Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol. Marriage life. Domestic Krisyeol. MPREG!
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
.
"Make Us Forever"
-PART XXIII-
Selama hampir satu minggu terakhir, Wu Yifan, seorang Alpha berusia 28 tahun itu merasa ada yang aneh dengan sikap Omeganya, Park Chanyeol. Pemuda yang kini tengah menyelesaikan tahun terakhir kuliahnya itu terlihat sering menghabiskan waktu di toilet dan berwajah pucat. Yifan sudah beberapa kali membujuk pasangannya itu agar memeriksakan diri ke dokter. Namun Chanyeol berhasil meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja. Selain sikap Chanyeol yang aneh, Yifan juga merasa pemuda itu tampak kikuk jika berada di dekatnya bahkan berusaha menghindar. Yifan pikir mood Chanyeol sedang tidak bagus dan stres akibat harus mengurus kuliah dan kedua putra kembar mereka. Untuk itu Yifan berusaha sekeras mungkin untuk mengurangi pekerjaan rumah Chanyeol dan membantu Omeganya mengurusi Yixian dan Chanyi.
Dan setelah beberapa kali Yifan mendapati Chanyeol bangun lebih dulu darinya –di mana hal itu adalah sesuatu yang tidak biasa, kali ini Yifan mendapati Chanyeol masih terlelap di sampingnya ketika alarm pukul 06.00 pagi berbunyi. Yifan mematikan alarm itu sebelum memusatkan perhatiannya kembali pada pasangan Omeganya itu. Dengan wajah putih pucat dan rambut hitam legam, Yifan menyadari bahwa Chanyeol kehilangan berat badannya.
Tanpa berniat membangunkan Chanyeol, Yifan mendekatkan diri pada pemuda itu dan mengecup pipinya. Aroma khas yang menguar dari perpotongan leher Chanyeol menyita perhatian Yifan yang merasa ada aroma lain yang mengganggunya. Namun belum sempat Yifan menerka aroma apa itu, Chanyeol tiba-tiba membuka matanya.
"Selamat pagi." Sapa Yifan yang kali ini berniat mengecup bibir Chanyeol namun tertahan ketika pemuda itu meletakkan telapak tangannya pada bibir Yifan.
Dahi Alpha itu mengkerut.
"Aku harus ke toilet." Dengan sedikit tergesa Chanyeol berlari ke toilet dan menutup pintunya.
Rasa penasaran sekaligus khawatir semakin menguasai kepala pebisnis itu.
Begitu Chanyeol keluar dari toilet, Yifan sudah mulai menyiapkan sarapan untuknya dan si kembar di dapur. Melihat punggung Yifan yang sibuk bergerak di depan konter membuat Chanyeol begitu ingin memeluknya, namun rasa takut dan cemas membuat Chanyeol urung melakukannya. Pemuda itu memilih untuk masuk ke dalam kamar si kembar dan membangunkan mereka.
Setelah selesai menyiapkan sarapan dan perlengkapan Yixian dan Chanyi, Yifan kemudian bersiap untuk berangkat ke kantor. Dan ketika ia tengah membasuh tubuhnya di bawah kucuran shower, Yifan tanpa sengaja melihat sebuah benda aneh di antara perlengkapan mandi Chanyeol yang hanya terdiri dari sikat gigi, sabun mandi dan shampo. Keduanya sepakat untuk memisah perlengkapan mandi mereka mengingat perlengkapan mandi milik Yifan sendiri sudah hampir memenuhi tempat.
Yifan awalnya ragu untuk meraih benda itu namun rasa penasarannya yang lebih besar membuat pemuda itu akhirnya mengambil benda berbentuk kotak itu. Yifan hanya bisa membaca merk dari benda itu tanpa ada petunjuk atau fungsi darinya. Tapi Yifan tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari dua buah garis merah yang tercetak di tengah-tengah benda itu.
Adrenalin memompa jantungnya lebih cepat dan membuat pemuda itu sedikit tersengal di bawah kucuran air dari keran shower. Yifan tidak bisa menyembunyikan senyuman yang muncul begitu saja di wajahnya. Aroma Omega Chanyeol yang berubah, kebiasaannya yang sedikit aneh, dan... apakah Chanyeol sedang menyiapkan kejutan untuknya demi mengabarkan berita gembira ini?
Jika dugaannya benar, maka Yifan adalah seorang Ayah sekaligus Alpha paling beruntung di dunia. Ia tidak habis-habisnya bersyukur atas kehidupannya yang sempurna ini.
Yifan mengembalikan benda itu dengan hati-hati ke tempatnya semula dan berpura-pura tidak mengetahui hal ini hingga Chanyeol mengatakannya sendiri padanya. Meskipun Yifan tidak yakin ia bisa menyimpan kebahagiaan ini sendiri.
.
.
.
"Kau ada latihan sepak bola hari ini?" Tanya Yifan ketika Chanyeol tengah sibuk mengelap wajah Chanyi yang belepotan setelah sarapan.
Chanyeol mengangguk. Meskipun ia sedang sibuk menyusun tugas akhir kuliahnya, ia masih menyempatkan diri untuk tetap melakukan hobinya di bidang olahraga.
"Wae?" Tanya Chanyeol yang mengawasi gerak-gerik Yifan yang terlihat aneh baginya.
Sejak keluar dari kamar setelah mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor, Yifan lebih banyak tersenyum dan memperhatikan Chanyeol dengan pandangan yang lebih adoring dari biasanya.
Yifan menggelengkan kepalanya dan bangkit untuk membereskan peralatan makan mereka di meja. Chanyeol sama sekali tidak menyentuh sarapannya dan hal itu membuat Yifan mengernyitkan dahi.
"Kau tidak sarapan?"
Chanyeol memandang mangkuk sereal di hadapannya ketika Yixian sudah berusaha turun dari tempat duduknya.
"Aku akan sarapan di kampus nanti." Jawab Chanyeol.
Keduanya bergegas untuk keluar dari apartemen dan bersiap untuk menjalani kegiatan masing-masing.
Yifan menahan lengan Chanyeol yang sudah akan keluar dari mobilnya yang terparkir di depan kampus dan memberikan ciuman ekstra untuk Omeganya itu.
Chanyeol menjilat bibirnya yang basah setelah Yifan melepaskan bibirnya dan memandanginya.
"I love you." Ucap Yifan.
Entah kenapa rasa bersalah justru menghantui Chanyeol kala itu hingga ia tidak mampu menjawab pernyataan Yifan seperti biasanya.
"I'll see you later."
Chanyeol harus segera mencari cara yang tepat untuk memberitahu Yifan mengenai kehamilannya ini. Tidak mungkin rasanya untuk terus menyembunyikan berita ini dari Yifan.
.
.
.
Pukul 02.00 siang, Chanyeol sudah menyelesaikan beberapa kelasnya dan kini tengah bergabung dengan tim sepak bola kampus yang ia ikuti. Pemuda itu sadar dengan keadaannya sekarang, ia tidak bisa bermain seperti biasanya. Maka dari itu Chanyeol hanya menghabiskan waktu untuk melihat teman-teman dan juniornya berlatih.
Sehun yang juga sepertinya baru keluar dari kelasnya dan sudah berganti pakaian menggunakan seragam tim mereka berjalan mendekati Chanyeol yang duduk di bangku penonton yang kosong.
Tidak ada penonton seperti ketika ada pertandingan, sesi latihan itu hanya dihadiri oleh anggota tim saja. Chanyeol mendongak dan seolah mengerti dengan tatapan yang sahabatnya itu berikan.
"Kau belum memberitahu Yifan?" Tanya Sehun memainkan bola di kakinya.
Chanyeol menghela nafas dan menggeleng. Ia masih belum memiliki ide untuk melakukannya.
"Ini sudah hampir satu minggu dan kau sudah hamil selama satu bulan lebih, kau pikir perutmu itu akan bisa kau sembunyikan sampai bayimu lahir?" Tanya Sehun yang menurut Chanyeol justru memojokkannya.
"Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat. Bagaimana kalau Yifan tidak siap dengan berita ini? Bagaimana—"
"Bagaimana kalau kau yang belum siap?"
Chanyeol seketika terdiam. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya dan memikirkan sejenak pertanyaan Sehun itu. Ia tentu saja bahagia dengan kehadiran calon bayi di dalam perutnya itu. Tapi Chanyeol juga tidak bisa menampik bahwa kehadiran calon bayi itu cukup mengejutkan dan tidak ia duga sebelumnya.
Lamunan Chanyeol terhenti ketika ponsel di sakunya bergetar. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya dan mendapati nama Yifan di layar. Tanpa menunggu lama Chanyeol menyentuh tombol jawab dan mendekatkan ponselnya itu ke telinga kanannya.
"Kau sedang sibuk?" Tanya Yifan di seberang.
Chanyeol memperhatikan lapangan berumput hijau yang membentang di hadapannya sebelum menjawab.
"Aku sedang di lapangan. Kau sudah istirahat?" Tanya Chanyeol berusaha memusatkan perhatiannya pada suara Yifan.
"Chanyeol..." Panggil Yifan tiba-tiba.
"Hm?" Kali ini mata Chanyeol mengikuti gerak teman-teman dan juniornya yang berlatih di lapangan.
"You know I love you, right?"
Kedua mata Chanyeol tiba-tiba memanas. Pada saat-saat seperti ini kenapa Yifan justru bersikap lebih manis dari biasanya yang membuat Chanyeol semakin menyesal karena menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa yang kau bicarakan?" Kata Chanyeol demi menutupi nada suaranya yang sudah menahan tangis.
Hal ini mungkin adalah bagian dari hormon Chanyeol yang berubah menjadi lebih sentimentil dari biasanya, tapi Chanyeol tidak meragukan lagi bahwa Yifan selalu berhasil untuk membuatnya tersentuh dan jatuh cinta padanya setiap waktu.
"Turn around—" Kata Yifan yang membuat Chanyeol otomatis menolehkan kepalanya.
"Mamaaaaaaa!" Teriakan Yixian dan Chanyi yang dengan begitu bersemangat berlarian ke arahnya membuat Chanyeol hanya bisa membeku di tempatnya duduk.
Dan ketika Yixian hampir jatuh tersandung, Chanyeol segera sadar dan bergegas untuk menyambut keluarganya. Kedua putra kembarnya sontak melingkarkan lengan kecil mereka pada leher Chanyeol ketika pemuda itu berjongkok di hadapan mereka.
Chanyeol membalas pelukan Yixian dan Chanyi bersamaan sebelum mengecup bibir kecil mereka satu per satu. Pemuda itu begitu sibuk meladeni pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari putra kembarnya yang baru pertama kali melihat lapangan sepak bola hingga ia tidak menyadari keberadaan Yifan yang sedari tadi berdiri di samping mereka.
"Lihat siapa yang datang?" Sehun yang sebelumnya sudah mulai berlatih kemudian menghentikan permainannya untuk menghampiri keluarga kecil itu.
Yixian dan Chanyi yang sudah tidak asing dengan sosok Sehun segera melepaskan diri dari pelukan Chanyeol untuk menghampirinya.
"Samchoonnnn!" Sapa kedua bocah itu bersamaan.
Sehun menggandeng tangan kecil bocah kembar itu dan mengajak mereka untuk bermain di lapangan.
Pada saat itu, Chanyeol baru menyadari keberadaan Yifan yang hanya bisa melihat pemandangan di hadapannya dengan tersenyum. Hari itu Yifan mengenakan kemeja berwarna biru yang ia lipat hingga sebatas lengan dan menampakkan tato berbentuk scorpio di lengannya, sebuah kaca mata hitam dan celana berbahan kain dengan warna senada. Yifan selalu tampil menakjubkan dan Chanyeol sudah tidak heran lagi.
Namun salah satu hal yang menarik perhatian Chanyeol dari penampilan Yifan kala itu adalah di mana kedua tangannya masing-masing menenteng satu krat kaleng soda dan satu kantung McDonalds.
"Hey..." Sapa Yifan sebelum meletakkan barang bawaannya di salah satu kursi.
Chanyeol menahan nafas ketika aroma Alpha yang begitu kuat keluar dari tubuh Yifan berhasil membuat kepalanya sedikit berputar. Tanpa menunggu lebih lama lagi Chanyeol menghampiri Alphanya itu dan menuntut sebuah ciuman darinya.
Pemuda yang tidak biasanya senang memamerkan kemesraan di depan umum itu tiba-tiba merasa begitu perlu untuk melakukannya hari itu. Teman-teman Chanyeol yang menyaksikan hal itu sudah bersiul dan menyoraki pasangan itu, tapi baik Chanyeol maupun Yifan seperti tidak peduli dan semakin larut ke dalam dunia mereka.
Barulah ketika kebutuhan akan oksigen dan pekikan dari Chanyi yang terjatuh membuat pasangan itu berhenti. Dengan wajah memerah akibat ciuman intensnya dengan Yifan sekaligus rasa malu yang baru saja ia rasakan, Chanyeol mencari-cari keberadaan putra kembarnya yang ternyata masih sibuk bermain dengan Sehun.
"Aku tidak tahu kau akan datang." Kata Chanyeol sebelum menjilat bibirnya.
Yifan melepaskan kacamatanya dan mengeluarkan sesuatu dari punggungnya.
"Uh, tolong jangan tertawa. Aku juga tidak tahu kalau aku akan datang." Yifan mengeluarkan sebuah rangkaian bunga mawar merah ke hadapan Chanyeol yang otomatis menutup hidungnya.
"Ini bukan bunga sungguhan." Tambah Yifan sambil menyerahkan bunga itu pada Chanyeol yang wajahnya semakin merah.
Pemuda itu sudah berpikir bahwa Yifan lupa dengan alerginya pada serbuk sari, namun pasangannya itu tampaknya justru lebih perhatian dari yang ia duga.
.
.
.
Yixian dan Chanyi pada akhirnya jatuh tertidur di pangkuan kedua orang tuanya ketika mereka sudah lelah ikut bermain dengan Sehun dan anggota tim sepak bola yang lain. Latihan hari itu sudah berakhir dan tinggal mereka berempat di lapangan sepak bola yang begitu luas.
Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 sore dan kedua orang dewasa itu belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk meninggalkan tempat itu. Keduanya masih menikmati hembusan angin dan langit senja yang berwarna kuning keeemasan.
"Apa kau bahagia sekarang?" Tanya Chanyeol tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.
Yifan memperhatikan pasangannya itu sejenak sebelum menjawab.
"Tentu saja. Aku sangat bahagia. Dengan kau, dengan Yixian, dengan Chanyi, dengan..." Yifan sudah tergoda untuk mengutarakan sesuatu yang ia ketahui tadi pagi.
"...semuanya." Lanjut Yifan setelah beberapa saat.
"Yifan..." Panggil Chanyeol. Yifan menoleh ke arahnya.
"Bagaimana jika ada hal-hal yang terjadi yang tidak sesuai dengan keinginanmu?" Tanya Chanyeol.
Yifan mengernyitkan dahinya. Senyuman di wajahnya perlahan memudar.
"Jika aku tidak bisa mengubahnya hingga menjadi sesuai dengan keinginanku, maka aku akan mengubah perasaanku dalam menghadapinya." Kata Yifan setelah beberapa saat.
Chanyeol menelan ludahnya.
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Yifan sambil merapatkan pelukannya pada Chanyi yang terlelap di pangkuannya.
Chanyeol mengangkat bahunya. "Aku hanya penasaran."
"Kau tahu bahwa kau bisa memberitahuku semuanya, Chanyeol." Kata Yifan tanpa ada tekanan dalam nada suaranya.
Chanyeol mengangguk. "Aku sedang menunggu waktu yang tepat." Chanyeol tertawa kecil untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
"Kau sadar tidak pernah ada waktu yang tepat, kan?"
Chanyeol sudah tergoda untuk mengutarakan semuanya pada Yifan pada saat itu juga. Namun Yixian yang tiba-tiba menangis membuat kedua orang itu akhirnya memutuskan untuk pulang dan meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Setelah berhasil menidurkan Yixian dan Chanyi yang justru hyperactive begitu sampai di rumah, Yifan membersihkan diri sementara Chanyeol memeriksa sebuah bab pada tugas akhirnya. Dan ketika Yifan selesai memakai pakaiannya dan duduk di atas tempat tidur, Chanyeol baru masuk ke dalam kamar mandi.
"Kau bisa tidur duluan." Kata Chanyeol.
Yifan beberapa kali memikirkan kalimat yang Chanyeol utarakan di lapangan sepak bola tadi. Mengenai hal-hal yang ia inginkan, mengenai waktu yang tepat. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala pemuda itu.
Yifan memutuskan untuk berbaring miring sambil meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya sebagai bantal. Yifan sudah hampir terlelap ketika ia merasakan bagian tempat tidur di sampingnya bergerak dan sebuah lengan melingkar di perutnya.
"Yifan..." Panggil Chanyeol pelan.
"Hm?"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Kata Chanyeol.
Yifan sudah akan membalikkan tubuhnya ketika Chanyeol menahannya agar posisi mereka tetap seperti itu.
"Aku hamil." Kata Chanyeol dengan setengah berbisik.
Yifan sudah menahan diri agar tidak tersenyum. "Kau apa?" Yifan ingin mendengarnya lagi dari Chanyeol.
Chanyeol terdiam dan tiba-tiba keberaniannya menghilang begitu saja.
"Maafkan aku. Aku telah ceroboh dan tidak berhati-hati. Aku—"
Chanyeol menutup rapat kembali mulutnya ketika ia merasakan tubuh Yifan yang membeku di dalam pelukannya.
"Apa yang kau bicarakan, Chanyeol?"
"Aku tahu kau tidak akan suka mendengar berita ini. Tapi aku juga tidak bisa menyembunyikannya lebih lama darimu." Kata Chanyeol dengan suara bergetar.
Yifan tidak bisa tinggal diam lebih lama lagi. Pemuda yang usianya hampir tujuh tahun lebih tua dari Chanyeol itu membalikkan tubuhnya hingga kini menatap Chanyeol yang mata dan hidungnya sudah merah.
"Bagaimana kau bisa berpikir kalau aku tidak akan menyukainya?" Yifan sama sekali tidak bisa menduga apa yang Chanyeol pikirkan kala itu.
Awalnya ia pikir Chanyeol sedang menyiapkan kejutan untuknya mengenai kabar ini, tapi rupanya pemuda itu menyembunyikan semuanya karena takut Yifan tidak akan menyukainya.
"Tapi bukankah kau pikir ini terlalu cepat? Aku tidak tahu apa kau akan siap mendengar hal ini. Aku tidak mau mengecewakanmu." Chanyeol yang sudah sesenggukan membuat Yifan segera merengkuh kepala pemuda itu dan mendekapnya.
Tentu saja. Chanyeol-nya ini masih begitu muda. Tentu saja pemuda itu akan merasa takut. Di usianya yang baru beranjak ke dua puluh dua tahun ia sudah akan merawat tiga orang anak sekaligus. Yifan merasa begitu egois karena tidak bisa memahami perasaan pasangan mudanya itu.
Setelah dirasanya Chanyeol sudah cukup tenang untuk diajak berbicara lagi, Yifan mengangkat wajah pemuda itu agar menatapnya.
"Chanyeol, my love, kau tidak tahu betapa bahagianya aku mendengar kabar ini. Aku bahkan berpikir bahwa pikiranku sedang mengada-ada ketika menemukan tes kehamilanmu di toilet. Kau tidak tahu bahwa aku merasa akulah orang yang paling berbahagia di dunia saat ini." Kata Yifan.
Dada Chanyeol masih sesenggukan dengan seluruh wajahnya yang memerah akibat menangis.
"Tapi aku juga telah merasa egois karena tidak memikirkan perasaanmu. Aku tidak sempat berpikir apakah kau juga senang dengan kabar ini—"
"Tentu saja aku senang karena bisa memberimu anak lagi." Potong Chanyeol dengan kedua matanya yang membulat.
Yifan mengecup bibir merah Chanyeol yang terasa sedikit asin akibat air matanya sebelum melanjutkan.
"Tapi apa kau juga sudah bertanya pada dirimu sendiri kalau kau siap dengan kabar ini?"
Pertanyaan itu juga Sehun lontarkan pada Chanyeol tadi siang. Pemuda itu terdiam mendengar pertanyaan Alphanya.
Yifan menyeka pipi Chanyeol yang basah menggunakan ibu jarinya dengan lembut.
"Aku awalnya terkejut dan tidak tahu apakah aku harus bahagia atau apa begitu mengetahui kalau aku hamil lagi. Aku hanya memikirkan Yixian dan Chanyi yang masih kecil. Tapi aku juga menginginkan anak ini. Aku hanya takut tidak bisa merawat mereka dengan baik." Kata Chanyeol.
Yifan tidak bisa menjanjikan bahwa mereka tidak akan kelelahan atau bosan dengan segala kerepotan yang terjadi karena mengasuh tiga orang anak sekaligus. Tetapi Yifan memastikan bahwa ia tidak akan membiarkan Chanyeol melewatinya sendirian.
"Aku mencintaimu dan aku begitu bangga padamu. Kau tidak pernah mengecewakanku, Chanyeol." Karena sepertinya kalimat itulah yang Chanyeol butuhkan saat ini.
Yifan mengusap poni rambut yang terjatuh pada dahi Chanyeol sebelum mengecupnya.
"Kita akan merawat mereka bersama. Kau akan menjadi Mama terbaik dan mereka akan tumbuh sepertimu." Lanjut Yifan.
Dan Chanyeol tidak bisa menghalangi perasaan hangat yang menyusup perlahan-lahan ke dalam dadanya mendengar kalimat teduh yang Yifan ucapkan. Bibir mereka bertemu, membiarkan setiap kata-kata yang akan terucap tenggelam dalam setiap kecupan dan pagutan darinya.
"I love you." Chanyeol mengeratkan pelukannya pada dada Yifan yang menempel padanya sambil membalas setiap pagutan dan hisapan yang Yifan lakukan pada bibirnya.
Mereka berdua bukanlah sebuah kesatuan yang sempurna, tetapi mereka adalah potongan-potongan yang saling melengkapi.
"Kita harus ke dokter besok." Kata Yifan di sela-sela ciumannya.
"Hm? Aku sudah memeriksakan diri ke klinik kampus. Ternyata aku sudah hamil selama satu bulan lebih." Balas Chanyeol.
Yifan menghentikan ciumannya dan mengangkat wajahnya untuk menatap Chanyeol.
"Aku baru mengetahuinya minggu lalu." Jelas Chanyeol setelah Yifan menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Minuman dari Nenek Wu bekerja dengan baik, huh?" Ujar Yifan sambil menciumi leher Chanyeol yang terkikik karena mendengar kalimat Yifan sekaligus kegelian.
Yifan kemudian melepaskan diri dari Chanyeol dan menyingkap piyama yang pemuda itu kenakan pada bagian perutnya. Yifan mengecup perut Chanyeol yang masih rata itu dengan lembut.
"Bagaimana kalau mereka kembar lagi?" Tanya Chanyeol.
Kedua mata sipit Yifan sukses membulat dan diikuti oleh tawa Chanyeol yang terdengar sengau karena sebelumnya menangis.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan review ^^
Paradisenya mohon ditunggu ya, masih on progress *padahal belum nge-draft sama sekali* wkwkwkwkwk
Dengan cinta,
Mt_Chan
