Sebelumnya, Selamat ulang tahun untuk Bong Jaehyun kesayangannya Jibeom tanggal 4 Januari kemarin!

Happy reading!

Gak tau kenapa. Jangan tanya Bomin. Bomin juga gak tau gimana kejadiannya Youngtaek duduk di samping Jangjun hyung, sedangkan dia dan Seungmin bisa duduk di belakang.

"Belok kiri, nanti rumah cat biru, rumah saya, sunbaenim." Kata Seungmin. Jangjun mah iyain aja biar cepet.

"Terima kasih, sunbaenim, maaf merepotkan." Seungmin bungku sembilan puluh derajat. Yah elah, sopan banget dah, kalau Jaeseok ngeliat, udah langsung diangkat jadi anak mungkin.

"Iya sama-sama." Jangjun buru-buru jalanin mobil lagi sebelum Youngtaek kasih salam perpisahan buat Seungmin.

"Hyung masih inget rumah gua?" Tau gak sih? Bomin di baris belakang udah ngerasa kaya obat nyamuk pas Seungmin turun. Seakan kehadirannya ganggu acara berduaan Jangjun sama Youngtaek.

"Masih." Atuh masih lah, kalau ada kesempatan kaya gini, Jangjun selalu pulang bareng Youngtaek. Atau pas jaman Jangjun masih sekolah, Jangjun sering main ke rumah Youngtaek, alasannya kangen es krim di deket rumah Youngtaek. "Kedai es krim deket rumah lu masih jualan?"

"Masih, hyung."

"Kita mampir dulu kesitu yah, mau 'kan?"

"Mau hyung!" Bomin yang jawab. Jangjun gedeg tapi untungnya Youngtaek juga mau.

"Dua coklat, dan satu vanila." Pesan Jangjun pada ahjumma pemilik kedai es krim sedangkan dua anak berseragam sekolah lagi duduk di deket jendela.

"Udah lama kayanya gua gak makan es krim ini." Jangjun mulai pembicaraan. Dia duduk berhadapan dengan Youngtaek, alasannya biar bisa puas liatinnya, bukan liatin yang di sebelahnya, udah bosen, setiap hari ketemu.

Jadi intinya tuh mereka ngobrol-ngobrol sampai es krim mereka abis terus anterin Youngtaek ke rumahnya. Sebenernya yang ngobrol cuma Jangjun sama Youngtaek. Bomin mah diem aja, kadang nyaut kalau ditanya, kadang ikut-ikutan nibrung dikit. Bomin beneran kaya pemain viguran di FTV.

"Gitu, Min, kalau deketin orang."

Bomin pindah ke kursi penumpang samping Jangjun. "Youngtaek hyung sama Donghyun hyung beda, jadi cara deketinnya juga beda."

"Yah siapa tau aja berhasil 'kan?" Kata Jangjun sambil perhatiin jalan. "Ajak jalan atau makan berdua, ngobrol-ngobrol, cari bahan pembicaraan yang dia suka, yang seru."

"Kalau dia gak mau gimana?"

"Belom dicoba udah pesimis aja."

Bomin berdecak. Pengen sebenernya tapi kadang Bomin ajak Donghyun ke kantin aja sering ditolak, gimana mau diajak jalan. Lebih susah lagi.

"Dicoba dulu, Bomin."

.

.

.

"Hyung, lu tau es krim yang deket toko roti Boo kagak?"

Donghyun yang noleh. "Tau, kenapa?"

"Gua denger hari ini ada diskon buat pelajar, cuma perlu nunjukin kartu pelajar aja." Bomin tuh udah ngerencanain dari semalem. Sampai harus searching dulu di medsos. Niat Bomin tuh.

"Serius?" Manusiawi kalau denger kata diskon tuh mata langsung berbinar.

Bomin ngangguk. "Coba cek aja di websitenya Lovelyz Ice Cream."

"Ayo langsung ke sana abis pulang sekolah!"

Yes! Berhasil! Tapi kesenangan Bomin harus ditunda dulu karena ada yang datang. Joochan. Oh damn! Obat pembasmi nyamuk dimana?! Bomin mau usir nyamuk bermarga Hong! Ganggu!

"Mau kemana?" Tanya Joochan.

"Lovelyz Ice Cream, ada diskon untuk pelajar hari ini." Jawab Donghyun. "Mau ikut gak?"

JANGAN! NO! Kenapa Donghyun harus nawarin Joochan?! Yang ngajak duluan 'kan Bomin! Kenapa harus ajak Joochan? Siapa yang suruh?! HAH? Tapi Bomin cuma bisa gigit jari pas Joochan nerima tawaran Donghyun dan lebih parahnya lagi, manusia-manusia penghuni baris belakang juga denger dan Donghyun dengan polosnya ngajak yang lain. Ini namanya bukan dating, tapi mau tawuran!

.

.

.

Kedai es krim yang lebih mirip cafe itu didatangi oleh tujuh orang berseragam sekolah warna biru langit, khas Woollim High School. Orang yang paling semangat untuk makan es krim adalah Jaehyun. Matanya berbinar saat melihat berbagai macam rasa es krim yang tersedia.

"Soul nunna! Aku mau triple flavor!" Pesan Jaehyun pada yeoja pendek berlesung pipi.

"Rasa yang mana, Jaehyun-ah?" Nama panggilnya Baby Soul, padahal nama aslinya Lee Soojung, tapi sering dipanggil Soul. Yeoja pendek itu adalah teman Jangjun, dulu pernah sekelas sama Jangjun jadi gak heran kalau Soul bisa deket sama teman-teman adiknya Jangjun.

"Blue berry, manggo, choco mik!"

Satu cone es krim besar dengan tiga rasa yang ditumpuk sudah berada di tangan Jaehyun. Menggoda imannya Jaehyun, rasanya pengen langsung dimakan, namun nasip berkata lain. Karena terlalu memperhatikan betapa menggodanya es krim, Jaehyun tidak memperhatikan jalan dan akhirnya kakinya salah melangkan dan es krim kesayangan Jaehyun terjatuh.

Seketika hening. Lima namja yang memperhatikan Jaehyun sejak tadi akhirnya melepas tawanya.

"Makanya kalau jalan hati-hati!" Teriak Donghyun tanpa berniat membantu sama sekali.

Jaehyun cemberut sambil menatap naas es krimnya yang terjatuh. Mau beli lagi, tapi diskonnya cuma bisa terpakai satu kali dan uang Jaehyun tidak cukup untuk membeli tiga rasa yang sama.

"Mau es krim gua gak?" Tanya Jibeom merasa kasihan melihat Jaehyun yang hanya bisa bengong meratapi nasipnya.

"Gak mau." Jaehyun menggeleng lemah.

"Jaehyun hyung, aaaa~" Bomin duduk di samping Jaehyun lalu menyodorkan es krim rasa blue berry miliknya.

Mulut Jaehyun sudah terbuka untuk mengigit es krim Bomin namun Bomin segera menarik kembali es krimnya. "Sialan!"

Bomin tertawa sambil lalu menyantap es krimnya.

"Gua beliin lagi yah." Kata Jibeom masih berusaha membuat Jaehyun gak merajuk.

"Gak mau! Gua ngambek sama lu!"

"Lah kenapa?"

"Tadi lu ikutan ketawa pas es krim gua jatoh."

Joochan yang duduk di depan Jibeom cuma bisa nahan ketawa ngeliat Jibeom dimarahin Jaehyun. Ternyata namja berpipi chubby itu bisa marah atau lebih tepatnya merajuk pada Jibeom.

"Iya deh maaf." Jibeom menyentuh bahu Jaehyun namun namja bermarga Bong itu menghentakan tangan Jibeom.

"Gak!" Ketus Jaehyun. "Pergi lu, Kim JiBeom!"

Bomin, Donghyun, Joochan, dan Youngtaek sebenarnya mau ketawain Jibeom tapi kasian. Jaehyun tuh kalau ngambek bisa lebih parah dari Donghyun. Jaehyun bisa punya dendam kesumbat. Makanya gak ada yang berani jailin Jaehyun sampai parah kecuali Youngtaek. Youngtaek mah kalau bercanda kadang suka gak mikir.

"Oh? Bominie?"

"Eomma?"

Di tengah bersih tegang antara Jaehyun dan Jibeom, seorang namja tinggi nan cantik datang. Choi Jaeseok masuk ke dalam kedai es krim dengan memakai kemeja coklat kebesaran dan celana jeans hitam yang menunjukan kaki jenjangnya.

"Annyeonghaeseo eomeonim!" Setelah tiga detik mengaggumi kecantikan Jaeseok, Youngtaek, Joochan, Donghyun, Jibeom, dan Jaehyun segera membungkuk sopan pada Jaeseok.

"Ne." Jaeseok tersenyum ramah. Ya lord manis banget, pantas Seungyoon jatuh cinta sama Jaeseok. Youngtaek yang sebelumnya sudah pernah ketemu Jaeseok pun selalu terkesima dengan kecantikan Jaeseok. "Lagi ngumpul bareng?"

"Ne, eomeonim." Jawab mereka kompak.

"Bomin-ah, udah bilang Daeyeol belum kalau mau kesini?"

"Udah, eomma, nanti Bomin pulang naik bus." Jawab Bomin. "Eomma ngapain disini?"

"Eomma mau beli es krim buat persediaan cemilan di rumah." Jawaban Jaeseok bikin semua orang disana iri dengan Bomin karena Jaeseok masih memikirkan persediaan cemilan untuk anak-anaknya. "Tapi kayanya kamu udah makan es krim, jadi eomma gak perlu beli es krim lagi, eoh?"

"Jangan!" Bomin segera melahap sisa es krim di tangannya lalu nyamperin Jaeseok. "Mau es krim, eomma!"

Bomin aegyo. Kalau begini keliatan banget sifat bocah Bomin. Udah kelas dua senior high school tapi masih merajuk pada ibunya buat dibeliin es krim.

"Arraseo, tapi nanti pulang gak boleh makan es krim lagi."

"Aaaa eommaaaaa..!"

Yang lainnya hanya bisa menyerngit ngeliat tingkah laku manja Bomin. Gak singkron sama badan bongsornya. "Choi Bomin! Kamu gak malu ngerajuk di depan teman-teman kamu?"

Bomin akhirnya tersadar dan orang yang pertama kali dia lihat adalah Donghyun. Namja mungil itu menyerngit sambil berusaha menahan senyum sopan pada Jaeseok. Damn! Bomin yakin habis ini Donghyun semakin berpikir jika Bomin masih seperti anak-anak.

Bomin akhirnya nyengir lebar. "Hehehe mianhae. Tapi eomma jadi beli es krim 'kan?"

"Jadi." Jaeseok memesan dua box besar es krim lalu memesan satu scoop es krim untuk dirinya. "Kalian ada yang mau nambah es krim lagi gak?"

"Saya ma-"

"Enggak, eomeonim, khamsahamnida!" Youngtaek segera menutup mulut Joochan sebelum anak itu membuat malu.

"Hyung!"

"Gak enak, bego, sama eommannya Bomin." Bisik Youngtaek.

"Beneran gak ada yang mau lagi?" Tawar Jaeseok sekali lagi.

Semua menjawab dengan gelengan dan senyuman.

Jaeseok hanya tersenyum melihat teman-teman Bomin yang sopan, terutama Youngtaek. Kalau dengar dari Daeyeol, Youngtaek sedang didekatin Jangjun. Anak keduanya itu juga sering menyebut nama Youngtaek, bahkan Youngtaek pernah datang ke rumah. Waktu itu Jangjun berkata jika ia ingin pergi dengan temannya, namun dua puluh menit kemudian Jangjun pulang lagi karena dompetnya ketinggalan dan saat itu Jangjun membawa Youngtaek. Menurut Jaeseok, Youngtaek anak yang sopan dan polos. Mata besarnya seperti mata anak kecil.

"Eomeonim duduk sini saja." Jaehyun yang duduk di antara Bomin dan Jibeom memilih bangkit. Alasan lainnya karena ia masih ngambek sama Jibeom.

"Gomawo." Jaeseok memandang ada dua namja yang masih asing di matanya. "Kalian teman baru Bomin?"

"Ah, ne, saya Bong Jaehyun, saya baru pindah dari Chicago tahun ini." Jawab Jaehyun lalu mengambil duduk di samping Donghyun.

Jaeseok mengangguk lalu beralih ke namja sebelahnya. "Dan kamu?"

"Saya Kim Jibeom, saya pindahan dari Busan di tahun ini." Jibeom membungkuk sopan pada Jaeseok.

"Busan?" Jaeseok jadi ingin pergi ke Busan karena sudah lama sekali ia tidak ke Busan. Terakhir kali dia pergi ke Busan dengan Seungyoon dan Daeyeol disaat Daeyeol masih umur dua tahun dan pulang dari Busan, Jaeseok mengandung Jangjun. "Kau namja yang tampan."

"Gomawo, eomeonim."

Setelah mereka berbincang sedikit, akhirnya Bomin pulang bersama Jaeseok dengan bus. Sebenarnya Jaeseok bisa saja menggunakan mobil yang tak terpakai di rumah, namun ia lebih memilih naik bus karena sejujurnya Jaeseok orang yang sederhana walau kekayaan Seungyoon bisa membelikannya dua buah mobil mewah. Jaeseok berpikir mobil yang tak terpakai di rumah untuk Bomin belajar menyetir.

"Kim Jibeom namja yang tampan, Bomin-an." Ucap Jaeseok saat dia dan Bomin berada dalam Bus.

Bomin hanya berdeham menanggapi.

"Bagaimana kalau kau dengan Jibeom saja?"

"Mwo?!" Bomin segera menoleh.

"Jibeom tampan, sopan, dan terlihat lebih gentleman di bandingkan teman mu yang lain."

Bomin akui jika Jibeom paling manly di antara teman-temannya, mungkin bisa menyaingi ke-manly-an Daeyeol. Tapi Bomin tak tertarik. "Bomin lebih menyukai Donghyun hyung."

"Donghyun terlalu menggemaskan untuk mu."

"Eomma!"

"Lagi pula kata mu Joochan juga menyukai Donghyun 'kan?"

"Tapi Jibeom hyung juga sudah menyukai Jaehyun hyung!"

Jaeseok terlihat berpikir sejenak. "Benarkah? Tapi mereka belum pacaran 'kan? Jadi kau bisa mendekati Jibeom."

Bomin menggeleng keras. Ada saja tingkah laku ibunya. "Tidak, eomma. Aku tetap memilih Donghyun hyung!"

Jaeseok mengibaskan tangannya. "Terserah kau, tapi jangan lupa bawa Jibeom ke rumah sekali-sekali."

"Aku akan membawa Donghyung hyung! Bukan Jibeom hyung!"

.

.

.

"Anak kita sudah besar semua." Jaeseok membuka suara setelah suaminya selesai membersihkan dirinya.

"Tentu, sayang." Seungyoon bergabung dengan istrinya di atas tempat tidur king size mereka. Pasangan orang tua nan tampan itu memakai piyama yang sama, stripe biru putih. Siapa lagi kalau bukan Jaeseok yang memilih piyama couple ini.

"Jangjun sedang mendekati Youngtaek dan Bomin sedang mendekati Donghyun." Jaeseok menutup buku hijau yang sejak tadi ia baca. "Tapi Daeyeol gak pernah cerita pernah suka sama siapa atau pernah dekat dengan siapa. Aku takut Jangjun lebih dulu menikah ketimbang Daeyeol."

Seungyoon tersenyum. "Tidak akan, sayang, Daeyeol hanya terlalu fokus dengan pekerjaan dan pendidikannya."

Jaeseok manyun. "Apakah anak sulung ku tidak laku?"

Seungyoon terkekeh melihat ketakutan istrinya. "Karyawan ku banyak yang mengagumi Daeyeol dan aku yakin teman-teman kampus dan kerja Daeyeol banyak yang menyukainya, hanya saja Daeyeol belum berpikiran untuk memulai suatu hubungan."

Jaeseok berdecak. "Sudah waktunya Daeyeol menjalin hubungan, sayang!" Seketika ide gila melintas di otak Jaeseok. "Atau aku kenalkan saja Daeyeol dengan anak teman-teman ku."

"Kencan buta?" Seketika Seungyoon menegakan tubuhnya. "Kau mau menjodohkan Daeyeol?"

Jaeseok mengangguk. "Kau juga bisa mengenalkan Daeyeol dengan anak teman-teman bisnis mu."

"Tidak, sayang. Biarkan Daeyeol memilih teman hidupnya sendiri."

Jaeseok mendengus. "Tapi sampai kapan? Aku ingin segera menimang cucu."

Seunyoon hanya bisa geleng kepala melihat tingkah laku aneh istrinya yang mulai kelewatan. "Sayang, Daeyeol masih muda."

"Kenapa? Dulu kita juga menikah muda."

Seungyoon mengacak rambutnya frustasi. Debat dengan Jaeseok tidak akan ada habisnya jika tidak ada salah satu mereka yang mengalah dan mau tak mau Seungyoon yang mengalah. "Ayo kita tidur, sudah malam."

"Tapi aku setuju dengan ide ku, bukan?"

Seungyoon segera menarik Jaeseok ke dalam pelukannya dan menyelimuti tubuh mereka dengan selimut tebal. "Jangan gegabah sayang."

"Tapi-" Jaeseok bungkam setelah bibir Seungyoon menempel pada bibirnya lalu tangan Seungyoon dengan lembut mengelus kepalanya.

"Good night my lovely wife." Dan setelahnya tak ada bantahan dari Jaeseok. Ini untuk sementara, Seungyoon hanya berharap sifat keras kepala Jaeseok tidak berpengaruh buruk kepada anak-anaknya

.

.

.

Note 31 : Silahkan lihat video 'Ring It! Golden Child' eps. 7 untuk membayangkan Jangjun beli es krim untuk Youngtaek dan Seungmin, tapi Seungminnya saya ganting dengan Bomin.

Note 32 : Kenapa seragam sekolah disini biru langit? Karena di official youtube account Woollim untuk Golden Child adalah biru langit. F.Y.I. Infinite berwarna hitam dan Lovelyz berwarna merah muda. Woollim berwarna(?)

Note 33 : Silahkan lihat video Golden Child 'Golden Child : Daily Damdadi' eps. 1 untuk membayangkan seorang Bong Jaehyun menjatuhkan es krimnya.

Note 34 : Saya bukan penggila review tapi sebuah review dan fav bisa menjadi reward untuk saya karena sejujurnya membuat fanfiction adalah 'healing' untuk saya. Saya punya banyak masalah, dan tentu semua orang punya masalahnya sendiri-sendiri, tapi 'obat pengurang sakit' saya adalah membuat fanfiction. Jadi jangan lupa untuk vote, fav, dan review! Terima kasih.

Damdadi!