Happy reading!
"Hari ini gua yang jemput yah." Jangjun turun dari lantai dua lalu bergabung dengan Daeyeol dan Bomin di meja makan. Sarapan nasi goreng kimchi buatan Jaeseok, kesukaan ketiga anaknya. Enak banget. Jaeseok pinter masak, pinter urus rumah, pinter urus anak, terlebih, pinter urus suami juga. Makanya Seungyoon paling males kalau harus lembur, kangen Jaeseok.
"Lah, tumben, hyung." Bomin menaikan alisnya.
"Cuma ngumpulin tugas terus absen doang hari ini." Jangjun mengambil tempat di kiri Bomin.
"Bomin 'kan biasa bareng gua pulangnya." Ucap Daeyeol.
"Sekali-kali gua jadi hyung yang baik gitu buat uri Bominie."
Bomin merinding dipanggil manja sama hyungnya yang satu ini. Kalau Daeyeol gak masalah, walau terkadang geli juga liat Daeyeol mulai aegyo. " Bilang aja hyung mau modus sama Youngtaek hyung."
"Nah itu tau! Adik pinter." Jangjun nyengir lebar, ketahuan tujuan utamanya.
"Lu masih modusin Youngtaek? Emang Sujeong aja gak cukup?" Daeyeol protes. Jangjun tuh paling badboy di antara tiga anak Seungyoon-Jaeseok. Gak tau turunan dari siapa. Perasaan Seungyoon, dia gak pernah modusin banyak orang, cukup setia sama satu orang. Atau mungkin Jaeseok, mengingat Jaeseok adalah cassanova di sekolah dan kampusnya. Jika tidak dibooking oleh Seungyoon, mungkin yeoja atau pun namja di kampus mereka akan selalu menempeli Jaeseok.
"Gua gak modusin Sujeong, hyung. Dia aja yang deketin gua."
"Lah gua kira Jangjun hyung sama Myungeun nunna." Bomin nimpalin.
"Apaan njir?! Gua sama Myungeun cuma temen." Protes Jangjun.
"Tapi gua pernah liat lu berdua jalan bareng di Myeongdong." Daeyeol menyelidik.
"Kapan?"
"Seminggu yang lalu."
Jangjun mencoba mengingat. "Oh! Itu awalnya barengan sama yang lain, tapi tinggal gua berdua doang, yang lain pada pulang."
"Bohong amat hyung."
"Kagak njir! Ngapain gua bohong!"
"Terus semalem gua denger lu teleponan sama Ji Suyeon. Modusan baru?" Daeyeol kompor. Demen banget bikin Jangjun kepojok. Kadang tuh Daeyeol lebih sayang Bomin daripada Jangjun. Kalau mereka bertiga berantem, satu-satunya orang yang ngebelain Jangjun cuma Seungyoon, itu pun Seungyoon sebagai penengah karena statusnya sebagai ayah.
"Gua nanya tugas itu. Jangan bikin hoax dah." Jangjun mulai emosi.
"Kalau begini mah, gua gak rela Youngtaek hyung sama lu hyung. Bisa bahaya."
"Weh bocah! Bahaya apaan?! Gua kagak gigit njir!"
"Iya tapi kepolosan Youngtaek hyung terancam." Bomin jadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu. "Siapa yang ajarin Youngtaek hyung tentang 'proses bikin anak' selain Jangjun hyung!"
Jangjun kicep. "Itu gua kelepasan ngomong, bercanda doang, astaga."
"Choi Jangjun!" Oke, kali ini Daeyeol yang mulai murka.
"Astaga hyung! Sumpah! Gua gak sengaja. Bercanda, masa gak boleh bercanda." Jangjun masih punya rasa takut sama Daeyeol sebagai adik.
"Tapi gak harus bercanda kaya gitu!"
"Elah hyung, kita juga sering bercanda kaya gitu."
"Sama gua boleh, tapi ini anak orang lain, kalau dia kehilangan kesuciannya gara-gara lu gimana?"
"APA?! Kalian ngomongin apa?" Jaeseok muncul dengan aura menyeramkan khas Kushina, ibunya Naruto kalau lagi ngamuk.
Seketika hening. Gak ada yang berani ngomong. Takut kena omel atau paling parah dicincang samaJaeseok.
"Choi Daeyeol, tadi kamu ngomong apa?!"
"Enggak eomma."
"Jangan bohong! Tadi eomma dengar kehilangan kesucian? Kamu hamilin anak siapa, eoh?!"Muka Jaeseok udah merah, kalau di film Naruto, mungkin Jaeseok udah sage mode.
"Bukan Daeyeol hyung, tapi Jangjun hyung." Bomin sengaja. Seratus persen Jangjun yakin. Demen bener dah bikin abang-abangnya tersiksa.
"APA?! CHOI JANGJUN!"
"Enggak eomma! Sumpah demi Jungyeop harabeoji!
"Ada apa dengan uri harabeoji?" Seungyoon muncul sambil memakai jas, bersiap ke kantor.
"Kata Bomin, Jangjun hamilin anak orang." Jaeseok mengadu sambil menunjuk-nunjuk anaknya yang paling tampan.
"Jangjun-ah, benarkah itu?"
"Enggak! Appa percaya sama Bomin?" Jangjun bisa dengar Bomin terkikik kecil dibelakangnya. Adek kurang ajar! Liat aja nanti! Jangjun dendam kesumat sama adik sendiri.
"Lalu sebenarnya ada apa?" Seungyoon dengan tenang namun tegas bertanya.
"AH! Kami mau berangkat! Hari senin pasti macet!" Daeyeol memberi kode kepada kedua adiknya untuk angkat kaki sebelum Jaeseok murka.
"Yak! Kalian belum menjelaskan apa-apa!" Teriak Seungyoon.
"Choi Jangjun! Eomma tunggu penjelasan mu!"
"Annyeong eomma! Appa! Kami berangkat dulu!" Ucap mereka bersamaan. Rusuh, buru-buru keluar rumah dan menjalankan mobil. Bomin ikut Daeyeol karena Bomin belum punya surat izin mengemudi mobil. Jangjun melambaikan jari tengah pada adiknya sebelum mobil mereka terpisah di ujung gang.
"Ada apa dengan anak-anak kita?" Seungyoon menyeruput kopi buatan Jaeseok.
"Entah, pada bandel semua."
Seungyoon tertawa, "Namanya juga anak remaja, maklumi saja, sayang."
Jaeseok berdecak. "Aku khawatir dengan mereka."
Seungyoon meraih tanganJaeseok lalu menggenggamnya. "Mereka anak yang baik, sayang, kita harus percaya dengan mereka. Aku yakin ketiga anak kita adalah anak yang berani untuk bertanggung jawab."
"Maksud mu, Jangjun hamilin anak orang beneran? Terus dia harus tanggung jawab?"Jaeseok kepalang. Salah mengerti maksud suaminya.
"Bukan, sayang." Seungyoon itu punya kesabaran yang tinggi untuk menghadapi istrinya yang kadang punya tingkat kekhawatiran di atas normal. "Sepertinya kau butuh liburan."
Jaeseok menyun. Gemesin. Pengen Seungyoon cium, tapi takut kebablasan, udah siang, nanti terlambat ke kantor, gak gak lucu CEO terlambat, harus kasih contoh yang baik buat anak buahnya. "Harusnya aku yang bilang begitu, kau terlalu sibuk bekerja."
Seungyoon mencium tangan Jaeseok lembut. "Aku bekerja untuk keluarga kita juga, sayang."
"Tapi kau harus jaga kesehatan, sayang."
Seungyoon mengangguk. "Jangan pasang wajah cemberut gitu, nanti aku khilaf."
"Kalau khilaf, yah khilaf saja." Jaeseok menantang dengan tatapan nakalnya, membuat Seungyoon harus menahan napasnya.
"Jangan menggoda ku,sayang, aku harus ke kantor." Tangan lebar Seungyoon menangkup wajah Jaeseok.
"Aku tidak menggodamu." Jaeseok menyeringai. Jujur, dirinya 'merindukan' Seungyoon, tapi apa boleh buat, tanggung jawab sebagai CEO itu besar dan waktu yang dikorbankan juga besar.
"Ehmm." Seungyoon mengehela napas sebelum mencuri satu ciuman di bibir Jaeseok. "Aku akan pulang cepat malam ini."
"Kau yakin?"
"Iya sayang." Tubuh Jaeseok tertarik ke dalam pelukan hangat Seungyoon. Suaminya itu belum pakai parfum jadi Jaeseok masih bisa mencium bau alami tubuh pria yang dia cintai.
.
.
.
Note 15 : Panggilan Jaeseok adalah ParkJumma, jadi kalau di dorm Golden Child, Jaeseok yang masak, sifatnya kaya 'eomma' tapi bisa jadi boyfriend-able.
Note 16 : Woollim stan kadang pairing Jangjun dan Sujeong karena mereka seumuran. Lovelyz Jin atau Kim Myungeun pernah nyebut Jangjun saat Lovelyz first win. Ji Suyeon itu salah satu member Weki Meki, saya masukan karena WeMe pernah satu acara bareng Golden Child di Weekly Idol. Dan Jungyeop sudah pasti adalah our CEO!
Note 17 : Saya suka Naruto, jadi maaf kalau kadang saya bawa-bawa Naruto disini.
Note 18 : Maafkan jika banyak typo.
Note 19 : Silahkan vote, fav, dan comment fanfiction ini.
Damdadi!
