Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART XIX-
Wu Chanyeol membuka matanya dengan tiba-tiba ketika ia merasakan sebuah lengan memeluknya dari belakang. Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa pedih setelah dipaksa terbuka dari tidurnya, Chanyeol melirik ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 03.00 sore. Pemilik tangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah pasangannya Wu Yifan yang tidak seperti biasanya sudah pulang dari kantornya.
Chanyeol yang saat itu tanpa sengaja ikut jatuh tertidur ketika menemani bayi kembarnya tidur siang, memastikan keduanya masih pulas sebelum membalikkan tubuhnya. Yifan memejamkan matanya dengan wajah pucat dan hidung memerah.
"Kau sudah pulang?" Tanya Chanyeol dengan suara bassnya yang terdengar sedikit serak.
Yifan mengeratkan pelukannya dan semakin menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher Omeganya. Chanyeol bisa merasakan temperatur tubuh Yifan yang menghangat.
"Kau demam. Bagaimana kalau kau berganti pakaian lalu aku akan menyiapkan obat untukmu?" Tanya Chanyeol lagi.
Yifan tampaknya masih enggan melepaskan pelukannya, namun ketika Chanyeol menggerakkan tubuhnya, sang Alpha hanya bisa menurut.
Dengan hati-hati Chanyeol memindahkan Yixian dan Chan Yi yang terlelap di atas tempat tidurnya ke dalam box bayi mereka sebelum beranjak ke dapur. Pagi itu, Yifan sudah berangkat dengan wajah pucat dan bersin tiada henti. Chanyeol sudah berusaha menahan pemuda itu agar tidak berangkat kerja, namun Yifan memastikan bahwa ia akan meminum obat untuk mengurangi gejala flu yang menyerangnya. Dan entah Yifan sudah benar-benar meminum obatnya atau flu itu berhasil hinggap di tubuhnya, keadaan Yifan justru memburuk ketika ia pulang dari kantor lebih awal.
"Kau sudah makan siang?" Tanya Chanyeol ketika Yifan sudah mengganti kemejanya dengan kaos lengan panjang dan celana bergaris.
Yifan mengangguk dan bergelung di tempat tidur. Sebelumnya ia sudah menelan sebuah pil yang Chanyeol berikan untuk mengurangi demam dan sakit kepala yang dideritanya.
Chanyeol kemudian mengecup pelipis Yifan yang tidak tertutup selimut ketika pada saat yang bersamaan salah satu bayinya terbangun dari tidur siangnya dan mulai menangis. Dengan terburu-buru Chanyeol mengangkat Yixian yang rupanya sudah puas tidur dan popoknya basah. Tidak ingin menganggu Yifan ataupun Chan Yi yang masih terlelap, Chanyeol membawa Yixian ke kamar bayi yang sudah mereka siapkan.
"Papa sedang sakit. Kau tidak boleh berisik, kay?" Pesan Chanyeol pada Yixian yang sesekali masih merengek ketika Ibunya itu sedang mengganti popoknya.
Setelah berlatih dengan cukup, Chanyeol sudah tidak terlalu canggung dalam mengurus bayinya –meskipun ia tetap kewalahan ketika kedua bayinya itu menangis bersamaan atau meminta perhatiannya sekaligus. Mrs. Park dan Mrs. Wu juga sudah mengurangi frekuensi kunjungan mereka ke apartemen itu karena Chanyeol tidak ingin bergantung pada mereka. Jadilah pada siang hari, ia akan tinggal bersama asisten rumah tangga yang akan mengerjakan tugasnya selama beberapa jam sebelum meninggalkan Chanyeol bersama kedua bayinya di apartemen sendirian. Tidak seperti masa kehamilannya di mana Chanyeol lebih banyak merasa bosan di dalam rumah, kini ia merasa lebih terhibur ketika waktunya ia habiskan untuk mengurus kedua bayinya itu.
"Ayo kita siapkan makan malam untuk Papa." Ujar Chanyeol sambil membetulkan rompi gendongan di dadanya. Bahunya yang selama ini terlatih untuk bermain baseball atau berenang ia gunakan untuk menyangga beban putra sulungnya yang ia gendong di depan dadanya. Dengan begitu, Chanyeol bisa melakukan aktivitas lain tanpa harus meninggalkan bayinya bermain sendirian.
"Ahgooo. Dadada." Yixian yang berusia hampir enam bulan sudah mulai senang berceloteh dan memegang benda apapun yang ada di dekatnya. Chanyeol memastikan kedua tangan dan kaki Yixian tidak bergelantungan di gendongannya ketika ia mengaduk bubur di dalam panci.
"Appa, Yixian. Panggil "Ap-pa"." Kata Chanyeol tanpa menghentikan gerakan tangan kanannya yang masih mengaduk bubur abalome yang resepnya ia temukan di internet.
"Ahgoo." Yixian menyahutnya.
Chanyeol terkikik mendengar celotehan bayinya. "Bukan Ahgoo, Ap-pa."
Panggilan untuk Chanyeol awalnya menjadi topik perdebatan sengit antara dirinya dengan Yifan. Sang Alpha bersikeras bahwa putra mereka seharusnya memanggil Chanyeol dengan panggilan Mama atau Mommy, tetapi Chanyeol ingin dipanggil Appa.
"Kenapa, Chanyeol? Mommy is cute." Desak Yifan.
"I'm not cute." Sanggah Chanyeol yang akhirnya dibalas oleh desahan nafas dari Yifan yang menyerah.
Chanyeol mengecap rasa bubur yang dibuatnya sebelum mengernyit. Ia merasa ada yang kurang dari rasa bubur itu. Dengan penuh keraguan dan kemantapan hati pada saat yang bersamaan, Chanyeol meraih garam dan menaburkannya pada bubur itu. Dan belum sempat pemuda itu mencicipinya lagi, tangisan yang bersumber dari kamarnya membuat Chanyeol mematikan kompor dan berlari tergopoh-gopoh dengan Yixian di gendongannya.
"Sssshhhh." Chanyeol mengangkat Chan Yi dari box tempat tidurnya dan menggendongnya keluar.
Yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah Yixian ikut menangis ketika Chanyeol menurunkannya dari gendongan dan meletakkannya di kereta bayi.
"Jangan menangis, Yixian. Appa perlu mengganti popok adikmu." Kata Chanyeol sambil berusaha mengganti popok putra keduanya secepat mungkin.
Tetapi Yixian yang masih belum mengerti dengan kalimat Appanya itu memilih untuk menangis lebih keras. Chanyeol merasa semakin panik ketika Chan Yi juga ikut menangis mendengar kakaknya melakukan hal yang sama.
"Done. urgh." Chanyeol melempar popok kotor itu ke tempat sampah sebelum mengangkat kedua bayinya ke dalam gendongan.
Menggendong dua orang bayi secara bersamaan bukanlah perkara mudah, apalagi jika kedua bayi itu tumbuh terlalu sehat dan memiliki beban yang cukup berat untuk kedua lengan Chanyeol. Namun si Omega ini sepertinya tidak memiliki pilihan lain karena begitu bayinya itu ia rengkuh, mereka langsung berhenti menangis.
.
.
.
Ketika jam makan malam tiba, Chanyeol membuat kedua bayinya sibuk dengan membuat mereka memeluk botol susu mereka masing-masing dan meletakkan mereka di box bayi yang ada di kamar yang dulunya adalah ruang kerja Yifan. Pemuda itu kemudian berlari ke dapur dan mengangkat nampan berisi bubur yang sudah ia siapkan untuk sang Alpha yang sedang terserang flu itu.
"Yifan..." Chanyeol membuka pelan selimut yang membungkus tubuh berkeringat Yifan dan menepuk bahunya pelan.
Sang Alpha membuka matanya perlahan dan melihat ke sekeliling. Demamnya sudah mulai turun namun sakit kepala yang Yifan rasakan masih tinggal. Ditambah kini kedua hidungnya mulai tersumbat.
"Aku membuatkan bubur untukmu. Kau bisa memakannya lalu minum obat." Kata Chanyeol sambil membantu Yifan untuk duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
Yifan memberikan senyum kecil pada Chanyeol ketika pemuda itu meletakkan nampan berisi semangkuk bubur di atas pahanya.
"Di mana anak-anak?" Tanya Yifan sambil meraih sendok dan menyantap bubur buatan Chanyeol.
Asin. Namun Yifan tidak menyuarakan isi pikirannya dan terus memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya. Tidak seperti orang kebanyakan lainnya yang memanfaatkan keadaan sakit mereka untuk bersikap manja atau bermalas-malasan, Yifan justru ingin cepat sembuh dan bisa beraktivitas normal kembali.
Chanyeol memperhatikan ekspresi wajah Yifan ketika mencoba buburnya. Ia tidak yakin buburnya itu cukup enak, namun setidaknya Yifan harus memakan sesuatu sebelum meminum obat.
"Mereka juga sedang makan malam. Aku memindahkan mereka ke kamar bayi agar tidak menganggumu. Mereka baik-baik saja—" Belum sempat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, suara tangisan bayi menggema dari luar.
"errrrr –atau tidak." Chanyeol segera berlari menuju kamar bayi kembarnya untuk melihat keadaan mereka. Ia sepertinya harus menyusun strategi ulang untuk mengurus tiga orang sekaligus di rumah ini tanpa menyakiti salah satunya.
Chanyeol bernafas lega ketika Yixian menangis karena botolnya menggelinding dari pelukannya. Yixian, yang merupakan putra sulung dari keluarga Wu itu kembali sibuk menyedot susu dari botol ketika Chanyeol menyerahkannya kembali padanya.
Ini akan menjadi malam yang panjang bagi Chanyeol.
.
.
.
Setelah beristirahat total di rumah selama dua hari, Yifan akhirnya bisa kembali berangkat ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya. Flu yang menyerangnya sudah menghilang dari tubuhnya berkat istirahat yang cukup dan juga obat-obatan yang Chanyeol jejalkan padanya. Yifan merasa bersalah ketika ia tidak bisa membantu Omeganya itu untuk mengurus kedua putra mereka yang begitu aktif dan terkadang sulit ditangani.
Sepulang dari kantor hari itu, Yifan mendapati Chanyeol baru selesai memakaikan popok pada Chan Yi yang menendang-nendangkan kakinya di udara sementara tubuhnya terlentang di atas box. Yixian yang sudah dalam keadaan rapi sedang memeluk botol susunya di dalam kereta bayi. Kedua mata cemerlang yang diwarisinya dari sang Appa berbinar ketika melihat Yifan berdiri di ambang pintu. Yifan memberikan senyum Ayah terbaiknya pada sang putra sulung dan menciumi wajahnya.
"Butuh bantuan?" Tanya Yifan sebelum mengalihkan perhatiannya pada sang Omeda dan mengecup pipi Chanyeol singkat. Tidak lupa ia juga melakukan hal yang sama pada Chan Yi yang sibuk menggumam.
Kedua kantung mata pemuda itu terlihat menghitam dengan raut wajah meredup. Chanyeol pasti kurang tidur dan kelelahan karena harus mengurus tiga orang sekaligus di dalam rumah itu dalam beberapa hari ini.
"Mereka baru saja selesai mandi. Mereka hanya perlu menghabiskan susunya dan pergi tidur." Jelas Chanyeol tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sekarang sibuk mengancingkan piyama tidur Chan Yi. Ia sungguh terlihat seperti seorang profesional sekarang.
"Bagaimana kalau aku yang menemani mereka tidur sementara kau membersihkan diri?" Tawaran yang Yifan berikan sungguh menggiurkan bagi Chanyeol. Pemuda itu sudah membayangkan untuk mandi dengan air hangat dan bergelung di tempat tidur setelahnya. Tetapi ia tidak bisa serta merta menerima tawaran itu karena Yifan baru saja pulang dari kantor dan ia juga pasti lelah.
"Aku akan melakukannya nanti. Mereka susah sekali diajak tidur sekarang." Ujar Chanyeol sambil mengangkat tubuh Chan Yi dan menempelkannya ke dada.
Yixian yang melihat pemandangan itu kemudian menangis dan melepaskan botol susunya. Yifan meraih putra sulungnya itu dan menepuk punggungnya pelan. Namun Yixian belum juga berhenti menangis. Ia terus menengok ke arah Chanyeol.
"Hey, ini Papa. Kenapa, Yixian?" Yifan kemudian mengguncangkan sedikit tubuhnya untuk menenangkan putranya, namun Yixian masih tetap menangis.
Setelah membetulkan letak gendongan Chan Yi pada telinga kirinya, Chanyeol kemudian mengulurkan tangan kanannya pada Yixian yang masih menangis dengan menyambut tangan Ibunya.
"Kau tidak bisa—" Yifan sudah akan menyanggah ide Chanyeol untuk menggendong mereka berdua sekaligus. Namun Yifan sepertinya melewatkan salah satu talenta Chanyeol yang muncul sejak si kembar tumbuh di samping mereka. Menggendong dua bayi sekaligus sudah bukanlah hal yang merepotkan bagi Chanyeol.
Yixian yang akhirnya bisa bersandar pada dada lebar Ibunya perlahan-lahan mulai lelah dan matanya sayu. Keadaan Chan Yi juga tidak jauh berbeda. Selain karena pelukan Chanyeol, juga karena gerakan berayun yang membuat mereka perlahan-lahan mengantuk.
Yifan yang sesekali menawarkan diri untuk menggendong salah satu bayinya pada akhirnya hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang menghangat. Ia punya seorang Omega yang sempurna dan anak-anak di dalam pelukannya. Apalagi yang ia inginkan di dunia ini jika segalanya sudah terpampang di hadapannya?
Hampir tiga puluh menit, lengan Chanyeol yang sudah mulai kebas akhirnya meletakkan bayinya yang sudah terlelap di box bayi mereka. Chanyeol meraih dua buah paciefier atau kempeng yang digunakan untuk membantu kedua bayinya terlelap dengan menghisapnya. Dan ketika Chanyeol membereskan pakaian kotor dan perlengkapan bayi-bayinya, Yifan masih berdiri di tempatnya dan mengawasi setiap gerak-gerik Chanyeol.
"Kau tidak mau mandi atau apa?" Tanya Chanyeol tanpa menghiraukan tatapan Yifan padanya.
"Mau mandi bersama?" Tanya Yifan sambil berjalan mendahului Chanyeol dan mengedipkan salah satu matanya.
Chanyeol mendengus dan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang Alpha.
.
.
.
"Kita tidak seharusnya lama-lama di sini." Ujar Chanyeol sambil menyamankan diri dengan menyandarkan punggungnya pada dada bidang Yifan di belakangnya.
Yifan tersenyum dan menggerakkan tangannya di dalam air untuk mengusap paha Chanyeol agar pemuda itu semakin rileks. Mereka baru masuk ke dalam bath up selama lima menit dan Chanyeol sudah merasa bahwa mereka sudah berada di sana terlalu lama.
Air hangat ditambah dengan garam mandi beraroma lavender yang Yifan siapkan malam itu membuat Chanyeol ingin berendam selama mungkin, tetapi kepalanya terus dipenuhi dengan bayangan Yixian dan Chan Yi yang bisa terbangun sewaktu-waktu.
Kecupan Yifan di leher Chanyeol membuat pemuda itu membuka matanya. Ia kemudian memiringkan kepalanya untuk menyambut pagutan bibir Yifan di bibirnya. Kesibukan mengurus bayi kembar mereka membuat keduanya jarang memiliki momen seperti ini.
"Apa kita perlu menyewa baby sitter?"Tanya Yifan setelah melepaskan bibir Chanyeol yang kini berwarna kemerahan dan basah terkena saliva.
Chanyeol mengernyitkan dahinya. "Kenapa kita harus melakukannya? Apa aku tidak cukup baik dalam mengurus mereka?"
Yifan meraup bibir ranum milik Chanyeol sekali lagi sebelum menjawab. "Justru karena kau terlalu baik dalam mengurus mereka sampai-sampai kau melupakan dirimu sendiri." Kata Yifan.
Chanyeol membalik tubuhnya hingga kini ia berhadapan dengan Yifan di dalam bath up itu.
"Kau tidak mau kembali ke kampus?"
Chanyeol memandang Yifan yang kini meletakkan telapak tangan kanannya di pipi Chanyeol. Pemuda itu tanpa sadar menghela nafas. Tidak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan betapa rindunya Chanyeol dengan tempat kuliah, teman-teman, dan permainan olahraga kegemarannya. Tapi tidak ada satu pun dari kegiatan itu pula yang sanggup mengalahkan dedikasi Chanyeol sebagai orang tua bagi bayi-bayinya.
"Bukankah semester baru sudah akan dimulai?"
Chanyeol mengangguk. "Tapi aku tidak mau Yixian dan Chan Yi diurus baby sitter. Aku ingin mengurus mereka sendiri."
Yifan menarik wajah Chanyeol dan lagi-lagi menyesap bibir manisnya. Kemana perginya Chanyeol yang manja dan suka merengek padanya?
"Tapi aku juga tidak ingin kau meninggalkan pendidikanmu begitu saja. Aku mencintai kalian, dan kau benar-benar sudah menjadi orang tua yang sempurna bagi anak-anak kita."
Kali ini Chanyeol tersenyum mendengar kalimat Yifan. Ada kebanggaan tersendiri mendengar hal itu dari mulut sang Alpha. Chanyeol menggigit bibir bawahnya sambil merenungi kalimat Yifan.
"Bagaimana kalau kita menunggu sampai mereka melewati ulang tahun mereka yang pertama dan kita putuskan siapa yang akan mengasuh mereka selama kita tidak di rumah?" Ujar Chanyeol.
Yifan mendekatkan dahinya pada dahi Chanyeol sebelum berbisik. "Deal."
Chanyeol membuka kedua lengannya dan mengalungkannya pada leher Yifan.
"I love you." Pungkasnya sebelum meraup bibir Yifan ke dalam ciuman yang dalam.
Yifan tidak sempat membalas pernyataan Chanyeol sebelumnya ketika kini ia sibuk membalas lumatan bibir Chanyeol. Dengan posisi keduanya yang berhadapan dengan tubuh saling menempel membuat bagian bawah tubuh mereka tanpa sengaja saling bersentuhan.
Chanyeol mengerang ketika kejantanannya bersentuhan dengan milik Yifan dan menciptakan sensasi menyenangkan yang menjalari tubuhnya. Dengan nafas tersengal akibat ciuman panas dengan Yifan, Chanyeol memundurkan wajahnya dan menatap kedua mata Yifan.
"I really want to feel you inside me, but I haven't taken my pill." Bisik Chanyeol tepat di samping telinga kiri Yifan sebelum tangan kanannya bergerak ke bawah dan menyatukan kejantanan mereka dalam genggamannya.
Yifan mengerang ketika menyadari gerakan Chanyeol yang tidak ia duga sebelumnya.
"Chanyeol..." Yifan berusaha mengontrol gerakan pinggulnya yang mengikuti ritme gerakan tangan Chanyeol pada kejantanan mereka yang bergesekan.
Chanyeol sendiri menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya tanpa menghentikan gerakan tangannya untuk mengejar klimaks.
Yifan menikmati pemandangan leher jenjang Chanyeol di hadapannya sebelum ia memajukan wajahnya dan menghisap leher tanpa cela itu. Yifan bahkan sengaja meninggalkan jejak hisapan dan gigitan di sana untuk semakin menambah friksi di antara mereka.
Rangsangan Yifan pada lehernya membuat Chanyeol tidak lagi bisa menahan diri dan menyerah pada orgasmenya. Lelehan cairan kental berwarna putih keluar dari ujung kejantanannya namun Chanyeol tidak menghentikan gerakan tangannya sebelum Yifan merasakan hal yang sama. Beberapa menit kemudian Yifan akhirnya mencapai puncaknya ketika Chanyeol menyentuh ujung kejantanan Yifan menggunakan ibu jarinya.
Nafas keduanya tersengal dengan tubuh yang tidak hanya berbalur air tetapi juga keringat dari kegiatan singkat mereka di dalam bath up. Setelah mengumpulkan kembali energi mereka, Yifan bangkit dan menyalakan shower. Ia mengulurkan tangannya pada sang Omega agar bergabung dengannya untuk membilas diri.
Sementara itu Chanyeol buru-buru berlari ke arah baby monitor yang mereka letakkan di atas meja nakas untuk mengawasi kamar si kembar setelah ia memakai bathrobenya. Pemuda itu sedikit bernafas lega ketika Yixian dan Chan Yi masih terlelap dalam tidur mereka.
.
.
.
"Pa-pa."
"Aghooo."
"Pa-pa."
"Ack! Bababab."
"Baba? Kau mau memanggilku Baba saja?"
"Pffftttttthahaha." Chanyeol sudah tidak bisa menahan tawanya ketika tanpa sengaja mendengar pembicaraan Yifan dengan putra bungsu mereka, Chan Yi.
Chanyeol yang baru saja mengganti popok Yixian ketika ia kembali ke dapur, Yifan yang sudah bersiap dengan kemeja untuk berangkat ke kantor terlihat sedang menggendong Chan Yi dan mengajarinya untuk memanggil "Papa".
Di usia mereka yang ke tujuh bulan, perkembangan Yixian dan Chan Yi terlihat cukup baik dan bahkan mereka sudah mulai bergumam dan berceloteh. Mereka juga sudah bisa duduk tanpa bantuan. Jadilah kini apartemen keluarga Wu itu penuh dengan suara teriakan dan celotehan dari kedua bayi itu yang saling bersahutan dengan suara melengking.
"Kau pulang jam berapa hari ini?" Tanya Chanyeol sambil meletakkan Yixian pada tempat duduk yang sudah khusus ia siapkan untuk kedua bayi kembarnya di meja makan.
"Seperti biasa. Kenapa?" Tanya Yifan.
Chanyeol kemudian menggeleng. "Ini waktunya belanja bulanan. Aku akan mengajak mereka berdua hari ini."
"Aku akan pulang lebih awal kalau begitu." Kata Yifan.
"Tidak usah. Aku akan mengajak Sehun saja. Bocah itu harus belajar menjadi paman yang baik." Kata Chanyeol.
Yifan tersenyum dan mengacak rambut Chanyeol. "Jangan terlalu kejam padanya."
"Aku tidak janji." Ujar Chanyeol sambil mengangkat bahunya.
.
.
.
Sejak memiliki si kembar, Chanyeol memang jarang menghabiskan waktu di luar apartemen untuk menemui teman-temannya. Juga tidak terkecuali dengan Sehun. Jika dulu mereka hampir tidak terpisahkan dengan satu sama lain, kini keduanya harus benar-benar menyempatkan waktu untuk sekedar bertemu. Yifan sering mengusulkan pada Chanyeol bahwa ia bisa saja menitipkan si kembar pada Mama Wu jika ingin menghabiskan waktu dengan teman-temannya sesekali. Namun Chanyeol yang masih menikmati mengurus bayi-bayinya itu mengabaikannya.
Setelah selesai berbelanja kebutuhan sehari-hari dan berbagai keperluan untuk si kembar, Chanyeol mentraktir Sehun di restoran favorit mereka. Dengan muka masam –memang dasarnya wajah Sehun sering terlihat ketus, pemuda itu menyeruput minuman bubble tea favoritnya sambil mengawasi gerak gerik Yixian yang sedang menghisap susu dari botolnya.
"Apa?" Chanyeol menendang kaki Sehun di bawah meja.
Sehun meringis kesakitan. "Memangnya apa yang aku lakukan?"
"Kenapa kau memandangi bayiku seperti itu?" Tanya Chanyeol sambil menggembungkan kedua pipinya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Sehun tanpa perasaan bersalah.
"Aish." Chanyeol lagi-lagi berusaha menendang kaki Sehun namun kali ini berhasil dihindari oleh sang empunya.
Chanyeol kemudian tanpa sengaja menyadari sebuah cincin platinum yang melingkar di jari manis Sehun. Pemuda itu bukanlah tipe orang yang gemar memakai accessoris seperti itu.
"Itu apa?" Tanya Chanyeol sambil menunjuk pada benda yang ia maksud.
Sehun yang sebelumnya sedang menggoda Yixian kemudian memainkan cincin itu di antara jemarinya.
"Kau belum dengar?"
Chanyeol mengernyit yang membuat Sehun menghela nafas.
"Ikatanku dengan Jongin sudah memudar. Kami sudah terlambat." Kata Sehun dengan wajah sendu.
Chanyeol tiba-tiba merasa bersalah karena sudah menyia-nyiakan sahabatnya itu dan tidak ada di sampingnya ketika ia membutuhkannya.
"Lalu?" Chanyeol masih belum mengerti dan ia tahu Sehun belum selesai dengan ceritanya.
Sehun menggigit bibir bawahnya. "Kami memutuskan untuk memulai semuanya kembali dari awal. Dan cincin ini hanyalah pengganti sementara ikatan itu."
Senyuman kemudian mengembang di wajah Sehun. Chanyeol mau tidak mau ikut melakukan hal yang sama.
"Jadi kalian sudah bersama lagi?"
Sehun mengangguk. Chanyeol tersenyum mendengarnya.
"Aghhooo." Yixian yang sudah menghabiskan susunya tiba-tiba melemparkan botol kosongnya ke arah Sehun yang lagi-lagi harus meringis kesakitan karena botol itu mengenai wajahnya.
"Yah!" Sehun sudah menggerutu ketika Chanyeol tidak bisa menahan tawanya.
Sementara Chan Yi justru tertidur pulas di dalam gendongan Chanyeol dan sama sekali tidak bergeming ketika terjadi keributan di sekitarnya.
.
.
.
"Menurutmu Yixian mirip siapa?"
"Aku."
"Pffttt. Kalau Chan Yi?"
"Aku."
"Yah!" Chanyeol menyikut rusuk Yifan menggunakan ujung lengannya ketika sang Alpha menjawab pertanyaannya dengan asal-asalan.
"Ssshhh." Yifan memberikan isyarat dengan telunjuk jari di depan mulutnya agar Chanyeol tidak berisik.
Kedua putra kembar mereka baru saja jatuh tertidur dengan susah payah dan Yifan tidak ingin membuat perjuangan mereka sia-sia dengan membuat salah satu atau keduanya terbangun lagi.
"Aku mau mandi." Chanyeol kemudian berlalu dari kamar bayinya setelah sebelumnya meninggalkan kecupan manis pada pipi gembul Yixian dan Chan Yi bergantian.
"Yes, princess." Ujar Yifan yang segera dihadiahi death glare dari sang Omega.
Ketika Chanyeol menyelesaikan kegiatan rutinnya sebelum tidur yaitu mandi, Yifan terbaring dengan posisi miring di tempat tidur. Tangan kanannya ia gunakan untuk menyangga kepalanya. Chanyeol menaikkan salah satu alisnya melihat hal itu.
Pada jumat malam seperti ini Yifan memang terlihat lebih santai dari biasanya karena pada sabtu dan minggu ia tidak perlu berangkat ke kantor. Di supermarket tadi, Chanyeol sempat menyambar sebuah dvd film horror yang rencananya akan ia tonton malam ini.
Dengan hanya memakai handuk yang melilit bagian pinggang ke bawahnya, Chanyeol mengaduk isi lemarinya untuk meraih sepasang piyama. Kedua mata Yifan tidak beralih darinya.
"Kau tidak mandi? Aku punya dvd baru, ayo kita tonton setelah ini." Kata Chanyeol sambil memakai piyamanya di hadapan Yifan.
"Uhm, aku punya rencana lain dan aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu." Kata Yifan.
Chanyeol melempar handuknya pada tumpukan pakaian kotor dan menghampiri Yifan. Kejutan dari Yifan tidak pernah membuatnya kecewa.
"Ini." Yifan bangkit dan melirik ke arah meja nakas di mana segelas air dan sebuah pil sudah tersedia di atas nampan.
Chanyeol meraih pil itu dan menyadari bahwa pil itu adalah pil kontrasepsi yang biasa ia konsumsi sebelum tidur.
"Aku hanya tidak ingin kau lupa meminumnya." Kata Yifan.
Chanyeol menarik salah satu sudut bibirnya. "Kalau aku tidak mau meminumnya?"
Yifan menaikkan salah satu alisnya sebelum mendekatkan wajahnya pada daun telinga kiri Chanyeol.
"Kalau begitu, Yixian dan Chan Yi akan segera mempunyai adik."
Tawa Chanyeol meledak saat itu juga hingga ia tanpa sengaja menjatuhkan pil yang masih terbungkus itu ke bawah. Dengan rasa geli di perutnya Chanyeol berusaha mencari keberadaan pil itu. Barulah ketika ia menemukannya di bawah kolong tempat tidur mereka tawa Chanyeol terhenti.
Chanyeol menatap wajah Yifan di hadapannya sambil membuka bungkus pil itu perlahan. Pandangan mata keduanya bahkan tidak terputus ketika Chanyeol meraih segelas air yang Yifan siapkan dan meneguknya untuk mengalirkan pil itu ke dalam tubuhnya. Begitu Chanyeol meletakkan kembali gelas itu di atas meja nakas, Yifan meraih tangan Chanyeol.
"Aku tiba-tiba menjadi gugup." Protes Chanyeol sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Biasanya jika ingin melakukan hubungan seks, mereka akan melakukannya begitu saja. Namun entah kenapa dengan sikap Yifan yang seperti ini justru membuat jantung Chanyeol berdebar lebih kencang. Ia yakin jika saja tulang rusuknya itu tidak cukup kuat, jantungnya itu pasti akan melompat keluar.
"Bukankah menyenangkan? Setidaknya aku masih bisa membuatmu gugup." Kata Yifan sambil melepas kancing kemejanya satu per satu.
Chanyeol menggigit bibir bawahnya. Ia kemudian menarik kepala Yifan agar mendekat padanya dan meraup bibir itu dengan selingan gigitan-gigitan kecil di antaranya. Dan ketika Yifan mulai melucuti piyama yang baru beberapa menit lalu ia pakai itu, Chanyeol melirik ke arah baby monitor yang menampakkan bayi kembarnya yang tertidur pulas.
Ciuman Yifan kemudian terlepas dari bibirnya dan menuruni pipi, dagu hingga ke lehernya. Chanyeol mengerang ketika Yifan menggigit tanda klaim yang menghiasi lehernya. Ciuman Yifan kembali pada bibir Chanyeol yang memerah dan penuh.
"You are so pretty." Bisik Yifan sambil mengusap dahi Chanyeol untuk menyingkirkan rambut pendek Chanyeol agar tidak menutupinya.
"I'm not—mmphh" Yifan menelan ketidaksetujuan Chanyeol dengan melumat bibir itu sekali lagi. Chanyeol memukul lengannya sebagai balasan.
Ketika Yifan membuka kemejanya, tato bertuliskan Loey yang ada di dadanya terlihat mengkilap dan Chanyeol tanpa sadar menggerakkan tangannya untuk menyentuhnya. Tato itu adalah salah satu kado ulang tahun terbaik yang pernah Chanyeol terima. Dan seolah mengikuti instingnya, Chanyeol kemudian bangkit dan mengecup pelan dada Yifan membuat sang Alpha menahan nafasnya.
Tidak berhenti sampai di sana, tangan keduanya mulai bergerilya untuk melucuti semua pakaian yang menempel pada tubuh mereka. Sulit membayangkan bahwa mereka akan punya waktu semalam penuh untuk melakukan hal ini mengingat kedua bayi kembar mereka yang pasti akan terbangun setiap saat, namun keduanya ingin menikmati momen ini selama yang mereka bisa.
Chanyeol sudah mulai mengeluarkan pheromonenya yang beraroma manis ketika Yifan membuka kedua pahanya. Kedua mata Omega itu terpejam ketika Yifan menikmati pemandangan di hadapannya. Tubuh Chanyeol yang tidak tertutup satu helai pun dengan keadaan terangsang dan mengeluarkan aroma yang memabukkan menjadi hal yang memenuhi kepala Yifan saat itu.
Tidak ingin membuang waktu, Yifan kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup ujung kejantanan Chanyeol yang sudah menegang. Ciuman itu kemudian semakin turun dan berhenti di lubang Chanyeol yang terkatup rapat. Tubuh Chanyeol berjengit ketika Yifan mengeluarkan lidahnya dan menjilat lubangnya.
"Yifan!" Wajah Chanyeol sudah memerah karena nafsu dan malu ketika Yifan terus menjilati lubangnya dengan sesekali menghisap bongkahan pantatnya.
Kaki jenjang Chanyeol tanpa sengaja menendang bahu Yifan ketika sang Alpha memasukkan lidahnya ke dalam lubang itu untuk menggoda dinding rektumnya. Chanyeol tidak bisa membayangkan keadaannya saat ini. Namun ia hanya bisa mengerang ketika lidah yang terasa kenyal itu terus memanjakannya di bawah sana.
Nafas Chanyeol tersengal dan kedua tangannya mencengkeram sprei putih di sekitar tubuhnya ketika Yifan memasukkan dan mengeluarkan lidahnya.
"Yifan, stop." Yifan kira ia menyakiti Chanyeol, namun pada kenyataannya justru Chanyeol ingin agar ia berhenti karena ia tidak ingin orgasme secepat ini.
Bibir Yifan basah oleh saliva ketika ia memandang Chanyeol yang dadanya naik turun tidak beraturan. Kedua mata Chanyeol yang cemerlang terlihat sayu ketika Yifan menciumi perutnya. Sepertinya Yifan sedang dalam mood untuk menggoda Chanyeol hingga pemuda itu berada di bawah kendalinya. Tapi sikap submissive yang selama ini Chanyeol tunjukan di tempat tidur sepertinya sudah menjadi sifat alami seorang Omega di mana mereka harus tunduk di bawah sang Alpha.
Ketika Yifan berniat untuk memasukkan salah satu jarinya ke dalam lubang Chanyeol yang sudah basah oleh saliva dan juga cairan pelumas yang ia produksi, ia tiba-tiba dikejutkan dengan dorongan tangan Chanyeol pada tubuhnya hingga ia kini terbaring di tempat tidur.
Chanyeol merangkak di atas tubuhnya dan memandang Yifan dengan pupil yang membesar.
"Aku bisa membaca pikiranmu." Kata Chanyeol yang sepertinya sudah pulih dari serangan Yifan pada lubangnya sebelum ini.
Yifan menaikkan salah satu alisnya. Memangnya apa yang ia pikirkan?
Keheranan Yifan berubah menjadi erangan meluncur dari bibirnya ketika Yifan menyaksikan Chanyeol memasukkan salah satu jarinya ke dalam lubangnya sendiri.
"Ah!" Chanyeol menggigit bibir bawahnya ketika ia menggoda lubangnya sendiri. Dinding rektumnya yang sebelumnya sudah Yifan siapkan dengan lidahnya terasa lebih sensitif ketika ia kemudian tanpa ragu-ragu menambahkan jari yang kedua.
Yifan tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari gerakan Chanyeol di atasnya. Meskipun mereka sudah bersama selama hampir dua tahun ini, Chanyeol selalu berhasil untuk mengejutkannya dengan sisi lain dirinya yang tidak pernah Yifan ketahui.
"Does it feel good?" Bisik Yifan sambil mengangkat wajahnya untuk mengecup telinga Chanyeol.
Omega yang akan beranjak ke usia 19 tahun itu menahan desahannya ketika dua titik sensitif tubuhnya disentuh secara bersamaan. Jari ketiga sudah masuk namun Chanyeol tidak yakin ia sudah siap untuk menerima kejantanan Yifan. Maka Chanyeol menambahkan jari kelingkingnya hingga membuat Yifan mengerang hanya dengan melihatnya.
"Yifan.." Panggilan Chanyeol padanya terdengar bagaikan alunan musik paling merdu bagi telinga Yifan kala itu.
Yifan menyentuh jemari Chanyeol yang sedang mempersiapkan lubangnya sendiri dan menariknya keluar. Kesabaran Yifan sudah di ambang batas dan ia tidak yakin ia bisa menahannya lebih lama lagi.
Dengan nafas yang mulai tidak beraturan lagi, Chanyeol meraih kejantanan Yifan yang sudah menegang untuk ia arahkan pada lubangnya yang berkedut. Foreplay yang mereka lakukan sebelumnya terbilang cukup singkat, tapi keduanya sudah tidak sabar lagi.
"AH! NGH!" Chanyeol hampir berteriak jika tidak karena kuku-kuku jemarinya yang menancap di dada Yifan yang membuatnya bisa sedikit bertahan.
Kejantanan Yifan perlahan mulai memasuki lubang anal Chanyeol dan menggesek dinding lembut di dalamnya. Penetrasi awal memang terasa sedikit menyakitkan, tetapi Chanyeol sudah hafal dengan sensasi selanjutnya hingga ia tidak memperdulikan rasa sakit itu.
Sementara itu Yifan rasanya seperti akan meledak ketika kejantanannya dihisap dan dipijat lembut oleh Chanyeol melalui lubangnya. Apalagi dengan posisi Chanyeol yang duduk di atasnya sekarang membuat batang penisnya bisa masuk hingga keseluruhan. Yifan yang biasanya menahan erangannya kini mengeluarkan geraman untuk menyuarkan kenikmatan yang dirasakannya.
"Okay?"
Chanyeol mengangguk dengan cepat untuk menjawab pertanyaan Yifan. Tangan Yifan yang menyentuh kejantanannya membuat Chanyeol sedikit melupakan rasa sakit di lubangnya.
Chanyeol menyentak tangan Yifan dari kejantanannya dan bersiap untuk bergerak. Ia tidak ingin orgasme sebelum merasakan penis Yifan menumbuk prostatnya.
"Hah!" Chanyeol tidak sadar ketika ia mengeluarkan desahan dengan suara bassnya.
Yifan begitu ingin melihat gerakan Chanyeol yang naik turun di atasnya, namun kenikmatan yang saat ini menguasai tubuhnya membuat ia harus memejamkan mata.
Setelah beberapa menit bergerak naik turun di atas kejantanan Yifan, Chanyeol mulai kehilangan energinya hingga ia harus berhenti sejenak. Yifan kemudian bangkit dan tanpa melepaskan penyatuan mereka, sang Alpha membaringkan tubuh Chanyeol dan memiringkan tubuhnya.
Dengan posisi itu, kejantanan Yifan terasa masuk semakin dalam hingga Chanyeol harus menggigit bantal di bawahnya untuk meredam teriakan yang lagi-lagi akan lolos dari mulutnya. Yifan menangkup bongkahan pantat Chanyeol di antara genggaman tangannya dan menggerakkan pinggulnya untuk mengeluar-masukkan penisnya.
Desahan keduanya saling bersahutan mengisi ruangan kamar. Chanyeol yang sudah merasa orgasmenya semakin mendekat kemudian berniat untuk menyentuh kejantanannya sendiri ketika Yifan menahan tangannya.
"No!" Yifan kemudian membantu Chanyeol untuk mengubah posisi mereka hingga kini Chanyeol tengkurap dengan tubuh bagian bawahnya ia naikkan sedikit menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan.
"Ngh!" Chanyeol lagi-lagi menggigit bantal untuk meredam desahannya agar tidak membangunkan kedua bayinya ketika Yifan menumbuk prostatnya tanpa ampun.
Kejantanan Chanyeol sudah memerah dan mengeluarkan pre-cum yang cukup banyak, namun Yifan belum mengizinkannya untuk mencapai orgasme, maka Chanyeol berusaha menahannya.
"Chanyeol, ah!" Yifan menundukkan tubuhnya untuk mengecup leher dan bahu Chanyeol. Dinding rektum Chanyeol begitu erat memeluk kejantanannya membuat Yifan seakan ingin menyerah pada orgasmenya dan mencapai puncaknya begitu saja.
Namun sepertinya Alpha itu memiliki pemikiran lain ketika ia menggerakkan pinggulnya dengan begitu cepat sebelum menarik kejantanannya keluar sebelum ia meraih klimaks.
"Yifan!" Chanyeol mengejan dan tubuhnya bergetar ketika ia tidak berhasil mencapai orgasmenya tanpa Yifan.
Yifan meraih lengan Chanyeol dan membalikkan tubuh pemuda itu sebelum ia mengecupi wajahnya.
"Yifan, please." Chanyeol sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk segera menuntaskan kenikmatan yang mengganjal di perutnya.
"Hm?" Yifan yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama justru meraih salah satu nipple Chanyeol dan menghisapnya. Tubuh Chanyeol terangkat dari tempat tidur dan lagi-lagi harus mendesah kesal ketika Yifan berhenti menyentuhnya.
"Yifan, sakit." Ucap Chanyeol merujuk pada kejantanannya yang sudah tidak sanggup menahan orgasmenya yang tertunda sedari tadi.
Yifan kemudian memposisikan dirinya kembali di antara kedua paha Chanyeol yang terbuka lebar dan menyentakkan penisnya ke dalam lubang Chanyeol tanpa aba-aba.
"Ahk!" Chanyeol menyemburkan cairan spermanya dari lubang kejantanannya seiring dengan gerakan pinggul Yifan.
Dunia seakan berhenti berputar ketika dada Chanyeol terangkat dan lehernya menampakkan urat nadinya ketika pemuda itu mencapai orgasme hebatnya. Yifan yang masih mengejar klimaksnya terus menggerakkan pinggulnya.
Bibirnya tidak henti-hentinya mendesahkan nama Chanyeol seperti sebuah mantra. Dan ketika Chanyeol mengatupkan lubang rektumnya dengan sengaja untuk membantunya meraih orgasme, Yifan melepaskan semuanya. Kejantanannya terus bergerak keluar masuk untuk memompa cairan kenikmatannya ke dalam tubuh Chanyeol yang sudah tidak sanggup bergerak di bawahnya.
"Chanyeol..." Yifan yang ambruk di atas tubuh Chanyeol berusaha membangunkan pemuda itu.
Namun entah karena kelelahan atau memang mereka sudah lama tidak melakukan seks seintens ini, Chanyeol langsung jatuh tertidur begitu ia mencapai klimaksnya.
.
.
.
BERSAMBUNG
Heuheu.
Terima kasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan review. Mohon maaf kalau masih banyak typos. Semoga menghibur ^^
Dengan cinta,
Mt_Chan.
