Pairing: Kris X Chanyeol

Disclaimer: Characters belong to their own.

Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!

.

.

Mt_Chan proudly presents...

.

.

.

"Make Us Forever"

-PART XXI-

"Yixiaaaaaannnnnnn!" Teriakan Chanyeol pada pagi hari seolah menjadi hal yang biasa bagi keluarga kecil Wu yang kini terdiri dari empat orang itu.

Yifan hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika Omeganya itu sedang berlari mengejar putra sulung mereka yang berhasil keluar dari kamar mandi dengan keadaan telanjang dan basah. Si bungsu yang melihat tingkah kakaknya pun ikut berlari di belakang Chanyeol yang hampir terjerembab ketika Yixian berbelok ke dapur dengan tiba-tiba.

Yifan yang akhirnya selesai memakai dasinya berhasil menahan Yixian dengan menggendongnya.

"Kau akan membuat kemejamu basah, Yifan." Kata Chanyeol yang kaosnya juga sudah basah akibat memandikan dua putra kembarnya sekaligus.

Dada Chanyeol masih kembang kempis setelah adegan kejar-kejaran dengan bocah-bocah kecil itu.

"Mama!" Chanyi yang sedari tadi juga ikut berlarian mengulurkan kedua lengan kecilnya untuk meminta gendong pada Chanyeol.

Omega itu hanya bisa menghela nafas sebelum mengangkat tubuh Chanyi sebelum meraih Yixian dari gendongan Yifan untuk memakaikan pakaian mereka.

Pagi hari memang waktu yang cukup sibuk bagi pasangan Alpha dan Omega yang baru saja merayakan ulang tahun pernikahan mereka satu bulan yang lalu itu. Sang Omega, Chanyeol, akan bertugas mengurusi si kembar yang setiap hari kerja dititipkan ke rumah nenek mereka di kediaman Park. Sementara sang Alpha, Yifan, akan bertugas untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berempat.

Hari ini rutinitas pagi itu terlihat lebih sibuk dari biasanya karena Chanyeol harus masuk kelas pagi pada jadwal kuliahnya. Yifan dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantar putra kembarnya ke kediaman Park, yang biasanya merupakan tugas Chanyeol.

.

.

.

Chanyeol yang baru saja menyecap susu cokelat favoritnya buatan Yifan tiba-tiba merasa mual. Pemuda itu sudah hampir memuntahkan kembali cairan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya namun berhasil ia tahan. Yifan yang sedang menikmati sereal bersama kedua putranya tidak menyadari hal itu.

"Kau tidak sarapan?" Tanya Yifan ketika Chanyeol tidak juga menuangkan susu cair ke dalam mangkuk serealnya.

Pemuda itu menggeleng. Perutnya kini terasa seperti sedang diaduk-aduk dan ia tidak yakin semangkuk sereal akan membuatnya terasa lebih baik.

"Kau terlihat pucat apa kau baik-baik saja?" Tanya Yifan lagi setelah ia mengamati wajah Chanyeol.

Pemuda itu kini mengangguk.

"Aku akan bersiap." Chanyeol kemudian bangkit dari kursinya dan setengah berlari menuju toilet di dalam kamarnya.

Kali ini rasa mual itu berhasil membuat Chanyeol tertunduk di depan wastafel sambil berusaha mengeluarkan isi perutnya. Pemuda itu yakin ia tidak salah makan atau merasa tidak enak badan sebelumnya, namun pagi ini rasa mual ini menyerang begitu saja.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Yifan yang sudah menggendong Yixian dan Chanyi ketika Chanyeol keluar dari kamar dengan menenteng tasnya sendiri dan perlengkapan si kembar.

Chanyeol mengangguk sambil menghindari tatapan khawatir yang Yifan berikan.

"Bagaimana kalau kita mampir ke dokter setelah mengantarkan si kembar?" Kata Yifan ketika ia sudah menjalankan mobilnya.

Lagu anak-anak mengalun dengan ceria dari speaker mobil diikuti dengan suara si kembar yang mengikuti setiap liriknya dengan sekenanya. Chanyeol memijat pelipisnya yang terasa pening akibat rasa mual itu.

"Ini hanya masuk angin biasa. Aku akan istirahat di rumah Umma setelah kuliah nanti. Kau tidak keberatan menjemput kami di sana?" Tanya Chanyeol.

"Aku akan pulang tepat waktu dan menjemput kalian di rumah Umma." Yifan melepaskan tangan kirinya dari kemudi dan meraih tangan Chanyeol untuk menggenggamnya.

Chanyeol mengecup tangan Yifan di dalam genggamannya sebelum tergelak mendengar celotehan si kembar yang memenuhi mobil itu.

"Mammaaa poppoo~ Papa poppoooo~"

"Tayo! Tayo!"

.

.

.

Pada jam kuliah pun, rasa mual dan pening yang menyerang Chanyeol tidak juga mereda. Pemuda itu berusaha mati-matian untuk tidak mengeluarkan isi perutnya selama perkuliahan dan menahannya hingga jam kuliah selesai. Sehun, sahabatnya yang menyadari wajah pucat Chanyeol menyarankan agar Omega itu mengunjungi klinik kampus.

"Aku hanya masuk angin." Lagi-lagi Chanyeol mengelak.

Ia merasa tidak perlu untuk memeriksakan tubuhnya.

Sehun mengangkat bahunya. "Bagaimana kalau itu bukan masuk angin dan justru ada Yifan kecil lain di dalam perutmu?" Ujar Sehun setengah bercanda.

Namun hal itu justru membuat Chanyeol seketika mematung. "Huh?"

"Yup. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya kan?" Sehun kemudian mendorong tubuh Chanyeol ke arah klinik.

Seorang dokter yang bertugas di klinik itu mengawasi Chanyeol dan Sehun dengan aneh. Pandangannya melembut ketika melihat cincin platinum melingkar pada jari manis Chanyeol dan tanda klaim di lehernya.

"Ada yang bisa kubantu?" Tanya Dokter itu.

Chanyeol melirik ke arah Sehun sebentar sebelum menegakkan tubuhnya.

"Aku sedang tidak enak badan. Aku merasa mual dan pening sejak pagi tadi." Jelas Chanyeol.

Sehun hanya melipat tangannya di atas dada dan mendengarkan percakapan antara Chanyeol dan Dokter itu.

"Baik. Namamu?"

"Pa—Wu Chanyeol."

Dokter itu mengangguk dan mengetikkan nama Chanyeol beserta marga barunya di komputer. Selama beberapa saat dokter itu mengamati rekam medis yang muncul pada layar monitornya.

"Kau sudah punya anak kembar?" Tanya Dokter itu.

Chanyeol mengangguk.

"Apa kau sedang minum pil atau mungkin menggunakan kontrasepsi lain?"

"Aku minum pil." Jawab Chanyeol buru-buru.

"Kau tidak pernah lupa kan?" Dokter itu mengeluarkan stetoskop dan mengarahkan Chanyeol agar berbaring di ranjang klinik itu.

Chanyeol menggeleng cepat-cepat. Ia tiba-tiba merasa gugup ketika Dokter itu memeriksa detak jantung dan perutnya.

"Aku belum bisa memastikan. Kau mau melakukannya sekarang?" Dokter itu kembali ke mejanya dan mengeluarkan sebuah tes kehamilan.

Chanyeol mengamati benda itu dengan dada berdebar.

"Akan lebih akurat kalau kau melakukannya setelah bangun tidur besok pagi." Tambah Dokter itu.

"Aku akan melakukannya besok kalau begitu." Chanyeol meraih alat tes kehamilan itu dan menyimpannya ke dalam tas.

.

.

.

Chanyeol perlahan membuka matanya ketika ia merasakan sebuah lengan melingkar di perutnya. Setelah pulang kuliah siang itu, Chanyeol segera menuju rumah Ibunya dan mengajak si kembar untuk tidur siang. Ia sendiri membutuhkan tidur itu setelah rasa pening menguasai tubuhnya ditambah rasa gugup akibat dugaan sementara dokter di kliniknya tadi.

"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Yifan setengah berbisik karena takut membangunkan Yixian dan Chanyi.

Chanyeol membalik tubuhnya hingga kini ia menghadap Yifan yang berbaring di sampingnya. Sang Alpha tetap terlihat rapi dan tampan bahkan setelah seharian bekerja. Chanyeol masih tidak habis pikir dengan kebaikan apa yang telah ia perbuat hingga layak mendapatkan Yifan.

Yifan sudah berniat untuk mengecup bibir Chanyeol ketika sang Omega menahan bibirnya menggunakan telapak tangannya. Yifan mengernyit melihat gestur itu.

"Aku bau muntahan dan—mph!" Chanyeol hanya bisa memejamkan matanya ketika Yifan dengan keras kepalanya menarik tangan Chanyeol dan merebut ciuman darinya.

Yifan baru melepaskan pagutannya ketika tangan Chanyeol mendorong dadanya pelan. Sang Alpha kemudian menyapukan bibirnya pada rahang dan pipi Chanyeol sebelum berakhir pada lehernya. Yifan menghirup dalam-dalam aroma Omeganya dan hanya bisa mengernyit ketika ia merasakan aroma lain dari Chanyeol.

"Apa menurutmu apartemen yang kita tinggali tidak terlalu sempit sekarang?" Tanya Chanyeol tiba-tiba.

Yifan mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol dengan keheranan.

Chanyeol menjilat bibirnya sebelum meneruskan, "Maksudku, kau tahu Yixian dan Chanyi semakin besar dan mereka berlarian setiap saat—"

Yifan mengusap pipi Chanyeol menggunakan telapak tangannya.

"Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Yifan.

Chanyeol justru menghindari pandangan teduh yang Yifan berikan.

"Uh, tidak ada. Aku pikir aku hanya lelah." Kata Chanyeol.

Tepat ketika Yifan akan membuka suaranya lagi, Chanyi yang sudah terbangun dari tidurnya mulai rewel dan mencari keberadaan Chanyeol.

.

.

.

Adalah hal yang tidak biasa ketika Chanyeol terbangun pagi itu bahkan sebelum alarm berbunyi. Dengan berhati-hati agar tidak membangunkan Yifan yang masih terlelap, Chanyeol berjengit pelan menuju kamar mandi setelah ia sempat meraih sesuatu dari dalam tasnya. Rasa gugup dan cemas membuat tangan Chanyeol sedikit bergetar ketika ia menunggu alat berbentuk kotak itu bekerja.

Butuh waktu sekitar lima menit sebelum Chanyeol memeriksa hasilnya. Satu garis berarti negatif dan dua garis berarti—Chanyeol menelan ludahnya ketika alat tes kehamilan di tangannya menampakkan dua garis merah yang berarti ia positif hamil.

Pemuda itu tanpa sadar menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba lemas pada dinding kamar mandi yang dingin. Ia bukannya tidak senang dengan keadaan ini, tapi ia berpikir bahwa hal ini sepertinya terlalu cepat bagi mereka. Yixian dan Chanyi bahkan belum genap berusia tiga tahun dan mereka sudah akan memiliki adik baru.

Chanyeol kemudian mengingat-ingat kembali kapan ia bersikap ceroboh dan melewatkan pil kontrasepsinya. Seingatnya ia tidak pernah sekalipun absen meminum pil pencegah kehamilan itu. Detak jantung Chanyeol seperti berhenti ketika ingatannya memutar kembali memori ketika mereka merayakan peringatan hari pernikahan mereka di China sebulan silam.

*flashback*

"Hanya tersisa dua pil." Kata Chanyeol ditengah pagutan bibir Yifan pada bibirnya begitu mereka memasuki kamar hotel yang sudah Yifan persiapkan selama liburan mereka di China.

Mereka berdua awalnya berniat untuk tinggal di rumah Nenek Wu saja, tetapi begitu Yifan ingat bagaimana sifat neneknya yang tidak akan meninggalkan mereka sendirian itu, Yifan akhirnya memutuskan untuk memesan kamar hotel di tengah kota Shanghai.

Begitu sampai di kota itu, mereka menghabiskan waktu makan malam berdua dan dilanjutkan menonton Opera tradisional China yang pada akhirnya mereka lewatkan ketika kebutuhan lain lebih mendesak. Yifan membuka kancing kemeja yang Chanyeol kenakan dengan tidak sabar begitu mereka kembali ke kamar hotel. Suara pagutan dan lumatan dari kedua bibir itu mengisi salah satu kamar hotel berbintang itu.

"Kalau begitu kita hanya perlu melewatkan malam terakhir di Shanghai tanpa sex." Ujar Yifan menanggapi kalimat Chanyeol sebelumnya.

Chanyeol tertawa mendengarnya sebelum mengalungkan kedua lengannya pada leher Yifan yang mendorongnya ke arah tempat tidur.

Setelah puas mengelilingi beberapa tempat di Shanghai dan menikmati makanan di sana, Yifan dan Chanyeol menutup perjalanan liburan mereka dengan menemui Nenek Wu yang sudah tidak sabar untuk melihat cucu menantunya. Chanyeol yang baru akan bertemu Nenek Wu untuk pertama kalinya itu juga ikut merasa gugup. Ia juga baru-baru ini mengetahui bahwa gen kembar yang turun pada putranya itu berasal dari Nenek Wu. Sayang, saudari kembar Nenek Wu sudah meninggal ketika Yifan dan keluarganya mulai pindah ke Korea beberapa tahun silam.

Kesan pertama yang Chanyeol pelajari dari pertemuannya dengan tetua Wu itu hampir sama dengan kesannya pada Yifan dan Mr. Wu dulu. Arogan dan dingin. Namun setelah beberapa waktu, Nenek Wu mulai menunjukkan sisi hangat dan penyayangnya. Ia memanjakan Chanyeol seperti keluarga Wu yang lain sebelumnya.

Yifan dan Chanyeol yang mengambil penerbangan pagi untuk kepulangan mereka ke Seoul besok sepakat untuk berangkat tidur lebih awal dan tidak melakukan apapun yang nantinya akan berujung pada seks. Chanyeol sudah mewanti-wanti Alphanya itu bahwa ia sudah tidak memiliki satu pil pun.

Malam itu keduanya berbaring sambil memeluk ketika mereka mendengar seseorang mengetuk pintu kamar.

Yifan bangkit dengan berat hari untuk membukakan pintu dan mendapati Nenek Wu berdiri bersama seorang pelayan di sampingnya. Pelayan itu membawa sebuah nampan berisi sebuah botol dan dua gelas kecil.

Tanpa dipersilahkan, Nenek Wu memasuki kamar yang Yifan dan Chanyeol tempati dan mengambil tempat duduk di salah satu sofa yang tersedia. Chanyeol menatap ke arah Yifan dengan keheranan sementara sang Alpha hanya mengangkat bahunya tidak mengerti.

"Maaf mengganggu kalian seperti ini. Tapi rasanya masih belum lengkap jika aku belum memberikan hadiah untuk kunjungan kalian." Kata Nenek Wu memulai.

Yifan mengambil tempat duduk di hadapan neneknya sebelum Chanyeol juga ikut menyusul di sampingnya.

"Nenek tidak perlu memberikan hadiah apapun." Kata Yifan dengan hati-hati.

"Ini sudah tradisi di keluarga kita, Yifan. Nenek juga memberikan hadiah ini pada orang tuamu. Apa Chanlie bisa minum?" Tanya Nenek Wu sambil mengawasi gerak gerik Chanyeol yang terlihat kebingungan dengan bahasa Mandarin di sekitarnya.

"Chanlie tidak biasa minum." Jawab Yifan mewakili Chanyeol.

Nenek Wu meraih botol yang dibawa pelayan tadi dan menuangkan isinya pada masing-masing gelas.

"Sayang sekali. Tapi ini juga bukan alkohol, jadi Chanlie pasti bisa meminumnya. Silahkan." Nenek Wu menyerahkan gelas itu pada Yifan dan Chanyeol agar mereka meminumnya.

Bau pahit langsung menyeruak ke dalam lubang hidung Chanyeol begitu ia menghirup aroma minuman itu. Namun akan tidak sopan jika Chanyeol menolak pemberian Nenek Wu malam itu. Sambil melirik ke arah Yifan yang segera menenggak minuman itu tanpa berpikir panjang, Chanyeol juga melakukan hal yang sama dan segera menyesali tindakannya yang menghabiskan minuman itu dalam satu teguk.

Nenek Wu tertawa melihat ekspresi wajah Chanyeol yang tidak lagi bisa menyembunyikan rasa tidak enak dari minuman pemberiannya.

"Kalau sudah, aku akan membiarkan kalian menikmati malam ini. Selamat untuk tahun pernikahan kalian yang ketiga."

Nenek Wu bangkit setelah Yifan dan Chanyeol mengucapkan terima kasih pada wanita yang sudah berusia 90 tahunan itu.

Chanyeol segera berlari meraih air mineral untuk membasuh mulutnya yang rasanya begitu pahit setelah memastikan Nenek Wu berjalan cukup jauh. Yifan yang sebelumnya terlihat tenang menikmati minuman itu juga melakukan hal yang sama.

"Nenek Wu tidak sedang berusaha meracuni kita kan?" Tanya Chanyeol setengah bercanda.

Pemuda itu naik ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya untuk bersiap tidur. Yifan tiba-tiba merasakan energi panas menjalar ke peredaran darahnya. Namun ia hanya menganggapnya lalu dan menyusul Chanyeol di atas tempat tidur.

"Apa kau merasakan sesuatu?" Tanya Chanyeol tiba-tiba.

Yifan yang tanpa sadar menahan nafasnya mengangguk lemah. Ia menoleh ke arah Chanyeol yang juga menatapnya.

Aroma Alpha dan Omega yang menguar dari tubuh masing-masing terasa lebih kuat dari sebelumnya. Aroma itu bahkan mengalahkan aroma Chanyeol yang menguar setiap kali ia mendapatkan masa heatnya.

"Chanyeol..." Nafas Yifan mulai terengah menahan gejolak yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dadanya.

Chanyeol mati-matian menahan diri agar tidak merespons pada panggilan Alphanya itu. Namun usahanya gagal ketika Yifan menyentuh tangannya.

Entah siapa yang memulai duluan tetapi bibir keduanya kini sudah terkunci pada satu sama lain. Chanyeol membantu Yifan melucuti piyamanya tanpa melepaskan pagutan pada bibir masing-masing.

"Aku sudah tidak punya pil lagi." Ujar Chanyeol di sela-sela ciuman Yifan.

"Aku tahu." Yifan mengalihkan serangannya pada leher Chanyeol dan pada pundaknya, beberapa kali membuat tanda yang tidak begitu kentara.

"Kau harus membeli kondom." Kata Chanyeol dengan akal sehatnya yang masih tersisa.

"Dengan keadaan seperti ini?"

Yifan menggeram ketika aroma manis Omega Chanyeol memenuhi hidungnya.

Chanyeol mengerang ketika Yifan menggigit perutnya. Mungkin untuk malam ini saja melewatkan pilnya tidak akan membuat Chanyeol hamil.

Pada akhirnya mereka menyadari bahwa minuman yang Nenek Wu berikan adalah suplemen yang memancing gairah pasangan Alpha dan Omega. Minuman itu biasanya disajikan pada malam pernikahan pasangan. Namun karena Nenek Wu tidak bisa menghadiri pernikahan Yifan dan Chanyeol, ia memutuskan untuk memberikannya sekarang.

Chanyeol meredam teriakannya dengan menggigit pundak Yifan ketika klimaks mereka raih bersamaan. Mungkin ini adalah seks paling intens keduanya setelah melakukannya pertama kali ketika Chanyeol mendapatkan heat pertamanya dulu. Yifan bahkan menumpahkan spermanya begitu banyak hingga Chanyeol merasa begitu penuh.

Nafas keduanya memburu dengan tubuh bermandikan peluh ketika kesadaran perlahan-lahan mengisi keduanya.

"I love you." Bisik Yifan sambil mengecup kedua mata Chanyeol yang mengatup kelelahan.

"I love you more." Balas Chanyeol sebelum memeluk tubuh Yifan dan membuat keduanya semakin menempel dan menjadi satu.

*End of Flashback*

"Chanyeol?"

Pemuda yang baru saja tersadar dari lamunannya itu terlonjak begitu namanya dipanggil dari balik pintu kamar mandi. Ia dengan panik mencari-cari tempat untuk menyembunyikan benda yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya itu. Chanyeol bukannya ingin menutupi kenyataan bahwa dirinya sedang hamil saat ini, namun ia tidak yakin bagaimana ia harus membicarakannya dengan Yifan. Bagaimana kalau Yifan tidak siap? Bagaimana jika Yifan tidak menyukai kenyataan ini?

"Kau bangun pagi sekali." Komentar Yifan ketika Chanyeol akhirnya membuka pintu.

Chanyeol mengusap tengkuknya dan menghindari tatapan Yifan padanya.

"Aku tidak bisa tidur." Kata Chanyeol sambil menutup mulutnya.

Rasa mual itu kembali dan kali ini Yifan tidak melewatkan bagaimana Chanyeol berusaha menahannya.

"Kita akan ke dokter hari ini. Kau benar-benar sakit." Kata Yifan tanpa menunggu persetujuan dari Chanyeol.

"Tidak, Yifan—"

Belum sempat Chanyeol membantah Alphanya itu, suara rengekan dari kamar si kembar membuat Chanyeol mengalihkan perhatiannya. Sementara itu kepala Yifan sudah dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya tidak bisa berhenti menyaksikan punggung Chanyeol yang terus berjalan menjauh darinya.

BERSAMBUNG

Hehe.

Terima kasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan review ^^

Dengan cinta,

Mt_Chan