi itu bersama beberapa orang lainnya.
Yifan berusaha menutupi kegugupannya dengan tersenyum kecil sebelum mengalihkan perhatiannya kembali pada Omeganya. Chanyeol tidak tertidur, tetapi matanya terlihat sayu dan nafasnya bergerak pelan setelah kelelahan menahan sakit.
"Hey..." Yifan mengusap dahi Chanyeol lembut.
"Kita akan segera melihat mereka." Ucap Yifan lagi yang Chanyeol tanggapi dengan mengeratkan genggaman tangan mereka.
Para dokter sudah memulai tugas mereka. Yifan beberapa kali melirik ke bagian perut Chanyeol yang sedang dibedah. Bercak darah sudah mengotori sarung tangan dan alas tempat Chanyeol berbaring.
"I love you." Bisik Yifan sambil mengecup tangan Chanyeol. Ia terus berdoa dalam hati agar semuanya berjalan seperti apa yang mereka inginkan.
"I love you." Balas Chanyeol dengan gerakan mulutnya yang lemah.
Wajah Chanyeol terlihat pucat dengan keringat membanjirinya. Tim dokter sudah menyiapkan beberapa kantung darah untuk berjaga-jaga mengingat riwayat kesehatan Chanyeol sebelumnya.
Waktu terus berlalu dan satu-satunya suara yang mengisi ruangan itu adalah dentingan alat bedah dan obrolan para dokter. Yifan mengatupkan bibirnya rapat karena ia sudah tidak sanggup mengeluarkan suara apapun. Chanyeol juga melakukan hal yang sama meskipun beberapa kali wajah pemuda itu akan mengernyit atau memejamkan matanya.
"Anda mau melakukannya sendiri, Tuan Wu?"
Yifan tersentak dari tempat duduknya dan memandang gunting bedah yang disodorkan Dokter Amber. Tangan pemuda itu bergetar ketika ia meraihnya. Bayi pertama mereka sudah berhasil dikeluarkan dan Yifan mendapat kehormatan untuk memutuskan jalinan fisik bayi itu dengan Chanyeol yakni dengan memotong tali pusarnya.
Tangisan bayi yang nyaring segera mengisi setiap sudut ruangan itu. Seorang perawat meraihnya dan membersihkannya dari cairan yang selama ini melindunginya di dalam perut Chanyeol.
"Chanyeol..." Kedua mata Yifan memanas ketika akhirnya bayi kedua mereka selesai dikeluarkan.
Kedua bayi itu diletakkan di atas dada Chanyeol yang dengan lemah merengkuh mereka berdua ke dalam pelukannya. Para dokter mulai membersihkan tubuh Chanyeol dan menutup kembali perutnya.
"I love you." Lagi-lagi hanya kalimat itu yang Yifan sanggup ucapkan ketika apa yang selama ini mereka jaga dan perjuangkan terlahir ke dunia.
.
.
.
"Sssshh. Jangan berisik. Kalian akan membangunkan Chanyeol."
Adalah kalimat yang pemuda dengan status Omega itu dengar ketika kesadarannya kembali pasca operasi. Yifan yang menyadari hal itu segera duduk di samping pasangannya dan menggenggam tangan Chanyeol. Pemuda itu sudah tertidur selama beberapa jam sejak dokter selesai menjahit perutnya akibat kelelahan dan efek obat bius.
"Yifan, aku bermimpi." Ucap Chanyeol dengan suara serak.
"Hm?"
"Aku bermimpi bahwa aku sudah melahirkan anak-anak kita." Kata Chanyeol pelan.
Bibir Chanyeol terasa kering ketika Yifan menundukkan wajahnya dan mengecup singkat bibir itu. Senyuman kemudian terkembang di wajah Yifan ketika ia menolehkan pandangannya ke belakang.
"Kau tidak bermimpi."
Chanyeol mengikuti arah pandangan Yifan dan mendapati kedua orang tuanya yang masing-masing sedang menggendong seorang bayi. Chanyeol kemudian memandang perutnya yang tidak lagi membuncit sebelum membulatkan kedua matanya.
"Aku ingin melihat mereka." Chanyeol sudah akan terburu-buru bangkit dari posisi berbaringnya ketika Yifan membantunya perlahan. Pemuda itu mengernyit ketika bekas jahitan di perutnya membuatnya nyeri.
Mr. dan Mrs. Park berjalan mendekat ke arah Chanyeol. Pemuda itu melongok pada gulungan selimut yang membungkus tubuh-tubuh mungil itu.
Senyuman lebar tergambar jelas pada wajah Omega itu ketika bayinya bergerak kecil ketika jari telunjuk Chanyeol mengelus pipinya. Mereka benar-benar nyata.
"Mereka berdua laki-laki." Jelas Yifan ketika Chanyeol memandangnya.
"Mereka tampan seperti Yifan." Komentar Mrs. Park yang membuat Chanyeol bersungut-sungut.
"Aku tidak tampan?" Kata Chanyeol.
"Kau juga tampan, Chanyeol. Tapi tidak setampan Yifan." Lanjut Mr. Park yang sukses membuat Chanyeol merengut.
Mereka begitu menikmati menggoda Chanyeol sebelum bayi yang ada dalam gendongan Mrs. Park menangis.
"Aku ingin menggendong mereka." Kata Chanyeol mengulurkan tangannya.
Yifan membantu Omeganya menyusun bantal dan posisi duduknya agar pemuda itu nyaman dan tidak melukai bekas jahitan yang masih baru itu sebelum menerima bayinya.
Chanyeol yang masih belum berpengalaman menggendong bayi terlihat kaku dan canggung ketika putra pertama mereka berada di pelukannya. Namun bayi itu segera berhenti menangis ketika Chanyeol memeluknya. Ia seperti tahu bahwa Chanyeol adalah orang yang melahirkannya.
"Kalian sudah menyiapkan nama untuk mereka?" Tanya Mr. Park yang menyerahkan cucu keduanya pada Yifan.
Yifan memandang Chanyeol yang masih terkagum-kagum melihat bayi di gendongannya.
"Aku tidak tahu apa kalian setuju..."
Kali ini Chanyeol mendongakkan kepalanya dan memperhatikan Yifan yang begitu luwes menggendong putranya.
"Wu Yi Xian dan Wu Chan Yi."
Yifan melihat ke arah orang-orang di sekelilingnya. Chanyeol terkikik sebelum mengacungkan jempolnya.
"Perfect."
.
.
.
Setelah menginap selama tiga hari di rumah sakit untuk benar-benar memulihkan diri, Chanyeol akhirnya diizinkan pulang bersama bayi-bayinya. Keluarga Park dan keluarga Wu senantiasa saling bahu membahu dalam membantu keluarga kecil yang masih belum berpengalaman dalam mengurus bayi itu.
Mr. dan Mrs. Wu yang akhirnya kembali ke Korea begitu mendengar cucu kembar mereka lahir begitu antusias dan bersemangat. Chanyeol sampai harus menahan diri untuk tidak merengek ketika ia justru jarang menggendong bayi-bayinya karena sudah dimonopoli oleh kedua orang tua dan mertuanya.
Sampai di apartemen, Yixian dan Chan yi yang kelahirannya hanya berjarak beberapa menit itu segera diletakkan ke dalam box bayi yang ada di dalam kamar kedua orang tua mereka. Chanyeol yang masih harus memastikan jahitan di perutnya benar-benar kering sebelum bergerak bebas berbaring di tempat tidur ketika Yifan membereskan segalanya.
Mrs. Park dan Mrs. Wu memberikan catatan-catatan mengenai apa saja yang harus mereka lakukan jika bayi mereka menangis. Kedua Ibu itu sudah bersikeras untuk menginap di apartemen ketika Yifan menolak karena tidak ingin merepotkan mereka berdua. Toh ini juga kesempatan bagi mereka untuk benar-benar mengurus bayi mereka sendirian.
"Aku akan menelepon kalian kalau aku sudah benar-benar menyerah dan tidak tahu harus berbuat apa." Kata Yifan memastikan.
Mrs. Park dan Mrs. Wu menghela nafas ketika mereka harus berpisah dengan cucu mereka.
Dan ketika Yifan kembali ke kamar, Chanyeol sudah setengah tertidur. Namun pemuda itu membuka matanya kembali ketika Yifan duduk di tepi tempat tidur.
"Mau aku siapkan makan malam?" Tanya Yifan sambil mengusap puncak kepala Chanyeol.
Chanyeol menggeleng. "Aku belum lapar. Kau sebaiknya istirahat juga. Aku tahu kau pasti juga lelah."
Chanyeol menggenggam tangan Yifan sebelum mengecup telapaknya. Yifan tersenyum melihat gestur itu.
"Aku sampai lupa kalau aku bisa lelah." Ujar Yifan mengabaikan pundaknya yang kaku.
Chanyeol perlahan bangkit untuk duduk. Pemuda itu mengangkat tangannya dan meletakkannya pada kedua sisi wajah Yifan.
"Are you happy?" Kedua mata cemerlang Chanyeol berkilat. Suara bassnya berbisik pelan.
Yifan membalas tatapan Chanyeol sebelum merengkuh Omeganya itu ke dalam pelukan. Chanyeol mendengkur ketika ia mencium aroma sang Alpha yang menguar dari lehernya ketika Yifan juga merasakan hal yang sama.
"I'm beyond happy. Thank you." Yifan mengecup tanda di leher Chanyeol sebelum meraup bibir sang Omega dalam ciuman yang dalam.
Keduanya begitu larut dalam perasaan lega, berantusias sekaligus gugup pada saat yang bersamaan. Ini bukanlah akhir tetapi justru sebuah permulaan yang sebenarnya.
"Round two?" Bisik Yifan ketika wajah keduanya masih berdekatan dengan bibir yang masih menempel pada satu sama lain. Pertanyaan itu entah kenapa terdengar familiar.
"Hm?" Chanyeol menaikkan salah satu alisnya. Ia kurang mengerti dengan maksud pertanyaan Alphanya itu.
"Kau mau punya anak lagi dariku?" Tanya Yifan yang membuatnya dihadiahi sebuah tepukan dan tinju keras di dadanya.
Untuk seseorang yang baru saja pulih dari operasi, tenaga Chanyeol tidak bisa dianggap main-main.
"Yah! Aku baru saja selesai melahirkan dan—"
Yifan tertawa meskipun tangannya berusaha melindungi dirinya sendiri dari serangan tinju Chanyeol.
"Aku bercanda 'kay?"
Chanyeol menggembungkan kedua pipinya dan memalingkan wajahnya dari wajah Yifan. Bahkan sifat jahil Yifan tetap muncul di saat-saat seperti ini.
Yifan kembali memajukan wajahnya dan memagut bibir Chanyeol lembut. Namun sayangnya ciuman keduanya segera terhenti ketika terdengar suara rengekan bayi dari box besar yang kini mengisi kamar keduanya.
Yifan dan Chanyeol tersenyum sebelum Yifan bangkit dan menghampiri putranya yang sudah tidak sabar untuk menjadi bagian dari kemesraan kedua orang tuanya.
.
.
.
Heuheu.
Err—jadi sengaja nggak ditulis Bersambung apa Tamat soalnya authornya juga takut move on dari fanfic ini #halah. Uhm, jadi anggep aja setiap chapter yang saia update adalah chapter terakhir dari fanfic ini heuheu #makseudeloh
Kalau ada mood ya surprise diupdate, kalo nggak ya maapkeun jangan ditungguin yes. Tapi ya semoga aja ada mood terus #gimanasih wkwkwkkkwk labilita(?), I know.
Tapi sekarang pengen fokus ke Paradise dulu ihik. Yang belum baca monggo bisa ke akun sebelah #promositerus
Pokoknya terima kasih untuk yang sudah mengikuti fanfic nggak jelas, super cheesy, shameless dan banyak ngawurnya ini. Maapkeun nggak bisa di mention satu-satu gaes takutnya ada yang kelewat ntar ngambeque. Jadi intinya terima kasih pokoknya mugyaaaaa
Maapkeun juga kalo banyak typos, EYD ngawur, bahasa campur-campur, atau kurang banyak semutnya. Heuheu
Sampai jumpa lagi, gaesssss
Dengan cinta yang bertubi-tubi,
Mt_Chan
