BETWEEN LOVE AND SORROW
.
.
.
Park Chanyeol & Byun Baekhyun (gs)
Kris, Sehun, Jongin, Kyungsoo (gs)
.
.
Chapter 2
Baekhyun berjalan sedikit limbung saat ia keluar dari ruangan Chanyeol. Para karyawan sempat melempar pandang heran begitu melihat sang Marketing Manager tersebut berjalan susah payah dengan setumpuk berkas. Bebarapa lembar diantaranya bahkan mencuat dari map dan tampak sangat berantakan.
Heels setinggi 7cm Baekhyun yang biasa ia pakai tiba tiba saja membuat langkah kaki Baekhyun semakin sulit saja. Taeyeon-sekertaris Baekhyun-sampai bangkit secepat kilat dari tempat duduknya dan membukakan pintu ruangan Baekhyun ketika ia melihat gadis itu mendekat dengan kesusahan, tangannya yang pendek-ditambah penuh dengan bawaan berkas-tampak menyedihkan sekali ketika berusaha meraih gagang pintu kaca tersebut.
Begitu Baekhyun masuk kedalam ruangan dan menaruh setumpuk berkas sialan tersebut diatas meja, ia mendudukkan dirinya dengan hembusan nafas frustasi, sambil bersender ke kursi kerjanya yang nyaman. Baekhyun hanya bisa memijit pelipisnya tanpa berniat untuk menoleh pada tumpukan map berwarna warni di depannya.
Pintu Ruangan yang tadinya tertutup kini terbuka diikuti dengan suara ketukan langkah heels beradu dengan lantai. Baekhyun tahu pasti siapa yang baru saja datang.
"Bunuh aku Kyungsoo." Baekhyun mendesah frustasi dengan wajah tertekuk, sementara teman bermata burung hantunya itu sekarang duduk di depannya dengan wajah mengamati.
"No. aku tidak ingin mendahului Mr Park untuk melakukan itu." Sahut Kyungsoo datar seolah kalimatnya barusan tidak akan memicu reaksi apapun dari Baekhyun.
"Apa yang ia lakukan padamu?" lanjutnya lagi.
Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar, ia memajukan tubuhnya dengan malas, lalu melirik setumpuk berkas di tengah mereka dengan tatapan tak minat.
"Tampaknya ia memberikan ku setumpuk Project baru untuk dikerjakan." Katanya pelan, lebih terdengar seperti sebuah gumaman.
"Apa dia gila?!" Bola Mata Kyungsoo yang bulat semakin membelalak seolah ingin keluar dari rongganya. Do Kyungsoo-yang Notabenenya memang suka ikut campur-segera meraih salah satu berkas tersebut dan membacanya sepintas.
"Head of marketing perusahaan ini adalah mimpi buruk dan… errr. Perusahaan ini, dipimpin oleh kepala marketing yang sangat teramat cabul." katanya dengan serius saat mengacung ngacungkan map berwarna merah dan kuning di depan wajah Baekhyun
"Kurasa aku tau kenapa Tuan Park menunjukmu untuk project kerjasama ini." Kyungsoo berkata serius sekali sambil melempar asal berkas itu ke atas meja. Baekhyun yang dari tadi sibuk berfikir tidak tidak, langsung mengambil asumsi sendiri.
"Dia ingin menjualku?!" Semburnya dengan ekspresi panik yang sedikit berlebihan, melihat itu Kyungsoo hanya berdecak malas. Belum sempat gadis bermata belo itu menyahut kesalah pahaman Baekhyun, suara lain menginterupsi mereka disusul dengan seosok pria berkulit tan yang masuk tanpa permisi dan segera duduk dikursi kosong sebelah Kyungsoo
"Tidak mungkin. Sajjangnim pasti memiliki cara lebih berkelas ketimbang dengan cara menjualmu." Kata Jongin santai, Kyungsoo yang melihat Jongin disampingnya kini hanya bisa memutar bola matanya.
"Lihat siapa yang menguping." sindir Baekhyun yang dibalas oleh kedikan bahu tak perduli dari si maknae. Sejujurnya Baekhyun tak habis pikir bagaimana bisa, Jongin—seorang Sales Manager—yang sedang terancam posisinya bisa begitu santai berkeliaran di lorong. Bisa dengan ajaibnya muncul diruangan Baekhyun. Apakah dia lupa, revenue bulan kemarin jeblok dan dia sebagai kepala sales harusnya sedang banting tulang sekarang untuk memperbaiki angka kemarin.
Tapi Jongin rupanya memiliki alasannya sendiri kenapa ia suka sekali mengintili kedua noona nya ini.
" Aku rasa mungkin dia hanya ingin membuatmu sibuk." Kata Kyungsoo, melanjutkan kembali maksudnya tadi. Mendengar hal itu Baekhyun spontan tidak terima. Emosinya langsung naik dengan raut kesal yang kentara.
"Tapi aku sudah sibuk!" pekiknya. Tak perduli apakah rekan kerja disamping ruangan Baekhyun akan terlonjak kaget atau tidak. Dalam hitungan detik, Baekhyun segera memutar kursi kerjanya hingga ia menghadap sebuah Rak besar berwarna grey dan mengambil map yang tak kalah besar dari compartment paling bawah.
"Kau lihat, ini adalah berkas berkas project ku yang masih on going." Baekhyun menaruh Map tersebut diatas meja dengan emosi yang belum turun, dilihat dari ketebalannya, Kyungsoo dan Jongin yakin sekali map itu pasti berisi lebih dari ratusan kertas dokumen.
Baekhyun membuka map itu tidak sabar seolah sedang bersih keras untuk menunjukan sesuatu kepada teman temannya. Ia membalik balik beberapa lembar laporan yang tebalut dalam plastik, kemudian berhenti dilembar keempat dan mengambil kertas itu
"Pemasaran di India." sahutnya, lalu melempar berkas tadi ketumpukan berkas dari Chanyeol. Kemudian, ia melakukan hal yang sama berulang ulang sampai Kyungsoo dan Jongin hanya bisa bertukar pandang.
"Bekerja sama dengan perusahaan di Jerman-dan harus kuingatkan, pihak sana sangat sentiment sekali dengan kita- ah, aku bahkan tidak mau menyebut yang ini." Cerocos Baekhyun sambil terus menerus membalik halaman-mengeluarkan dokumen tersebut-dan melemparkannya ke tumpukan berkas yang lain.
"Noona.." Jongin berkata lirih sambil memandang ngeri kearah Baekhyun. Ia lebih terlihat seperti orang yang tengah kesurupan sekarang.
"Dia ingin membunuhmu secara perlahan. Aku yakin itu." Kyungsoo menimpali dengan sorot mata yakin sekali seolah Baekhyun sedang berhadapan dnegan psikopat sekarang. Well, hal itu tak sepenuhnya salah sebenarnya.
Baekhyun yang baru menyadari tingkahnya barusan, menatap meja kerjanya yang sekarang terlihat seperti kapal pecah. Berkas lama tercampur dengan berkas baru dan itu artinya ia harus membaca satu persatu untuk membereskannya. Baekhyun menghela nafasnya lelah sambil mengusap wajahnya.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kerjakan saja tugasmu. Memang harus bagaimana lagi?" Jawab Jongin tanpa beban. Reflek, Baekhyun langsung mengalihkan pandangannya pada pemuda itu dan memberikan death glare khas miliknya.
"saran macam apa itu!" Desis Baekhyun. Lagi lagi Jongin hanya mengedikkan bahu.
"Sudahlah Baek, kita tidak tau apa rencana sajjangnim. Lebih baik.. kau jauh jauh dari masalah dulu ya." Kyungsoo yang merasa paling waras di situasi ini cukup bijak untuk mencairkan suasana dan menenangkan Baekhyun.
"Posisimu sudah sangat bahaya noona." Timpal Jongin yang membuat Baekhyun mau tak mau mengakui bahwa itu benar.
Dia memang sedang dalam bahaya
.
.
.
.
"Jadi kau benar benar melakukannya?" Suara sosok lelaki jangkung berperawakan blasteran terdengar di ruangan besar itu. Lelaki tersebut adalah Kris. Ia sedang memberikan laporan untuk dibahas dengan Chanyeol dan si General Manager tersebut menyambutnya dengan senyum penuh arti, kemudian membeberkan hal yang baru saja ia lakukan pada Baekhyun.
Alhasil, Kris hanya bisa tak habis pikir dengan ke"sinting"san sahabatnya itu.
"Kau tau aku tidak pernah bercanda dengan niatku kan Kris." Sahut Chanyeol ketika ia sudah selesai menanda tangani berkas tersebut lalu mengembalikannya pada Kris.
"Mau bertaruh?" Chanyeol mengernyitkan dahinya ketika Kris dengan nada seribu arti menantangnya bertaruh. Memang, hal ini sebenarnya adalah hal biasa. Semenjak remaja, baik Chanyeol dan Kris sering bertaruh untuk hal hal yang menarik. Uang, barang ataupun wanita. Tapi, yang Chanyeol bingung, untuk apa Kris mengajaknya bertaruh soal Baekhyun? dimana letak peluang keuntungannya?
"Kau akan jath hati padanya" kata Kris mantap sambil melipat tangannya lengkap dengan senyum miring khas nya. Chanyeol yang mendengar hal itu hanya bisa mendengus remeh dan ikut tersenyum geli. Tolol sekali-pikir Chanyeol
"Tidak akan." Kata Chanyeol tak kalah yakin.
"So, kau berani bertaruh?"
"Aku tidak akan jatuh hati padanya" Chanyeol berujar lambat lambat dengan penuh penegasan disetiap kalimatnya. Bukannya membuat Kris ragu, ucapan Chanyeol malah semakin membuat Kris tertantang dengan gambling mereka ini.
"Dan apa yang akan kudapat jika kau salah besar?" tanya Kris dengan seringai di wajahnya. Chanyeol rela mempertaruhkan segalanya dalam taruhan ini Karena ia tau, apa yang diramalkan Kris adalah hal bodoh. Maka, tak perlu waktu lama untuk berfikir dan menimbang nimbang, lelaki itu segera menjawab
"Rumah ku di Beverly Hills. Kuberikan padamu jika aku kalah taruhan." Katanya penuh keyakinan. Oh kawan, Chanyeol siap menggelontorkan harta berharganya. Karena toh, akhirnya ia akan menang juga.
Mendengar hal itu Kris tersenyum puas sambil mengangguk angguk. Dalam hati ia memuji Chanyeol atas keberanian dan ke-nekat-annya itu.
"Lalu, bagaimana denganmu?" Tanya lelaki dengan jabatan tertinggi di ruangan itu. Sebenarnya Chanyeol tidak begitu perduli dengan apa yang akan ia dapat, karena sesungguhnya pria itu bisa mendapatkan apapun yang ia mau dengan mudah. Hanya saja, rumah kesayangannya di LA juga harus diimbangi dengan taruhan yang bagus bukan?
"Koleksi lamborghiniku, ambilah semua jika kau tidak akan jatuh hati padanya" Sahut Kris sama santainya dengan Chanyeol. Pria itu terkekeh pelan. Ah… ia sudah bisa membayangkan jejeran Lamborghini mahal yang nantinya akan terparkir di garasi rumahnya di Gangnam.
"Whoa. kalau begitu, bersiaplah untuk berangkat kerja dengan bus, Mr wu. Ingat, meskipun kau teman dekat keluargaku, dan gelar mentereng keluarga Wu yang ada pada dirimu, kau tetaplah karyawanku dan aku tidak akan mentolerir jika kau terlambat karena sibuk mengejar bus." Ledek Chanyeol diikuti suara tawanya.
Kris masih tenang seperti tadi, tidak sedetikpun ia merasa ragu atau menyesal, bahkan ketika si teman brengseknya ini tertawa, Kris masih tersenyum santai.
"Fine Mr Park. Dan kau juga sebaiknya bersiap menjadi homeless saat kembali ke Los Angeles nanti."
Taruhan mereka ini, adalah taruhan dengan nilai terbesar yang pernah terjadi dalam sepanjang persahabatan keduanya. Baik Kris dan Chanyeol tidak merasa ragu sedikitpun karena mereka menganggap bahwa dirinya lah yang paling mengerti situasi dan Kondisi. Chanyeol yang yakin bahwa ia tidak akan mungkin jatuh hati, terlebih pada Baekhyun. Dan Kris yang merasa bisa menebak kemana arah kegilaan sahabatnya ini akan berakhir.
Dan ketika kedua anak dari konglomerat itu sibuk bertaruh. Merasa luar biasa yakin pada diri sendiri. Mereka lupa bahwa tak ada yang bisa menebak Takdir.
Tak ada.
.
.
.
.
.
.
"Selamat Siang Nona Byun. Anda dipanggil ke ruang rapat oleh Park Sajjangnim." Lagi lagi suara Taeyeon terdengar dari telfon kantor di meja kerja Baekhyun.
"Rapat? memangnya ada agenda apa?"
"Entahlah Nona, aku hanya menyampaikan perintah dari Tuan Oh."
Perlu lima detik untuk Baekhyun menahan diri agar ia tidak melempar gagang telfon itu ke luar jendela. Setelah berhasil mengatur nafas dan emosinya, akhirnya Baekhyun memilih untuk menerima saja apa yang Si keparat Chanyeol inginkan darinya.
"Hh… Ne, baiklah kalau begitu. Terima kasih Taeyeon"
Setelah sambungan itu ditutup, Baekhyun segera bergegas menuju ruangan Chanyeol dengan pikiran penuh tanda tanya.
Mau apa lagi orang ini?!
.
.
.
"Ah. Ya, Tentu saja Tuan Junmyeon. Semua aman terkendali. Kau tau bagaimana caraku bekerja 'kan?" Suara Bass Chanyeol terdengar menghiasi ruangan kerjanya ketika Baekhyun baru saja sampai disana. Pria itu sedang asik berbicara dengan penelfon diseberang sana sambil mondar mandir dengan satu tangan yang ia masukan kedalam saku. Posisinya yang berdiri menghadap kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Seoul, membuat Baekhyun hanya bisa melihat punggung tegap nya yang kokoh.
"Permisi." Kata Baekhyun lagi, merasa canggung berdiri disana hanya untuk menguping pembicaraan orang. Terlebih seorang Park Chanyeol.
Chanyeol yang baru menyadari suara mencicit dari arah belakang, menoleh singkat kesumber suara. Ia kemudian memberikan gesture pada Baekhyun untuk menghampiri mejanya.
"Baiklah, akan kuhubungi anda nanti. Sampai jumpa Tuan, selamat siang." Kata Chanyeol mengakhiri sambungan telfonnya, lengkap dengan sebuah senyum cerah yang jarang terlihat di wajah tampan itu. Baekhyun bisa menebak, Chanyeol pasti baru saja melakukan pekerjaan yang memukau sehingga sang General Manager sedang dalam mood yang cukup baik-Mungkin.
"Duduklah." Kata Chanyeol sambil duduk dikursi besarnya. Baekhyun hanya mengangguk patuh lalu duduk dengan kikuk
"Baik, mari kita bahas soal progress tugas mu." Kata Chanyeol santai namun dengan sorot mata serius yang sangat menuntut. Keningnya yang terekspos dengan tatanan rambut rapih, semakin membuat aura Chanyeol terasa sangat mengintimidasi Baekhyun saat ini.
Sementara gadis itu hanya bisa mengerjapkan matanya tidak mengerti.
"Tugas.. yang mana Sajjangnim?" Baekhyun membeo, otak gadis itu bekerja secepat mungkin untuk memproses apa maksud boss nya barusan.
Chanyeol berdecak, mata nya kini memandang Baekhyun dengan tatapan malas. Sekilas ia melirik kearah jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya, gelagat yang menunjukan bahwa ia tak tertarik untuk membuang waktu berharganya dengan meladeni karyawan lambat seperti Baekhyun.
"Yang aku berikan padamu tadi pagi."
"Lalu.. progress apa yang Anda maksud Tuan?"
Habis sudah kesabaran Chanyeol. Pria itu memajukan tubuhnya sambil menatap Baekhyun dengan tatapan mengerikan yang sering ia lemparkan pada setiap karyawan disini.
"Kau ini tolol atau memang tidak punya otak? tentu saja perkembangan project yang kuberikan padamu. Sudah kau kerjakan sampai mana." Chanyeol berujar dengan nada datar, tetapi hal itu berhasil membuat jantung Baekhyun mencelos. Baekhyun hanya bisa tertunduk, menghindar dari tatapan Chanyeol yang seolah menelanjangi dirinya.
"Mo-mohon Maaf Sajjangnim, tapi saya belum melakukan apapun, anda baru saja memberikan berkas tersebut pagi ini. Saya masih dalam tahap mempelajari lebih dalam."
"Kau pikir kantor ini sekolah? kita tidak memerlukan karyawan yang hanya terus belajar. Aku ingin eksekusinya nona Byun". Rasa kesal yang sejak tadi sudah menumpuk di hati Baekhyun membuat gadis itu sontak mendongakan kepalanya dan membalas tatapan Chanyeol.
"Tapi bagaimana Aku bisa mengeksekusi sesuatu jika belum paham benar apa yang aku kerjakan?"
BRAK!
Chanyeol mengebrak meja besarnya, suara gebrakan tersebut berhasil membuat Baekhyun terlonjak beberapa inci dari tempat duduknya. Seketika ia menyesali sikap menantangnya beberapa detik lalu.
"Aku tidak butuh excuses." tegas Chanyeol.
Tanpa menunggu Baekhyun untuk merespon, Chanyeol segera meraih gagang telfon diatas meja kerjanya dan menekan tombol nomor 2. Tak berapa lama panggilan pun tersambung dan Baekhyun bisa mendengar dengan jelas apa yang bos besarnya katakan.
"Sehun-sshi, siapkan jadwal pertemuan dengan Tuan Kim Namjoon." Perintah Chanyeol dari balik gagang telfon dengan aura tegas yang tak luntur dan telfon itu kembali ditutup. Chanyeol kembali mengalihkan pandangannya pada Baekhyun yang masih duduk mengkerut di hadapan pria itu.
"Aku ingin Proposal kerjasama dengan perusahaan Tuan Namjoon secepatnya. Make it happen." Chanyeol berujar sambil mengibaskan tangannya, gesture agar Baekhyun segera menyingkir dari hadapannya dan kembali bekerja.
"Ne sajjangnim." sahut baekhyun kemduian bangkit dari kursinya, dan tak lupa memnbungkuk 90 derajat sebelum ketukan langkah kakinya terdengar menjauh.
.
.
.
Baekhyun menghirup nafasnya dalam dalam ketika wanita itu sudah keluar dari ruangan Chanyeol. dadanya naik turun seolah ia baru saja dikejar oleh singa gladiator. Sadar bahwa situasi sudah aman, Baekhyun yang tadi memunggungi pintu besar ruangan chanyeol pun memutar badannya. Ia menatap pintu itu dengan tatapan sinis sampai sampai mata sipitnya hanya tampak segaris
"Kau bersyukur aku tidak melayangkan heels ku kewajah sialanmu itu Park Chanyeol!" Baekhyun membatin. Segala kekesalannya barusan ia limpahkan pada pintu itu. Berharap pintu itu meledak dengan sendirinya dan membakar habis ruangan chanyeol. Kalau bisa beserta orang di dalamnya sekalian!
Tapi didetik berikutnya raut wajah Baekhyun malah melunak, berganti dengan raut murung. Bagaimana mungkin ia bisa menyelesaikan berkas sebanyak itu? diam diam ia merutuki dirinya sendiri karena menghabiskan waktu waktu berharganya tadi pagi untuk meladeni ocehan Kyungsoo dan Jongin. Lalu, harus disibukan dengan merapihkan meja oleh timbunan berkas usang yang ia hamburkan diatas meja.
Baekhyun termenung. Kenapa ia harus sesial ini?
"Sebaiknya kau mulai bekerja daripada membatu disitu nona. Jika kau mengira Tuan Park akan luluh dengan wajah mengenaskanmu itu, kau salah besar." Suara datar Oh Sehun berhasil membuyarkan lamunan Baekhyun. Gadis itu mengerjapkan matanya lalu menoleh kearah Sehun yang sedang berada di meja kerjanya, terletak tak jauh dari pintu masuk ruangan Chanyeol.
Pria berkulit pucat itu tampak sibuk. Jemari nya bergerak gerak diatas computer sehingga bunyi ketikkan terdengar sangat cepat. Tatapannya lurus kearah layar, dan mata lelaki itu bergerak mengikuti kalimat yang ia ketik. Seolah benar benar sangat teliti dengan pekerjaannya yang Baekhyun tak mau tau apa itu.
"Kau sama sekali tidak membantu." Cibir Baekhyun dengan bibirnya yang tanpa sadar mengerucut lucu. Sehun hanya mengedikkan bahu nya tak perduli.
"Aku memang tidak berniat membantu." sahutnya, bahkan tanpa melirik Baekhyun sedikit pun.
.
.
.
.
.
.
Sekembalinya ke ruangan, Baekhyun segera memanfaatkan waktu yang ada untuk kembali mengecek tumpukan map berwarna warni tersebut dan mencari satu persatu project yang ditujukan untuk Tuan Namjoon.
Setelah 15 menit berlalu, Gadis itu mempelajari baik baik proposal yang dimaksud, lengkap dengan agreement yang tertera disana. Butuh memeras otak untuk menyiapkan proposal ini, waktu singkat, minimnya pemahaman data, ditambah sebenarnya PIC project ini awalnya bukanlah Baekhyun, melainkan marketing manager sebelumnya.
Suara ketukan di pintu bahkan tidak berhasil membuat konsentrasi gadis itu buyar. Baekhyun masih sibuk dengan laptopnya, ia juga tidak menyadari ketika Kyungsoo sudah membuka pintu dan berdiri diambang pintu masuk seperti sekarang.
"Hi Baek. kau mau makan siang?"
Masih tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara ketikan yang terdengar mengerikan diatas keyboard komputernya.
"Ayolah, perutmu harus diisi." itu Jongin, yang sudah merasa nyaris mati karena sangat kelaparan. Pria itu sepertinya melewati sarapannya pagi ini.
"Tidak bisa. Si kep-eh maksudku.. Sajjangnim meminta proposal secepatnya untuk Perusahaan Tuan Namjoon. bahkan ia sudah meminta kepala sekertarisnya yang bermuka datar itu untuk mengatur appointment meeting kami."
Kyungsoo memutar bola mata burung hantunya sambil melipat tangannya."come on, tidak mungkin orang sesibuk tuan Namjoon bisa meluangkan waktu untuk meeting dekat dekat ini." katanya bersungguh sungguh. Oh, Nona Do sudah sangat jengah sekali dengan Deadline kurang ajar dari General Manager mereka yang tak kalah kurang ajar.
"Kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan tuan Park kan? Bahkan untuk seukuran General Manager, ia bisa membuat komisaris perusahaan di Inggris bertekuk lutut padanya."
Kyungsoo dan Jongin tak menyahut apa apa. Baekhyun yang tadinya seribu persen sedang terfokus pada layar laptopnya, akhirnya meluangkan beberapa detik berharganya untuk sekedar menoleh kearah Kyungsoo dan Jongin.
"Look guys. Maaf. tapi aku benar benar harus menyelesaikan ini. Pergilah. Aku baik baik saja" Baekhyun berujar lembut. Menyadari bahwa tetap menggeret Baekhyun untuk makan siang hanya sia sia, Jongin dan Kyungsoo pun akhirnya mengangguk.
"Hm.. baiklah kalau begitu Baek. Kami pergi dulu."
"Hwating."
Setelah Kyungsoo dan Jongin menghilang dari balik pintu, Baekhyun pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
.
Entah apa yang terjadi hari ini, kenapa semua orang suka sekali mengganggunya, terlebih disaat ia sedang dicekik oleh tumpukan kerjaan yang diberikan tuan Park. Jika sebelumnya Kyungsoo dan Jongin yang mengusiknya, maka sekarang dering telfon kantor lah yang mengganggunya. Baekhyun ingin sekali tidak menggubris bunyi nyaring itu, tapi ketika suara telfon itu berdering berkali kali dan akhirnya hanya semakin membuatnya tak fokus, Baekhyun menyerah lalu mengangkat gagang telfon itu dengan gusar.
"Baekhyun Speaking"
"Maaf Nona Byun, Anda ditunggu Park Sajjangnim di Lobby untuk pertemuan dengan Tuan Namjoon."
"Mwo?!" Mata sipit Baekhyun terbebelalak dengan suaranya yang meninggi tanpa bisa ia cegah.
"Dan… ehm.. Beliau juga sudah bergerak dari Ruangannya menuju Lobby dengan Tuan Oh."
Sialan!. Batin Baekhyun mengumpat keras. Bisakah Chanyeol tidak membuatnya kalut dalam sehari saja?!
"Sebaiknya anda bergegas Nona." Cicit Taeyeon dengan suara tersirat akan ketakutan. Meskipun bukan ia yang sedang dalam masalah, tapi membayangkan Tuan besar Park itu marah membuatnya bergidik ngeri.
"Aishh.. ottokhaeee."
"Ba-baik kalau begitu, Terima kasih Taeyeon-sshi"
Tepat setelah itu, Baekhyun segera menutup telfon dan membereskan berkas berkas yang akan dia bawa. Bibir kucing Baekhyun tak henti hentinya mengucapkan sumpah serapah selagi tangannya sibuk bergerak gerak diatas meja. Print dokumen, mencari map, ponselnya dan lain lain.
Tuan Park memang sedang membuatnya gila.
.
.
.
.
Baekhyun berusaha untuk secepat mungkin mencapai lobby, tapi entah kenapa alam semesta tampaknya tak bisa bekerja sama dengan dirinya hari itu. Di situasi genting seperti ini, lift kantor sempat sempatnya sangat penuh dan ada beberapa unit yang sedang dalam maintenance. Heol! dari seluruh hari, kenapa harus saat ini lift itu diperbaiki?! dan sialnya kenapa baru sekarang!?
Ingatkan baekhyun untuk memprotes building manager kantornya nanti. Sekarang, ia harus menyelamatkan nyawanya lebih dulu.
Ketika gadis itu akhirnya tiba di lobby dengan nafas terengah—efek berlari di tangga darurat—ia bisa melihat mobil sedan mahal Chanyeol sudah terparkir dengan indah di Lobby. Dari balik kaca hitam, samar samar Baekhyun bisa melihat Sehun yang tengah duduk di samping kemudi, memberikannya kode untuk segera masuk kedalam mobil.
Tanpa membuang waktu barang sedetik pun, ia segera mendekat ke mobil hitam tersebut, membuka pintunya, dan dengan rasa canggung yang amat sangat, ia duduk dibangku belakang. tepat disamping yang terhormat Tuan Chanyeol.
Chanyeol melirik jam tangan mahalnya dengan mata dingin
"15 menit hanya untuk menuju lobby dari ruanganmu? Kau lumpuh atau bagaimana?" Chanyeol berujar bersamaan dengan mobil mereka yang kini mulai melaju pergi.
"Mianhe Sajjangnim. Tapi aku tidak tahu bahwa rapatnya akan sangat dadakan seperti ini." Baekhyun menundukkan kepalanya berkali kali, merasa sangat bersalah meskipun ingin rasanya ia menimpuk Chanyeol dengan heelsnya sekarang ini.
"That's why I need you to be well prepared anytime, Ms Byun." Pria itu hanya bisa menyahut santai sambil menggerak gerakkan jarinya dilayar Tab. Membaca berita hari ini mungkin?
"Ah.. Soal Berkas yang aku minta, apa kau sudah menyiapkannya?" Sahutnya lagi tanpa memandang Baekhyun sediktpun.
"Sudah Sajjangnim."
"Bagus. Bagaimana dengan presentasinya?"
Huh?
"Presentasi? Presentasi apa?" Kening Baekhyun berkerut bingung dan didetik itu juga ia merasakan jantungnya mencelos. Oh tidak, apalagi yang ia lupakan sekarang?
"Tentu saja kau juga harus mempresentasi kan soal perusahaan kita dengan mereka nona Byun."
"Ah…" Baekhyun menggigit bibir nya. Matanya bergerak gerak cepat. Gadis itu berfikir keras bagaimana ia bisa memperbaiki situasi sekarang ini.
Tak mendapatkan respon yang ia harapkan, Chanyeol menoleh kearah Baekhyun dan pria itu sudah bisa sangat menebak apa yang terjadi hanya dari raut marketing managernya yang sangat mengenaskan sekarang ini.
Dengan sebuah decakan dan hembusan nafas jengah, Chanyeol melempar Tab yang ia pegang tadi kearah pangkuan Baekhyun.
"Persiapkan presentasi itu sekarang!"
"Baik Sajjangnim." Baekhyun membeo patuh dan disambarnya Tab tersebut dan segera menyiapkan presentasi dengan waktu yang sangat minim.
Hari ini jelas hari penyiksaan untuknya.
.
.
.
.
Setengah Jam tampaknya hanya terasa dua menit untuk Baekhyun, ketika mobil mereka sudah memasuki lobby utama tempat tujuan, Baekhyun belum menyelesaikan slide terakhir dan tampaknya Chanyeol tidak berminat sama sekali untuk memberikannya beberapa menit lagi.
Alhasil, Pria itu dan Sehun langsung turun dari mobil—dan mau tak mau—diikuti oleh Baekhyun yang masih panik dengan kondisi power pointnya.
Keinginan Baekhyun untuk mencuri waktu dengan izin pergi ke kamar mandi dan segera menyelesaikan slide power pointnya gagal ketika salah seorang anak buah Namjoon menghampiri Chanyeol dengan senyuman ramah.
"Selamat Siang Tuan Park. Selamat datang di Bighit corp. Namjoon Sajjangnim sudah menunggu anda di big meeting room kami. Mari saya antarkan."
Chanyeol mengangguk dan akhirnya mereka pun mengekori pria itu. Ada sesuatu yang terdengar janggal di telinga Baekhyun. Tapi mengingat urgensi saat ini, Wanita itu memilih mengabaikan pikirannya dan kembali ke fokus mencari solusi untuk menyelematkan slide presentasinya yang belum selesai.
.
.
.
Sepanjang perjalanan menuju ruang meeting, Baekhyun tidak mendapatkan celah sedikitpun untuk kabur. Akhirnya mau tak mau ia menerima keadaan terlebih ketika mereka telah sampai di ruangan tersebut dan menemukan Namjoon dan beberapa bawahannya sudah ada disana
"Selamat siang Mr Park. How have you been?" Namjoon bangkit dari kursinya dan menjabat tangan Chanyeol dengan senyum merekah. Surai hitam pria itu disisir rapi, menampilkan keningnya yang terekspos. Dan dari pronouncation nya, Baekhyun yakin sekali orang ini telah tinggal cukup lama di luar negeri, seperti Chanyeol.
"Never better. How about you?" Chanyeol membalas jabatan Namjoon dengan senyum khasnya.
"Great."
"Kenalkan, ini Kepala Marketing kami, Jung Hoseok dan Bussiness development manager Jeon Jungkook." Kata Namjoon sambil memperkenalkan dua pria yang menemaninya tadi. Baekhyun menjabat tangan mereka dengan senyum senormal mungkin. Harus dia akui, kenyataan slide presentasinya yang belum selesai membuat konsentrasinya terpecah.
"Baiklah kita langsung saja, silahkan duduk."
Chanyeol duduk dengan aura bossy nya yang kentara, anehnya, meskipun Namjoon dan Chanyeol memiliki jabatan yang setara, tapi pria itu tampak patuh pada Chanyeol. Padahal, kenyataannya Chanyeol-lah yang bertamu disini. Hal ini membuat Baekhyun semakin benci saja dengan Bos nya yang tak tau tata krama itu.
Sementara Sehun, pria itu tidak banyak menunjukan ekspresi apapun, ia hanya duduk disamping Chanyeol dan bersiap mencatat apapun yang diperlukan.
"Okay, seperti yang sudah kami bicarakan lebih dulu, Bahwa KJ enterprise berniat untuk bekerja sama dnegan perusahaan anda. Memang sudah seharusnya hal ini dibicarakan oleh CEO kami dengn CEO BigHit corp. but, yeah, you know Mr junmyeon mempercayakan semua hal pada saya meskipun itu diluar dari porsi kerja saya sesungguhnya. And moreover, we've been a good friends since high school, so why not." Kata Chanyeol membuka suara, pria itu kemudian menoleh kearah Baekhyun.
"Untuk selebihnya, akan dijelaskan oleh Marketing Manager kami,Nona Byun."
Baekhyun tanpa sadar menelan ludahnya. Ia membagikan berkas yang sudah ia bawa kepada setiap orang diruangan itu untuk materi meeting. Sambil menunggu Projector disambungkan untuk memulai presentasi, Baekhyun mencoba mengulur waktu dengan perkenalan diri.
"Selamat siang semuanya, saya Byun Baekhyun. Kali ini saya ingin mempresentasikan tentang KJ Enterprise dan bentuk kerjasama yang ingin kami tawarkan pada-"
"Tunggu dulu Nona Byun. Apa kau yakin dengan judul materi yang kau buat?" Belum selesai Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, Namjoon sudah memotong ucapan Baekhyun dengan raut wajah tak senang ketika menatap berkas diatas meja itu.
"Te-tentu Tuan … ada sesuatu yang kurang berkenan?"
"Sepertinya kau salah menulis nama perusahaan kami nona, dan setelah saya bahas sekilas, berkasmu tidak relevan dengan proposal project kami sebelumnya. Mungkin, ini milik perusahaan lain." Kata Namjoon tegas. Mendengar hal itu semua orang diruangan meraih berkas yang Baekhyun buat dan membaca nya dengan teliti.
Ah, Baekhyun baru sadar sekarang mengapa ia tadi merasa janggal ketika mendengar bawahan Namjoon menyebutkan nama perusahaan mereka. Ia salah mempersiapkan berkas. Yang selama ini ia kerjakan adalah untuk perusahaan Supernova Ent. CEO nya juga memiliki nama nyaris mirip, yaitu Kim Nan Joon. Baekhyun ingin sekali melemparkan dirinya dari atas atap sekarang.
"Apakah kalian meremehkan kami? membuang waktu kami hanya untuk lelucon seperti ini? Begitukah Mr Park?"
Namjoon menatap Chanyeol dengan sorot mata tajam yang ia bisa, melihat bos besarnya disudutkan seperti ini—terlebih karena ulahnya—Baekhyun entah kenapa merasa sangat teramat berasalah. Ia menahan mati matian air matanya yang bisa saja keluar. Menangis dalam situasi ini sangat tidak profesional.
"Tidak sama sekali Namjoon-sshi. Bukan begitu maksud kami" Chanyeol mencoba menjelaskan setenang mungkin, tapi dari nada nya semua orang pun bisa paham bahwa lelaki itu sedang menahan emosi yang amat sangat.
"Tapi ini benar benar salahku." Chanyeol mendesis lalu menatap lurus lurus kearah Baekhyun yang sedang berdiri tertunduk
"Bagaimana mungkin aku menunjuk karyawan dengan otak cetek seperti ini untuk memimpin presentasi dalam pertemuan penting."
Dari sudut matanya, Baekhyun bersumpah ia melihat pria bernama Jungkook itu mendengus remeh sementara Sehun seolah berkata "apa kau setolol itu?" dari sinar matanya.
"Aku mungkin harus meninjau ulang kenapa HRD kami memilihnya bekerja di KJ enterprise."
"Harusnya aku kembalikan saja dia ke rehabilitasi tuna rungu agar ia bisa membaca, berfikir dan berbicara dengan benar."
Chanyeol kembali mengalihkan perhatiannya kepada Namjoon yang duduk tepat diseberangnya.
"Maaf tuan Namjoon. Ini sepenuhnya salahku untuk membiarkan wanita tak berotak masuk kedalam tim kami."
Namjoon menghela nafasnya dalam dalam, "aku rasa juga nona Byun tidak memiliki materi presentasi lain yang sesuai. Kita sudahi saja pertemuan hari ini."
"Baiklah, kalau begitu, maaf kami telah mengganggu waktu anda Tuan Namjoon, sebaiknya kami kembali ke kantor dan membahas untuk menebus kesalahan ini dilain waktu."
Chanyeol dan Namjoon bangkit, diikuti dengan bawahan yang lain.
"Dan aku pastikan tidak ada lagi karyawan incapable yang masuk kedalam project ini" Jelas Chanyeol dengan aura dingin yang menyelimuti ruangan. Hoseok dan Jungkook sedikit bersyukur bukan merekalah yang berada di posisi Baekhyun dan memiliki bos menyeramkan seperti Chanyeol.
"Baiklah tuan Park, jujur, kami sangat kecewa, tapi aku bisa mengerti. Aku tau bagaiaman cara anda bekerja. Selamat siang."
Dan setelah jabat tangan singkat, Namjoon serta dua bawahannya meninggalkan ruangan, diikuti Chanyeol Sehun dan tentunya Baekhyun. Langkah kaki Chanyeol yang tergesa, dan rahangnya yang mengeras, menunjukkan sekali bahwa ia siap menghabisi Baekhyun setelah ini.
.
.
.
.
"kenapa tidak sekalian saja melempari kotoran ke wajahku Byun Baekhyun!" Chanyeol berujar dengan amarahnya yang belum surut. Tampaknya Baekhyun harus menahan dirinya lagi. Setelah kalimat kalimat menusuk Chanyeol diruang meeting, pria itu seolah belum puas dan masih ingin menampar Baekhyun dengan kata katanya selama di perjalanan pulang.
"Maaf Park Sajjangnim, tapi anda tidak mengatakan dengan jelas siapa Namjoon yang dimaksud.. Jadi sa-"
"Kau menyalahkanku?! Begitu?!" Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan nyalang, membuat gadis itu semakin mengkerut ditempatnya.
"Bu-Bukan begitu Sajjangnim"
"Jika kau tidak yakin, gunakan mulutmu untuk bertanya! Lagipula, yang kau tujukan itu untuk tuan Kim Nan Joon, bukan Namjoon, jadi dari situ saja itu sudah berbeda. Dan kau masih berani bertingkah polos?"
Baekhyun kehabisan kata kata untuk menjawab segala ucapan menohok yang Chanyeol lontarkan, Menangis juga hanya akan memperkeruh keadaan.
"Maafkan saya Sajjangnim" lagi lagi, hanya maaf yang bisa ia ucapkan.
"Aku tidak butuh maaf mu. Aku hanya membutuhkan mu bekerja. Buat apa kami harus mempekerjakanmu jika akhirnya kau hanya memperkeruh semuanya."
Hening beberapa detik sebelum akhirnya Sehun bersuara.
"Permisi, Sajjangnim. Maaf mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa Karena kegagalan meeting barusan, anda masih memiliki waktu untuk pertemuan lain di Gangnam dengan Mr George. Apa kah anda ingin saya untuk mengconfirm ketersediaan waktu anda?"
"ya. kita langsung ke Gangnam sekarang. Setidaknya dengan kegagalan meeting tadi aku bisa melakukan hal produktif lain."
"Dan.. bagaimana dengan nona Byun, sajjangnim?" Tanya Sehun sambil melirik Baekhyun dari kaca Spion tengah di dalam mobil.
"Turunkan saja dia di dekat halte bus. Aku yakin sebodoh bodohnya dia, dia masih bisa naik bus kembali ke kantor."
Belum sempat Baekhyun memproses kalimat Chanyeol barusan, pria itu sudah memperintahkan supir mereka berhenti dipinggir jalan. Tak peduli jika hari itu langit sangat mendung dan hjuan bersiap turun.
"Berhenti di halte bus di depan."
Mendengar titah bosnya tersebut, sang supir hanya bisa patuh dan menepikan mobil didekat halte bus terdekat. Baekhyun mau tak mau bersiap untuk turun. Jika dipikir pikir, ia sebenarnya bersyukur diturunkan ditengah jalan sepeeti ini. Lebih baik ia kembali ke kantor dengan Bus ketimbang harus bersama Chanyeol lebih lama lagi. Bisa bisa, kupingnya copot Karena terus dicekoki kalimat kalimat panas dari atasannya itu.
Hanya saja, yang membuat Baekhyun luar biasa kesal dengan bos nya ini adalah, sekarang rintikan hujan sudah mulai turun. Dan Baekhyun benci dengan hujan.
Setega itukah Chanyeol? membiarkan karyawannya kehujanan?
Ah. Tentu saja. itu hal sepele untuk tuan besar Park
"Jangan berfikir untuk pergi dan pulang kerumah. Akan aku pastikan resepsionis melihatmu kembali ke kantor." Chanyeol memperingatkan Baekhyun beberapa detik sebelum gadis itu turun dari mobil. Sementara Baekhyun hanya bisa mengangguk patuh.
Begitu Baekhyun menutup pintu mobil, sedan hitam itu pun segera meluncur pergi dan menghilang di tikungan dekat lampu merah.
"MANUSIA KEPARAT!" Baekhyun memaki sekencang mungkin, tak perduli bahwa sedan itu sudah menjauh dan si lelaki yang dimaksud tidak akan bisa mendengar. Beberapa pejalan kaki yang berada di sekitar Baekhyun memandangnya dengan heran, bahkan juga ada yang terang terangan melihatnya dengan tatapan ngeri.
Sadar akan itu, Baekhyun kemudian berusaha kembali menguasai dirinya dan mencoba bersikap normal.
"aishh… ottokhaeeee." gumamnya ketika ia mendapati rintikan hujan semakin lebat dan halte tempat menungu bus telah penuh sesak dengan orang orang yang berteduh.
.
.
.
Beruntung Bus yang Baekhyun tunggu datang tak lama setelah itu, gadis itu akhirnya berhasil tiba dikantor tanpa basah kuyup, walaupun rintikan hujan berhasil meninggalkan bercak bercak air di pakaiannya dan membuat rambutnya tampak sangat buruk.
Gadis itu melangkah secepat mungkin di lobby kantor dan segera menyelinap masuk ke dalam lift, tentu saja setelah memastikan resepsionis kantor melihatnya, agar Mr Park sialan itu tak menuduhnya kabur esok hari.
Denting lift terdengar sebelum benda kotak itu mencapai lantai ruang kerja Baekhyun. Saat pintu lift terbuka, ia bisa melihat Kyungsoo dengan beberapa berkas ditangannya. Gadis bermata burung hantu yang tadinya masih sibuk membaca berkas tersebut, seketika terlonjak saat mendapati Baekhyun disudut lift dengan tampilan yang berantakan.
"ah! Baekhyun. Kenapa kau kembali sendirian? kenapa kau berantakan sekali? dimana Tuan Park? bukankah kau pergi rapat dengannya?" Kyungsoo membom bardir Baekhyun dengan segala rentetan pertanyaan selagi ia masuk kedalam lift. Matanya yang bulat semakin bulat saja sekarang.
"Jangan. Sebut. Nama. Park. Didepanku. Atau aku akan membunuhmu!"
Mendengar ancaman Baekhyun lengkap dengan aura gelap nya yang tak bersahabat, Kyungsoo hanya bisa menghela nafasnya panjang dan membungkam mulutnya rapat rapat. Mungkin, sebaiknya ia menunggu beberapa saat sampai akal sehat Baekhyun kembali normal.
.
.
.
.
Berbeda dengan Baekhyun, berbeda pula dengan Chanyeol. Setelah menyelesaikan pertemuan singkat dengan Mr George, Chanyeol menghubungi Kris dan memintanya untuk bertemu disebuah coffee shop dekat kantor.
Kebetulan sekali, Kris juga baru saja menyelesaikan meetingnya diluar. Maka sore hari itu, dihabiskan oleh kedua pria itu disudut kedai kopi dengan asap rokok yang mengepul di asbak mereka.
"Jadi kau bahkan melibatkan Namjoon?"
Chanyeol yang sedang memantikkan api dan menjepit sebatang rokok di bibirnya hanya bisa menaikan alisnya sekilas sebagai jawaban.
"Kau benar benar orang paling penuh persiapan yeol." sahut Kris sambil terkekeh pelan dan menyeruput kopi hangatnya.
"you know me." Chanyeol berkata penuh kebanggaan sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Lalu, bukankah itu terlihat tidak profesional dengan melibatkan perusahaan lain?"
"Kita berdua tau, project antara BigHit corp dan KJ enterprise sudah tidak berlaku, dan aku pikir, suntikan dana yang kuberikan untuk bisnis pribadi Namjoon sudah cukup membuatnya tutup mulut atas scenario ini. Lagi pula, asal kau tahu, belum sempat aku mengerjai Baekhyun dengan scenario ku, wanita itu sudah membuat kekacauan lebih dulu. Hahaha, ia membuat semuanya semakin mudah untukku. Jika tau begini, aku tidak usah mempersiapkan scenario untuk mempermalukan dia sedemikian rupa"
"what?! Kau membuang uangmu untuk investasi di usaha label rekaman Kim Namjoon hanya untuk membuat scenario ini? terdengar berlebihan Yeol." Kris tertawa sarkas sambil meraih batang rokoknya yang ia biarkan di asbak dari tadi, setengah roko itu mulai terbakar, menyisakan batang yang lebih pendek dari sebelumnya.
Chanyeol mengedikkan bahunya santai
"Jika dilihat dari angka, itu bukan angka yang begitu besar."
"ah.. Tuan Chanyeol dengan segala gelar ke konglomeratan nya." Kris menyelipkan sebuah senyum miring ketika mengucapkan kalimat tersebut. Ia sudah hafal diluar kepala bagaimana cara Chanyeol melihat uang. Pria itu bahkan sudah kaya raya dari ia masih berbentuk sperma. Uang bukanlah hal sulit baginya.
"Dan lagipula, jika dilihat dari sisi bisnis, usaha Namjoon juga tidak buruk untuk investment. So, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui kan."
Kris mematikan rokoknya di asbak dan bersiap mengambil batang rokok yang baru. Tapi sebelum pria itu meraih korek api miliknya, Kris menyempatkan menatap Chanyeol dan berkata dengan sangat serius sekali.
"You've gone too far." Kata Kris
Chanyeol melempar pandangannya pada pemandangan diluar jendela yang sedikit basah karena hujan tadi. Ia lalu menghisap rokoknya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.
"ini bahkan baru permulaan Kris. Baru permulaan." Jawab Chanyeol dengan nada tak kalah serius dan sorot mata lebih dingin dari sebelumnya.
Kris tau, Chanyeol memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya matang matang. Dan ini bukanlah hal yang bagus untuk taruhan mereka.
.
.
.
.
.
Musik berdentum dentum dengan beberapa orang hilir mudik ditempat itu. Wajah ceria dan tawa melepas penat tergambar jelas di setiap wajah orang orang yang ada di bar tersebut. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk Jongin dan Kyungsoo. Kedua orang itu malah sedang berdiri didekat meja bar dengan raut gelisah, sementara di hadapannya, Baekhyun sedang asik minum dan bergerak gerak santai mengikuti irama musik.
Tepat setelah jam kantor selesai, Baekhyun segera melesat pergi menuju bar yang ada disudut gang—berbeda dengan bar yang mereka datangi kemarin—Kyungsoo dan Jongin yang paham betul bahwa teman mereka itu sedang tertekan, merasa khawatir dan akhirnya mengikuti Baekhyun kemari.
Tapi, kenyataan bahwa baru kemarin malam ketiganya tertangkap basah oleh Chanyeol saat sedang badmouthing pria itu, membuat Jongin dan Kyungsoo merasa alangkah baiknya jika mereka bertiga pulang kerumah dan menjauhi segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Seperti bertemu Chanyeol lagi, misalnya?
"kau tau, aku punya kenangan buruk dengan pergi minum bersamamu noona, ditambah jika kau sedang kesal karena tuan Park." Kata Jongin bersungguh sungguh, sambil terus mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru bar. Takut takut ia mendapati sosok jangkung bertelinga lebar itu sedang berada di bar yang sama dengan mereka.
"Kau membuatku trauma jujur saja." Lanjut Jongin penuh penekanan.
"omong kosong!. Park keparat itu bahkan tidak menyenggol mu sama sekali. Aku yang kena malapetakanya! sendirian!. Jadi ketakutan mu itu tidak masuk akal." kata Baekhyun sambil menenggak minumannya. Kemudian, emminta barista untuk mengisi kembali gelasnya yang tandas.
"Tetap saja. Pergi minum denganmu itu… tidak aman."
"Lalu untuk apa kalian masih ada disini!?"
Kyungsoo memutar bola matanya seolah ucapan Baekhyun barusan adalah hal paling bodoh yang pernah ia dengar.
"Bagaimana mungkin kita bisa meninggalkanmu sendirian disini dengan kondisi yang…" Kyungsoo menjeda kalimatnya agar Baekhyun tau bahwa gadis itu sedang memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"… berantakan" lanjut Kyungsoo.
"Ayolah Noona, kita pulang. Besok masih hari kerja, kau sama saja cari mati."
Baekhyun menaruh kembali gelas beer yang sedari tadi ia genggam. Wanita itu membetulkan posisi duduknya agar ia bisa menatap Kyungsoo dan Jongin lurus lurus.
"Aku baik baik saja, Kyungsoo, Jongin. Ayolah. Aku hanya butuh minum sedikit." Katanya sambil memegang sebelah pundak Jongin dan Kyungsoo yang memiliki jarak tinggi cukup jauh.
"Aku tidak akan mabuk. Tenang saja! sekarang sebaiknya kalian pulang. Oke?" Kata Baekhyun sebisa mungkin meyakinkan kedua sahabat over protektifnya. Kyungsoo dan Jongin ingin sekali percaya dengan Baekhyun, tapi mata gadis itu yang sudah mulai berair dan tak fokus membuat Kyungsoo dan Jongin sedikit urung untuk beranjak pergi.
"ta-tapi.."
"Seingatku, besok adalah agenda rapatmu dengan Tuan Kris, pagi hari sekali. Kau tentu tidak ingin terlambat kan?" Kata Baekhyun pada Kyungsoo yang membuat gadis itu hanya bisa mengerucutkan bibir nya.
Kemudian, Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Jongin
"Dan kau Jongin. ckckck. Revenuemu sedang anjlok jadi sebaiknya kau mulai membereskan itu. Dengan datang terlambat ke kantor esok pagi, aku yakin kau hanya akan semakin membuat dirimu menjadi sasaran empuk untuk dicaci maki."
Ah, Baekhyun terdengar seperti manager mereka sekarang ini. Kyungsoo dan Jongin hanya bisa saling pandang ketika mendengar ucapan Baekhyun 100 persen benar. Tapi… tetap saja, rasa khawatir itu membuat keduanya enggan untuk pergi.
"Haruskah kugeret kalian keluar?" Ancam Baekhyun ketika kedua temannya hanya bisa bergeming.
Kyungsoo menghela nafasnya, menyerah untuk membujuk Baekhyun agar kembali pulang dan menghentikan kegiatan minum minumnya itu.
"Baiklah baiklah… tapi kau harus janji untuk pulang sebelum tengah malam!"
"Memangnya aku Cinderella?"
"Byun Baekhyun!"
"Iya iya cerewet."
"Kalau begitu, aku dan Jongin pulang dulu. Ingat! kau harus berhati hati!"
"hmm"
"Bye noona. kabari aku jika ada apa apa"
Dan saat Jongin maupun Kyungsoo akhirnya pergi, Baekhyun kembali larut dalam kesibukannya sendiri. Ia bukan gadis peminum sebenarnya. Tapi lagi lagi, tampaknya Chanyeol memang sudah memberikan dampak buruk dalam hidupnya. Jika saja bukan karena Chanyeol yang membuat pekerjaannya terasa seprti di neraka, mungkin Baekhyun tidak akan terdampar di Bar nyaris setiap malam seperti ini.
.
.
.
.
.
Rasa pusing, mual dan ngilu menjalari tubuh Baekhyun. Tubuhnya terasa pegal di beberapa titik, seolah ia baru saja menghabiskan malam disebuah kotak sempit. Dengan susah payah, Baekhyun membuka matanya yang terasa berat. Gadis itu mengerang ketika matahari pagi dengan kurang ajar menusuk matanya yang baru terbuka.
Kepala Baekhyun berputar-putar. Ia memandangi sekitar, tempat asing yang berantakan dengan bau alkohol serta debu rokok yang bertebaran dimana mana. Disudut ruangan terdapat sofa yang diatasnya tertidur seorang pria dengan suara dengkuran yang bersiik.
Dan ketika Baekhyun berhasil mengumpulkan kesadarannya, baru lah ia menyadari bahwa semalaman suntuk ia tertidur di meja bar dengan posisi yang berhasil membuat lehernya terasa nyaris putus.
Baekhyun merogoh ponselnya di dalam tas untuk sekedar mengecek jam berapa pagi itu. Tapi, matanya seketika terbelalak dengan jantung yang memacu cepat saat mendapati jam menunjukan pukul 08.15. Yang artinya ia sudah terlambat selama 15 menit.
Seolah belum cukup, puluhan notifikasi dari Taeyeon-sekertaris Baekhyun- membuat gadis itu semakin dirundung kepanikan. Taeyeon menjerit jerit dalam pesan singkat tersebut karena Baekhyun tidak kunjung mengangkat telfonnya, dan ia pun mengatakan bahwa saat ini tengah berlangsung rapat penting dan Chanyeol menunggu kedatangan Baekhyun dari tadi.
"O..ottokhaee! astaga. Chanyeol akan membunuhku!"
Byun Baekhyun.. kau sudah bermain api dengan orang yang salah.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N
aaaaa. Maaf banget aku updatenya super lama dan kemaleman. oke jadi aku mau ngmg beberapa hal. sebenernya ini udah aku niatin buat update dr beberapa minggu lalu, tapi belum sempet sempet karena proses editing dan ngulang berkali kali (ini pun juga belum memuaskan sih)
aku mau minta maaf buat Co-writer ku, Sunnie1307 karena udah PHP in update ini kelamaan. Maaf banget juga kalo kalimat bahasanya agak kaku dan aga aneh. Feels nya kurang dapet, Karena sejujurnya gue lagi kena writer block. But, gue bakal usahain next chap bakal lebih baik lagi kok. hehhee
And, beberapa hari lalu, co writerku ulang tahun, so.. anggep aja ini hadiah yang ga seberapa ya untuk lo. I just wanna say happy birthday, semoga sukses terus, sehat dan tetep bahagia. Terima kasih udah jadi temen dan partner kerja yang sangat amat baik. Mau gue repotin dengan segala project serta tugas yg nguras waktu lo. keras kepalanya gue dan galaknya gue kalo meeting.
Terima kasih juga buat selalu ada disaat begitu byk masalah, ga Cuma menjadi pendengar yang baik tapi juga memberikan saran, solusi dan bantu untuk ngelewatin situasi genting perusahaan. Thanks a lot! saranghaeee
dan untuk readerskuuu. maapkan kalo ini jauuuuuh dr memuaskan, aku bakal memperbaikin lagi kok, I will! So, thankyou yang udah baca. Jangan lupa reviewnya.
gomawo:*
-Moza
