.
.
Barista
presented by RFionn
BTOB belongs to God, their parents, and Cube Ent.
Main Pairing : ChangJae (Changsub-Sungjae)
Warning : typo(s), OOC, alur cepat, AU, Yaoi
.
Don't Like, Don't Read!
.
.
Happy Reading~
"Dol, kau yakin akan shift sendirian malam ini? Ikut pulang saja, besok pagi kita akan datang lebih awal untuk bersih-bersih."
Dari sudut pandang Sungjae, Minhyuk terlihat sedang merayu sosok yang ia perhatikan semenjak tadi –heol dia harus segera tau namanya!– untuk ikut pulang dan menutup cafe lebih awal. Karena cafe Melody ini less-crowded di waktu malam, jadi pekerja shift malam tidak lebih dari dua orang (tapi jika musim liburan, bisa sampai empat/lima orang karena Minhyuk gemar membuka lowongan bagi siswa/mahasiswa pencari kerja paruh waktu). Hari ini hanya Minhyuk dan Subie yang beroperasi, entah kemana Donggeun atau pekerja lainnya.
Dan Sungjae yang sebelumnya masih positif akan harapan pdkt pada saat cafe telah sepi, sekarang menjadi hopeless.
"Ani, hyung. Hyung bisa pulang sekarang." sosok itu menyunggingkan senyum kecil. "Lagipula hari ini aku memang kebagian shift akhir, kan?" imbuhnya sembari mengelap bibir gelas yang lain . "Kau seharusnya sudah nyaman di ranjangmu sejak tiga jam yang lalu, hyung-ah."
"Mana mungkin aku meninggalkan pegawaiku sendirian bekerja disaat aku masih bisa membantu, eoh?!"
Terdengar di telinga namja bermarga Yook yang masih setia duduk dan tidak mengubah posisi sama sekali –meja bar ada di sudut jam 10 jika dilihat dari posisi Sungjae– sebuah tawa unik meluncur dari bibir si pucat.
"Sudahlah, hyung, gwaenchanha (tidak apa-apa). Aku akan tutup cafe setelah pengunjung yang itu –namja pucat itu mengendikkan kepala kearah Sungjae– beranjak."
Minhyuk yang sempat lupa dengan keberadaan seseorang serba hitam di ujung itu seketika menjentikkan jarinya, teringat sesuatu. Membuat pemuda lain mengalihkan pandangan padanya. Begitu pula dengan Sungjae yang juga mendengar suara jentikkan jari itu dari tempatnya duduk.
"Begini saja," Minhyuk melirik si namja yang baru dikenalnya kemarin sekilas, sebelum atensinya kembali pada si pucat. "Kau layani pengunjung yang satu itu sementara aku akan tutup cafenya." pemuda bertubuh kecil itu beranjak untuk membalik papan tulisan tanda "BUKA" yang menggantung di pintu kaca itu menjadi "TUTUP".
"Setelah itu kau bisa dengan tenang pulang kerumah, otte (bagaimana)?"
"Hyung memang yang terbaik!" si pucat mengacungkan sebelah jempolnya dan tertawa kecil. Minhyuk membalasnya dengan dua tepukan ringan di lengan pemuda bersurai karamel sebelum pamit untuk pulang.
Obsidian milik Sungjae mengedar ke sekitar, dan berbinar setelah menemukan tak ada seorang pun singgah selain dirinya, sebelum pandangannya jatuh pada jendela disampingnya dan menemukan Minhyuk di balik kaca menyeringai padanya dan menunjukkan kertas berisi tulisan 'aku sudah tau itu kau, cepat selesaikan urusanmu dan pulang!'.
"Kkamjjag-iya (Kaget aku)!" namja Yook tersebut melompat secara refleks dari kursinya, mengundang perhatian si pucat yang sedang berada di pantry untuk menata gelas. Dilihatnya seseorang serba pakaian hitam dan mengenakan topi itu mendekatkan dirinya ke jendela dan mengangguk samar.
"Ada yang salah, tuan?" suara tenor dengan intonasi datar mengudara, menyadarkan Sungjae yang atensinya masih belum teralih dari jendela.
Pemuda itu tersentak, dengan gugup ia menurunkan topi hitamnya hingga menutup sebagian wajahnya. "Aniyo." masih dengan gugup, ia berjalan perlahan ke arah bar, dan duduk di salah satu kursinya. Manik milik sang barista tak lepas dari Sungjae.
Sang barista mengendikkan bahu tidak peduli. "Ingin pesan apa?"
"Apa yang kau rekomendasikan?" Sungjae mencondongkan tubuh dengan dagu disangga oleh satu tangan, membuat keseluruhan wajahnya dapat dilihat oleh si barista pucat tersebut. Berharap sedikit saja melihat reaksi dari wajah dingin itu.
"Kami sudah tutup, kau tidak lihat tanda itu?" tanyanya dengan nada yang sedikit terganggu, jarinya menunjuk papan yang tergantung di pintu kaca.
"Kau yang menawarkan 'ingin pesan apa' tapi kau juga mengusirku?"
"Aku lupa–"
"Dan lagi, aku juga belum keluar, itu berarti aku masih perlu dilayani."
"Kulihat kau sedari tadi duduk disana tanpa memesan apapun, baru sekarang kau duduk dan memesan sesuatu disini."
Sungjae menyeringai kecil, "Itu berarti kau memerhatikanku sejak tadi?"
Sang barista sedikit emosi, sepasang maniknya bergulir keatas dan menghembuskan napas lewat mulut, mencoba sabar. Hari ini akan segera berakhir kalau kau berhasil melayani pengunjung kurang ajar satu ini, Changsubie. Ia membatin menyemangati dirinya sendiri.
"Espresso."
Sungjae membulatkan matanya, mendengar kata yang tidak asing namun ia tak mengerti apa maksudnya. "Eh?"
"Aku merekomendasikanmu espresso, mau tidak?"
"Sambil melihatmu ya– supaya espressonya makin manis."
Ingin rasanya Changsub menabok wajah innocent yang terpampang di depannya itu dengan baki, tapi sejenak ia ingat bahwa ia harus bersikap baik kalau tidak mau kehilangan pekerjaan.
–terserah.
Tangan dengan kulit pucat milik barista tersebut meraih toples biji kopi dan dengan cekatan mengambil tiga genggam lalu memasukkannya ke mesin penggiling kopi. Sementara menunggu mesin kopi bekerja, Changsub berjalan menuju pantry dan mengambil satu gelas kecil lalu kembali ke depan mesin penggiling yang telah selesai mengekstrak biji kopi. Setelahnya, Changsub menuangkan cairan hitam kental dari mesin kopi ke gelas kecil yang telah disiapkan, dan langsung menyajikannya di hadapan Sungjae.
Sungjae yang sedari tadi asyik melihat calon-pacarnya meracik kopi tidak sadar jika gelas kopi telah tersaji di depannya, membuat Changsub yang risih dengan pandangan itu menjentikkan jarinya tepat di depan mata Sungjae. Dan ketika pemuda itu sadar ia langsung menyesap espressonya sambil tetap memaku pandangannya pada si pucat.
Berikutnya, karena kaget dengan rasa kopi tersebut, Sungjae dengan tidak elit menyemburkan cairan hitam yang tengah diteguknya itu pada Changsub dan mengotori beberapa bagian kemeja hitamnya –yang sebenarnya tidak begitu kelihatan, sih–.
"Ya! Apa yang kau lakukan!?" pemuda yang memiliki rambut senada karamel tua berang, kopi yang tersembur itu menyiprat juga di beberapa bagian kulitnya yang terbuka, omong-omong. Sigap, ia langsung mencabut tisu dan membersihkan cipratan kopi di badannya.
Sungjae menyeka kasar ujung bibirnya. "Pahit sekali! Kau menipuku?!"
"Menipu apanya?" decak Changsub kesal. Diraihnya kain lap yang tergantung di samping mesin kopi dan dengan segera mengelap meja yang kembali kotor karena noda kopi. Tidak lupa melempar selembar tisu pada pemuda di depannya yang dengan langsung digunakannya untuk menutup mulutnya. "Kau tanya apa rekomendasiku, 'kan? Kuanggap pesan espresso kalau begitu."
"Bukannya espresso itu tidak pahit? Tapi ini kenapa–" Sungjae bersungut-sungut, bibirnya mencibir, pahit yang pekat masih sangat terasa.
"Yang itu Americano, babo (bodoh)."
.
.
.
TBC
Ternyata melebihi ekspektasi... yasudahlah~ lol. Chapter depan mungkin last chapter.
Oh iya, dan selamat tahun baru 2018 semuaaa #telat H+2
Terima kasih sudah menyempatkan untuk singgah dan membaca hingga akhir! Ditunggu reviewnya~
