Pairing: Kris X Chanyeol

Disclaimer: Characters belong to their own.

Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!

.

.

Mt_Chan proudly presents...

.

.

.

"Make Us Forever"

-PART XVIII-

Hari itu adalah sebuah akhir pekan yang menenangkan bagi pasangan Alpha dan Omega –Yifan dan Chanyeol. Menenangkan karena semenjak dua bulan terakhir, apartemen mereka dipenuhi dengan suara tangisan dua orang bayi yang terkadang bisa saling bersahutan ketika keduanya kompak untuk menangis bersamaan. Chanyeol menghela nafas dengan perasaan lega ketika ia merasakan dua lengan kokoh melingkar di perutnya kemudian disusul dengan kecupan singkat di lehernya. Tangan Chanyeol mengayunkan pelan box bayi di hadapannya agar bayi kembar mereka semakin terlelap tidur di dalamnya.

Lengan Yifan yang melingkar pada perut Chanyeol kemudian bergerak menelusup di balik kaos yang dipakainya untuk mengusap perut Chanyeol pelan. Jahitan dari operasi Caesar yang dilakukan untuk mengeluarkan Yixian dan Chan yi dari perut Chanyeol sudah menyatu dengan kulit dan kini meninggalkan bekas. Terkadang ketika Yifan tanpa sengaja melihat Chanyeol berganti pakaian, pemuda itu akan menatap bekas itu dengan ekspresi wajah yang tidak bisa terbaca maknanya. Yifan memastikan untuk memberikan cheesy line ekstra pada Omeganya itu untuk meyakinkan bahwa bekas itu tidak merubah apapun dalam dirinya.

"Masih sakit?" Tanya Yifan ketika ia mengusap pelan bekas jahitan itu.

Chanyeol menggeleng sebelum memutar tubuhnya untuk menghadap Yifan.

"Kau bisa tidur duluan, aku akan menyiapkan susu untuk mereka sebentar." Kata Chanyeol sebelum berjalan menuju dapur.

Pemuda berstatus Alpha itu menaikkan salah satu alisnya. Ini hanya perasaannya saja atau memang Chanyeol sedang menghindarinya? Namun Yifan hanya mengangkat bahunya sebelum memberikan kecupan singkat pada bayi kembarnya yang sudah pulas sejak beberapa menit lalu.

Setelah menyiapkan beberapa botol formula yang siap diseduh untuk bayi kembarnya yang sering terbangun tengah malam, Chanyeol berharap Yifan sudah terlelap ketika ia kembali ke dalam kamar tidur mereka. Namun Yifan yang sudah membersihkan wajah dan menggosok gigi terlihat sedang membaca sesuatu di layar ponselnya. Sang Alpha segera mematikan ponselnya dan memperhatikan gerak-gerik Chanyeol yang terlihat kikuk di sekitarnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Chanyeol akhirnya menyusul Yifan di atas tempat tidur setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang Ibu baru. Lampu utama di kamar itu sudah dimatikan dan satu-satunya sumber cahaya ada pada lampu tidur di atas meja nakas.

Tubuh Chanyeol yang tidur memunggunginya membeku ketika Yifan melingkarkan lengannya pada pinggang pemuda itu. Sudah dua bulan sejak Chanyeol melahirkan dan mereka belum pernah sekalipun berhubungan seks. Dan Yifan adalah seorang Alpha panutan yang tidak akan memaksa Omeganya sampai ia siap. Namun malam ini, entah karena ini weekend dan bayi kembar mereka tertidur lebih awal, Yifan sedang dalam mood untuk melakukannya.

"Kau sudah tidur?" Tanya Yifan ketika ia semakin merekatkan tubuhnya pada punggung Chanyeol.

Tubuh Chanyeol yang mengalami kenaikan berat badan sejak masa kehamilannya masih belum kehilangan lemak-lemak yang setia tinggal meskipun Yifan yakin Chanyeol sering mencuri-curi kesempatan untuk berolahraga ketika si kembar tidur dan Yifan berada di kantor.

"Hm?" Chanyeol hanya menyahut pelan tanpa membuka kedua matanya yang sudah terpejam.

"I miss you." Yifan menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher Chanyeol untuk menghirup aroma manis yang menguar dari sana. Aroma Omega yang Chanyeol keluarkan sudah kembali seperti ketika Yifan pertama kali menghirupnya mengingat si kembar yang selama ini mempengaruhi aromanya sudah lahir.

Chanyeol berbalik yang kemudian Yifan sambut dengan ciuman lembut di bibirnya. Salah satu tangan Chanyeol menyisir –mengacaukan rambut Yifan sementara tangan satunya bergerak untuk mematikan lampu tidur di atas meja nakas. Yifan mengangkat wajahnya ketika menyadari hal itu.

Keadaan kamar itu menjadi gelap total ketika tangan Chanyeol berhasil menekan saklarnya. Yifan mengernyitkan dahinya. Chanyeol sebelumnya tidak pernah keberatan berhubungan seks dengannya dalam keadaan kamar yang terang. Entah kenapa perubahan itu membuat Yifan merasa aneh. Yifan menyalakan kembali lampu tidur itu dan menangkap kegelisahan pada kedua mata Omeganya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Yifan.

"Aku mau melakukannya kalau kau mematikan lampunya." Kata Chanyeol sembari memalingkan wajahnya dari wajah Yifan di atasnya.

Kerutan di dahi Yifan semakin kentara ketika ia tidak mengerti dengan sikap Chanyeol.

"Kenapa? Kau sebelumnya tidak keberatan—"

Sebelum Yifan menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol sudah menggembungkan pipinya dan menarik selimut ketika Yifan menahannya.

"Chanyeol..." Yifan masih berusaha meminta penjelasan, karena meskipun hal ini sepele, namun sikap Chanyeol ini justru membuatnya khawatir.

"Aku tidak mau kau melihatnya." Kata Chanyeol akhirnya menyerah.

Melihat apa? Yifan mengejar kedua bola mata Chanyeol yang masih enggan menatapnya.

"Aku tidak mau kau melihat tubuhku." Kata Chanyeol pelan.

Tatapan Yifan kemudian beralih pada tubuh Chanyeol di bawahnya. Memangnya apa yang salah dengan tubuh Chanyeol? Apakah ada sesuatu yang belum Yifan ketahui? Yifan meraih kancing piyama Chanyeol dan melepaskannya satu per satu.

"Yifan!" Chanyeol sudah akan menahannya ketika gerakan tangan Yifan lebih cepat dan kini kancing piyamanya sudah terlepas semua.

Ketika mereka berhubungan seks untuk pertama kali, yang Yifan lihat dari tubuh Chanyeol adalah kesempurnaan. Tubuh Chanyeol tidak berotot dan perutnya tidak mempunyai abs, tetapi proporsi yang membentuk tubuh itu begitu pas di setiap bagiannya. Dengan kulit tubuh pucat dan tanpa cela, tidaklah mengherankan jika Chanyeol bangga akan hal itu.

Namun ketika Yifan melihatnya malam ini, rasa malu dan tidak percaya diri yang Chanyeol tunjukkan bukan karena ia canggung akan berhubungan seks dengan Yifan. Hal itu lebih karena tubuhnya yang tidak lagi sempurna –atau yang Chanyeol rasa begitu. Stretch mark, bekas jahitan, dan porsi tubuh yang tidak sama seperti sebelumnya membuat Chanyeol tidak percaya diri untuk memperlihatkan tubuhnya –bahkan di hadapan Yifan.

"Aku tidak keberatan jika tubuhku berubah karena kehamilan atau melahirkan, tetapi aku tidak mau kau melihatku seperti ini. Apa kau mau menunggu sampai—umph" Kalimat yang akan Chanyeol utarakan belum selesai ketika bibir Yifan sudah menangkap bibirnya ke dalam ciuman.

Apapun yang akan Chanyeol katakan malam itu adalah omong kosong dan Yifan tidak ingin mendengarnya.

"Kau adalah definisi dari kesempurnaan yang pernah aku temui. Dan meskipun tubuhmu berubah seperti yang kau rasakan, hal itu tidak akan membuatku berpikiran lain. Kau tetap sempurna di mataku." Kata Yifan.

Mungkin jika mereka sedang mengobrol biasa, Chanyeol akan melemparkan bantal atau benda apapun di dekatnya pada Yifan ketika sang Alpha sedang mengucapkan kalimat yang membuatnya bergidik saking cheesy-nya. Namun kala itu, perasaan hangat justru memenuhi dada Chanyeol. Kegelisahan pemuda itu perlahan lenyap ketika melihat tatapan tulus yang Yifan berikan.

"I love you. Aku mohon jangan berpikir bahwa aku tidak akan menyukai tubuhmu hanya karena ini."

Yifan menyapu senyuman di wajah Chanyeol dengan kecupan manis di bibirnya. Kecupan itu kemudian bergerak pada leher, dada hingga ke perut Chanyeol. Pemuda itu menahan nafasnya ketika Yifan mengecup bekas jahitan di perutnya.

Yifan tanpa sadar menggeram ketika aroma manis yang Chanyeol keluarkan berubah menjadi aroma pheromone yang memabukkan. Pheromone ini biasanya hanya akan dikeluarkan oleh tubuh Chanyeol ketika ia sedang dalam masa heat atau ketika ia sedang terangsang.

Yifan mulai melucuti pakaian yang membungkus tubuh mereka ketika Chanyeol membalas ciumannya. Namun belum sempat tugas itu selesai ia lakukan, suara rengekan kecil mengisi gendang telinga pasangan itu.

Chanyeol tertawa ketika Yifan menghela nafas dan memakai kembali celananya. Dengan bertelanjang dada Yifan kemudian bangkit dan merengkuh Chan Yi sebelum tangisannya membangunkan sang kakak yang masih terlelap.

Sementara itu Chanyeol meraih susu yang tadi ia siapkan dan menyeduhnya menggunakan air hangat. Ia memastikan suhunya sudah sesuai sebelum menyerahkannya pada Yifan.

Keduanya tersenyum ketika Chan Yi berhenti menangis begitu ia mendapatkan susunya.

.

.

.

Siapa pun yang melihat pemandangan yang sedang berlangsung sekarang pasti akan merasa iri dan rela melakukan hal apapun untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Keluarga Wu yang kini beranggotakan empat orang itu memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman di dekat apartemen yang mereka tinggali. Chanyeol yang sore itu memakai kaos putih polos berwarna putih dengan celana jeans membungkus kaki jenjangnya melengkapi penampilannya dengan kacamata hitam. Cahaya sore matahari yang masih bersinar terik bisa cukup menyilaukan. Sementara itu Yifan yang terbiasa berpakaian formal dengan jas dan kemeja memilih untuk memakai sesuatu yang lebih kausal. Jadilah ia menyontek gaya berpakaian Chanyeol dan keduanya begitu serasi hingga siapa pun yang melihat akan berhenti untuk menoleh ke arah mereka.

Bayi kembar mereka, Yixian dan Chan Yi sudah berusia lima bulan. Kedua bayi itu tumbuh dengan sehat dan membuat kedua orang tuanya bangga. Selama ini, Chanyeol yang masih cuti dari kuliahnya memilih untuk mengurusi kedua bayinya dengan dibantu Mrs. Park atau Mrs. Wu yang akan datang ke apartemen mereka untuk mengajarinya cara mengurus bayi. Untuk sementara pekerjaan rumah lainnya dibantu oleh asisten rumah tangga yang akan datang selama beberapa jam ke dalam apartemen mereka dan melakukan tugasnya.

Kedua bayi itu asyik memeluk botol susu mereka masing-masing ketika Chanyeol menghentikan kereta bayi di dekat sebuah kursi taman. Di sekitar mereka banyak pasangan lain yang juga sedang menikmati suasana sore bersama keluarga. Maka tidak heran jika banyak suara anak kecil yang berlarian dan hewan peliharaan yang juga mengisi taman itu.

"Yifan, aku mau itu." Kata Chanyeol seraya menunjuk sebuah truk es krim.

Yifan menaikkan salah satu alisnya. Ia tidak bisa membayangkan jika bayi kembar mereka nantinya sudah besar, tentunya mereka akan bersaing dengan Chanyeol dalam hal meminta sesuatu padanya seperti ini. Namun Yifan tidak mengeluh dan berjalan menuju truk es krim itu.

Chanyeol kemudian berjongkok dan mengalihkan perhatiannya pada kedua bayi kembarnya itu. Awalnya ia kira Yifan sudah kembali ketika Chanyeol merasakan suara langkah kaki yang berhenti di belakangnya. Chanyeol berbalik dan mendapati sosok familiar –Xiumin?

"Hey... aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini." Kata Xiumin sambil memegang sebuah bola baseball di tangannya.

Chanyeol sampai harus melepas kacamatanya untuk memastikan penglihatannya tidak salah.

Chanyeol bangkit dan menyapa kakak kelasnya itu. Sehun yang beberapa minggu lalu mengunjunginya di apartemen bercerita bahwa kapten tim baseball itu terus menanyakan keadaannya ketika latihan.

"Rumah Sunbae di sekitar sini?" Tanya Chanyeol menggunakan panggilan paling formal karena ia tidak seakrab itu dengan Xiumin untuk memanggilnya hyung.

Xiumin menggeleng dan melirik ke arah segerombolan anak kecil yang sedang bermain bola di bagian taman yang berumput.

"Aku sedang mengasuh keponakanku. Ia tinggal di apartemen dekat sini. Kau datang sendiri?" Tanya Xiumin.

Chanyeol tersenyum sebelum melirik kereta bayi yang ditempati Yixian dan Chan Yi.

"Oh! Aku sudah dengar kau baru saja melahirkan. Ini anak-anakmu? Aku dengar mereka kembar?" Xiumin terlihat antusias dan berniat untuk berjalan mendekat ketika suara deheman membuat Beta itu berhenti.

Kharisma khas dari seorang Alpha yang Yifan keluarkan kala itu sanggup membuat siapa pun yang merasakannya bergidik ngeri –termasuk Omeganya sendiri yang biasanya merasa nyaman di dekatnya. Aura itu biasanya Yifan atau Alpha lainnya keluarkan ketika mereka terancam atau justru sedang berusaha mengintimidasi orang lain. Chanyeol rasa itu yang kedua.

Yifan menyerahkan es krim cokelat itu pada Chanyeol sebelum melepaskan kacamatanya. Ia kemudian melayangkan death glare pada Xiumin yang segera salah tingkah. Yifan tidak berkata apapun namun tatapan yang ia berikan pada Xiumin seolah menyiratkan bahwa ia harus segera menyingkir dari tempat itu.

"Um, aku rasa keponakanku sudah menunggu. Senang bertemu kalian di sini, Chanyeol dan.." Xiumin berusaha mengingat nama Alpha Chanyeol itu.

"Wu Yifan." Kata Yifan dengan dingin.

Xiumin mengangguk sebelum melambaikan tangan mereka dan berjalan pergi.

Chanyeol yang menyaksikan pemandangan itu tidak sanggup menahan tawanya sampai ia harus menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya.

"Lihat Papa kalian?" Chanyeol berbicara pada kedua putra kembarnya.

"Wu Yifan!" Chanyeol terpingkal ketika ia mengikuti gaya berbicara Yifan pada Xiumin sebelumnya.

Yifan menarik telinga Chanyeol untuk membuatnya berhenti tertawa dan mengoloknya.

"Kenapa dia di sini?" Tanya Yifan dengan kedua alisnya menyatu.

"Hm?" Chanyeol mengawasi bayi kembarnya yang mulai mengantuk sembari melahap es krim di tangannya.

"Apa dia mengikutimu?" Tanya Yifan yang sepertinya masih belum puas.

Chanyeol tersenyum sebelum menyendokkan es krim itu dan menyuapkannya pada Yifan.

"Ini hanya kebetulan." Jelas Chanyeol.

.

.

.

"Hatchu!" Chanyeol terlonjak dari tempatnya berdiri mendengar suara bersin Yifan yang menggema di setiap sudut apartemen mereka.

Beruntung Yixian dan Chan Yi sedang tidak tertidur atau suara itu akan membangunkan salah satu—bahkan keduanya. Chanyeol yang saat itu sedang menyiapkan sereal untuk sarapan Yifan mendapati sang Alpha berjalan ke dapur sambil membenahi dasi yang dipakainya. Wajah sang Alpha terlihat pucat dengan hidung berwarna merah.

"Kau tidak enak badan?" Tanya Chanyeol sambil memeriksa suhu tubuh Yifan menggunakan punggung tangan yang ia tempelkan pada dahi pemuda itu. Rasanya hangat.

Yifan menyeruput kopinya sebelum menggeleng. "Hanya bersin biasa." Katanya sambil lalu.

Setelah menyuapkan beberapa sendok sereal yang dicampur susu dan buah pada mulutnya sendiri, Yifan mengalihkan perhatiannya pada kedua bayi kembarnya yang sedang terbaring di dalam kereta mereka.

Chanyeol tidak bisa membiarkan kedua bayi itu di dalam box mereka ketika ia sedang sibuk di dapur dan Yifan bersiap berangkat ke kantor. Untuk itu keberadaan kereta bayi di dalam apartemen mereka justru membantu.

"Hatchu." Namun bersin Yifan terus berlanjut hingga ia terpaksa harus menjauhkan diri dari Yixian dan Chan Yi.

"Bagaimana kalau hari ini tidak usah berangkat dan istirahat saja?" Kata Chanyeol yang merasakan bahwa bersin biasa yang Yifan maksud adalah gejala flu.

Yifan lagi-lagi hanya menggeleng dan bangkit dari meja makan setelah menyelesaikan sarapannya. Pemuda itu kembali ke kamar tidur untuk mengambil jas dan kunci mobilnya sebelum menghampiri Omeganya.

Chanyeol sudah bersiap ketika ia kira Yifan akan mencium bibirnya seperti biasa sebelum pemuda itu berangkat kerja, namun Yifan justru mengecup leher Chanyeol dan tersenyum.

"Aku akan mampir ke apotek setelah ini." Kata Yifan berusaha menghentikan kekhawatiran Chanyeol.

Sang Omega hanya mengangguk ketika Yifan melongok bayi kembarnya dan melambaikan tangannya. Tidak ada ciuman untuk mereka karena jika memang Yifan terserang flu maka ia perlu menjaga jarak dari mereka.

Setelah Yifan berangkat, kini tinggallah Chanyeol di apartemen itu bersama Yixian dan Chan Yi. Pemuda itu masih belum ahli dalam hal mengurusi bayi kembarnya, tetapi ia sudah tidak lagi canggung ketika harus mengganti popok atau menenangkan mereka ketika menangis –meskipun lebih sering Chanyeol bingung apa yang sebenarnya menjadi penyebab tangisan mereka. Ketika lapar, mereka akan menangis, kemudian ketika mereka buang air kecil, buang air besar, dan bahkan hanya karena selimut mereka tidak nyaman maka mereka akan menangis. Chanyeol terkadang merasa frustrasi karena hal itu, namun ia lebih sering merasa bahagia ketika melihat keduanya merespons pada panggilannya.

.

.

.

Heuheu. Nggak penting beud lah tapi ini kenapa jari jemari menari di atas keyboard #halah

Terima kasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan review ya ^^ hihi

Dengan cinta,

Mt_Chan