"Asobou ka?"
-Loz, FFVII: AC-
Kantin Firaga, 12.30 siang
"Hoi, Yazoo, sudah dengar belum?"
Pemuda bernama Yazoo yang sedang mengantre itu menoleh. Didapatinya salah seorang sesama penggila otomotif berlari-lari ke arahnya. Temannya itu menyampaikan motor produksi Deepground yang terbaru sudah turun ke pasaran kemarin. Laki-laki itu sangat bersemangat ketika menjelaskan spec mesin yang diberi nama Werewolf tersebut.
"Super keren, Brur! Gede banget! Warnanya metallic black, benar-benar macho. Mesinnya empat ribu cc, dan bodinya dibuat dari metal langka yang diimport langsung dari tambangnya, Northern Crater. Konon, dilindas truk pun Werewolf nggak akan hancur. Dan kecepatannya… Ya ampun, tiga kalinya cheetah! Selain itu, ada tempat penyimpanan yang bisa buat naruh bazooka. Deru mesinnya halus, bagus untuk menyelinap keluar asrama sialan ini. Ini motor paling sempurna untuk anggota geng motor elit seperti kita," celotehnya berapi-api.
Yazoo hanya tersenyum kalem. Katanya, "Aku sudah baca di majalah. Memang hebat sekali."
Si teman mengangguk-angguk antusias. "Sayang banget cuma dua puluh biji. Yang mampu beli pasti para aristokrat kelebihan duit. Padahal aku kepingin punya…" ratap pemuda itu lesu kemudian.
"Hei kau! Antre atau jatah makan siangmu aku tarik!" seru petugas kantin galak. Jam makan siang memang waktu paling sibuk bagi pengurus kantin Firaga dormitory. Ada banyak kekacauan terjadi.
DUK!
"Hoi, antri, Bodoh!"
Hari ini tambah satu lagi kekacauannya.
.
.
Hug and Kiss
Chapter 5: SURPRISE!
.
.
=xoxo=
Reno berbalik demi meladeni siapapun yang menggetok kepalanya barusan.
"Oh. Lihat siapa ini, to," katanya dengan nada mencerca, "Loz the Tiger." Ia menyeringai. Loz melempar pandangan tak suka.
"Minggir."
"Kau bicara padaku, Tiger?" kotek Reno penuh niat menghina.
"Kau merebut tempatku, Banci."
Reno membeliak, namun detik berikutnya ia sudah menguasai dirinya kembali. Reno melipat kedua tangan di depan dada.
"Ada masalah, Cengeng?"
Loz mempertontonkan tinjunya. Reno justru menyeringai lebih lebar. Nampaknya ia malah menikmati permainan ini.
"Sebaiknya pikir dua kali, dazoto. Perkelahian dalam bentuk apa pun sebelum pertandingan resmi akan membuatmu didiskualifikasi," jelasnya pura-pura sabar. "Wah, jadi nggak bisa menghajarku, nih? Jangan nangis, ya."
Darah Loz mendidih. Benar-benar dilesatkannya tinju itu.
Hidung Reno sudah patah seandainya Yazoo terlambat berkutik.
"Hentikan, Loz!" Yazoo mencekal tangan Loz sekuat tenaga. Loz sampai kesulitan melepaskan diri. Ternyata tenaga Yazoo lumayan juga.
Reno menampakkan ekspresi penuh kemenangan yang memuakkan. "Ya, hentikan, Loz. Didiskualifikasi itu memalukan. Sayang kalau kemenangan empat tahun Firaga tercoreng cuma gara-gara itu."
Dan gilirannya tibalah. Reno melenggang santai mengambil jatah makan siangnya.
.
.
=xoxo=
"Who cares? Just hurry it up!"
-Reno, FFVII: AC-
"Jangan ikut campur!"
"Kalau kau tidak gampang sesumbar, aku tidak akan ikut campur."
Loz dan Yazoo bertengkar. Mereka berdiri di flat roof itu, saling memunggungi dan saling menyimpan kedongkolan dalam hati.
"Aku tidak sekadar menyombongkan diri waktu itu."
"Lalu apa? Omong kosong?" timpal Yazoo dingin.
Loz yang hampir sama marahnya sekarang dengan ketika berhadapan dengan si Banci Kaleng berbalik dan menyentak kasar.
"Aku muak dengan sikapmu yang seenaknya mengatur-atur!"
"Sikapmu sendiri terlalu kekanak-kanakan," Yazoo balas serang.
"Kau tidak pantas menilaiku sesuka hati!"
"Kalau begitu jadilah dewasa!"
"Aku sudah cukup dewasa untuk mengatur diriku sendiri—"
"Jangan membuatku tertawa."
"APA MASALAHMU?" bentak Loz berang, penuh kebencian yang meluap-luap, sampai bungkam Yazoo dibuatnya.
Loz terengah-engah. Tidak ada jawaban apapun dari Yazoo selama beberapa saat. Baru setelah sebuah keheningan panjang, sang adik menghela nafas lelah.
"Yang berusaha kulakukan hanyalah mencegahmu mengecewakan semua orang... Kak," desisnya selirih bisikan angin. Senyum getir terbentuk pada bibirnya yang jarang sekali tersenyum.
Loz merasa heran. Sebuah telepati merasuki hatinya yang panas, mendinginkannya.
"Mereka akan membuangmu. Kalau sudah begitu, aku harus bagaimana?"
Koneksi yang samar-samar itu menghilang seiring kepergian Yazoo dari tempat itu.
.
.
=xoxo=
Loz bersyukur setelah ini kelas mereka tidak sama. Telepati aneh barusan sudah cukup memusingkan. Kalau ia masih harus melihat wajah Yazoo lagi, bisa-bisa dia malah menyesal nanti.
Setelah mengambil beberapa barang dari lokernya, Loz menuruni tangga sampai ke lantai dua, lalu menyeberangi jembatan dari Gedung S ke Gedung R.
Bangunan utama ShinRa ada dua: Gedung S dan Gedung R, masing-masing empat lantai. Untuk mempermudah murid-murid bermobilisasi dari satu gedung ke gedung lain, di lantai dua dibangun jembatan yang menghubungkan keduanya. Di jembatan inilah saat ini Loz menemui seseorang yang lama tak kelihatan. Salah satu lawan utamanya nanti.
Melihat kondisi si gadis tidak terlalu baik, Loz bertanya-tanya dalam hati. Apa yang terjadi padanya sampai harus memakai tongkat krek segala? Perhatiannya terpusat pada kaki kanan si gadis. Jadi benar, cidera di tulang kering?
Sebenarnya Loz tidak mau terlalu mengurusi masalah ini, tapi Tifa berjalan terhuyung-huyung. Kan bahaya. Jembatannya di lantai dua, lho.
"Butuh bantuan?" Loz berusaha kedengaran tidak terlalu peduli. Setelah menyadari keberadaannya, Tifa menolaknya halus dan tersenyum berterima kasih.
Tidak sampai tiga langkah tiba-tiba Tifa hampir jatuh. Refleks Loz bergerak untuk membantu.
"Yakin?" tanya Loz tidak yakin.
Akhirnya gadis itu menyerah, menghela nafas lelah, berhenti berpura-pura. Akhrinya ia ungkapkan juga rasa frustrasi yang ia sembunyikan tiga hari terakhir.
"Kau baik-baik saja, kan?"
"Aku menghancurkan mimpiku sendiri hanya gara-gara kecerobohan sepele. Kalau aku masih bisa bilang tidak apa-apa…"
"Maksudmu cidera itu," Loz menatap bagian yang dibalut perban, "salahmu?"
Gadis itu mengangguk sedih.
"Temanku benar, aku terlalu memaksakan diri. Jadi, yah, beginilah. Memarnya parah. Mungkin tidak bisa sembuh sampai sebulan mendatang. Sementara pertandingannya kurang dari tiga minggu lagi."
Loz merenung, terpaku pada perban itu. Memang kaki Tifa besar sebelah. 'Segitu kerasnyakah usahanya?'
"Aku memang berlarut-larut. Masa bersedih sudah lewat, tapi… Bayang-bayang ibuku…"
Pemuda itu mendengarkan dalam diam. Biasanya Loz malas mendengarkan keluh kesah orang lain. Entah kenapa yang kali ini berbeda.
Percakapan mereka tidak berlangsung lama. Tifa segera pamit. Ia kembali terhuyung-huyung di atas tongkat krek usang itu. Dilihat sekali saja juga sudah tahu. Perempuan satu itu berusaha terlalu keras untuk berjalan sendiri.
"Hei, Tifa," panggil Loz. "Jangan terlalu memforsir diri. Istirahat juga perlu. Memar itu akan sembuh kurang dari dua minggu kalau kau banyak istirahat."
Tifa tertegun lalu tertawa. "Kau terdengar seperti guruku. Dan ibuku."
Setelah Tifa benar-benar pergi, Loz kembali merenung.
"Dia berlatih keras. Sementara yang kulakukan hanya minum coke."
"Oi, jangan nangis, Cengeng!"
…
"Reno…"
.
.
=xoxo=
Hari Senin yang ini mungkin tidak terlalu cerah. Hari Senin yang ini mungkin bukanlah saat yang pas untuk jalan-jalan di sore hari. Tapi, hari Senin manapun selalu cocok untuk bersantai setelah hari pertama sekolah yang berat. Di hari Senin seperti ini biasanya Loz akan duduk di kantin sampai larut malam, menonton acara TV bersama beberapa temannya sambil meneguk coke.
Hari Senin yang ini agaknya sedikit berbeda.
Gyuts.
Grayish-haired itu menarik sarung tangan hitam yang membalut tangannya. Tak seperti hari-hari Senin biasanya, hari Senin itu Loz menghabiskan sepanjang sore di gym, berlatih.
DUK DUK DUK!
Punchbag yang berayun-ayun tak keruan terus diserangnya tanpa ampun.
BUAGH BUAGH BUAAAAGH!
Lama-lama kok jadi brutal, ya…
DUAR!
WAAA! SAMSAKNYA MELEDAAK!
…
Sebuah robekan kecil terbentuk di bagian pangkal samsak itu.
"Wow!" seru Zack. "Akhirnya bertobat juga kamu Loz."
"Apa yang kaulakukan di sini?"
"Hanya mengembalikan perlengkapan ini. Kau sendiri? Melampiaskan kemarahan?" tanyanya balik, mengambil tempat di sebelah Loz. Zack juga bersiap dengan samsak yang satunya.
Zack bertanya lagi. "Getting prepared for the upcoming battle?" Pose pegulat profesional dipajangnya.
BUGH!
...
"Aw... That hurts. A lot."
"Caramu memukul saja salah," cibir Loz. "Gayanya saja keren," sindirnya sambil menunjukkan sebuah kuda-kuda.
"Oh, tentu saja, itu kuda-kuda Loz yang terkenal. Aku sangat terkesan," Zack ikutan mencibir.
"Tempatkan tangan yang terkuat di depan, bukan sebaliknya," jelasnya tanpa menggubris omongan Zack barusan seraya menempatkan tangan kanan di depan tangan kiri. Kaki kanannya pun maju selangkah. Zack bisa melihat otot-otot Loz menegang tatkala pemuda itu mengepalkan tinjunya. Otot-otot yang besar. Zack sedikit bergidik. Ia ngeri membayangkan Tifa (yang masih cidera) akan menghadapi otot-otot itu nanti.
"Saat memukul, majukan bahumu juga. Itu akan sangat menambah daya hancur."
Dan 'daya hancur'… Benarkah apapun yang kena hantamannya akan hancur? Kalau begitu, kalau sampai terupukul… Bakal bernasib sama seperti punchbag yang meledak tadi?
"Tumbangkan lawan yang telah menghinamu."
DUAK DUAK DUAK! Tiga rentet tendangan dilayangkan lagi. Butir-butir pasir berjatuhan dari lubang di pangkal karung. Mata biru itu terbelalak memperhatikan karung berat berisi pasir besi berayun-ayun kuat. Robekan di samsak pun bertambah lebar.
"Patahkan, hancurkan tulang hidungnya yang kurus"
DUAK DUAK!
"Buat mukanya rusak,"
BUGH BUGH BUAGH BUAGH BUAGH!
Sekarang pasirnya mengalir keluar seperti air.
"Agar dia tidak berani lagi muncul di hadapanmu!"
Dengan satu jumpkick samsak itu lepas dari penahannya.
Mulut Zack menganga lebar ketika karung malang itu berguling-guling lalu menabrak tembok dan terhenti. Kekuatan cowok ini... benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Apalagi kalau lagi membara seperti sekarang. Sayang Loz hanya membara kalau sedang benci seseorang. Saat itulah Zack mengetahui bukan MAC yang jadi pemacu keberingasannya.
"Hey, calm down," ujar Zack, tidak yakin dia mengucapkan itu untuk Loz atau untuk dirinya sendiri. 'Hoo boy…'
Sisa sore dihabiskan orang yang gelisah itu untuk mendengarkan keluh kesah Loz. Aih, ternyata Reno penyebabnya. Zack berjanji akan menceramahi tetangganya itu. Sebelum pergi tidur ia akan masuk kamar di depan kamarnya, mengingatkannya lagi tentang 'sikap ramah terhadap adik kelas', baru tidur.
Oh. Janjinya hanya tinggal janji.
Zack berakhir tertidur di gym setelah semalam suntuk mendengarkan curhatan Loz yang seakan tiada habisnya. Seingat Zack hanya ibunya yang pernah nyerocos panjang lebar semalaman.
Loz. Ternyata si pemuda yang perangainya kasar itu menyimpan banyak kejutan bukan?
.
.
=chapter5ends=
-Extended Content-
Si Jabrik Hitam terseok-seok melintasi tempat parkir, jalur alternatif dari gymkalau ingin sampai lebih cepat di asrama. Sudah tengah malam. Tinggal beberapa jam lagi waktu tidurnya. Kalau Loz mau tinggal di gym,itu terserah padanya, tapi Zack merindukan kasurnya yang empuk.
Ia melewati deret-deret motor sambil terhuyung-huyung. Tiba-tiba Zack menabrak sesuatu. Benda itu begitu keras dan nyaris tidak kelihatan. Dengan bantuan cahaya bulan Zack mengamati baik-baik apa yang membuatnya hampir tersandung.
"Ti-tidak mungkin…"
Apa yang kau lihat, Zack?
"WAAAA! Ini mimpiii! Werewolf! Werewolf ada di sini!"
Makasih yang sebesar2nya kepada para pembaca setia T^T Tanpa kalian apalah artinya saia. Ayumi Takahasy yang sudah mengikuti dari awal, meskipun kamu nggak ada akun, makasih banyak sudah setia mereview dengan anonymous OwQ
