Turut berduka cita atas berpulangnya Lena-obachan ;'(
Tapi aku yakin, Lena-obachan tidak pergi jauh. Obachan akan tetap tinggal dalam hati kita semua.
PS. Toast untuk sarapan kusiapkan di atas mejamu looh. Tidak berani membangunkanmu, takut ganggu istirahatmu.
PSS. Aku harap kau tak bangun kesiangan. Tapi kalau iya, lebih baik tidak masuk sekolah sekalian saja. Badanmu perlu rehat :3
~Yuffie-chan~
.
.
Hug and Kiss
Chapter 2: EX
.
.
=xoxo=
"The single white rose from Wutai. Yuffie Kisaragi is here!"
-Yuffie, FFVII: DoC-
"O-hayou~"
Seorang gadis dengan riang melenggang masuk ke dalam ruang kelas.
"Selamat pagi Yuffie! Eh eh, aku bawa majalah yang aku bicarakan kemarin. Mau lihat tidak?"
Gadis berambut hitam yang dipotong pendek itu melangkah menuju beberapa siswi yang bergerombol di pojok belakang kelas. Beberapa saat kemudian suasana kelas tidak bisa dibilang ramai lagi, karena sudah jadi sangat bising.
"Cih. Dasar cewek. Kalau udah ngerumpi berisiknya nggak ketulungan," keluh seorang siswa laki-laki di sudut lain ruangan. Teman di sebelahnya ikut-ikutan berdecak sebal. Sambil terus berusaha memusatkan perhatian pada sepanel benda yang penuh kabel dan tombol, laki-laki itu membenarkan posisi kacamatanya.
"Kyaaaa! The Black Mages akan mampir ke Midgar!"
"Masa? Mana artikelnya? Biar kulihat…"
Sejenak suasana kelas jadi hening. Lalu,
"KYAAAAAA!" Anak-anak perempuan menjerit berjamaah.
BRAAK! Bunyimeja digebrak. Seluruh perhatian langsung terpusat ke laki-laki berkacamata tadi.
Sayangnya, bukannya menyatakan rasa terganggunya, siswa yang memangkas habis rambutnya itu malah kelihatan grogi.
"Hoi Gundul, apa maksudmu menggebrak meja terus diam saja kaya patung begitu? Mau cari perhatian, hah?" maki Yuffie. Suasana seketika berubah dingin. Siswa botak itu dengan segera merasa kalah dan malu. Ia berniat kembali duduk. Namun datang seseorang untuk membelanya.
"Yo, Rude, jangan bersikap cemen di depan kecoak, zoto," seorang siswa berpenampilan slebor bicara dengan santainya saat kakinya melangkah memasuki ruang kelas. Amarah Yuffie dan teman-temannya tersulut.
"Hoi Banci! Jaga ucapanmu atau—"
SRET!
Tiba-tiba saja kerah kemeja seragam Yuffie ditarik oleh si Banci.
"Mau berlagak jagoan, nih?"
Kelihatannya keadaan justru berbalik. Si gadis bersuara melengking tidak bisa berbuat banyak. Mau bagaimana lagi, ukuran tubuhnya jauh lebih kecil daripada pemuda itu. Teman-temannya juga tidak membantu sama sekali. Semuanya tampak tak berdaya seperti dirinya sekarang.
"Dengar ya, Cebol. Mood-ku lagi jelek gara-gara kurang tidur. Tolong jaga sikapmu, kalau tidak, bisa-bisa kecoak sepertimu terinjak olehku."
'Cukup!'
Tidak bisa menahan emosinya, si gadis bertipe temperamental menendang selangkangan lawannya keras. Sontak si rambut panjang mengerang kesakitan.
"OAAAARGH, TO! CEWEK BRENGSEK, DAZOTO! BERANINYA KAU! ARGH!"
"Kau kira aku takut padamu, Reno-Banci? Rasain tuh!"
Rude si kacamata langsung duduk dan fokus lagi ke buku pelajarannya, pura-pura tidak tahu yang barusan terjadi, sementara Reno terus melompat-lompat kesakitan. Yuffie tersenyum penuh kemenangan.
"Woi! It's not over yet! Akan kubuat perhitungan denganmu!" sumpah Reno, masih sambil berjingkrak. Si gadis pendek cuma menjulurkan lidah sebelum kembali ke tempat duduknya. Setelah itu guru masuk, dan kelas pertama hari itu pun dimulai.
.
.
=xoxo=
"We won't be doing any overtime today."
-Reno, FFVII: AC-
Shinkigen Raiu*–yang biasa disebut ShinRa saja– adalah sekolah terbaik yang bisa diincar pelajar abad ini. Memiliki lahan yang sangat luas, lembaga pendidikan ini seakan terkompleks di daerah elit di pusat kota. Gedung sekolah berada di tengah, sementara di sayap baratnya asrama laki-laki berdiri kokoh. Firaga adalah nama asrama putra. Hanya seratus tujuh puluh sembilan saja penghuninya. Sementara Blizaga, asrama putri di sisi utara sekolah dihuni tidak lebih dari dua ratus sepuluh anak dara.
Memang, tidak semua orang bisa mendaftar dan diterima di ShinRa. Hanya mereka yang berotak, berduit, atau beruntung yang bisa lolos seleksi. Seluruh murid yang masih bertahan juga bukan muda-mudi sembarangan. Gemblengan yang sangat keras dari pendidikan sekolah sudah pasti membuat mereka yang tidak tahan angkat kaki dengan sendirinya.
Hari ini adalah hari yang lain di ShinRa. Dan hari ini, sebuah drama menyambung kisah-kisah kehidupan anak sekolah baru akan dimulai di tempat itu.
.
.
=xoxo=
Kantin, jam makan siang
Yuffie menghentak-hentakkan kaki menuju meja di mana teman-temannya meletakkan nampan makan siang. Ia menggembungkan pipi kesal, masih ingat sindiran Reno di tengah-tengah pelajaran Ilmu Alam tadi.
"Kecoak nggak bisa hidup jauh-jauh dari tong sampah," begitu celetuk Reno saat sang guru menjelaskan contoh ketergantungan makhluk hidup dengan lingkungan. Siapa yang tidak sebal kalau terus-terusan dikatai semacam itu?
SET. Sebuah kaki panjang terjulur. Dan
BRUK!
Yuffie jatuh terjerembab lantaran tidak menaruh perhatian pada kakinya sendiri (apalagi pada kaki yang terjulur itu). Mukanya terbenam dalam blueberry pie slice di tengah nampan, jatah dessert siang hari itu.
Langsung saja gelak tawa menggema memenuhi kantin. Tak butuh waktu lama, seantero khalayak sudah mengerumuni Yuffie untuk mentertawainya.
"Reno..." geram Yuffie penuh kebencian. Yuffie meraba hidungnya. Rasanya sakit sekali terbentur tatakan makanannya sendiri. Setelah ini pasti memar muncul.
"Hyahahahaa!" Yang lebih menyebalkan lagi, Reno malah semakin terbahak-bahak.
Di saat bersamaan seorang siswi menyibak keramaian dan langsung menghampiri sang gadis yang masih duduk di lantai. Dialah Tifa Lockhart. Gadis yang baru-baru ini kehilangan seseorang yang sangat ia kasihi.
"Yuffie! Kau tidak terluka, kan?" periksa Tifa khawatir segera setelah melihat temannya terduduk di lantai. Perasaan kehilangan yang masih berbekas itu menyebabkan Tifa merasa was-was setiap hari. Ia tidak ingin seseorang yang dia kasihi disakiti lalu pergi meninggalkannya, sama seperti apa yang telah terjadi pada sang ibu tercinta beberapa malam lalu.
Yuffie bergeming dengan pandangan mendendam dilempar ke Reno. Nona Lockhart mengikuti arah matanya, ikut-ikutan memberi death glare pada si pemuda yang masih saja tertawa.
"Tidak lucu, tahu!"
"Hahahaa! Lihat sekelilingmu, dazoto! Semua orang sedang mentertawakan temanmu yang ceroboh ini, dan kau masih bisa bilang nggak lucu? Haha! Maaf, Nona, tapi selera humormu super payah."
GREB!
Kali ini gantian kerah baju Reno yang dicengkram perempuan bermata coklat itu.
"Ups… Ada yang marah, nih."
Gadis yang rambut panjangnya diikat tinggi di atas kepala itu mengguncang badan Reno, begitu kuat sampai-sampai laki-laki berambut merah shock dan tak mampu lagi barang tersenyum sekalipun.
"Kau mempermalukan orang lain sebagai bahan tertawaan. Manusia macam apa kau?"
Atmosfer mencekam dirasakan semua orang di ruangan itu. Vibe membunuh yang mengerikan itu membuat semuanya menahan napas. Namun, selang waktu berikutnya keramaian di sekeliling mereka akhirnya bubar. Dan gadis penyelamat Yuffie melepaskan Reno begitu saja, pergi menjauh menggandeng tangan temannya. Reno tidak bisa berbuat lebih dari memandangi punggung mereka. Kendali tubuhnya diambil alih perasaan 'terguncang'—baik yang harafiah maupun implisit.
Seseorang menepuk pundak Reno.
"Wah, kau sangat beruntung sampai tidak ditinjunya, Rene."
Reno memalingkan wajah padanya.
"Oi, apa si Tifa itu selalu berlebihan, hei Zack?"
.
.
=xoxo=
"Like I could stay sane in a situation like this."
-Zack, FFVII: LO-
Keran air dibiarkan terbuka. Sekarang Yuffie dan temannya berada di kamar mandi lantai satu. Muka Yuffie yang tadinya ungu belepotan selai blueberry sudah dibersihkan. Tapi sekarang warnanya merah.
"Uuuungh! Aku benci, benciii hari Rabu!" Yuffie menutup keran dan mengambil tissue banyak-banyak, melipatnya, lalu menekan ke muka sendiri.
"Hari paling jelek seminggu! Ada kelas Ilmu Alam yang berarti aku harus bertatap muka sama makhluk-makhluk Mars paling menyebalkan sejagad raya! Terutama si Banci Kaleng itu! Huuuh!"
"Kau harus membiasakan diri," saran Tifa. Emosinya sudah stabil. Tifa tidak lagi jengkel ataupun geram. Sementara Yuffie justru sebaliknya. Dengan marah Yuffie melempar buntalan tissue ke kaca kamar mandi.
"E-eh, jangan nangis, dong, Yuffie."
"Siapa yang nangis, sih?" sergah si cempreng. "Tifa sih nggak satu angkatan sama dia, tapi aku!Kalau salah satu nggak bolos, tiap Rabu pasti ketemu, tau! Tiap Rabu lihat wajahnya yang memuakkan, tiap Rabu disindir dan dihina!"
Tifa memberikan pandangan prihatin sambil mengusap bahu Yuffie lembut.
"Kenapa harus aku sih? Dari sekian banyak cewek, kenapa harus aku?"
Dan gadis mungil itu mulai tersedu. Tifa menghapus luapan dari sudut mata gadis itu dengan hati-hati. Sebagai seorang perempuan, ia sangat mengerti perasaan Yuffie. Dipermalukan di depan umum tentunya jauh dari menyenangkan. Apalagi bila yang melakukannya adalah orang yang pernah sungguh-sungguh dicintai.
.
.
=xoxo=
Kelas Permesinan dan Keterampilan Mekanikal
"'Kay. Teorinya cukup. Pertemuan berikutnya kalian sudah siap dengan material yang kusebutkan tadi. Directly gather at lawn for the assembling of ShinRa No.26 rocket prototype. Got it?"
Bersamaan dengan keluarnya Profesor Cid, Zack menuju bangku Reno. Setelah dua jam teori rumit memusingkan seputar perakitan roket, yang dihampiri ternyata masih saja melamun. Dan meski Zack melambai persis di depan wajahnya, tidak ada reaksi.
"Oi Rene, habis ini kelasnya Profesor Sephiroth, lho. Bisa digorok kalau terlambat."
Cowok bermata pale blue itu menoleh malas.
"Masa tadi aku berlebihan?"
Zack mengrenyit heran. Tak biasanya teman baiknya ini berlama-lama mengusut sesuatu. Tanyanya balik, "kamu masih memikirkannya?"
"Cuma menebak." Lalu Reno menguap. "Tidak biasanya si jago berantem galak begitu. Apalagi sampai melakukan kontak fisik."
"Bukan jago berantem. Jago bela diri," koreksi Zack. "Habis, mantan pacarmu itu kan teman sekamarnya. Wajar, kan, kalau Tifa sensitif?" lanjutnya.
Kalau saja si Rambut Hitam tidak mengingatkan sekali lagi soal Profesor Sephiroth, Reno pasti sudah melamun lagi.
.
.
=xoxo=
Jadi, begini sistem pembelajaran di ShinRa. Karena sebenarnya ShinRa adalah sekolah yang dibangun untuk menyatukan dua sekolah terpisah—dan karena mereka masih memegang tradisi kuno bahwa pendidikan laki-laki harus berbeda dengan pendidikan perempuan—siswa-siswi memiliki jam pelajaran yang berbeda. Siswa putra akan sibuk selama lima hari dalam seminggu mempelajari keterampilan-keterampilan yang akan dibutuhkan sebagai lelaki, begitu pula para siswi dijejali dengan berbagai pengetahuan untuk mempersiapkan kehidupan sebagai wanita dewasa.
Pelajaran yang umum, misalnya Ilmu Alam, akan satu dari sedikit pelajaran di mana siswa dikumpulkan tanpa memandang gender. Sisanya, laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh kegiatan dan waktu.
Reno adalah siswa kelas sebelas, dan di hari Rabu dia memiliki jadwal kelas Ilmu Alam bersama dengan Yuffie. Sebenarnya ia sudah biasa bertengkar dengan cewek itu hari Rabu, tetapi agaknya pertengkarannya Rabu itu berbeda dari pertengkaran di Rabu-Rabu lainnya.
Reno menjadi yang pertama keluar dari kelas setelah Profesor Sephiroth. Dilangkahkannya kaki sepanjang koridor menuju loker nomor 30, lokernya. Dia tidak menyadari Zack berjalan mengimbanginya, makanya agak kaget waktu si jabrik mengajak bicara.
"Oi, kamu kelihatan serius sekali. Sangat tidak wajar untuk seorang Reno."
Reno sampai di lokernya, masih kelihatan serius. Zack tidak tahan lagi.
"Oi, kamu masih memikirkan kejadian tadi?"
"Aku cuma memikirkan jawaban soal yang ditulis Sephiroth," jawab Reno.
Zack tersenyum jahil. "Benarkah?" godanya. "Hey Rene, kalau kamu benar-benar terganggu, kenapa kamu nggak minta maaf saja?"
Ide gila itu berhasil membuat Reno membelalakkan mata.
"Pardon me? Aku? Minta maaf? No, thank you. Goodbye,"
"Well, you look so guilty anyway."
"Aku nggak merasa bersalah, zoto."
Zack bersandar ke salah satu loker. "Kenapa? Kamu mau balas dendam? There, there, Reno. Selingkuh memang adalah pelanggaran, tapi bukan berarti kau jadi punya alasan untuk membenci gadis itu sampai mati. Lagian, bukannya pacar-pacarmu yang dulu juga selingkuh? Apa yang membuatmu sangat marah ketika dia yang melakukannya?"
Zack berjengit. Reno mendengus. Senyum jahil yang lain mekar sempurna.
"Jangan-jangan… kamu benar-benar menyukainya?"
Statement itu membuat Reno tercekat. Kata-kata itu… benar-benar membuat hati Reno menjerit frustrasi. Bagaimanapun menyebalkannya, kata-kata Zack—
"Seratus persen benar, ya nggak, sih?"
Muka Reno memerah dibuatnya. Ingin membantah, tapi Zack sudah terlanjur menangkap rasa malunya dan ber-yes ria.
Mengepalkan tangannya, Reno bertanya setengah berteriak, membuat senyum jahil Zack berrevolusi jadi seringai penuh kemenangan.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Min-ta ma-af," eja Zack. Seringainya bertambah lebar (entah bagaimana Zack melebarkan senyumannya sedikit lagi setiap kali orang mengira itu sudah yang paling lebar) ketika Reno mengangguk, meski dengan sangat tidak ikhlas.
Panjang umur! Gadis yang dibicarakan itu, yang sedang dipunggungi Reno, berjalan ke arah mereka! Zack langsung memberi tahu Reno. Yang diberi tahu malah jadi gugup.
"Cepat berbalik, dia datang!"
Reno cepat-cepat menutup lokernya. Di saat seperti ini dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang ia tahu, setelah itu ia menoleh ke sana kemari seperti orang bodoh untuk mencari Yuffie, padahal perempuan itu berjalan tepat di depannya dan berhenti begitu melihatnya.
Tatapan mereka bertemu, dan Reno langsung salah tingkah.
"Err, zoto… A-anu…"
Padahal kata 'maaf' sudah di ujung lidahnya.
Oh betapa…
.
.
.
Yuffie melewatinya begitu saja! Gadis itu menoleh hanya untuk menepuk-nepuk pantat mengejek Reno dengan rendahnya. Reno ditinggalnya di belakang.
Mission failed…
Was-was, Zack mengambil beberapa langkah menjauhi Reno yang sekarang di atas kepalanya mengepul asap panas.
Reno mengambil nafas panjang, lalu berteriak pada langit biru.
"CEWEK MENYEBALKAAN, DAZOTOOOO! LAIN KALI KUJEGAL SAMPAI TERJENGKANG!"
=chapter2ends=
*Shinkigen : zaman, Raiu : petir. Shinkigen Raiu: the Blue Thunder of the Era. … (Apaan lagi nih ORZ)
Saia ingin berterima kasih pada reviewer di chapter sebelumnya. Kepada Katrina, Swandie, dan Eleamaya, terima kasih sudah meluangkan waktu membaca (bahkan mereivew) cerita ini. Domo ^^
Chapter berikutnya fokus utama perkenalan chara lain. Sabarlah menanti, ku akan update lagi (==a)
